Uji Multilokasi Udang Vaname Nusantara G-4

VN G-4 jadi alternatif pengganti untuk budidaya udang vanname F1

Komoditas perikanan budidaya terutama jenis udang masih merupakan komoditas unggulan dalam program ekspor perikanan Indonesia. Di wilayah tropis seperti di Indonesia, udang vaname diproduksi secara massal dengan penerapan teknologi skala sederhana hingga super intensif dengan beberapa karakter yang spesifik bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya.

Untuk mendukung usaha budidaya vaname yang berkelanjutan tidak terlepas dari faktor penyediaan benih yang berkualitas (unggul). Benih udang merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya di tambak, karena benih juga merupakan komponen sarana produksi yang harus memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan untuk menjamin keberhasilan mutu produk dan keamanan pangan serta ramah lingkungan.

Susetyo Pramujo mengatakan, benih unggul hanya dapat diproduksi dari induk yang secara genetik unggul disamping pengaruh kualitas air dan pakan juga memegang peranan yang penting dalam pemeliharaannya. Pemuliaan yang telah dilakukan adalah Cross Breeding (kawin silang) dan Selective Breeding (seleksi).

Pemuliaan yang dilakukan BPBAP Situbondo ini, kata Susetyo, agar nilai pengembangbiakan (breeding value) dari suatu populasi dapat meningkat melalui kawin silang dan seleksi, serta menghasilkan udang yang lebih baik (udang yang tumbuh lebih besar, lebih berat,  lebih tahan penyakit, dan sebagainya).

Program pemuliaan  udang vaname nusantara (VN) melalui seleksi famili telah diperoleh induk – induk udang VN generasi keempat (G-4). Induk VN G-4 selanjutnya dikawin silangkan kembali dimana benih hasil persilangan tersebut akan disebarkan ke beberapa lokasi untuk dilakukan ujicoba di masyarakat.

Uji multilokasi performa benih udang VN G-4 dilakukan di tambak tradisional plus, semi intensif dan intensif. Udang vaname dibudidayakan di Sidoarjo dengan sistim tradisional plus dengan  kepadatan 10 ekor/m2, di Situbondo dengan sistim semi intensif dengan kepadatan 50 ekor/m2 dan di IBAP Lamongan dan di Probolinggo dan Bangil dengan sistim  intensif dengan kepadatan 100 ekor/m2.

“Tujuan uji multilokasi di beberapa lokasi adalah untuk mengetahui pertumbuhan udang vaname nusantara hasil pemuliaan dengan seleksi famili pada generasi keempat di tambak tradisional plus, semi intensif dan intensif”, tambah Susetyo.

Tujuan akhir adalah agar induk udang yang terpilih dapat menurunkan sifat keunggulannya pada turunannya. Apabila hal ini terjadi, ungkap Susetyo, maka generasi berikutnya akan memiliki nilai lebih karena  udang dapat tumbuh lebih cepat sehingga dapat meningkatkan hasil produksi, dan pertumbuhan udang akan lebih efisien.

 

 

Hasil uji multilokasi

Siti Subaidah menjelaskan, udang dipelihara sesuai SOP yang berlaku, monitoring dilakukan 3 kali selama masa pemeliharaan yang meliputi: kualitas air (pH, alkalinitas, Oksigen, Amonia, Nitrit), jenis plankton, penyakit (bakteri dan virus).

Dari hasil pengamatan bobot udang VN G-4 yang dibudidayakan secara tradisional sampai umur 90 hari bisa mencapai berat 12 gram atau size-nya sekitar 83 gram. Sementara untuk yang dibudidayakan pada tambak semi intensif sampai pemeliharaan di dua lokasi di kab. Situbondo dan Kab. Lamongan sampai umur 70 hari bisa mencapai bobot 8,0-8,3 gram atau size sekitar  120- 125 gram.

Sedangkan untuk benur  yang dibudidayakan pada tambak intensif di Prolinggo dan Bangil udang VN G-4  sampai umur 90 hari masa pemeliharaan didapatkan bobot  9,10 gram – 9,40 gram atau size-nya sekitar 108 gram.

“Dari hasil didapat, dengan demikian kiranya udang VN-G4 bisa sebagai alternatif pengganti udang vanname F1”, ujar Siti.

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur

 

Bogor Jadi Kiblat Minapolitan

Bogor jadikan Minapolitan sebagi sarana mensejahterahkan masyarakat

Kota yang dikenal dengan Kota Hujan ini sukses menjadi juara nasional Minapolitan pada tahun 2015. Tidak hanya itu, kini Bogor menjadi salah satu kota penghasil komoditi budidaya air tawar terbesar di Indonesia. Lantas apa kunci Bogor bisa menjadi yang terdepan dalam urusan penghasil komoditi perikanan budidaya?

Menurut Kepala Bidang Produksi Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor Deden Sukmaaji, hal paling dasar yang dimiliki Bogor dan Jawa Barat adalah anugerah dari Allah SWT diberikan tanah dan air yang baik.

Selain itu, tambah Deden, yang menyebabkan berhasilnya Bogor menjadi juara nasional Minapolitan yang pertama adalah letak geografis, karena Bogor sangat berdekatan dengan Jakarta yang menjadi pusat ekonomi dan pasar se-Indonesia sebagai lokomotif usaha.

