Kementan Atur Pelaksanaan Kurban Di Tengah Pandemi

Kementan Atur Pelaksanaan Kurban Di Tengah Pandemi

Pemerintah berupaya menjaga jaminan keamanan dan kelayanan daging kurban dalam pelaksanaan ibadah kurban Hari Raya Idhul Adha 1441 H yang diprediksi jatuh pada 31 Juli mendatang. Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) melalukan peningkatan pengawasan teknis kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner.

Kementan diketahui telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 114 Tahun 2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban. Permentan ini mengatur syarat minimal tempat penjualan hewan kurban, pengangkutan, kandang penampungan dan tempat pemotongan hewan kurban.

“Selain itu, tata cara penyembelihan hewan kurban dan distribusi daging kurban juga diatur sesuai aspek teknis dan syariat Islam,” ujar Dirjen PKH Kementan, I Ketut Diarmita, Selasa (14/7).

Namun pelaksanaan kegiatan kurban tahun ini kemungkinan akan berbeda. Pasalnya kegiatan kurban akan dilaksanakan di tengah situasi wabah pandemi covid-19. Untuk itu, Kementan melalui Ditjen PKH juga sudah menerbitkan Surat Edaran (SE) No.0008 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban Dalam Situasi Wabah Bencana Nonalam Corona Virus Disease (COVID-19).

SE ini mengatur tentang mitigasi risiko atau tindakan untuk mencegah dan meminimalkan penularan covid-19 dalam pelaksanaan kegiatan kurban di tempat penjualan serta pemotongan hewan kurban. SE ini juga mengatur fasilitas pemotongan di luar RPH-R dan di RPH-R.

Mitigasi risiko yang diatur meliputi jaga jarak (physical distancing). Pengaturan jarak minimal 1 meter, jual beli hewan kurban juga disarankan dengan memanfaatkan teknologi online yang dikoordinir panitia. Sedangkan kegiatan pemotongan hanya dihadiri oleh panitia dan distribusi daging dilakukan oleh panitia ke rumah mustahik.

Lalu, pemeriksaan kesehatan awal (screening test) dengan melakukan pengukuran suhu tubuh. Jika ditemukan orang yang memiliki gejala covid-19 dilarang masuk ke tempat yang berkegiatan kurban.

“Diperlukan juga penerapan higiene sanitasi, yaitu petugas yang berada di area penyembelihan dan penanganan daging dan jeroan harus dibedakan. Dan harus disediakan fasilitas CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun)/hand sanitizer,” papar Ketur.

Selain penerapan higiene sanitasi, penerapan higiene personal dengan memakai masker, facehield, sarung tangan juga perlu dilakukan. Selain itu, mencuci tangan, hindari jabat tangan, dan diwajibkan menggunakan alat pribadi (alat sholat, alat makan, dan lain lain) juga harus diterapkan.

Untuk memudahkan pelaporan petugas dan informasi dari daerah, Ketut memastikan akan disiapkan sistem pelaporan kurban secara real-time berbasis web dan terhubung dengan iSIKHNAS.

“Informasi yang dilaporkan terkait kegiatan di lokasi penjualan dan pemotongan yang meliputi aspek kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan,” imbuhnya.
Selanjutnya, tim pemantauan hewan kurban 1441 H telah ditetapkan oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner melalui Surat Keputusan Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Nomor B.19.005/KP.310/F5/06/2020.

Tim terdiri atas 41 orang Dokter Hewan dan Paramedik untuk diturunkan ke lapangan wilayah DKI Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

“Tugasnya melaksanakan koordinasi dengan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner di daerah tugas,” ucap Ketut.

Selain itu, juga ditugaskan untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan teknis kesehatan hewan/kesehatan masyarakat veteriner yang dilakukan oleh oleh pemerintah daerah. Kemudian melaporkan hasil pelaksanaan pemantauan kurban, dan mendokumentasikan pelaksanaan pemantauan kurban.

Adapun kewajiban yang harus diterpkan di tempat pemotongan hewan. Utamanya, daging hewan kurban harus memenuhi persyaratan Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

Sebagai langkah nyata pemenuhan persyaratan tersebut, sejak tahun 2016 Ditjen PKH telah melaksanakan program penataan pelaksanaan kurban nasional. Penataan yang dilakukan melalui fasilitasi lokasi-lokasi pemotongan kurban dengan jumlah besar untuk menjadi percontohan fasilitas dengan persyaratan minimal yang harus dipenuhi untuk melakukan pemotongan hewan kurban.

Hingga tahun 2019, pembangunan fasilitas percontohan pemotongan hewan kurban ini telah terlaksana di 24 lokasi di Provinsi Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah, Banten dan NTB. Rencananya pada tahun 2020 akan dialokasikan di dua Provinsi (Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan), namun dengan kebijakan refocusing anggaran fasilitasi terhadap dua lokasi tersebut ditangguhkan.

Koordinasi dan Sosilisasi

Dalam merumuskan peraturan, Ditjen PKH juga terus melakukan koordinasi. Contohnya pada 4 Juni lalu dilakukan koordinasi mitigasi risiko dan protokol kesehatan covid-19 dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Kementerian Kesehatan.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari semua pihak terkait seperti Dinas Provinsi yang membidangi fungsi kesehatan masyarakat veteriner dan kesehatan hewan Provinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat, BNPB, instansi yang membidangi fungsi kesehatan dan instansi yang membidangi fungsi keagamaan.

Sementara, sosialisasi SE No.0008 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kegiatan kurban dalam situasi wabah bencana nonalam Corona Virus Disease (COVID-19) juga terus dilakukan. Pada tanggal 11 Juni 2020 lalu Ditjen PKH mengadakan webinar yang dihadiri oleh semua pihak terkait.

