Penting, Ukur Kinerja Pertumbuhan Ikan Budidaya

Budidaya ikan erat kaitannya dengan memacu pertumbuhan ikan mencapai ukuran atau berat yang diharapkan. Semakin cepat laju pertumbuhan, semakin besar pula peluang pembudidaya untuk menekan biaya produksi. Ujung-ujungnya, hal ini akan berimbas pada keuntungan yang akan diperoleh pembudidaya di akhir periode pemeliharaan.

Banyak orang beranggapan, laju pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan banyaknya pakan yang diberikan. Padahal, kedua aspek ini tidak selalu berjalan beriringan. Dalam aspek budidaya perikanan, komponen pakan menempati porsi yang sangat besar dalam keseluruhan biaya produksi yang dihabiskan.

Rika Rostika

Menurut peneliti perikanan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Tika Rostika yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Pembangunan Perikanan FPIK dan Wahyu Dewantoro, pertumbuhan ikan erat kaitannya dengan faktor internal dan eksternal.

Faktor internal berhubungan dengan ikan itu sendiri seperti umur, dan sifat genetik ikan. sementara itu, faktor eksternal meliputi lingkungan tempat ikan hidup, antara lain kondisi fisik, biologis, dan kimiawi air.

Menurut Ketua Pusat Studi Pembangunan Perikanan FPIK Unpad tersebut, performa pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi jumlah pakan yang diberikan. Hal ini mengingat jumlah pakan yang diberikan menjadi aspek yang relatif mudah diukur dibanding aspek lainnya. di samping itu, pakan juga menempati porsi paling tinggi dalam biaya operasional budidaya ikan, yakni dapat mencapai 60 – 70 % dari total biaya yang dikeluarkan.

Di bawah ini adalah beberapa parameter yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja budidaya ikan. berikut ini adalah ringkasan yang disarikan dari tulisan kedua peneliti tersebut dan sejumlah referensi.

Pertumbuhan mutlak

Pertumbuhan mutlak adalah selisih antara bobot akhir ikan dengan bobot awal sebelum budidaya. Satuannya adalah gram atau kilogram. Angka ini hanya menilai besarnya pertambahan bobot ikan selama masa pemeliharaan, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, seperti banyaknya pakan yang diberikan, lama masa pemeliharaan, dan lainnya.

Dimana Pm adalah pertumbuhan mutlak (gram atau kilogram), Wt adalah bobot setelah budidaya (gram atau kilogram). Sementara itu, Wo adalah bobot sebelum dibudidayakan (gram).

Meskipun angka ini tidak terlalu mencerminkan besarnya biaya yang dikeluarkan, angka pertumbuhan mutlak erat kaitannya dengan nilai ekonomis yang akan didapatkan oleh pembudidaya. Hal ini karena besarnya pendapatan yang diperoleh akan berbanding lurus dengan bobot ikan yang dipanen.

Penambahan bobot harian rata-rata

Wahyu Dewantoro

Berbeda dengan pertumbuhan mutlak, penambahan bobot harian rata-rata merujuk pada pertambahan bobot ikan setiap harinya secara rata-rata. Jadi, angka penambahan bobot harian rata-rata memperhitungkan lamanya masa pemeliharaan ikan. Untuk memperoleh angka ini, digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana SGR adalah penambahan bobot harian rata-rata (gram/ hari), Wt adalah berat akhir ikan setelah masa pemeliharaan (gram), dan Wo adalah berat atau bobot ikan sebelum masa pemeliharaan (gram). Sementara itu, t menunjukkan lamanya masa pemeliharaan (hari).

Konsumsi pakan harian

Konsumsi pakan harian merupakan jumlah pakan yang dihabiskan setiap harinya. Angka ini sudah memperhitungkan bobot ikan pada awal masa pemeliharaan, bobot ikan akhir masa pemeliharaan, dan lamanya waktu pemeliharaan. Untuk menghitungnya, digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana FI adalah bobot pakan yang diberikan untuk ikan (g), Wo adalah bobot biomassa ikan sebelum masa pemeliharaan (gram), Wt merujuk pada bobot biomas ikan pada akhir masa pemeliharaan (g), dan T mewakili lama masa pemeliharaan (hari).

Efisiensi pemberian pakan

Konsumsi pakan yang tinggi belum tentu menunjukkan tingginya produktivitas pertumbuhan ikan. Boleh jadi, konsumsi tinggi tapi pertumbuhan ikan lambat. Pemberian pakan dikateakan efisien jika besarnya pakan yang diberikan sebanding dan optimal dalam memperoleh pertambahan bobot ikan secara maksimal.

Efisiensi pakan 90% berarti hanya 90% dari pakan yang diberikan menjadi pertambahan bobot ikan yang dipelihara. Untuk mengetahui efisiensi pemberian pakan, dilakukan perhitungan sebagai berikut:

Dimana F adalah jumlah pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan (g), Wt adalah bobot rata-rata benih pada akhir masa pemeliharaan (g), dan Wo adalah bobot rata-rata benih pada awal masa pemeliharaan (g).

Dengan angka ini, pembudidaya dapat memperkirakan seberapa besar pendapatan bersih yang diperoleh setelah memperhitungkan pengeluaran untuk pembelian pakan. Sebagai contoh, jika dalam budidaya lele, angka efisiensi pakan mencapai 80%, artinya, setiap kg pakan yang diberikan akan memberikan pertambahan bobot ikan lele sebesar 800 gram.

Dengan memperhitungkan harga pellet ikan per kg dan harga jual lele per kg, akan didapatkan berapa selisih pemasukan dan pengeluaran yang diperoleh. Setelah itu, selisih ini juga harus dapat menutupi biaya lainnya, seperti biaya obat-obatan, probiotik, tenaga kerja, biaya transportasi, dan lain-lain.

Rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR)

Rasio konversi pakan mewakili perbandingan antara jumlah pakan yang dihabiskan dengan laju pertumbuhan ikan. pada umumnya, rasio konversi pakan bernilai di atas angka 1. Sebagai contoh, jika rasio konversi pakan sebesar 1,6; artinya untuk memperoleh pertambahan bobot 1 kg ikan yang dipelihara, diperlukan pakan sebanyak 1,6 kg. Semakin kecil angka rasio ini, semakin besar efisiensi pemberian pakan.

Mengukur panjang ikan
Menimbang bobot ikan

Dimana FI adalah bobot kering pakan yang dikonsumsi (g), Wo adalah bobot biomas ikan pada awal pemeliharaan (g), sementara itu, Wt merujuk pada bobot biomassa ikan pada akhir pemeliharaan (g), dan terakhir, D mewakili bobot ikan yang mati (g).

Pada umumnya, angka konversi pakan di atas 1. Dengan demikian, efisiensi pakannya umumnya di bawah 100%. Akan tetapi, pada budidaya ikan menggunakan sistem bioflok, angka atau rasio konversi pakan ini dapat bernilai di bawah 1.

Hal ini karena di samping pakan yang diberikan, ikan memanfaatkan bakteri yang melimpah sebagai sumber makanannya. Dengan demikian, sumber makanan ini membantu pertumbuhan bobot ikan di samping dari sumber pakan utamanya.

