Temuan Hewan Tak Layak Kurban Jadi Sorotan

Temuan Hewan Tak Layak Kurban Jadi Sorotan

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung terus melakukan persiapan menjelang Hari Raya Idhuladha atau Hari Raya Kurban yang jatuh pada 31 Juli 2020/1441 Hijriah.

Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Lili Mawarti mengatakan ada beberapa temuan kasus di lapangan atau penyimpangan yang ditemukan selama pemantauan. Lokasi pemantauan tersebut dilakukan di lokasi penampungan/lapak penjualan hewan kurban dan di lokasi pemotongan (masjid/musala).

Misalnya, kata dia, di lokasi penampungan atau lapak penjualan masih ditemukan ternak yang belum memenuhi syarat untuk dikurbankan terutama umur ternak. Selanjutnya terinfeksi parasit (skabies) dan radang mata (pink eye), radang ambing (mastitis), radang hidung (rhinitis), dan sudah disarankan untuk tidak dijual dan dipisahkan dari tempat penjualan/penampungan.

Kemudian di lokasi pemotongan, masih ditemukan ternak betina yang dipotong walaupun secara syariah diperbolehkan namun secara undang-undang, pemotongan ternak betina terutama ternak betina produktif tidak diperbolehkan sehingga penentuan status produktivitas ternak harus dilakukan pemeriksaan yang cermat.

Selanjutnya juga masih ditemukan ternak yang secara fisik sehat, gemuk, dan layak dikurbankan namun setelah dipotong ternyata terinfestasi parasit (cacing fasciola dan paramphistomum), radang paru-paru (pneumonia), tumor paru, radang hati (vyrosis), dan fat liver.

“Kondisi ini sudah disarankan agar organ-organ yang terinfestasi parasit dan rusak (terutama hati dan paru-paru) tidak dibagikan ke masyarakat,” kata Lili, Selasa, 14 Juli 2020.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung juga telah membentuk satuan tugas (satgas) pengawasan hewan kurban. Pembentukan yang sesuai SK Kepala Dinas PKH Lampung Nomor 188/052/Kpts/v.23/D2/2020 tertanggal 17 Juni 2020. Satgas memiliki tugas mengecek kondisi hewan kurban dua minggu sebelum hari raya.

Satgas pengawasan hewan kurban Lampung telah terbentuk dengan beranggotakan 40 orang. Selain di provinsi, masing-masing kabupaten/kota juga membentuk satgas pengawasan hewan kurban ini dengan totalnya ada 803 orang. Dari 803 orang tersebut, 112 orang diantaranya merupakan dokter hewan, 154 orang paramedik dan veteriner, kemudian 491 orang merupakan petugas teknis peternakan dan kesehatan hewan, dan 46 relawan yang sudah terlatih.

Lili menambahkan Lampung saat ini memiliki ketersediaan stok hewan kurban menjelang Idhuladha 2020M/1441 H yakni 106.620 ekor hewan dengan rincian sapi potong 19.005 ekor, kerbau 597 ekor, kambing 84.835 ekor, dan domba 2.183 ekor.

Hewan kurban di 15 kabupaten/kota di Lampung. Sementara itu sesuai pemantauan pengawasan hewan kurban tiga tahun terakhir yakni tahun 2017 ada 50.149 ekor, tahun 2018 ada 55.353 ekor, dan tahun 2019 ada 61.293 ekor.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung, Anwar Fuadi, menambahkan satgas tersebut dibentuk untuk melakukan pengawasan hewan kurban.

Ia mengatakan sementara ini petugas belum terlalu aktif ke lapangan karena masih menunggu lapak-lapak penjualan hewan kurban terisi.

“Kita masih menunggu lapak-lapak penjualan hewan kurban terisi dan akan kita lakukan pemeriksaan. Mungkin setelah tanggal 17 Juli 2020. Kita juga sedang koordinasi dengan Dinas Kota, untuk menentukan waktu ekpose pemeriksaan lapangan sama titik lokasinya,” katanya.

Sumber : https://www.lampost.co

Adi Sunaryo

MENGENAL PENYAKIT AFRICAN SWINE FEVER

Virus ASF sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 100% pada babi. (Foto: GETTY IMAGES)

Virus African Swine Fever (ASF) adalah virus DNA beruntai ganda termasuk dalam familie Asfarviridae sebagai agen penyakit ASF. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian tinggi. Beberapa isolat dapat menyebabkan kematian hewan satu minggu setelah infeksi. Virus ini menginfeksi inang alami seperti babi hutan melalui vektor kutu dari genus Ornithodoros tanpa disertai gejala penyakit.

Selain itu, virus ASF juga ditularkan melalui kontak langsung dengan babi yang tertular, daging dan produk daging babi, sisa-sisa makanan (swilling feeding), peralatan, sepatu, hingga pakaian yang digunakan para pekerja atau pengunjung di peternakan babi yang tertular penyakit ASF.

Namun virus ASF bisa mati pada pemanasan suhu 56 derajat selama 70 menit atau suhu 60 derajat selama 20 menit. Kendati demikian, virus ASF bisa bertahan hidup pada sisa makanan dalam sampah yang terinfeksi virus ASF selama 3-6 bulan dan dalam keadaan frozen selama tiga tahun.

Gambar 1: Bentuk virus ASF secara fisik seperti model virus pada umumnya, tetapi sangat  jauh berbeda  secara molekular.


Penyakit ini tidak menyebabkan penyakit pada manusia atau tidak bersifat zoonosis. Virus ASF merupakan penyakit endemik di Afrika sub-Sahara dan menyebar ke Eropa melalui babi atau produknya yang dibawa oleh imigran maupun wisatawan Eropa. Virus ASF memiliki genom DNA beruntai ganda dan dapat menjangkau 190 kilobase, serta yang mengesankan karena mengkode hampir 170 protein, jauh lebih besar dari virus lain, seperti Ebola (beberapa strain hanya memiliki 7 protein).

