CEVA BEBERKAN RAHASIA SUKSES KENDALIKAN ND

Mengusung tema “Recipe for Succes : Indonesia’s Real Case and Value” PT Ceva Animal Health Indonesia sukses menggelar Chick Day 2021 di IPB International Convention Center, Bogor, Rabu (31/3) yang lalu. Selain menggelar secara langsung dengan protokol kesehatan yang ketat, Chick Day 2021 juga ditayangkan secara live streaming melalui daring Zoom Meeting dan Youtube.

Edy Purwoko selaku Country Manager PT Ceva Animal Health Indonesia dalam sambutannya mengutarakan alasannya mengapa penyakit ND menjadi permasalahan yang dibahas dalam Chick Day di tahun ini.
“Sampai sekarang perunggasan diproyeksikan cukup baik meski terganggu pandemi. Makanya kita perlu mempersiapkan diri menghadapi penyakit ND agar performa tetap baik dan ayam tetap sehat, dan mencegah kerugian lebih lanjut karena wabah ND,” tutur Edy.
Pembicara yang dihadirkan dalam acara tersebut tentunya juga bukan kaleng – kaleng. Konsultan perunggasan Tony Unandar didapuk menjadi pembicara utama dalam acara yang berlangsung meriah tersebut.
Tony Unandar mengupas penyakit ND dari A sampai Z, dari kulit sampai ke tulang. Semua pembahasan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan menambah khazanah keilmuwan para peserta tentang virus ND.
“ND ini cerita lama, tapi terus jadi residivis. Padahal zaman sudah maju, teknologi sudah berkembang, tapi kok masih muncul?. Makanya kita harus benar – benar mengenali musuh kita ini, jangan sampai kalah dalam memerangi ND, sebisa mungkin kita cegah penularannya, persempit sheddingnya, dan kita kendalikan,” kata Tony kepada Infovet.
Bicara mengenai ND, tentunya penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Oleh karenanya dibutuhkan upaya pencegahan yang apik dalam menampik virus ini. Selain biosekuriti, upaya pencegahan yang dapat dilakukan dalam mencegah infeksi ND adalah melalui vaksinasi. Bagaimana memilih vaksin ND terbaik?, Ayatullah Natsir Poultry Business Unit Manager PT Ceva Indonesia memberikan tips dan triknya dalam memilih vaksin ND terbaik.
“Vaksin ND harus memberikan protektivitas tinggi aman bagi ayam, manusia, dan lingkungan. Dan tentunya vaksinasi yang baik harus dapat mencegah shedding virus itu sendiri. Dalam upaya vaksinasi ND, biasanya agak tricky karena ada intervensi dari maternal antibody. Namun begitu berdasarkan hasil riset kami, akhirnya kami menemukan solusi tepat akan hal itu,” tutur Ayatullah.
Vectormune® ND merupakan vaksin vektor pertama di Indonesia yang hadir sebagai solusi permasalahan ND di tanah air. Vectormune® ND merupakan vektor vaksin hasil rekayasa genetik, dimana gen yang berasal dari satu organisme (berperan sebagai donor) disisipkan ke dalam genom organisme lain (berperan sebagai vektor) untuk memberikan respon imun yang protektif terhadap kedua organisme tersebut. Pada vaksin vektor ND, gen ND disisipkan ke dalam genom Herpesvirus of Turkeys (HVT) marek.
Vectomune® ND memberikan perlindungan yang maksimal dibandingkan ND killed karena tidak terganggu oleh adanya maternal antibody, durasi imunitas panjang, perlindungan lebih luas terhadap berbagai tantangan ND dan mampu untuk mengurangi shedding serta, tidak menimbulkan efek samping (reaksi post vaksinasi). Perlindungan ini dikarenakan Vectomune® ND menggertak kekebalan humoral, kekebalan berperantara sel dan kekebalan mukosa.
Di akhir sesi presentasi, Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami menjabarkan mengenai konsumsi daging ayam di Indonesia yang masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara tetangganya seperti Malaysia, Brunei, dan lain-lain.
Dawami juga menyoroti tentang panjangnya rantai tataniaga perunggasan yang menyebabkan disparitas harga yang tinggi di pasaran. Dimana menurutnya pembenahan di sektor hilir merupakan hal mutlak yang harus dilakukan agar konsumen mendapatkan harga yang lebih murah dan produk yang lebih berkualitas.
“Kami harap nantinya enggak ada lagi ayam hidup dijual di pasar. Semua harus sudah jual dalam bentuk karkas atau olahan. Seperti di Vietnam, FIlipina, dan lainnya. Ini kan juga mencegah zoonosis seperti misalnya AI. Kita harus bergerak dan menuju ke arah situ,” pungkas Dawami.
Sumber : http://www.majalahinfovet.com/ (CR)

BUKU REFLEKSI 70 TAHUN AGRIBISNIS AYAM RAS DI INDONESIA

Sebagaimana kita ketahui usaha peternakan unggas, khususnya ayam ras merupakan salah satu jenis usaha peternakan yang paling maju dan sudah berskala industri. hal ini menurut perhatian lebih dari para pelaku usaha perunggasan, khususnya dalam masalah kesehatan unggas. artinya pengelolaan kesehatan unggas harus dilakukan secara profesional.