Kelangsungan hidup benih (survival rate)

Angka kelangsungan hidup benih menunjukkan tinggi rendahnya benih dapat bertahan hidup selama masa pemeliharaan sehingga masa pemanenan. Semakin tinggi tingkat kelangsungan hidupnya, semakin besar juga ikan yang dapat dipanen.

Dengan demikian, semakin besar peluang pembudidaya dalam mendapatkan keuntungan. Istilah lainnya, kelangsungan hidup dikenal juga dengan sebutan tingkat kelulusan hidup benih. Kelangsungan hidup ikan dapat diukur dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:

Dimana Nt adalah jumlah ikan yang hidup pada akhir masa pemeliharaan (ekor) dan No adalah jumlah ikan pada awal masa pemeliharaan (ekor). Sebagai contoh, jika jumlah benih pada awal masa pemeliharaan sebanyak 1.000 ekor, dengan angka kelangsungan hidup 70%, pada tahap akhir masa pemeliharaan, diperoleh benih 700 ekor. (noerhidajat)

Panen, Indikator Evaluasi Usaha Budidaya

Panen udang merupakan kegiatan akhir dalam pembesaran udang. Hasil panen dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan indikator keberhasilan usaha budidaya udang. Pemanenan pada pembesaran udang vaname, dilakukan dengan 2 metode yaitu panen parsial (sebagian) dan panen total. Bagaimanakah proses panen udang vaname skala mini?

Pemanenan udang vaname dilakukan setelah pemeliharaan udang vaname 90 -120 hari atau bergantung laju pertumbuhan udang dengan berat rata – rata udang (Average Body Weight = ABW) mencapai ukuran konsumsi 15 – 20 gram/ekor. Panen udang vaname pada tambak skala mini dilakukan pada masa pemeliharaan 100 hari.

Apabila ABW telah mencapai standar permintaan pasar (size 60-80 atau 60-80 ekor/kg) maka panen dapat dilaksanakan walaupun masa pemeliharaan belum 100 hari. Beberapa alasan mengapa pemanenan udang dilakukan yaitu udang sudah saatnya dipanen sehingga bila tetap dipertahankan, pertumbuhan udang tidak optimal lagi bahkan tidak tumbuh lagi, udang terserang penyakit dan telah menunjukkan gejala kematian jadi terpaksa dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar, dan kondisi darurat yang mengharuskan udang harus dipanen.

Deni Aulia

Pemanenan udang pada tambak skala mini didahului dengan dengan persiapan pemananen meliputi penyiapan peralatan panen dan perencanaan pemanenan seperti antisipasi banyaknya udang yang mengalami ganti kulit dengan meminimalkan perubahan-perubahan yang ekstrim pada air tambak terkait dengan kualitas air.

Penambahan dan pengurangan air tidak dilakukan selama 3 hari sebelum pemanenan. Perlakuan air yang dilakukan satu minggu sebelum jadwal panen yaitu proses pengapuran setiap 2 hari sekali, dengan dosis 5-10 mg/l. Hal ini dilakukan agar pada saat panen, karapas udang dalam kondisi keras dan udang tidak molting, karena udang yang molting akan menurunkan harga jual.

Kegiatan yang dilakukan sebelum dilakukan pemanenan pada usaha budidaya udang skala mini yaitu melakukan sampling untuk mengetahui persentasi udang yang ganti kulit (molting), ukuran udang yang dipanen sesuai dengan permintaan pasar, menentukan metode panen yang digunakan, menurunkan tinggi air untuk memudahkan penanganan penangkapan.

Selain itu juga dilakukan persiapan air bersih untuk mencuci udang sebelum dimasukkan ke air dingin dan menyiapkan air dingin untuk menjaga rantai dingin agar kualitas udang tidak menurun. Pemanenan udang dapat dilakukan secara selektif maupun total. Panen selektif dilakukan untuk mengambil udang dalam jumlah tertentu sedangkan panen total yaitu panen yang dilakukan dengan mengambil seluruh udang yang dipelihara di dalam kolam.

Bahan yang digunakan dalam melakukan panen yaitu air bersih dan es, sedangkan alat yang digunakan meliputi jaring kantong, jala sebar, anco, keranjang/basket, serok dan bak penampungan serta peralatan lainnya untuk pemanenan.

Pencatatan dan penghitungan data hasil panen dalam pemanenan udang harus dilakukan sebagai bahan evaluasi usaha budidaya meliputi tingkat produktifitas, tingkat kehidupan dan konversi pakan udang sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan usaha budidaya yang telah dilakukan pada siklus tersebut.

Data hasil panen udang setiap siklus usaha juga dapat dibandingkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan usaha pada masing – masing siklus. Metode budidaya pada siklus usaha yang memiliki tingkat keberhasilan terbaik dapat dijadikan rujukan metode usaha pada siklus – siklus usaha berikutnya. Hasil panen udang vaname teknologi Intensif yang baik yaitu sintasan/tingkat kehidupan minimal 75%, berat 15-20 gram dan produksi 15.000 kg/ha (SNI 01-7246-2006).

Panen Sebagian/Panen Selektif

Panen sebagian/panen selektif disebut juga sebagai panen parsial. Panen ini dilakukan dengan memanen udang sedikit demi sedikit, tergantung kebutuhan petambak atau jumlah yang dibutuhkan terbatas misalnya pada penjualan dalam bentuk hidup.

Artinya, berapapun hasil yang diperoleh disesuaikan dengan kebutuhan petambak saat itu. Oleh sebab dilakukan sebagian, air tambak saat panen tidak seluruhnya dikeringkan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya stres. Panen sebagian dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pasif berupa jala lempar dan dapat dilakukan sendiri oleh para petambak serta tidak memerlukan banyak tenaga pemanen, dengan begitu biaya panen yang dikeluarkan dapat diminimalisir.

Apabila secara penghitungan ekonomis telah menguntungkan untuk dilakukan panen maka panen parsial dapat dilakukan. Panen parsial tidak mempengaruhi tingkat stres udang sehingga panen parsial dapat dilakukan secara aman dalam upaya mengurangi biomassa udang agar berada pada tingkat daya dukung tambak. Salah satu alasan dilakukannya panen parsial karena biomassa udang melebihi kapasitas kolam.

Frekuensi panen parsial dapat dilakukan sebanyak 1-3 kali dalam setiap siklus dengan tenggang waktu 7 – 10 hari. Waktu panen parsial dilakukan sesuai dengan perkiraan biomassa udang pada periode tertentu setelah dilakukan sampling 2 minggu sebelum dilakukannya panen parsial.

Jumlah udang yang dipanen yaitu dengan mengurangi perkiraan jumlah udang yang masih bisa tertampung dalam 2 minggu kedepan didasarkan pada berat rata-rata udang (Average Body Weight = ABW) saat panen parsial dan rata-rata pertumbuhan harian (Average Daily Growth = ADG) udang saat sampling. Jumlah biomasa udang yang dimbil dalam setiap kali panen parsial yaitu sekitar 10 – 20 % dari estimasi biomasa udang dalam kolam.