Virus ASF memiliki kesamaan dengan virus DNA besar lainnya, misalnya poxvirus, iridovirus dan mimivirus. Virus ASF ini menyebabkan demam hemoragik, dimana sel targetnya terutama untuk bereplikasi terdapat pada makrofag sel monosit. Masuknya virus ke dalam sel inang dimediasi oleh reseptor, tetapi mekanisme endositosis yang tepat sampai saat ini belum jelas. Sel makrofag pada tahap awal diinfeksi oleh virus ASF, perakitan kapsid icosahedral terjadi pada membran retikulum endoplasma. Poliprotein diproses secara proteolitik membentuk kulit inti antara membran internal dan inti nukleoprotein. Membran sel plasma bagian luar sebagai inti partikel dari membran plasma. Protein virus mengkode protein yang menghambat jalur pensinyalan pada makrofag yang terinfeksi dan dengan demikian memodulasi aktivasi transkripsi gen respons imun. Selain itu, virus mengkode protein yang menghambat apoptosis sel yang terinfeksi untuk memfasilitasi produksi virion keturunannya. Protein membran virus dengan kemiripan protein adhesi seluler memodulasi interaksi sel yang terinfeksi virus dan viri ekstraseluler dengan komponen inang.

Hewan yang peka pada ASF ini adalah babi hutan, babi liar dan babi domestik. Babi yang terinfeksi dapat menunjukkan satu atau beberapa tanda-tanda klinis, seperti berwarna ungu kebiruan dan perdarahan (seperti bintik atau memanjang) di telinga, perut dan/atau kaki belakang, kemudian mata dan hidung keluar cairan, lalu terdapat merah pada kulit dada, perut, perineum, ekor dan kaki,  dan juga terjadi sembelit atau diare yang dapat berkembang dari mukoid menjadi berdarah (melena), muntah, induk babi yang bunting mengalami aborsi pada semua tahap kebuntingan, darah dan busa dari hidung/mulut dan mata, serta kotoran berdarah di sekitar ekor. Gejala klinis dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2. Gejala klinis pada penyakit African Swine Fever.


Oleh karena sifat virus yang sangat rumit dan memiliki genom besar, maka untuk menemukan obat misalnya vaksin saja juga sulit. Sampai saat ini peneliti belum mampu menemukan vaksin ASF, meskipun berbagai metoda pembuatan vaksin telah dilakukan. Metoda pembuatan vaksin ASF yaitu dimulai dari vaksin konvensional, vaksin DNA, rekombinan protein dan vaksin dari senyawa alami, sintetis dan obat.

Dengan alasan tersebut, maka virus ini sangat berbahaya apabila terjangkit wabah ASF, karena dapat menyebabkan kematian (mortalitas) 100%. Seluruh babi dalam suatu kandang atau wilayah akan mati secara keseluruhan. Selain kematian yang sangat tinggi juga akan kehilangan sumber protein dan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak dan masyarakat.

Berdasarkan kompleksitas susunan DNA dan protein virus ASF, sifat penyakitnya menyebabkan kematian sangat tinggi (mortalitas 100%), belum ditemukannya obat (vaksin) yang efektif dan aman, maka pemerintah harus menjaga secara ketat masuknya penyakit ini ke dalam wilayah Indonesia. Penting untuk diperhatikan bahwa penularan penyakit ini tidak bisa dicegah, karena hal tersebut menyebabkan tidak ada negara yang kebal terhadap penyakit ASF. Negara maju pun seperti Amerika dan negara-negara lain di Eropa dapat tertular penyakit ini walaupun telah melakukan biosekuriti. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia dan Asia pada umumnya, dimana peternaknya belum disiplin dalam menerapkan biosekuriti. Satu-satunya cara untuk mengeliminasi virus ASF melalui depopulasi dengan cara penguburan dan desinfeksi kandang serta peralatannya. ***

Sumber : http://www.majalahinfovet.com

Oleh: Dr med vet Drh Abdul Rahman
Medik Veteriner Ahli Madya di P3H Direktorat Kesehatan Hewan

Kementan Pilih Subang Sebagai Major Project Korporasi Sapi Potong

Kementan Pilih Subang Sebagai Major Project Korporasi Sapi Potong

Jajaran pejabat Kementerian Pertanian (Kementan) bertemu dengan Bupati Subang H Ruhimat, dalam rangka audiensi pengembangan korporasi petani khususnya korporasi sapi potong di Kabupaten Subang, yang digelar di Rumah Dinas Bupati Kabupaten Subang, Jumat (19/6). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada 6 Juni 2020 di Kabupaten Subang dan Karawang.

Kementan diwakili oleh Kepala Bagian Perencanaan Wilayah, Biro Perencanaan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, dan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bagian Perencanaan dan perwakilan dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaram Hasil Peternakan (PPHNak). Lalu hadir juga perwakilan dari Kementerian Koperasi dan UKM RI, Badan Perencanaan Nasional, Bank BRI dan PT. Rajawali Nusantara Indoensia (PT. RNI Subang).

Pertemuan ini menghasilkan dipilihnya Kabupaten Subang sebagai Major Project Korporasi Sapi Potong. Kabupaten Subang mempunyai korporasi peternak sapi potong Brahman Sejahtera yang memiliki sistem pengembangan kawasan peternakan terpadu yang mengintegrasikan subsistem hulu.

Selain itu, di Brahman Sejahtera juga sudah melakukan budi daya dan pasca panen (on farm), dengan pengolahan dan pemasaran (off farm), serta subsistem penunjangnya.

“Jadi kami nilai Subang sudah mampu jadi major project. Kami harap bisa melatih jiwa kewirausahaan para petani dan peternak,” ujar Kepala Bagian Perencanaan Wilayah, Biro Perencaan Kementan, Hermanto, Sabtu (20/6).

Korporasi Brahman Sejahtera ini terbentuk dari tiga sentra peternakan rakyat (SPR) Sapi Potong, yakni SPR Cinagarbogo, SPR Kasaliang dan SPR Sagalapanjang. Sebagai unit usaha, Koperasi Brahman Sejahtera beroperasi di 66 desa di 16 kecamatan dengan jumlah anggota peternak sebanyak 1.834 orang yang tergabung dalam 117 kelompok.