“Dari situ sehingga pasar sangat terbuka, ketika pasar terbuka satu digit maka budidaya akan meningkat tiga digit, permintaan komoditi akan meningkat,” jelasnya.

Kemudian yang menjadikan Bogor begitu solid adalah peran pemimpin daerah yang komitmen. Bupati sangat menginginkan Kabupaten Bogor tetap dijadikan sebagai sentra agribisnis. Walaupun kota penyanggah Jakarta, seperti halnya Tangerang dan Bekasi yang lebih menjadi kota industri, Bogor tetap berkomitmen menjadi sentra agribisnis.

Komitmen tersebut terlihat dari dikeluarkannya peraturan Bupati tentang revitalisasi pertanian. Di dalam revitalisasi pertanian itu, di dalamnya juga membahas mengenai perikanan.

Selain itu, di dalam peraturan Bupati tersebut mencakup ketahanan pangan, kelembagaan pertanian secara umum, kemudian komoditas unggulan. Kebijakan inilah yang membuat pertanian lingkup pertanian menjadi lebih maju karena dibagi zona-zona.

Misal dari 40 kecamatan itu dibagi menjadi 8 zona, seperti zona 1 terdiri dari 5 kecamatan itu komoditas ikan nila, yang harus dibangkitkan mulai dari nila, gurame, kemudian ada satu lagi one village one product.

“Satu kecamatan harus memiliki komoditas unggulan, dari situlah ketahuan bahwa di kecamatan A potensi ikan lele lebih banyak dari yang lain,” ujar Deden.

Dari kebijakan tersebut dapat terlihat potensi di setiap kecamatan. Deden menjelaskan, seperti halnya di Kecamatan Ciseeng yang memiliki potensi ikan lelenya luar biasa, berdasarkan potensi yang ada, kemudian dilihat dari masyarakatnya ternyata di sana usaha perikanan sudah menjadi usaha pokok masyarakatnya.

Dari situ, kata Deden, dilihatlah usaha pokok yang terbesar ternyata di 4 kecamatan tersebut yang masyarakatnya menjadikan perikanannya sebagai usaha pokok, disitulah penentuan kawasan Minapolitan.

Sehingga Minapolitan di Kabupaten Bogor dari mulai payung hukumnya, potensinya, pasarnya, komoditasnya, dan masyarakatnya jelas yang menjadikan perikanan sebagai usaha pokok.

“Sehingga pemerintah hanya memberikan motivasi dan fasilitasi kepada masyarakat supaya usahanya lebih maju, bagi kami ketika komitmen program Minapolitan ini pimpinan daerahnya sudah ada, program dari pemerintah pusat untuk minapolitan ada, masyarakatnya mendukung, jadi saling bersinergi,” terangnya.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Optimalkan Hasil, Terapkan SOP Pembesaran

Kunci sukses pembesaran bawal bintang dari BPBL Batam

Menurut Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam drh. Toha Tusihadi, prospek budidaya bawal bintang, baik itu kegiatan pembenihan maupun pembesarannya, ke depan relatif sangat besar. Hal ini selain didukung oleh penguasaan teknologinya juga didukung oleh pangsa pasar yang sangat besar, benih maupun ikan ukuran kosumsi.

Sebagai patokan saja, tambah Toha, kebutuhan benih siap tebar di keramba jaring apung (KJA) ukuran 4-5 cm saat ini mampu mencapai 10.000 ekor perbulan, serta kebutuhan ikan bawal bintang ukuran konsumsi untuk wilayah Batam dan sekitarnya mampu mencapai 2-3 ton perbulan, dan sering kali masih terjadi kekurangan stok bawal bintang ukuran konsumsi.

Angka ini tergolong relatif besar menurut ukuran kosumsi ikan laut, hal ini dikarenakan selain harga bawal bintang yang relatif terjangkau serta semakin banyak peminatnya. Hal ini didukung dengan semakin banyaknya pembudidaya di wilayah Batam dan sekitarnya yang membudidayakan bawal bintang.

Toha mengatakan,  bawal bintang dapat dijadikan sebagai salah satu komoditas unggulan untuk budidaya ikan laut di Indonesia dan diharapkan semakin banyak pembudidaya yang turut serta mengembangkan ikan bawal bintang.

“Saat ini saja, harga bawal bintang ukuran konsumsi mencapai Rp. 70.000/kg, sedangkan harga benih mencapai Rp. 700/ inch. Harga ini berdasarkan PP No.75 tahun 2015,” ungkap Toha.

Pemasaran bawal bintang ukuran kosumsi sementara ini hanya sebatas wilayah Batam saja, dikarenakan keterbatasan stok bawal bintang yang masih kurang bisa memenuhi kebutuhan di wilayah Batam. “Namun, untuk bawal bintang ukuran benih wilayah pemasarannya sudah mencapai hampir seluruh wilayah Indonesia dari Aceh hingga ke Ambon,” tambahnya.

Taat pada SOP

Untuk memudahkan kegiatan pembesaran ikan di KJA perlu adanya suatu petunjuk baku tentang pengoperasian proses kerja yang akan dilakukan oleh satu atau beberapa orang dalam satu unit kerja.

