Virus AI Masih Menjadi Penyebab Penurunan Produktivitas Unggas di Indonesia

 

Pangan merupakan kebutuhan yang keteraediaannya harus cukup, aman, bergizi dan beragam dengan harga yang terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat. Untuk itu Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian telah menyusun rencana strategis tahun 2015-2019.

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, saat membuka acara seminar nasional kesehatan unggas “Menguak Misteri Penurunan Produktivitas Unggas” yang diselenggarakan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) di Menara 165, Jakarta, mengungkapkan rencana strategis tersebut yaitu swasembada protein hewani asal ternak dalam waktu 2 tahun mendatang yang tidak fokus hanya pada sapi saja, tapi keanekaragaman hewani lainnya seperti unggas, antara lain ayam ras, ayam buras, itik, burung puyuh, dapat dikonsumsi masyarakat. (22/5/2019)

Avian Influenza (AI)

“Penyakit unggas yang paling banyak terjadi dari tahun 2017 sampai 2018 antara lain Avian Influenza (AI) H5N1, AI H9N2, ND (Newcastlr Desease), Pullorum, Salmonellosis, dan penyakit unggas lainnya. Untuk meningkatkan kualitas dan keamanan hasil produk asal unggas salah satunya melalui pembatasan penggunaan antibiotik di Indonesia yang tertuang dalam UU No.18 tahun 2018, dan Permentan No.14 tahun 2017 serta Permentan No.22 tahun 2017 tentang pendaftaran dan peredaran pakan”, ujar Fadjar Sumping.

Virus H5N1 clade 2.1.3 di Indonesia masih menjadi ancaman.

Drh. Charles Rangga Tabbu, dari Departemen Patologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, mengatakan syarat agar ayam dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal yaitu kelompok ayam dalam satu peternakan harus dalam kondisi sehat dengan cara praktek manajemen peternakan yang baik, baik manajemen DOC, pakan, budidaya, kesehatan, pemasaran produk, dan pengelolaan kotoran atau limbah.

Menurutnya, bentuk penurunan produktivitas yaitu pada hambatan pertumbuhan broiler sehingga target produksi tidak tercapai, hambatan pertumbuhan pada pullet yang menyebabkan gangguan pada fase laying, dan gangguan produksi telur pada layer.

Sedangkan dampak penyakit terhadap pertumbuhan dan produktivitas pada broiler yaitu kematian, hambatan berat badan, tingkat keseragaman berat badan yang rendah, peningkatan jumlah ayam yang diafkir, penurunan kuantitas dan kualitas karkas, serta peningkatan konversi pakan.

Sementara itu, Kepala Balai Penelitian Veteriner Badan Litbang Pertanian, Indi Dharmayanti mengungkapkan virus H5N1 clade 2.1.3 di Indonesia masih menjadi ancaman yang serius terhadap populasi manusia. “Virus ini berubah dengan beberapa cara selain mutasi unggas dengan modifikasi genetik dengan pencampuran materi genetik yang berbeda atau reassorment”, tambahnya.

Menurut Indi, sebaran virus influenza di Indonesia terjadi di lingkungan pasar tradisional, peternakan komersil, ayam kampung, beberapa spesies unggas dan mamalia. Virus AI subtipe H5N1 telah mengalami genetic drift dan genetif shift. Virus AI tersebut akan terus berubah, perlu kewaspadaan terutama jika gen donor berasal dari virus AI manusia. “Perubahan predominasi virus H5N1 di Indonesia dan sirkukasi virus baru membutuhkan updating metode, kapabilitas dalam mendeteksi virus dan inovasi tindakan pencegahan pengendalian”, ujarnya.

 

Sumber : http://www.swadayaonline.com

CEGAH AMR, PENGGUNAAN ANTIBIOTIK HARUS BIJAK

seminar “Peningkatan Kesadaran tentang Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba untuk Dokter Hewan Technical Service”

JAKARTA, 08 Mei 2019. Bertempat di Gedung Menara 165 Jl TB Simatupang. Masyarakat diimbau cerdas menggunakan antibiotik untuk mencegah bahaya anti microbial resistance (AMR/resistensi antimikroba). Hal itu harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan one health yang bersifat multisektor dan melibatkan banyak pihak.