Waktu panen parsial dilakukan pada sore/malam hari untuk meminimalisir udang yang tersisa dalam kolam agar tidak stress dan udang yang dipanen tidak mengalami kerusakan mutu. Tahapan panen parsial yaitu menyiapkan alat berupa jala, timbangan, sterofoam, blong panen, gerobak dorong, keranjang, meja sortir dan air bersih.

Selanjutnya mematikan kincir di sekitar lokasi penjalaan (hanya 1-2 kincir), menjala udang pada kolam dan memasukkan udang hasil jalaan ke dalam keranjang/basket dan dibawa menuju lokasi sortir untuk dilakukan pemilahan ukuran dan proses rantai dingin untuk mempertahankan kesegaran udang.

Panen Total

Panen total biasa dilakukan oleh petambak besar yang telah memiliki jaringan atau hubungan dengan pembeli yang siap menampung hasil panennya. Oleh sebab kebutuhan konsumen yang besar tersebut, jumlah yang dipanen pun harus dalam jumlah besar.

Dengan begitu, tidak ada cara lain selain melakukan pemanenan total. Udang yang ada di dalam kolam diambil seluruhnya, sehingga air yang ada di dalam kolam harus dikeluarkan seluruhnya. Panen total ini dilakukan pada malam hari untuk menghindari terik matahari yang dikhawatirkan akan mengurangi tingkat kesegaran udang yang dipanen.

Alat yang digunakan dapat berupa jaring listrik/selne net atau jaring kantong. Penggunaan salne net dalam proses pemanenan total membutuhkan tenaga kerja dan energi yang cukup besar karena harus membawa salne net berkeliling kolam untuk menangkap udang.

Panen juga dapat dilakukan dengan cara menggiring udang dengan jaring dan atau secara gravitasi bersamaan dengan pembuangan air ke pintu pengeluaran yang telah disiapkan perangkap berupa jaring kantong.

Pada tahap pertama petakan dikeringkan secara perlahan-lahan. Setelah mencapai kedalaman 20 cm, udang mulai ditangkap dengan menggunakan jala/jaring. Seiring dengan penjalaan, petakan terus dikeringkan sampai habis.

Pada kolam yang tidak memiliki pintu pengeluaran, pengurangan volume air menggunakan pompa, namun membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Penggunaan pintu panen pada panen total yang digunakan pada kolam konvensional relatif lebih menguntungkan karena pengurangan volume air lebih cepat serta udang yang dipanen dapat mengikuti arus air keluar kolam sehingga petani dapat memasang jaring panen cukup di pintu panen saja.

Tahapan panen total yang dilakukan yaitu menyiapkan peralatan panen antara lain selne net, pompa panen, keranjang, dan alat angkut, dll. Memasang pompa panen untuk mengurangi volume air dalam tambak, pengurangan volume air ini dilakukan dengan menggunakan pompa, central drain dan outlet jika kolam tidak dilengkapi dengan pintu panen.

Membuang air dalam kolam melalui pintu pengeluaran air (outlet) dan central drain sampai tersisa 40-50 cm. Mematikan kincir  apabila air dalam tambak tinggal tersisa 50 cm. Melakukan penangkapan udang dengan menggunakan jaring panen (selne net) dan mengurangi volume air dengan menggunakan pompa panen secara perlahan – lahan.

Memindahkan udang pada jaring panen ke dalam keranjang, menarik keranjang udang ke atas pematang dan membawa udang menuju lokasi sortir menggunakan gerobak dorong atau alat angkut lainnya.

Penanganan Pasca Panen

               Udang yang dipanen harus segera ditangani dengan cepat dan tepat agar kesegarannya dapat dipertahankan. Penurunan mutu udang akan berdampak pada penurunan harga jual udang. Mempertahankan mutu pada panen udang vaname dilakukan dengan menggunakan rantai dingin. Udang yang dipanen akan dijual sesuai dengan ukurannya (size). Setiap size yang berbeda memiliki harga yang berbeda pula sehingga setiap ukuran udang harus dipisahkan.

            Tindakan yang perlu dilakukan pada penanganan pasca  panen udang vaname yaitu mencuci udang di tempat penampungan udang untuk menghilangkan kotoran atau lumpur yang menempel pada tubuh udang.

Kotoran ini mengandung bakteri pembusuk yang akan mempercepat penurunan mutu/kesegaran. Udang yang telah dicuci akan disortir dan kelompokkan berdasarkan ukuran dan kualitasnya (kegiatan ini biasanya juga dilakukan oleh pembeli) serta disesuaikan dengan harga pasar.

Udang yang telah disortir terlebih dahulu disampling dan ditimbang untuk menentukan size udang dan harga jual udang. Penimbangan udang dilakukan dengan menggunakan timbangan digital yang digantung atau timbangan duduk.

Udang yang telah disortir dimasukkan ke dalam keranjang/basket yang mampu menampung udang antara 25 – 35 kg/keranjang. Penimbangan udang dapat dilakukan apabila udang yang telah disortir berjumah 10 – 15 keranjang.

Tujuannya agar udang tidak terlalu lama berada diudara bebas karena akan mengalami kemunduran mutu. Udang yang telah ditimbang selanjutnya dapat dilakukan pengepakan.  Pengepakan udang dapat menggunakan coolbox, sterofoam atau kontainer yang berisi es agar suhu dingin tetap stabil sehingga udang tidak cepat busuk dan rusak.

Transportasi udang hasil panen dimulai dengan menata udang dalam coolbox dengan susunan berlapis antara udang dan es secara berselang-seling dengan bagian dasar dan atasnya tertutup oleh lapisan es sehingga kualitas udang tetap terjaga.

Perbandingan udang dan es adalah 2 : 1. Setelah udang ditata dalam wadah, maka siap dikirim ke tempat pasar, pabrik, atau rumah makan dan hotel yang menjadi pelanggan atau dapat segera dibawa ke cold storage.

Potensi Udang Vaname Di Jabar

Udang merupakan komoditas unggulan di Indonesia khususnya Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang terus dimaksimalkan potensinya. Dulu, udang windu pernah menjadi primadona Jabar tahun 1980-an dengan angka produksi menembus 100 ton lebih per bulan, namun kini seiring berjalannya waktu, masyarakat pembudidaya Jabar beralih ke budidaya udang vaname yang dinilai memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari udang windu.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat Dodi Sudenda, menjelaskan produksi udang vanname tahun 2014 sebanyak 60.120,24 ton atau 106,16% dari target yang telah ditetapkan 56.634,00 ton, kemudian mengalami peningkatan 1,33% menjadi 60.920,49 ton atau 102,45% dari yang ditargetkan sebesar 59.465,70 ton pada tahun 2015.

Lanjut Dodi, pada tahun 2016 ditargetkan sebesar 62.438,99 ton, namun hanya tercapai 62.124,02 ton (99,50%). Walaupun demikian dari segi volume, produksi udang vaname tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 1,98% dari tahun sebelumnya.

“Target Produksi udang vaname Jawa Barat tahun 2018 sebesar 65.560,94 Ton,” ungkap Dodi.

