TOKSIN ATAU LAZIM DISEBUT DENGAN MIKOTOKSIN DALAM DUNIA PETERNAKAN

Toksin atau lazim disebut dengan mikotoksin dalam dunia peternakan. Permasalahan klasik ini kerap kali mengintai semua unit usaha yang bergerak di bidang perunggasan dari hulu maupun hilir.

Toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak seringkali didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh cendawan/kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di Negeri ini tetapi juga seluruh dunia.

Mikotoksin Selalu Menjadi Momok
Dalam dunia peternakan setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang menjadi tokoh “protagonis”, ketujuhnya seringkali mengontaminasi pakan dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel. Peternak pun dibuat kerepotan oleh ulah mereka. Jenis toksin yang penting untuk diketahui dijabarkan pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1.  Ragam Jenis Mikotoksin

Jenis Toksin Organisme Penghasil Toksin Efek Terhadap Ternak & Manusia
Aflatoksin Aspergillus flavus, Aspergillus parasiticus Penurunan produksi, imunosupresi, bersifat karsinogen, hepatotoksik
Ochratoksin Aspergillus ochraceus Penurunan produksi, kerusakan saraf dan hati
Fumonisin Fusarium spp. Penurunan produksi, kerusakan ginjal dan hati, gangguan pernapasan
Zearalenon Fusarium graminearum, Fusarium tricinctum, Fusarium moniliforme Mengikat reseptor estrogen (feminisasi), menurunkan fertilitas
Ergot Alkaloid Claviseps purpurea Penurunan produksi pertumbuhan, penurunan produksi susu, penurunan fertilitas
Deoxynivalenol (DON)/Vomitoksin Fusarium spp. Penurunan produksi, kerusakan kulit
T-2 Toksin Fusarium spp. Penurunan produksi, gastroenteritis hebat

Sumber: Mulyana, 2013.

Menurut Drh Asri Rizky, dari PT Charoen Pokphand Indonesia, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas.

“Banyak faktor yang mempengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tutur pria alumnus FKH Universitas Syiah Kuala.

Maksudnya adalah, di Indonesia kebanyakan petani jagung hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya, dengan bantuan sinar matahari/manual biasanya petani menjemur jagung hasil panennya. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan), sinar matahari tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” jelas dia.

Masih masalah iklim menurut Asri, Indonesia yang beriklim tropis merupakan wadah alamiah bagi mikroba termasuk kapang dalam berkembang biak.

“Penyimpanan juga harus diperhatikan, salah dalam menyimpan jagung artinya membiarkan kapang berkembang dan meracuni bahan baku kita,” ucapnya.

Menurut data FAO 2017, sekitar 25% tanaman biji-bijian di seluruh dunia tercemar oleh mikotoksin setiap tahunnya. Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tercemarnya bahan baku pakan dan pangan oleh mikotoksin berupa penurunan produksi daging dan telur unggas, penurunan produksi bahan pakan dan pangan, penurunan performa ternak, serta meningkatnya biaya kesehatan akibat mikotoksikosis pada hewan dan manusia.

Commercial Lead PT Cargill Indonesia, Drh Sudarno Wiryasentika, mengatakan bahwa bukan Indonesia saja, seluruh dunia kini dihadapkan pada problem mikotoksin yang semakin parah.

“Di Amerika dan Kanada saja kerugian akibat tercemarnya mikotoksin mencapai USD 225 miliar, bayangkan betapa merugikannya mikotoksin ini, oleh karenanya kita harus selalu waspada,” tutur Sudarno.

Tak lupa ia mengingatkan kembali bahwa sifat alamiah mikotoksin adalah tahan terhadap suhu tinggi, sehingga “awet” pada kondisi pelleting pada proses pembuatan pakan dan sangat sulit untuk dieradikasi.

Sudarno juga menilai bahwa pemerintah harus serius dalam menangani hal ini, karena tidak hanya berbahaya bagi hewan, tetapi juga bagi manusia.

“Saya ingin mengingatkan pemerintah, stakeholder, serta pihak terkait mengenai masalah ini, please jangan dianggap remeh, efeknya seperti gunung es dan berkesinambungan pada kesehatan hewan maupun manusia,” tutur pria yang pernah menjadi manajer formulasi tersebut.

Waspada Toksin Bakteri

Mikroorganisme yang dapat menghasilkan toksin bukan hanya jamur atau cendawan, beberapa… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2021 (CR) http://www.majalahinfovet.com/

WEBINAR VETERINARY SATUTORY BODY DAN ASEAN MUTUAL RECOGBITION AGREEMENT FOR VETERINARY PRACTITIONER

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) bekerja sama dengan Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) dan PB Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), melakukan sosialisasi terkait kemungkinan dampak ASEAN Mutual Recognition Agreement (ASEAN MRA) for Veterinary Practitioner dan pentingnya Veterinary Satutory Body (VSB) terhadap pelayanan kesehatan hewan di Indonesia. 

Melalui sambungan virtual, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc., berpesan agar VSB atau ke depannya dapat di sebut sebagai Konsil Kedokteran Hewan Indonesia (KKH) dapat segera dibentuk. “Pendirian KKH harus dilakukan dengan langkah-langkah bertahap dengan peta jalan dan target yang jelas,” ungkapnya dalam pembukaan seminar.

Peta jalan yang dimaksud meliputi sosialisasi, membangun media informasi, menyediakan kerangka hukum, mengembangkan rancangan kode professional, dan membangun database veteriner serta paraprofessional veteriner di Indonesia. Pembentukan VSB atau KKH di Indonesia dapat diupayakan melalui bantuan teknis tenaga ahli dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) melalui fasilitasi program twinning.

Perwakilan subregional OIE Bangkok, Dr. Ronello Abila, menjelaskan bahwa pembentukan VSB merujuk pada dokumen OIE Terrestrial Animal Health Code (TAHC) terutama Artikel 3.4. tentang Legislasi Veteriner dan Artikel 3.2. tentang Evaluasi Pelayanan Veteriner. Dalam penjelasannya, legislasi atau payung hukum veteriner, setidaknya harus mengatur kewenangan, persyaratan pendidikan dan kompetensi, kualifikasi, lingkup aktivitas, serta kondisi force majeure, misalnya dalam kondisi terjadinya pandemi.

VSB sendiri menurut OIE, adalah lembaga profesional otonom yang diberikan delegasi melalui undang-undang yang berlaku dan memiliki fungsi pengaturan, seperti registrasi dan perizinan, standar minimum pendidikan veteriner, standar pelayanan profesional dan kompetensi veteriner serta paraprofesional veteriner.

