Vaksinasi Ikan, Penting!

Hari pertama Pelatihan Vaksinator Ikan Bersertifikat di gelar di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan KKP, Pancoran Mas, Depok.

Kegiatan ini lahir dari kerja sama antara INFHEM dan Majalah Info Akuakultur, mengingat pentingnya acara ini, pelatihan vaksinasi digelar dua hari berturut-turut mulai tanggal 12-13 November. Peserta yang hadir dari berbagai daerah, mulai dari Batam, Blitar, Malang, Bali, Kalimantan Barat dan daerah lainnya.

“Mencegah lebih baik daripada mengobati”, ujar Ir. Iman I Barizi, M.Si, Kasubdit Penataan Kawasan Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan (KKI-KKP).

Slogan di atas yang sering didengar bukan hanya ditujukan untuk manusia, tetapi berlaku bagi kesehatan ikan agar ikan yang dibudidaya sehat dan tahan terhadap serangan penyakit. “Karena bagaimanapun mencegah terjangkitnya suatu penyakit adalah jauh lebih baik dan lebih rendah biaya yang dikeluarkan daripada mengobati penyakit atau menerima akibat yang ditimbulkan dari penyakit yang sedang menyerang,” kata Iman.

Pada budidaya ikan, semakin tingginya tuntutan untuk meningkatkan hasil budidaya perikanan menyebabkan segala macam cara digunakan untuk menghasilkan produksi yang lebih baik daripada sebelumnya, antara lain sistem budidaya yang semakin intensif, perbaikan teknologi perikanan, maupun perluasan lahan, dimana hal ini merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan ekosistem yang pada akhirnya muncul beragam penyakit yang menyerang organisme budidaya.

Foto bersama peserta Pelatihan Vaksinator Ikan Berserrifikat

Penyakit yang timbul tentu saja sangat merugikan dan mempengaruhi hasil produksi, terlebih apabila terjadi serangan virus yang pada dasarnya tidak dapat diobati. Oleh karena itu alternatif penanggulangannya adalah dengan melakukan pencegahan sedini mungkin, baik dengan perbaikan lingkungan, memutus sumber infeksi, penggunaan benih bebas virus dan meningkatkan daya tahan inang baik dengan perbaikan nutrisi dan peningkatan imunitas.

 

Ada empat prinsip vaksinasi, papar Iman, yaitu pada saat ikan sehat, diberikan sebelum wabah pemyakit, ikuti anjuran pemakaian sebab dosis besar tidak menjamin keberhasilan dan ikan butuh waktu untuk menjadi kebal serta setelah vaksinasi pelihara ikan lebih baik lagi.

Metode Vaksinasi

Iman menjelaskan, ada beberapa metode vaksinasi, menurut, antara lain injeksi/suntikan, perendaman, dan oral/pakan. Perlakuan vaksinasi biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada karena tiap-tiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Contoh jika menggunakan metode perendaman maka jumlah ikan yang divaksin bisa lebih banyak dalam waktu yang relatif lebih cepat, namun metode ini memiliki kelemahan yaitu vaksin yang digunakan lebih banyak jika dibanding dengan metode suntik.

Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan vaksinator

Metode oral/pakan relatif lebih cepat namun kelemahannya vaksin bisa saja larut atau terlepas ke air sebelum pakan termakan ikan, dan selain itu jumlah vaksin yang masuk ke ikan akan berbeda-beda sesuai dengan jumlah pakan yang dimakan oleh masing-masing ikan.

“Metode oral/pakan juga yang paling kurang efektif dibandingkan metode lainnya,” jelas Iman.

Metode yang dianggap paling efektif untuk memasukkan vaksin ke dalam tubuh ikan adalah dengan metode penyuntikan. Dengan metode penyuntikan maka jumlah vaksin yang masuk akan sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Namun demikian metode ini juga memiliki kelemahan yakni membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga vaksinator yang terampil dan juga banyak sesuai dengan jumlah ikan yang akan divaksin. (Adit)

Narasumber : infoakuakultur.com

Pembudi Daya Patin Harapkan Bibit Varietas Unggul

Pelaku budi daya patin berharap ada temuan bibit unggul untuk komoditas tersebut demi menekan biaya produksi dan menjaga margin.

Pembudi daya  ikan air tawar dari Ciseeng, Bogor, Adrianus Mario mengatakan saat ini, rasio pakan dan produksi patin mencapai 1,4:1. Artinya, untuk menghasilkan seekor patin berbobot 1 kilogram (kg) dibutuhkan rata-rata pakan sebanyak 1,4 kg.

“Di ikan, 90 persen biaya produksi memang di pakan,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (17/7/2019).

Untuk itu, dia berharap pemerintah bisa membuat penelitian untuk memproduksi bibit unggul dengan kebutuhan pakan yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang ada saat ini.

Menurut Mario, hal ini seharusnya bukanlah sesuatu yang mustahil. Pasalnya, jenis ikan lain seperti ikan mas, nila, dan lele saat ini memiliki beragam varietas unggul yang bahkan telah disertifikasi oleh pihak kementerian terkait.

“PR-nya bukan hanya di pakan, tapi pengembangan jenis-jenis baru,” ujarnya.

Mario pun menyambut baik upaya pemerintah yang saat ini gencar mencari pasar baru bagi patin, khususnya di luar negeri melalui branding Indonesian Pangasius.

Namun, dia berharap upaya tersebut bisa diimbangi oleh sesama pelaku budi daya dan industri pengolahan melalui peningkatan kualitas produksi. Adapun sudah ada peluang bagi Indonesia untuk melakukan ekspor ke Arab Saudi pada tahun ini karena pasokan dari Vietnam kualitasnya dinilai kurang baik.

“Jangan sampai kita seperti Vietnam. Pabrik juga harus commit tidak menggunakan bahan berbahaya karena permintaan ekspor adalah permintan kualitas daging putih dan tidak berbau,” katanya.

Di samping itu, dia juga berharap adanya upaya ekstra untuk mengenalkan patin pada konsumen dalam negeri khususnya penikmat dori. Menurutnya, banyak konsumen ikan dori yang tidak mengenal betul bahwa komoditas tersebut merupakan patin yang berasal dari Vietnam.

Narasumber : ekonomi.bisnis.com

Ratusan Alat Tangkap Benih Lobster Ditertibkan

Pengawas Perikanan Satuan Pengawasan (Satwas) Sukabumi, Jawa Barat, menertibkan sejumlah alat tangkap benih lobster di perairan Teluk Palabuhanratu pada Selasa (18/6/2019) – Rabu (19/6/2019).

Operasi pengawasan alat tangkap benih lobster tersebut merupakan komitmen aparat pengawasan dalam rangka menjaga keberadaan dan ketersediaan populasi sumber daya lobster.

“Dalam operasi pengawasan di Sukabumi, Pengawas Perikanan berhasil menertibkan 120 unit alat tangkap benih lobster,” ungkap Plt. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Agus Suherman melalui keterangan pers pada Kamis (20/6/2019).

Dia menyebutkan penertiban ini sejalan dengan UU Perikanan serta Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/PERMEN-KP/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) dari Wilayah Negara Republik Indonesia.

Dalam peraturan menteri tersebut, diatur bahwa penangkapan dan/atau pengeluaran Lobster (Panulirus spp.) dari wilayah Negara Republik Indonesia hanya dapat dilakukan dengan ketentuan tidak dalam kondisi bertelur dan berukuran panjang karapas di atas 8 cm atau berat di atas 200 gram per ekor.

“Jaring yang digunakan oleh nelayan di Pelabuhan Ratu Sukabumi merupakan alat untuk menangkap lobster yang berukuran panjang karapas kurang dari 8 (delapan) cm,” tambah Agus.

Selanjutnya, kegiatan pengawasan yang dipimpin langsung oleh Kepala Pangkalan PSDKP Jakarta Pung Nugroho Saksono membawa seluruh alat tangkap benih lobster yang berhasil diamankan ke kantor Satwas Sukabumi.

Sementara itu, para nelayan pemilik alat tangkap tersebut diberikan pemahaman untuk tidak melakukan kegiatan penangkapan yang tidak sesuai ketentuan.

Narasumber : ekonomi.bisnis.com

SR Rendah Hantui Zona Kebangkitan Udang Windu di Sulawesi Selatan

Oleh : Dr. Tarunamulia, ST., MSc. (Peneliti Madya BRPBAP3-Maros)

Pada era tahun 1980-an hingga awal 1990, udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas utama air payau yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan pendapatan asli daerah di Sulawesi Selatan. Sayangnya penurunan produksi terus dilaporkan dari tahun-ke tahun.

Kini, meskipun produksi total di Sulawesi Selatan masih mencapai 40.346 ton pada tahun 2015, udang windu bukan lagi sebagai komponen utama. Pasalnya, telah muncul budidaya udang vaname (Penaeus vannamei), udang introduksi dari Amerika Selatan yang dianggap memiliki daya tahan lebih tinggi dari serangan penyakit.

Secara nasional, keberadaan udang windu harus dipertahankan. Selain memiliki nilai ekonomis, udang windu juga memiliki nilai ekologis penting karena merupakan udang endemik dan pembentuk keragaman plasma nutfah Indonesia.

Di Sulawesi Selatan, terdapat 18 kabupaten/kota yang menghasilkan udang windu. Menurut data Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan tahun 2019, terdapat lima daerah produksi terbesar, yaitu Pinrang, Pangkep, Wajo, Bone, dan Maros. Kabupaten Pinrang terpilih sebagai salah satu lokasi prioritas untuk kebangkitan udang, khususnya dari hasil budidaya.