Selain itu, usaha koperasi Brahman Sejahtera Subang terdiri dari usaha pakan hijauan, usaha pakan konsentrat yang telah menghasilkan 4 ton perhari, usaha budidaya pengembangbiakan sapi potong, usaha penggemukan sapi potong, usaha pengolahan daging, usaha pengolahan pupuk organik serta usaha jasa peternakan dan obat-obatan hewan.

“Dengan adanya korporasi ini juga kita bisa bangun modal bisnis petani dan peternak. Harapannya sekali lagi, untuk menumbuhkan jiwa-jiwa kewirausahaan yang ada dalam tiap-tiap individu,” tambah Hermanto.

Dihubungi di tempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani mengatakan bahwa dalam pengembangannya, Koperasi Brahman Sejahtera juga didampingi oleh PT. Bank Rakyat Indonesia sebagai PIC Core bisnis, yang berperan dalam pembinaan kewirausahaan.

Ia menyebut, dengan adanya sinergi dan kolaborasi antar pihak, pengembangan korporasi peternakan bisa menjadi langkah startegis meningkatkan nilai produk dalam negeri.

“Dengan adanya sinergi dan kolaborasi antar pihak terkait maka pengembangan korporasi peternakan ini benar-benar menjadi langkah strategis peningkatan nilai tambah bagi produk-produk dalam negeri kita,” ucap Fini.

Sementara, Bupati Subang H Ruhimat merasa senang karena Subang telah terpilih sebagai Major Project Korporasi Sapi Potong. Ia mengatakan meskipun ini merupakan pilot project yang terkait dengan pertanian dan peternakan di wilayah Subang, namun diharapkan dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh.

“Mari bersama kita lakukan major project korporasi sapi potong ini bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban tugas pekerjaan kita semata, melainkan sebagai sebuah bentuk tanggung jawab yang kiranya dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin,” papar Ruhimat.

Ruhimat mengakui, sektor pertanian dan peternakan menjadi faktor penentu bagi bangsa Indonesia dalam melewati berbagai dinamika akibat dampak dari Covid-19.

Untuk itu, ia menilai ini adalah momentum yang tepat untuk Subang dapat lebih memaksimalkan potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang dimilikinya.

Sumber : https://rmco.id

ATUR VENTILASI AGAR TERHINDAR DARI PENYAKIT

ATUR VENTILASI AGAR TERHINDAR DARI PENYAKIT

Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil akhir produksi ayam broiler adalah beban panas yang tinggi (heat stress). Hal ini terjadi karena ayam broiler merupakan tipe ayam pedaging yang pada prinsipnya adalah penumpuk lemak di dalam tubuh dalam jumlah besar pada masa produksi akhir (panen). Salah satu penyakit akibat iklim yang ekstrem yakni heat stress. Pada umumnya heat stress terjadi karena penumpukan lemak menjadi penghambat pembuangan panas yang dibentuk oleh tubuh, sedangkan ayam broiler juga mendapat panas tubuh dari hasil metabolisme dan aktivitas lingkungan sekitar.

Aktivitas yang menyebabkan terjadinya panas lingkungan dipengaruhi oleh temperatur, kelembapan dan sirkulasi udara. Ketiga faktor tersebut merupakan elemen penting yang mempengaruhi produksi ayam broiler. Karena ketiga faktor tersebut berperan dalam proses terbentuknya kenyaman pada ayam, dimana akan meghasilkan produksi yang maksimal atau bahkan sebagai predisposisi timbulnya suatu penyakit pencernaan (Colibacillosis) dan pernapasan (CRD/Chronic Respiratory Disease) atau bahkan keduanya (CRD kompleks).

Atur Ventilasi  
Salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi heat stress yang muncul akibat ketiga faktor tersebut adalah manajemen ventilasi. Ventilasi merupakan pergerakan udara yang memungkinkan terjadinya pertukaran antara udara di dalam dan di luar kandang. Dengan manajemen ventilasi yang baik, maka angka temperatur, kelembapan dan sirkulasi udara dapat diatur agar kondisi nyaman ayam dapat dicapai. Dalam sistem kandang terbuka, cara meciptakan pergerakan udara di dalam kandang dapat dilakukan dengan pemberian kipas angin, penerapan sistem buka-tutup tirai kandang, serta pembuatan model kandang monitor.

Manajemen brooding pada sistem pemeliharaan ayam broiler merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan pemeliharaan hingga satu periode ke depan. Karena di masa ini, DOC akan mengalami pertambahan jumlah sel (hiperplasia) terutama otot. Oleh karena itu, kondisi di dalam kandang harus sangat mendukung. Dimulai dari suhu ideal, kelembapan yang tepat, serta kualitas oksigen yang memadai untuk proses perkembangan.
Kebanyakan peternak melupakan faktor terakhir tersebut, peternak cenderung lebih memperhatikan suhu dan kelembapan saja. Sehingga tidak jarang pada umur 7-10 hari tirai masih tertutup. Hal ini diperkuat oleh fakta yang didapat dari Technical Support PT Gold Coin Indonesia, Drh Rizqy Arief Ginanjar.

“Kenyataan yang terjadi ketika tirai masih ditutup, akan mengakibatkan sirkulasi udara di dalam kandang minimal, bahkan tidak terjadi. Sehingga kelembapan dan amonia di dalam kandang tidak bisa terkontrol. Dengan angka kelembapan dan amonia yang tinggi di dalam kandang akan memicu terjadinya penyakit,” ujar Rizqy.

Lebih lanjut, manajemen tirai yang baik harus mulai diperhatikan ketika masa brooding. Tirai yang digunakan harus menggunakan metode double screen guard (tirai luar-dalam). Aplikasinya adalah dengan menggunakan dua buah tirai, satu untuk di dalam kandang dan satu lagi untuk di luar kandang. Pada saat DOC chick-in hingga umur tiga hari, tirai dalam masih dapat ditutup rapat agar panas di dalam brooder tercapai.

