Teknik Budidaya Udang Galah Dengan Padi

 

 

Serupa namun tak sama dengan teknik minapadi, budidaya udang galah bisa bersama dengan padi

 

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang menggalakkan program Ugadi, dengan mengoptimalkan fungsi lahan sawah irigas. Lahan sawah semakin tergerus akibat alih fungsi, seperti kegiatan pembangunan perumahan dan sarana publik.

 

Ugadi merupakan upaya optimasi pemanfaatan lahan serta meningkatkan pendapatan dari hasil panen padi dan juga udang galah. Budidaya udang galah yang terintegrasi bersama padi di lahan persawahan juga sebagai bentuk pemanfaatan secara nyata dari keterbatasan lahan, serta meningkatkan produksi perikanan.

 

Teknik budidaya ugadi tidak jauh berbeda dengan minapadi, beberapa aspek teknis yang perlu diperhatikan antara lain konstruksi lahan, pengelolaan air, penebaran benih dan pemberian pakan.

 

Persiapan yang dilakukan pertama kali yaitu pengolahan lahan untuk penanaman padi serta pembuatan saluran keliling (kemalir), peninggian pematang dan pembuatan kobakan, dengan ukuran seperti (i) Tinggi pematang 100 cm, lebar dasar 100 cm, lebar atas 75 cm. (ii) Lebar saluran keliling 100 – 200 cm dengan kedalaman 50 cm. (iii) Ukuran kobakan 100x100x20 cm, dilengkapi pembuangan air piva PVC diameter 4 inchi.

 

Pengelolaan kualitas air dalam pelaksanaan ugadi, air di sawah harus terus mengalir, melakukan pemupukan ulangan bila densitas plankton kurang optimal yang ditandai semakin cerahnya air dan memonitor kualitas air seperti suhu, pH, dan oksigen terlarut (DO).

 

Penebaran benih dilakukan 10 hari setelah tanam padi. Benih berkualitas ditandai dengan ukurannya yang seragam dan gerakannya lincah. Benih ditebar setelah melalui proses adaptasi atau aklimatisasi untuk menghindari stres pada udang. Benih udang galah sebaiknya ditebar berukuran tokolan ukuran bobot 6 – 9 gram/ekor supaya lebih tahan dibanding juvenile. Padat penebaran di sawah adalah 5 – 10 ekor/m2 untuk bobot udang 6 – 8 gram/ekor.

 

Selama pemeliharaan, udang galah diberi makanan tambahan berbetuk pelet dengan protein 30% serta dosisya 4 – 2 % biomassa/hari, frekuensinya yaitu 2 kali/hari, yakni pada sore hari serta malam hari dikarenakan pada saat itu udang lebih aktif.

 

 

Udang galah Siratu dibudidayakan dengan padi

Udang galah strain baru yang di release pada tahun 2015 lalu diberi nama udang galah Siratu. Baik secara fisiologi maupun morfologi, Siratu dengan strain lainya tidaklah berbeda. Tubuh terdiri dari kepala, abdomen dan ekor dengan kaki jalan kedua membesar sebagai alat pencapit. Memiliki duri rostrum 11-14 atau 8-14 yang menjadi penciri spesies Macrobrachium rosenbergii dan warna kuning kehijauan atau biru kehijauan.

 

Larva hidup dengan baik pada salinitas 10-15 ppt dan besar di air tawar. Bersifat omnivora dan makan lebih banyak pada malam hari. “Yang membedakan hanyalah pertumbuhannya yang lebih cepat dan keseragaman lebih tinggi. Hal ini pertanda udang galah Siratu tumbuh baik karena sering berganti kulit, sehingga warna udang akan cerah dan bersih dari organisme penempel seperti lumut dan parasit,” ungkap Perekayasa Madya, Instalasi Pembenihan Udang Galah Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (IPUG BBPBAT) Sukabumi, Dasu Rohmana, S.Pi.,M.Si

Dasu menambahkan, peluang pengembangan Siratu masih sangat besar, karena udang galah sangat diminati oleh masyarakat kita dan merupakan luxury food sehingga pasar sangat terbuka dan apabila ketersediaannya banyak tidak menutup kemunginan akan tercipta pasar ekspor.

 

Banyak pulau di wilayah  Indonesia yang memiliki lahan luas dan air cukup melimpah seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, sehingga prosfektif sekali untuk dikembangkan budidaya udang galah ini di samping perairan-perairan umum seperti danau, waduk dan sungai-sungai besar dalam bentuk CBF (culture based fisheries).

 

Dasu menambahkan kembali, penebaran benih udang galah di lahan padi pada sistem budidaya ugadi dilakukan pada saat umur padi sekitar 15 hari dimana perakaran padi sudah tahan digenangi air. Umur padi sejak tanam sampai panen biasanya berkisar 110-120 hari. Panen udang dilakukan sekitar lima hari sebelum panen padi, sehingga masa tanam udang pada budidaya sistem ugadi hanya berkisar 90-100 hari.