Menurut Pemkab. Pinrang, hal tersebut disebabkan produksi udang windu selalu meningkat dan produktivitasnya terus bertahan.  Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pinrang tahun 2016 terlihat bahwa produksi udang windu tersebut berasal dari lahan seluas 15.675 ha. Luasan lahan lahan tersebut tersebar di lima kecamatan, yaitu Suppa (2.203 ha), Lasinrang (1.560 ha), Mattirosompe (4.131 ha), Cempa (2.341 ha), Duampanua (5.101 ha), dan Lembang (339 ha).

Rendahnya Tingkat SR

Anehnya, meskipun Duampanua dan Mattirosompe memiliki lahan yang lebih luas, produksi udang windu terbesar berdasarkan luas lahan justru berada di Kecamatan Suppa. Di Suppa, produksi rata-rata setiap hektar lahan sebesar 0,30 ton/hektar/tahun.

Sementara itu, berdasarkan data DKP Kabupaten Pinrang tahun 2016, produksi udang windu di Kecamatan Duampanua 0,15 ton/hektar/tahun dan Mattirosompe 0,19 ton/ha/tahun dengan kisaran survival rate (SR) atau tingkat kelangsungan hidup rata-rata hanya 15—17%. Dengan asumsi, jumlah tebar dalam satu tahun sebanyak 40.000 ekor per hektar dan ukuran panen rata-rata 35 ekor/kg.

Selain menjadi indikator produksi, nilai SR juga dapat merefleksi dengan baik upaya atau tingkat pencegahan penyakit dalam kegiatan budidaya. Hal tersebut disebabkan SR sangat tergantung pada faktor-faktor yang berpengaruh pada pengelolaan budidaya seperti kualitas air, pakan, ukuran tambak, padat tebar, dan pengelolaan sedimen dasar.

Sebagai acuan, lembaga sertifikasi independen seperti Aquaculture Stewardship Council (ASC) mensyaratkan SR lebih dari 25% untuk tambak yang dikelola secara tradisional, yaitu tanpa diberi pakan dan bantuan aerasi. Hasil penelitian tahun 2007—2011 menunjukkan bahwa nilai SR udang windu dengan sistem budidaya tambak tradisional di Kabupaten Pinrang cukup rendah, yaitu di bawah 25% dengan kisaran 7,27—19,13%.

Secara umum, rendahnya nilai SR udang windu dalam dua dekade terakhir di Kabupaten Pinrang diduga akibat faktor lingkungan dan pola pengelolaan yang mengabaikan prinsip-prinsip budidaya yang bertangung jawab. Pada umumnya, lahan tambak yang ada dibangun tanpa mempertimbangkan kesesuaian lokasi. Pola tanam terganggu karena adanya perubahan iklim seperti terjadinya kekeringan yang panjang akibat fenomena iklim El Nino atau—sebaliknya—banjir pada saat puncak musim hujan. 

Selama ini, sebagian wilayah juga masih menggunakan bibit udang dengan kualitas rendah. Rendahnya nilai SR udang windu pada beberapa waktu terakhir—terutama—akibat serangan penyakit white spot syndrome virus (WSSV) dan  Vibrio harveyi.

Nilai SR di atas 25% hanya dilaporkan pada kluster-kluster tambak tertentu di Kecamatan Suppa dan tambak sistem monokultur setelah mengaplikasikan pakan hidup alam phronima suppa dengan kisaran SR 33,94—61,54%.  Menurut penelitian Majid pada tahun 2016, nilai SR pada tambak yang sama tanpa aplikasi phronima suppa rata-rata hanya 17,20%. 

Mengembalikan Kejayaan Udang Windu

Berdasarkan penelitian Rangka, Madeali, dan Mangampa pada periode 2011—2012, aplikasi probiotik RICA hasil riset Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyululuhan Perikanan (BRPBAP3) di kawasan tambak yang berdekatan dengan  lokasi uji coba phronima juga mampu meningkatkan SR, dari rata-rata 7,27% menjadi 14,88%.

Bakteri probiotik diyakini mempunyai kemampuan menekan jumlah bakteri Vibrio spp, kandungan total ammonium nitrogen (TAN), dan nitrit-nitrogen air tambak.  Hal ini memberikan harapan baru bahwa nilai SR udang windu masih dapat ditingkatkan jika dilakukan inovasi dan pengelolaan lahan budidaya yang tepat.

Untuk mengembalikan kejayaan udang windu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti WWF (World Wildlife Fund) terus mendorong penerapan prinsip-prinsip pengelolaan akuakultur  berkelanjutan (sustainable aquaculture). Aplikasinya antara lain melalui cara budidaya ikan yang baik (CBIB) dan akuakultur  berbasis ekosistem (Ecosystem Approach to Aquaculture—EAA). Secara lokal, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memprakarsai “Gerakan Kebangkitan Udang” sejak tahun 2008.

Salah satu kegiatan untuk mendukung pengelolaan akuakultur berkelanjutan antara lain dibangunnya broodstock center khusus udang windu di BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar. Kegiatan ini bertujuan menghasilkan induk-induk unggul dan SPF (Spesific Pathogen Free). Berdasarkan informasi dari Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, pada tahun 2019 direncanakan kegiatan pembagian sekitar 40 juta benih udang windu pada 24 Kab/Kota di Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Dr. Ir Slamet Soebjakto. M.Si menyatakan bahwa induk dan benih yang bebas penyakit menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan budidaya udang windu. Di Kabupaten Pinrang,  Dinas Perikanan dan WWF—dengan menggandeng PT. Bomar sebagai eksportir udang windu—telah menginisiasi percontohan yang diharapkan bakal menjadi rujukan bagi penerapan EAA di seluruh Indonesia.

Sejak pertengahan 2013, WWF-Indonesia telah melibatkan diri dalam program perbaikan budidaya (Aquaculture Improvement Program—AIP) udang windu di Kabupaten Pinrang dengan melakukan koordinasi secara intensif dengan para tokoh budidaya udang di Kecamatan.

Pada bulan Februari 2019, bertempat di Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, PT. Atina (Alter Trade Indonesia)—perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan pengolahan udang beku—bekerjasama dengan Asian Seafood Improvement Collaborative (ASIC). Kolaborasi regional yang sedang berkembang antara pemangku kepentingan sektor swasta dari Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam yaitu mengadakan sosialisasi budidaya udang windu berkelanjutan dengan membandingkan standar ASIC, CBIB, dan Ecoshrimp. (Ed: Rch)

Teknik Stunting Budidaya Bandeng Bisa Panen 3-4 Kali Setahun

Oleh: Abdul Salam Atjo – Penyuluh Perikanan Madya

Ikan bandeng (Chanos-chanos Forks) masih menjadi komoditas andalan pembudidaya tambak di kabupaten Pinrang. Sejak udang windu banyak dilanda masalah maka beruntunglah petambak masih bisa panen bandeng.

Selama ini bandeng dibudidayakan secara polikultur dengan udang windu. Banyak pembudidaya masih bertahan diusaha tambak karena ditopang oleh ikan bandeng. Sejak dahulu bandeng sudah menjadi ikan peliharaan di tambak air payau. Selain tidak mudah terserang penyakit, cara budidayanya pun tidak sulit.

Teknologi budidaya bandeng  selama ini dilakukan tradisional secara turun-temurun. Hal inilah yang menyebabkan produksi belum meningkat secara signifikan. Sejak pertengahan tahun 2018, kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Cempae desa Waetuoe kecamatan Lanrisang, Pinrang mencoba budidaya bandeng teknologi tradisional plus dengan penerapan teknik stunting (pengerdilan)

Teknik stunting atau menkerdilkan ikan bandeng sebelum dibudidayakan di tambak pembesaran merupakan teknik lama namun baru sebagian kecil petembak yang menerapkan. Padahal cara ini sangat menguntungkan pembudidaya. Selain produksi meningkat, waktu budidaya yang digunakan juga singkat. Sehingga dalam setahun petambak bisa melakukan panen 3-4 kali.

Pemilihan lokasi tambak budidaya bandeng merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya. Dalam memilih lokasi tambak paling tidak mudah dijangkau pasang surut air laut, bebas dari banjir dan tanah untuk pematang tambak tidak mudah bocor.

Dalam merancang bangunan tambak minimal ada satu petak pendederan dan satu petak pembesaran. Petak pendederan atau penggelondongan inilah yang digunakan untuk mengerdilkan pertumbuhan nener bandeng sebelum dipindah masuk ke petak pembesaran.   Pada lahan tambak percontohan di Pokdakan Cempae memiliki luas petak penggelondongan sekitar 1.500 m² ditebar 10.000 ekor nener langsung dari hatchery (pembenihan).

Mempersiapkan lahan tambak sebelum ditebar nener bandeng seperti hal yang sudah biasa dilakukan petambak pada umumnya. Lebih dahulu kita lakukan pengeringan dasar tambak agar dapat melepas gas beracun dan mematikan hama.

Selama masa pengeringan yang berlansung sekitar 15-20 hari juga dilakukan bersamaan perbaikan pematang dan pintu air tambak dari bocoran. Paling penting dalam mempersiapkan petak tambak adalah pemupukan dasar untuk meransang tumbuhnya makanan alami seperti lumut, klekap dan plankton.

Sambil mempersiapkan petak pembesaran yang luasnya sekitar 1 hektare, proses penggelondongan sudah berjalan di petak pendederan. Ketika makanan alami sudah tumbuh maka gelondongan bandeng sudah dapat dipindahkan ke petak pembesaran.

Untuk menyuburkan makanan alami di tambak dipupuk dengan Urea, SP36 dan petroganik. Pada pemupukan dasar digunakan dosis 200 kg urea, 100 kg SP36 dan 300 kg petroganik. Ketiga jenis pupuk tersebut dicampur rata kemudian disebar dibagian dasar pelataran tambak.

Pemupukan dasar dilakukan pada kondisi dasar tambak berair setinggi mata kaki lalu dibiarkan mengering sebelum dilakukan pemasukan air kembali. Hal ini dimaksdukan agar proses tumbuh klekap berjalan cepat.