Adapun tujuan dari petunjuk baku ini, ungkap Pejabat Pengawas Muda  Saipul Bahri S.St.Pi, adalah untuk memastikan suatu proses kegiatan berjalan secara terkendali dan sistem pengendaliannya berjalan secara konsisten.

Kegiatan pembesaran bawal bintang di KJA BPBL Batam mengacu pada Standar Prosedur Operasional (SOP) yang sudah dibuat dan didiskusikan bersama. Berikut adalah SOP yang perlu diperhatikan dalam persiapan pembesaran.

Selanjutnya Baca Majalah Info Akuakultur

5 Kiat Tingkatkan SR dan Persingkat Waktu Budidaya Kakap Putih

Sebagai komoditas marikultur yang sedang naik daun, kakap putih (Lates calcalifer Bloch) digalakkan budidayanya di berbagai tempat. Bukan tanpa aral, budidaya di laut dengan KJA pun terimbas kualitas air laut (carrying capacity) yang mulai turun. Bagaimana menyikapinya?
Kondisi sebagian besar perairan laut saat ini sudah mengalami degradasi lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan kegiatan rumah tangga dan industri yang limbahnya mengarah ke perairan laut. Demikian ungkap Sahidan Muhlis, S.Pi. MP, Koordinator Keramba Jaring Apung Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam Jembatan III Pulau Setoko- Batam, Provinsi Kepulauan Riau
“Sementara permintaan ikan kakap putih ukuran konsumi, 500—700 g, di Kepulauan Riau—khususnya di Pulau Batam—saat ini mengalami kenaikan yang pesat. Kondisi tersebut memberikan peluang yang besar kepada pembudidaya untuk memenuhi kebutuhan pasar ikan kakap putih melalui usaha pembesaran ikan kakap putih di keramba jaring apung,” ujarnya.
Menimbang fakta tersebut, BPBL Batam melakukan kegiatan uji perbaikan teknologi pembesaran ikan kakap putih di KJA. Hasilnya?
“Jika dibandingkan, pada pemeliharaan di KJA sebelumnya, angka kelulusan hidup jarang mencapai angka 50% dan waktu panen yang dibutuhkan biasanya berkisar 7—8 bulan. Dengan perbaikan teknologi ini, tingkat kelulusan hidup mencapai 80% dan waktu pemeliharaan bisa dipersingkat menjadi 6 bulan. Terdapat efisiensi dalam produksi pembesaran ikan kakap putih di KJA. Dengan begitu, peningkatan produksi tersebut juga akan berdampak terhadap penghasilan pembudidaya,” ungkap Sahidan.
Ada 5 perlakuan yang diberikan sepanjang kegiatan uji perbaikan teknologi pembesaran ini, yaitu: ukuran benih saat tebar, vaksinasi sebelum penebaran, padat tebar, penambahan suplemen dalam pakan, serta pencegahan penyakit.
Perhatikan ukuran benih saat tebar
Sebelum penebaran benih, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Idealnya, benih berasal dari panti benih (hatchery). Ukuran benih tebar sebaiknya lebih dari 10 cm atau berbobot 15—20 g. Beberapa keunggulan benih dari panti benih yaitu berukuran seragam dan kualitas serta kuantitasnya terjaga. Sementara benih hasil tangkapan alam mempunyai banyak kelemahan, di antaranya: ukuran sering tidak seragam, jumlah dan waktunya tidak dapat ditentukan, dan sering terdapat luka akibat penangkapan atau transportasi.
Aplikasikan vaksin sebelum penebaran
Biasanya, bakteri yang sering menyerang ikan kakap putih adalah bakteri streptococcus dan bakteri vibrio. Oleh sebab itu, vaksinasi mutlak dilakukan terhadap benih ikan kakap putih untuk mencegah serangan bakteri patogen tersebut. Aplikasi vaksin dapat diberikan dengan cara penyuntikan terhadap benih ikan kakap putih yang sudah berukuran lebih dari 10 cm.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Optimalkan Budidaya Kakap Putih

 

Melirik potensi kakap putih yang semakin meroket sebagai komoditas unggulan perikanan budidaya Indonesia

Meski namanya tidak sebesar saudaranya, kakap merah, kini kakap putih terus didorong sebagai komoditas unggulan di sektor perikanan di Indonesia. Saat ini, selain sudah banyak diminati pasar dalam negeri ikan yang bernama latin Lates calcalifer ini memiliki pasar ekspor yang cukup baik terutama di pasar Australia, Amerika Serikat, Eropa, bahkan negara-negara Timur Tengah.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP juga terus mengembangkan dan meningkatkan budidaya laut kakap putih untuk memanfaatkan potensi yang masih cukup luas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Ini juga selaras dengan program pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Koordinator Pembenihan atau Pengawas Muda Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon Suharno, M.Si mengatakan, saat ini prospek budidaya kakap putih sudah semakin baik berbeda pada awal pengembangan budidaya kakap putih tahun 2015, hasil produksi tidak laku terjual karena masyarakat Ambon belum familiar tentang ikan kakap putih.

Lanjut Suharno, namun akhirnya melalui Kegiatan Demfarm 2015 di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan dikerjasamakan kepada pembudidaya di Teluk Ambon, karena ikan ini salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya.