Isi buku BUKU KUMPULAN PEMBAHASAN PENYAKIT UNGGUAS AKTUAL :

1. BAB I. PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH VIRUS

2. BAB II PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH BAKTERI

3. BAB III PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH PARASIT DALAM (ENDOPARASIT)

4. BAB IV PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH PARASIT LUAR (EKTOPARASIT)

5. BAB V PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR DAN RACUN JAMUR

6. BAB VI PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH GANGGUAN NUTRISI

GITA PUSTAKA MENERBITKAN BUKU-BUKU TENTANG KESEHATAN HEWAN DAN PETERNAKAN.
UNTUK PEMESANAN HUBUNGI DI BAWAH INI :
Wawan : 0856 8800 752
Achmad : 0896 1748 4158
mebuka ke web : www.jurnalpeternakan.com / https://kamusrumuspeternakan.com https://www.tokopedia.com/gitapustaka

TROUW NUTRITION INDONESIA MEMILIKI SERTIFIKASI ISO 22000:2018

Trouw Nutrition Indonesia, manufaktur premiks dan perusahaan penyedia solusi nutrisi untuk industri ternak sejak tahun 2007, dengan bangga mengumumkan bahwa PT Trouw Nutrition Indonesia telah memiliki sertifikasi ISO 22000:2018 ‘Sistem Manajemen Keamanan Pangan / Pakan’ kategori D1 – Produksi Pakan Hewan yang dikeluarkan oleh SGS United Kingdom Ltd. Sertifikasi ini untuk aktivitas produksi dan pengemasan ulang produk premiks, aditif, dan suplemen pakan.

Untuk memiliki sertifikasi ISO 22000:2018, PT Trouw Nutrition Indonesia telah melewati proses audit dan evaluasi yang ketat. Dengan adanya sertifikasi yang berlaku dari 20 Februari 2021 – 17 Maret 2022 ini, menunjukkan bahwa sistem manajemen, proses manufaktur, jasa, dokumentasi, prosedur milik PT Trouw Nutrition Indonesia telah memenuhi persyaratan standar internasional dan jaminan kualitas.

Selain itu, PT Trouw Nutrition Indonesia juga telah berhasil menunjukkan bahwa seluruh proses operasi mampu mengendalikan food/feed safety hazard dan memiliki sumber daya untuk mengimplementasi, meningkatkan dan menjaga sistem manajemen keamanan pangan / pakan .

Wully Wahyuni selaku General Manager PT Trouw Nutrition Indonesia mengatakan, “Kesuksesan ini kami raih demi meningkatkan kualitas produk dan juga pelayanan kami, yang tidak mungkin tercapai tanpa adanya kerja sama yang kuat dari tim internal. Kami berharap dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas perusahaan juga meningkatkan kepercayaan serta kredibilitas dimata pelanggan.”

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/ (Rilis/INF)

NAIK 9,05 PERSEN LABA PT KALBE FARMA TBK

PT Kalbe Farma Tbk, ciamik sepanjang 2020, pandemi tak menyurutkan pertumbuhan pendapatan perseroan. Walhasil, laba bersihnya pun meningkat. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2021, Rabu (31/3/2021), emiten bersandi PT Kalbe Farma Tbk ini mencatat penjualan neto sebesar Rp23,11 triliun meningkat tipis 2,12 persen dari periode 2019 yang sebesar Rp22,63 triliun.

Dari sisi beban pokok penjualan tercatat sedikit peningkatan menjadi sebesar Rp12,86 triliun sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp12,39 triliun.

Beban penjualan sedikit menyusut menjadi Rp5,01 triliun, dengan sedikit peningkatan pada beban umum dan administrasi menjadi sebesar Rp1,39 triliun, serta beban operasi lainnya yang meningkat menjadi Rp156,08 miliar Walhasil, laba PT Kalbe Farma Tbk yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk  mencapai Rp2,733 triliun, meningkat 9,05 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,506 triliun.

Dengan demikian, laba per lembar saham dasar atau earning per share perseroan pada tahun buku 2020 menjadi sebesar Rp58,31, lebih tinggi dari tahun 2019 yang sebesar Rp53,48.

Sementara, total aset perseroan hingga 31 Desember 2020 mencapai Rp22,56 triliun, meningkat 11,35 persen atau Rp2,3 triliun dari posisi 2019 yang sebesar Rp22,26 triliun.