Terkait dengan hal di atas, Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), drh. M.Munawaroh, MM menjelaskan bahwa PB PDHI bersama dengan pemerintah tengah menyusun naskah akademis Undang-Undang Pelayanan Kesehatan Hewan, sebagai payung hukum pembentukan VSB.

Keberadaan VSB dalam satu negara, sangat erat kaitannya dengan eksistensi veteriner dan paraprofesional veteriner di dalamnya. Sehubungan dengan adanya skema Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), perdagangan barang dan jasa di lingkup regional semakin di depan mata.  Melalui ASEAN Mutual Recognition Agreement (MRA), perdagangan jasa profesional antar negara ASEAN, difasilitasi tanpa mengesampingkan hukum yang berlaku di negara masing-masing.

Ketua 2 PB PDHI, drh. Tri Satya Putri Naipospos, MPhil, Ph.D., menjelaskan bahwa MRA dalam perdagangan jasa adalah kerangka pengaturan yang dibuat untuk mendukung liberalisasi dan perdagangan jasa. “Nantinya, melalui skema MRA on Veterinary Practicioner ini, praktisi kedokteran hewan maupun spesialis yang akan bekerja lintas negara, harus terregistrasi dan memiliki izin dari VSB negara asal,” terang Tri Satya Putri yang akrab dipanggil drh. Tata. Namun demikian, tenaga dokter hewan atau paraprofesional asing juga harus tunduk pada peraturan domestik dan ASEAN Veterinary Code of Conduct 2016. “Itulah sebabnya, Undang-Undang Pelayanan Kesehatan Hewan menjadi perlu disegerakan,” tambahnya kemudian.

Pemerintah melalui Sistem Kesehatan Hewan Nasional (SISKESWANAS) mengatur tatanan pelayanan kesehatan hewan yang dilaksanakan oleh otoritas veteriner dengan melibatkan seluruh sektor terkait seperti penyelenggara kesehatan hewan, asosiasi, pelaku usaha, dan masyarakat secara terpadu. “Siskeswanas akan memberikan gambaran menyeluruh tentang aktivitas pelayanan kesehatan hewan di Indonesia. Ke depan, dengan lahirnya Undang-Undang Pelayanan Kesehatan Hewan bersama Siskeswanas, maka fondasi KKH akan semakin kuat,” tutur Direktur Kesehatan Hewan, drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Ph.D.

Saat ini, kelahiran KKH di Indonesia tengah dihadapkan pada berbagai tantangan. Selain pembentukan payung hukum, perlunya penyiapan kerangka fisik, anggaran, dan operasional untuk terbentuknya KKH di Indonesia, masih menjadi pekerjaan rumah bersama antara pemerintah, PB PDHI, dan elemen masyarakat lainnya. Diharapkan, selama menunggu kehadiran KKH, praktisi kedokteran hewan dan paraprofesional veteriner di Indonesia dapat memperkuat kapasitas teknis sehingga dapat bersaing dengan praktisi kedokteran hewan asing di kawasan ASEAN.

Semoga di masa depan, Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lainnya dan menjadi pemenang di negerinya sendiri. Mari, sama-sama kita majukan pelayanan kesehatan hewan di Indonesia. (red)

 

Narahubung:
Fadjar Sumping Tjatur Rasa
Direktur Kesehatan Hewan
Ditjen PKH, Kementan RI

https://ditjenpkh.pertanian.go.id/

TAHUN BERGANTI PENYAKIT MENANTI, BAGAIMANA MENGHADAPINYA?


Meskipun 2020 sempat terkendala COVID-19, PT Mensana Aneka Satwa dan PT Sanbio tetap melakukan kunjungan kepada peternak. Berdasarkan laporan kunjungan dari para dokter hewan dan technical services di seluruh penjuru Indonesia, pada 2020 kasus penyakit unggas yang banyak terjadi pada broiler masih didominasi oleh penyakit CRD kompleks, Gumboro dan sedikit laporan mengenai Slow Growth oleh cemaran Mikotoksikosis.

Sedangkan pada ternak layer, kasus penyakit masih didominasi penyakit yang sebabkan penurunan produksi pada ayam masa bertelur seperti ND (G7), AI (H9N2), IB dan Coryza, sedangkan untuk fase starter-grower-prelayer (pullet) di dominasi oleh IBD dan ND.

Bisa dibilang penyakit-penyakit pada 2020 masih didominasi penyakit klasik layaknya CRD kompleks, ND, Coryza dan Gumboro. Sementara itu tim Mensana-Sanbio belum menemukan adanya penyakit infeksius baru yang menginfeksi unggas di Indonesia.

Penyakit disebutkan di atas merupakan penyakit infeksius yang disebabkan virus dan bakteri. Sebagaimana diketahui bersama misalnya saja Gumboro alias Infectious Bursal Disease (IBD) merupakan penyakit yang hampir selalu ada dan ditemui oleh tim Mensana-Sanbio di lapangan umumnya pada broiler.

Mencegah Penyakit Viral
Gumboro masih bisa dibilang merupakan salah satu momok di peternakan unggas Indonesia. Selain tidak bisa disembuhkan, penyakit ini juga dapat menurunkan kinerja sistem imun (imunosupresif) karena menyerang sistem imun ayam. Oleh karena itu, amatlah penting bagi peternak untuk mengutamakan pencegahan terhadap penyakit ini.

Penyakit viral lainnya yang masih sering ditemui di lapangan yakni ND, terutama dari genotipe 7 alias ND (G7). Serupa dengan Gumboro, penyakit ND juga masih menjadi “primadona” dan banyak dijumpai di peternakan unggas rakyat. Namun begitu, ND (G7) ini bersifat lebih ganas daripada strain lainnya dan dapat menyebabkan mortalitas 50-90%, dengan tingkat morbiditas di atas 80%.

Dalam mencegah berbagai penyakit viral pada unggas, tentunya dibutuhkan program vaksinasi yang tepat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam suatu program vaksinasi yaitu:
• Kondisi ayam. Ayam dengan kondisi sehat akan menghasilkan titer antibodi yang baik. Oleh karena itu, sangatlah penting agar ayam dijaga tetap sehat dan tidak mengalami stres sebelum waktu vaksinasi.

• Faktor manusia. Vaksinator harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam melakukan vaksinasi. Abai terhadap hal ini tentunya juga akan mengakibatkan kegagalan vaksin.