“Semua aktor mulai peternakan hingga konsumen, dan dari fasilitas kesehatan ke lingkungan, terlibat dalam kampanye dan penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab,” ujar pengurus Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) Tri Satya Putri Naipospos, dalam seminar “Peningkatan Kesadaran tentang Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba untuk Dokter Hewan Technical Service” di Jakarta pada Kamis (9/5).

Penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab harus dipahami oleh semua orang yang terlibat dalam sektor peternakan. Termasuk dokter hewan yang bekerja di berbagai sektor seperti praktisi, perwakilan dari sektor swasta, terutama perusahaan obat-obatan hewan dan pabrik pakan.

“Ke depan mereka dapat menjadi agen perubahan dalam penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab di tingkat peternakan dan masyarakat veteriner untuk mengurangi risiko resistensi antimikroba di sektor peternakan dan kesehatan hewan” ujar Tri Satya.

Anggota Komite Pengendali Resistensi Antimikroba (KPRA) Kemenkes Hari Parathon menegaskan pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak. Hal ini dijelaskannya dapat membantu mencegah dan mengurangi laju AMR sehingga di masa yang akan datang masyarakat masih dapat menggunakan antibiotik.

Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) dalam paparannya menjelaskan, peran petugas lapangan dalam memastikan pemberian obat yang tepat dan bijak. “Kami selalu mendukung Pemerintah dalam implementasi berbagai peraturan, seperti peraturan terkait pelarangan penggunaan antibiotik untuk imbuhan pakan, juga petunjuk teknis untuk medicated feed,” ungkap Irawati.

Mengakhiri pertemuan Ria berharap paparannya dapat meningkatkan kesadaran dokter hewan technical service tentang penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab. Kemudian mempromosikan kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab profesi dokter hewan tentang penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab di sektor peternakan dan kesehatan hewan.

Terakhir, mendorong dokter hewan untuk menjadi agen perubahan pada penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab di tingkat peternakan dapat tercapai.

seminar “Peningkatan Kesadaran tentang Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba untuk Dokter Hewan Technical Service”

Personel Direktorat Kesehatan Hewan mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Ni Made Ria Isriyanthi menyampaikan bahwa AMR telah menjadi ancaman global bagi kesehatan masyarakat, hewan, dan lingkungan. Berdasarkan studi dari WHO tahun 2014, diperkirakan angka kematian akibat AMR dapat mencapai 10 juta jiwa pada tahun 2050 bila tidak ada pengendalian AMR. Untuk mencegah bertambahnya kerugian dan memperlambat laju AMR ini diperlukan langkah-langkah strategis berbagai sektor kesehatan dan sektor terkait lainnya.

“Pemerintah Indonesia melalui sejumlah kementerian telah mengambil langkah strategis dengan adanya Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (RAN PRA) yang merupakan tidak lanjut dari Rencana Aksi Global” Kata Ria.

Lebih lanjut, Kementan telah melakukan kegiatan peningkatan kesadaran dan pemahaman terkait resistensi antimikroba sejak tahun 2016 melalui kegiatan Pekan Kesadaran Antibiotik sedunia, seminar bagi mahasiswa kedokteran hewan di 11 universitas di Indonesia, seminar bagi peternak unggas melalui sarasehan, Expo dan pameran (Indolivestock, ILDEX dan Sulivec) dengan melibatkan sektor kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan.

“Kegiatan peningkatan kesadaran dan pemahaman terkait AMR juga telah dilakukan untuk para stake holder secara bertahap dari tahun 2017 hingga sekarang” tambah Ria dalam seminar yang diselenggarakan Kementan bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Asosiasi Obat Hewan Indonesia, serta Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) tersebut.(Evi)

Swine fever ails more than just China’s favourite meat, with millions of small farmers, exports likely to suffer

A pig farm in China’s southern Jiangsu province. We can expect a sharp fall in domestic pork production for the coming two years at least, David Dodwell writes. Photo: AP

One of my more shocking journalistic journeys was made in the mid-1980s, visiting a nondescript factory in the heart of Chongqing. I had asked to explore China’s farming industry, but the ministry of foreign affairs had some difficulties in getting me near an actual farm. Instead, this factory processed all of Sichuan’s pig intestines – 300 million a year.