Peningkatan utamanya terjadi pada total aset lancar yang naik menjadi Rp13,07 triliun dari posisi 2019 yang sebesar Rp11,22 triliun. Jumlah tersebut terutama sebagai dampak dari peningkatan kas dan setara kas pada periode 2020 menjadi Rp5,2 triliun, sementara saat 2019 posisinya sebesar Rp3,04 triliun.

Adapun, total aset tidak lancar PT Kalbe Farma Tbk meningkat menjadi Rp9,48 triliun dari posisi 2019 yang sebesar Rp9,04 triliun. Dengan peningkatan terutama pada aset tetap neto yang menjadi sebesar Rp8,15 triliun dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp7,66 triliun.

Dari sisi liabilitas, perseroan mendapatkan peningkatan total liabilitas menjadi Rp4,28 triliun naik 20,48 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,55 triliun.

Terjadi peningkatan pada dua kedua pos liabilitas jangka panjang dan jangka pendek. Liabilitas jangka pendek perseroan meningkat menjadi Rp3,17 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,57 triliun. Peningkatan terjadi utamanya pada pos utang bank jangka pendek, utang lain-lain pihak ketiga, serta utang pajak.

Sementara itu, pos liabilitas jangka panjangnya meningkat menjadi Rp1,11 triliun dari posisi tahun 2019 yang sebesar Rp982 miliar. Peningkatan utamanya terjadi pada pos utak bank, liabilitas sewa, liabilitas pajak tangguhan, neto serta liabilitas imbalan kerja jangka panjang. Adapun, total ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp18,27 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp16,7 triliun.

Peningkatan utamanya terjadi pada pos saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya yang menjadi Rp16,62 triliun dari posisi 2019 yang sebesar Rp15,13 triliun. Dari sisi arus kas, posisi kas akhir tahun terjadi peningkatan menjadi Rp5,2 triliun dari perbandingan periode tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,99 triliun. Adapun, dibandingkan dengan kas awal tahun terjadi kenaikan kas sebesar Rp2,1 triliun.

Sumber : https://market.bisnis.com/

POLEMIK OVERSUPPLY PERUNGGASAN, BEGINI SOLUSINYA

Disampaikan oleh Ketua Pataka, Ali Usman, oversupply pada industri perunggasan Indonesia sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Hal ini tak terlepas dari adanya kebebasan pasar antar negara yang akhirnya berpengaruh pada industri di dalam negeri (persaingan usaha).
Kelebihan produksi yang terjadi tentunya mempengaruhi harga unggas hidup yang kerap naik-turun di tingkat peternakan rakyat (Rp 15.000-19.000), sementara HPP peternak berada diangka Rp 19.000-20.000, sehingga kerugian tak terelakan. Kondisi lain yang turut mempengaruhi adalah lemahnya daya beli masyarakat, konsumsi daging unggas yang masih rendah dan munculnya pandemi COVID-19 yang melanda seluruh negara.
Hal itu juga seperti disampaikan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Muladno. Ia menjelaskan bahwa kondisi penurunan harga live bird (LB) telah berlangsung selama dua tahun terakhir dan saat ini diperparah dengan pandemi COVID-19. Kemudian beberapa kondisi seperti harga daging unggas yang tetap tinggi dan penampungan LB ketika oversupply belum cukup memadai.
Ia pun menampilkan data yang dihimpun dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) per 1 Maret 2021, potensi produksi/kebutuhan 2021 sebanyak 3,4 miliar ekor (supply), sementara demand 2,9 miliar ekor dan diperkirakan ada surplus sebanyak 510 juta ekor.
“Sehingga diperlukan kebijakan pemerintah yang lebih komprehensif dan bias ke peternak rakyat untuk tegaknya keadilan dalam kegiatan ekonomi,” papar Muladno.
Hal senada juga disampaikan oleh Sahrul Bosang selaku pengamat perunggasan. Ia menyebut, diperlukannya pembangunan cold storage oleh para importir GPS yang dimaksudkan untuk keperluan bufferstock.
“Selain itu bagiamana caranya pemerintah juga bisa memutus rantai broker dan melakukan audit kepada PS farm untuk menekan overstock dan menstabilkan harga LB seperti yang terjadi pada harga karkasnya di pasaran,” ucap dia.
Untuk memperbaiki oversupply yang terjadi, beberapa solusi pun diberikan. Dintaranya oleh Muladno yang berencana membangun sinergi kolaborasi antara pemerintah, koperasi, akademisi dan perusahaan yang terkonsolidasi melalui pendekatan SPR.
“Integrasi horizontal sangat dibutuhkan. Karena filosofi SPR itu semua harus terikat dan saling berkaitan serta berkomitmen. Rencananya SPR pertama untuk komoditas ayam pedaging ini akan dibangun di Bogor, mudah-mudahan ini bisa menjadi role model,” ungkap Muladno yang juga anggota AIPI.
Solusi serupa juga disampaikan oleh praktisi perunggasan, Tri Hardiyanto, yang juga Founder Tri Group. Ia mengemukakan bahwa untuk penguatan peternak mandiri, dibutuhkan dorongan peternak untuk berhimpun membentuk mini integrasi. Maka diantara peternak mandiri kecil, menengah dan besar bisa bergabung dengan kesetaraan (partnership).
Lebih jauh dijelaskan, Tri juga berharap ada kemandirian bibit bagi peternak mandiri. “Usaha peternak mandiri semakin tergerus, perlu adanya kepastian atau kemandirian bibit bagi peternak mandiri dengan mini breeding farm, sehingga kami juga bisa berlayar bersama integrator,” pungkasnya.
Pendapat lain juga hadir dari salah satu pelaku usaha budi daya unggas, Pardjuni. Ia dengan tegas mengatakan untuk memperbaiki kondisi carut-marut perunggasan, budi daya ternak harus dikembalikan seutuhnya ke peternak rakyat.
“Kami sudah dua tahun terakhir ini rugi miliaran rupiah. Solusinya untuk memperbaiki permasalahan ini, budi daya ayam dikembalikan ke peternak rakyat, sudah masalah selesai,” tukasnya.
Talkshow yang dimulai pukul 14:00 WIB ini dihadiri lebih dari 100 orang dari berbagai kalangan bidang perunggasan. Dihadirkan pula narasumber Iqbal Alim dari Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.