• Lingkungan. Peternak harus dapat mengondisikan kandang sedemikian rupa agar ayam tetap nyaman dan tidak stres. Perhatikan kepadatan, ventilasi dan faktor lainnya. Ingat, stres akan menurunkan imunosupresi dan juga dapat menjadi faktor kegagalan program vaksinasi.

• Metode vaksinasi. Vaksinasi harus dilakukan dengan cara/metode yang tepat, teknik yang tepat dan waktu yang tepat untuk meningkatkan presentase keberhasilan vaksinasi dan menghasilkan titer antibodi yang baik.

• Kualitas vaksin. Sebagai salah satu produsen vaksin terkemuka di Indonesia, PT Sanbio Laboratories telah banyak memproduksi vaksin unggas berkualitas. Produk vaksin Gumboro dan ND (G7) milik Sanbio, Sanavac IBD Series, Sanavac Gumboro Series dan Sanavac ND (G7) Series merupakan vaksin berkualitas dan homolog dengan virus di lapangan. Selain itu, produk vaksin Sanbio merupakan produk yang telah teregistrasi di Kementerian Pertanian dan terjamin mutu dan kualitasnya. Banyak peternak telah membuktikan hal ini.

Mengatasi Penyakit Bakterial
Di 2020, penyakit bakterial juga masih mendominasi peternakan unggas di Indonesia. Penyakit-penyakit semacam CRD kompleks dan Infectious Coryza masih menjadi langganan dan kerap ditemui oleh tim Mensana-Sanbio di lapangan.

Penyakit CRD kompleks sebaiknya… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020 (CR)

PERAN OBAT HEWAN DALAM PENINGKATAN PRODUKSI TERNAK DAN EKSPOR

 
Hadir sebagai pembuka acara, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Ir Nasrullah, menyampaikan bahwa program kesehatan hewan menjadi poin yang sangat penting dalam peningkatan produksi ternak nasional.

“Tentunya pelayanan kesehatan hewan menjadi sebuah hal yang harus kita lakukan. Dalam pencegahan, obat hewan merupakan keharusan untuk dipersiapkan dalam jumlah atau kualitas sesuai dengan yang kita harapkan,” ujar Nasrullah dalam sambutannya.

Ia menambahkan, untuk menjamin kualitas, mutu dan khasiatnya, dilakukan perhatian dalam pembuatan dan pengedarannya. “BBPMSOH memiliki peran penting dan strategis untuk menjamin itu. Untuk itu BBPMSOH merupakan indikator utama produksi dan peredaran obat hewan sebagai penjamin bagi masyarakat dalam menggunakan obat hewan,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan Nasrullah, terkait ekspor obat hewan ia menyebut saat ini sudah mencapai 661 ton atau sekitar US $ 10,2 juta. Di tahun 2021, ekspor akan lebih dikencangkan lagi.

“Jangan sampai ekspor kita lebih kecil dibanding impor obat hewan kita. Ngapain kita impor kalau kita sendiri bisa ekspor. Kami berikan karpet merah bagi perusahaan atau produsen yang akan mengekspor obat hewan,” ucap Nasrullah.

Untuk peningkatan ekspor melalui Gratieks, pihaknya pun semakin memperkuat fasilitas yang dibutuhkan oleh para produsen dalam memenuhi standar negara tujuan ekspor.

“Tahun 2021 BBPMSOH kita lengkapi dengan peralatan yang lebih canggih lagi yang sebelumnya belum tersedia. Ini untuk membantu perusahaan memenuhi standar negara tujuan ekspor, sehingga eksportir bisa lebih lancar lagi,” terang dia.

Dengan adanya Gratieks, lanjut dia, diharapkan volume ekspor pada tahun 2024 mencapai 300%, dan obat hewan memiliki porsi yang cukup besar dalam peningkatan ekspor.

“Tinggal menambah volume dan negara tujuan ekspor saja. Kami juga bersama Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) terus melakukan terobosan market di luar negeri. Kita melakukan langkah-langkah yang lebih kencang lagi dalam promosi dan segi teknis untuk persyaratan ekspor,” katanya.

“Intinya kami siap bergandengan tangan bersama ASOHI dan sakeholder lainnya untuk memperkuat ekspor. Sebab tahun depan kami akan lebih selektif lagi dalam pemasukan obat hewan impor. Jangan sampai produksi dalam negeri kita ada, tetapi impor tetap jalan,” pungkasnya.

Dalam webinar tersebut dihadirkan pembicara dari berbagai bidang, diantaranya Prof Imam M. Fahmid (Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian), Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa (Direktur Kesehatan Hewan), Drh Maidaswar (Kepala BBPMSOH) dan Drh Irawati Fari (Ketua Umum ASOHI). 

TANGGAP KEBAL MUKOSA PADA AYAM MODERN


Tulisan ini mencoba memberi gambaran secara sederhana bagaimana komponen tanggap kebal mukosa (mucosal immunity) yang kompleks dalam menghadang laju sergapan patogen dari eksternal dan/atau saat ada stimulasi pada pemberian vaksin aktif (live vaccine) atau biomolekul tertentu.

Komponen Tanggap Kebal Mukosa
Sistem tanggap kebal mukosa (mucosal immune system) adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh ayam modern yang terdiri dari sel-sel epitelium beserta variasi sel permukaan mukosa yang berjajar sepanjang lapisan terluar mukosa dan secara langsung kontak dengan kondisi eksternal yang bersifat asing atau antigenik (Montilla NA et al., 2004).

Lapisan epitelium tersebut dilengkapi jaringan limfoid berupa MALT (Mucosa-Associated Lymphoid Tissue) yang dapat ditemukan dalam beberapa bentuk, tergantung apakah pada sistem pernapasan, pencernaan atau urogenitalis ayam (Kelsall BL et al., 1996).  Dari dalam bentukan MALT inilah sumber dan tempat bersemayamnya sel-sel dendritik (DCs = dendritic cells), sel makrofag, sel limfosit B dan T yang berperanan sebagai efektor dalam reaksi kekebalan mukosa (Randall TD, 2010; de Geus ED et al., 2012). Jaringan MALT umumnya ditemukan pada lapisan lamina propria mukosa dalam bentukan tersebar, membentuk suatu folikel atau tonsil pada sistem pernapasan, pencernaan dan urogenitalis ayam (Schummer, 1973).