Siklus pertama tambak ujicoba budidaya bandeng teknik stunting ditebar 3.200 ekor gelondongan bandeng yang berasal dari petak pendederan. Setelah dipelihara sekitar 60 hari bisa menghasilkan panen bandeng sekitar 825 kilogram.

Selama masa pemeliharaan yang selalu dipertahankan adalah kualitas air dan pertumbuhan makanan alami berupa plankton dan lumut. Memasuki bulan kedua jelang panen dipacu pertumbuhan dengan memberikan makanan tambahan berupa pellet sebanyak 30 kilogram perhari.

Setelah panen, petakan tambak  langsung dikeringkan dan persiapan untuk siklus kedua. Seperti hal dengan siklus pertama persiapan tambak meliputi peneringan, perbaikan bocoran pematang dan pintu air tambak, pemberantasan hama dan penumbuhan makanan alami.

Penebaran anakan bandeng dari petak pentokolan sebanyak 3.000 ekor  pada tanggal 19 Desember 2018. Anakan bandeng tersebut berukuran panjang 7-10 cm namun kerdil. Kerdil karena selama di petak penggelondongan makanannya tidak mencukupi dan ruang geraknya terbatas. Begitu di lepas di petakan tambak yang lebih luas dan padat makanan alami maka otomatis rakus makannya.

Itulah sebabnya, anakan bandeng yang dikerdilkan pertumbuhannya di patakan tambak yang luasnya terbatas setelah dipindah di petakan luas dan padat makanan alami maka pertumbuhan drastis dan cepat panen.

Tambak percontohan yang ditebar pada 19 Desember 2018 sudah panen pada 19 Februari 2019 lalu. Hasilnya mencapai sekitar 700 kilogram. Kini petambak sedang melakukan persiapan lahan untuk siklus ketiga kalinya.

Jadi dalam setahun petambak dapat melakukan budidaya  sebanyak 3-4 siklus. Setiap siklus petambak dapat peroleh omzet sekitar 10-15 juta. Bila dibanding dengan cara biasa yang selama ini dilakukan petambak hanya bisa dapat omzet sekitar 5-7 juta per panen atau 4-6 bulan sekali panen. (Ed: Adit)

Mengupas Tantangan Budidaya Udang di Pesisir Timur Lampung

Keuntungan berlipat yang diperoleh dalam waktu relatif singkat memang menjadi daya tarik budidaya udang vaname yang sangat memikat. Begitu pula potensi budidaya udang di pesisir timur Lampung. Namun, di balik keuntungan, ada pula tantangan yang harus dihadapi para petambak.

Pemilihan jenis udang vaname sebagai jenis udang unggulan dan favorit petambak udang di Lampung Timur bukan tanpa sebab. “Alasannya, kualitas benih yang bagus (SPF) tersedia,  tingkat kelangsungan hidupnya tinggi, pertumbuhannya cepat, produktivitas tinggi, dan bisa hidup dengan baik pada salinitas rendah,” ungkap Dr. Supono, S.Pi., M.Si., Kaprodi Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut Universitas Lampung (Unila).

Meskipun memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, udang vaname bukan lantas hidup tanpa masalah. Menurut Supono, penyakit menjadi penyebab utama kegagalan budidaya udang di Lampung Timur.

Penyakit yang paling sering menyerang budidaya udang vaname dan menyebabkan kegagalan panen adalah white spot syndrome virus (WSSV), myo, dan white feces disease (WFD). Penyakit tersebut menyebabkan kegagalan budidaya karena menyerang pada semua umur udang.

“Sebagai salah satu daerah produsen utama udang, kegagalan tersebut tentu menyebabkan penurunan produksi udang di Provinsi Lampung,” terangnya.

Hal tersebut juga diakui Muhyar petambak udang di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur. Menurut penuturannya, produksi budidaya udang menurun semenjak adanya serangan penyakit.

“Menurunnya produksi udang di wilayah Lampung Timur diduga disebabkan oleh WSSV, namun masih terus dicari sebab kebenarannya dengan dibantu oleh teknisi dari perusahaan obat,” tambah Muhyar.

Dari Penyakit Sampai Sedimentasi

“Sepengetahuan saya, penyakit sudah menjadi masalah sejak dulu. Tapi penyakit sekarang aneh jenisnya dan bermacam-macam. Ada myo, white spot, dan berak putih,” tutur Soleh, yang juga petambak udang di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur.

Menurut Soleh, serangan penyakit sangat berpengaruh pada pendapatan dari hasil panennya. Sebelum ada penyakit, modal Rp40 juta bisa menghasilkan Rp100 juta sampai Rp110 juta. Keuntungannya bisa Rp70 juta sampai Rp80 juta.

“Kalau sekarang, modal Rp40 juta, untungnya Rp 5 juta dalam 2 bulan. Kalau pas rugi, kerugiannya lumayan besar. Modal Rp40 juta bisa habis. Kalau tidak kita kontrol udangnya, dari modal Rp40 juta, kita bisa rugi Rp20 juta,” keluhnya.

Tidak jauh berbeda dengan Soleh, Bahrul Ilmi, yang juga merupakan petambak udang di Lampung Timur menuturkan, adanya penyakit yang menyerang tambak udang membuat aktifitas budidaya terganggu, ditambah cuaca yang tidak menentu mengakibatkan air di tambak mempengaruhi pertumbuhan udang.

“Petambak harus memperhatikan kualitas air baik dari awal masuk sampai akhir (panen). Untuk itu perlu dibuatkan irigasi air masuk dan air keluar sehingga dapat terkendali,” ujar Bahrul.

Menurut Herman Mude, A.Pi., MM., Kasi Tata Pelayanan di Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Lampung, penyakit merupakan faktor pembatas dalam budidaya udang. Jenis penyakit yang disebabkan oleh virus di antaranya white spot syndrome virus (WSSV), infectious myonecrosis virus (IMNV), taura syndrome virus (TSV), infectious hypodermal and haematopoietic necrosis virus (IHHNV), yellow head virus (YHV), covert mortality noda virus (CMNV).

Penyakit udang akibat serangan bakteri di antaranya acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) atau EMS. Sementara penyakit akibat parasit adalah enterocytozoon hepatopenaei (EHP) dan white feces disease (WFD).

“Beragam peyakit ini bisa menyebabkan kematian massal, panen dini, dan menurunkan hasil produksi budidaya udang,” paparnya.

Keterangan senada juga diungkapkan Dardjono, SP., Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budidaya Lampung Timur. Dari sisi penyakit, penyakit pada budidaya udang di  Lampung Timur—khususnya udang vaname—adalah WFD. Serangan penyakit ini ditandai dengan adanya kotoran putih yang mengambang pada permukaan media budidaya dan biasanya muncul pada DOC 35—45. Sebenarnya, WFD bisa dicegah dengan penerapan SOP manajemen dasar tambak yang baik, dengan penyiponan serta pemberian probiotik aerob maupun anaerob sejak awal.

Penyakit berikutnya adalah IHHNV yang ditandai dengan udang kerdil dan bagian kepala atau hepatopankreas membesar. Namun, penyakit ini masih sedikit ditemukan. Adapun penyakit WSSVditandai dengan munculnya bintik putih pada bagian karapas dan bisa mengakibatkan udang mengalami kematian masal.

WSSV sering muncul pada musim pancaroba, antara Bulan April—Mei dan September—Oktober. Pada Oktober tahun 2018, penyakit ini sempat menyerang budidaya udang di Lampung Timur yang berdampak pada turunnya produksi di triwulan I tahun 2019 hingga 30%. Kejadian serupa terjadi di hampir semua sentra produksi di Lampung.

Lebih lanjut, Joko Waluyo, Teknisi Behn Meyer, menjelaskan bahwa WSSV menyebabkan kerugian yang tinggi jika menginfeksi udang berumur kurang dari 30 hari. Udang tidak dapat dipanen karena ukuranya masih terlalu kecil.

Selain itu, WSSV pada awalnya hanya menyerang di musim hujan. Namun sekarang, infeksi penyakit yang paling merugikan ini banyak ditemukan sepanjang waktu. “Hal ini disebabkan pola budidaya di sana mengunakan sumber air yang sama, pembuangan dan pemasukan air berasal dari saluran yang sama,” terangnya.

Joko menambahkan, penyakit lain yang juga menyebabkan kerugian tinggi adalah WFD. Jika sudah terinfeksi, udang tidak mau makan sehingga pertumbuhan menjadi lambat, udang kropos, dan SR panennya rendah sehingga FCR-nya menjadi tinggi.

Sementara M. Ansori Maskur, Ketua Pokdakan Mina Sakti Mandiri, berpendapat bahwa dengan pola budidaya yang baru, tantangan yang paling menakutkan adalah penyakit dan cuaca ekstrim. Risiko yang paling berat adalah cuaca ekstrim karena sulit menduga penurunan kualitas udang.

“Kualitas air bisa turun mendadak. Solusi yang baik untuk mengantisipasi risiko cuaca ekstrim adalah menghindari tebar udang pada musim pancaroba, yaitu Bulan November sampai Bulan Februari. Pada bulan itu, komoditas diganti dengan nila salin sehingga bisa memutus rantai penyakit,” terangnya.

Selain masalah penyakit, H. Suparman, salah seorang petambak di Lampung Timur memaparkan terjadinya sendimentasi pesisir pantai. Hal ini membuat para petambak kesulitan mengambil air laut. Menurutnya, diperlukan pembenahan saluran air dari laut menuju ke tambak sehingga air masuk dengan air keluar tidak bercampur jadi satu.