Produsen udang vaname tahun 2016 didominasi oleh Kab. Indramayu sebanyak 48.722,21 ton atau 78,43% dari total produksi udang vanname Jawa Barat, kemudian disusul Kab. Subang 5.230,08 ton (8,52%), dan Kab. Cirebon 4.408,92 ton (7,10%).

Menurut Dodi, kendala yang sering muncul di awal pengembangan budidaya udang vaname adalah penurunan kualitas benur dan sumberdaya air, seperti: ketidakstabilan lingkungan dan penerapan sistem terbuka tanpa tandon dan treatment air.

Serta merebaknya penyakit, seperti: TSV (taura syndrome virus), WSSV (white spot syndrome virus) dan IHHNV (infectious hypodermal hematopoetic nicrosis virus) tahun 2003, dan IMNV (infectious myonecrosis virus) tahun 2005.  Kemudian mulai tahun 2009 sampai sekarang, beberapa tambak di kawasan pantai utara dan selatan ditemukan terjangkit penyakit TSV, IMNV dan IHHNV.

Oleh sebab itu, kata Dodi, untuk mengatasi kendala dalam pengembangan budidaya udang vaname dilakukan dengan dua cara yakni Pengembangan Unit Pembenihan Udang (Hatchery) Tanpa Antibiotik yang meliputi penerapan biosecurity, penggunaan induk unggul, SPR (Spesific Pathogen Resistant), penggunaan Immunostimulan sebagai suplemen pakan, dan pengolahan air baku dan pembenihan yang baik.

Kemudian kedua Pengembangan Unit Pembesaran Udang (Tambak) Berkelanjutan meliputi penerapan biosecurity, plesterisasi/plastikisasi tambak, menebar benur berkualitas dan SPR dengan Kepadatan 80 -100 ekor/m2, serta pengolahan air dengan Ikan Nila sebagai pengendali bahan organik dan penekan bakteri vibrio pada tambak plastik.

Seperti yang sudah diketahui, Dodi mengatakan, pemenuhan benur udang vaname di Jawa Barat diperoleh dari UPT Pusat, UPTD Provinsi, Swasta, maupun Petambak Oslahan. Seperti Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo, Balai Pengembangan Ikan Air Payau dan Laut Wilayah Selatan (BPIAPLWS) Pangandaran, PT. Surya Tani Pemuka (STP) Lampung, PT. Central Pangan Pertiwi (CPP) Eretan Indramayu dan Anyer, PT. Windu Sukses Indramayu dan Petambak Oslahan/Pengoslah.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

Manfaatkan Biofilter pada Tambak Sistem Resirkulasi

Satu sisi, teknologi dan metode budidaya udang mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Namun, di sisi lain, kualitas lingkungan sebagai faktor pendukung dalam keberhasilan budidaya mengalami kerusakan yang semakin parah.

Kerusakan lingkungan tak terlepas dari beragam faktor, misalnya pertambahan jumlah penduduk, perluasan kawasan industri, pertanian, peternakan, bahkan industri perikanan. Sebagai contoh, para petambak di kawasan pekalongan menghadapi menurunnya kualitas air tambak karena cemaran industri. Hal ini menjadi salah satu masalah utama para petambak dan budidaya udang vaname dan udang windu.

Menurunnya kualitas lingkungan yang tercemar ikut andil dalam memicu terjadinya serangan penyakit pada udang budidaya. Lingkungan yang buruk, terutama air tambak dapat memicu perkembangan bibit penyakit sehingga menyebabkan wabah bahkan kematian pada udang.

Pada udang windu, serangan penyakit biasanya terjadi setelah 1 hingga 2 bulan penebaran di tambak. Pasalnya, pada waktu tersebut, banyak bahan organik yang sudah tertimbun di dalam air tambak. Hal ini tentu saja menurunkan kualitas air sehingga dapat memicu terjadinya serangan penyakit.

Budidaya udang windu

Meskipun skala produksi tidak sefantastis udang vaname, budidaya udang windu masih diminati oleh sejumlah kalangan para petambak, terutama para petambak kecil. Hal ini tak terlepas dari masih tingginya permintaan pasar terhadap jenis udang ini. Faktor tertinggalnya industri udang windu dibanding udang putih vaname, karena sejumlah faktor. Salah satunya yaitu akibat wabah penyakit WSSV yang memukul telak industri udang windu nasional beberapa dasawarsa silam.

Selanjutnya, faktor lainnya terkait dengan kendala teknis. Seperti diketahui, udang windu, tidak seperti vaname, memiliki daya tahan yang relative rendah. Di samping itu, sulitnya rekayasa genetis pada udang windu membuat para ilmuwan mengalami kendala dalam menghasilkan benih unggul yang tahan terhadap serangan penyakit.

Faktor teknis lainnya yaitu akibat menurunnya kualitas dan daya dukung lingkungan. Kondisi ini sangat berpengaruh pada daya tahan udang windu. Kondisi lingkungan buruk yang tercemar memicu merebaknya bibit penyakit dan menurunkan daya tahan udang terhadap serangan penyakit. akibatnya bisa ditebak, tingkat kelulusan hidup udang menjadi sangat rendah yang sangat merugikan petambak.

Tambak biofilter sistem resirkulasi

Sistem resirkulasi merupakan satu jawaban untuk mengatasi dua persoalan. Pertama, sistem ini menjadi solusi untuk menyiasati buruknya kualitas lingkungan, terutama air tambak yang dipadukan dengan menerapkan teknologi biofilter. Teknologi ini diakui mampu memperbaiki tingkat kualitas air sehingga dapat digunakan untuk budidaya. Yang kedua, teknologi ini diharapkan mampu menekan laju pencemaran perairan umum, misalnya yang ada di sungai dan laut dari cemaran organik dari industri akuakultur. Pasalnya, air buangan dari tambak tidak serta merta dibuang ke badan air umum. Alih-alih, air buangan dialirkan kembali ke saluran masuk tambak dengan mengalami pengolahan terlebih dahulu.

Menurut Rahmat Fadil, peneliti dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sistem akuakultur resirkulasi telah lama diterapkan oleh sejumlah negara maju, seperti negara-negara Eropa dan Amerika. Merunut ke asalnya, sistem akuakultur resirkulasi ini pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat di tahun yang terbilang cukup lama, 1960. Muasalnya, sistem ini diterapkan karena adanya temuan air sungai yang tercemar bahan organik yang berasal dari industri akuakultur. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah setempat mulai menggunakan RAS untuk kegiatan akuakultur.

Sistem tambak biofilter resirkulasi sangat cocok diterapkan pada daerah-daerah yang memiliki keterbatasan sumberdaya air. Selain itu, sistem ini juga sangat tepat digunakan pada daerah yang kualitas sumber airnya rendah, misalnya karena adanya cemaran rumah tangga, industri, dan lain sebagainya.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

Budidaya Udang di Bak Beton

Pertumbuhan cepat, mudah di kontrol, dan penggunaan padat tebar tinggi, budidaya udang di bak beton bisa jadi solusi terbatasnya lahan budidaya.