 

“Untuk mendapatkan ukuran udang konsumsi (size 30 ekor/kg) selama masa pemeliharaan 90-100 hari harus ditebar benih udang yang berukuran >5 gram. Biasanya diistilahkan dengan tokolan 2 atau benih hasil pendederan dari juvenil selama 60-75 hari,” pungkasnya.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Kembangkan si Daging Putih

Permintaan ekspor tinggi, ikan patin Pasupati terus dikembangkan

 

Siapa yang tidak kenal dengan Patin Super Harapan Pertiwi atau Pasupati, kini masyarakat telah banyak yang membudidayakan karena diuntungkan dengan kualitas daging berwarna putih, pertumbuhannya relatif cepat dan dapat diproduksi sepanjang tahun.

 

Pasupati adalah ikan patin hibrida unggul hasil persilangan antara induk betina Patin Siam dengan induk jantan Patin Jambal. Ikan ini secara resmi telah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.25/MEN/2006 tentang Pelepasan Varietas Ikan Patin Pasupati Sebagai Varietas Benih Unggul pada tanggal 7 Agustus 2006.

 

Sesuai dengan permintaan ekspor, Pasupati memiliki daging halus dan rasa yang lezat menyerupai Patin Jambal atau patin Sungai. Didukung dengan benih yang dapat diproduksi secara massal, karena telur yang digunakan pada pembentukan patin Pasupati adalah telur Patin Siam yang memiliki fekunditas banyak dan dapat bereproduksi sepanjang tahun.

 

Peneliti, Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Jadmiko Darmawan W.P., S.Pi, mengatakan penyebaran Patin Pasupati dapat berupa benih patin pasupati atau disebut benih sebar, ataupun induk pembentuknya yang berupa Patin Siam dan Patin Jambal

 

Lanjut Jadmiko, benih sebar BPPI Sukamandi telah didistribusikan ke Jawa Barat (Subang, Karawang, Bekasi, Bandung Barat, Purwakarta), Jawa Tengah (Tegal, Brebes, Pekalongan dan Batang ), Jawa Timur (Tulung Agung), dan Palembang (Kota Palembang, Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir).

 

Tabel 1. Harga Benih Patin Pasupati

Benih Harga (Rp)
Larva (0 hari) 7
1 Inchi 100
2 Inchi 175
3 Inchi 300
4 – 5 Inchi 500

Sumber: BPPI Sukamandi

 

Adapun Induk pembentuk, BPPI Sukamandi juga telah didistribusikan ke Jawa Barat (Subang), Jawa Timur (Tulung Agung dan Mojokerto), Palembang (Kota Palembang dan Ogan Ilir) dan Lampung (Lampung Timur, Metro dan Tanggamus).

 

Tabel 2. Harga Induk Pembentuk

Induk Harga (Rp)
Calon induk Patin Siam 30.000/Kg
Calon induk Patin Jambal 50.000/Kg
Induk Patin Siam siap pijah 250.000/ekor
Induk Patin Jambal siap pijah 300.000/ekor

Sumber: BPPI Sukamandi

 

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur

Merawat Srikandi di Air Payau

Menjadi andalan dalam sektor budidaya perikanan air tawar, ikan nila populer sebagai ikan konsumsi dalam negeri, bahkan menjadi komoditas ekspor bernilai ekonomi tinggi.

 

Ikan nila sejatinya jenis ikan yang hidup di air tawar. Menurut asal usulnya, jenis ikan ini berasal dari sungai Nil, Afrika. Namun, berkat rekayasa Teknologi yang dilakukan oleh para peneliti dari BPPT, nila mampu beradaptasi dengan baik dalam lingkungan air berkadar garam tinggi.

Namanya nila srikandi, nila yang sanggung bertahan dalam air yang tingkat salinitasnya tinggi. Ini menjadi kabar gembira bagi para petambak. Pasalnya, di berbagai daerah, banyak tambak yang dalam kondisi terlantar akibat terpuruknya budidaya udang windu beberapa dasawarsa silam,” ujar Ibnu Sahidir, Peneliti Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Ujung Batee, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Tak banyak yang tahu, saat ini produksi ikan nila Indonesia sudah menduduki urutan ke – 3 terbesar di dunia, setelah China dan Mesir. Ikan nila menjadi andalan komoditas ekspor, terutama ke Amerika Serikat. Disamping itu, beberapa negara lain yang menjadi pangsa pasar nila adalah Kanada, Jepang, Singapura, Hongkong, dan Eropa.

Ikan nila dijual dalam bentuk fillet atau daging tanpa tulang beku maupun segar beku. Peluang pasar nila diperkirakan akan terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 30-40% setiap tahunnya. Sayangnya, pasokan masih belum bisa memenihi permintaan pasar ekspor.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

BBPBL Lampung: Kembangkan Potensi Perikanan dengan Teknologi Keramba Modern

Foto 5Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung tahu betul bagaimana mengembangkan potensi perikanan Indonesia. Selain dengan memanfaatkan SDM yang terampil dan berkualitas, BBPBL juga memanfaatkan teknologi keramba modern sebagai sarana utama dalam budidaya.