Banyaknya perizinan yang muncul juga menjadi kendala seperti izin penggunaan air laut, izin genset,  izin penimbunan solar industri, izin amdal, sampai izin pipa pengambilan air laut. “Tak hanya itu, harga yang fluktuatif juga tidak mengenakkan para petambak,” ungkap Suparman.

Masalah harga juga diakui Dardjono menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap produksi udang. “Harga udang yang murah, size 100 sekarang Rp47 ribu per kilo gram membuat pembudidaya menjadi kurang bergairah,” terangnya.

Menjawab Tantangan

Budidaya di Lampung Timur saat ini terus berkembang, pola budidaya pun mengalami pergeseran, dari  tambak tradisional (udang windu) dengan ukuran kolam 1—2 hektar menjadi tambak intensif (udang vaname) dengan ukuran kolam 1.000—2.000 meter persegi.

“Selalu ada tambak baru yang dicetak dengan investor dari luar Lampung,” ungkap Joko.

Menghadapi tantangan yang ada, solusi kongkret diperlukan agar usaha budidaya udang bisa berjalan secara berkelanjutan. Menurut Joko ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, di antaranya: (1) penggunaan tandon filter biologis dan tandon treatment, (2) pengaturan waktu tebar, (3) komunikasi grup yang intensif, serta (4) perbaikan saluran inlet.  

Penggunaan tandon filter biologis dilakukan dengan memelihara ikan nila dan bandeng untuk mengetahui keamanan air media, baik yang masuk maupun keluar dari kolam tambak. Tandon treatment juga diperlukan untuk menjamin keamanan air laut yang masuk dari saluran ke dalam kolam. Jika mengunakan sumur bor, diperlukan tandon khusus untuk men-treatment parameter air sumur bor agar sesuai dengan kriteria air media yang diharapkan, terutama dari sisi kandungan mineral yang ada di dalamnya.

Pengaturan waktu tebar terkait dengan jumlah tebar benur ke dalam petak tambak. Biasanya, kasus serangan WSSV terjadi pada musim hujan. Untuk menghindari risiko kerugian yang besar akibat kematian, padat tebar disarankan dikurangi. Jika pada musim kemarau padat tebar bisa 100 ekor per meter persegi, pada musim hujan dikurangi menjadi 50—70 ekor per meter persegi.

Komunikasi grup yang intensif antar petambak bisa dilakukan lewat pembuatan grup chat WhatsApp (WA). Dengan berkumpulnya para petambak, komunikasi terkait teknis pengelolaan tambak, terutama dalam hal sumberdaya yang digunakan bersama, bisa dilakukan dengan cepat dan efektif.

Sebagai contoh, tambak yang diketahui terinfeksi WSSV dan sedang membuang air tambak memberikan informasi ke grup. Dengan begitu, petambak lain yang berdekatan tidak melakukan pengisian air dari saluran tersebut. Setidaknya, ini merupakan solusi pragmatis ketika saluran inlet dan outlet antar-tambak masih menjadi satu.

Komunikasi intensif akan lebih efektif dengan terbentuknya organisasi petambak. Dengan terbentuknya organisasi petambak, informasi teknologi budidaya udang dan penanggulangan penyakit bisa berjalan dengan lebih baik.

Organisasi menjadi wadah bagi petambak untuk menyampaikan permasalahan budidaya serta meningkatkan peran nyata pihak pemerintah daerah dan swasta dalam menyukseskan budidaya udang yang berkelanjutan.

Pendalaman dan pelebaran saluran inlet sangat diperlukan untuk menjamin pasokan air media budidaya di tambak. Mengingat pentingnya saluran ini, upaya pendalaman dan pelebaran—jika memungkinkan—dilakukan secara swadaya. Tentu saja, bantuan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk pendalaman saluran air yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi sangat membantu meringankan beban petambak.

“Behn Meyer melalui teknisinya juga membantu melakukan pengukuran kualitas air di tambak langsung, supaya action permasalahan di tambak lebih cepat ditangani,” tutur Joko.

Joko menghimbau, pemerintah, melalui dinas perikanan dapat secara berkala mengandeng swasta—baik perusahaan pakan, benur, dan obat—untuk dapat lebih berperan aktif dalam mendukung budidaya udang yang berkelanjutan di Lampung Timur.

Hal senada juga disampaikan Muhammad Fitri, Teknisi Pakan Gold Coin. Menurutnya, antisipasi munculnya serangan penyakit—salah satunya—lewat manajemen pakan yang ketat. “Pakan harus kualitas baik dan menggunakan pakan protein rendah, yaitu 30—32%. Hal ini disebabkan padat tebar rendah di bawah 100 ekor per meter persegi,” terangnya.

Fitri berharap, terjalin kerja sama antara petambak, stakeholder, praktisi, dan dinas perikanan terkait untuk membuat SOP standar sesuai kondisi di Lampung Timur. Diperlukan adanya komunikasi antara petambak dan teknisi, pabrik pakan, hatchery, teknisi obat-obatan, dan pembeli udang.

“Harus ada keterbukaan antar petambak. Jika ada masalah penyakit harus saling memberi informasi dan ditangani bersama,” pungkasnya. (Rochim/Adit/Resti)

Teropong Geliat Tambak Udang di Lampung Timur

Dengan panjang pesisir 62 kilometer, Lampung Timur memiliki potensi perikanan budidaya air payau cukup besar. Tercatat, potensi luas tambak yang dimiliki kabupaten ini sekira 8.271 hektar.

“Dari potensi luas tersebut telah tercetak tambak seluas  5.865 hektar, terdiri dari tambak intensif 1.095 hektar, semi-intensif  970 hektar, dan  tradisional plus  3.800 hektar,” ungkap Dardjono, SP., Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budidaya Lampung Timur.

Menurutnya, jenis udang yang dibudidayakan oleh petambak di Lampung Timur adalah udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Sementara jenis udang yang lebih disukai petambak saat ini adalah udang vaname karena bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi, permintaaan pasarnya tinggi, lebih tahan penyakit, dan harganya lebih tinggi pada size kecil.

Perkembangan budidaya udang di Lampung Timur, terutama udang vaname, diawali dengan Program Demfarm Udang Vannamei pada tahun 2014. Program kegiatan Tugas Perbantuan (TP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan—melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur—di kelompok Mina Purwa I, Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai itu dirasa menguntungkan.

“Selanjutnya, program dilanjutkan dengan kegiatan Demfarm pada tahun 2015 di kelompok Sido Makmur dan kelompok Lestari Gemilang di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti. Program menunjukkan hasil yang baik dan tumbuh hingga saat ini,” papar Dardjono.

Keberhasilan kegiatan Demfarm Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada tahun 2014 dan tahun 2015 membangkitkan kembali semangat petambak untuk membudidayakan udang. Setelah melihat budidaya udang vaname dengan penerapan teknologi dan CBIB ternyata berhasil dan menguntungkan, masyarakat yang sebelumnya awam serta pembudidaya udang windu, bandeng, dan nila secara tradisional pun menjadi tertarik.

Keberhasilan ini tidak lepas dari ketersediaan sumberdaya manusia yang mendukung. Dengan tutupnya dua perusahaan tambak udang yang ada di Lampung (PT. CPB dan PT. DCD), arah  pasar pakan yang semula ke tambak inti perusahaan beralih ke pasar tambak rakyat, yang dibarengi dengan pendampingan oleh teknisi berpengalaman dalam budidaya dan alih teknologi. Apalagi harga udang vaname yang tinggi di pasaran membuat petambak bergairah untuk berbudidaya.

Potensi Usaha dan Terobosan Teknologi

Teknologi selalu berkembang, untuk saat ini, teknologi yang digunakan pembudidaya udang vaname di Kabupaten Lampung Timur adalah tambak mulsa. Selain itu, ada tambak semimulsa—yang hanya menggunakan mulsa pada dinding dan kaki tanggulnya—dan tambak tanah. Adapun luasannya berkisar 1.000 m2 sampai 5.000 m2.

“Penerapan teknologinya menggunakan tandon dan sumur bor; menggunakan aerasi kincir; memanfaatkan bioremediasi untuk pengolahan limbah tambak, baik aerob maupun anaerob; dan sebagian besar telah menggunakan SOP dengan kaidah CBIB,” jelas Dardjono.

Kepala UPTD Perikanan Budidaya Lampung Timur ini juga menjelaskan bahwa ke depan, dengan semakin kompleknya masalah yang dihadapi dalam budidaya udang, perlu penerapan teknologi terobosan seperti busmetik dan budidaya salinitas rendah.

Meskipun terkategori teknologi lama besutan Bagian Administrasi Pendidikan dan Pelatihan Lapangan (BAPPL) STP Serang, Teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) dengan luasan antara 600 m2 hingga 1.000 m2 dan menggunakan plastik HDPE penuh diharapkan memiliki biosekuriti lebih bagus.

Selain hemat air dan mudah pembersihannya, ukuran kolam yang mini juga membutuhkan modal relatif kecil, mengingat di Lampung Timur hampir 100% adalah tambak rakyat. Ukurannya yang mini juga memudahkan penanganan saat terjadi masalah.

Adapun budidaya udang pada salinitas rendah sudah dicoba tebar pada salinitas 0 0/00 di Dempond atau percontohan Labuhan Maringgai pada tahun 2015. Menurut Dardjono, hasilnya baik dan sudah diaplikasikan di  beberapa pembudidaya. Ke depan sangat baik dikembangkan, apalagi sebagian besar potensi lahan adalah lahan tambak yang sekarang menjadi lahan pertanian.

Menurut Rudy Kusharyanto, Head of Sales & Marketing, PU & PI Regional Sumatera PT Matahari Sakti, terobosan yang bisa di lakukan oleh pabrik pakan untuk membantu meningkatkan produktivitas lahan adalah antara lain dengan terus mengadakan sharing budidaya ke semua petambak Lampung Timur agar pola-pola budidaya yang sustainable bisa di jalankan oleh petambak, dari pabrik pakan juga bisa me-support pakan yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi perairan Lampung Timur.