 

Di era yang serba praktis saat ini, melakukan usaha budidaya udang tidak melulu dilakukan ditambak-tambak konvensional. Akibat permintaan pasar akan udang, seperti di Ambon misalnya, karena keterbatasan lahan BPBL Ambon berupaya melakukan uji coba budidaya udang vaname di bak beton bulat.

 

Koordinator Divisi Produksi benih, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Heru Salamet mengatakan, di pasaran permintaan udang di Ambon cukup tinggi karena dengan adanya kebijakan pelarangan trowl, jadi pasokan di alam kurang sehingga potensi budidaya cukup menjajikan.

 

“Awalnya bak bulat beton ini sebagai tempat pemeliharaan induk-induk ikan laut dan sekarang digunakan untuk budidaya udang vaname, bahkan kita sudah dua kali panen”, ujar Heru.

 

Bak beton yang digunakan sebagai tempat pemeliharaan udang vaname memiliki kapasitas 30 dan 300 ton. BPBL Ambon manfaatkan bak bekas induk ikan, dengan kedalaman 2,5 meter serta diameter 10 meter dengan padat tebarnya 500/ m2, masa pemeliharaan 85 hari, bisa mendapatkan size 80.

 

Mengenai kelebihan budidaya di bak beton bulat, kata Heru, lebih cepat pertumbuhan, mudah di kontrol, penggunaan padat tebar tinggi. Namun ada kekurangannya seperti kontrol oksigen dan air harus lebih banyak dan kualitas air terutama kandungan oksigen diatas 4 mg/l amoniak dibawah 0,02, nitrit dibawah 0,02.

 

Selain itu suplay pakan juga minimal 40% kandungan proteinnya, untuk di bak beton pengontrolan lebih detil dari hal pemberian pakannya juga airnya bisa kontrol langsung.

 

Pemberian pakan sehari 5-7 kali /hari, caranya lihat anco untuk mengecek jika kurang bisa diberi pakan lagi. Jadi setiap 2 jam diberi pakan atau tergantung kondisinya. Pakan yang ada di anco berkisar 1-2% dari total yang diberikan.

 

Heru menyarankan, dalam budidaya udang di bak beton yang penting selalu menjaga kualitas air, DO minimal 4, amoniak nitrit rendah, juga pakannya diperhatikan. Selama masa pemeliharaan di dapat survival rate (SR) 50-60 %, tapi masih bisa tingkatkan sampai 80 %.

 

Dari situ, tambah Heru, akan selalu ada perbaikan-perbaikan, seperti kualitas air dari oksigennya akan dinaikan lagi. Sebelumnya oksigen terlarut (DO) masih di 3-4 ppm, karena pada bak beton belum menggunakan kincir dan masih pakai aerasi serta blower untuk oksigen di dalam airnya, untuk penebaran berikutnya direncanakan akan menggunakan kincir.

 

Saat ini sudah ada perbaikan bisa ditingkatkan berkisar DO di 4-5 ppm, karena udang semakin banyak kebutuhan oksigen semakin besar. Untuk menjaga kadar oksigen, kata Heru, akan dilakukan panen parsial atau sebagian, kadang juga seluruhnya. Seperti jika panen parsial di size 100, panen yang kedua size 80.

 

“Karena terlalu padat mengganggu pertumbuhan udang lainnya sehingga kita panen parsial”, pungkas Heru. (Resti)

Uji Multilokasi Udang Vaname Nusantara G-4

VN G-4 jadi alternatif pengganti untuk budidaya udang vanname F1

Komoditas perikanan budidaya terutama jenis udang masih merupakan komoditas unggulan dalam program ekspor perikanan Indonesia. Di wilayah tropis seperti di Indonesia, udang vaname diproduksi secara massal dengan penerapan teknologi skala sederhana hingga super intensif dengan beberapa karakter yang spesifik bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya.

Untuk mendukung usaha budidaya vaname yang berkelanjutan tidak terlepas dari faktor penyediaan benih yang berkualitas (unggul). Benih udang merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya di tambak, karena benih juga merupakan komponen sarana produksi yang harus memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan untuk menjamin keberhasilan mutu produk dan keamanan pangan serta ramah lingkungan.

Susetyo Pramujo mengatakan, benih unggul hanya dapat diproduksi dari induk yang secara genetik unggul disamping pengaruh kualitas air dan pakan juga memegang peranan yang penting dalam pemeliharaannya. Pemuliaan yang telah dilakukan adalah Cross Breeding (kawin silang) dan Selective Breeding (seleksi).

Pemuliaan yang dilakukan BPBAP Situbondo ini, kata Susetyo, agar nilai pengembangbiakan (breeding value) dari suatu populasi dapat meningkat melalui kawin silang dan seleksi, serta menghasilkan udang yang lebih baik (udang yang tumbuh lebih besar, lebih berat,  lebih tahan penyakit, dan sebagainya).

Program pemuliaan  udang vaname nusantara (VN) melalui seleksi famili telah diperoleh induk – induk udang VN generasi keempat (G-4). Induk VN G-4 selanjutnya dikawin silangkan kembali dimana benih hasil persilangan tersebut akan disebarkan ke beberapa lokasi untuk dilakukan ujicoba di masyarakat.

Uji multilokasi performa benih udang VN G-4 dilakukan di tambak tradisional plus, semi intensif dan intensif. Udang vaname dibudidayakan di Sidoarjo dengan sistim tradisional plus dengan  kepadatan 10 ekor/m2, di Situbondo dengan sistim semi intensif dengan kepadatan 50 ekor/m2 dan di IBAP Lamongan dan di Probolinggo dan Bangil dengan sistim  intensif dengan kepadatan 100 ekor/m2.

“Tujuan uji multilokasi di beberapa lokasi adalah untuk mengetahui pertumbuhan udang vaname nusantara hasil pemuliaan dengan seleksi famili pada generasi keempat di tambak tradisional plus, semi intensif dan intensif”, tambah Susetyo.

Tujuan akhir adalah agar induk udang yang terpilih dapat menurunkan sifat keunggulannya pada turunannya. Apabila hal ini terjadi, ungkap Susetyo, maka generasi berikutnya akan memiliki nilai lebih karena  udang dapat tumbuh lebih cepat sehingga dapat meningkatkan hasil produksi, dan pertumbuhan udang akan lebih efisien.

 

 

Hasil uji multilokasi

Siti Subaidah menjelaskan, udang dipelihara sesuai SOP yang berlaku, monitoring dilakukan 3 kali selama masa pemeliharaan yang meliputi: kualitas air (pH, alkalinitas, Oksigen, Amonia, Nitrit), jenis plankton, penyakit (bakteri dan virus).

Dari hasil pengamatan bobot udang VN G-4 yang dibudidayakan secara tradisional sampai umur 90 hari bisa mencapai berat 12 gram atau size-nya sekitar 83 gram. Sementara untuk yang dibudidayakan pada tambak semi intensif sampai pemeliharaan di dua lokasi di kab. Situbondo dan Kab. Lamongan sampai umur 70 hari bisa mencapai bobot 8,0-8,3 gram atau size sekitar  120- 125 gram.