INDONESIA EKSPOR PRODUK UNGGAS KE NEGERI TIRAI BAMBU

Direktur P2HP Fini Murfiani menjelaskan bahwa sejak lama pihak Indonesia telah melakukan lobi – lobi kepada Tiongkok untuk membuka akses pasar terkait produk perunggasan. Lebih jauh Fini menjelaskan bahwa sudah ada 5 surat resmi G to G kepada pemerintah Tiongkok yang dikirimkan oleh Indonesia.
Fini juga menyebut bahwa KBRI Tiongkok juga telah melakukan komunikasi informal kepada GACC (General Administration Custom of People’s Republic of China) / bea cukainya Tiongkok terkait hal ini. Fini juga mengatakan dalam HS Code nomor 020712 dan 020714 Tiongkok terkait produk unggas, Indonesia belum pernah melakukan ekspor produk perunggasan ke Tiongkok.
“Kami sudah melakukan ini, terakhir surat kami kirimkan di bulan Maret ini, tentunya karena dari sana mereka juga sudah meminta kepada kami karena supply mereka yang juga terbatas. Jadi kami sedang mengupayakan G to G nya, tapi supplier di sana sepertinya sudah tidak sabar untuk melakukan bisnis secara B to B, makanya kita mengupayakan yang terbaik,” tutur Fini.
Ivan Lee sebagai perwakilan buyer dari Tiongkok mengatakan bahwa negaranya sangat membutuhkan suplai produk perunggasan berupa Chicken wings, Middle Joint Wings, Chicken Paw, dan Chicken feet. Produk – produk tersebut sangat diminati oleh masyarakat Tiongkok dan konsumsinya cukup besar.
Sebagai catatan, Ivan mengatakan bahwa Tiongkok sesungguhnya mengekspor produk – produk tersebut dari Brazil, Argentina, dan Thailand. Namun ia mendengar kabar adanya kemungkinan suplai dari Brazil akan dihentikan oleh Tiongkok karena isu Covid-19. Selain itu Ivan meyakini bahwa produk Indonesia berkualitas baik.
“Kami tahu bahwa produksi Indonesia sangat besar, makanya kami ingin agar produk Indonesia bisa kami jajaki di sini. Saya yakin meskipun secara G to G sangat rumit, tapi kami bisa upayakan untuk prosesnya, dan kami ingin secepatnya. Tetapi ingat, ini bukan soal kuantitas tapi tetap kualitas kami utamakan,” tutur Ivan.
Namun begitu, nampaknya  jalan terjal terkait ekspor produk ini masih akan menanti. Pasalnya hingga kini belum ada kesepakatan G to G antara Indonesia dan Tiongkok. Namun begitu kedua pihak masih saling berdiskusi mencari jalan agar hal ini dapat diwujudkan, hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan dan solusi yang dihasilkan oleh kedua belah pihak.

PT JAPFA COMFEED INDONESIA TBK SUSTAINABILITY BOND SETARA Rp5 Triliun

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk., menerbitkan sustainability-linked bond senilai US$350 juta atau setara Rp5,04 triliun dengan asumsi kurs Jisdor Selasa (16/3/2021) Rp14.424 per dolar AS.