“Potensi tambak sekarang lebih menjanjikan dibandingkan dulu,” ujar M. Ansori Maskur, Ketua Pokdakan Mina Sakti Mandiri. Ia pun memberikan gambaran bahwa penghasilannya dari mengelola tambak seluas 3 hektar dulu hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Mau menguliahkan anak masih mikir-mikir. Beda jauh dengan sekarang, mengolah tambak 4 kolam dengan ukuran 1.500 meter persegi per kolam, penghasilannya lebih dari cukup dan bisa untuk menguliahkan anak,” imbuhnya.

Dimulai pada tahun 1998,  usaha tambak Ansori menggunakan pola polikultur antara udang windu dengan ikan bandeng secara tradisional. Pada akhir tahun 2015, LIPI bekerja sama dengan Unila mengadakan program budidaya udang vaname salinitas rendah. “Berangkat dari kegiatan ini, saya termotivasi untuk beralih komoditas, dari udang windu ke udang vaname dengan pola monokultur dan teknologi semi-intensif,” kenang Ansori.

Dengan beralih teknologi, tambak milik Ansori bisa menghasilkan 1—1,5 ton udang per 1.500 meter persegi. Padahal, tambaknya dulu hanya menghasilkan udang sebanyak 2 kuintal dan ikan bandeng sekitar 3 kuintal per hektar.

Cerita senada juga diungkapkan H. Suparman, salah satu petambak udang di Lampung Timur. Ia memulai usaha budidaya udang windu dengan tambak tradisional sejak tahun 1987. “Kalau dulu, udang dibiarkan saja, kita bisa panen. Kalau sekarang harus melalui serangkaian SOP pengolahan air sebelum budidaya. Kalau dilihat dari tonase per hektar lebih menguntungkan sekarang, tetapi dengan syarat SOP sesuai CBIB,” ulasnya.

Dilansir dari Lampungpro.com, usaha budidaya udang vaname menjadi usaha paling menggiurkan. Meskipun berpotensi menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi pembudidaya udang pemula yang tidak jeli dalam merawat udang. Hal ini disampaikan Marsan, warga Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai.

Jika dilakukan dengan tekun dan telaten, satu hektar lahan tambak bisa menghasilkan keuntungan Rp380 juta per 90 hari. Untuk menghasilkan keuntungan tersebut, diperlukan modal setidaknya Rp250 juta untuk pembelian benur, pakan, biaya perawatan, dan listrik. Dengan penebaran benur menjelang musim kemarau, hasil panennya akan lebih banyak. Pasalnya, udang tidak mudah terserang virus dibandingkan musim hujan.

Potensi usaha budidaya udang vaname yang menggiurkan ini berdampak pada kenaikan harga lahan yang bergandengan dengan laut. Jika dulu harga tanah di lokasi dekat laut seperti tak ada harganya, kini banyak orang yang mencari untuk dijadikan sebagai lokasi bertambak udang.

“Jangankan membeli, disuruh garap sama pemilik lahan saja banyak yang tidak mau. Sebab, lahan terlalu becek ditanami apa pun susah. Tapi, sekarang orang pada berebut sewa. Dalam satu hektar mereka berani menyewa Rp100 juta. Per tahunnya, dua kali musim udang,” kata Marsan. 

Sinergi Peningkatan Produksi

Sebagai salah satu daerah yang diharapkan bisa menjadi lumbung udang di Provinsi Lampung, geliat usaha budidaya udang vaname perlu mendapatkan perhatian yang serius. Dari pihak Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur, beberapa langkah diupayakan dalam membantu peningkatan produksi udang. Sebagai contoh, penetapan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai sebagai kawasan Minapolitan.

Kawasan budidaya di kecamatan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai merupakan kawasan Minapolitan sesuai keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan (KKP), dengan Nomor KEP.32/MEN/2010 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Selanjutnya, keputusan tersebut diperbarui dengan KEP.35/MEN/2013 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan dan keputusan Bupati Lampung Timur Nomor: B.324/04/SK/2010 tentang Penetapan Kecamatan Pasir sakti dan Kecamatan Labuhan Maringgai sebagai kawasan Minapolitan Kabupaten Lampung timur.

Pengelolaan paskapenetapan kedua wilayah tersebut menjadi kawasan Minapolitan menjadi tanggung jawab lintas sektoral. Kegiatan normalisasi saluran primer dan sekunder dikerjakan oleh Kementrian PUPR melalui Balai Besar Pengelolaan Sungai Mesuji Sekampung dan sudah berjalan mulai tahun 2016. Ketersediaan listrik oleh PLN, yang ditandai dengan masuknya listrik ke tambak pada tahun 2018.

Normalisasi saluran tersier melalui program Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP) sudah dilakukan sejak tahun 2015 dan revitalisasi saluran dari Kementrian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2015. Pengecekan hama dan penyakit Ikan oleh BKIPM Lampung dan sertifikasi CBIB oleh DKP Propinsi Lampung.

“Adapun penyuluhan budidaya udang diselenggarakan melalui kerjasama KKN Unila, MAI Korda Lampung, serta Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur. Kami bersinergi untuk mensukseskannya,” ungkap Dardjono.

Kerjasama antara Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Timur dengan Universitas Lampung dan Dikti lewat Program Hi-Ling, dengan dibuatnya Tambak Pembelajaran Masyarakat  tahun 2015 di  desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti. Tak ketinggalan pula peran serta penyuluh swadaya atau teknisi dari perusahaan pakan (CP Prima) yang mendampingi petambak dalam berbudidaya udang vaname.

Melalui dana TP dari KKP, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Lampung Timur melaksanakan program Demfarm Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) sejak tahun 2014 sampai 2016. Sementara untuk tahun 2017 sampai 2018, Program Demfarm Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dilaksanakan dengan dana APBD untuk menyosialisasikan bahwa budidaya udang masih menguntungkan jika dilakukan dengan penerapan teknologi dan CBIB, apalagi jika diikuti dengan harga jual di pasaran yang tinggi.

Kegiatan pembinaan dan pengembangan perikanan dilakukan secara rutin. Juga pemberian apresiasi penerapan Cara Berbudidaya Ikan Yang Baik (CBIB), yang didalamnya menekankan untuk penerapan SOP pada budidaya udang, penyuluhan di lapangan, dan  bantuan sarana prasarana budidaya seperti kincir air, plastik mulsa tambak, Plastik HDPE, pompa submersibel, genset listrik, pompa sedot lumpur untuk sipon, hingga pemberian benur dan pakan udang.

Lampung Timur adalah salah satu sentra pertambakan di lampung yang sejauh ini perkembangannya menunjukkan peningkatan terutama untuk produksi udang vaname. Namun, menurut Rudy, dengan semakin banyaknya penyakit yang baru-baru ini menjadi tren yang kurang baik bagi perkembangan budidaya khususnya udang vaname.

“Maka harapan untuk Lampung Timur di butuhkan koordinasi dan saling support semua penggerak budidaya udang agar bisa berbudidaya secara baik dengan mengikuti langkah-langkah SOP yang benar sesuai dengan perhitungan carrying capacity-nya sehingga budidaya udang di sana terus di tingkatkan serta berkesinambungan,” tutur Rudy. (Rochim/Adit/Resti)

Tabel 1. Produksi Udang di Kabupaten Lampung Timur

NO PRODUKSI TAHUN
  (Ton)   2014 2015 2016 2017   2018
1 Udang Vaname 507,3 974,05 1481,27 6.448,78 15.000
2 Udang Windu 318,38 384,47 382,22 467,02 346 

   Sumber: Statistik Perikanan Budidaya 2018

Tabel 2. Potensi Tambak dan Tambak tercetak di Kabupaten Lampung Timur

      LUAS TAMBAK TERCETAK (Ha)
NO KECAMATAN/ DESA POTENSI INTENSIF SEMI INTENSIF TRADISIONAL PLUS
1 2 3 4 5 6
1 LABUHAN MARINGGAI 2.974,00 335 210 2.702
  1. Margasari 330,00 30 10 265
  2. Sriminosari 357,00 50 20 240
  3. Muara Gading Mas 460,00 75 30 235
  4. Bandar Negeri 539,00 100 50 449
  5. Karya Makmur 431,00 50 50 210
  6. Karya Tani 857,00 30 50 640
2 PASIR SAKTI 5.801,00 760 760 2.516
  1. Pasir Sakti 920,00 50 30 334
  2. Mekar Sari 3,00 0 0
  3. Mulyosari 923,00 50 30 435
  4. Rejomulyo 5,00 0 0
  5. Kedung Ringin 3,00 0 0
  6. Purworejo 1.578,00 500 200 316
  7. Labuhan Ratu 1.369,00 150 100 426
  8. Sumur Kucing 1.000,00 10 20 250
    8.775,00 1.095 970 3.800

Sumber: Statistik Perikanan Budidaya tahun 2018

Budidaya Alga, Untuk Tingkatkan Nutrisi Pakan Ikan

Mikroalga, alga mikroskopis kaya nutrisi untuk kegiatan budidaya perikanan

Mikroalga, di samping kehadirannya menjadi ancaman bagi kegiatan akuakultur, beberapa jenis di antaranya justru menjadi berkah bagi perikanan. Pasalnya, kandungan nutrisinya dibutuhkan beberapa jenis ikan budidaya, terutama jenis herbivora.

Alga kerap kali dituding sebagai penyebab munculnya berbagai serangan penyakit dan kematian massal pada ikan maupun udang. Awalnya, terjadi ketidakseimbangan alga di dalam lingkungan perairan.

Selanjutnya, akibat dari komposisi jenis alga yang tidak seimbang, kualitas perairan munurun, tingkat kandungan oksigen dalam air berkurang. Bahkan, sejumlah jenis alga ditengarai mengeluarkan bahan toksik.