Pada sistem pernapasan misalnya, selain adanya lapisan sel-sel epitelium beserta variasinya (misalnya sel goblet) yang bertindak sebagai barier utama berupa system pertahanan fisiko-kimiawi dalam bentuk mekanisme transportasi mukosiliaris, juga disempurnakan oleh adanya jaringan limfoid yang notabene merupakan bagian dari MALT, yaitu NALT (Nasal-Associated Lymphoid Tissue) dan BALT (Bronchus-Associated Lymphoid Tissue). Baik NALT atau BALT selain bisa dalam bentuk tersebar di jaringan lamina propria mukosa atau diantara sel-sel epitelium (diffuse atau scattered NALT/BALT), tetapi juga bisa dalam bentuk mengumpul membentuk suatu tonsil atau dikenal sebagai organized NALT/BALT (Schummer, 1973). Perlu juga dicatat bahwa distribusi, peranan serta kinerja kedua kelompok jaringan limfoid tersebut pada sistem imunitas pernapasan ayam sudah diketahui secara pasti oleh para peneliti imunologi (Fagerland JA & Arp LN, 1993; Ohshima K &Hiramatsu K, 2000; de Geus ED et al., 2012; Kong HH et al., 2013; Sepahi A & Salinas I, 2015).

Berbeda dengan mamalia (hewan menyusui), ayam tidak mempunyai limfonodus (kelenjar getah bening) pada sistem pencernaannya, kecuali pada itik dan angsa (Barone, 1996). Ayam mempunyai jaringan limfoid yang agak kompleks berupa kumpulan sel-sel limfoid atau folikel limfoid (lymphoid follicles) dan berupa tonsil yang tersebar sepanjang saluran cerna, dari rongga mulut sampai kloaka. Jaringan limfoid yang tergolong dalam MALT pada sistem pencernaan dikenal sebagai GALT (Gut-Associated Lymphoid Tissue). GALT pada ayam umumnya sudah berkembang dengan baik sejak menetas di dalam mesin penetas (Matsumoto & Hashimoto, 2000; Casteleyn C et al., 2010).

Di dalam jaringan GALT terdapat berbagai jenis sel yang terkait dengan fungsi respon tanggap kebal, misalnya sel limfosit B, sellimfosit T, NK cell (Natural Killer cell), makrofag, sel dendritik dan heterofil. Sel-sel tersebut juga ditemukan dalam jumlah kecil di sekitar area epitelium mukosa saluran cerna. Selain itu, juga ditemukan sel-sel tertentu yang hanya berpartisipasi pada pertahanan non-spesifik dan pengenalan antigen atau PAMP suatu patogen, misalnya sel goblet dan M-cell. Sel goblet memproduksi sekreta lendir glikoprotein yang akan menjadi substrat bagi bakteri fermentatif dan merekat bakteri patogen yang akan menyerang sel-sel epitelium usus. Sedangkan tugas sel M (M-cell) adalah untuk mengangkut mikroorganisme atau biomolekul antigen atau PAMP dari lumen usus ke jaringan limfoid di bawahnya, sehingga dampak akhir dari aktivitas ini adalah sekresi imunoglobulin A (secretory immunoglobulin A = sIgA) ke lumen usus (Koustos & Klasing, 2006; Miller et al., 2007; Murphy K & Weaver C, 2017).

Dalam sistem kekebalan mukosa (mucosal immunity) ternyata ditemukan adanya integrasi (atau interkoneksi) antara… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020 (toe)

TRI GROUP DALAM MENDUKUNG DUNIA PENDIDIKAN

Sebagai kelompok usaha yang memfokuskan diri di sektor perunggasan, Tri Group berkomitmen mendukung dunia pendidikan nasional. Sinergi bersama dunia pendidikan ini merupakan langkah strategis sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia yang cakap, terampil dan kompeten  pada dunia perunggasan. Sebagai bentuk dukungan Tri Group pada dunia pendidikan, melalui perusahaan induk PT Tri Gardanindo Inti melakukan penandatangan kerjasama (Memorandum of Academic/MoA) dengan Sekolah Vokasi (SV) IPB University.

Bertempat di IICC Bogor pada hari Jum’at (18/12), Tri hardiyanto selaku Direktur Utama PT. Tri Gardanindo Inti melakukan penandatangan MoA dengan SV IPB University yang diwakili oleh Dekan SV IPB University, Dr. Arief Daryanto, MEc. Kerjasama yang dilakukan yakni di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat khususnya pada bidang perunggasan. Melalui kerjasama ini Tri Group membuka diri kepada civitas akademika SV IPB University untuk dapat memanfaatkan fasilitas produksi dan usaha yang ada di lingkungan Tri Group sebagai fasilitas atau media pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Kerjasama dengan IPB University ini sebenarnya sudah dilakukan oleh Tri Group secara rutin, hanya saja kerjasama kali ini bersifat lebih formal dan terprogram secara rutin khususnya untuk SV IPB University. Output yang diharapkan dari kerjasama ini agar civitas akademika SV IPB University dapat lebih mengetahui kondisi ril sektor perunggasan baik secara teknis budidaya dan pemasaran. Diharapkan dari kerjasama ini lulusan SV IPB University lebih terampil secara skill dan cakap secara pengetahuan juga memiliki daya analisis yang tajam karena langsung dihadapkan dengan kondisi riil perunggasan di lapangan.

Sebelum dilakukannya penandatangan MoA, selama tiga bulan terakhir Tri Group bersama SV IPB University melakukan kegiatan SV – IDUKA (Sekolah Vokasi –  Industri dan UKM Perunggasan). Dalam kegiatan tersebut Tri Group bersama SV IPB University melakukan kajian tentang tata niaga perunggasan, kelembagaan peternak, serta kunjungan ke kandang mini closed house dan fasilitas Rumah Pemotongan Ayam (RPA).

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/ (Jefri/CR)

AUDIENSI VIRTUAL ASOHI-DIRJEN PKH

Dalam kesempatan ini Ketua Umum ASOHI Drh. Irawati Fari didampingi oleh sekjen Harris Priyadi, Wakil Sekjen Forlin Tinora, Bendahara Umum Henny Rusminah, Para ketua Ketua Bidang (Gowinda Sibit, Andi Wijanarko, Teddy Candinegara, Haryono Jatmiko), serta Dewan Penasehat Gani Haryanto (Ketua) beserta anggotanya yang merupakan para senior yaitu Jonas Jahja, Sofjan Sudardjat, Ketut Tastra Sukata, Rakhmat Nuriyanto. Hadir juga Bambang Suharno selaku sekretaris eksekutif ASOHI dan Pemimpin Umum Majalah Infovet.
Sementara itu Dirjen didampingi oleh Direktur Kesehatan Hewan Drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD, Kasubdit POH Ni Made Ria Isriyanthi PhD, kepala seksi di POH Dameria Melanie.
Acara diawali dengan sambutan Dirjen dilanjutkan dengan presentasi singkat Ketua Umum ASOHI. Dalam paparannya Irawati menjelaskan secara tentang pendiri ASOHI yang salah satunya adalah Dr. Drh. Sofyan Sudardjat MS (Dirjen PKH 1999-2006), susunan pengurus ASOHI serta peran sebagai mitra pemerintah yang selama ini terlah berjalan dengan berbagai dinamikanya. Irawati juga menyampaikan komitmen ASOHI untuk mendukung pemerintah termasuk dalam program Gratieks (Gerakan Tiga Kali Ekspor) yang dicanangkan Menteri Pertanian Syarul Yasin Limpo.
Menurut Ira, peran ASOHI selama ini antara lain memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah dalam menyusun peraturan perundang-undangan tentang obat hewan.
“ASOHI juga berkontribusi dalam pengembangan produksi dalam negeri dan ekspor obat hewan melalui pembinaan CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik) kepada anggota, kerjasama dengan asosiasi obat hewan negara lain, pertemuan internasional dan kegiatan lainnya ,” ujar Irawati.
Ia menambahkan bahwa jumlah eksportir mengalami peningkatan sekitar 2 kali lipat selama 5 tahun dan nilai ekspor mencapai 23,6 triliun selama 2015-2018, serta jumlah negara tujuan juga terus meningkat hingga sekarang telah masuk ke 5 benua dan hampir 100 negara.  Atas nama ASOHI, Ira menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah dalam pengembangan ekspor dan berharap pemerintah terus membantu memfasilitasi kegiatan ekspor obat hewan.
Menanggapi paparan Ketua Umum, Dirjen memberikan apresiasi kepada industri obat hewan di bawah ASOHI yang telah berkontribusi besar pada ekspor. Ia berharap kinerja yang baik ini diekspos agar masyarakat tahu prestasi kita. Bukan hanya ke media bidang peternakan tapi juga ke media umum. Menurut pengamatan Dirjen, selama ini banyak orang  yang belum tahu prestasi industri obat hewan yang sudah berhasil di pasar international. Ia berjanji akan memberikan “karpet merah” berupa dukungan dan bantuan untuk mempermudah pengembangan pasar obat hewan di luar negeri.
Dalam kesempatan ini, Dirjen juga mengharapkan ASOHI untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran bukan hanya dalam bidang obat hewan namun juga dalam bidang peternakan, khususnya bidang perunggasan yang sering menghadapi masalah fluktuasi harga.
Adapun terhadap masukan-masukan ASOHI lainnya tentang harmonisasi aturan pusat daerah, obat hewan ilegal, dan yang lainnya, Dirjen berpesan agar segera ditindaklanjuti bersama Direktur Kesehatan Hewan.
Sumber : http://www.asohi.org/ (BS)

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS JAMBI: KAWASAN TERINTEGRASI DIPERLUKAN UNTUK MEMACU PERTUMBUHAN POPULASI TERNAK

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kawasan industri yang terintegrasi sebagai salah satu langkah strategis untuk mendukung implementasi revolusi industri generasi ke-4 perlu diapresiasi dengan baik. Pasalnya, kawasan industri dapat berperan penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional melalui industrialisasi, khususnya di bidang peternakan.

Program Pascasarjana Universitas Jambi bekerjasama dengan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perguruan Tinggi Sustainable Integrated Farming System (PUI-PT SIFAS), telah menyelenggarakan Webinar Nasional Peternakan secara online melalui Zoom Meeting. Kegiatan dengan topik Akselerasi Pengembangan Kawasan Terintegrasi ini dilaksanakan pada Selasa (24/11/2020), dengan peserta dari kalangan dosen, peneliti, mahasiswa dan peternak.

Ketua LPPM Universitas Jambi Dr Ade Octavia menyambut baik atas terselenggaranya Webinar Nasional Peternakan. “Webinar Nasional Peternakan ini merupakan suatu pencapaian besar kita di tengah kondisi pandemi Covid19. Sejatinya kita harus tetatp bergerak ke depan mengerjakan sesuatu yang dapat memberikan manfaat untuk dunia kampus kita, utamanya adalah dunia peternakan, melaluinya dapat dihasilkan pangan yang mengandung protein tinggi,” kata Dr Ade.
Panitia Webinar Nasional Peternakan menghadirkan pembicara handal seperti Ir Sugiono (Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak) menyampaikan materi tentang Kebijakan Percepatan Produksi Ternak Nasional, Dr Andre R Daud (Dosen dan Peneliti Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran) dengan materi Lahan Bekas Tambang untuk Pengembangan Peternakan, Wayan Supadno (Pengusaha Kelapa Sawit, Pelaku Integrasi) dengan materi Nilai Tambah Sistem Integrasi Sawit dan Sapi, dan Ir H Yusrizal (Peneliti Senior PUI-PT SIFAS Universitas Jambi) yang berbicara tentang Sumberdaya Pakan Unggas Potensial Asal Bungkil Inti Sawit. Keempat narasumber ini dimoderatori oleh Dr Ir Mairizal, Peneliti PUI-PT SIFAS Universitas Jambi.
Direktur Pascasarjana Universitas Jambi Prof Dr Hj Anis Tatik Maryani memberikan apresiasi positif atas terlaksananya Webinar Nasional Peternakan ini. “Kita harus bangga dan bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Nya untuk tetap bisa aktif di tengah pandemi Covid 19,” kata Prof Anis. Ditambahkannya, berbicara terkait pengembangan kawasan terintegrasi, Jambi adalah tempatnya. “Kita mempunyai areal perkebunan kelapa sawit nan luas, darinya dapat diambil biomassa yang bisa didaulat sebagai bahan pakan ternak, baik untuk ternak ruminansia maupun non ruminansia,” papar Prof Anis.
Rektor Universitas Jambi, Prof Drs H Sutrisno menyebut bahwa usaha di bidang peternakan harus tetap digalakkan, hal ini mengingat bahwa pangan bergizi dan menyehatkan itu asalnya dari ternak yang dipelihara, untuk itu upaya menyediakan kawasan yang terintegrasi, misalnya sawit dengan sapi, sawah dengan sapi dan lainnya perlu menjadi kajian yang intens dan terus menerus. “Negeri ini perlu menyediakan kawasan khusus yang terintergrasi, artinya semua hal yang ada di dalam kawasan tersebut dapat bersinergi dengan mutualisme yang terus menerus, hingga didapatkan manfaat besar darinya,” kata Prof Sutrisno. Prof Sutrisno pun menyebut, Provinsi Jambi sampai saat ini masih tercatat sebagai wilayah dengan perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia, artinya beberapa kawasannya dapat dijadikan sebagai kawasan pengembangan ternak. “Kita terus melakukan kajian pada kesesuaian lahan dengan kondisi fisik lahan serta flora yang ada untuk dijadikan sebagai bahan pakan ternak, disamping adanya produk samping dari perkebunan kelapa sawit serta biomassanya,” tutur Prof Sutrisno sebelum membuka kegiatan tersebut.
Dari ke-4 narasumber yang tampil di Webinar Nasional Peternakan ini, dapat disimpulkan bahwa percepatan peningkatan produksi ternak nasional harus diikuti dengan penyediaan lahan yang luas dengan ketersediaan pakan yang mumpuni untuk ternak, baik untuk aktivitas hariannya maupun untuk berproduksi dan bereproduksi. Terkait dengan penyediaan lahan tersebut, kawasan tambang sejatinya bisa dialihfungsikan untuk kawasan pemeliharaan ternak, namun sebelumnya perlu dilakukan perbaikan terutama yang menyangkut pada pengembalian hara tanah agar flora dapat tumbuh subur kembali. Disamping itu, lahan perkebunan kelapa sawit juga dapat dijadikan sebagai kawasan yang terintegrasi, sapi dan sawit yang disebut dapat saling menguntungkan, baik dari produk biomassanya maupun dari produk sampingnya berupa bungkil inti sawit yang kaya dengan beragam nutrien yang dibutuhkan oleh ternak. Namun demikian, peran teknologi terkait dengan perpakanan diperlukan untuk meminimalkan konstrain yang dikandung oleh berbagai produk samping dari industri kelapa sawit dimaksud.
Sumber : www.majalahinfovet.com (Sadarman).