Webinar sosialisasi kebijakan penyembelihan hewan kurban pada masa pandemi ini juga hasil kerjasama dengan berbagai stakeholder di antaranya Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Askesmaveti) dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH, Syamsul Ma’arif mengatakan, Selain mengadakan webinar, Kementan melalui Ditjen PKH juga memberikan sosialisasi melalui penanyangan infografis di media sosial tentang pelaksanaan pemotongan hewan kurban dalam masa pandemi covid- 19.

Beberapa panduan yang disosialisasikan adalah cara penyelenggaraan kegiatan jual beli di tempat penjualan hewan kurban saat covid-19, panduan pencegahan dan pengendalian covid-19 di rumah potong hewan ruminansia. Serta langkah panduan pelaksanaan kegiatan kurban di fasilitas pemotongan (di Luar RPH).

Adapun pemberian Buku Saku Pelaksanaan Pemotongan Hewan Kurban Dalam Situasi Wabah Bencana Nonalam Corona Virus Disease (Covid-19) sebagai panduan bagi petugas pemantau hewan kurban baik di lapangan.

Di sisi lain, Syamsul mengatakan fokus utama Kementan, khususnya Ditjen PKH dalam pengawasan pemotongan hewan kurban adalah menjamin kesehatan hewan kurban bebas zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia). Proses penyembelihan hewan kurban juga dijamjn memenuhi syariat Islam dan kesejahteraan hewan.

“Serta distribusi daging hewan kurban kepada mustahiq (penerima kurban) juga dijamin memenuhi persyaratan higiene sanitasi dan keamanan pangan,” tambahnya.

Sementara terkait ketersediaan stok hewan kurban, Syamsul menyampaikan adanya penurunan jumlah ternak kurban yang akan dipotong karena dampak pandemi covid-19. Jumlah ternak kurban tahun 2020/1441 H yang akan dipotong secara nasional diprediksi berjumlah 1.802.651 ekor, terdiri dari domba 392.185 ekor, kambing 853.212 ekor, kerbau 15.653 ekor, sapi 541.568 ekor, turun sekitar 3,5 % dari jumlah pemotongan hewan kurban tahun 2019. Penurunan disebabkan karena adanya wabah benca nonalam Corona Virus Diseases (COVID-19).

“Meski turun, ketersediaan stok hewan kurban lokal cukup untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban tahun 2020, jumlah ternak yang tersedia diperkirakan sebanyak 2.163.141 ekor yang terdiri dari domba 470.622 ekor, kambing 1,023,854 ekor, kerbau 18.784 ekor, sapi 649.881 ekor”, tutur Syamsul.

Narahubung: https://ditjennak.pertanian.go.id
Drh Syamsul Ma’arif, M.Si
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner
Ditjen PKH, Kementan RI

Sinergi Kemenkes Dan Kementan Waspadai Virus Flu Babi Baru Dengan Prinsip One Health

Sinergi Kemenkes Dan Kementan Waspadai Virus Flu Babi Baru Dengan Prinsip One Health

Virus Flu Babi Baru G4 EA H1N1 diyakini belum ditemukan di Indonesia, hal tersebut memgemuka pada saat Seminar Online Memahami dan Mewaspadai Ancaman Virus Flu Babi Baru (G4 EA H1N1), kerjasama antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian dengan dukungan USAID.

Dalam seminar online yang diikuti oleh lebih dari 8000 peserta dari berbagai lapisan masyarakat tersebut, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, Achmad Yurianto menyampaikan bahwa tujuan seminar ini adalah untuk mensosialisasikan tentang virus Flu Babi Baru H1N1 (G4 EA H1N1) dalam rangka meningkatkan pemahaman serta kewaspadaan jajaran Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat dalam antisipasi kemungkinan masuk atau munculnya virus Flu Babi Baru di Indonesia.

“Kita harapkan, seminar online ini dapat meningkatkan pengetahuan para tenaga kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, tenaga teknis lainnya, dan masyarakat,” jelas Achmad.

Dalam sambutannya, Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2009, WHO menyatakan Influenza A (H1N1) sebagai pandemi karena terjadinya penyebaran virus ini ke lebih dari 200 negara di dunia, termasuk Indonesia. Namun virus Influenza A (H1N1) yang menimbulkan pandemi tahun 2009 berbeda dengan virus Flu Babi Baru H1N1 (G4 EA H1N1) yang ditemukan oleh ilmuwan Tiongkok.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, I Ketut Diarmita yang meyebutkan bahwa virus Flu Babi Baru (G4 EA H1N1) ini belum pernah ditemukan di Indonesia. Informasi ini didasarkan pada hasil surveilans dan analisa genetik yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Veteriner Kementerian Pertanian, yaitu Balai Veteriner Medan dan Balai Besar Veteriner Wates.

“Hasil surveilans kami menunjukkan bahwa virus Flu Babi yang pernah ditemukan di Indonesia, terbukti berbeda dengan virus Flu Babi Baru (G4 EA H1N1),” jelasnya.

Menurut Ketut, sebagai alat untuk deteksi dini, Kementan dengan dukungan FAO dan USAID telah mengembangkan Influenza Virus Monitoring (IVM) online untuk memonitor mutasi virus influenza sejak 2014. Langkah lain yang dilakukan adalah surveilans berbasis risiko untuk Flu Babi serta karakterisasi virusnya.

“Sebagai langkah kewaspadaan, Kita juga telah membuat Surat Edaran tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Galur Baru Virus Flu Babi H1N1 (G4 EA H1N1),” imbuhnya.

Surat edaran ini tambahnya, mengajak semua pihak terkait untuk meningkatkan kerjasama, mewaspadai, dan menyiapkan rencana kontingensi kemungkinan masuk dan munculnya G4 EA H1N1 di Indonesia.

“Kita terus lanjutkan dan perkuat kerjasama One Health yang sudah berjalan baik dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan koordinasi dari Kemenko PMK,” tegas Ketut.