I watched mountains of recently warm intestines stretched along clean metal tables, while one end of each intestine was plugged to a tap in the wall. After their inside walls had been flushed clean, the intestines were wrapped into tidy bundles of 12, put into huge ceramic jars, generously salted and then taken down into underground storage.

From September, when the weather began to cool, the jars would be brought out of cellarage and loaded onto barges down to Wuhan. From there, the jars took the train to Beijing and then the trans-Siberian railway across to Europe. The bosses told me this single factory supplied the great majority of Europe’s sausage casings.

So news that African Swine Fever has swept into China is a big deal, with massive ramifications not just for millions of Chinese pig farmers and the world’s largest consumer market for pork meat, but for industries across the world, whether it is German sausage makers, or Iowan soybean exporters.

The scale of China’s pork crisis is unclear. Most agree it arrived in Liaoning in the north in August last year, perhaps from Russia or Eastern Europe. Routine Chinese official paranoia about admitting a problem or being honest about the details means that it is uncertain, eight months later, just how far the swine fever has spread. Remember the reticence in admitting even the existence of SARS even after it had broken out in Amoy Gardens in Hong Kong?

Police officers and workers in protective suits are seen at a checkpoint on a road leading to a farm where African Swine Fever was detected, in China’s northern Hebei province, in this file photo from February this year. Photo: Reuters

Officials admit it has now reached virtually every province. Han Changfu, minister of agriculture and rural affairs, says there is “a complicated and grim situation”. There are also reports it has spread into Cambodia, Laos, Vietnam, Thailand and Myanmar. Media reports say around 1 million pigs have been slaughtered so far. With a countrywide population of around 433 million pigs (which produce over 700 million pigs for slaughter every year), most expert sources predict an even more massive culling to come. The farm-centred Rabobank predicts that China’s pork output is likely to fall by 20 per cent to 30 per cent over 2019, with herds being cut by up to 40 per cent.

This fall will not just be due to mass culling. With officials anxious to isolate outbreaks, and pig farmers unable to get pigs to market, many are expected to abandon pig breeding. One farmer was quoted as saying he planned to move over to growing strawberries. Meanwhile, Rabobank says there is likely to be a nationwide shortage of pork products amounting to around 4 million tonnes – almost one tenth of China’s annual consumption. Instructions to “let them eat strawberries” will not be swallowed very well.

Given the size of China’s pig farming sector, it is perhaps surprising that African Swine Fever has not arrived earlier. First recorded around 1907 in Kenya, it has been endemic to Africa for over a century, spread by soft ticks through local populations of warthogs, wild boar and bush pigs, which carry the virus, but suffer no symptoms. That perhaps explains Pumbaa’s “hakuna matata” – Swahili for “no worries” – popularised in Disney’s Lion King. But we can leave Disney to deal with that little contradiction.

Swine fever was recorded as spreading to Lisbon in 1957, and is now endemic across Europe, in particular across the former Soviet economies in eastern Europe (135,000 pigs were culled in Romania last year). For pigs, the virus is grim and normally fatal. Within days of developing a high fever, the skin goes purplish. There is discharge from the eyes and nose and bloody diarrhoea. They die within days.

Mercifully, the virus has yet to find a way of leaping across into humans.

While we might think we are lucky that this global pig pandemic has not yet morphed into a long expected human pandemic, the catastrophic economic implications of African Swine Fever still loom large.

Pork is the world’s most widely consumed land-based protein source. We slaughter about 1 billion pigs a year – about 23 million a week – with China, the EU and the US accounting for 85 per cent. We slaughter more chickens (about 60 billion a year) but they do not add up to the same volume of meat as comes from pigs. We slaughter around 300 million cows a year, and even though they produce more meat per cow, pigs still provide more meat in total.

Pork for sale at a supermarket in Beijing. About a billion pigs are slaughtered for meat every year, with China, the EU and the US accounting for 85 per cent. Photo: Reuters

Farmers prefer them because a pig can breed three times a year, and produce litters of six to 12 piglets, which means up to 36 piglets a year, compared with cows bearing one calf a year. Calves need at least a year to reach “slaughter weight”, while piglets are ready for slaughter in six months.

It is this grim arithmetic that has for millennia made pork the meat of choice in China. Clay effigies of pigs have been found in Chinese tombs dating back 8,000 years. But this arithmetic does not work well with the arrival of African Swine Fever. Apart from being fatal to pigs, it has the potential to prove fatal to the livelihood of millions of small farmers across China.

The fever is hard to wipe out because it lives on for so long in pork products (it can live for one month in salami, 140 days in cured Iberian pork and almost 400 days in Parma ham), and because pigs are carried such long distances to capture countrywide price differences.

So for the coming two years at least, we can expect a sharp fall in domestic Chinese production, significant increases in pork imports (Brazil is likely to be a huge beneficiary) and price hikes for all meat products as unsatisfied demand for pork switches across to poultry and beef.

The story for global food security is likely to be sobering, as industrial farming concentrates reliance on a dwindling range of protein sources and a rising world population creates a relentless pressure to supply more meat.

We should give a thought to the debt we owe the pigs that have become our industrial commodities, and recognise the dangers we have created for ourselves in engineering our food in this way.(agribiznetwork.com)

CEGAH RESISTENSI ANTIMIKROBA DI PETERNAKAN DENGAN BIOSECURITY

FAO dan Kementan terapkan Biosecurity untuk cegah resistensi antimikroba di peternakan.

Resistensi Antimikroba masih jadi masalah utama kesehatan di Indonesia, terutama di sektor kesehatan hewan dan peternakan.

Kementan dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) terus berusaha menerapkan aturan biosecurity untuk mengatasi penyakit dan memerangi resistensi antimikroba di seluruh peternakan ayam petelur di Indonesia.

Hal tersebut mendapat dukungan dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Petelur Nasional dalam Musyawarah Nasional PPN di Solo beberapa waktu lalu.

Intervensi biosecurity diklaim terbukti lebih efektif dan murah dalam mencegah ancaman bibit penyakit, khususnya virus flu burung di lokasi peternakan ayam.

Hasil kajian FAO ECTAD juga menyimpulkan bahwa implementasi biosecurity 3-zona secara rutin dan konsisten di peternakan ayam petelur dapat menurunkan penggunaan antibiotik hingga 40 persen dan penurunan penggunaan desinfektan hingga 30 persen.

“Biosecurity 3-zona yang rutin dan konsisten menjadi standar dasar di peternakan ayam petelur untuk menghasilkan produksi telur yang stabil dan aman dikonsumsi masyarakat,” kata James McGrane dari FAO ECTAD dari rilis yang diterima oleh Suara.com

Biosecurity 3-zona merupakan model peternakan yang dibagi menjadi tiga bagian terpisah. Lewat modelan ini, risiko biosecurity terbagi menjadi area luar yang berisiko tinggi (zona merah), area layanan dengan risiko menengah (zona kuning), hingga zona hijau yang bersih dengan akses terbatas.

Akses dari zona merah ke zona kuning memerlukan tindakan mandi dan penggantian pakaian serta alas kaki yang lengkap, sementara akses lebih jauh ke dalam zona hijau memerlukan penggantian alas kaki kedua untuk mempertahankan standar biosecurity.(Evi)

KEMENTAN TEGASKAN FOKUS DI PRODUKSI, PENGAWASAN PENYAKIT DAN PAKAN TERNAK

Pengawasan Penyakit dan Pakan Ternak. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita menyarankan semua pelaku usaha, integrator, peternak mandiri serta seluruh stakeholder berperan aktif mengkampanyekan peningkatan konsumsi protein hewani asal unggas.

“Kampanye ini berekaitan juga dengan harga daging ayam yang sedang turun. Artinya pemerintah dan pelaku usaha harus bisa meningkatkan demand dan mendongkrak harga livebird di farm gate,” kata Diarmita. ungkap ditjenpkh.pertanian.go.id pada Jumat (29/3).

Diarmita menjelaskan, harga di farm gate saat ini menurun sebesar Rp 11.000/kg. Harga ini jauh dibawah harga acuan yang ditetapkan oleh Kemendag dan berlaku sampai 31 Maret 2019, yakni Rp 20.000-22.000/kg.

Sedangkan untuk harga di pasar retail, kata Diarmita, sudah ditetapkan sebesar Rp 36.000/kg. Namun pada kenyataannya, harga di retail saat ini kurang lebih mencapai Rp. 34.000/kg sampai 40.000/kg.

“Artinya terdapat disparitas harga yang cukup signifikan antara harga di farm gate (produsen/peternak) dengan harga di retail (konsumen). Hal ini harus segera ditelusuri penyebabnya oleh pihak yang berwenang,” katanya.

Meski demikian, Diarmita menegaskan bahwa harga yang ditetapkan bukan kewenangan Kementerian Pertanian. Kata dia, Kementan secara tupoksi hanya mengurus produksi dan pengendalian penyakit zoonotik.

“Tugas kami juga melakukan pengawasan pakan yang meliputi penggunaan antibiotik pemacu pertumbuhan atau Antibiotic Growth Promoton (AGP) pada pakan ternak unggas dan hewan lainnya,” katanya.

Kementan Tegaskan Data Produksi DOC Ayam Broiler Valid

Sementara itu, terkait adanya pernyataan beberapa pihak yang meragukan hasil perhitungan data produksi anak ayam umur sehari atau Day Old Chicken (DOC) ayam Broiler, Diarmita meminta agar semua pihak melakukan verifikasi dan konfirmasi agar tidak terjadi kesimpangsiuran.

“Karena data yang dimiliki Kementan seperti populasi Grant Parent Stock (GPS), Parent Stock (PS) dan produksi Day Old Chicken (DOC) Final Stock (FS) merupakan data yang diperoleh dari semua pembibit ayam ras di seluruh Indonesia melalui email,” katanya.

Menurut Diarmita, laporan tersebut diperoleh dari jumlah produksi DOC FS tahun 2018 yang mencapai 3.137.707.479 ekor per tahun atau setara daging ayam sebanyak 3.361.638 ton per tahun.

Dari perhitungan tersebut, rata-rata produksi per bulan sebanyak 261.475.623 ekor, sedangkan untuk produksi DOC FS bulan Januari 2019 sebanyak 268.004.654 ekor per bulan.

Selain itu, pada tahun 2018 Ditjen PKH juga telah menyelesaikan audit populasi GPS yang dilakukan oleh Tim Audit yang terdiri dari Tim Pakar dari Perguruan Tinggi, Praktisi Perunggasan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Tim Audit secara langsung mendatangi kandang-kandang GPS milik semua perusahaan pembibit tanpa terkecuali. Kemudian pada tahun 2019 Ditjen PKH akan melanjutkan Audit ke 48 perusahaan pembibit Parent Stock (PS), sehingga nantinya dapat diketahui berapa jumlah pasti populasi PS ayam ras yang dimiliki pada tahun ini,” katanya.

Dikatakan Diarmita, pengaturan keseimbangan supply-demand daging ayam ras broiler dilakukan untuk perlindungan terhadap peternak, koperasi serta konsumen agar mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif dan berkeadilan.

“Penambahan dan pengurangan produksi ayam ras dapat dilakukan apabila terjadi ketidakseimbangan supply-demand,” katanya.

Adapun untuk perhitungan kebutuhan daging ayam nasional, ujar Diarmita dihitung oleh Tim Analisa Penyediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi yang diketuai oleh Dr. Trioso Purnawarman dengan anggotanya Prof. Dr. Arif Dariyanto, Prof. Dr. Wayan Teguh Wibawan, Ir. Syahrul Bosang, Dr. Ir. Rachmat Pambudy dan Ir. Jafi Al Zagladi yang mewakili Kementerian Perekonomian.

“Perhitungan supplay-demand dilakukan oleh Tim di atas, berdasarkan data jumlah penduduk dikalikan dengan besarnya konsumsi per kapita per tahun yang datanya diperoleh dari data BPS (Badan Pusat Statistik),” katanya.

Selain itu, kata Diarmita, pemerintah juga sudah melibatkan pelaku usaha untuk masuk kedalam Tim Analisa. Langkah ini dilakukan agar kedepanya pemerintah dan pelaku usaha tidak saling menyalahkan. Apalagi dalam pelaksananya, pelaku usaha akan diundang sebagai observer Analisa supply-demand.

“Jadi, pemerintah hanya melibatkan tim analisis yang terdiri dari akademisi dan praktisi, dengan pertimbangan bahwa lembaga perguruan tinggi dianggap netral dan tidak ada konflik kepentingan,” katanya.

Sementara itu, guna memperkuat data perunggasan di Kementan, Ditjen PKH beberapa kali telU melakukan pertemuan antara Tim Analisa dengan para asosiasi perunggasan.

“Berdasarkan catatan kami, pertemuan terakhir berlangsung tanggal 14 Maret 2019, mereka menyampaikan bahwa hasil produksi DOC Final Stock (FS) mencukupi kebutuhan, yang artinya tidak ada over supply,” katanya.

Diarmita menambahkan, sejauh ini Ditjen PKH juga telah melakukan pertemuan koordinasi perunggasan dengan stakeholder terkait, yaitu para assosiasi perunggasan nasional Gopan, PPUN, Pinsar Indonesia, GPPU.

Selain itu, pemerintah juga telah melakikan pertemuan dengan para integrator untuk membahas masalah data perunggasan di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut hampir semua pihak mengakui pencatatan data produksi DOC Kementan yang mendekati angka riil yang ada di lapangan.

Tapi, kata dia, jika ada pihak yang masih meragukan data yang dimiliki Ditjen PKH, pihaknya secara tegas membuka dan menerima masukan yang sifatnya konstruktif.

“Terkait regulasi yang ada, kami sedang mendalami dan melakukan pengkajian ulang untuk kemungkinan dilakukan revisi peraturan perundang-undangan yang nantinya diharapkan dapat menciptakan iklim perunggasan yang lebih kondusif dan permanen. Untuk hal tersebut diharapkan masukan dan saran dari berbagai pihak yang berkompeten terkait perunggasan,” tutup Diarmita.(Evi)

BBLITVET GELAR BIMBINGAN TEKNIS KESEHATAN HEWAN

Bimtek kesehatan hewan untuk membantu meningkatkan kualitas serta mendukung program pemerintah. (Foto: Infovet/Cholill)

Kesehatan hewan. Dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta mendukung program pemerintah seperti Upsus Siwab dan Bekerja, BBLitvet mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) di bidang kesehatan hewan. Kegiatan dilaksanakan di BBLitvet Bogor, Rabu, 27 Maret 2019.

Dihadiri petugas medis dari berbagai unit kerja Kementan di berbagai provinsi, serta internal BBALITVET, kegiatan meliputi tiga aspek, yakni penanganan kesulitan melahirkan (distokia) pada hewan besar melalui cesar, teknologi kesehatan hewan android (TAKESI dan avindig) dan pengendalian penyakit unggas dengan vaksinasi.

Kepala BBLitvet Dr Drh Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, mengatakan bahwa acara Bimtek tersebut merupakan pertama kalinya diselenggarakan. “Bimtek yang sekaligus ada praktik melakukan SC (operasi cesar) seperti ini baru ada di BBLitvet Bogor dan ini juga pertama kalinya buat kita sebagai tuan rumah,” kata Indi. 

Bimtek menampilkan narasumber berkompeten dan expert dalam bidangnya. “Kami mendatangkan Drh Heru Rachmadi dari Lombok yang memiliki jam terbang tinggi dalam menangani gangguan reproduksi pada sapi, juga menghadirkan Drh Abdul Samik, dosen reproduksi FKH UNAIR,” ucap dia.

Pada acara tersebut peserta diajak mendalami tentang aspek reproduksi hewan besar oleh Drh Abdul Samik melalui presentasi yang ringan dan mudah dicerna. Kemudian dilakukan praktik berupa penanganan kelahiran sapi dengan operasi cesar oleh kedua narasumber. 
Drh Heru Rachmadi mengatakan, bahwa mengatasi gangguan reproduksi juga merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan produksi ternak terutama populasi.

“Menurut pengalaman saya, sekitar 1 dari 10 ekor sapi bunting berisiko mengalami distokia, oleh karenanya dibutuhkan skill dari dokter hewan dalam menangani kasus tersebut. Apalagi baik induk maupun pedet adalah aset bagi peternak,” kata Heru.

Mengenal “TAKESI” Kesehatan Hewan

Selain segi teknis, peserta bimtek juga dikenalkan dengan aplikasi TAKESI -Teknologi Android Kesehatan Sapi. Aplikasi berbasis Android ini sudah diluncurkan sejak 2017 dan bisa diakses menggunakan smartphone, kini TAKESI sudah diinstall melalui Google play store oleh 4.500 pengguna.