Untuk menunjang pelaksanaan program pengembangan budidaya laut di Indonesia berdasarkan KEPPRES RI No. 23 Tahun 1982 dan SK. Menteri Pertanian Nomor 437/Kpts/Um/7/1982, pada tahun 1982 Direktorat Jenderal Perikanan telah merintis pembentukan Balai Budidaya Laut (BBL) Lampung.

Lembaga ini sejak Februari 2014 menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) berkat berbagai prestasinya di bidang pengembangan teknologi perikanan budidaya laut di Indonesia. Bisa dibilang, bila kita mendiskusikan tentang teknologi budidaya laut, tak akan lengkap jika tidak melibatkan BBPBL Lampung.

BBPBL Lampung membudidayakan berbagai jenis komoditas, di mana komoditas ini merupakan unggulan yang menjadi senjata ekspor Indonesia selain udang. Komoditas tersebut diantaranya Kerapu Bebek, Kerapu Macan, Kerapu Kertang, Kakap Putih, Kakap Merah, Bawal Bintang. Bahkan juga ada Udang Vaname, Ikan Cobia, ikan Badut/ Nemo, Blue Devil, Teripang, Kuda Laut, dan Rumput Laut.

Kepala Bidang Uji Terap Teknik dan Kerja Sama, BBPBL Lampung, Evalawati, SP., MM., mengatakan, “kakap putih sebenarnya pertama berhasil di Balai ini tahun 1987, tapi justru sekarang terkenal di Batam, mungkin karena dulu kami fokus pada kerapu tapi teknologi kami mapan sekali untuk teknologi kakap putih.”

Saat ini program kerja yang dikerjakan BBPBL Lampung selain melakukan kegiatan budidaya,  menjalankan program sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).

“Seperti mensertifikasi pembenihan kerapu macan, kerapu tikus dan beberapa spesies  di hatchery, dan budidaya di KJA”, jelas Eva.

Eva melanjutkan, BBPBL Lampung juga selalu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain termasuk pihak swasta, Dinas Perikanan dan Kelautan dari kabupaten lain, Universitas, dan Instansi lainnya. Seperti tahun ini melanjutkan kerjasama dengan Biotrop terkait peningkatan kultur jaringan rumput laut skala laboratorium.

Prestasi BBPBL Lampung, terkait dengan teknologi budidaya laut tahun 2015 pada Rakernis (Rapat Kerja Teknis) di Bogor mendapat prestasi tenaga kerja terbaik peringkat ke-2 dari seluruh UPT DJPB. “Sebenarnya kami belum tahu apa indikator yang membuat prestasi itu tetapi mulai tahun 2013 kami selalu mengerjakan Indikator Kinerja Utama (IKU) secara rutin setiap triwulan. Kami melaporkan tingkat capaian daripada target IKU, mungkin penilaiannya dilihat dari IKU,” tambah Eva.

BBPBL Lampung memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) sebanyak 147 orang. diantaranya PNS, tenaga kontrak, dan penyuluh yang diperbantukan.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana di BBPBL Lampung terbilang lengkap, ada Bak Induk, Hatchery, Bangsal Pendederan, Keramba Jaring Apung, Laboratorium Penguji Kesehatan Ikan, Laboratorium Penguji Kualitas Air, Laboratorium Pakan Alami, Laboratorium Ikan hias, Laboratorium Nutrisi, Instalasi Way Muli.

Manfaatkan teknologi modern

Semua kegiatan pembesaran dan pemeliharaan induk serta penyiapan standar dilakukan di karamba jaring apung yang dipusatkan di kawasan Teluk Lampung, Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.

KJA yang digunakan tidak boleh sembarangan, harus yang berstandar. BBPBL Lampung menggunakan produk KJA dalam negeri yang sudah terbukti kualitasnya tidak kalah dengan produk luar negeri.

Perencana Bahan Standardisasi, BBPBL Lampung, Drs. Hidayat Adi Sarwono, M.Sc, mengatakan, BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec karena produk ini dikenal tahan lama dan aman dari terpaan ombak besar.

“Selain itu KJA Aquatec sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk wisata bahari, pemancingan, namun di balai ini masih dikuhususkan untuk budidaya saja. Produksi di KJA juga hasilnya lebih bagus dan hasil panennya banyak”, tambah Hidayat.

Budidaya di keramba jaring apung ada di teluk Lampung, 100 meter lebih dari lokasi pinggir pantai balai. Dulu, tutur Eva, sewaktu dirinya masuk ke BBPBL Lampung tahun 1985 KJA masih terbuat dari bambu, berkembang menjadi kayu dan berkembang lagi sampai saat ini sehingga kegiatan budidaya jadi aman.