SANGAT PENTING BROODING UNTUK DI KANDANG


Tujuan utama brooding yaitu menyediakan lingkungan yang nyaman, sehat untuk pertumbuhan ayam secara efisien dan ekonomis. Suhu, kualitas udara, kelembapan dan penerangan merupakan faktor kritis yang harus diperhitungkan. Kegagalan untuk menyediakan lingkungan yang cukup selama masa brooding akan mengurangi keuntungan, yang dapat dibuktikan dengan penurunan pertumbuhan dan perkembangan, konversi pakan yang buruk dan peningkatan kejadian penyakit, afkir dan kematian.

Indikator Keberhasilan Brooding
Pencapaian target berat badan dan tingkat keseragaman berat badan ayam pada umur tujuh hari merupakan indikator keberhasilan tata laksana brooding. Pencapaian bobot ayam tersebut dapat digunakan peternak sebagai indikator apakah tata laksana brooding telah dilakukan sebaik-baiknya atau tidak. Bila pencapaian target berat badan dan tingkat keseragaman berat badan ayam tidak tercapai, persiapan dan pelaksanaan brooding harus dievaluasi peternak.

Keberhasilan pencapaian target berat badan pada umur tujuh hari ditentukan oleh manajemen udara, air dan pakan. Manajemen udara dilakukan dengan mengelola temperatur brooding dan ruangan kandang, mengelola kualitas udara, ventilasi dan litter.

Persiapan Brooding
Keberhasilan periode brooding sangat ditentukan oleh persiapannya. Persiapan brooding yang minimal berarti peternak akan mendapatkan performa yang minimal. Untuk meningkatkan efektivitas periode brooding, penerapan biosekuriti harus dilaksanakan secara ketat, dimulai dari proses sanitasi dan disinfeksi. Lakukan proses sanitasi dengan pembersihan sebaik mungkin. Gunakan disinfektan yang efektif dan tepat untuk membunuh berbagai mikroorganisme patogen, antara lain PRIMADIN yang spesifik untuk virus Gumboro. Kegagalan proses disinfeksi atau salah memilih disinfektan mengakibatkan anak ayam sangat rentan terhadap paparan penyakit sejak dini. Setelah proses disinfeksi dan sanitasi, lakukan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2020.
Sumber :
http://www.majalahinfovet.com/

Drh Yuni
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA
Telp: 021-8300300

KEMENTAN DUKUNG KONSEP ONE HEALTH CEGAH RESISTENSI ANTIMIKROBA

Kementerian Pertanian (Kementan) ikut memperingati Pekan Kesadaran Antimikoba Sedunia atau World Antimicrobial Awareness Week (WAAW) yang diselenggarakan pada 18 – 24 November. Ini sekaligus menunjukkan komitmen Kementan dalam mengontrol penggunaan antimikroba atau antibiotik pada hewan ternak khususnya, untuk mencegah terjadinya resistensi antimikroba.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo alias SYL menyadari, pihaknya memiliki peran penting dalam mencegah laju resistensi antimikroba. Untuk itu, ia mengatakan Kementan akan bersiaga dan membuka diri untuk mempersiapkan berbagai program, kegiatan, dan penguatan regulasi bersama Kementerian dan Lembaga serta stakeholders terkait.

“Kami akan menyiapkan rencana strategis serta peta jalan dalam upaya memerangi resistensi antimikroba. Kami berharap langkah-langkah ke depan akan lebih kuat dan terpadu dalam kerangka kerja Kesehatan Terpadu atau One Health,” ujar Mentan SYL menyambut Acara Puncak WAAW, Selasa (24/11).

Ia menjelaskan, meningkatnya populasi manusia dan maraknya aktivitas manusia berpengaruh terhadap degradasi lingkungan. Hal ini berdampak pada kompleksitas ancaman kesehatan dan perkembangan epidemiologi penyakit infeksi baru.

Kompleksitas yang ada membuat pendekatan terhadap pengendalian penyakit yang dihadapi saat ini, semakin sulit diselesaikan oleh satu sektor. Maka dari itu, pendekatan konsep One Health menjadi pilihan yang dianggap cukup baik.

“Konsep one health memastikan bahwa seluruh pemangku kepentingan dari disiplin ilmu yang berbeda dapat terlibat dalam proses pemecahan masalah kearah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,” paparnya.

Konsep one health ini juga sesuai dengan Instruksi Presiden No 4 tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia, yang juga mengamanatkan pengendalian Resistensi Antimikroba.

Agenda Keamanan Kesehatan Global (GHSA) juga menyebutkan bahwa pentingnya pendekatan multilateral dan multisektoral untuk memperkuat kapasitas global serta negara untuk mencegah, mendeteksi dan merespon ancaman penyakit-penyakit infeksius, baik yang terjadi secara alamiah, disengaja maupun yang tidak disengaja.