Ketika memasuki umur empat hingga tujuh hari, tirai luar pada siang hari sudah harus mulai dibuka disertai dengan pelebaran dari sekat (chick guard). Tirai dibuka ±10-20cm yang bertujuan agar terjadi pertukaran udara oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2). Sedangkan untuk tirai dalam masih dipertimbangkan untuk ditutup, namun juga melihat kondisi ayam.

Ketika malam, tirai masih harus ditutup agar ayam tidak terkena cold shock. Pada umur 7-10 hari dengan asumsi pertumbuhan bobot badan yang makin berkembang, maka tirai dan pelebaran sekat juga harus mengikuti. Tirai luar pada siang hari diturunkan ¼ dari tinggi kandang (±40-50 cm), sedangkan untuk tirai dalam sudah bisa mulai dilepas. Pada malam hari tirai dapat ditutup kembali.

Pada umur 10-14 hari, tirai luar pada siang hari sudah dapat dibuka ½ tiang kandang dan pada malam hari tirai dapat dibuka ¼ tiang kandang. Pada umur 15-20 hari, tirai luar pada siang hari sudah dapat dibuka seluruhnya, namun pada malam hari tirai masih ditutup untuk antisipasi stres akibat cuaca dingin. Pada umur 21 hari hngga panen tirai sudah dapat dibuka seluruhnya baik pada siang hari maupun malam hari. Namun masih dengan pertimbangan kondisi cuaca, adakalanya dinaikan (ketika hujan atau angin besar).

Pengaturan Tirai Kandang

Umur Kondisi Tirai Keterangan
Luar Dalam
Siang Malam Siang Malam
1-2 Tutup Tutup Tutup Tutup * lihat kondisi cuaca
3-6 Buka ¼ Tutup Buka ½ Tutup
7-10 Buka ¼ Tutup Buka Buka ½
11-14 Buka ½ Buka ¼ * Buka Buka
15-20 Buka* Buka ½ * Buka Buka
21-panen Buka Buka * Buka Buka

Disamping manajemen tirai, faktor sirkulsi udara juga dapat dibantu dengan penambahan kipas angin dan pembuatan kandang monitor. Pemberian kipas angin sering dipasang di dalam kandang yang memiliki alas litter. Tujuan pemberian kipas angin adalah untuk mempercepat perpindahan udara di dalam kandang. Jenis kipas angin yang digunakan adalah kipas angin pendorong (blower fan) dengan berbagai ukuran 24”, 36” dan 42”. Kipas angin dapat ditempatkan pada ketinggian 50-100 cm dari lantai.

Di daerah tropis jenis kandang tipe terbuka yang memiliki konstruksi panggung diharapkan memiliki atap yang berbentuk monitor. Karena cuaca pada wilayah tropis sangat mempengaruhi dalam tata laksana manajemen ventilasi. Selain dengan manajemen buka-tutup tirai, pembuatan kandang jenis panggung dan atap monitor pada kandang terbuka sangat membantu dalam proses pertukaran oksigen dan karbondioksida atau bahkan pembuangan senyawa berbahya H2S serta NH3.

Salah satu peternak yang sudah mengaplikasikan manajemen ventilasi adalah Suhardi. Menurutnya, ditengah iklim dan cuaca ekstrem seperti saat ini manajemen ventilasi yang baik akan menunjang performa apalagi jika dibarengi dengan pemeliharaan yang baik.
“Saya selalu rutin dalam mengatur ventilasi, karena saya kurang biaya untuk bikin closed house jadi mau tidak mau saya harus bisa mengatur ventilasi. Paling sebagai tambahan saya sedikit rajin semprot desinfektan, sama memisahkan ayam yang mati. Biar enggak nular penyakitnya,” kata Suhardi.

Pengaturan ventilasi ini, lanjut dia, sangatlah penting. Hal buruk pernah menimpa Suhardi dikala anak kandangnya lupa melakukan maintenance buka-tutup tirai. “Pernah cuaca lagi panas-panasnya lupa buka tirai, ayam malah mati kepanasan semua, mana baru chick-in. Peristiwa seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari, makanya saya rutin mengatur ventilasi, supaya ayam tetap oke performanya,” tandasnya. (CR)

Sumber : http://www.majalahinfovet.com

KLARIFIKASI DIRJEN PKH TERKAIT PEMBERITAAN PENGADAAN AYAM RP 770.000 PER EKOR

KLARIFIKASI DIRJEN PKH TERKAIT PEMBERITAAN PENGADAAN AYAM RP 770.000 PER EKOR
KLARIFIKASI DIRJEN PKH TERKAIT PEMBERITAAN PENGADAAN AYAM RP 770.000 PER EKOR

Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita memberi penjelasan terkait pemberitaan media online Tempo.co, Selasa (28/4/2020).

Menurut dia berita berjudul Anggaran Pengadaan Ayam Rp 770.000 Per Ekor Dipertanyakan perlu diluruskan agar tidak menimbulkan multi-interpretasi. Ketut menjelaskan, saat ini Ditjen PKH melakukan penghematan dari pagu semula Rp 2,022 triliun menjadi Rp 1,21 triliun. Upaya itu sejalan dengan penghematan anggaran di Kementan.

“Dalam perencanaan Ditjen PKH Tahun Anggaran 2020, selalu mengacu pada rambu-rambu penghematan,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (02/05/2020).

Dirjen PKH melanjutkan, upaya itu juga sesuai undang-undang. Pemotongan anggaran meliputi belanja perjalanan dinas, pertemuan, dan belanja barang lainnya secara proporsional. Penghematan dilakukan untuk mendukung prioritas kegiatan dan penanganan coronavirus disease 2019 (Covid-19) dengan memfasilitasi bantuan sapi, kambing, domba, ayam, dan babi. Sementara itu terkait anggaran ayam lokal, penetapan harga tidak otomatis Rp 26,96 miliar dibagi 35.000 ekor atau sebesar Rp 770.000 per ekor.