Untuk saat ini  tahun 2016, kata Suharno, komoditas kakap putih sudah cukup dikenal oleh pembudidaya di Teluk Ambon adanya program bantuan benih dari balai perikanan budidaya sekitar 60.000 benih kakap dan total bantuan benih ikan konsumsi  di wilayah kerja balai meliputi Maluku Utara, Maluku Tenggara, Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah 165.000 ekor.

Senada dengan Suharno, Perekayasa Madya Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung Yuwana Puja, S.Pi, mengatakan prospek budidaya kakap putih saat ini sangat baik dan harga jual di Lampung (kondisi ikan hidup) sendiri cukup stabil sekitar Rp. 60.000,-/kg dengan ukuran 500 gr/ekor dengan masa pemeliharaan 5-6 bulan (dua kali dalam setahun).

Kakap putih akan menjadi komoditas unggulan perikanan budidaya laut (marikultur), usaha pengembangannya saat ini dilakukan melalui pelaksanaan demonstration farm (demfarm) budidaya kakap putih di karamba jaring apung (KJA). Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan melakukan diversifikasi komoditas budidaya laut dan mengembangkan teknologi budidaya untuk kakap putih.

Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) sendiri menargetkan produksi kakap termasuk di dalamnya kakap putih untuk tahun 2015 sebesar 312.500 ton. Target pertumbuhannya dalam kurun waktu lima tahun ke depan adalah 17,31% per tahun atau 589.800 ton pada 2019.

Teknologi pembenihan dan pembesaran kakap putih sudah dikuasai dan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) di seluruh Indonesia dan  akan disebarluaskan ke masyarakat sehingga usaha budidaya kakap putih dapat dilakukan secara efisien dan menguntungkan.

Pengembangan budidaya laut dengan komoditas kakap putih ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan. Penghasilan nelayan melalui hasil tangkapan ikan sangat tergantung dari musim, melalui budidaya ikan kakap putih ini, nelayan akan tetap mendapatkan penghasilan meskipun tidak melaut.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Mina Padi Kolam Dalam Ala Sleman

 

Beberapa waktu lalu, banyak pengguna media sosial seperti facebook atau whatsapp dibuat takjub dengan beredarnya foto-foto ikan nila yang sedang bergerombol di pinggir sawah. Dengan latar belakang hamparan padi yang hijau dan air sawah yang bening, penampakan ikan menjadi sangat memesona. Beberapa netizen pun mengira pemandangan itu bukan di Indonesia.

 

Ada netizen yang mengatakan bahwa pemandangan tersebut diambil di daerah Sleman, Yogyakarta. Faktanya, di daerah Sleman memang telah berkembang pertanian sawah dengan konsep mina padi, di mana dalam satu petak sawah dibudidayakan dua macam komoditas, yaitu ikan dan padi.

Bukan tanpa alasan, pengembangan konsep mina padi ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian, mengurangi, serangan hama dan penyakit tanaman padi, serta meningkatkan pendapatan petani.

Menurut Ir. Suparmono, MM dari Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, mina padi kolam dalam di Sleman merupakan kegiatan  tanam  padi  sekaligus kolam  ikan  yang dilakukan  bersamaan  dengan perbandingan  bagian  untuk  kolam  maksimal  20% dari  lahan,  dengan  kedalaman  kolam  minimal  80 cm.

Pertimbangan pemilihan lokasi yaitu memiliki sumber air yang cukup selama pemeliharaan serta bebas dari cemaran patogen, bahan organik, dan kimia. Di samping itu, perlu untuk memperhatikan apakah lokasi bebas banjir dan dekat dengan pemukiman dengan akses jalan yang baik untuk memudahkan pengawasan maupun distribusi benih, pakan, atau pun panen. Adapun jenis tanah hendaknya berlumpur dan berpasir sehingga tanah tidah porous, dengan perbandingan tanah dan pasir 60% : 40%.

Persiapan lahan

Sebelum  pengolahan  lahan,  langkah awal adalah membuat konstruksi kolam dalam dan perbaikan tanggul. Lebar pematang dibuat 75 cm, sementara kedalaman kolam 80 cm diukur dari pelataran padi. Pelataran padi dibuat agak miring sehingga selisih daerah tertinggi dengan terendahnya 20 cm. Lebar dasar kolam dibuat 75 cm.

 

Selanjutnya, tanah diolah dengan membajak tanah saat mulai jenuh air sedalam  20 cm  atau  lebih dan tidak  perlu  menunggu tergenang. Setelah  pembajakan  pertama, lahan  dibiarkan tergenang  selama  5—7  hari. Selanjutnya, dilakukan pembajakan  kedua  diikuti penggaruan/perataan.

Untuk menekan laju pertumbuhan gulma yang menganggu pertumbuhan tanaman padi, gulma dan sisa-sisa tanaman perlu dibersihkan. Setelah itu ikuti dengan pembuatan caren dan pemasangan mulsa di pematang.

Setelah konstruksi sawah mina padi selesai, langkah berikutnya melakukan pemupukan dan pengairan sawah. Pupuk kandang/kotoran ayam diberikan sebanyak 5 ton/ha sebagai pupuk dasar yang sangat baik untuk menumbuhkan pakan alami. Di samping itu, berikan kapur dolomite sebanyak 3 sak per 500 m persegi. Jika menggunakan pupuk buatan, urea, TSP, dan KCI diberikan masing-masing sebanyak 1/3 bagian sebagai pupuk dasar dengan cara ditebar saat tanam sekali pemupukan. Takaran pupuk yang diberikan sebaiknya berdasarkan rekomendasi pupuk setempat.