Eva mengatakan, BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec sudah tiga tahun yang lalu, awalnya pengadaan sendiri lalu bantuan dari DJPB diserahkan ke UPT, pada tahun kemarin kita mendapatkan beberapa unit.

“Keunggulan KJA Aquatec memiliki daya apung bagus dan lebih tahan terhadap ombak air laut, dengan daya apung lebih bagus membuat ikan lebih nyaman dan orang yang bekerja lebih nyaman”, jelas Eva.

BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec segi empat untuk pemeliharaan ikan kerapu karena disesuaikan dengan habitat aslinya. diam di tempat tidak berenang bebas, atau disebut juga ikan pemalas. Sedangkan untuk KJA Aquatec bundar agar bisa memanfaatkan ruang ada komoditas tertentu salah satunya bawal bintang, karena pergerakannya aktif.

“KJA Aquatec sangat dirasakan manfaatnya oleh BBPBL Lampung, karena memudahkan kegiatan budidaya dari mulai proses pembesaran ikan konsumsi dan pemeliharaan induk ”, tutur Hidayat.

BBPBL Lampung menggunakan 34 unit KJA Aquatec, dengan 212 lubang. Lubang KJA ada yang dikosongkan agar sirkulasi air menjadi bagus, untuk sarana memindahkan ikan karena secara berkala tiga minggu sekali atau sebulan sekali dilakukan pergantian jaring dan pemindahan ikan. (Resti)

Data Perusahaan:
PT. GANI ARTA DWITUNGGAL
Kawasan Industri Batujajar Permai
Jl. Raya Batujajar Km. 2.8 Padalarang
Kab. Bandung Barat – Indonesia
Telepon (hunting) : 022 – 6864016
Fax                          : 022 – 6864015
Marketing              : Glenn
+6281221673288
Elga
+6285798868830
Website                 : www.aquatec.co.id

Kiat Tingkatkan Survival Rate Udang Windu

Perencanaan yang matang diperlukan dalam budidaya udang windu, agar mendapatkan hasil panen yang maksimal dan tentunya survival rate (SR) tinggi.

 

Saifullah Junaidy, B.Sc dari Dinas Kelautan dan Perikanan Nanggroe Aceh Darussalam, mengatakan, “Perencanaan budidaya perlu dalam budidaya udang windu, dimana didalamnya menentukan jumlah siklus dalam setahun. Kemudian rencanakan waktu budidaya dengan tepat menurut daerah masing-masing.”

 

Seperti yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar untuk kegiatan pembenihan rata-rata 6 siklus/tahun. Sedangkan untuk kegiatan pembesaran yang dikembangkan dalam kegiatan pendampingan teknologi/ diseminasi teknologi rata-rata 3 siklus/tahun.

 

Budidaya udang di Indonesia 80% tradisional dan 20% secara intensif. “Secara umum para pembudidaya di Sulawesi Selatan melakukan kegiatan budidaya udang windu secara tradisional dan semi intensif,” kata Perekayasa BPBAP Takalar, Dasep Hasbullah, S.P., M.Si.

 

“Budidaya udang windu di Aceh sebelum tsunami begitu menggembirakan, akan tetapi yang paling pesat perkembangannya di era 1990-an, pada tahun 2000-an agak menurun diakibatkan terserang penyakit dan sesudah tsunami memang tidak ada sama sekali, setelah beberapa tahun baru ada yang memulai secara tradisional,” ungkap Saifullah.

 

Kiat Tingkatkan SR

Para pembudidaya perlu melakukan kegiatan budidaya dengan menerapkan kaidah-kaidah cara budidaya ikan yang baik (CBIB), mulai dari tahap persiapan, tahap pemeliharaan sampai ke tahap panen dan pascapanen.

 

Menurut Saifullah, ”Untuk meningkatkan kelulusan hidup (SR) Pilihlah benur yang bagus, kemudian melakukan persiapan pada tambak sesuai Standard Operational Procedure (SOP), berikan pakan yang berkualitas dan perhatikan pemeliharaannya.”

 

Senada hal itu, Dasep mengatakan, “Gunakan benih unggul dan tahan penyakit, menerapkan padat penebaran yang ideal, pemberian pakan ideal dan pemeliharaan lingkungan tambak secara serius sesuai kaidah cara budidaya ikan yang baik.”

 Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Pacu Pertumbuhan Ikan Sidat

 

 

Parameter kualitas air yang optimal dan protein yang tinggi pada pakan, dapat memacu meningkatkan pertumbuhan sidat.

 

Ikan sidat sekilas terlihat mirip dengan belut, namun tubuh sidat lebih memanjang dan memiliki kepala berbentuk segi tiga serta memiliki empat sirip dibagian dada yang sering disebut telinga, dubur, punggung dan ekor. Kemudian memiliki sisik yang sangat halus dan tubuhnya ditutupi lendir.