Penerbitan tersebut menjadi sustainability-linked bond pertama dari industri agribisnis makanan, dan menjadi sustainability-linked bond pertama yang diterbitkan dengan denominasi dolar AS dari Asia Tenggara.

Direktur PT Japfa Comfeed Indonesia Tan Yong Nang mengatakan bahwa obligasi ini merupakan penerbitan obligasi ketiga dari perseroan dan telah mendapatkan respon positif dari pasar. Penerbitan itu mengalami oversubscribe lebih dari 3 kali.

“Ini adalah bukti dari pendekatan keuangan kami yang berhati-hati, dengan profil hutang yang seimbang dan pengelolaan belanja modal yang efisien, serta kemampuan kami untuk terus memberikan hasil yang solid bahkan di tengah kondisi yang menantang akibat Covid-19,” ujar Tan Yong Nang seperti dikutip dari keterangan resminya, Rabu (17/3/2021).

Selain itu, dia menjelaskan bahwa penerbitan obligasi keberlanjutan ini akan menjadi katalis tambahan perseroan untuk mencapai target keberlanjutan. Emiten berkode saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk itu bertujuan memberikan kontribusi terhadap tujuan pembangunan PBB (UN SDG’s) dengan memproduksi makanan berprotein pokok yang bergizi, aman dan terjangkau melalui sistem produksi yang efisien antara lain, dengan penggunaan sumber daya yang efisien dan minimalisasi limbah.

Adapun, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk telah melaksanakan Life Cycle Assessment (LCA) yang dimulai pada 2019. LCA adalah penilaian formal berbasis sains dari siklus produksi perseroan yang terintegrasi secara vertikal dari pakan hingga produk ayam yang dijual. Berdasarkan LCA, pengolahan air limbah dan pengelolaan air telah diidentifikasi sebagai area fokus utama di mana dampak positif dapat dibuat.

Tan Yong Nang juga mengatakan bahwa penerbitan obligasi ini menjadi kesempatan bagi investor dan pemangku kepentingan untuk bermitra dengan perseroan untuk mendorong perubahan menuju masa depan yang berkelanjutan.

Di sisi lain, dana hasil obligasi akan digunakan untuk refinancing obligasi senilai US$250 juta yang akan jatuh tempo pada 2022 dan untuk keperluan umum perseroan, termasuk tetapi tidak terbatas pada belanja modal, modal kerja, dan refinancing utang lainnya.

Obligasi itu memiliki kupon 5,375 persen yang akan jatuh tempo pada 2026 dan tercatat di Singapore Stock Exchange (SGX). Obligasi itu telah mendapatkan peringkat BB- oleh Standard & Poor’s dan peringkat BB- oleh Fitch. Adapun, dalam penerbitan sustainability-linked bond terdapat target kinerja keberlanjutan yang harus dipenuhi oleh perseroan, yaitu salah satunya upaya meminimalkan dampak terkait pencemaran air dari limbah.

Oleh karena itu, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk menargetkan dalam 3 tahun 9 bulan terhitung sejak tanggal penerbitan sustainability-linked bond perseroan akan membangun 8 fasilitas daur ulang air di 15 rumah pemotongan hewan dan 1 fasilitas daur ulang air di tempat penetasan dalam unit pembiakan unggas.

Investor berhak menerima peningkatan kupon hingga 25 basis poin (bps) jika target kinerja keberlanjutan itu tidak dipenuhi oleh perseroan, yang berlaku untuk sisa periode bunga.

“Japfa akan mengupayakan verifikasi kinerja terhadap target kinerja keberlanjutan itu oleh verifikator eksternal yang memenuhi syarat setidaknya setahun sekali dan akan mengungkapkan perkembangannya dalam Laporan Keberlanjutan tahunannya,” papar Tan Yong Nang. Bertindak sebagai joint global coordinator dan joint sustainability-linked bond structuring advisors adalah Credit Suisse dan DBS Bank Ltd.

Sumber : https://market.bisnis.com/

PETERNAK JUGA WAJIB PATUHI REGULASI TATA KELOLA LINGKUNGAN

Nasib naas harus dialami Mario Suseno (40) yang merupakan seorang peternak ayam petelur. Pasalnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Banyumas, Jawa Tengah, menjatuhkan vonis hukuman penjara selama 1 tahun kepadanya karena dinilai melanggar upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dirinya terbukti bersalah melanggar Pasal 109 ayat 1 Jo. Pasal 36 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Dalam sidang dengan agenda pembacaan putusan yang digelar di Ruang Sidang I PN Banyumas, Rabu, 17 Maret 2021, majelis hakim yang diketuai Abdullah Mahrus dengan anggota Agus Cakra Nugraha dan Suryo Negoro juga menghukum terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp1 miliar subsider 1 bulan kurungan.