Sementara itu, Pamela Foster, Pelaksana Tugas Direktur Kantor Kesehatan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Indonesia, menyatakan COVID-19 mengingatkan bahwa kewaspadaan dan kesiapsiagaan adalah kunci.

Amerika Serikat, melalui USAID, menurutnya gembira dapat bermitra dengan Indonesia untuk membangun sistem yang membantu mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman ini.

“Kemitraan ini sangat penting bagi kemampuan kita untuk menghentikan atau meminimalkan dampaknya. Memahami risiko-risiko pandemi menjadi langkah kunci dalam upaya tersebut, dan seminar hari ini sekali lagi menunjukkan komitmen Pemerintah Indonesia terhadap keamanan kesehatan.” pungkas Pamela.

 

Narahubung: https://ditjennak.pertanian.go.id

Dr. Siti Nadya Tarmizi, M.Epid., Direktur P2PTVZ, Ditjen P2P, Kementerian Kesehatan

Drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD., Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian

Ms. Pamela Foster, Pelaksana Tugas Direktur Kantor Kesehatan USAID Indonesia

Temuan Hewan Tak Layak Kurban Jadi Sorotan

Temuan Hewan Tak Layak Kurban Jadi Sorotan

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung terus melakukan persiapan menjelang Hari Raya Idhuladha atau Hari Raya Kurban yang jatuh pada 31 Juli 2020/1441 Hijriah.

Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Lili Mawarti mengatakan ada beberapa temuan kasus di lapangan atau penyimpangan yang ditemukan selama pemantauan. Lokasi pemantauan tersebut dilakukan di lokasi penampungan/lapak penjualan hewan kurban dan di lokasi pemotongan (masjid/musala).

Misalnya, kata dia, di lokasi penampungan atau lapak penjualan masih ditemukan ternak yang belum memenuhi syarat untuk dikurbankan terutama umur ternak. Selanjutnya terinfeksi parasit (skabies) dan radang mata (pink eye), radang ambing (mastitis), radang hidung (rhinitis), dan sudah disarankan untuk tidak dijual dan dipisahkan dari tempat penjualan/penampungan.

Kemudian di lokasi pemotongan, masih ditemukan ternak betina yang dipotong walaupun secara syariah diperbolehkan namun secara undang-undang, pemotongan ternak betina terutama ternak betina produktif tidak diperbolehkan sehingga penentuan status produktivitas ternak harus dilakukan pemeriksaan yang cermat.

Selanjutnya juga masih ditemukan ternak yang secara fisik sehat, gemuk, dan layak dikurbankan namun setelah dipotong ternyata terinfestasi parasit (cacing fasciola dan paramphistomum), radang paru-paru (pneumonia), tumor paru, radang hati (vyrosis), dan fat liver.

“Kondisi ini sudah disarankan agar organ-organ yang terinfestasi parasit dan rusak (terutama hati dan paru-paru) tidak dibagikan ke masyarakat,” kata Lili, Selasa, 14 Juli 2020.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung juga telah membentuk satuan tugas (satgas) pengawasan hewan kurban. Pembentukan yang sesuai SK Kepala Dinas PKH Lampung Nomor 188/052/Kpts/v.23/D2/2020 tertanggal 17 Juni 2020. Satgas memiliki tugas mengecek kondisi hewan kurban dua minggu sebelum hari raya.

Satgas pengawasan hewan kurban Lampung telah terbentuk dengan beranggotakan 40 orang. Selain di provinsi, masing-masing kabupaten/kota juga membentuk satgas pengawasan hewan kurban ini dengan totalnya ada 803 orang. Dari 803 orang tersebut, 112 orang diantaranya merupakan dokter hewan, 154 orang paramedik dan veteriner, kemudian 491 orang merupakan petugas teknis peternakan dan kesehatan hewan, dan 46 relawan yang sudah terlatih.

Lili menambahkan Lampung saat ini memiliki ketersediaan stok hewan kurban menjelang Idhuladha 2020M/1441 H yakni 106.620 ekor hewan dengan rincian sapi potong 19.005 ekor, kerbau 597 ekor, kambing 84.835 ekor, dan domba 2.183 ekor.

Hewan kurban di 15 kabupaten/kota di Lampung. Sementara itu sesuai pemantauan pengawasan hewan kurban tiga tahun terakhir yakni tahun 2017 ada 50.149 ekor, tahun 2018 ada 55.353 ekor, dan tahun 2019 ada 61.293 ekor.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung, Anwar Fuadi, menambahkan satgas tersebut dibentuk untuk melakukan pengawasan hewan kurban.

Ia mengatakan sementara ini petugas belum terlalu aktif ke lapangan karena masih menunggu lapak-lapak penjualan hewan kurban terisi.

“Kita masih menunggu lapak-lapak penjualan hewan kurban terisi dan akan kita lakukan pemeriksaan. Mungkin setelah tanggal 17 Juli 2020. Kita juga sedang koordinasi dengan Dinas Kota, untuk menentukan waktu ekpose pemeriksaan lapangan sama titik lokasinya,” katanya.

Sumber : https://www.lampost.co

Adi Sunaryo

“Peluang Income Jutaan Rupiah dengan Affilliate Marketing Kamus Online” (Angkatan II)

“Peluang Income Jutaan Rupiah dengan Affilliate Marketing Kamus Online”
(Angkatan II)
Affiliate Marketing menjadi peluang besar bagi generasi milenial dan siapa saja yang ingin mendapatkan income tak terbatas.
Bagaimana langkah-langkahnya?
Bagaimana peluang kamus online dan produk affiliate marketing lainnya untuk menambah income jutaan rupiah per bulan?
Ikuti Webinar
“Peluang Income Jutaan Rupiah dengan Affilliate Marketing Kamus Online”
(Angkatan II)
– Hari, tanggal : Jumat 17 Juli 2020
– Pukul : 13.30-16.00 WIB
– Tempat : Di rumah saja (menggunakan aplikasi zoom)
– Biaya : GRATIS
Narasumber :
Bambang Suharno (Direktur Utama PT Gallus Indonesia Utama/GITA)
Aditya Maulana (Creator affiliate marketing)
Moderator : Wawan Kurniawan (Manager GITA Pustaka, penerbit Kamus Peternakan online dan buku-buku lainnya)
Materi seminar :
Potensi Market kamus online khususnya Kamus & Rumus Peternakan dan Kesehatan Hewan
Pengertian affiliate marketing dan peluangnya di era digital
Cara mendaftar menjadi affiliate marketer
Cara sukses menjalankan affiliate marketing
Memanfaatkan akun medsos dan group medsos untuk mempromosikan produk affilliate
Kendala dan cara mengatasinya
Pendaftaran :
Jika ada kesulitan Hubungi achmad : hp/wa : 0896 1748 4158 dan 0857 7267 3730

Meski Pandemi Covid-19, Peternak Sapi di Pekanbaru Tetap Banjir Order Hewan Kurban

Meski Pandemi Covid-19, Peternak Sapi di Pekanbaru Tetap Banjir Order Hewan Kurban

Jelang hari raya Idul Adha 31 Juli 2020, peternak kambing dan sapi di Kota Pekanbaru banjir pesanan dari panitia kurban.

Salah seorang peternak sapi yang berada di Jalan Lintas Timur Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Rohman Julianto, menuturkan bahwa ia sudah dari jauh hari dihubungi oleh para panitia kurban.

“Alhamdulillah beberapa ekor sudah dipesan, dan yang mesan tahun ini kebanyakan panitia yang memesan tahun kemarin,” cakapnya saat berbincang dengan CAKAPLAH.com, Jum’at (03/07/2020).

Pria yang akrab disapa Oman ini menjelaskan, jika berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, semakin dekat dengan hari H perayaan Idul Adha, maka pesanan akan semakin banyak. Sehingga kadang mereka kewalahan saat melakukan pengantaran hewan kurban tersebut.

Lanjut Oman, meskipun dunia saat ini tengah dilanda Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), penjualan hewan kurban tidak menurun. Masih menggeliat seperti biasanya.

“Harga masih normal dan sama seperti tahun lalu, yaitu berkisar dengan Rp16 jutaan per ekor. Untuk kualitas hewan kita berani jamin karena dari segi makan hingga minum sangat diperhatikan. Untuk pemesanan bisa langsung menghubungi ke nomor 0853-7589-5568,” pungkasnya. **prc4

Sumber : https://pelitariau.com

Harga Membaik, Usaha Peternakan Ayam Pedaging di Kebumen Bangkit

Harga Membaik, Usaha Peternakan Ayam Pedaging di Kebumen Bangkit

Harga ayam pedaging di Kebumen sejak 1 minggu sebelum Lebaran 2020 hingga minggu pertama Juli 2020, masih tinggi dan jauh di atas harga normalnya. Berkat tingginya harga itu para pemilik usaha peternakan ayam di Kebumen kini mampu bangkit dari keterpurukan.

“Bahkan, hasil penjualan ayam dengan harga tinggi tersebut tak hanya bisa menutup kerugian akibat jatuhnya harga ayam di minggu terakhir April sampai pertengahan Mei 2020 lalu. Juga, sudah mampu memberi keuntungan untuk perusahaan kami,” ungkap manajer produksi sebuah perusahaan kemitraan ayam pedaging di Kebumen, Adhi, di ruang kerjanya, Minggu (05/07/2020).

Harga ayam pedaging di Kebumen pada Minggu (05/07/2020) mencapai Rp 23 ribu/kilogram di tingkat peternak dan harga dagingnya Rp 33 ribu/kilogram di tingkat pedagang eceran pasar tradisional.

MENGENAL PENYAKIT AFRICAN SWINE FEVER

Virus ASF sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 100% pada babi. (Foto: GETTY IMAGES)

Virus African Swine Fever (ASF) adalah virus DNA beruntai ganda termasuk dalam familie Asfarviridae sebagai agen penyakit ASF. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian tinggi. Beberapa isolat dapat menyebabkan kematian hewan satu minggu setelah infeksi. Virus ini menginfeksi inang alami seperti babi hutan melalui vektor kutu dari genus Ornithodoros tanpa disertai gejala penyakit.

Selain itu, virus ASF juga ditularkan melalui kontak langsung dengan babi yang tertular, daging dan produk daging babi, sisa-sisa makanan (swilling feeding), peralatan, sepatu, hingga pakaian yang digunakan para pekerja atau pengunjung di peternakan babi yang tertular penyakit ASF.

Namun virus ASF bisa mati pada pemanasan suhu 56 derajat selama 70 menit atau suhu 60 derajat selama 20 menit. Kendati demikian, virus ASF bisa bertahan hidup pada sisa makanan dalam sampah yang terinfeksi virus ASF selama 3-6 bulan dan dalam keadaan frozen selama tiga tahun.

Gambar 1: Bentuk virus ASF secara fisik seperti model virus pada umumnya, tetapi sangat  jauh berbeda  secara molekular.


Penyakit ini tidak menyebabkan penyakit pada manusia atau tidak bersifat zoonosis. Virus ASF merupakan penyakit endemik di Afrika sub-Sahara dan menyebar ke Eropa melalui babi atau produknya yang dibawa oleh imigran maupun wisatawan Eropa. Virus ASF memiliki genom DNA beruntai ganda dan dapat menjangkau 190 kilobase, serta yang mengesankan karena mengkode hampir 170 protein, jauh lebih besar dari virus lain, seperti Ebola (beberapa strain hanya memiliki 7 protein).

Virus ASF memiliki kesamaan dengan virus DNA besar lainnya, misalnya poxvirus, iridovirus dan mimivirus. Virus ASF ini menyebabkan demam hemoragik, dimana sel targetnya terutama untuk bereplikasi terdapat pada makrofag sel monosit. Masuknya virus ke dalam sel inang dimediasi oleh reseptor, tetapi mekanisme endositosis yang tepat sampai saat ini belum jelas. Sel makrofag pada tahap awal diinfeksi oleh virus ASF, perakitan kapsid icosahedral terjadi pada membran retikulum endoplasma. Poliprotein diproses secara proteolitik membentuk kulit inti antara membran internal dan inti nukleoprotein. Membran sel plasma bagian luar sebagai inti partikel dari membran plasma. Protein virus mengkode protein yang menghambat jalur pensinyalan pada makrofag yang terinfeksi dan dengan demikian memodulasi aktivasi transkripsi gen respons imun. Selain itu, virus mengkode protein yang menghambat apoptosis sel yang terinfeksi untuk memfasilitasi produksi virion keturunannya. Protein membran virus dengan kemiripan protein adhesi seluler memodulasi interaksi sel yang terinfeksi virus dan viri ekstraseluler dengan komponen inang.

Hewan yang peka pada ASF ini adalah babi hutan, babi liar dan babi domestik. Babi yang terinfeksi dapat menunjukkan satu atau beberapa tanda-tanda klinis, seperti berwarna ungu kebiruan dan perdarahan (seperti bintik atau memanjang) di telinga, perut dan/atau kaki belakang, kemudian mata dan hidung keluar cairan, lalu terdapat merah pada kulit dada, perut, perineum, ekor dan kaki,  dan juga terjadi sembelit atau diare yang dapat berkembang dari mukoid menjadi berdarah (melena), muntah, induk babi yang bunting mengalami aborsi pada semua tahap kebuntingan, darah dan busa dari hidung/mulut dan mata, serta kotoran berdarah di sekitar ekor. Gejala klinis dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2. Gejala klinis pada penyakit African Swine Fever.


Oleh karena sifat virus yang sangat rumit dan memiliki genom besar, maka untuk menemukan obat misalnya vaksin saja juga sulit. Sampai saat ini peneliti belum mampu menemukan vaksin ASF, meskipun berbagai metoda pembuatan vaksin telah dilakukan. Metoda pembuatan vaksin ASF yaitu dimulai dari vaksin konvensional, vaksin DNA, rekombinan protein dan vaksin dari senyawa alami, sintetis dan obat.

Dengan alasan tersebut, maka virus ini sangat berbahaya apabila terjangkit wabah ASF, karena dapat menyebabkan kematian (mortalitas) 100%. Seluruh babi dalam suatu kandang atau wilayah akan mati secara keseluruhan. Selain kematian yang sangat tinggi juga akan kehilangan sumber protein dan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak dan masyarakat.

Berdasarkan kompleksitas susunan DNA dan protein virus ASF, sifat penyakitnya menyebabkan kematian sangat tinggi (mortalitas 100%), belum ditemukannya obat (vaksin) yang efektif dan aman, maka pemerintah harus menjaga secara ketat masuknya penyakit ini ke dalam wilayah Indonesia. Penting untuk diperhatikan bahwa penularan penyakit ini tidak bisa dicegah, karena hal tersebut menyebabkan tidak ada negara yang kebal terhadap penyakit ASF. Negara maju pun seperti Amerika dan negara-negara lain di Eropa dapat tertular penyakit ini walaupun telah melakukan biosekuriti. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia dan Asia pada umumnya, dimana peternaknya belum disiplin dalam menerapkan biosekuriti. Satu-satunya cara untuk mengeliminasi virus ASF melalui depopulasi dengan cara penguburan dan desinfeksi kandang serta peralatannya. ***

Sumber : http://www.majalahinfovet.com

Oleh: Dr med vet Drh Abdul Rahman
Medik Veteriner Ahli Madya di P3H Direktorat Kesehatan Hewan

WASPADA LEUCOCYTOZOONOSIS PADA AYAM

Kejadian Leucocytozoonosis di lapangan masih cukup merepotkan di peternakan ayam. (Foto: Istimewa)

Apa itu LeucocytozoonosisLeucocytozoonosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit darah Leucocytozoon sp, yang tergolong dalam famili Plasmodiidae. Di lapangan kejadian kasus sering dikelirukan dengan malaria unggas oleh infeksi Plasmodium sp, karena memang masih satu famili Plasmodiidae dan adanya kemiripan gejala klinis dari keduanya.

Siklus hidup Leucocytozoon meliputi fertilisasi dan perkembangan seksual terjadi di dalam tubuh insekta, sedangkan multiplikasi aseksual terjadi di dalam sel-sel jaringan hospes, yaitu fase skisogoni pada paru-paru, hati, jantung, usus, limpa dan ginjal, serta fase gametogoni terjadi di dalam eritrosit atau leukosit.

Penularan Leucocytozoonosis terjadi melalui gigitan insekta penghisap darah seperti Simulium sp (lalat hitam), Culicoides sp (agas) dan Ornithonyssus sp (tungau) yang bertindak sebagai vektor atau hewan perantara yang menyebarkan penyakit dari hewan sakit ke hewan yang sehat, dari satu lokasi peternakan ke lokasi peternakan lainnya.

Meskipun vektor insekta hanya bersifat infektif selama 18 hari, namun letupan kasus penyakit di lapangan berlangsung terus selama musim serangga. Hal ini disebabkan oleh generasi penerus insekta tersebut berkembang pesat dan menggigit unggas-unggas carrier, sehingga siklus kejadian penyakit seakan tidak pernah berhenti.

Gejala klinis bervariasi, dipengaruhi umur, jenis hewan dan kondisi hewan itu sendiri (umumnya usia > 3 minggu). Gejala klinis yang umumnya terlihat adalah penurunan nafsu makan, demam, haus, depresi, bulu kusam, kemudian pial dan jengger pucat.

Kejadian penyakit dapat berlangsung cepat dengan angka kematian bervariasi dari 10-80%.  Pada kasus akut, mortalitas dapat mencapai 80%, proses penyakit berlangsung cepat dan mendadak, dengan gejala demam, anemia, kelemahan umum, kehilangan nafsu makan, tidak aktif, lumpuh dan terjadi kematian. Ayam dapat mengalami muntah, mengeluarkan feses/kotoran berwarna hijau dan mati akibat perdarahan.

Perubahan patologi paling menonjol adalah ditemukan adanyanya perdarahan titik atau petechiae dengan ukuran yang bervariasi pada kulit, jaringan subkutan, otot dan berbagai organ lain, misalnya ginjal, hati, paru-paru, usus, limpa, timus, pankreas  dan bursa fabricius. Organ hati dan ginjal biasanya membengkak dan berwarna merah kehitaman.

Ornithonyssus sp bertindak sebagai salah satu vektor atau hewan perantara penyebar penyakit pada ayam. (Sumber: veterinaryparasitology.com)


Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian dan pencegahan adalah dengan tindakan paling efektif dengan cara menekan atau mengeliminasi hewan perantara (insekta) dan burung liar sebagai carrier, guna memutus siklus kejadian penyakit yang berulang di lokasi tersebut… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2020) (AHD-MAS)

Sumber : http://www.majalahinfovet.com

PEMANFAATAN SERTIFIKAT ELEKTRONIK WUJUDKAN PELAYANAN YANG LEBIH BAIK

PEMANFAATAN SERTIFIKAT ELEKTRONIK WUJUDKAN PELAYANAN YANG LEBIH BAIK

Dengan penerapan tanda tangan elektronik dapat mewujudkan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Hal itu di sampaikan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan saat melakukan Penandatangan Perjanjian Kerjasama Antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan Deputi Bidang Proteksi Badan Siber dan Sandi Negara Tentang

Pemanfaatan Sertifikat Elektronik pada Sistem Elektronik Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan di Jakarta, Senin (15/6 2020).

Pada kesempatan tersebut Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita menyampaikan bahwa dasar hukum penggunaan tanda tangan elektronik  adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang menyatakan bahwa penggunaan tanda tangan elektronik memiliki kekuatan dan akibat hukum yang sah. Landasan penggunaan tanda tangan elektronik ini diperkuat juga dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, yang mewajibkan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) memiliki sertifikat elektronik yang memuat tanda tangan elektronik dan identitas lainnya sebagai status subjek hukum dalam transaksi elektronik.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan Badan Siber dan Sandi Negara Republik Indonesia pada tanggal 27 Januari Tahun 2020 telah menandatangani Kesepakatan Bersama Nomor: 07/MoU/HK.220/M/1/2020 dan Nomor: PERJ.02/KBSSN/KH.02.01/2020 tentang Perlindungan Informasi dan Transaksi Elektronik di Bidang Pertanian.

Lebih lanjut disampaikan bahwa dalam rangka memberikan jaminan keamanan transaksi elektronik di lingkungan Direktorat Jenderal PKH maka akan diterapkan tanda tangan elektronik atau digital sign pada penerbitan dokumen layanan perizinan/rekomendasi yang ada di Direktorat Jenderal PKH melalui aplikasi Sistem Informasi Rekomendasi Peternakan dan Kesehatan Hewan (SIMREK PKH) http://simrek.ditjenpkh.pertanian.go.id

“Tujuan kita menerapkan tanda tangan elektronik adalah agar pengelolaan layanan perizinan/ rekomendasi memiliki jaminan autentikasi (keaslian) pengirim/penerima, integritas (keutuhan) data serta memiiki mekanisme anti-sangkal (non-repudiasi),”ungkapnya

Aplikasi SIMREK PKH telah dikembangkan sejak tahun 2016 dan terus menerus dilakukan pengembangan terhadap sistem tersebut. Sampai saat ini sebanyak 29 (dua puluh sembilan) jenis layanan rekomendasi/perizinan di Direktorat Jenderal PKH sudah diproses secara online melalui SIMREK PKH. Dokumen perizinan/rekomendasi juga sudah dapat dicetak langsung (paperless) oleh pelaku usaha melalui aplikasi.

I Ketut Diarmita menjelaskan bahwa penerapan tanda tangan elektronik ini akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal akan diterapkan pada jenis layanan yang penerbitan dokumennya hanya membutuhkan tandatangan Direktur Jenderal. Selanjutnya akan diterapkan pada jenis layanan yang membutuhkan tandantangan Direktur Jenderal dan Direktur seperti dokumen Healt Requirements, Veterinary Requirements, dsb. Ke depan diharapkan penerapan tandatangan elektronik ini bisa diterapkan juga pada sistem persuratan di lingkup Direktorat Jenderal PKH.

“Kami ucapkan terimakasih kepada Badan Siber dan Sandi Negara yang telah bersedia bekerjasama dengan Direktorat Jenderal PKH, semoga kerjasama ini dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan,”ucapnya.

Harapan kami adalah dengan penerapan tanda tangan elektronik dapat mewujudkan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Narasumber : https://ditjenpkh.pertanian.go.id

Kementan Pilih Subang Sebagai Major Project Korporasi Sapi Potong

Kementan Pilih Subang Sebagai Major Project Korporasi Sapi Potong

Jajaran pejabat Kementerian Pertanian (Kementan) bertemu dengan Bupati Subang H Ruhimat, dalam rangka audiensi pengembangan korporasi petani khususnya korporasi sapi potong di Kabupaten Subang, yang digelar di Rumah Dinas Bupati Kabupaten Subang, Jumat (19/6). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada 6 Juni 2020 di Kabupaten Subang dan Karawang.

Kementan diwakili oleh Kepala Bagian Perencanaan Wilayah, Biro Perencanaan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, dan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bagian Perencanaan dan perwakilan dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaram Hasil Peternakan (PPHNak). Lalu hadir juga perwakilan dari Kementerian Koperasi dan UKM RI, Badan Perencanaan Nasional, Bank BRI dan PT. Rajawali Nusantara Indoensia (PT. RNI Subang).

Pertemuan ini menghasilkan dipilihnya Kabupaten Subang sebagai Major Project Korporasi Sapi Potong. Kabupaten Subang mempunyai korporasi peternak sapi potong Brahman Sejahtera yang memiliki sistem pengembangan kawasan peternakan terpadu yang mengintegrasikan subsistem hulu.

Selain itu, di Brahman Sejahtera juga sudah melakukan budi daya dan pasca panen (on farm), dengan pengolahan dan pemasaran (off farm), serta subsistem penunjangnya.

“Jadi kami nilai Subang sudah mampu jadi major project. Kami harap bisa melatih jiwa kewirausahaan para petani dan peternak,” ujar Kepala Bagian Perencanaan Wilayah, Biro Perencaan Kementan, Hermanto, Sabtu (20/6).

Korporasi Brahman Sejahtera ini terbentuk dari tiga sentra peternakan rakyat (SPR) Sapi Potong, yakni SPR Cinagarbogo, SPR Kasaliang dan SPR Sagalapanjang. Sebagai unit usaha, Koperasi Brahman Sejahtera beroperasi di 66 desa di 16 kecamatan dengan jumlah anggota peternak sebanyak 1.834 orang yang tergabung dalam 117 kelompok.

Selain itu, usaha koperasi Brahman Sejahtera Subang terdiri dari usaha pakan hijauan, usaha pakan konsentrat yang telah menghasilkan 4 ton perhari, usaha budidaya pengembangbiakan sapi potong, usaha penggemukan sapi potong, usaha pengolahan daging, usaha pengolahan pupuk organik serta usaha jasa peternakan dan obat-obatan hewan.

“Dengan adanya korporasi ini juga kita bisa bangun modal bisnis petani dan peternak. Harapannya sekali lagi, untuk menumbuhkan jiwa-jiwa kewirausahaan yang ada dalam tiap-tiap individu,” tambah Hermanto.

Dihubungi di tempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani mengatakan bahwa dalam pengembangannya, Koperasi Brahman Sejahtera juga didampingi oleh PT. Bank Rakyat Indonesia sebagai PIC Core bisnis, yang berperan dalam pembinaan kewirausahaan.

Ia menyebut, dengan adanya sinergi dan kolaborasi antar pihak, pengembangan korporasi peternakan bisa menjadi langkah startegis meningkatkan nilai produk dalam negeri.

“Dengan adanya sinergi dan kolaborasi antar pihak terkait maka pengembangan korporasi peternakan ini benar-benar menjadi langkah strategis peningkatan nilai tambah bagi produk-produk dalam negeri kita,” ucap Fini.

Sementara, Bupati Subang H Ruhimat merasa senang karena Subang telah terpilih sebagai Major Project Korporasi Sapi Potong. Ia mengatakan meskipun ini merupakan pilot project yang terkait dengan pertanian dan peternakan di wilayah Subang, namun diharapkan dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh.

“Mari bersama kita lakukan major project korporasi sapi potong ini bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban tugas pekerjaan kita semata, melainkan sebagai sebuah bentuk tanggung jawab yang kiranya dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin,” papar Ruhimat.

Ruhimat mengakui, sektor pertanian dan peternakan menjadi faktor penentu bagi bangsa Indonesia dalam melewati berbagai dinamika akibat dampak dari Covid-19.

Untuk itu, ia menilai ini adalah momentum yang tepat untuk Subang dapat lebih memaksimalkan potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang dimilikinya.

Sumber : https://rmco.id

6.500 ekor sapi NTB dikirim ke Jabodetabek untuk Idul Adha

6.500 ekor sapi NTB dikirim ke Jabodetabek untuk Idul Adha

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Nusa Tenggara Barat (NTB) akan mengirim sebanyak 6.500 ekor sapi potong ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) untuk kebutuhan Idul Adha 1441 Hijriah.

“Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.000-an ekor sudah dikirim menggunakan kapal tol laut (Cemara Nusantara) mulai 2 Juni 2020. Sisanya akan dikirim lagi dalam waktu dekat ini lewat Pelabuhan Bima,” kata Kepala Disnakeswan NTB Budi Septiani, di Mataram, Selasa (23/6).

Ia menyebutkan sebanyak 6.500 ekor sapi potong yang akan dikirim ke Jabodetabek sebelum Idul Adha merupakan bagian dari kuota pengiriman sapi sebanyak 78.159 ekor pada 2020. Dari total kuota tersebut, sebanyak 15.500 ekor akan dikirim ke luar daerah, dan 62.659 ekor dalam daerah (Pulau Lombok), pada 2020.

Seluruh sapi potong yang dikirim ke luar daerah merupakan hasil penggemukan para peternak di Pulau Sumbawa. Oleh sebab itu, pengirimannya menggunakan kapal tol melalui Pelabuhan Bima, Pulau Sumbawa, NTB.

Menurut Budi, jumlah pengiriman sapi ke luar daerah pada 2020 mengalami penurunan dari yang seharusnya sebanyak 20.000 ekor. Hal itu sebagai dampak dari pandemi COVID-19.

“Seharusnya jumlah sapi potong yang terkirim ke luar daerah sebanyak 9.640 ekor, tapi yang terealisasi hanya 4.029 ekor sejak Januari-Juni 2020. Tapi kami optimis target pengiriman sebanyak 15.500 ekor ke luar daerah tercapai hingga akhir tahun,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pengiriman sapi potong ke luar daerah setiap tahunnya tidak mengganggu ketersediaan populasi untuk kebutuhan daging di dalam daerah, karena jumlah populasi sapi NTB sudah mencapai 1.234.357 ekor.

Budi menambahkan berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan jumlah populasi ternak rumiansia setiap tahun, di antaranya, melarang pemotongan sapi betina yang masih produktif, memfasilitasi kelompok peternak memperoleh kredit usaha rakyat (KUR) untuk pengembangan usaha ternaknya.

Disnakeswan NTB juga mendorong generasi milenial untuk berani menggeluti usaha di bidang peternakan, khususnya ternak ruminansia karena peluang pasarnya masih sangat bagus.

“Kami juga akan mengembangkan sapi indukan impor untuk mengembangkan populasi dan meningkatkan produktivitas. Itu merupakan program Kementerian Pertanian,” katanya. (ant)

Sumber : https://kicknews.today

SEMINAR ONLINE II: PANDEMI VS BIOSEKURITI, PERLU DICERMATI PETERNAK UNGGAS

Seminar Pandemi vs Biosekuriti yang dihadiri oleh akademisi, pemerintah, swasta dan asosiasi bidang peternakan. (Foto: Dok. Infovet)

PT Gallus Indonesia Utama melalui GITA Organizer dan Infovet kembali menyelenggarakan Seminar Online Kedua mengenai “Pandemi vs Biosekuriti pada Peternakan Unggas”. Seminar yang diselenggarakan Kamis (18/6/2020) diikuti oleh akademisi, pemerintah, swasta dan asosiasi peternakan.

Serupa dengan seminar pertamanya, kegiatan yang kedua kalinya ini kembali menghadirkan National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Alfred Kompudu dan Poultry Technical Consultant, Baskoro Tri Caroko, serta dimoderatori langsung oleh Pemimpin Redaksi Majalah Infovet, Bambang Suharno.

Dalam sesi pertama, Alfred Kompudu menyampaikan mengenai implementasi biosekuriti tiga zona di usaha peternakan unggas. Dalam paparannya, ia memaknai biosekuriti sebagai tindakan atau pengamanan hidup yang perlu dicermati oleh peternak.

“Sebagai pengamanan hidup karena prinsip dari biosekuriti itu sendiri adalah mencegah mikroba masuk, berinteraksi, tumbuh dan berkembang, serta menyebar ke seluruh area kandang. Adapun elemen dari biosekuriti tersebut adalah isolasi, kontrol lalu lintas dan sanitasi,” kata Alfred.

Manisfestasi dari biosekuriti dimaksud Alfred adalah dengan mengimplementasikan biosekuriti tiga zona, yakni dengan cara membagi areal kandang dalam tiga zona, yakni zona merah, kuning dan hijau, dengan tujuan memberi keuntungan pada peternak.

“Keuntungan dari mencegah mikroba menginfeksi unggas, menyaring mikroba hingga tiga lapisan perlakuan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak kandang, memiliki daya saing perunggasan dari sisi kualitas produk yang dihasilkan, menurunkan ancaman resistensi antibiotik (AMR) bagi konsumen dan yang pasti telah sesuai dengan Good Farming Practices,” jelasnya. 

Terkait dengan bagaimana cara mengimplementasikan biosekuriti tiga zona tersebut, dijelaskan Alfred secara rinci, yaitu dimulai dari membuat layout (denah) kandang, penentuan areal mana saja yang dimasukkan ke dalam zona merah (areal kotor), kuning (areal perantara) dan hijau (areal bersih), kemudian membuat daftar risiko dari orang, benda dan hewan (OBH), lalu urutkan daftar risiko tersebut dari yang tertinggi, pikirkan bagaimana pengendalian daftar risiko dapat dilakukan dengan elemen biosekuriti, serta terakhir sosialisasikan dan berkomitmen untuk intens menerapkannya.

“Jika telah diimplementasikan, hal yang perlu dilakukan adalah monitoring dan evaluasi kegiatannya, mulai dari anak kandang, ternak dan produksinya, serta kesehatan dari ternak yang dipelihara,” ucap dia.

Pembicara seminar Baskoro dan Alfred, bersama Moderator Bambang Suharno. (Foto: Dok. Infovet)


Sementara pada sesi kedua, Baskoro Tri Caroko menyampaikan hal berkaitan dengan pentingnya disinfeksi pada peternakan unggas. Menurut dia, disinfeksi pada dasarnya adalah kegiatan pembasmian hama. Pelaksanaannya ditujukan untuk menonaktifkan virus dan mikroba lain pada berbagai karakteristik hidup yang dimilikinya.

“Fakta lapangan, vaksinasi saja tidak cukup atau tidak mampu memproteksi unggas hingga 100%, padahal risiko penularan penyakit sangat tinggi dari berbagai macam sumber penularan, sehingga upaya disinfeksi diperlukan agar ayam tetap sehat, serta dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal,” kata Baskoro.

Ia pun mengimbau kepada peternak untuk dapat menerapkan One Health, yakni mengendalikan penyakit lebih dini untuk kesehatan manusia, hewan dan lingkungan yang optimal.

“Implementasinya dapat dilakukan dengan cara menerapkan biosekuriti tiga zona, melakukan disinfeksi dengan baik dan tepat guna, amankan unggas dari sumber penularan penyakit, serta istirahatkan kandang selama 14 hari sebelum diisi kembali,” imbuhnya.

Ia juga mengajak peternak untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit menular di usaha peternakan unggas semasa pandemi COVID-19 melalui penerapan biosekuriti tersebut.

Upgrade manajemen pemeliharaan dan kesehatan, serta lakukan vaksinasi tepat guna, tepat waktu, tepat aplikasi dan terprogram dengan baik,” tandasnya. (Sadarman)

Sumber : http://www.majalahinfovet.com