Daya tahan tubuh ikan dan udang menurun. Tidak dapat dihindari, penyakit pun merebak ketika daya tahan tubuh turun dan kondisi lingkungan memburuk. Pada akhirnya, terjadi kerugian telak akibat kematian massal pada ikan dan udang budidaya yang tak terhindarkan.

Benarkah alga menjadi biang dari malapetaka tersebut? jawabannya iya. Akan tetapi, kabar baiknya, alga tidak hanya melulu menimbulkan efek negatif bagi budidaya perikanan. Sejumlah alga diketahui berpengaruh positif dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, misalnya untuk industri farmasi, kosmetika, pangan, dan industri lainnya.

Beberapa di antaranya diperlukan dalam kegiatan akuakultur sebagai sumber pakan untuk ikan. Sebut saja misalnya Chlorella vulgaris, Porphyridium cruentum, Dunaliella salina, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jenis-jenis mikroalga tersebut dipandang menguntungkan karena dapat menyediakan nutrisi yang berlimpah bagi ikan budidaya. Bahkan, karena kandungan nutrisinya yang kaya, tidak sedikit jenis mikroalga tersebut banyak dibudidayakan secara massal mengingat nilai ekonominya yang tinggi.

Mengenal Alga Lebih Dekat

Menurut klasifikasi dalam ilmu biologi, alga merupakan sejenis organisma fotosintesis yang mengandung klorofil, menghasilkan O2 dan merupakan suatu thallus (jaringan vegetatif) yang tidak terdeferensiasi menjadi akar, batang dan daun. Jadi, organisme ini berbeda dengan lumut atau jenis tanaman lainnya.

Pada kerajaan tumbuhan (kingdom plantae), organisme sudah jelas diklasifikasikan berdasarkan organ daun, batang dan akar, sementara pada alga tidak demikian. Meskipun begitu, alga dan tumbuhan sama-sama mempunyai klorofil sehingga mempunyai kemampuan melakukan proses fotosintesis, yaitu mampu menyintesis makanannya sendiri dari sinar matahari dan sumber karbon.

Dengan demikian, seperti halnya tumbuhan, alga pun dapat menghasilkan zat asam (oksigen) sebagai produk samping dari proses fotosintesisnya dan karbohidrat (karbon) sebagai produk utamanya.

Menurut pemaparan Rahmania Admirasari, dari Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), alga sendiri diklasifikan menjadi dua berdasarkan ukurannya, yaitu:

Rahmania Admirasari
  • Makroalga, alga yang berukuran besar, sehingga dapat dilihat dan diamati oleh mata telanjang;
  • Mikroalga atau alga yang berukuran kecil (mikroskopis) dan bakteria fotosintetik oksigenik (Cyanobacteria).

Produk Bernilai Ekonomis Tinggi dari Mikroalga

Saat ini, di dunia sudah dikenal luas beragam jenis alga dengan produk utama yang bernilai ekonomis tinggi. Sebut saja misalnya spirulina. Jenis mikroalga ini menjadi salah satu bahan baku suplemen kesehatan bagi manusia karena kandungan proteinnya yang tinggi, kandungan beragam vitamin yang bermanfaat bagi tubuh, serta kandungan mineral dan asam lemaknya.

Di samping itu, masih banyak jenis alga lain yang bermanfaat dan menjadi komoditas penting. Berikut ini beberapa jenis mikroalga dan berbagai jenis produk yang dihasilkan.

  • Spirulina plantesis, Phycocyanin, produk yang dihasilkan berupa biomassa dan suplemen makanan kesehatan, serta bahan dasar kosmetika
  • Chlorella vulgaris, produk yang dihasilkan berupa biomassa, suplemen kesehatan, dan sumber pakan
  • Dunaliella salina, produk yang dihasilkan Carotenoids, ß-carotene, suplemen makanan, sumber pakan.
  • Haematococcus plavialis produk yang dihasilkan adalah Carotenoids, astaxanthin, yang digunakan dalam suplemen makanan, industri farmasi, dan pakan
  • Odontella aurita sebagai sumber asam lemak, dan bahan baku farmasi, kosmetika, dan sumber makanan.
  • Porphyridium cruentum, produk yang dihasilkan di antaranya adalah polisakarida untuk industri farmasi, kosmetika, dan pakan hewan
  • Isochrysis galbana, produk yang dihasilkan di antaranya adalah asam lemak untuk pakan ternak,
  • Phaeodactylum tricornutum, bahan yang dihasilkan di antaranya adalah lemak, asam lemak, nutrisi asam, serta bahan baku untuk bahan bakar.

Mikroalga, Bahan Bernutrisi Tinggi Bagi Ikan

Alga berperan tak kalah penting dalam kegiatan akuakultur. Beberapa jenis alga sudah dikenal luas sebagai sumber pakan alami bagi ikan jenis herbivora, seperti ikan bandeng, mas, dan lain-lain.

Menurut Rahmania, aplikasinya dalam bidang akuakultur dapat berupa pakan langsung pada fase pembesaran larva, juvenile, atau pun untuk sebagai pakan zooplankton yang pada akhirnya menjadi pakan alami bagi ikan.

  • Sumber pakan alami pada fase pembesaran larva dan juvenilles dari moluksa, crustacea dan ikan.
  • Sumber pakan bagi zooplankton (rotifer, copepoda, dll) yang pada akhirnya menjadi sumber pakan alami bagi ikan.
  • Sumber pakan bagi Ikan herbivore

Tabel 1. Beberapa jenis mikroalga dan manfaatnya bagi jenis hewan akuakultur

Alga Organisma Akuakultur
Chlorella Brachionus
Scenedesmus Artemia, Ikan mas
Skeletonema Tiram dan kerang
Nitzschia Tiram dan kerang
Chaetoceros Tiram dan kerang

Budidaya Mikroalga Skala Massal

Mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi, tak sedikit praktisi yang sudah melakukan budidaya mikroalga secara massal. Jenis alga yang dibudidayakan tertentu untuk yang bernilai nutrisi tinggi atau digunakan untuk keperluan lainnya.

Selain itu, jenis yang dibudidayakan tersebut haruslah yang tidak beracun baik bagi hewan maupun manusia. Rahmania mengungkapkan, beberapa persyaratan budidaya mikroalga untuk kegiatan akuakultur harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya adalah:

  • Non toksik atau tidak beracun;
  • Ukuran tubuhnya tepat untuk dikonsumsi oleh organisma yang akan dibudidayakan;
  • Dinding sel alga mudah dicerna;
  • Kandungan nutrisi cukup baik.

Pada dasarnya, dalam kegiatan budidaya mikroalga, ada beberapa komponen wajib yang harus ada, yaitu cahaya matahari, karbondioksida (CO2), air, nutrisi, dan peralatan pendukung. Gas karbondioksida dibutuhkan sebagai sumber karbon bagi alga.

Kehadiran air mutlak diperlukan sebagai sumber hydrogen dalam sintesis karbohidrat yang terdiri dari unsur Karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O). Sementara itu, kebutuhan nutrisi lainnya, di antaranya unsur Nitrogen, Fosfor, dan unsur-unsur mineral lainnya dapat dipenuhi dari pasokan air limbah budidaya perikanan.

Seperti diketahui, air limbah yang berasal dari budidaya perikanan banyak mengandung sisa-sisa pakan dan zat-zat eksresi ikan, misalnya ammonia, nitrat, nitrit, dan fosfat. Bahan-bahan tersebut merupakan unsur hara bagi mikroalga sehingga airnya dapat dimanfaatkan untuk kultivasi mikroalga.

Gambar 1. Metode budidaya mikroalga secara umum

            Gambar 2. Alur budidaya mikroalga dan waktu pemanenan yang tepat

Kultivasi mikroalga dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sistem terbuka dan sistem fotobioreactor (sistem tertutup). Pada metode terbuka, budidaya mikroalga dilakukan pada kolam/ bak-bak terbuka dengan ukuran yang luas.

Sementara itu, budidaya dengan metode fotobioreactor dilakukan di dalam reaktor-reaktor tertutup yang biasanya terbuat dari kaca/plastik transparan. Hal ini agar permukaan dapat ditembus cahaya matahari yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.

Masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri. Sebagai contoh, pada metode tertutup (fotobioreaktor), kelebihannya adalah terjaga dari kontaminasi, produktivitas lebih tinggi, serta tidak membutuhkan lahan yang relative luas. Meskipun demikian, metode ini mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya adalah biaya investasi awal yang mahal.

Di lain pihak, jika budidaya dilakukan pada kolam terbuka, kelebihannya antara lain biaya investasi awal yang relatif rendah dan perawatan mudah. Akan tetapi, kelemahan yang ditimbulkan di antaranya adalah membutuhkan luas lahan yang besar, mudah terkontaminasi oleh mikroalga yang lain, sehingga dapat memicu terjadinya kompetisi. (Noerhidajat/Resti)

Meninjau Kinerja Kipas dan Listrik di Kandang Closed House

Kandang Closed House. “Betul, Pak. Gunakan kipas pabrik, jangan kipas rakitan seperti saya,” ujar Dina (bukan nama sebenarnya), seorang peternak dalam Focus Group Discussion lewat aplikasi Telegram yang diadakan oleh Asosiasi Peternak Ayam Indonesia (APAI).

Dina telah memulai usaha ayam broiler di Gorontalo. Awalnya, budidaya dilakukan dengan menggunakan kandang konvensional. Seiring dengan maraknya penggunaan closed house di kalangan peternak Indonesia, ia pun memberanikan diri untuk mengubah kandangnya, dari konvensional ke closed house. Sayang, usahanya di awal harus melewati ujian berat.