Seperti yang dipaparkan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI, Ketut menguraikan bahwa sesungguhnya anggaran itu terdiri dari beberapa komponen kegiatan lain. Kegiatan yang dimaksud, adalah pengadaan 35.000 ayam lokal senilai Rp 2,02 miliar dan hibah ayam produksi dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahun 2020 senilai Rp 3,96 miliar.

Ada juga kegiatan penyelesaian sisa kontrak pekerjaan Program Bekerja Tahun 2019 senilai Rp 20,98 miliar di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara. Ketut lalu menjelaskan rincian alokasi penggunaan anggaran dana tersebut, yakni adanya bantuan 35.000 ayam lokal senilai Rp 2,02 Miliar untuk Peternak/Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). Bantuan tersebut selanjutnya akan didistribusikan ke 22 kabupaten di 11 provinsi dengan beberapa komponen pengadaan.

Rincian Distribusi UPTD Untuk UPTD, dialokasikan di empat provinsi, yakni Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, dan Gorontalo dengan harga satuan per ekor Rp 55.525. Rincian nominal itu adalah, biaya ayam lokal umur empat minggu dan distribusinya Rp 30.000, pakan 2,5 kilogram (kg) dengan harga per kg Rp 7.000, sehingga total harga pakan Rp 17.500 (selama 2 bulan). Ada pula bantuan obat Rp 1.500, bantuan biaya perbaikan kandang Rp 2.500, serta operasional pendampingan dan bimbingan teknis Rp 4.025.

Rincian Alokasi untuk kelompok peternak Alokasi untuk kelompok peternak dilakukan di tujuh provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Bali, Aceh, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat dengan harga satuan per ekor Rp 58.538. Rinciannya adalah, biaya ayam dan distribusi Rp 30.000, pakan 2,5 kg dengan harga per kg Rp 7.000, sehingga total harga Rp 17.500 selama 2 bulan. Kemudian, bantuan obat Rp 1.500, bantuan pembuatan kandang Rp 4.400, serta operasional Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) untuk pendampingan dan bimbingan teknis Rp 5.138.

Rincian Hibah Ayam Day Old Chicken (DOC) Hibah Ayam Day Old Chicken (DOC) Sembawa dan Kampung Unggul Balitbangtan atau ayam KUB produksi Unit Pelaksana Teknis (UPT). Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan ternak (BPTU-HPT) memberikan Sembawa kepada kelompok ternak senilai Rp 3,96 miliar dengan rata-rata harga satuan per ekor Rp 36.538. Untuk pakan, jumlahnya 4,27 kg dengan harga Rp 7.000 per kg, sehingga total harga Rp 29.900 yang diberikan selama 3 bulan. Bantuan obat adalah Rp 1.500 dan Operasional CPCL, pendampingan, dan bimbingan teknis Rp 5.138.

Rincian Penyelesaian kontrak sisa pekerjaan Sementara itu, penyelesaian kontrak sisa pekerjaan Kegiatan Bekerja tahun anggaran 2019 di Gorontalo dan Sulawesi tenggara adalah Rp 20,98 miliar. Anggaran itu dilaksanakan Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar untuk disalurkan ke Gorontalo dan BPTU-HPT Denpasar ke Sulawesi Tenggara.

Ditjen PKH juga akan memberikan bantuan paket ternak 550 babi kepada kelompok ternak dengan total anggaran Rp 5,03 miliar ke Papua, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. Menurut Ketut, satuan biaya paket bantuan untuk Papua dengan wilayah lain tentu berbeda karena faktor geografis dan tingkat kesulitan dalam pendistribusian, termasuk alat angkut. Satuan biaya yang dimaksud yakni untuk pengadaan ternak babi di wilayah Papua, dengan harga Rp 13.115.000 per ekor. Kemudian, untuk biaya ternak babi dan distribusi adalah Rp 10 juta. Untuk pakan adalah 120 kilogram per ekor dengan total nilai Rp 2,16 juta selama 2 bulan.

Ada pula biaya pembuatan kandang sebesar Rp 100.000 per ekor dan operasional CPCL, pendampingan, dan bimbingan teknis sebesar Rp 830.000. Terkait pengadaan ternak babi di luar Papua, harga satuan peket pekerjaan per ekor adalah Rp 4.385.000. Biaya ternak babi dan distribusi adalah Rp 3 juta. Biaya pakan adalah 120 kilogram per ekor dengan total biaya Rp 970.000 selama 2 bulan, biaya pembuatan kandang Rp 100.000 per ekor, dan operasional CPCL pendampingan, dan bimbingan teknis Rp 315.000. Dengan demikian, jumlah alokasi pengadaan babi dan komponen pendukungnya untuk wilayah Papua adalah 300 ekor dengan nilai Rp 3,93 miliar.

Untuk di luar Papua adalah 250 ekor dengan nilai Rp 1,10 miliar, sehingga harga rata-rata paket bantuan pengadaan babi dan komponen pendukungnya adalah Rp 9.146.000 per ekor. “kegiatan ini pada prinsipnya diusulkan untuk membantu petani peternak pada situasi pandemi Covid-19,” ujar Ketut.

Narasumber : kompas.com

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Syahrul: Pembagian Pupuk dan Benih Jangan Terlambat!

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Syahrul: Pembagian Pupuk dan Benih Jangan Terlambat!
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Syahrul: Pembagian Pupuk dan Benih Jangan Terlambat!

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menghadiri rapat pimpinan bersama jajaran Ditjen Tanaman Pangan, Kementan, Jumat (6/3/2020). Dalam rapat ini, Mentan berharap distribusi pupuk dan pembagian benih dilakukan tepat sasaran dengan penerima utama para petani miskin.

“Untuk itu, saya minta kalian turun langsung ke lapangan. Bagi bibit jangan terlambat dan beri pupuk kepada petani yang benar-benar membutuhkan,” ujar Syahrul dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Syahrul berharap, Ditjen TP melalui perangkat pusat komando strategi Tanaman Pangan mampu mewujudkan cita-cita swasembada serta ketahanan pangan secara nasional. Dengan begitu, kesejahteraan petani bisa meningkat secara cepat.