Peran semua pihak dalam konsep one health menjadi penting, lantaran dalam beberapa dekade terakhir, laporan berbagai negara mencatat adanya peningkatan laju resistensi Antimikroba. Namun, di sisi lain penemuan dan pengembangan jenis antibiotik (antimikroba) baru berjalan sangat lambat.

“Dengan kata lain, pola peningkatan laju resistensi sudah berbanding terbalik dengan penemuan obat antimikroba baru,” imbuh Menteri SYL.

Menurutnya, hal ini menyebabkan adanya peningkatan resistensi antimikroba yang kini menjadi isu global dan dipandang sebagai salah satu ancaman serius dunia. Khususnya, bagi sektor peternakan dan kesehatan hewan, lanjut Menteri SYL, harus dapat dipahami bahwa resistensi antimikroba merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan ketahanan pangan, di samping pembangunan kesehatan hewan.

Terlebih, pada tahun 2016, sebuah laporan global review perkembangan resistensi antimikroba memprediksi resistensi antimikroba ini akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia pada tahun 2050. Bahkan, tingkat kematian akan mencapai 10 juta jiwa per tahun, dan kematian tertinggi terjadi di kawasan Asia.

Pengendalian Penggunaan Antimikroba

Prediksi tersebut mungkin terjadi jika saat ini masyarakat internasional tidak memiliki upaya yang konkret dalam pengendalian penggunaan antimikroba. Maka dari itu, Dunia saat ini sedang dalam merealisasikan resolusi global yang diterjemahkan ke dalam Rencana Aksi Global.

Hal ini dalam rangka pengendalian Resistensi Antimikroba yang mengamanatkan agar setiap negara di dunia menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Nasrullah mengatakan, langkah-langkah dalam menghadapi bahaya resistensi antimikroba tersebut telah dilakukan oleh pemerintah dengan memberlakukan pengaturan penggunaan antibiotik di bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Aturan tersebut tertuang dalam UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pada Pasal 22 ayat 4 huruf C melarang penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan (Antibiotic Growth Promoter).

Selain itu, ada juga pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Lalu, ada Permentan No 22 Tahun 2017 tentang Pendaftaran dan Peredaran Pakan. Serta Permentan No 43 Tahun 2019 tentang Pendaftaran Pestisida yang melarang penggunaan pestisida menggunakan bahan antibiotik.

Kementan belum lama ini juga telah menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian No. 9736 Tahun 2020 tentang perubahan Atas Lampiran III Peraturan Menteri Pertanian No. 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan yang melarang penggunaan Colistin pada ternak yang produknya dikonsumsi manusia.

“Dari aturan-aturan yang ada diharapkan akan menurunkan penggunaan antimikroba yang digunakan sebagai pencegahan penyakit pada hewan ternak. Ini merupakan sasaran startegis dari RAN di sektor kesehatan hewan,” jelas Nasrullah.

Ia menjelaskan, Kementan memiliki beberapa upaya lain dalam hal pencegahan resistensi antimikroba ini. Di antaranya, akan meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang resistensi antimikroba, membangun komitmen pemangku kepentingan dalam upaya mencegah dan mengendalikan resistensi antimikroba di setiap sektor.

Kemudian, berupaya menurunkan prevalensi resistensi antimikroba di setiap sektor, lalu mengembangkan inovasi pencegahan dan tata cara pengobatan infeksi, serta alternatif pengganti antimikroba serta meningkatkan koordinasi dan kolaborasi terpadu dalam upaya mencegah dan mengendalikan resistensi antimikroba.

“Setidaknya kami mempunyai enam tujuan strategis untuk pengendalian resistensi antimikroba ini pada tahun 2020 sampai tahun 2024,” kata Nasrullah.

Ia menerangkan, berdasarkan surveilans yang ada, jika aturan tersebut diterapkan dengan baik, penggunaan antimikroba akan menurun dari 80% menjadi 50% di tahun 2024. Selain itu, peningkatan praktik biosekuriti dan penatalaksanaan penggunaan antibiotik juga meningkat dari 4,4% menjadi 20% di tahun 2024 dengan upaya sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) pada peternakan ayam petelur.

“Namun, upaya pencegahan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Mengacu pada konsep one helath, maka seluruh pemangku kepentingan terkait harus ikut berperan sebagai bagian dari solusi dalam mengendalikan laju resistensi antimikroba,” tuturnya.

 

Narahubung:

https://ditjenpkh.pertanian.go.id/
Fadjar Sumping Tjatur Rasa
Direktur Kesehatan Hewan
Ditjen PKH, Kementan RI

MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK MELALUI PENINGKATAN BIOSEKURITI

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Peternakan Provinsi Lampung berkomitmen dalam mengurangi dampak resistensi AMR pada sektor peternakan. Hal tersebut disampaikan oleh Drh Syamsul Ma’arif dalam Webinar yang digelar Dinas Peternakan Provinsi Lampung yang berkolaborasi dengan FAO ECTAD Indonesia, USAID, Pinsal Petelur Nasional Lampung, dan Kementerian Pertanian. Webinar tersebut berlangsung pada Senin (23/11) lalu.

Syamsul juga menjabarkan mengenai pentingnya sertifikasi NKV dalam produk pangan asal hewan, dimana sertifikat tersebut menjamin kualitas dan keamanan pangan tersebut.

“Kita sedang menggalakkan adanya sertifikasi NKV pada unit produksi pangan asal hewan, diantaranya adalah peternakan ayam petelur dan peternakan sapi perah. Dimana salah satunya persyaratan NKV peternakan tersebut harus memiliki sistem biosekuriti yang baik,” tukas Syamsul.

Syamsul juga menambahkan bahwa penerapan biosekuriti yang baik dalam suatu peternakan akan berdampak positif bagi peternak dan konsumen. Dirinya juga menyebutkan data WHO dimana diperkirakan nanti pada tahun 2050 kematian manusia akibat resistensi antimikroba akan lebih tinggi ketimbang penyakit lain seperti kanker.

“Ini sangat urgen, oleh karena itu saya salut dengan Lampung yang mau berusaha untuk menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan aman untuk konsumen. Semoga program serupa dapat diduplikasi oleh provinsi lainnya,” tutur Syamsul.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pinsar Petelur Nasional Lampung Jenny Soelistiyani mengapresiasi kerjasama antara peternak dan stakeholder terkait di Lampung. Menurutnya kerjasama ini merupakan suatu contoh apik dimana komitmen bertemu dengan kerja keras hingga menghasilkan sesuatu yang baik.