Kendala Sistem Kandang Closed House

“Kendala saya di awal sudah banyak kematian ayamnya. Dari 15 ribu ekor yang dimasukkan, 12 ribu ekor mati dan yang terpanen hanya 3 ribu ekor. Pada panen kedua, ayam dipanen pada usia 26-30 hari. Masih ada hasil meskipun sedikit,” keluhnya.

Dari pengakuannya, Dina menggunakan kipas rakitan untuk menyuplai udara dalam kandang broiler dua lantainya yang berukuran 106 m x 8 m. Dengan daya listrik 16.500 watt, PLN mengaliri listrik ke kandang dengan kabel sepanjang 1.000 m. Karena jauh dari gardu listrik, kabel disangga menggunakan 25 tiang. “Dapat voltase 385. Namun, saat digunakan, voltasenya turun, listrik sering mati, sehingga blower tidak maksimal. Jadi merugi,” terangnya.

Namun, ada satu hal yang terus menggelayut dalam pikiran Dina. Dengan kemitraan yang berbeda, kandang closed house milik temannya lebih berhasil. Dari 5.300 ekor ayam, temannya mendapatkan bobot 10 ton atau rata-rata 1,8 kg per ekor. “Padahal menggunakan blower rakitan yang sama dan kecepatan anginnya tidak sampai dua,” bebernya.

Mengecek Kinerja Kipas Kandang Closed House

“Bila listrik di sekitar lokasi sering padam dan tidak ada pemberitahuan, hati-hati. Segera atasi dengan menyalakan genset yang sangat prima dan selalu siap untuk dihidupkan,” ujar Marsis, peternak ayam broiler dari Kediri.

Menurut Marsis, padamnya listrik akan berpengaruh pada alat kipas dan dinamo. Temptron pun bisa terbakar. Akibatnya, aktivitas buka-tutup tirai harus sering dilakukan dan menyebabkan stres pada ayam. Stres mengakibatkan turunnya ketahanan fisik ayam sehingga memudahkan peluang masuknya virus penyakit. Dampaknya, tingkat kematian tinggi, makan banyak tetapi bobot ayam tidak bisa naik, FCR tinggi, IP rendah dan pada akhirnya peternak merugi.

Sementara, Agus Yohani Slamet, mengatakan bahwa secara prinsip penggunaan kipas rakitan ataupun pabrikan bisa dilakukan. “Hal yang harus diperhatikan adalah daya kerja kipas tersebut. Berapa kemampuan daya hisapnya. Kalau kipas produksi pabrikan yang sudah SNI bisa diketahui daya hisapnya,” ujarnya.

Pemilik Tembalang Poultry Equipment itu menambahkan, bahwa prinsip utama dalam kandang closed house adalah aliran udara (mekanika fluida), di mana kipas atau blower menjadi alat utama untuk menghisap udara.

Kapasitas atau daya kerja kipas atau blower sangat penting untuk diukur karena terkait dengan jumlah kipas yang diperlukan dalam satu kandang. Meskipun pabrikan telah mengeluarkan standar daya kerja kipas atau blower, pengalaman di lapangan tidak selalu sama.

Cara menghitung kapasitas kipas atau blower tidak rumit. “Cukup menggunakan anemometer,” ungkapnya. Pengukuran dilakukan dengan cara menempelkan anemometer pada kipas. Selanjutnya, lakukan pengukuran yang sama pada sembilan titik sebar. Kemudian hitung kecepatan angin rata-ratanya. (Cara penghitungan bisa dilihat pada Gambar1. Contoh Penghitungan Kapasitas Kipas).

Dengan cara tersebut, pengguna bisa mengetahui daya kerja kipas atau blower yang digunakan dalam 0 pascal atau tanpa hambatan. Namun, dalam kandang pasti ada hambatan yang memerlukan perhitungan lanjutan. Sebagai gambaran, besarnya kapasitas kipas pada tekanan tertentu bisa dilihat pada Gambar 2.

Dengan mengetahui daya kerja kipas atau blower, peternak bisa menentukan jumlah kipas atau blower yang akan digunakan. Selain itu, peternak juga bisa menghitung jumlah colling pad atau celldeck yang dibutuhkan.

Sumber Listrik Adalah Kunci Kandang Closed House

Dalam peternakan yang menggunakan kandang closed house, listrik adalah faktor vital yang menunjang keberhasilan budidaya. Kondisi listrik yang sering mati tentu tidak kondusif untuk menjalankan sistem closed house.

Untuk kasus yang menimpa kandang closed house milik Dina di Gorontalo, Agus menyarankan empat langkah yang perlu diperhatikan.

Pertama, tetapkan populasi sebanyak 12.500 ekor ayam dengan bobot masing-masing 2 kg atau 25 ton. Di awal, jangan terburu-buru menaikkan tonase. Jika ingin panen degan bobot 1,5-1,6 kg per ekor, populasi ditingkatkan hingga 16.000 ekor, dengan tetap mempertahankan tonase 25 ton.

Kedua, pasang kipas 3-phase berukuran 52” sebanyak lima buah. Primerisasi jaringan 3-phase ke kandang harus dilakukan dengan meminta ke regional PLN. Trafo dan meteran sebisa mungkin berada di kawasan kandang.

Ketiga, gunakan kontroler klimatron. Alat ini akan membantu pengaturan hidup-matinya kipas, sesuai dengan bobot harian ayam di kandang.

Keempat, jika ketiga langkah tersebut telah terpenuhi, fokus selanjutnya pada manajemen ayam. “Kunci paling penting ada di primerisasi PLN. Bisa dikatakan, PLN lah yang bisa menentukan sukses atau tidaknya closed house yang digunakan,” pungkasnya.

Kandang Closed House Sudah Banyak Digunakan Peternak

Kini perusahaan-perusahaan perunggasan mitra PT CHAROEN POKPHAND INDONESIA sudah banyak yang menggunakan kandang closed house untuk pemeliharaan ayamnya. (Rochim)

 

 

KKP SIAPKAN PENGEMBANGAN KEBUN BIBIT RUMPUT LAUT

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,2 miliar untuk pengembangan kebun bibit rumput laut hasil kultur jaringan pada tahun ini.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,2 miliar untuk pengembangan kebun bibit rumput laut hasil kultur jaringan pada tahun ini.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menyebutkan target produksi perikanan budi daya tahun ini dipatok sebesar 24 juta ton dimana 60% diantaranya merupakan rumput laut. Adapun produksi rumput laut pada 2018 diestimasi mencapai 10,366 juta ton.

“Tahun ini, pembangunan kebun bibit bibit rumput laut hasil kultur jaringan akan dilakukan di sejumlah daerah seperti Lampung, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat,” ujar Slamet dalam pesan singkatnya dikutip, ekonomi.bisnis.com, Selasa (19/2).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto

Slamet menyebutkan, seluruh produksi bibit hasil kultur jaringan rumput laut dijamin ketertelusurannya. Untuk itu, ke depan, aka nada sertifikat khusus untuk bibit rumput laut hasil kultur jaringan guna memberi  kepastian bagi para nelayan yang memanfaatkan bibit hasil kultur jaringan dan pasar.

“Sebetulnya sudah ada, nanti kita cek tiap-tiap UPT yang memproduksi ini kan harus ada sertifikatnya. Kita tinggal bikin sertifikat saja. Kalau traceability itu ada, pembuatan sejak dia di ambil sampai dibiakkan dibesarkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia juga mengimbau kepada para perusahaan pengolah rumput laut baik yang berbasis pemodalan asing maupun dalam negeri untuk bisa mengembangkan sendiri budi daya rumput laut guna memastikan jaminan pasokan bahan baku.(Ef)

PABRIK PAKAN IKAN MILIK KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN (KKP) DI PANGANDARAN SIAP BEROPERASI TAHUN INI

PABRIK PAKAN IKAN MILIK KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN (KKP)

Pabrik pakan ikan skala medium yang dibangun di Pangandaran, Jawa Barat, siap beroperasi pada tahun ini. Hal itu disampaikan  Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP) Slamet Soebjakto dalam keterangannya di Jakarta, ekonomi.kompas.com, Senin (7/1/2019).

Dr. Ir. SLAMET SOEBJAKTO, M.Si DIREKTUR JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA

Dia mengatakan, pabrik pakan ini ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan air tawar dan laut khususnya bagi pembudidaya ikan di wilayah priangan timur dan sekitarnya seperti Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Cilacap. Menurut Slamet, pabrik pakan yang dibangun pada lahan seluas 7.000 meter persegi dirancang untuk memproduksi pakan terapung dengan kapasitas optimum 1 – 1,2 ton per jam atau mampu mensuplai kebutuhan pakan optimal minimal 3.450 ton per tahun.

Terkait pengelolaan, Slamet mengatakan akan menunjuk UPT Ditjen Perikanan Budidaya yang memang sudah kompeten dalam bidang pakan ini.

Dalam hal ini menurutnya kemungkinan bisa Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi atau Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.

KKP juga tengah menyiapkan mekanisme terkait dengan standar harga yang nantinya diberlakukan di pasar. Nantinya menurut Slamet, penetapan harga akan melalui Surat Keputusan Dirjen. Hal tersebut lanjut dia, dinilai sebagai hal yang penting untuk memastikan harga bisa terjangkau. “Tentu kami akan mendorong agar harga pakan ini bisa terjangkau dan kualitas tetap terjaga. Tujuan awal kami khan bagaimana meningkatkan efisiensi produksi yang saat ini jadi kendala utama,” katanya. Kehadiran pabrik pakan skala medium ini, diharapkan akan lebih luas menjangkau kebutuhan para pembudidaya ikan dan menekan biaya produksi budidaya minimal 30 persen.