Sedangkan untuk benur  yang dibudidayakan pada tambak intensif di Prolinggo dan Bangil udang VN G-4  sampai umur 90 hari masa pemeliharaan didapatkan bobot  9,10 gram – 9,40 gram atau size-nya sekitar 108 gram.

“Dari hasil didapat, dengan demikian kiranya udang VN-G4 bisa sebagai alternatif pengganti udang vanname F1”, ujar Siti.

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur

 

Bogor Jadi Kiblat Minapolitan

Bogor jadikan Minapolitan sebagi sarana mensejahterahkan masyarakat

Kota yang dikenal dengan Kota Hujan ini sukses menjadi juara nasional Minapolitan pada tahun 2015. Tidak hanya itu, kini Bogor menjadi salah satu kota penghasil komoditi budidaya air tawar terbesar di Indonesia. Lantas apa kunci Bogor bisa menjadi yang terdepan dalam urusan penghasil komoditi perikanan budidaya?

Menurut Kepala Bidang Produksi Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor Deden Sukmaaji, hal paling dasar yang dimiliki Bogor dan Jawa Barat adalah anugerah dari Allah SWT diberikan tanah dan air yang baik.

Selain itu, tambah Deden, yang menyebabkan berhasilnya Bogor menjadi juara nasional Minapolitan yang pertama adalah letak geografis, karena Bogor sangat berdekatan dengan Jakarta yang menjadi pusat ekonomi dan pasar se-Indonesia sebagai lokomotif usaha.

“Dari situ sehingga pasar sangat terbuka, ketika pasar terbuka satu digit maka budidaya akan meningkat tiga digit, permintaan komoditi akan meningkat,” jelasnya.

Kemudian yang menjadikan Bogor begitu solid adalah peran pemimpin daerah yang komitmen. Bupati sangat menginginkan Kabupaten Bogor tetap dijadikan sebagai sentra agribisnis. Walaupun kota penyanggah Jakarta, seperti halnya Tangerang dan Bekasi yang lebih menjadi kota industri, Bogor tetap berkomitmen menjadi sentra agribisnis.

Komitmen tersebut terlihat dari dikeluarkannya peraturan Bupati tentang revitalisasi pertanian. Di dalam revitalisasi pertanian itu, di dalamnya juga membahas mengenai perikanan.

Selain itu, di dalam peraturan Bupati tersebut mencakup ketahanan pangan, kelembagaan pertanian secara umum, kemudian komoditas unggulan. Kebijakan inilah yang membuat pertanian lingkup pertanian menjadi lebih maju karena dibagi zona-zona.

Misal dari 40 kecamatan itu dibagi menjadi 8 zona, seperti zona 1 terdiri dari 5 kecamatan itu komoditas ikan nila, yang harus dibangkitkan mulai dari nila, gurame, kemudian ada satu lagi one village one product.

“Satu kecamatan harus memiliki komoditas unggulan, dari situlah ketahuan bahwa di kecamatan A potensi ikan lele lebih banyak dari yang lain,” ujar Deden.

Dari kebijakan tersebut dapat terlihat potensi di setiap kecamatan. Deden menjelaskan, seperti halnya di Kecamatan Ciseeng yang memiliki potensi ikan lelenya luar biasa, berdasarkan potensi yang ada, kemudian dilihat dari masyarakatnya ternyata di sana usaha perikanan sudah menjadi usaha pokok masyarakatnya.

Dari situ, kata Deden, dilihatlah usaha pokok yang terbesar ternyata di 4 kecamatan tersebut yang masyarakatnya menjadikan perikanannya sebagai usaha pokok, disitulah penentuan kawasan Minapolitan.

Sehingga Minapolitan di Kabupaten Bogor dari mulai payung hukumnya, potensinya, pasarnya, komoditasnya, dan masyarakatnya jelas yang menjadikan perikanan sebagai usaha pokok.

“Sehingga pemerintah hanya memberikan motivasi dan fasilitasi kepada masyarakat supaya usahanya lebih maju, bagi kami ketika komitmen program Minapolitan ini pimpinan daerahnya sudah ada, program dari pemerintah pusat untuk minapolitan ada, masyarakatnya mendukung, jadi saling bersinergi,” terangnya.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Optimalkan Hasil, Terapkan SOP Pembesaran

Kunci sukses pembesaran bawal bintang dari BPBL Batam

Menurut Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam drh. Toha Tusihadi, prospek budidaya bawal bintang, baik itu kegiatan pembenihan maupun pembesarannya, ke depan relatif sangat besar. Hal ini selain didukung oleh penguasaan teknologinya juga didukung oleh pangsa pasar yang sangat besar, benih maupun ikan ukuran kosumsi.

Sebagai patokan saja, tambah Toha, kebutuhan benih siap tebar di keramba jaring apung (KJA) ukuran 4-5 cm saat ini mampu mencapai 10.000 ekor perbulan, serta kebutuhan ikan bawal bintang ukuran konsumsi untuk wilayah Batam dan sekitarnya mampu mencapai 2-3 ton perbulan, dan sering kali masih terjadi kekurangan stok bawal bintang ukuran konsumsi.

Angka ini tergolong relatif besar menurut ukuran kosumsi ikan laut, hal ini dikarenakan selain harga bawal bintang yang relatif terjangkau serta semakin banyak peminatnya. Hal ini didukung dengan semakin banyaknya pembudidaya di wilayah Batam dan sekitarnya yang membudidayakan bawal bintang.

Toha mengatakan,  bawal bintang dapat dijadikan sebagai salah satu komoditas unggulan untuk budidaya ikan laut di Indonesia dan diharapkan semakin banyak pembudidaya yang turut serta mengembangkan ikan bawal bintang.

“Saat ini saja, harga bawal bintang ukuran konsumsi mencapai Rp. 70.000/kg, sedangkan harga benih mencapai Rp. 700/ inch. Harga ini berdasarkan PP No.75 tahun 2015,” ungkap Toha.

Pemasaran bawal bintang ukuran kosumsi sementara ini hanya sebatas wilayah Batam saja, dikarenakan keterbatasan stok bawal bintang yang masih kurang bisa memenuhi kebutuhan di wilayah Batam. “Namun, untuk bawal bintang ukuran benih wilayah pemasarannya sudah mencapai hampir seluruh wilayah Indonesia dari Aceh hingga ke Ambon,” tambahnya.

Taat pada SOP

Untuk memudahkan kegiatan pembesaran ikan di KJA perlu adanya suatu petunjuk baku tentang pengoperasian proses kerja yang akan dilakukan oleh satu atau beberapa orang dalam satu unit kerja.

Adapun tujuan dari petunjuk baku ini, ungkap Pejabat Pengawas Muda  Saipul Bahri S.St.Pi, adalah untuk memastikan suatu proses kegiatan berjalan secara terkendali dan sistem pengendaliannya berjalan secara konsisten.

Kegiatan pembesaran bawal bintang di KJA BPBL Batam mengacu pada Standar Prosedur Operasional (SOP) yang sudah dibuat dan didiskusikan bersama. Berikut adalah SOP yang perlu diperhatikan dalam persiapan pembesaran.