Pencipta aplikasi tersebut April Hari Wardana, mengatakan bahwa pada aplikasi terdapat empat fitur, yakni fitur penanganan masalah kesehatan untuk sapi indukan, fitur penanganan masalah kesehatan untuk sapi anakan, fitur manajemen sapi dan fitur kontak ahli. Pada fitur manajemen sapi, pengguna aplikasi bisa mendapatkan informasi bagaimana menata kandang sapi yang baik hingga penanganan anak sapi yang baru lahir, penanganan induk yang baru melahirkan hingga kebutuhan pakannya.

Sedangkan untuk fitur penanganan kesehatan anak sapi berisi tentang informasi mengenai penyakit yang kerap menyerang anak sapi hingga program imunisasi. Sementara pada fitur penanganan kesehatan pada induk sapi, peternak bisa mengenal dan mengetahui rupa-rupa penyakit pada organ reproduksi. Menurut April, pengguna aplikasi tidak hanya mengetahui jenis masalah kesehatan pada sapi. Tetapi juga diajarkan bagaimana penanganan pertama sebelum tindakan dokter.

April mengaku cukup kesulitan dalam mendapatkan koleksi foto saat aplikasi diluncurkan. Sebab, para dokter hewan di lapangan kurang memiliki koleksi foto. Kesulitan lain, yakni terbatasnya jumlah dokter hewan. Beberapa dokter hewan merasa tidak percaya diri menjadi kontak dokter ahli dalam aplikasi tersebut.

“Untuk mengatasi hal itu, tiap dokter ahli di lapangan kami mintai dokumen foto saat menangani kasus penyakit pada sapi. Sedangkan, untuk fitur kontak dokter ahli belum bisa ditemukan di tiap kota, hanya di Sulawesi, Lampung, Jawa Barat dan Jawa Timur,” tukasnya. (CR/http://www.majalahinfovet.com)

OPENING CEREMONY JAKARTA PRT SHOW 2019

OPENING CEREMONY JAKARTA PRT SHOW 2019

JAKARTA, 22-24 Februari 2019. Bertempat di JIExpo Kemayoran Jakarta.  Untuk pertama kalinya petlovers di Jakarta dimanjakan dengan hadirnya Jakarta Indonesia Pet Show (JIPS) 2019, yang di gelar di Hall B1, B2, B3 dan C3 Jiexpo Kemayoran dengan tema “Your Pet Deserve the Best Care and Good Walfre”.

Pada pembukaan yang digelar pada 22 Februari 2019 di center stage, drh Muhammad Munawaroh MM selaku ketua umum PDHI memberikan sambutannya, “saya memberikan penghargaan kepada seluruh panitia penyelenggara beserta semua tim pendukung yang telah berusaha sebaik-baiknya untuk menyelenggarakan pameran yang unik ini.”

Lebih jauh Munawaroh juga menyampaikan, “pameran seperti ini perlu diselenggarakan karena terkandung unsur edukasi. Pameran ini memberikan wawasan yang luas kepada masyarakat atas bermacam jenis hewan kesayangan dengan jenis-jenis keturunannya, bagaimana memelihara mereka dengan baik dan benar, tidak hanya cara penangan khusus bila hewan kesayangan kita memerlukan perawatan yang melibatkan rumah sakit hewan.”

Sementara sambutan dari panitia penyelenggara diwakili oleh Agung Wicaksono dari Mavic. “Dalam pameran JIPS 2019, pengunjung akan dipertemukan dengan berbagai pihak, mulai dari industri hewan kesayangan, komunitas pencinta hewan, dokter hewan, klinik dan rumah sakit hewan, petshop, assesoris, salon hewan, serta para penyedia pakan obat-obat hewan, semuanya dipertemukan di satu lokasi.”

Para petlovers juga diperbolehkan membawa hewan kesayangannya sambil menikmati pameran. Untuk menjamin kesehatan hewan/satwa yang dibawa masuk ke area pameran, para dokter hewan professional akan menyambut petlovers beserta hewan kesayangannya untuk melakukan pemeriksaan di pintu-pintu masuk area pameran. “Senang sekali akhirnya ada event besar untuk penyayang hewan yang hadir di Jakarta, kita pun bisa sekaligus mengenal banyak komunitas penyayang hewan,” Ujar Tibuana Mahardika pengunjung dari Bekasi.

Di dalam hall pameran, petlovers juga disuguhi dengan banyaknya booth yang menawarkan bebagai macam perlengkapan untuk hewan kesayangan, mulai dari makanan, hingga obat-obatan, serta petlovers juga bisa lebih dekat dengan berbagai jenis spesies hewan dari komunitas yang ikut serta dalam pameran kali ini dan mendapat edukasi bagaimana cara merawatnya dan Berbagai pameran dan kontes yang tersedia semakin memanjakan para pecinta hewan kesayangan seperti Dog show, Cat Show, Rabbit Show, Sugar Glider Show, Reptile and Amphibia Show, Tarantula Show, Parrots Show, Otters Show, Hedgehog Show, Civet show, Rabbit Show, Oriental Chicken show & Horse World. Ada juga Fun Games and Pets Contest, Seminar, Workshop dan Talkshow. (Achmad)

Ceva Perkenalkan Teknologi Vaksin Terbaru

Vectormune® ND yang menjadi langkah tepat untuk mengatasi Newcastle Disease di Indonesia, siap dipasarkan tahun depan

Kemajuan teknologi di industri peternakan semakin pesat. Ceva sebagai global leader di hatchery vaksinasi tidak mau ketinggalan. Tahun ini, Ceva luncurkan inovasi teknologi vaksin terbaru bagi industri perunggasan. Teknologi ini akan merevolusi cara vaksinasi di farm.

Edy Purwoko, Country Manager PT Ceva Animal Health Indonesia dalam sambutannya pada seminar yang diselenggarakan di The Sultan Hotel , Jakarta (3/7/18) mengungkap¬kan teknologi vaksin baru ini sudah dipasarkan di berbagai negara. Bahkan tahun 2017 lalu, Ceva berhasil menjual tidak kurang dari 22 miliar dosis di seluruh dunia, atau 54 % produk teknologi vaksin baru yang ada di seluruh peternakan ayam di dunia disuplai oleh Ceva.

Tak hanya teknologi vaksin baru, Ceva juga memperkenalkan peralatan hatchery automation, yang dibawa oleh Ecat.ID yang merupakan anak perusahaan Ceva. Kepada pengunjung pameran Indolivestock 2018 Expo & Forum yang diselenggarakan di Jakarta pada 4-6 Juli lalu, Ceva memperkenalkan peralatan Egginject (vaksinasi in-ovo) dan Laser Life.

Dikatakan Edy, hatchery automation ditujukan untuk meningkatkan efisiensi. Membantu produsen untuk menghasilkan anak ayam lebih banyak dengan kualitas lebih baik, dan yang terpenting adalah dapat mengefisiensikan biaya produksi. “Ceva akan senantiasa berupaya dampingi pelanggan dalam meng¬hadapi perkembangan industri peternakan dengan semua inovasi yang dimiliki,” pungkas Edy.

Turut berbicara Veterinary Service Manager Ceva Indonesia Ayatullah M Natsir. Dikatakannya inovasi yang dilakukan Ceva adalah berdasar¬kan hasil monitoring dan evaluasi di lapangan. Hal ini membawa Ceva kepada inovasi yang lebih baik.

“Ceva berkomitmen untuk terus berinovasi tidak hanya produk saja tapi juga servis. Servis yang diberikan mulai dari hatchery hingga farm,” tutur Ayat. Sehingga solusi yang kami tawarkan adalah solusi yang lengkap.

Vektor Vaksin

Berbicara mengenai vaksin, Ceva meng¬hadirkan Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM Widya Asmara. Ia menyampai¬kan secara umum vaksinasi bertujuan untuk mencegah penyakit, mengurangi patogenesis, mempersingkat waktu pemulihan, menu¬runkan mortalitas, mengurangi transmisi agen di kandang dan sebagainya.Untuk itu, produk vaksin harus aman, memiliki efikasi dan protektivitas bagus, dan secara ekonomi menguntungkan karena dapat melindungi dalam jangka waktu yang lama.