“Kami peternak layer di Lampung berkomitmen untuk ini. Target kami waktu itu dalam setahun ada 11 peternak yang memiliki NKV, tetapi kenyataannya kurang dari setahun kita ada 14 yang mendapatkan sertifikasi NKV, sampai kita mendapatkan rekor MURI,” tutur Jenny.

Jenny juga menuturkan bahwa dengan menerapkan biosekuriti tiga zona yang baik di peternakannya, selain berimbas pada performa ternak juga berujung pada keuntungan secara ekonomi.

“Ayam jadi jarang sakit, kalaupun ada yang sakit tracebility-nya lebih mudah. Keuntungan meningkat, penggunaan antibiotik berkurang, meskipun penggunaan disinfektan meningkat, tetapi kita tetap untung dan jadi lebih enak tidur,” pungkas dia.

Seminar tersebut merupakan rangkaian acara dari Pekan Kesadaran Antimikroba Se-dunia (World Anti Microbial Awareness Week) yang digulirkan oleh WHO pada minggu ketiga di bulan November. Dengan adanya event ini diharapkan agar masyarakat dunia lebih bijak dalam menggunakan antimikroba baik di sektor kesehatan manusia dan hewan

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/ (CR).

BAHAYANYA PENYALAHGUNAAN ANTIBIOTIK PADA HEWAN TERNAK

Penyalahgunaan antibiotik dan obat antimikroba ternyata memiliki ancaman serius bagi kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan terjadinya resistensi antimikroba.

Saat ini, kurang lebih 700.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit resistensi obat, jumlah korban tersebut diprediksi akan mencapai 10 juta kematian setiap tahunnya sampai dengan tahun 2050, jika tidak ada tindakan serius yang dilakukan.

Untuk memperingati ancaman tersebut, setiap tanggal 18 sampai dengan 24 November, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merayakan “Minggu Kesadaran Antimikroba Dunia”.

WHO mencatat di beberapa negara, 80 persen konsumsi antibiotik yang penting secara medis ada di sektor peternakan. Beberapa laporan memperlihatkan tingginya volume dan penggunaan konsumsi antibiotik yang terlalu sering pada sektor peternakan sehingga menyebabkan munculnya superbug, yaitu bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan tahan terhadap pengobatan antibiotik tradisional.

Hal inilah yang terjadi di industri peternakan, ketika jutaan hewan berdesakan dan seringnya ditempatkan di ruang tertutup. Berdasarkan Program Lingkungan PBB (UNEP) stress yang terjadi akibat dikurung, buruknya kondisi kebersihan, dan kurangnya variasi genetik diantara hewan-hewan tersebut menciptakan kondisi yang sempurna untuk muncul dan menyebarnya penyakit baru.

Dalam kondisi tersebut, hewan-hewan biasanya menerima antibiotik, bukan untuk mengobati penyakit tetapi untuk mencegah penyakit, dan mendorong pertumbuhan yang lebih cepat bagi mereka. Hewan ini dapat menjadi pembawa bakteri “superbug” yang kemudian dapat menginfeksi manusia.

“Sistem pangan di Indonesia sangat tergantung pada produk hewani, dan industri peternakan merupakan salah satu faktor pendorong terpenting dalam resistensi antimikroba,” ujar Fadilah, Communications and Corporate Engagement Manager Indonesia dari NGO Internasional, Sinergia Animal, dalam keterangan yang diterima Bisnis, Selasa (17/11/2020).

Berdasarkan studi yang dilakukan, Indonesia merupakan salah satu negara yang sudah menunjukkan adanya kasus peningkatan resistensi yang signifikan.

Lantas, bagaimana superbug muncul di sekitar kita? Ada beberapa cara penularan superbug ke manusia. Setelah muncul di industri peternakan, mereka dapat mencemari tanah, air, udara, atau makanan kita melalui kotoran hewan dan cairan lainnya.

Superbug dapat melakukan penyebaran melalui udara. Sebuah studi dari University of Lowa menemukan bahwa bakteri yang resistensi terhadap antibiotik, yang disebut MRSA, mengambang di udara dua ratus meter mengikutiarah angin dari peternakan babi di Amerika Serikat.

Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh John Hopkins University, bakteri yang resisten terhadap antibiotik ditemukan di udara dalam mobil ilmuwan setelah mereka berkendara di belakang truk yang mengangkut ayam dengan dengan jendela terbuka.

Para pekerja dan masyarakat di sekitar industri peternakan dan di sekitar rumah jagal juga sangat terpengaruh. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Center for Emerging Infectious Disease menemukan bahwa para pekerja di peternakan babi, enam kali lebih rentan untuk membawa bakteri yang resisten terhadap antibiotik, yaitu multidrug-resistant dan methicillin-resistant (MDRSA).

Hal ini terjadi karena mereka bersentuhan langsung dengan daging, darah, kotoran, air liur, dan cairan tubuh lainnya dari hewan ternak. Penduduk di sekitarnya pun dapat terkontaminasi melalui udara dan air yang berasal langsung dari fasilitas tersebut.

Walaupun Organisasi Kesehatan Dunia telah merekomendasikan pengurangan antimikroba yang penting secara medis pada hewan yang dibesarkan untuk produksi makanan, tetapi situasi ini kemungkinan akan menjadi lebih kritis di negara-negara berpenghasilan rendah, dimana penggunaan antibiotik cenderung meningkat akibat pertumbuhan produksi produk hewani, dengan perkiraan peningkatan 67% pada tahun 2030.

Sebuah riset di tahun 2019, menemukan sumber berkembangnya resistensi antimikroba di beberapa wilayah di negara-negara bagian bumi selatan. Diantara beberapa sumber tempat tersebut ada di Red River delta di Vietnam dan India bagian Selatan, yang juga dekat dengan Indonesia.

Di Indonesia, yaitu Pulau Jawa, pulau dengan populasi tertinggi di negara ini, juga terlihat titik peningkatan resistensi yang signifikan.

“Perubahan kebijakan diperlukan untuk mengatasi ancaman kesehatan masyarakat ini, dan hal inilah yang melatarbelakangi mengapa kami mendesak pemerintah Indonesia untuk melarang penggunaan antibiotik yang tidak bertanggung jawab dalam industri peternakan,” tuturnya.

Pihaknya lantas menyarankan masyarakat untuk beralih ke pola makan yang berpusat pada sayuran, sebagai cara untuk membatasi permintaan produk hewani yang terus meningkat.

Sumber : https://lifestyle.bisnis.com/