Benih padi yang digunakan berupa varietas unggul yang memenuhi syarat, di antaranya • berdaya hasil tinggi, tahan genangan, tahan rebah, rasa nasi sesuai keinginan petani dan permintaan pasar, serta tahan terhadap hama penyakit utama dan mampu beradaptasi di lokasi setempat. Adapun varietas yang pernah dipakai di Sleman adalah IR 64 (produktivitas 8,82—11,04 ton/ha GKP), Ciherang (9,7—11,20 ton GKP), Mandala (12,01—12,50 ton GKP), Ketan Merah (8,8 ton GKP), Cempo Merah (9,2 ton GKP), serta Makongga (6,8 ton GKG). Adapun persemaian menggunakan 5—6% dari luas yang akan ditanami.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Domestifikasi Ikan Gabus Haruan Asli Kalimantan

 

Si Kepala Ular yang punya nilai ekonomis tinggi

Tingginya permintaan ikan gabus dari penangkapan perairan umum mengakibatkan populasi ikan gabus semakin menurun. Menurunnya populasi ikan gabus juga disebabkan rusaknya habitat perkembangbiakan, rusaknya lingkungan karena pertambangan, penebangan hutan, dan limbah  industri.

Hal ini mendorong dilakukannya usaha budidaya ikan gabus melalui proses domestikasi yaitu proses adaptasi pada lingkungan budidaya dari generasi ke generasi, hal ini merupakan salah satu langkah ke arah pengembangbiakan yang meliputi aspek eksplorasi, koleksi, dokumentasi, karakterisasi, dan penguasaan teknologi pembenihan secara alami maupun buatan serta pembesarannya.

Perekayasa Pertama Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kalimantan Selatan, Tulus, S. St. Pi, mengatakan, sejak tahun 2011 BPBAT Mandiangin telah berhasil melakukan proses domestikasi ikan gabus sebagai upaya meningkatkan jumlah sumber daya hayati perikanan asli Indonesia dan pelestarian plasma nutfah.

Ikan gabus berasal dari penangkapan di alam berupa benih dan dibesarkan selama ±1 tahun hingga mencapai induk dan disebut sebagai Induk Generasi 0 (G0). Untuk menghasilkan induk ikan gabus hasil domestikasi sampai Generasi ke-3 (G3) membutuhkan waktu ± 3 tahun.

Menurut Tulus, selama ini ikan-ikan lokal seperti ikan gabus Haruan dikenal sebagai ikan predator yang bersifat karnivor yaitu suka memangsa ikan yang lain sehingga banyak orang yang tidak berminat memelihara karena sulitnya memberi makan ikan ini.

Karena hal tersebut, tambahnya, akhirnya penangkapan ikan gabus Haruan di alam menjadi kegiatan yang marak dilakukan masyarakat selama bertahun-tahun untuk memperoleh ikan gabus sebagai ikan konsumsi tanpa memikirkan kondisi di alam yang semakin menurun populasinya.

Keunggulan ikan gabus Haruan, Tulus menjelaskan, yang telah dihasilkan adalah telah adaptif terhadap pakan buatan (pakan apung) sehingga tidak tergantung pada pakan segar (rucah atau ikan segar), tahan terhadap pH dan oksigen rendah karena memang dari benih dibesarkan dilingkungan lahan gambut yang identik dengan pH rendah.

Adaptasi terhadap pakan buatan dalam hal ini pelet apung dapat berhasil dengan baik apabila dilakukan pada ikan gabus mulai dari ukuran larva. Cara makan ikan gabus yang menyambar mangsanya membuat ikan gabus hanya tertarik dengan pakan yang berada di permukaan air.

“Oleh karena itu, pelet apung lebih disukai ikan gabus dibanding pelet yang tenggelam serta dari hasil adaptasi pakan buatan yang telah dilakukan diketahui ikan gabus lebih responsif terhadap pelet apung ketimbang pelet tenggelam,” jelas Tulus.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Teknik Budidaya Udang Galah Dengan Padi

 

 

Serupa namun tak sama dengan teknik minapadi, budidaya udang galah bisa bersama dengan padi

 

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang menggalakkan program Ugadi, dengan mengoptimalkan fungsi lahan sawah irigas. Lahan sawah semakin tergerus akibat alih fungsi, seperti kegiatan pembangunan perumahan dan sarana publik.

 

Ugadi merupakan upaya optimasi pemanfaatan lahan serta meningkatkan pendapatan dari hasil panen padi dan juga udang galah. Budidaya udang galah yang terintegrasi bersama padi di lahan persawahan juga sebagai bentuk pemanfaatan secara nyata dari keterbatasan lahan, serta meningkatkan produksi perikanan.

 

Teknik budidaya ugadi tidak jauh berbeda dengan minapadi, beberapa aspek teknis yang perlu diperhatikan antara lain konstruksi lahan, pengelolaan air, penebaran benih dan pemberian pakan.

 

Persiapan yang dilakukan pertama kali yaitu pengolahan lahan untuk penanaman padi serta pembuatan saluran keliling (kemalir), peninggian pematang dan pembuatan kobakan, dengan ukuran seperti (i) Tinggi pematang 100 cm, lebar dasar 100 cm, lebar atas 75 cm. (ii) Lebar saluran keliling 100 – 200 cm dengan kedalaman 50 cm. (iii) Ukuran kobakan 100x100x20 cm, dilengkapi pembuangan air piva PVC diameter 4 inchi.

 

Pengelolaan kualitas air dalam pelaksanaan ugadi, air di sawah harus terus mengalir, melakukan pemupukan ulangan bila densitas plankton kurang optimal yang ditandai semakin cerahnya air dan memonitor kualitas air seperti suhu, pH, dan oksigen terlarut (DO).

 

Penebaran benih dilakukan 10 hari setelah tanam padi. Benih berkualitas ditandai dengan ukurannya yang seragam dan gerakannya lincah. Benih ditebar setelah melalui proses adaptasi atau aklimatisasi untuk menghindari stres pada udang. Benih udang galah sebaiknya ditebar berukuran tokolan ukuran bobot 6 – 9 gram/ekor supaya lebih tahan dibanding juvenile. Padat penebaran di sawah adalah 5 – 10 ekor/m2 untuk bobot udang 6 – 8 gram/ekor.

 

Selama pemeliharaan, udang galah diberi makanan tambahan berbetuk pelet dengan protein 30% serta dosisya 4 – 2 % biomassa/hari, frekuensinya yaitu 2 kali/hari, yakni pada sore hari serta malam hari dikarenakan pada saat itu udang lebih aktif.

 

 

Udang galah Siratu dibudidayakan dengan padi

Udang galah strain baru yang di release pada tahun 2015 lalu diberi nama udang galah Siratu. Baik secara fisiologi maupun morfologi, Siratu dengan strain lainya tidaklah berbeda. Tubuh terdiri dari kepala, abdomen dan ekor dengan kaki jalan kedua membesar sebagai alat pencapit. Memiliki duri rostrum 11-14 atau 8-14 yang menjadi penciri spesies Macrobrachium rosenbergii dan warna kuning kehijauan atau biru kehijauan.

 

Larva hidup dengan baik pada salinitas 10-15 ppt dan besar di air tawar. Bersifat omnivora dan makan lebih banyak pada malam hari. “Yang membedakan hanyalah pertumbuhannya yang lebih cepat dan keseragaman lebih tinggi. Hal ini pertanda udang galah Siratu tumbuh baik karena sering berganti kulit, sehingga warna udang akan cerah dan bersih dari organisme penempel seperti lumut dan parasit,” ungkap Perekayasa Madya, Instalasi Pembenihan Udang Galah Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (IPUG BBPBAT) Sukabumi, Dasu Rohmana, S.Pi.,M.Si

Dasu menambahkan, peluang pengembangan Siratu masih sangat besar, karena udang galah sangat diminati oleh masyarakat kita dan merupakan luxury food sehingga pasar sangat terbuka dan apabila ketersediaannya banyak tidak menutup kemunginan akan tercipta pasar ekspor.

 

Banyak pulau di wilayah  Indonesia yang memiliki lahan luas dan air cukup melimpah seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, sehingga prosfektif sekali untuk dikembangkan budidaya udang galah ini di samping perairan-perairan umum seperti danau, waduk dan sungai-sungai besar dalam bentuk CBF (culture based fisheries).

 

Dasu menambahkan kembali, penebaran benih udang galah di lahan padi pada sistem budidaya ugadi dilakukan pada saat umur padi sekitar 15 hari dimana perakaran padi sudah tahan digenangi air. Umur padi sejak tanam sampai panen biasanya berkisar 110-120 hari. Panen udang dilakukan sekitar lima hari sebelum panen padi, sehingga masa tanam udang pada budidaya sistem ugadi hanya berkisar 90-100 hari.

 

“Untuk mendapatkan ukuran udang konsumsi (size 30 ekor/kg) selama masa pemeliharaan 90-100 hari harus ditebar benih udang yang berukuran >5 gram. Biasanya diistilahkan dengan tokolan 2 atau benih hasil pendederan dari juvenil selama 60-75 hari,” pungkasnya.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Kembangkan si Daging Putih

Permintaan ekspor tinggi, ikan patin Pasupati terus dikembangkan

 

Siapa yang tidak kenal dengan Patin Super Harapan Pertiwi atau Pasupati, kini masyarakat telah banyak yang membudidayakan karena diuntungkan dengan kualitas daging berwarna putih, pertumbuhannya relatif cepat dan dapat diproduksi sepanjang tahun.

 

Pasupati adalah ikan patin hibrida unggul hasil persilangan antara induk betina Patin Siam dengan induk jantan Patin Jambal. Ikan ini secara resmi telah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.25/MEN/2006 tentang Pelepasan Varietas Ikan Patin Pasupati Sebagai Varietas Benih Unggul pada tanggal 7 Agustus 2006.