Selanjutnya Baca Majalah Info Akuakultur

5 Kiat Tingkatkan SR dan Persingkat Waktu Budidaya Kakap Putih

Sebagai komoditas marikultur yang sedang naik daun, kakap putih (Lates calcalifer Bloch) digalakkan budidayanya di berbagai tempat. Bukan tanpa aral, budidaya di laut dengan KJA pun terimbas kualitas air laut (carrying capacity) yang mulai turun. Bagaimana menyikapinya?
Kondisi sebagian besar perairan laut saat ini sudah mengalami degradasi lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan kegiatan rumah tangga dan industri yang limbahnya mengarah ke perairan laut. Demikian ungkap Sahidan Muhlis, S.Pi. MP, Koordinator Keramba Jaring Apung Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam Jembatan III Pulau Setoko- Batam, Provinsi Kepulauan Riau
“Sementara permintaan ikan kakap putih ukuran konsumi, 500—700 g, di Kepulauan Riau—khususnya di Pulau Batam—saat ini mengalami kenaikan yang pesat. Kondisi tersebut memberikan peluang yang besar kepada pembudidaya untuk memenuhi kebutuhan pasar ikan kakap putih melalui usaha pembesaran ikan kakap putih di keramba jaring apung,” ujarnya.
Menimbang fakta tersebut, BPBL Batam melakukan kegiatan uji perbaikan teknologi pembesaran ikan kakap putih di KJA. Hasilnya?
“Jika dibandingkan, pada pemeliharaan di KJA sebelumnya, angka kelulusan hidup jarang mencapai angka 50% dan waktu panen yang dibutuhkan biasanya berkisar 7—8 bulan. Dengan perbaikan teknologi ini, tingkat kelulusan hidup mencapai 80% dan waktu pemeliharaan bisa dipersingkat menjadi 6 bulan. Terdapat efisiensi dalam produksi pembesaran ikan kakap putih di KJA. Dengan begitu, peningkatan produksi tersebut juga akan berdampak terhadap penghasilan pembudidaya,” ungkap Sahidan.
Ada 5 perlakuan yang diberikan sepanjang kegiatan uji perbaikan teknologi pembesaran ini, yaitu: ukuran benih saat tebar, vaksinasi sebelum penebaran, padat tebar, penambahan suplemen dalam pakan, serta pencegahan penyakit.
Perhatikan ukuran benih saat tebar
Sebelum penebaran benih, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Idealnya, benih berasal dari panti benih (hatchery). Ukuran benih tebar sebaiknya lebih dari 10 cm atau berbobot 15—20 g. Beberapa keunggulan benih dari panti benih yaitu berukuran seragam dan kualitas serta kuantitasnya terjaga. Sementara benih hasil tangkapan alam mempunyai banyak kelemahan, di antaranya: ukuran sering tidak seragam, jumlah dan waktunya tidak dapat ditentukan, dan sering terdapat luka akibat penangkapan atau transportasi.
Aplikasikan vaksin sebelum penebaran
Biasanya, bakteri yang sering menyerang ikan kakap putih adalah bakteri streptococcus dan bakteri vibrio. Oleh sebab itu, vaksinasi mutlak dilakukan terhadap benih ikan kakap putih untuk mencegah serangan bakteri patogen tersebut. Aplikasi vaksin dapat diberikan dengan cara penyuntikan terhadap benih ikan kakap putih yang sudah berukuran lebih dari 10 cm.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Optimalkan Budidaya Kakap Putih

 

Melirik potensi kakap putih yang semakin meroket sebagai komoditas unggulan perikanan budidaya Indonesia

Meski namanya tidak sebesar saudaranya, kakap merah, kini kakap putih terus didorong sebagai komoditas unggulan di sektor perikanan di Indonesia. Saat ini, selain sudah banyak diminati pasar dalam negeri ikan yang bernama latin Lates calcalifer ini memiliki pasar ekspor yang cukup baik terutama di pasar Australia, Amerika Serikat, Eropa, bahkan negara-negara Timur Tengah.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP juga terus mengembangkan dan meningkatkan budidaya laut kakap putih untuk memanfaatkan potensi yang masih cukup luas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Ini juga selaras dengan program pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Koordinator Pembenihan atau Pengawas Muda Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon Suharno, M.Si mengatakan, saat ini prospek budidaya kakap putih sudah semakin baik berbeda pada awal pengembangan budidaya kakap putih tahun 2015, hasil produksi tidak laku terjual karena masyarakat Ambon belum familiar tentang ikan kakap putih.

Lanjut Suharno, namun akhirnya melalui Kegiatan Demfarm 2015 di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan dikerjasamakan kepada pembudidaya di Teluk Ambon, karena ikan ini salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya.

Untuk saat ini  tahun 2016, kata Suharno, komoditas kakap putih sudah cukup dikenal oleh pembudidaya di Teluk Ambon adanya program bantuan benih dari balai perikanan budidaya sekitar 60.000 benih kakap dan total bantuan benih ikan konsumsi  di wilayah kerja balai meliputi Maluku Utara, Maluku Tenggara, Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah 165.000 ekor.

Senada dengan Suharno, Perekayasa Madya Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung Yuwana Puja, S.Pi, mengatakan prospek budidaya kakap putih saat ini sangat baik dan harga jual di Lampung (kondisi ikan hidup) sendiri cukup stabil sekitar Rp. 60.000,-/kg dengan ukuran 500 gr/ekor dengan masa pemeliharaan 5-6 bulan (dua kali dalam setahun).

Kakap putih akan menjadi komoditas unggulan perikanan budidaya laut (marikultur), usaha pengembangannya saat ini dilakukan melalui pelaksanaan demonstration farm (demfarm) budidaya kakap putih di karamba jaring apung (KJA). Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan melakukan diversifikasi komoditas budidaya laut dan mengembangkan teknologi budidaya untuk kakap putih.

Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) sendiri menargetkan produksi kakap termasuk di dalamnya kakap putih untuk tahun 2015 sebesar 312.500 ton. Target pertumbuhannya dalam kurun waktu lima tahun ke depan adalah 17,31% per tahun atau 589.800 ton pada 2019.

Teknologi pembenihan dan pembesaran kakap putih sudah dikuasai dan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) di seluruh Indonesia dan  akan disebarluaskan ke masyarakat sehingga usaha budidaya kakap putih dapat dilakukan secara efisien dan menguntungkan.

Pengembangan budidaya laut dengan komoditas kakap putih ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan. Penghasilan nelayan melalui hasil tangkapan ikan sangat tergantung dari musim, melalui budidaya ikan kakap putih ini, nelayan akan tetap mendapatkan penghasilan meskipun tidak melaut.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Mina Padi Kolam Dalam Ala Sleman

 

Beberapa waktu lalu, banyak pengguna media sosial seperti facebook atau whatsapp dibuat takjub dengan beredarnya foto-foto ikan nila yang sedang bergerombol di pinggir sawah. Dengan latar belakang hamparan padi yang hijau dan air sawah yang bening, penampakan ikan menjadi sangat memesona. Beberapa netizen pun mengira pemandangan itu bukan di Indonesia.