 

Sidat memiliki siklus hidup yang unik, dimana sejak menetas hingga dewasa hidup di air tawar, sungai, atau danau namun ketika siap memijah akan migrasi serta  hidup dilaut dalam dan induknya ini akan mati.

 

Sampai saat ini sidat belum bisa dipijahkan di kolam baik secara alami maupun buatan. Benih yang digunakan untuk usaha pembesaran sepenuhnya masih merupakan hasil penangkapan dari alam. Dimana saat migrasi glass eel ditangkap di genangan air payau hingga sungai untuk kemudian dibesarkan di kolam pembesaran.

 

Dosen Program Studi Akuakultur Universitas Tadulako Palu, Dr. Ir. Samliok Ndobe, M.Si., mengatakan, “Sungai – sungai di Sulawesi Tengah umumnya terdapat populasi ikan sidat, salah satu jenis ikan sidat ukuran glass eel yang melakukan ruaya anadromous di Sungai Palu adalah Anguilla marmorata.”

 

Glass eel merupakan salah satu tahapan dari tujuh tahapan siklus hidup ikan sidat, yaitu bentuk ikan sidat kecil (larva/benih) yang sudah menyerupai keseluruhan morfologi ikan sidat dewasa tetapi belum memiliki pigmen tubuh (transparan) sehingga disebut glass eel (sidat kaca).

 

Seperti yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Benih sidat  yang dipelihara mulai dari ukuran glass eel (0,16 gr) sampai ukuran 0,5 – 1 gr dengan lama pemeliharaan 2-3 bulan dengan SR diatas 80%. Setelah pemeliharaan tersebut kemudian dijual ke Jakarta, dengan harga Rp 500.000,-/kg atau 1000 ekor.

 

Perekayasa BPBAT Tatelu, Iman Sudrajat, S.Pi. mengatakan, “Sebenarnya kegiatan kami bisa sampai ke tingkat konsumsi namun faktor ketersediaan dan harga pakan sidat komersil bila masuk ke wilayah Sulawesi Utara tentu menjadi sangat tinggi.”

 

Kegiatan budidaya pembesaran benih sidat (elver) di BPBAT Tatelu yang dimulai dari glass eel, hingga 2 minggu tidak dilakukan pergantian air, cukup dengan hanya mengangkat kotoran yang ada menggunakan serok setiap pagi sebelum pemberian pakan.  Setelah 2 minggu baru dilakukan pergantian air sebanyak 50% per 3 hari dan mulai dilakukan penjarangan.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur Edisi Mei 2016

Prospek Usaha Catfish

 

 

“Produksi  Catfish (Lele dan Patin) menyumbang sekitar 50% dari total produksi nasional komoditas ikan air tawar.  Budidaya catfish umumnya dilakukan oleh masyarakat ekonomi menengah kecil, sehingga berperan dalam meningkatkan perekonomian rakyat  dan menyerap tenaga kerja,” ungkap Sekjen Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Dr. Azam B. Zaidy.

 

Menurut Azam, “Catfish merupakan komoditas ikan air tawar masa depan, seiring dengan makin terbatas ketersediaan air dan ketersedian lahan untuk budidaya ikan.”

 

Azam menambahkan, “Lele dan patin  dapat dipelihara di daerah dengan ketersediaan air tawar yang terbatas dengan produktivitas tinggi yaitu sebesar 75 – 100 kg/m3.”  Khususnya ikan lele telah dibudidayakan di seluruh nusantara.

 

Seperti yang pernah dikatakan oleh Pengamat Perikanan di Aceh, Saifullah, “budidaya pembenihan dan pembesaran lele di Aceh bagus, dan masyarakat pun menyukai makan lele. Sedangkan ikan patin kurang berkembang karena belum dikenal. Adapun harga lele dipasaran Aceh saat ini Rp 28.000,-/kg, dengan perkilo ada tujuh ekor.”

 

Senada dengan hal itu, menurut pengamat perikanan di Sulawesi Ghufran H. Kordi K., “budidaya lele dumbo dan sangkuriang di Sulawesi sudah berkembang dan ada yang membenihkannya, sampai di pekarangan rumah pun banyak yang membudidayakannya. Berbeda dengan patin, meskipun ada tapi sedikit karena kurang dikenal. Namun, harganya lebih baik dibanding dengan harga lele saat ini, yang mencapai sekitar Rp 13.000/kg karena mengalami pasokan berlebih.”

 

Begitu pun dengan Karminto, salah seorang pembudidaya lele di Pati, Jawa Tengah, menurutnya, “prospek budidaya pembenihan dan pembesaran lele sangat berkembang hal ini didukung dengan potensi daerah seperti banyaknya kolam-kolam yang luas, kurang lebih ada 1000 kolam di Pati, sehingga masyarakat banyak yang membudidayakan lele.”