“Saya berharap kalian mampu memberikan masyarakat KUR (Keredit Usaha Rakyat) agar hari raya lebaran petani punya uang. Kita harus ingat bahwa kita digaji untuk kesejahteraan petani. Karenanya, saya minta kalian mampu menetapkan daerah yang masuk zona kuning, merah, dan hijau dengan AWR yang dimiliki,” katanya.

Selain itu, kata Mentan, Ditjen TP wajib me-monitoring semua kegiatan pembangunan pertanian, seperti mengawal Kostratani, menggali potensi garapan lahan, hingga mempermudah akses harga yang sesuai dengan petani dan pasar.

“Untuk itu, kita harus bisa menyikapi persoalan cuaca dan semua persoalan yang berkaitan dengan kebutuhan petani. Kita harus mampu meneruskan cita-cita dan perjuangan bangsa ini agar masyarakat dan petani sejahtera,” tutupnya.

Adapun berkaitan dengan persoalan yang ada saat ini, tambah Mentan, Ditjen TP wajib menyiapkan skema penanganan virus corona dengan menguatkan ketahanan pangan dari desa hingga memasuki pasar di wilayah kota.

“Saya sangat yakin, dengan pengalaman yang kita miliki, negara yang paling resisten terhadap sebuah krisis apa saja, termasuk virus corona adalah sektor pertanian. Jadi, jagalah pertanian kita dengan baik,” tutupnya.

Narasumber : https://www.wartaekonomi.co.id

Kostratani, Momentum Bangkitnya Penyuluhan Pertanian

Kostratani, Momentum Bangkitnya Penyuluhan Pertanian
Kostratani, Momentum Bangkitnya Penyuluhan Pertanian

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Momon Rusmono menegaskan Kementan memiliki tiga program utama dalam mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Salah satunya penguatan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dengan gerakan Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani).

“Ditunjuknya Syahrul Yasin Limpo sebagai Menteri Pertanian adalah momen yang luar biasa. Program utamanya ini merupakan momen untuk bangkitnya lagi penyuluhan pertanian Indonesia,” tegas Momon saat menerima Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) di Kantor Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Jakarta, Senin (9/3/2020).

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi menambahkan dukungan Perhiptani dan seluruh penyuluh pertanian memberikan semangat dan energi untuk pembangunan pertanian Indonesia. Ia meminta agar bersinergi guna menunjukkan kalau penyuluh itu eksis dan bisa membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

Sementara itu, Agus Subagyo, salah seorang oleh anggota Dewan Pembina DPP Perhiptani, menilai Kostratani adalah kesempatan yang harus disempurnakan langkahhya, khususnya dalam menunjukkan kinerja penyuluh dalam pencapaian tujuan pembangunan pertanian.

Penguatan BPP menjadi signifikan karena BPP dengan Kostratani akan menjadi tempat berkumpulnya semua jabatan fungsional di kecamatan.

“Tidak hanya penyuluh saja ada pengawas mutu pakan, analis pasar, medik veterinek, pengendali OPT, dan banyak lagi semua bersinergi meningkatkan pembangunan pertanian langsung di kecamatan,” jelasnya.

Narasumber : https://www.wartaekonomi.co.id

Pesan Mentan kepada Pemimpin Daerah: Berhenti Dulu Politiknya, Pikirkan Perut Rakyat!

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menghimbau para gubernur, wali kota, dan bupati agar memperhatikan ketersediaan pangan yang ada di wilayahnya masing-masing. Kata Mentan, langkah ini penting dilakukan untuk menjamin ketersediaan pangan, mengingat saat ini dunia sedang digoncang wabah virus corona.

“Berhenti dulu politik-politiknya, berhenti dulu dengan status yang dimiliki. Pikirkan perut rakyat dan pastikan pangan mereka tersedia. Saya siap untuk membantu jika kalian (pimpinan daerah) butuh bantuan,” ujar Mentan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Hal itu disampaikan Mentan saat menghadiri Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan di Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (10/3/2020). Menurutnya, dalam situasi seperti ini, semua elemen dan pemangku kepentingan harus turun tangan untuk memastikan pangan nasional aman dan terkendali dengan baik. Terlebih saat ini, perdagangan dunia melorot hingga di angka 17 persen.

Mentan mengatakan, jika ekonomi terus melemah, tidak menutup kemungkinan akan terjadi shut down secara perlahan dan industri-industri di seluruh dunia. Mereka secara serentak akan menurunkan produksi sementara dan bisa mengakibatkan PHK dalam skala besar.

“Persoalan ini yang harus menjadi perhatian kita sebagai pemerintah. Untuk itu, mari kita pastikan perekonomian kecil tetap berjalan dari pasar ke pasar. Meskipun dari data yang kita miliki, beras kita cukup dan yang lain juga cukup,” katanya.

“Kita tidak boleh menambah beban psikologi negara. Jangan biarkan harga cabai naik dari Rp25 ribu menjadi Rp80 ribu,” tambahnya.

Di sisi lain, Mentan mendukung tindakan tegas aparat berwajib untuk memberi efek jera kepada oknum-oknum yang sengaja menaikkan harga dan menimbun bahan pangan.

“Kalo ada penimbunan saya akan minta Pak Kapolri turun tangan. Semua harus turun tangan, jangan biarkan publik panik sehingga terjadi yang namanya panic buying. Yang jelas seluruhnya kita usahakan mulai dari kebutuhan hingga produksi dalam negeri,” tutupnya.

Narasumber : https://www.wartaekonomi.co.id

Di Makassar, Mentan SYL Dorong Pembibitan Ayam Kampung

Di Makassar, Mentan SYL Dorong Pembibitan Ayam Kampung

Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL), mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengembangkan pembibitan ayam kampung dan menghasilkan bibit ayam/day old chicken (DOC). Ke depannya, bibit anak ayam kampung tidak perlu lagi tergantung pasokan dari Pulau Jawa.

“Saya berharap ke depan ada industri pembibitan ayam kampung di Makassar sehingga tidak selalu tergantung dari Pulau Jawa yang dapat mengakibatkan biaya menjadi mahal karena distribusi,” ucap SYL dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/10/2019).

Mentan SYL melakukan kunjungan kerja di Balai Diklat Universitas Muhammadiyah (Unismu), Makassar, Sabtu (26/10). Dalam kunjungan kerja pertama tersebut, Mentan SYL didampingi oleh para pejabat eselon I terkait, termasuk Sekretaris Jenderal Momon Rusmono, Inspektur Jenderal Justan R. Siahaan, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita, Kabadan Litbang Pertanian Fajri Djufry, Kabadan Karantina Ali Jamil, serta beberapa pejabat eselon II lingkup Kementerian Pertanian.

Mentan SYL secara khusus berpesan kepada Dirjen PKH untuk memastikan bidang peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia dalam kondisi aman. “Ke depan, saya ingin mendengar berapa populasi tenak yang sudah dihasilkan atau sudah lahir dan berapa industri pakan yang diciptakan,” tambahnya.

Agribisnis peternakan ayam kampung dan industri pakan ternak yang dikembangkan Unismu ini ditujukan untuk mendidik dan melatih para peternak serta mengembangkan sektor agribisnis yang dapat memperkuat ketahanan pangan nasional. Kegiatan agribisnis ini berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Pada tahun ini, ditargetkan produksi DOC dapat mencapai 2 juta ekor dan ayam siap potong sebanyak 2,4 juta ekor per tahun. Bahkan, tahun berikutnya target tersebut bisa meningkat 100 persen hingga 8,8 juta ekor per tahun.

Sebagai informasi, SYL juga memberikan kuliah umum pada acara Stadium General di Universitas Muhammadiyah (Unismu) Makassar yang dihadiri ribuan mahasiswa. Dalam kuliah umumnya, SYL mengajak mahasiswa berkomitmen dan semangat untuk terus belajar menjadi kunci paling penting dalam meraih kesuksesan. Kegiatan belajar tidak sebatas di kampus, tapi juga melalui jaringan pertemanan.

untuk menyukseskan pembangunan pertanian, SYL menyebutkan peralatan modern saja tak cukup. Para pelaku pertanian pun disebutnya harus memiliki kemampuan adaptasi yang baik. “Startup jadi bagian penting di masa depan. Kalau kau tidak mampu dalam kehidupan digital, maka tunggu saja kematianmu. Mulai sekarang bangun network-mu,” tandas SYL.

Saat ini peternakan ayam kampung milik Kampus Unismu ini memproduksi DOC dan daging ayam segar dengan kapasitas 100.000 ekor. Selain itu, Unismu mengembangkan produksi jagung industri 3.200 ton per tahun, budi daya jagung 20.000 ha per musim tanam atau 240.000 ton per tahun (asumsi panen 2x setahun). Pemasaran komoditas ini difokuskan kebutuhan dalam negeri dan ke depan dimungkinkan akan melakukan ekspor.

Narasumber : https://www.wartaekonomi.co.id

Jumlah Babi Mati di Bali Dekati Angka 3.000 Ekor

Jumlah Babi Mati di Bali Dekati Angka 3.000 Ekor

 

Angka kematian ternak babi di Bali terus bertambah. Hingga kini jumlah ternak babi yang mati di Bali sudah mendekati angka 3.000 ekor.
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, I Ketut Gede Nata Kesuma menjelaskan, hingga kini total babi yang sakit sebanyak 4.107 dan total babi yang mati 2.804 ekor.
“Terbanyak di Badung 903 kasus babi mati, Tabanan 813, Gianyar 379, Buleleng 365, Denpasar 193, Karangasem 75, Klungkung 12, dan Bangli 64. Sementara di Jembrana masih 0 jumlah babi yang sakit atau mati, ini data hingga 5 Maret 2020,”jelasnya lewat whatsapp, hari Kamis.
Menurut nata, ribuan babi yang mati di Bali ini akibat serangan penyakit yang mengarah African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika.
Terkait jumlah babi yang mati di Bali, Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Propinsi Bali mengatakan, data jumlah babi yang mati versi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali tidak sesuai dengan fakta di lapangan. GUPBI Bali menyebut jumlah babi yang mati di Bali saat ini sudah mencapai ribuan ekor.
“Fakta di lapangan sudah lebih dari itu, bisa di atas seribu ekor, dua ribu ekor, lima ribu, atau lebih, kita tidak pernah tahu angka pastinya (babi yang mati), karena peternak kecil di Bali jarang yang melaporkan kematian babinya,”ujar Ketut Hari Suyasa, Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia Propinsi Bali, di Denpasar (21/2/2020).
Terkait tindakan peternak yang membuang bangkai babi ke sungai, Ketut Hari menyebut itu sebagai bentuk rasa frustasi peternak. Selain frustasi karena banyak babinya yang mati, biaya penguburan seekor babi yang mati juga mahal.   “Biaya penguburan seekor babi yang mati cukup mahal mencapai Rp 400 ribu per ekor. Rp 200 ribu untuk membuat lubang yang cukup dalam dan Rp 200 ribu biaya untuk mengangkut babi yang mati ke lokasi penguburan. Jadi biayanya yang dibutuhkan tidak murah. Peternak yang sudah rugi kemudian memilih untuk membuang bangkai babi ke sungai,” ujarnya.

Pembangunan Peternakan Untuk Perkuat Ketahanan Pangan Dan Akselerasi Ekspor

Pembangunan Peternakan Untuk Perkuat Ketahanan Pangan Dan Akselerasi Ekspor
Pembangunan Peternakan Untuk Perkuat Ketahanan Pangan Dan Akselerasi Ekspor

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan bahwa arah pembangunan peternakan dan kesehatan hewan saat ini fokus untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengakselerasi ekspor pertanian. Hal itu dilakukan melalui peningkatan pemanfaatan KUR dan investasi dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern.

“Diperlukan SDM yang tangguh, berintegritas, inovatif dan tanggap akan perubahan dalam pembangunan pertanian,” ungkap Mentan SYL saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Jabatan Fungsional Lingkup Peternakan dan Kesehatan Hewan di Medan, 20/02/2020.

Mentan SYL menegaskan selama lima tahun ke depan fokus utama Kementan adalah pengembangan komoditas strategis melalui peningkatan produksi komoditas utama 7% per tahun, penurunan losses dari 12% menjadi 5%, Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) atau peningkatan ekspor 300%, dan pemanfaatan KUR pertanian Rp. 50 Trilyun per tahun.

Kementan juga menargetkan pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) 7.879 unit pada tahun 2024, penambahan petani milenial berjiwa entrepreneur 500.000 pemuda per tahun, penurunan daerah rentan rawan pangan dari 18% menjadi 10% pada tahun 2024, dan penurunan prevalensi stunting menjadi 14% di tahun 2024.

“Untuk suksesnya pembangunan pertanian, harus dibuat program prioritas, dan fokus dalam pelaksanaanya. Hal ini juga perlu didukung dengan adanya Agriculture War Room (AWR),” kata Mentan SYL.

Terkait strategi pengembangan sapi dan Kerbau, menurut SYL perlu diarahkan pada struktur hulu yakni kearah pembibitan dan pengembangbiakan melalui program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan). Pada tahun 2020 ini Kementan menargetkan adanya akseptor 5,8 juta ekor dan target kelahiran sebanyak 4 Juta ekor.

“Kita juga akan mengusahakan adanya impor betina produktif dan pejantan. Ternak ini direncanakan untuk dibagikan kepada peternak. Dengan program ini, dalam 3 atau 4 tahun ke depan, impor bakalan atau daging kita tidak lebih dari 10% dari kebutuhan nasional,” ungkap SYL.

Hal ini menurutnya merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden untuk segera meningkatan populasi sapi secara nasional dengan memberdayakan peternak lokal.

“Presiden memberikan perhatian terhadap sektor peternakan, dan meminta solusi yang tepat agar kita mampu meningkatkan ketahanan pangan,”tambah SYL.

Terkait dengan hal ini, SYL memerintahkan agar dilakukan persiapan yang baik untuk mekanisme di lapangan, agar apa yang kita targetkan menjadi kenyataan, yakni kesiapan peternak, pakan, pencegahan penyakit, pengendalian pemotongan betina produktif, sampai pemasarannya harus terencana dengan baik.

Strategi Pembangunan Peternakan

Sementara itu, sesuai arahan Mentan SYL, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita terus mendorong gerakan peningkatan tiga kali ekspor atau Gratieks melalui penguatan skala ekonomi dan kelembagaan peternak.

Menurutnya, Kementan akan terus memberikan pendampingan dalam rangka menjaga kontinuitas supply dari peternak guna pemenuhan permintaan pasar, termasuk menjaga komitmen pelaku usaha dalam melaksanakan ekpor komoditas peternakan.

“Kita terus perkuat kelembagaan peternak untuk mengakses informasi, teknologi, permodalan pengolahan dan pemasaran serta mendorong pelaku usaha untuk memiliki sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk penjaminan keamanan pangan produk peternakan di pasar internasional,” jelas Ketut.

Ia juga membeberkan serangkaian kebijakan pendukung, antara lain mendorong pola kemitraan, pengembangan pola integrasi ternak tanaman seperti integrasi sapi-sawit, fasilitasi KUR untuk sektor peternakan sebesar 9,01 Trilyun pada tahun 2020; peningkatan investasi bidang peternakan 3,80 Triliun, pengembangan UMKM sebanyak 700 unit, dan penumbuhan peternak milenial sebanyak 60.000 orang

“Terkait KUR, berdasarkan data Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) per 12 Februari 2020, pemanfaatan KUR bidang peternakan pada bulan Januari 2020 mencapai 0,45 Trilyun atau 5% dari yang ditargetkan untuk bidang peternakan, dan 25% dari realisasi KUR sektor Pertanian,” pungkasnya.

Narasumber : http://ditjenpkh.pertanian.go.id

PT Sierad Produce Percaya Beleid Baru Berdampak Positif Bagi Industri

PT Sierad Produce Percaya Beleid Baru Berdampak Positif Bagi Industri
PT Sierad Produce Percaya Beleid Baru Berdampak Positif Bagi Industri

PT Sierad Produce Tbk. menyatakan pihaknya akan sepenuhnya mengikuti kebijakan yang telah diatur oleh pemerintah mengenai harga acuan daging ayam ras dan telur ayam ras.

Sri Sumiyarni, Corporate Secretary Sierad Produce mengatakan perseroan akan mengikuti beleid karena regulasi tersebut dipastikan berdampak positif bagi industri.

“Perseroan sepenuhnya mengikuti kebijakan yang mengatur harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Kami percaya kebijakan tersebut kedepannya akan berdampak positif untuk industri,” ujar Sri kepada Bisnis.com pada Kamis (27/2/2020).

Emiten dengan kode SIPD ini disebutkan memiliki perencanaan yang matang sehingga kebijakan tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja perseroan.

“Perseroan akan memperkuat lini bisnis yang ada sejalan dengan peningkatan demografi penduduk. Kami juga senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah dan pelaku pasar untuk menjaga stabilitas harga,” jelasnya.

Seperti yang diketahui, Kementerian Perdagangan mengeluarkan Permendag Nomor 7 tahun 2020 yang mengatur harga acuan pembelian di tingkat petani dan konsumen untuk komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras pada pertengahan Februari lalu.

Berdasarkan harga acuan baru, pembelian daging ayam ras beserta telur ayam ras diubah dari Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogramnya menjadi Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogramnya.

Beberapa analis melihat beleid ini merupakan sentimen positif bagi pergerakan laju saham beberapa emiten unggas di pasar modal.

Narasumber : https://market.bisnis.com