 

Ada netizen yang mengatakan bahwa pemandangan tersebut diambil di daerah Sleman, Yogyakarta. Faktanya, di daerah Sleman memang telah berkembang pertanian sawah dengan konsep mina padi, di mana dalam satu petak sawah dibudidayakan dua macam komoditas, yaitu ikan dan padi.

Bukan tanpa alasan, pengembangan konsep mina padi ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian, mengurangi, serangan hama dan penyakit tanaman padi, serta meningkatkan pendapatan petani.

Menurut Ir. Suparmono, MM dari Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, mina padi kolam dalam di Sleman merupakan kegiatan  tanam  padi  sekaligus kolam  ikan  yang dilakukan  bersamaan  dengan perbandingan  bagian  untuk  kolam  maksimal  20% dari  lahan,  dengan  kedalaman  kolam  minimal  80 cm.

Pertimbangan pemilihan lokasi yaitu memiliki sumber air yang cukup selama pemeliharaan serta bebas dari cemaran patogen, bahan organik, dan kimia. Di samping itu, perlu untuk memperhatikan apakah lokasi bebas banjir dan dekat dengan pemukiman dengan akses jalan yang baik untuk memudahkan pengawasan maupun distribusi benih, pakan, atau pun panen. Adapun jenis tanah hendaknya berlumpur dan berpasir sehingga tanah tidah porous, dengan perbandingan tanah dan pasir 60% : 40%.

Persiapan lahan

Sebelum  pengolahan  lahan,  langkah awal adalah membuat konstruksi kolam dalam dan perbaikan tanggul. Lebar pematang dibuat 75 cm, sementara kedalaman kolam 80 cm diukur dari pelataran padi. Pelataran padi dibuat agak miring sehingga selisih daerah tertinggi dengan terendahnya 20 cm. Lebar dasar kolam dibuat 75 cm.

 

Selanjutnya, tanah diolah dengan membajak tanah saat mulai jenuh air sedalam  20 cm  atau  lebih dan tidak  perlu  menunggu tergenang. Setelah  pembajakan  pertama, lahan  dibiarkan tergenang  selama  5—7  hari. Selanjutnya, dilakukan pembajakan  kedua  diikuti penggaruan/perataan.

Untuk menekan laju pertumbuhan gulma yang menganggu pertumbuhan tanaman padi, gulma dan sisa-sisa tanaman perlu dibersihkan. Setelah itu ikuti dengan pembuatan caren dan pemasangan mulsa di pematang.

Setelah konstruksi sawah mina padi selesai, langkah berikutnya melakukan pemupukan dan pengairan sawah. Pupuk kandang/kotoran ayam diberikan sebanyak 5 ton/ha sebagai pupuk dasar yang sangat baik untuk menumbuhkan pakan alami. Di samping itu, berikan kapur dolomite sebanyak 3 sak per 500 m persegi. Jika menggunakan pupuk buatan, urea, TSP, dan KCI diberikan masing-masing sebanyak 1/3 bagian sebagai pupuk dasar dengan cara ditebar saat tanam sekali pemupukan. Takaran pupuk yang diberikan sebaiknya berdasarkan rekomendasi pupuk setempat.

Benih padi yang digunakan berupa varietas unggul yang memenuhi syarat, di antaranya • berdaya hasil tinggi, tahan genangan, tahan rebah, rasa nasi sesuai keinginan petani dan permintaan pasar, serta tahan terhadap hama penyakit utama dan mampu beradaptasi di lokasi setempat. Adapun varietas yang pernah dipakai di Sleman adalah IR 64 (produktivitas 8,82—11,04 ton/ha GKP), Ciherang (9,7—11,20 ton GKP), Mandala (12,01—12,50 ton GKP), Ketan Merah (8,8 ton GKP), Cempo Merah (9,2 ton GKP), serta Makongga (6,8 ton GKG). Adapun persemaian menggunakan 5—6% dari luas yang akan ditanami.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Domestifikasi Ikan Gabus Haruan Asli Kalimantan

 

Si Kepala Ular yang punya nilai ekonomis tinggi

Tingginya permintaan ikan gabus dari penangkapan perairan umum mengakibatkan populasi ikan gabus semakin menurun. Menurunnya populasi ikan gabus juga disebabkan rusaknya habitat perkembangbiakan, rusaknya lingkungan karena pertambangan, penebangan hutan, dan limbah  industri.

Hal ini mendorong dilakukannya usaha budidaya ikan gabus melalui proses domestikasi yaitu proses adaptasi pada lingkungan budidaya dari generasi ke generasi, hal ini merupakan salah satu langkah ke arah pengembangbiakan yang meliputi aspek eksplorasi, koleksi, dokumentasi, karakterisasi, dan penguasaan teknologi pembenihan secara alami maupun buatan serta pembesarannya.

Perekayasa Pertama Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kalimantan Selatan, Tulus, S. St. Pi, mengatakan, sejak tahun 2011 BPBAT Mandiangin telah berhasil melakukan proses domestikasi ikan gabus sebagai upaya meningkatkan jumlah sumber daya hayati perikanan asli Indonesia dan pelestarian plasma nutfah.

Ikan gabus berasal dari penangkapan di alam berupa benih dan dibesarkan selama ±1 tahun hingga mencapai induk dan disebut sebagai Induk Generasi 0 (G0). Untuk menghasilkan induk ikan gabus hasil domestikasi sampai Generasi ke-3 (G3) membutuhkan waktu ± 3 tahun.

Menurut Tulus, selama ini ikan-ikan lokal seperti ikan gabus Haruan dikenal sebagai ikan predator yang bersifat karnivor yaitu suka memangsa ikan yang lain sehingga banyak orang yang tidak berminat memelihara karena sulitnya memberi makan ikan ini.

Karena hal tersebut, tambahnya, akhirnya penangkapan ikan gabus Haruan di alam menjadi kegiatan yang marak dilakukan masyarakat selama bertahun-tahun untuk memperoleh ikan gabus sebagai ikan konsumsi tanpa memikirkan kondisi di alam yang semakin menurun populasinya.

Keunggulan ikan gabus Haruan, Tulus menjelaskan, yang telah dihasilkan adalah telah adaptif terhadap pakan buatan (pakan apung) sehingga tidak tergantung pada pakan segar (rucah atau ikan segar), tahan terhadap pH dan oksigen rendah karena memang dari benih dibesarkan dilingkungan lahan gambut yang identik dengan pH rendah.

Adaptasi terhadap pakan buatan dalam hal ini pelet apung dapat berhasil dengan baik apabila dilakukan pada ikan gabus mulai dari ukuran larva. Cara makan ikan gabus yang menyambar mangsanya membuat ikan gabus hanya tertarik dengan pakan yang berada di permukaan air.

“Oleh karena itu, pelet apung lebih disukai ikan gabus dibanding pelet yang tenggelam serta dari hasil adaptasi pakan buatan yang telah dilakukan diketahui ikan gabus lebih responsif terhadap pelet apung ketimbang pelet tenggelam,” jelas Tulus.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur