WASPADA HAMA PEMBAWA PENYAKIT PADA HEWAN DAN MANUSIA


Untuk menekan anggapan yang kurang baik itu dan mencegah ternak maupun pekerjanya terjangkit penyakit, maka sudah sepatutnya pengusaha peternakan rutin dan kontinu menjaga kebersihan lingkungan, termasuk pengendalian hama.

Kata hama memang sering didengar utamanya di sekitar peternakan. Namun masyarakat termasuk peternak belum banyak mengetahui kehidupan maupun bahayanya. Padahal ini sangat penting untuk meminimalisir masalah yang timbul di kemudian hari. Diperlukan Integrated Pest Management yang merupakan strategi bijaksana dengan menggunakan berbagai macam metode seperti fisika, mekanika, kimia, biologi, kebiasaan dan penyuluhan untuk menanggulangi hama dengan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Menurut Aardwolf Pestcare (2006), hama merupakan makhluk hidup yang keberadaannya mengganggu/merugikan kehidupan manusia. Kehadiran hama akan mengakibatkan kerusakan, gangguan, timbulnya penyakit, terjadinya hal yang bertentangan dengan peraturan dan rasa takut. Sedangkan New York State Agriculture & Markets (2006), menyebut 33% penyebab kerusakan oleh hama dialamatkan pada serangga dan tikus.

Hama pun dikelompokan menjadi empat macam yaitu, 1) Disease Bearing Pests/Vector (lalat, nyamuk, kutu, tikus). 2) Stored Product Pests (kecoak, kumbang, gegat tepung Indian). 3) Structural Pests (semut kayu, tawon kayu, rayap). 4) Wildlife Intruders (tikus, burung pembawa hama, ular, cicak).

Berdasarkan masa aktifnya hama dikelompokkan menjadi, 1) Diurnal Pests yang aktif diwaktu siang, seperti lalat, nyamuk dan semut. 2) Nocturnal Pests yang aktif di malam hari, diantaranya tikus, kecoak, nyamuk Culex, nyamuk Malaria, cicak dan ular.

Mengapa Ada Hama?
Pentingnya mengetahui mengapa hama bisa sampai berada di lingkungan agar dapat melakukan pencegahan di titik-titik yang memberi peluang datangnya hama. Berdasarkan hasil pengamatan mendalam, ternyata hama hadir karena tersedianya air, makanan, lingkungan yang hangat, hingga menjadi tempat singgah (shelter) yang nyaman. Hama bisa datang sendiri (self entry) atau terbawa alat transportasi (lihat Bagan 1).

Bagan 1: Faktor dan Akses Masuknya Hama
 

Untuk memutus lingkaran penyebab hadirnya hama di lingkungan (rumah, kandang/farm, gudang dan lain sebagainya), maka perlu secara disiplin dalam menjaga lingkungan (bersih dan rapih), membiasakan diri membuang sampah/ceceran makanan atau pakan ternak pada tempatnya, kemudian memelihara alat monitoring (alat deteksi hama) dan menutup akses masuknya hama (pintu, jendela, plafon, lubang angin, saluran dan lain-lain).

Mekanisme Penularan Penyakit Melalui Hama
Hewan/manusia berperan sebagai induk semang (host) dari bakteri patogen yang menular bisa melalui gigitan vektor yang dapat menyebabkan penyakit. Oleh karena itu hewan yang berperan sebagai induk semang maupun vektor, perlu dihambat akses masuknya dan dibasmi perkembangbiakannya.
Bagan 2: Berbagai Elemen Penularan Penyakit
 
Cara Pengendalian Hama
• Lalat. Pengendalian bisa dilakukan untuk area luar dengan cara pengumpanan, hot fogging, spraying. Sementara untuk area dalam bisa dilakukan sparying alkohol 70% dan memasang AFC (Aardwolf Fly Catcher/alat penangkap lalat).
• Tikus. Untuk area luar dengan cara meracuni dengan kotak ATRB, teknologi antikoagulan (anti pembekuan darah tikus) yang mematikan dalam tiga hari. Untuk anak tikus bisa dengan menggunakan lem atau perekat untuk tikus.
• Semut. Pengendalian untuk area luar menggunakan penyemprotan peptisida. Untuk area dalam menggunakan penyemprotan alkohol 70%, menutup akses memakai sealant, menyedotnya memakai vaccum atau memasang perangkap lem.
• Nyamuk. Pengendalian bisa dilakukan dari area luar dengan hot fogging, spraying peptisida dan larvacide. Untuk areal dalam dengan cold fogging (khusus kantor) dan memasang AFC (alat penangkap nyamuk dan lalat).
• Kecoak. Pengendalianya bisa dengan melakukan pengasapan dan penyemprotan peptisida. Untuk areal dalam dengan cold fogging, pemberian umpan racun, penyemprotan alkohol 70%, penyedotan memakai vaccum atau memasang perangkap lem.
• Burung liar. Untuk area luar memasang kawat burung di lubang-lubang yang memungkinkan burung masuk dan untuk areal dalam memasang jaring perangkap burung liar.
• Rayap dan Tawon. Pengendaliannya bisa dilakukan penyemprotan dengan larutan soda api atau dengan larutan anti rayap.
Karena itu, keberadaan hama tidak bisa dianggap remeh karena dapat menimbulkan kerusakan, kerugian, gangguan kesehatan dan lain sebagainya.
Cara penanggulangan hama yang paling baik adalah dengan mencegah hama masuk melalui akses dan meminimalkan ketersediaaan air, makanan dan tempat tinggal bagi hama.
Kebersihan dan kebiasaan yang baik (membuang sampah pada tempatnya, mencuci bekas pakan/minum, mengepel lantai dan lain-lain) sangat membantu untuk mengurangi hama. Sebab, mencegah lebih baik dan lebih murah dari pada mengobati. ***
Ditulis oleh:
Ir Sjamsirul Alam
Praktisi peternakan, alumni Fapet Unpad