 

Adapun kendala dalam budidaya lele dan patin ini, menurut Pembudidaya di Gondosuli Tulungagung Jawa Timur, Marjo, salah satunya yaitu faktor ketersediaan air yang fluktuatif. “Budidaya saya pada tahun 2015 lalu sewaktu kemarau panjang kolam-kolamnya sering mengalami kekeringan. Sedangkan pada 2016 ini masuk penghujan sering mengalami kebanjiran karena susah membuang air.”

 

Ternyata dalam budidaya catfish ini banyak keuntungan yang didapat, selain kota Tulungagung ini masuk juara kedua sebagai kawasan minapolitan, juga kelompok “Mina Jaya” yang diketuai oleh Marjo mendapatkan rekor Muri pada tahun 2015 sebagai penghasil pecel lele 5000 cuek.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi Mei 2016

Kupas Budidaya Bawal Bintang Komoditas Alternatif Pengganti Kerapu

 

 

Jadi komoditas unggulan, target pertumbuhan bawal bintang lima tahun ke depan 31,5% per tahun. Berminat?

 

Mulai 2015, bawal bintang menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya.  “Target produksi bawal bintang di tahun 2015 masih 1.900 ton. Namun, target pertumbuhannya dalam kurun waktu lima tahun ke depan adalah 31,5% per tahun. Bawal bintang akan menjadi salah satu komoditas alternatif budidaya laut atau marikultur,”  kata  Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sinarharapan.co.id.

Bawal bintang merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya air laut. Kelebihannya, masa budidaya bawal bintang lebih pendek, yaitu sekitar 6 bulan. Sebagaimana dilansir dalam kkpnews.kkp.go.id, Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung berhasil mengembangkan percontohan budidaya atau demonstrasi farming (demfarm) ikan jenis bawal bintang dengan pencapaian produksi hingga 25 ton di dua wilayah, yakni Ringung dan Tanjung Putus, Lampung.

Sebagian besar budidaya ikan bawal bintang di Provinsi Lampung berada di wilayah Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan. Sementara sentra KJA berada di wilayah Ringgung, Ketapang, Pulau Tegal, Pulau Pahawang, sampai daerah Tanjung Putus.

Sebelumnya, jenis ikan yang dibudidayakan di wilayah tersebut adalah jenis kerapu (bebek, macan, sunu, kertang, cantik), cobia, dan kakap putih. Jenis  kerapu dan kakap putih merupakan jenis yang paling banyak dibudidayakan dan berorientasi ekspor. Seiring turunnya permintaan dan harga komoditas, terutama kerapu bebek, pembudidaya KJA di Lampung beralih melakukan budidaya ikan bawal bintang untuk meneruskan usahanya sejak 5 tahun  terakhir.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Lirik Potensi Unggul Lele Mutiara

 

 

“Lele mutiara (Clarias gariepinus) bukan hasil dari persilangan tapi hasil perbaikan genetis menggunakan program seleksi,” ungkap Bambang Iswanto, S.Pi.,MP., Peneliti Muda Bidang Akuakultur, Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi.

 

Lele mutiara merupakan hasil seleksi generasi ketiga (G3). Pada awalnya, generasi ini dibentuk melalui kombinasi persilangan empat strain lele Afrika yang ada di Indonesia, yakni lele mesir, paiton, sangkuriang, dan dumbo sebagai populasi induk pembentuknya (founder populations).

 

Berdasarkan hasil karakterisasi yang dilakukan di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, masing-masing populasi (strain) induk pembentuk tersebut diketahui memiliki keunggulan dan kekurangan. Lele mesir, yang diperoleh dari hibah mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat pada awal tahun 2011, memiliki keunggulan ketahanan terhadap penyakit dan lingkungan yang kuat serta keseragaman ukuran yang relatif tinggi. Sayang, pertumbuhan dan fekunditasnya relatif rendah.

 

Lele paiton, yang dikoleksi dari Model Pembenihan Ikan Lele (MPIL) Mojokerto pada awal tahun 2010, memiliki performa pertumbuhan dan efisiensi pakan yang tinggi. Namun, keseragaman ukurannya rendah, kanibalismenya tinggi, dan relatif rentan terhadap penyakit.

 

Lele sangkuriang, yang dikoleksi dari Balai Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Cijengkol awal tahun 2010, memiliki keunggulan fekunditas yang tinggi serta daya adaptasi terhadap lingkungan budidaya yang baik. Namun, rentan terhadap penyakit dan pertumbuhan yang relatif rendah.

 

Adapun lele dumbo, yang dikoleksi dari pembenih lokal pada awal tahun 2010, merupakan populasi pelengkap dengan performa yang moderat.

 

“Masing-masing keunggulan tersebut diharapkan dapat digabungkan dalam suatu strain lele Afrika unggul yang baru,” ungkap Bambang.

 

Penggabungan keunggulan performa beragam strain lele tersebut pada tahap awal dilakukan melalui persilangan di antara keempat strain lele. Disebabkan keunggulan masing-masing strain tersebut tidak sama, jumlah masing-masing induk yang digunakan dalam proses persilangan tersebut juga dibuat tidak sama.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi April 2016

Genjot Produksi Udang Windu dengan Phronima suppa

 

Permintaan udang windu tak kalah besar dibanding permintaan udang vaname. Namun, permintaan pasar tersebut tidak dapat terpenuhi oleh pasokan produksi.