 

Sesuai dengan permintaan ekspor, Pasupati memiliki daging halus dan rasa yang lezat menyerupai Patin Jambal atau patin Sungai. Didukung dengan benih yang dapat diproduksi secara massal, karena telur yang digunakan pada pembentukan patin Pasupati adalah telur Patin Siam yang memiliki fekunditas banyak dan dapat bereproduksi sepanjang tahun.

 

Peneliti, Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Jadmiko Darmawan W.P., S.Pi, mengatakan penyebaran Patin Pasupati dapat berupa benih patin pasupati atau disebut benih sebar, ataupun induk pembentuknya yang berupa Patin Siam dan Patin Jambal

 

Lanjut Jadmiko, benih sebar BPPI Sukamandi telah didistribusikan ke Jawa Barat (Subang, Karawang, Bekasi, Bandung Barat, Purwakarta), Jawa Tengah (Tegal, Brebes, Pekalongan dan Batang ), Jawa Timur (Tulung Agung), dan Palembang (Kota Palembang, Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir).

 

Tabel 1. Harga Benih Patin Pasupati

Benih Harga (Rp)
Larva (0 hari) 7
1 Inchi 100
2 Inchi 175
3 Inchi 300
4 – 5 Inchi 500

Sumber: BPPI Sukamandi

 

Adapun Induk pembentuk, BPPI Sukamandi juga telah didistribusikan ke Jawa Barat (Subang), Jawa Timur (Tulung Agung dan Mojokerto), Palembang (Kota Palembang dan Ogan Ilir) dan Lampung (Lampung Timur, Metro dan Tanggamus).

 

Tabel 2. Harga Induk Pembentuk

Induk Harga (Rp)
Calon induk Patin Siam 30.000/Kg
Calon induk Patin Jambal 50.000/Kg
Induk Patin Siam siap pijah 250.000/ekor
Induk Patin Jambal siap pijah 300.000/ekor

Sumber: BPPI Sukamandi

 

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur

Merawat Srikandi di Air Payau

Menjadi andalan dalam sektor budidaya perikanan air tawar, ikan nila populer sebagai ikan konsumsi dalam negeri, bahkan menjadi komoditas ekspor bernilai ekonomi tinggi.

 

Ikan nila sejatinya jenis ikan yang hidup di air tawar. Menurut asal usulnya, jenis ikan ini berasal dari sungai Nil, Afrika. Namun, berkat rekayasa Teknologi yang dilakukan oleh para peneliti dari BPPT, nila mampu beradaptasi dengan baik dalam lingkungan air berkadar garam tinggi.

Namanya nila srikandi, nila yang sanggung bertahan dalam air yang tingkat salinitasnya tinggi. Ini menjadi kabar gembira bagi para petambak. Pasalnya, di berbagai daerah, banyak tambak yang dalam kondisi terlantar akibat terpuruknya budidaya udang windu beberapa dasawarsa silam,” ujar Ibnu Sahidir, Peneliti Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Ujung Batee, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Tak banyak yang tahu, saat ini produksi ikan nila Indonesia sudah menduduki urutan ke – 3 terbesar di dunia, setelah China dan Mesir. Ikan nila menjadi andalan komoditas ekspor, terutama ke Amerika Serikat. Disamping itu, beberapa negara lain yang menjadi pangsa pasar nila adalah Kanada, Jepang, Singapura, Hongkong, dan Eropa.

Ikan nila dijual dalam bentuk fillet atau daging tanpa tulang beku maupun segar beku. Peluang pasar nila diperkirakan akan terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 30-40% setiap tahunnya. Sayangnya, pasokan masih belum bisa memenihi permintaan pasar ekspor.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

BBPBL Lampung: Kembangkan Potensi Perikanan dengan Teknologi Keramba Modern

Foto 5Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung tahu betul bagaimana mengembangkan potensi perikanan Indonesia. Selain dengan memanfaatkan SDM yang terampil dan berkualitas, BBPBL juga memanfaatkan teknologi keramba modern sebagai sarana utama dalam budidaya.

Untuk menunjang pelaksanaan program pengembangan budidaya laut di Indonesia berdasarkan KEPPRES RI No. 23 Tahun 1982 dan SK. Menteri Pertanian Nomor 437/Kpts/Um/7/1982, pada tahun 1982 Direktorat Jenderal Perikanan telah merintis pembentukan Balai Budidaya Laut (BBL) Lampung.

Lembaga ini sejak Februari 2014 menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) berkat berbagai prestasinya di bidang pengembangan teknologi perikanan budidaya laut di Indonesia. Bisa dibilang, bila kita mendiskusikan tentang teknologi budidaya laut, tak akan lengkap jika tidak melibatkan BBPBL Lampung.

BBPBL Lampung membudidayakan berbagai jenis komoditas, di mana komoditas ini merupakan unggulan yang menjadi senjata ekspor Indonesia selain udang. Komoditas tersebut diantaranya Kerapu Bebek, Kerapu Macan, Kerapu Kertang, Kakap Putih, Kakap Merah, Bawal Bintang. Bahkan juga ada Udang Vaname, Ikan Cobia, ikan Badut/ Nemo, Blue Devil, Teripang, Kuda Laut, dan Rumput Laut.