Dalam hal ini, terdakwa Mario Suseno tidak memiliki izin Upaya Pengelolaan Lingkungan-Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL) dalam mengelola peternakan ayam petelur yang berlokasi di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

Kendati demikian, majelis hakim menyatakan beberapa hal yang meringankan terdakwa, salah satunya yang bersangkutan telah berupaya mengurus izin UKL-UPL.Saat ditemui usai sidang, terdakwa Mario Suseno mengaku akan mengajukan banding meskipun saat ditanya majelis hakim menyatakan pikir-pikir.

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/ (INF)

ASOHI KEMBALI LAKSANAKAN PPJTOH, PELATIHAN WAJIB BAGI DOKTER HEWAN

Dihadapan sekitar 120 orang peserta, Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari, menyampaikan bagaimana tugas PJTOH pada perusahaan obat hewan dan pakan telah diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan No. 01/kpts/SM.610/F/01/05 tahun 2005.
Adapun tugas dari PJTOH, lanjut Ira, diantaranya memberikan informasi tentang peraturan perundangan bidang obat hewan kepada pimpinan perusahaan, memberikan saran dan pertimbangan teknis mengenai jenis sediaan obat hewan yang akan diproduksi/diimpor.
“Kemudian juga menolak produksi, penyediaan, peredaran dan repacking obat hewan ilegal, serta menolak peredaran obat hewan yang belum mendapatkan nomor pendaftaran,” kata Ira dalam sambutannya. Sebab, dokter hewan merupakan garda terdepan terkait obat hewan dan penggunaannya di lapangan.
Sedangkan untuk di pabrik pakan, PJTOH juga memiliki tugas menolak penggunaan bahan baku atau obat hewan jadi yang dilarang dicampur dalam pakan ternak dan menyetujui penggunan bahan baku atau obat hewan jadi dalam pakan yang memenuhi syarat mutu.
“Mengingat pentingnya tugas dan tanggung jawab PJTOH, maka ASOHI hampir setiap tahun mengadakan pelatihan ini. Kali ini kita laksanakan secara online mengingat masih suasana pandemi COVID-19,” ungkapnya.
Nantinya ke depan selain pelatihan PJTOH tingkat dasar yang dilakukan sekarang ini, kata Ira, pihaknya berencana mengadakan pelatihan PJTOH tingkat lanjutan (advance).
“Pelatihan PJTOH lanjutan ini akan membahas topik-topik yang lebih mendalam, sehingga ilmu yang diperoleh dari pelatihan tingkat dasar akan terus berkembang dan bermanfaat sesuai perkembangan zaman. Mudah-mudahan bisa dilaksanakan tahun ini,” pungkas Ira.
Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari ini turut mengundang banyak pihak yang terkait di dalamnya, diantaranya Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa (Direktur Kesehatan Hewan), Drh Ni Made Ria Isriyanthi (Kasubdit Pengawasan Obat Hewan), Prof Budi Tangendjaja (peneliti Balitnak), Drh Widarto (Koordinator PPNS Ditjen PKH), Rizqi Nur Ramadhon (Biro Hukum Kementan), Drh M. Munawaroh (Ketua Umum PB PDHI), Prof Widya Asmara (Ketua Komisi Obat Hewan), kemudian perwakilan Direktorat Pakan Ternak, Karantina, tim CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik) dan BBPMSOH (Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan).

WEBINAR BIDANG PERUNGGASAN BAGI CALON SDM

Bidang perunggasan bagi calon SDM (sumber daya manusia) pemimpin masa depan dalam pembangunan perunggasan nasional, guna mempercepat penggerakan roda perekonomian menjadi penopang utama dalam pemenuhan protein hewani masyarakat.
Webinar menghadirkan narasumber Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada, Prof Ali Agus. Dalam paparannya, ia menjelaskan ragam dinamika bisnis perunggasan yang terjadi ibarat pohon yang sedang meranggas. Karena itu, untuk meningkatkan daya saing sebagai penggerak roda ekonomi rakyat maupun di kancah internasional, dibutuhkan peningkatan SDM dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
“Kuncinya SDM dan iptek. Diperlukan SDM yang bekualitas salah satunya melalui pendidikan untuk menambah keahlian/skill, inovatif, kreatif, memiliki jiwa kepemimpinan dan lain sebagainya. Ini menjadi sangat penting sekali,” jelas Prof Ali yang juga menjabat Sekretaris Jenderal South East Asia Network of Animal Science.
Sementara dari sisi pemanfaatan iptek, lanjut dia, pengembangan mengenai breedingfeed and feedinghousing dan it support sangat dibutuhkan. Contohnya perkembangan genetika unggas, pengembangan kandang closed house, sampai munculnya aplikasi yang membantu manajemen budi daya hingga pemasaran unggas (start up) yang dinilai sangat bermanfaat bagi peternak dan masyarakat.
Hal senada juga disampaikan oleh Guru Besar sekaligus Wakil Dekan I Fapet Universitas Brawijaya, Prof M. Halim Natsir yang juga menjadi pembicara. Ia menyebut, SDM yang memiliki karakter wirausaha harus berani tampil beda (inovatif). “Juga berani mengambil risiko dan mau menjemput bola dalam melihat peluang bisnis,” tukas Prof Halim.
Kegiatan yang dihadiri 200-an orang ini juga menampilkan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili Koordinator Unggas dan Aneka Ternak, Iqbal Alim. Dan sebagai informasi, PPA merupakan program yang digagas untuk memberikan pembekalan seputar kewirausahaan perunggasan selama dua bulan (Maret-April 2021) bagi mahasiswa terseleksi dan peserta umum.