 

Udang windu merupakan komoditas ekspor untuk mendulang emas. Betapa tidak, dengan harga yang fantastis, banyak pembudidaya yang tergiur untuk menggenjot produksi. Sayang, prospek cerah di tambak udang tidak dibarengi dengan pengetahuan petambak mengenai cara berbudidaya yang benar., udang dipaksa untuk selalu makan. Pemberian pakan yang tidak proporsional untuk menggenjot panen menimbulkan timbunan kandungan bahan organik yang merusak keseimbangan biota air yang menguntungkan. Udang pun terkapar, tak mampu melawan gempuran penyakit. Diperkirakan, kerugian total yang diderita oleh petambak di Indonesia mencapai 300 juta USD setiap tahunnya. Luas tambak yang terkena dampak wabah ini tak kurang dari 70% dari total luas tambak di Indonesia. Kerugian yang sangat besar!

 

Secercah harapan dari timur

Di tengah suramnya budidaya udang windu yang tak kunjung menggeliat, kabar menggembirakan datang dari Timur. Tepatnya di Provinsi Sulawesi Selatan. Sejak tahun 2005, ditemukan sejenis pakan alami udang berupa krustasea (hewan berbuku-buku) berukuran mikroskopis yang hidup dalam perairan. Mikroorganisme endemik ini hanya hidup di wilayah tertentu. Saat ditemukan, perairan kawasan Pinrang menjadi habitat asli dari krustasea ini, tepatnya di desa  Wiringtassi dan desa Tasiwalie, Kecamatan Suppa, Pinrang, Sulawesi Selatan.  Dikatakan endemik karena mikroorganisme ini tidak ditemukan di perairan lain di luar kawasan tersebut.

Di daerah tersebut, di mana phronima hidup, sintasan udang windu cukup tinggi, yaitu mencapai angka 70%! Sebaliknya, udang windu yang dipelihara di perairan tanpa Phronima suppa hanya menghasilkan sintasan sebesar 10%. Hattah memaparkan, tambak yang mendapat pasokan Phronima suppa selama 47 hari masa pemeliharaan udang mengalami kenaikan hasil panen menjadi rata-rata 285 kg/ha. Sementara itu, tambak tanpa pemberian pakan alami tersebut hanya dapat memanen sekitar 50,6 kg/ha saja. Menurutnya, pakan alami ini dapat menyediakan nutrisi bagi udang, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Tak heran, sejak dulu Kabupaten Pinrang menjadi daerah penghasil udang windu terbesar di kawasan Sulawesi Selatan.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi April 2016

Kunci Sukses Budidaya Udang Vaname Intensif

 

 

“Budidaya udang vaname secara intensif perlu memperhatikan dinamika kualitas air secara harian, penggunaan benur sehat, pakan berkualitas, dan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih,” ungkap Perekayasa Madya Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Ir. Warih Hardanu, M.Sc.  

 

Budidaya udang vaname teknologi intensif merupakan budidaya udang padat modal dan teknologi tinggi. “Karenanya, mengoptimalkan persiapan lahan merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan dalam budidaya, khususnya udang vaname,” ungkap teknisi udang vaname PT Central Proteina Prima, Tbk Eli Riswandi, S.Kel.

 

Pada dasarnya, setiap kegiatan harus dilakukan dengan matang, baik dalam perencanaan maupun persiapannya. “Salah satu faktor utama penunjang keberhasilan ini adalah sterilisasi lahan dengan menggunakan disinfektan untuk membunuh carrier beserta virus yang dibawanya,” jelasnya.

 

Eli menambahkan, “Selain itu, pengukuran kualitas air dan tanah di laboratorium juga termasuk penunjang keberhasilan dalam budidaya vaname. Misalnya, kecukupan alkali, TOM, TAN, dan parameter-parameter kimia lainya.”

 

Budidaya udang vaname intensif memiliki porsi rasio lahan 4 : 6. Artinya, 40% untuk petak tandon dan 60% untuk petak pemeliharaan. “BLUPPB Karawang menerapkan rasio petak tandon : petak pemeliharaan udang sebesar 20—30 : 70—80,” ungkap Warih.

 

Soal padat penebaran pada sistem intensif, Eli mengatakan, “Padat penebaran pada budidaya udang vaname intensif sekitar 70—100 ekor/meter persegi, adapun ukuran benur yang ditebar PL9—PL11.”

 

Padatnya penebaran pada sistem intensif merupakan satu keunggulan, tetapi bukan tanpa masalah. “Kelebihan padat tebar intensif jelas meningkatkan produktifitas. Akan tetapi kelemahannya, penurunan kualitas air pemeliharaan sangat cepat sehingga menjadi pemicu timbulnya infeksi penyakit baik bakterial maupun viral,” ungkap Warih.

Selanjutnya baca di Majalah Info Akuakultur Edisi April 2015

Pendederan Ikan Bandeng

Dengan memanfaatkan perairan payau atau pasang surut, budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) di tambak telah berkembang secara pesat hampir di seluruh Indonesia. Kebutuhan benih (nener) bandeng pun besar dan harus terpenuhi.

 

 

“Ikan bandeng merupakan salah satu komoditas ketahan pangan nasional,” jelas Supito, S.Pi, M.Si, Koordinator Budidaya Udang Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Oleh karena itu, ketersediaan nener bandeng sebagai salah satu sarana produksi yang utama dalam usaha budidaya bandeng di tambak harus terpenuhi. Untuk saat ini, perkembangan teknologi budidaya bandeng di tambak dirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha budidaya udang.

 

Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala. Selama ini, produksi nener alam belum mampu mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang. Oleh karena itu, peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat penting. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan para pembudidaya bandeng di Indonesia, nener disuplai dari Bali dan hasil tangkapan alam.

 

Produksi benih nener di hatchery diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat dan pasokan penangkapan di alam yang diduga akan menurun. “Kebutuhan nener di pembudidaya sangat besar sehingga diperlukan pengembangan pembenihan bandeng oleh pihak swasta untuk pengembangan produksi nener seperti di Bali,” ungkap Supito.

 

”Bagian Pembenihan ikan bandeng di BBPBAP Jepara sudah bisa memijahkan dan memproduksi nener,” tambah Supito, “distribusi nener yang dihasilkan BBPBAP Jepara sebagian besar untuk pembudidaya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.”

AK14 Budidaya 2 2

Supito, S.Pi, M.Si (Sumber foto: dok pribadi)

AK14 Budidaya 2 3

 I Gde Budha Adnyana, S.St.Pi (Sumber foto: dok pribadi)

 

Masih tradisional

Sebagian budidaya bandeng masih dilakukan secara tradisional, yaitu dengan mengandalkan pupuk untuk pertumbuhan klekap sebagai pakan alami. Selain itu, perairan masih mengandalkan pasang-surut.

 

Pernyataan senada dikemukakan oleh Koordinator  Budidaya Bandeng Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, I Gde Budha Adnyana, S.St.Pi. ”Sistem budidaya pendederan ikan bandeng yang diterapkan merupakan budidaya bandeng tradisional. Umumnya nener berasal dari panti benih di daerah Gondol, Bali, dan daerah Situbondo, Jawa Timur,” ujarnya.

 

Masyarakat pembudidaya Demak, Jawa Tengah, biasanya mendatangkan nener dari Jepara dengan beragam ukuran dan harga. Ukuran nener dengan panjang antara 2—2,5 cm dibandrol dengan harga Rp 75.000 per seribu ekor. Sementara nener dengan panjang 5—7 cm dihargai Rp 150.000 per seribu ekor.

 

Pada umumnya, satu petak tambak tradisional berukuran 1 Ha dengan padat tebar 250.000 ekor nener/Ha. ”Untuk budidaya pendederan ikan bandeng secara tradisional, tingkat kelangsungan hidup sebesar 70%. Hal ini disebabkan tingkat kontrol terhadap hama seperti burung, biawak, dan ular sangat sulit,” ungkap Gde.

 

Pendederan

Pendederan dalam tambak dilakukan hingga nener berumur satu bulan. Selanjutnya, nener dilepaskan ke dalam tambak besar. Tambak pembesaran dibersihkan dengan menggunakan jaring untuk menangkap predator atau ikan-ikan pemakan bibit bandeng. Tujuannya agar nener aman sampai umur satu bulan untuk dilepaskan ke dalam tambak besar.

 

Ikan bandeng merupakan ikan herbivora dengan pakan utama berupa plankton dan alga maupun makroalga seperti bentic algae (kelekap) dan filamenteis algae (lumut). ”Dalam usaha budidaya pendederan bandeng, dilakukan persiapan penumbuhan pakan klekap sebelum nener ditebar dengan pupuk urea dan TSP. Kemudian nener ditebar sesudah klekap menutupi seluruh permukaan dasar tambak,” ungkap Gde.

 

Pendederan merupakan kegiatan pemeliharaan benih yang dilakukan untuk menghasilkan benih ukuran tertentu yang siap dibesarkan dinkolam pembesaran. “Segmen pendederan dimulai dari pemeliharaan nener menjadi benih kelas sebar 2—3 cm, 3—4 cm, 4—5 cm, hingga 8—10 cm. Masa pemeliharaan dari nener sampai ukuran 2—3 cm sekitar 20 hari, sedangkan untuk mencapai 8—10 diperlukan waktu 45 hari,” terang Gde.

AK14 Budidaya 2 4

Nener bandeng (Sumber foto: BBPBAP Jepara)

 

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 14/Maret 2016