PENGEMBANGAN AYAM AFRIKA SUB SAHARA YANG TAHAN PENYAKIT, LEBIH TANGGUH DAN PRODUKTIF

Para ilmuwan telah mengidentifikasi gen yang dapat dikaitkan dengan resistensi terhadap penyakit unggas yang dapat meningkatkan kesehatan, produktivitas, dan ketahanan ayam di Afrika sub Sahara.

Temuan itu dapat membantu membatasi kejadian penyakit IBD, Marek, fowl typhoid, dan infeksi parasit seperti Eimeria.

Studi menunjukkan gen yang terkait dengan sifat-sifat penting, seperti produktivitas dan ketahanan penyakit, serupa pada dua populasi ayam dari lingkungan yang berbeda di Ethiopia.

Ini adalah pertama kalinya para peneliti secara kolektif mempelajari data genetik dari ayam Afrika yang diketahui berbeda secara genetik meskipun berasal dari spesies yang sama.

Para ilmuwan menganalisis lebih dari 700 ayam dari desa-desa di dua wilayah berbeda di Ethiopia. Beberapa berasal dari dataran tinggi, daerah lembab, sementara yang lain berasal dari dataran rendah, wilayah gersang.

Mereka mempelajari seluruh susunan genetik ayam untuk mencari variasi umum yang terkait dengan sifat tertentu.

Para ilmuwan menyimpulkan dengan keberhasilan penelitian, kumpulan data genetik yang lebih besar dapat digunakan untuk penelitian guna mempercepat seleksi genom.

Studi yang dipublikasikan di Frontiers in Genetics ini, melibatkan para ilmuwan dari Center for Tropical Livestock Genetics and Health partner the Roslin Institute, SRUC dan International Livestock Research Institute, dan didanai oleh UK Research and Innovation’s Biotechnology and Biological Sciences Research Council, pemerintah Skotlandia dan CTLGH. (Sumber thepoultrysite.com)

HATN 2020: GIZI AYAM DAN TELUR TINGKATKAN IMUNITAS


Melalui webinar pada Kamis (15/10/2020), Ketua Pusat HATN, Ricky Bangsaratoe, menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat perunggasan yang mendukung acara tersebut.

“Terima kasih kepada instansi, asosiasi, masyarakat maupun peserta webinar yang mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” ujar Ricky dalam sambutannya dihadapan 435 peserta.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK DKI Jakarta, Fery Farhati. “Kegiatan HATN ini baru pertama kali saya dengar padahal sudah berjalan bertahun-tahun. Ini sangat baik sekali pesannya, saya berikan apresiasi tertinggi bagi acara ini, khususnya disaat kita sedang berjuang melawan pandemi tetapi kita masih tetap produktif,” katanya.

Ia berharap ke depannya kegiatan ini bisa menambah warna bagi tata niaga, edukasi dan informasi pangan bergizi yang aman khususnya daging dan telur ayam.

Sementara, Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia, Singgih Januratmoko, yang turut hadir membuka acara menyampaikan bahwa pentingnya menjaga imunitas tubuh di era pandemi COVID-19 saat ini.

“Ini menjadi momen kita masyarakat perunggasan. Semoga kegiatan ini selalu memberikan manfaat sekaligus mendorong peningkatan konsumsi ayam dan telur,” ucap SInggih.
 
Pembukaan oleh Ricky Bangsaratoe, Singgih Januratmoko dan Fery Farhati. (Foto: Dok. Infovet)


Daging Ayam dan Telur Sehat

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Suharini Eliawati, yang menjadi narasumber pada webinar kali ini, menyampaikan pentingnya menyediakan daging ayam yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal) untuk menjamin kesehatan masyarakat.

“Aman tidak mengandung bahaya biologis, kimiawi dan fisik yang dapat menggangu kesehatan masyarakat. Sehat yakni mengandung nutrisi yang baik untuk kesehatan. Utuh tidak dikurangi atau dicampur dengan bahan lain. Halal dengan disembelih dan ditangani sesuai syariat agama islam,” jelas Suharini.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan beberapa kebijakan dalam industri perunggasan di DKI Jakarta. Diantaranya relokasi pelaku usaha penampungan dan pemotongan ayam ke rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) milik pemerintah, penyediaan juru sembelih halal (Juleha) yang terampil dan tersertifikasi, pemeriksaan ante dan post mortem, penerapan higiene sanitasi dan sistem rantai dingin, serta pengawasan kesehatan masyarakat veteriner (Kesmavet) dan sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) pada unit usaha pemotongan dan penjualan ayam.

“Saat ini kita sudah memiliki sekitar sembilan RPHU yang memiliki SK gubernur, kemudian menyediakan Juleha yang terampil dan tersertifikasi sebanyak total 269 orang dan sertifikasi NKV yang menjadi poin penting pelaku usaha menyediakan daging ayam yang sesuai kaidah kesehatan dan syariat islam,” paparnya.
 
Narasumber webinar Suharini Eliawati, Gunawan Budi Utomo dan Rakhmat Nuriyanto, dipandu oleh Duta Ayam dan Telur 2018-2021, Ovie (kiri atas). (Foto: Dok. Infovet)


Sebab dengan mengonsumsi pangan yang sehat dan bergizi dari daging dan telur ayam, mampu meningkatkan imunitas tubuh khususnya di era pandemi COVID-19. Hal itu disampaikan Drh Gunawan Budi Utomo dari FAO ECTAD Indonesia.


“Cukupkan konsumsi protein nabati dan hewani, cukupkan asupan vitamin C, kurangi asupan gula, lakukan aktivitas fisik, dapatkan sinar matahari pagi dan selalu happy thinking atau berpikir bahagia,” kata Gunawan.

Dijelaskan bahwa tubuh manusia membutuhkan nutrisi esensial dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral yang seimbang agar imunitas dalam tubuh terbangun dengan baik. Namun perlu kehati-hatian dalam memilih pangan asal hewan, sebab mudah terkontaminasi kuman atau mudah rusak (perishable food).

“Untuk itu pilihlah daging ayam dari RPHU yang sudah tersertifikasi. Karena pemotongannya mengedepankan higiene dan sanitasi, menerapkan ASUH, serta menerapkan rantai dingin,” jelasnya.

“Keunggulan daging ayam yang ASUH dalam rantai dingin ini dikemas dengan bahan yang aman (food grade) untuk menghindari kontaminasi kuman penyakit, melalui pendinginan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan mempertahankan kesegaran daging, serta memiliki jaminan NKV dan logo halal dari MUI.”

Selain memberikan imunitas bagi tubuh, mengonsumsi daging dan telur ayam juga menguatkan dan mencerdaskan otak sebagaimana disampaikan Drh Rakhmat Nuriyanto dan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).

“Seperti pernah disampaikan UNICEF, perbaikan gizi yang didasarkan pada pemenuhan protein hewani memiliki kontribusi 60% pertumbuhan ekonomi negara maju. Karena itu, mari bersama tingkatkan kampanye kita terhadap konsumsi daging dan telur ayam untuk menguatkan dan mencerdaskan bangsa,” kata Rakhmat.

Kemeriahan HATN 2020
Selain menggelar webinar seputar informasi pentingnya mengonsumsi daging dan telur ayam, kegiatan HATN tahun ini juga menampilkan demo memasak ayam dan telur oleh Celebrity Chef, Eddrian Tjhia.
 
Demo memasak oleh Celebrity Chef, Eddrian Tjhia. (Foto: Dok. Infovet)


Selain itu, untuk meningkatkan kesehatan gizi masyarakat, para donatur dalam HATN menyumbang sebanyak 1.000 daging dan telur ayam yang dibagikan secara gratis, juga pemberian doorprize bagi para peserta webinar dan pemberian penghargaan bagi tiga Youtuber terpilih dengan tema “Menu Ayam dan Telur”.


Adapun Juara III diberikan kepada Dapur Kadeena dengan judul video “Cara Memasak Ayam Kecap Pedas Manis Mudah dan Praktis” dengan hadiah satu buah mixer. Juara II diraih Abu Tosca dengan judul “Resep Olahan Tahu dan Telur Cocok Banget Buat Anak Kost” dengan hadiah berupa rice cooker. Juara I diberikan kepada Kreasi Dapur Asih dengan judul “Terong dan Telur Dibikin Lauk? Enak Banget Wajib Dicoba” mendapat hadiah berupa microwafe.

Rangkain kegiatan HATN dan peringatan WED 2020 puncaknya akan diselenggarakan di Samarinda, Kalimantan Timur pada 27-28 Oktober 2020. (RBS)

AYAM SEHAT BERKAT AIR MINUM BERKUALITAS

Tidak bisa dipungkiri bahwa air adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup, termasuk ayam. Air menjadi salah satu titik kritis dalam aspek pemeliharaan seperti halnya pakan. Oleh karena itu dibutuhkan trik tertentu dalam menjaga kualitas dan kuantitas air minum.

Semua orang pasti setuju bahwa ungkapan air adalah sumber kehidupan adalah benar. Bayangkan jika dalam sehari saja makhluk hidup tidak minum, tentunya akan terjadi dampak buruk bagi kesehatan.

Secara fisiologis, air berfungsi sebagai media berlangsungnya proses kimia dalam tubuh ayam. Selain itu, air juga berperan sebagai media pengangkut, baik mengangkut zat nutrisi maupun zat sisa metabolisme, mempermudah proses pencernaan dan penyerapan ransum, respirasi, pengaturan suhu tubuh, melindungi sistem syaraf maupun melumasi persendian. Hampir semua proses di dalam tubuh ayam melibatkan dan memerlukan air.

Oleh karenanya kualitas dan kuantitas air minum harus terjaga. Kendati demikian, sebenarnya berapa banyak ayam minum dalam sehari? Tabel berikut bisa menjadi jawabannya.

Tabel 1. Kebutuhan Air Minum Ayam/Hari (Liter/1.000 ekor) pada Suhu 21° C

Umur (Minggu) Kebutuhan Air Minum (Liter)
1 65
2 120
3 180
4 245
5 290
6 330

Sumber: Poultryhub.com 2017.

Tabel 2. Kebutuhan Air Minum Layer (liter/1.000 ekor) pada Suhu 21° C

Fase Produksi Umur/Perkiraan Produksi Kebutuhan Air Minum (Liter)
Pullet 4 Minggu 100
12 Minggu 160
18 Minggu 200
Laying Produksi telur 50% 220
Produksi telur 80% 270

Sumber: Poultryhub.com 2017.

Konsumsi air minum ayam dapat menjadi indikasi kesehatan, juga sebagai indikasi baik/buruknya manajemen pemeliharaan. Ketika konsumsi air minum turun, maka peternak harus segera mengevaluasi kemungkinan penyebabnya. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, misal ayam sedang terinfeksi penyakit, kondisi lingkungan kandang terlalu dingin, jumlah dan distribusi tempat minum tidak merata, tempat minum kotor, kualitas air buruk terutama terlihat dari fisik air dan lain sebagainya.

Masalah Kuantitas dan Sumber Air

Pada musim kemarau mungkin peternak akan menghadapi masalah terkait dengan air minum, yakni… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2020) (CR)

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/

PACU KINERJA PERTANIAN SUKABUMI, MENTAN PERKUAT AKSELERASI HULU HINGGA HILIR

Pertanian merupakan salah satu sektor yang berpotensi besar terhadap perekonomian masyarakat Kabupaten Sukabumi.

Sebagai salah satu daerah penghasil pangan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, berharap agar akselerasi pertanian di wilayah yang terletak dibagian selatan Jawa Barat ini dapat digarap dari hulu hingga hilir.

“Pertanian terbukti menjadi sektor yang paling mampu bertahan di tegah pandemi covid 19, dan saya harap kinerja ini mampu memperkuat akselerasi pertanian dari hulu hingga hilir, sejauh ini ketahanan pangan di Sukabumi cukup terjamin cukup baik, hanya akselerasinya yang harus kita terus bangun dan jaga,” jelas Syahrul saat meninjau lokasi Peternakan Kambing, Domba dan Sapi di Yayasan Adzkia, Desa Sukaresmi, Cisaat, Sukabumi – Jawa Barat.

Syahrul berharap petani Sukabumi dapat mengembangkan usaha taninya secara komprehensif dari budidaya (on farm) hingga pengolahan dan pemasaran (off farm).

Hal ini sekaligus sebagai upaya dalam menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah sehingga berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani di wilayah tersebut.

“Saya harus pastikan proses korporasi dari on farm hingga off farm diberbagai wilayah terkoneksi dengan kuat, kita tidak mau petani sudah lelah menanam, kemudian tidak tau siapa yang harus menyerap, siapa yang harus membeli,” terang Syahrul.

Ia mengatakan persoalan pangan adalah persoalan yang perlu dikerjakan secara bersama – sama.

“Kita harus sama – sama kerja di lapangan, ada pemda, kelompok tani, kementerian, BUMN dalam hal ini Bulog, semua harus sinergi untuk kesejahteraan petani,” katanya.

Sebagai informasi, Sukabumi tercatat memiliki luas lahan baku sawah 56.782 ha, yang sebagian besar lahannya ditanami komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai.

Dari luas panen padi di Sukabumi yang mencapai 93.378 ha pada tahun 2019, wilayah ini mampu memproduksi padi hingga 468.764 ton GKG atau setara 268.930 ton beras.

Saat ini Kementerian Pertanian tengah mengejar produksi pangan terutama beras lewat 5,8 juta ha lahan yang ditanami pada musim tanam II tahun ini.

Syahrul menambahkan, proses produksi yang berjalan ini membutuhkan penyerapan produksi beras secara masif, hal ini penting agar kestabilan harga selama masa panen tetap terjaga dan kesejahteraan petani meningkat.(*)

Sumber : https://www.beritarayaonline.co.id/

PANDEMI COVID-19 BUKAN PENGHALANG BAGI HATN DAN WORLD EGG DAY 2020

Konferensi pers menuju peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) serta World Egg Day 2020 digelar via daring Senin (12/10). Kedua acara tersebut sudah menjadi kalender rutin di kalender peternakan Indonesia sejak 2011. Pada tahun tersebut beberapa wilayah di Indonesia banyak terjadi kasus stunting sehingga dibutuhkan asupan gizi protein agar dapat mengentaskan masalah tersebut.

Pemimpin Redaksi Majalah Infovet sekaligus panitia acara Bambang Suharno menjabarkan bahwa acara tersebut dilatarbelakangi oleh rendahnya konsumsi ayam dan telur di Indonesia yang bahkan konsumsinya lebih rendah daripada rokok.

“Konsumsi rokok masyarakat Indonesia tertinggi di ASEAN, yakni 1300 batang / kapita / tahun atau 3,5 batang perhari. Padahal jika dikalkulasikan 3,5 batang itu bisa membeli 2 butir telur,” tutur Bambang.

Ia juga menyebut sekarang ini banyak beredar berita hoax mengenai ayam dan telur, sehingga masyarakat enggan mengonsumsi ayam dan telur. Selain itu pesaing bagi telur dan ayam dalam konsumsi rumah tangga juga bertambah, pesaing tersebut bernama pulsa atau paket data.

“Oleh karena itu ini merupakan tantangan bagi sektor peternakan Indonesia dimana produksinya berkembang terus, tetapi konsumsinya tidak meningkat secara signifikan,” lanjut Bambang.

Acara ini tentu saja bertujuan untuk meningkatkan konsumsi ayam dan telur di Indonesia. Dimana telur dan daging ayam merupakan sumber protein hewani termurah ketimbang sumber lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa protein merupakan zat pembangun yang juga menjadi komponen utama dalam membentuk sistem imunitas tubuh. Harapannya, konsumsi protein hewani yang seimbang membuat imunitas tubuh bekerja dengan prima dan dapat mencegah agen infeksi  baik bakteri maupun virus masuk ke dalam tubuh.

Secara garis besar acara peringatan HATN dan WED 2020 akan berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya karena wabah Covid-19 yang masih melanda. Tahun ini tidak ada acara pengumpulan massa serta lebih mengedepankan daring melalui webinar, live streaming media sosial, dan publikasi media massa baik radio, media cetak, dan elektronik.

Acara terdekat yakni Webinar bertajuk “Ayam dan Telur Meningkatkan Imunitas” yang akan digelar pada 15 Oktober 2020. Webinar tanggal 15 Oktober ini juga spesial karena juga akan diadakan demo masak oleh chef Eddrian Tjhia. Lalu pada tanggal 27 Oktober acara HATN juga akan dilaksanakan di Samarinda, Kalimantan Timur melalui Talkshow di radio dan Televisi lokal dan kunjungan duta ayam dan telur ke peternak di Kalimantan Timur. Acara seremonial juga akan diadakan pada 28 Oktober yang juga dibarengi dengan webinar dengan tema “Prospek Bisnis dan Upaya Meningkatkan Daya Saing Perunggasan Nasional”.

Panitia berharap agar acara kampanye gizi serupa dapat digelar tidak hanya sekali dalam setahun, tetapi beberapa kali. Selain itu dengan adanya kampanye gizi, masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya konsumsi protein hewani bagi imunitas tubuh dan perkembangan kecerdasan. (CR)

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/

MENYIASATI BAU PADA PETERNAKAN UNGGAS


Mengurangi bahkan menghilangkan bau di peternakan sangat penting untuk kesehatan lingkungan maupun unggas yang dipelihara. Sebelum memulai upaya menghilangkan bau pada peternakan, baik untuk mengetahui penyebab bau tersebut.

Menurut Chastin (2004), bau pada peternakan unggas merupakan campuran gas yang kompleks. Dekomposisi anaerob dari kotoran adalah penyebab yang paling sering menimbulkan bau tidak sedap. Bau yang tercium berasal dari kombinasi 60-150 senyawa berbeda. Beberapa senyawa penting yang menyebabkan bau antara lain volatile fatty acid (VFA), ester, karbonil, aldehid, alkohol, amina dan amonia.

Amonia merupakan gas yang menjadi perhatian utama dalam industri peternakan. Gas ini sangat volatil, dalam artian sangat mudah menguap terutama pada suhu dan kelembapan tinggi. Amonia pada peternakan utamanya berasal dari feses. Peningkatan jumlah amonia dapat disebabkan oleh penumpukan feses dan litter yang basah.

Penumpukan Feses
Feses yang terlalu banyak menumpuk akan meningkatkan kelembapan terutama tumpukan feses bagian dasar. Feses yang menumpuk pada kandang postal broiler harus sesegera mungkin diangkat. Jika diperlukan taburlah sekam yang baru. Perhatikan sekam yang digunakan untuk litter. Sekam tersebut harus kering dan tidak hancur agar dapat menyerap air dengan optimal. Untuk kandang layer diperlukan saluran pembuangan kotoran yang baik agar mempermudah pengeluaran feses dari kandang.

Pemberian beberapa senyawa kimia, herbal, ataupun effective microorganism yang ditemukan dipasaran dapat disebar pada litter untuk membantu mengurangi bau. Senyawa tersebut menghambat penguraian anaerob pada litter ataupun bereaksi dengan senyawa penyebabnya untuk menekan bau.

Litter yang basah disebabkan oleh banyak faktor, antara lain kualitas feses, konstruksi kandang, lingkungan dan manajemen peternakan. Dekomposisi anaerob akan semakin cepat terjadi pada litter basah. Hal ini akan diperburuk dengan suhu dan kelembapan lingkungan yang tinggi.

Masalah penumpukan feses dan keadaan litter yang basah merupakan hal klasik yang selalu terjadi di kandang. Menurut penuturan Jarwadi seorang manajer kandang di salah satu farm kemitraan di Bogor, faktor human error dalam kondisi ini masih besar… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2020) (CR)

FAO INDONESIA ADAKAN “FOOD HEROES FESTIVAL” SEPANJANG OKTOBER

Pandemi global COVID-19 membuat kita menghargai berbagai hal penting dalam kehidupan terutama: Pangan. Pangan merupakan inti dari kehidupan, budaya dan komunitas kita. Mempertahankan akses pada pangan yang aman dan bergizi merupakan respons yang tak terpisahkan saat menghadapi pandemi COVID-19.

Di saat seperti ini kita sadar bahwa kita tidak bisa menikmati makanan yang tersedia meja maka tanpa para pahlawan pangan. Mereka ada di sekitar kita – petani, nelayan, peternak dan pekerja di seluruh sistem pangan termasuk penggerak pangan dan pertanian masyarakat di perkotaan. Mereka mendorong ketangguhan masyarakat dalam memroduksi, mendistribusikan dan mengonsumsi pangan yang sejalan dengan kelestarian lingkungan.

Tindakan kepahlawanan dalam pangan termasuk tindakan sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang. Misalnya dengan melakukan yang sederhana seperti menghargai makanan, membeli produk lokal, bertani di halaman belakang rumah dan menghindari pemborosan makanan.

Dalam rangka Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, FAO Indonesia mengadakan rangkaian kampanye digital, antara lain

Social Media GiveawayYou can be a food hero too! ( 3 – 24 Oktober)

Netizen diminta untuk mempublikasikan foto dan cerita mereka dengan hastagh: #WorldFoodDay #HariPanganSedunia #FoodHeroes.

Pameran Virtual: Pameran virtual untuk menampilkan #pahlawanpangan dalam proyek FAO di Indonesia  (16 Oktober)

Kontes Poster Global: Kontes poster tradisional yang diadakan setiap tahun untuk merayakan Hari Pangan Sedunia. Anak-anak Indonesia termasuk di antara pemenang kompetisi poster global FAO sejak tahun 2015

Food Hero Day: Workshop virtual dan talkshow tentang  #Pahlawanpangan di Indonesia (31 Oktober)

Media dipersilahkan meliput semua kampanye digital melalui media sosial FAO twitter dan IG @FAOIndonesia.

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/

DAGING UNGGAS DISITA DI LITHUANIA KARENA SALMONELLA

Lebih dari 40 ton daging unggas yang diimpor dari Polandia, Hongaria, dan Rumania telah disita dalam waktu 3 bulan oleh State Food and Veterinary Service negara Lithuania karena kemungkinan kontaminasi Salmonella.

Semua produk unggas yang mencapai Lithuania dan mengandung Salmonella telah ditarik dari pasar dan perusahaan yang terlibat menerima sanksi dari inspektur State Food and Veterinary Service karena menempatkan produk unggas yang tidak aman ke pasar.

Baru-baru ini, 3 peringatan publik telah dibuat oleh otoritas Polandia tentang Salmonella dalam produk unggas dan telur. Sebelumnya pada bulan September 2020, Chief Sanitary Inspectorate Polandia mengumumkan penarikan kembali merek fillet ayam beku setelah pihak berwenang Italia menemukan Salmonella Enteritidis, Salmonella Newport, dan Salmonella Virchow pada produk tersebut. Penarikan lain dipicu oleh dugaan Salmonella Enteritidis yang ditemukan di kulit telur dan pada akhir Agustus, Salmonella Enteritidis dalam sekumpulan daging ayam memunculkan peringatan lain.

Sumber poultryworld.net

EPIDEMI AI YANG TERUS BERLANJUT MERUGIKAN EKSPOR UNGGAS RUSIA

Wabah baru flu burung (AI) yang sangat patogen di Siberia berdampak negatif pada ekspor unggas Rusia. Wabah AI telah dilaporkan di 4 wilayah Rusia, kata Albert Davleyev, presiden badan konsultasi Rusia Agrifood Strategies.

Peternak unggas di Chelyabinsk Oblast dan Omsk Oblast tidak diizinkan mengekspor unggas di dalam Customs Union, dan Chelyabinsk Oblast juga kehilangan izin untuk menjual produk unggas ke Cina, kata Davleyev.

Epidemi telah berdampak negatif pada beberapa perusahaan. Perusahaan agrikultur Ravis dan Zdorvaya Ferma, keduanya terletak di Chelyabinsk Oblast, menjual daging ayam broiler ke Cina tetapi terkena pemberlakuan pembatasan ekspor.

Badan kedokteran hewan Rusia Rosselhoznador telah bernegosiasi dengan layanan bea cukai Cina, membahas kemungkinan mengizinkan peternakan unggas Rusia dengan tingkat perlindungan sanitasi tertinggi untuk melanjutkan ekspor. Davleyev menambahkan bahwa bahkan tanpa izin ini, pembatasan ekspor tidak akan terlalu merugikan peternakan yang terkena dampak, karena penjualan mereka ke pelanggan non-Rusia dibatasi hingga 10% dari keseluruhan penjualan.

Pada tahun 2020, peternak unggas Rusia berencana untuk menjual 280.000 ton daging unggas kepada pelanggan non-Rusia, naik 33% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kata Sergey Lakhtykhov, direktur umum serikat produsen unggas Rusia.

Rusia berencana untuk meningkatkan ekspor unggasnya dalam beberapa tahun mendatang, kata Lakhtykhov. Fokus utamanya adalah pada produk unggas halal. Pada 2019, keseluruhan penjualan di pasar unggas halal global bernilai sekitar US $ 1,17 triliun. Rusia hanya menyumbang Rub 34 miliar (US $ 500 juta) dari pasar ini. Rusia memproduksi sekitar 650.000 ton unggas halal per tahun.

sumber : poultryworld.net

INDONESIA BEBAS RABIES 2030

Target Indonesia untuk terbebas dari rabies pada tahun 2030 dalam pelaksanaannya harus didukung perencanaan yang baik. Target per wilayah dan upaya pengendaliannya juga harus dibuat lebih jelas, sehingga dukungan anggaran untuk pengendalian dapat direncanakan dengan tepat.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementan, Nasrullah pada saat membuka acara Webinar Hari Rabies Sedunia dengan tema Vaksin Rabies Oral: Inovasi dalam Pemberantasan Rabies.

Rabies atau penyakit anjing gila masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan di Indonesia. Tercatat delapan provinsi dan beberapa kabupaten serta pulau di Indonesia bebas penyakit ini, sedangkan sisanya masih merupakan wilayah tertular.

“Saya berharap, webinar ini dapat memberikan masukan untuk upaya yang lebih baik dalam pemberantasan rabies di Indonesia ke depan,” ucapnya.

Dalam webinar yang dihadir sekitar 400 orang peserta melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dan disiarkan langsung melalui YouTube tersebut juga hadir Allaster Cox, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Allaster menyampaikan dukungannya untuk berbagai upaya pemberantasan rabies di Indonesia. Ia berharap bahwa dengan program Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP), kerjasama di bidang ketahanan kesehatan di antara kedua negara makin kuat.

Webinar yang diselenggarakan selama hampir tiga jam tersebut menghadirkan berbagai ahli di bidang rabies dan penggunaan vaksin oral rabies baik di tingkat nasional maupun internasional.

Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementan dalam paparannya menyampaikan program dan strategi pengendalian rabies di Indonesia. Ia mengakui bahwa pengendalian rabies di Indonesia masih berhadapan dengan berbagai macam tantangan, namun ia mencatat juga bahwa ada banyak pembelajaran dan kisah sukses pelaksanaan program ini.

“Beberapa wilayah berhasil kita nyatakan bebas dari rabies dengan implementasi program pengendalian dan surveilans intensif. Kita optimistis bahwa dengan dukungan berbagai pihak, khususnya partisipasi masyarakat, target bebas rabies 2030 dapat kita capai” ungkapnya.

Potensi Penggunaan Vaksin Rabies Oral

Sementara itu, Katinka de Balogh, Senior Animal Health and Production Officer, FAO Regional Office for Asia Pacific di Bangkok, Thailand yang mewakili Tripartite FAO/OIE/WHO, menjelaskan tentang situasi rabies dan tantangan yang dihadapi di kawasan Asia. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, kawasan regional juga menghadapi permasalahan yang sama, seperti anjing sebagai penyebab utama penyebaran rabies yang masih dilepasliarkan, keterbatasan sumberdaya, dan masih rendahnya tingkat vaksinasi.

“Ada potensi penggunaan vaksin oral rabies untuk meningkatkan tingkat vaksinasi pada anjing,” tambahnya.

Karoon Chanachai, Development Assistance Specialist, Regional Animal Health Advisor, USAID Regional Development Mission Asia, menyampaikan pengalamannya saat masih bekerja di Pemerintah Thailand dalam proyek percontohan pemanfaatan vaksin oral rabies untuk meningkatkan jumlah dan cakupan vaksinasi pada anjing di beberapa wilayah di Thailand.

Karoon memastikan bahwa pelaksanaan vaksinasi rabies dengan vaksin oral menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Hal serupa disampaikan oleh Ad Vos, Scientific Expert Rabies, Department of Veterinary Public Health, Ceva Sante Animale, yang memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang ini. Ia mencontohkan beberapa percobaan lapangan yang telah dilakukan di beberapa negara selain Thailand, yang menunjukkan bahwa dengan penanganan sesuai standar vaksin oral ini aman dan dapat menimbulkan kekebalan yang diharapkan.

Catatan terkait kemanan vaksin oral rabies juga disampaikan Gyanendra Gongal, Regional Advisor WHO Regional Office for South East Asia (SEARO), yang menekankan pentingnya pemenuhan standar internasional dalam penggunaan vaksin rabies oral.

Dalam ucapan penutupan, Fadjar yang mewakili Dirjen PKH menegaskan komitmen Kementan dalam mendukung target bebas rabies di Indonesia dan global pada tahun 2030, dan menekankan pentingnya mempertahankan daerah bebas serta secara bertahap membebaskan daerah tertular. Ia yakin bahwa masih banyak yang peduli dan mendukung pengendalian rabies, terbukti dengan lebih dari 100 pertanyaan/tanggapan pada dua platform yang digunakan.

“Kita akan gaungkan PReSTaSIndonesia 2030, yakni pemberantasan rabies secara bertahap di seluruh Indonesia dengan target bebas pada tahun 2030,” pungkasnya.

Sumber : (INF/CR) www.majalahinfovet.com

USULAN RUMPUN TERNAK: KAMBING SAANEN BATURRADEN

Kegiatan penilaian ini dilaksanakan dalam rangka memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap rumpun atau galur ternak untuk menjaga kelestarian dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Direktur Jenderal PKH, Nasrullah menyampaikan, 6 proposal yang dinilai pada tahap II ini terdiri dari 4 usulan penetapan rumpun ternak dan 2 usulan pelepasan galur ternak. Usulan penetapan rumpun yaitu sapi Krui dari Pesisir Barat provinsi Lampung, sapi PO Merauke dari Merauke provinsi Papua.
“Ada juga domba Doser dari Deli Serdang, Sumatera Utara dan Kambing Saanen Baturraden dari BBPTU HPT Baturraden. Sementara, untuk usulan pelepasan galur yaitu ayam Arbor Acres Plus (AA+) dari PT. Expravet Nasuba Medan dan ayam Gaosi-1 Agrinak dari Balitnak Bogor,” ungkap Nasrullah.
Nasrullah menerangkan, dalam proses penilaian, tim penilai memberikan tanggapan yang beragam atas paparan dan proposal ternak yang akan ditetapkan sebagai rumpun atau galur ini. Namun, semua tanggapan tersebut mengarah ke hasil yang positif.
“Secara umum tim penilai memberikan apresiasi kepada seluruh pengusul yang memiliki kemauan untuk menjaga kelestarian ternak lokalnya,” imbuh Nasrullah.
Meski hasilnya positif, namun secara umum semua proposal usulan pelepasan galur atau penetapan rumpun ternak ini perlu diperbaiki dan dilengkapi terkait dengan data-data secara kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, perlu penegasan pola pengembangan rumpun atau galur, serta dilakukan uji observasi oleh KP3RGT.
Sebagai informasi, sampai saat ini, rumpun atau galur ternak yang telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian ada sebanyak 83 ternak. Jika tim penilai menerima 6 usulan ini maka nantinya akan ada sebayak 89 ternak yang terdata dan ini akan menjadi pengembangan ternak yang cukup positif.
“Ternak-ternak hasil pelepasan galur atau penetapan rumpun tersebut harapannya akan menambah variasi galur dan rumpun ternak lokal Indonesia serta memberikan pilihan pada pembibit untuk pengembangan lebih lanjut,” jelas Nasrullah.****