PAKAN IKAN MILIK KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN (KKP)

Dia  juga memastikan kualitas produk pakan akan terjamin dan mengacu pada SNI yang sudah ada. Untuk jaminan bahan baku, ia juga memastikan selama ini tidak ada kendala, artinya bahan baku tetap tersedia. KKP mencatat tahun 2019 kebutuhan pakan ikan dan udang diperkirakan hingga mencapai 10,8 juta ton. Sementara itu, produksi pakan mandiri tahun 2017 tercatat sekitar 26.546 ton.(Ef)

Meramu Pakan Burung Puyuh

Pembangunan peternakan unggas masa kini dan masa mendatang dalam menghadapi ekonomi global dituntut harus memiliki daya saing untuk meningkatkan pangsa pasar nasional dan internasional. Jenis ternak unggas yang sudah dibudidayakan secara intensif dan komersial mengarah ke sistem industrialisasi seperti ayam ras baik pedaging maupun petelur. Ternak unggas lain yang kini dilirik sebagai “wahana bisnis” ialah peternakan burung puyuh.

Wawasan untuk mencapai masa depan peternakan burung puyuh yang berdaya saing bertumpu pada wirausaha kreatif dan inovatif, bahwa preferensi konsumen yang berkembang merupakan blue print dari diferensiasi teknologi pembibitan (breeding), teknologi budidaya, teknologi pakan, teknologi pengolahan dan lain sebagainya. Selain itu, untuk membangun daya saing yang berkesinambungan, dibutuhkan empat ranah inovasi, yakni inovasi rekayasa genetik, bioteknologi nutrisi dan pakan, teknologi pengolahan, serta bisnis/manajemen. Arah pembangunan peternakan burung puyuh ke depan, tidak hanya sebatas kegiatan budidaya (on farm) namun perlu diperluas menjadi sistem agribisnis (DR Rahmat Rukmana dkk. 2017).

Usaha budidaya burung puyuh perlu dikembangkan dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak, perusahaan peternakan dan masyarakat. Di Indonesia, burung puyuh masih diusahakan sebagai penghasil telur dan daging, dimana usaha budidaya burung puyuh didominasi oleh peternakan rakyat dengan sistem pemeliharaan tradisional. Saat ini, pemeliharaan burung puyuh di Tanah Air untuk pembibitan dan budidaya di masyarakat belum dapat dibedakan. Pembibit pada umumnya menetaskan telur dari induk yang biasa digunakan untuk produksi budidaya, dimana seleksi telur hanya terbatas pada penampilan, bobot, ketebalan kerabang, bentuk dan warna telur.

Industri pembibitan burung puyuh merupakan salah satu alternatif yang memiliki prospek pasar cukup baik, mengingat permintaan bibit burung puyuh (DOQ) petelur cukup tinggi, ini berkaitan dengan potensi dan arah pengembangan wirausaha burung puyuh secara makro dalam upaya Ketahanan Pangan Nasional dan kemandirian usaha untuk menghasilkan salah satu pangan berprotein hewani.

Populasi Burung Puyuh
Populasi burung puyuh di Indonesia berdasarkan Statistik Peternakan 2015 dan 2016, seperti pada Tabel 1. berikut:
Tabel 1. Populasi Burung Puyuh di Indonesia

Tahun Populasi (ekor) Nasional
Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur
2014-2015 502.579 3.995.114 2.770.908 12.692.213
2015-2016 756.978 4.669.378 2.931.450 13.781.918

Sumber: Statistik Peternakan 2015 & 2016, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar.

Dari Tabel 1. di atas, tampak bahwa populasi ternak puyuh terjadi peningkatan yang cukup membanggakan secara nasional, sedang wilayah yang paling berkembang adalah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kendati demikian, arah pemasaran terfokus dan tertuju ke Jabodetabek selain kota besar setempat, mengingat wilayah tersebut perkembangan bisnis kuliner dan industri pariwisatanya sangat cepat.

Meramu Pakan Puyuh

Pakan merupakan hal sangat penting dalam usaha peternakan puyuh, selain faktor bibit dan manajemen pemeliharaan. Pakan sebagaimana hewan ternak lainnya berfungsi untuk hidup pokok, pertumbuhan dan produksi (telur atau daging). Oleh karena itu, zat gizi dalam pakan  harus mencukupi, diantaranya energi metabolis, air, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, abu, kalsium, fosfor dan asam amino lysine, methionin, cystin. Pada Tabel 2. berikut disajikan mutu pakan untuk puyuh:
Tabel 2. Standard Mutu Pakan Puyuh

Kandungan Nutrisi Starter Grower Layer
Energi metabolis (Kkal/kg) 2.800 2.800 2.800
Air (maks) (%) 14 14 14
Protein kasar (min) (%) 20 20 20-22
Lemak kasar (maks) (%) 7 7 7
Serat kasar (maks) (%) 6,5 7 7
Abu (%) 8 8 14
Kalsium (%) 0,9-1,2 0,9-1,2 2,5-3,5
Fosfor tersedia (%) 0,4 0,4 0,4
Aflatoksin (maks) Ppb** 40 40 40
Asam Amino
·         Lysine (min) (%) 1,10 0,8
·         Methionine (min) (%) 0,40 0,35 0,90
·         Methionine + Cystine (min) (%) 0,60 0,50 0,4-0,6

Sumber: Permentan No. 33/Permentan/OT.140/2/2014.

Keterangan: **) Ppb = part per billion.

Selain standar mutu pakan puyuh saja, perlu juga mengetahui kebutuhan nutrisi bagi burung puyuh dan aplikasinya di kandang agar usaha berhasil sesuai yang diharapkan. Menurut Rangkuti & Wuryadi (2011), pakan burung puyuh masa starter adalah pakan yang diberikan pada masa pertumbuhan, yaitu mulai dari DOQ (umur sehari) sampai siap bertelur, sedangkan pakan masa layer diberikan pada saat puyuh mulai bertelur sampai diafkir (umur delapan bulan). Pada Tabel 3. berikut disajikan kebutuhan nutrisi burung puyuh:
Tabel 3. Kebutuhan Nutrisi Burung Puyuh

Kandungan Pakan Masa
Starter Layer
Energi metabolis Kkal/kg (min) 2.800 2.900
Air (maks) (%) 12 14
Protein kasar (min) (%) 21-23 22
Lemak kasar (maks) (%) 4-8 3,96
Serat kasar (maks) (%) 4 6
Abu (maks) (%) 8 10
Kalsium (%) 0,9-1,2 3,25-4
Fosfor (%) 0,76-1 0,6

Sumber: Wuryadi (2011).
Berbagai Formula Pakan Puyuh
Untuk peternakan burung puyuh baik pembibitan, petelur maupun pedaging, perlu disesuaikan dengan kondisi ketersediaan bahan baku secara kontinyu. Bila tidak tersedia secara lengkap atau terdapat kesulitan dalam penyediaan bahan baku, sebaiknya peternak

mencampur sendiri (self mixing) antara bahan baku utama (jagung, bekatul) dengan pakan ayam/itik pabrikan. Berikut disajikan pilihan ramuan/formula pakan puyuh:
Tabel 4. Formula Pakan Puyuh (I)

Bahan Pakan Jumlah (Kg)
Jagung giling 50
Bekatul 10
Konsentrat pabrikan itik petelur 25
Konsentrat pabrikan ayam pedaging 14
Albend-Mix (PT ISSU Medika Veterindo) 1
Total 100

Sumber: DR H. Rahmat Rukmana dkk (2017).
Kandungan nutrisi Formula Pakan Puyuh (I) tersebut adalah energi metabolis 3.130 Kkal/kg, air (maks) 13%, protein kasar 18,3%, lemak kasar (maks) 4,6%, serat kasar 3,7%, abu (min) 2,7%, kalsium (min) 3,3%, fosfor (min) 0,7%, lysine (maks) 0,4% dan methionin (min) 0,2%.
Tabel 5. Formula Pakan Puyuh (II)

Bahan Pakan Jumlah (kg)
Pakan ayam layer pabrikan 80
Pakan broiler starter pabrikan 19
Albend-Mix (PT ISSU Medika Veterindo) 1
Total 100

Sumber: DR H. Rahmat Rukmana dkk (2017).
Kandungan nutrisi Formula Pakan Puyuh (II) tersebut adalah energi metabolis 2.725 Kkal/kg, air (maks) 12%, protein kasar (maks) 18,5%, lemak kasar (maks) 4,6%, serat kasar 5,9%, abu (min) 10%, kalsium (min) 3,1%, fosfor (min) 0,7%, lysine (maks) 0,9% dan methionine (min) 0,9%.

Pemberian Pakan Puyuh

Pemberian pakan puyuh perlu disesuaikan dengan umur dan kebutuhan ternak puyuh tersebut, dengan tujuan mengefisienkan penggunaan pakan. Pada Tabel 6. berikut disajikan jumlah pemberian pakan menurut umur puyuh:
Tabel 6. Jumlah Pemberian Pakan Menurut Umur pada Puyuh

Umur Puyuh Jumlah Pemberian Pakan (gr)
2-7 hari (minggu pertama) 3,6
8-14 hari (minggu kedua) 6,8
15-21 hari (minggu ketiga) 8,9
22-28 hari (minggu keempat) 10,8
29-35 hari (minggu kelima) 15,0
Umur selanjutnya 20,0

 

Sumber: DR H. Rahmat Rukmana dkk (2017).
Pemberian pakan untuk anak puyuh (DOQ) dua kali per hari, yaitu pada pagi dan siang hari masing-masing setengah jatah, sedangkan untuk puyuh remaja (growing) dan dewasa (laying) cukup diberikan satu kali (pagi hari).

Demikianlah sekilas tentang pentingnya pemberian pakan untuk ternak puyuh, dalam rangka pengembangan industri puyuh di Indonesia, semoga bermanfaat. ***

Ir. Sjamsirul Alam

Penulis praktisi perunggasan,

alumni Fapet Unpad