PT FRISIAN FLAG INVESTASI 3,8 TRILIUN

PT Frisian Flag Indonesia membangun pabrik baru di Cikarang, Jawa Barat, dengan investasi tahap awal senilai 225 juta euro atau setara Rp 3,8 triliun untuk produk susu cair dan krimer kental manis. Pabrik ini memiliki kapasitas 244 juta liter per tahun untuk susu cair serta 476.000 ton per tahun untuk produk krimer kental manis.

Presiden Direktur Frisian Flag Indonesia Maurits Klavert menyampaikan bahwa setelah hampir 100 tahun hadir di Indonesia, pabrik itu menjadi simbol kebanggaan bagi perusahaan. Seiring investasi tersebut, perusahaan akan meningkatkan pula penyerapan susu segar dalam negeri yang dipasok oleh belasan ribu peternak sapi perah rakyat di Tanah Air.

“Pabrik baru ini akan mencakup fasilitas produksi atau pengolahan produk susu cair siap minum dan susu kental manis, sentra logistik dan distribusi serta perkantoran dengan menggunakan teknologi modern dan ramah lingkungan,” katanya, Selasa, 9 Maret 2021.

Sebanyak 90 persen hasil produksi akan menyasar pasar ekspor dan 10 persen sisanya untuk pasar dalam negeri. Pabrik baru seluas 25 hektare tersebut diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja akan sebanyak 848 orang.

Adapun pabrik Cikarang ini akan melengkapi dua fasilitas produksi perseroan yang sudah ada saat ini di Pasar Rebo dan Ciracas, Jakarta Timur. Terakhir perseroan mencatat omzet tahunan berjumlah 11,6 miliar euro atau Rp 197,7 triliun pada 2018.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang yang ikut hadir dalam seremoni pembangunan pabrik mengapresiasi Frisian Flag yang turut berupaya mendorong pertumbuhan produksi susu segar.

Industri pengolahan susu merupakan salah satu sektor manufaktur pangan yang mendapat prioritas pengembangan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.

“Industri ini masih dihadapkan pada tantangan pemenuhan bahan baku, karena sampai saat ini hanya 22 persen bahan baku susu yang dipasok dari dalam negeri,” katanya saat peresmian pembangunan pabrik Frisian Flag.

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/ (INF)

PERAN KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DALAM BISNIS PEMBIAKAN SAPI

PDHI Cabang Lampung bekerja sama dengan Red Meat Cattle Partnership, didukung Infovet sebagai media partner, menyelenggarakan Webinar Partnership – PDHI Cabang Lampung dengan tema “Peran Kesehatan dan Kesejahteraan Hewan dalam Bisnis Pembiakan Sapi”. Beberapa narasumber berpengalaman dihadirkan membuat acara ini sangat tinggi antusiasnya. Acara ini dimoderatori oleh Bambang Suharno, Pemimpin Umum Redaksi Majalah Infovet.

Paul Boom (Strategic Advisor Cattle Breeding Red Meat Cattle Partnership) dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembiakan sapi brahman cross menguntungkan jika dilakukan secara profesional pengembangan breeding ke grower dan feeder. Faktor kesehatan dan kesejahteraan hewan, mendukung produktifitas ternak.

Sambutan berikutnya dari Direktur Kesehatan Hewan, Drh Fajar Sumping Tjatur Rasa PhD, beliau memaparkan tentang peranan kesehatan hewan dalam pembiakan sapi sangat penting, terkait produktivitas dan peningkatan populasi bibit sapi di Indonesia. Desain genetik merupakan sesuatu yang penting disupport dengan manajemen pakan dan pencegahan, penanganan kesehatan hewan. Manajemen good breeding practice harus memenuhi aspek kesehatan hewan dan kesejahteraan hewan. Penerapan biosecurity, pemberian anti parasit akan membantu perkembangan reproduksi ternak. Aspek kesehatan hewan harus secara aplikatif mencakup 5 freedom ( bebas dari lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari sakit, cidera dan penyakit, bebas dari rasa takut dan tertekan, serta bebas mengekspresikan perilaku normal dan alami).

Pembicara pertama Drh Nanang Purus Subendro (Ketua PDHI Cabang Lampung). Beliau juga pemilik PT Indo Prima Beef I (3500 ekor) dan II (6000 ekor) telah bermitra dengan PT Samudra Biru Langit dengan kapasitas 700 ekor, Kopkar Gunung Madu (1500 ekor), dan CV Pasa Jaya (700 ekor). Breeding memiliki high risk, low profit, membutuhkan lahan lebih luas, jenis indukan (pure/commercial breed), sarana prasarana, SDM, jenis pakan yang murah dan visible, biaya yang dibutuhkan untuk peningkatan berat badan perhari, pasar masing-masing jenis sapi yang dihasilkan, cash flow, payback periode dan IRR.

Pemateri kedua Dr Drh Susan M Noor (Peneliti BBLitvet Bogor, Balibangtan Kemetan). Pengembangan sapi berdasarkan kaidah kesehatan hewan meliputi status penyakit hewan, pencegahan penyakit, biosecurity dan kesejahteraan hewan. Pencegahan penyakit menjadi lebih efektif daripada penanganan penyakit. Pelaksanaan biosecurity dan kesejahteraan hewan mendukung produktivitas peternakan. Contoh dampak penyakit brucellosis pada pengembangbiakan sapi meliputi abortus, stillbirth, infertilitas (gangguan reproduksi), penurunan produksi. Beberapa penyakit yang berperngaruh terhadap pengembangbiakan sapi meliputi penyakit parasit darah, septisemia epizootika, campylobacter, leptospirosis dan lainya. Penyakit hewan menular berdampak pada kesrawan, produktivitas, kesejahteraan masyarakat dan perdagangan. Pencegahan penyakit perlu melakukan pentingnya identifikasi risiko. Vaksinasi menjadi langkah efektif untuk pencegahan penyakit.

Pembicara ketiga Drh Arief Panji (Manajer dan Animal Health PT KAL – MEDCOAGRO) menyampaikan SISKA (sistem integrasi sapi dan kelapa sawit) di PT KAL dimulai sejah 2010. Pada 2016, dengan lahan 1700 ha lahan sawit dengan populasi 520 ekor dengan supervisi dari Indonesia Australian Commercial Cattle Breeding (IACCB). Sistem rotasi grassing sapi dari satu lokasi ke lokasi yang sama membutuhkan waktu 90 hari. Kandang sapi permanen dipergunakan untuk penanganan penyakit-penyakit serius, pemeriksaan kebuntingan, pemberian obat cacing, recovery induk menyusui dan vaksinasi masal. Seluruh aktivitas perkawinan (join bull) hingga kelahiran dilakukan di area grassing. Kendala-kendala di lapangan meliputi deteksi sapi sakit, penanganan penyakit, mengisolasi sapi sakit dari koloni ke kandang permanen, penanganan distokia. Keuntungan sistem integrasi sapi sawit meliputi penyediaan produksi pakan unuk ternak, penurunan biaya penanganan gulma dan rumput liar serta tersedianya pupuk organik dari sapi ke tanaman sawit. Pada musim kemarau ketersediaan pakan ditambahkan dengan solit sawit (sludge). Beberapa kasus lapangan yang ditemukan meliputi fraktur tulang sapi yang terjebak di kubangan atau rawa, myasis, prolaspus, laminitis karena tertusuk duri sawit.

Kesempatan terakhir dimanfaatkan Dr Drh Muhammad Agil, MSc Agr (dosen Reproduksi dan Kebidanan FKG IPB). Beliau memberikan beberapa kesimpulan dari acara webinar tersebut. Beberapa hal yang disimpulkan meliputi swasembada daging/sapi hanya akan dicapai bila populasi sapi dapat memenuhi kebutuhan jumlah sapi untuk dipotong dalam 1 tahun dan berkelanjutan. Peningkatan populasi sapi hanya bisa dicapai dengan program pembiakan sapi. Pembiakan sapi merupakan usaha yang mahal, butuh modal kuat dan berkelanjutan. Profit margin pembiakan sapi masih rendah  (3-7%), sangat tergantung dari biaya pakan (70%). Peningkatan profit margin pembiakan sapi hanya diperoleh dengan pelaksanaan manajemen pemeliharaan (husbandry), reproduksi dan kesehatan yang efektif dan efisien dan adanya subsidi pemerintah.
Sumber: http://www.majalahinfovet.com/ (Joko Susilo, Kontributor Lampung)