Kepala Bidang Uji Terap Teknik dan Kerja Sama, BBPBL Lampung, Evalawati, SP., MM., mengatakan, “kakap putih sebenarnya pertama berhasil di Balai ini tahun 1987, tapi justru sekarang terkenal di Batam, mungkin karena dulu kami fokus pada kerapu tapi teknologi kami mapan sekali untuk teknologi kakap putih.”

Saat ini program kerja yang dikerjakan BBPBL Lampung selain melakukan kegiatan budidaya,  menjalankan program sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).

“Seperti mensertifikasi pembenihan kerapu macan, kerapu tikus dan beberapa spesies  di hatchery, dan budidaya di KJA”, jelas Eva.

Eva melanjutkan, BBPBL Lampung juga selalu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain termasuk pihak swasta, Dinas Perikanan dan Kelautan dari kabupaten lain, Universitas, dan Instansi lainnya. Seperti tahun ini melanjutkan kerjasama dengan Biotrop terkait peningkatan kultur jaringan rumput laut skala laboratorium.

Prestasi BBPBL Lampung, terkait dengan teknologi budidaya laut tahun 2015 pada Rakernis (Rapat Kerja Teknis) di Bogor mendapat prestasi tenaga kerja terbaik peringkat ke-2 dari seluruh UPT DJPB. “Sebenarnya kami belum tahu apa indikator yang membuat prestasi itu tetapi mulai tahun 2013 kami selalu mengerjakan Indikator Kinerja Utama (IKU) secara rutin setiap triwulan. Kami melaporkan tingkat capaian daripada target IKU, mungkin penilaiannya dilihat dari IKU,” tambah Eva.

BBPBL Lampung memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) sebanyak 147 orang. diantaranya PNS, tenaga kontrak, dan penyuluh yang diperbantukan.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana di BBPBL Lampung terbilang lengkap, ada Bak Induk, Hatchery, Bangsal Pendederan, Keramba Jaring Apung, Laboratorium Penguji Kesehatan Ikan, Laboratorium Penguji Kualitas Air, Laboratorium Pakan Alami, Laboratorium Ikan hias, Laboratorium Nutrisi, Instalasi Way Muli.

Manfaatkan teknologi modern

Semua kegiatan pembesaran dan pemeliharaan induk serta penyiapan standar dilakukan di karamba jaring apung yang dipusatkan di kawasan Teluk Lampung, Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.

KJA yang digunakan tidak boleh sembarangan, harus yang berstandar. BBPBL Lampung menggunakan produk KJA dalam negeri yang sudah terbukti kualitasnya tidak kalah dengan produk luar negeri.

Perencana Bahan Standardisasi, BBPBL Lampung, Drs. Hidayat Adi Sarwono, M.Sc, mengatakan, BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec karena produk ini dikenal tahan lama dan aman dari terpaan ombak besar.

“Selain itu KJA Aquatec sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk wisata bahari, pemancingan, namun di balai ini masih dikuhususkan untuk budidaya saja. Produksi di KJA juga hasilnya lebih bagus dan hasil panennya banyak”, tambah Hidayat.

Budidaya di keramba jaring apung ada di teluk Lampung, 100 meter lebih dari lokasi pinggir pantai balai. Dulu, tutur Eva, sewaktu dirinya masuk ke BBPBL Lampung tahun 1985 KJA masih terbuat dari bambu, berkembang menjadi kayu dan berkembang lagi sampai saat ini sehingga kegiatan budidaya jadi aman.

Eva mengatakan, BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec sudah tiga tahun yang lalu, awalnya pengadaan sendiri lalu bantuan dari DJPB diserahkan ke UPT, pada tahun kemarin kita mendapatkan beberapa unit.

“Keunggulan KJA Aquatec memiliki daya apung bagus dan lebih tahan terhadap ombak air laut, dengan daya apung lebih bagus membuat ikan lebih nyaman dan orang yang bekerja lebih nyaman”, jelas Eva.

BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec segi empat untuk pemeliharaan ikan kerapu karena disesuaikan dengan habitat aslinya. diam di tempat tidak berenang bebas, atau disebut juga ikan pemalas. Sedangkan untuk KJA Aquatec bundar agar bisa memanfaatkan ruang ada komoditas tertentu salah satunya bawal bintang, karena pergerakannya aktif.

“KJA Aquatec sangat dirasakan manfaatnya oleh BBPBL Lampung, karena memudahkan kegiatan budidaya dari mulai proses pembesaran ikan konsumsi dan pemeliharaan induk ”, tutur Hidayat.

BBPBL Lampung menggunakan 34 unit KJA Aquatec, dengan 212 lubang. Lubang KJA ada yang dikosongkan agar sirkulasi air menjadi bagus, untuk sarana memindahkan ikan karena secara berkala tiga minggu sekali atau sebulan sekali dilakukan pergantian jaring dan pemindahan ikan. (Resti)

Data Perusahaan:
PT. GANI ARTA DWITUNGGAL
Kawasan Industri Batujajar Permai
Jl. Raya Batujajar Km. 2.8 Padalarang
Kab. Bandung Barat – Indonesia
Telepon (hunting) : 022 – 6864016
Fax                          : 022 – 6864015
Marketing              : Glenn
+6281221673288
Elga
+6285798868830
Website                 : www.aquatec.co.id

Kiat Tingkatkan Survival Rate Udang Windu

Perencanaan yang matang diperlukan dalam budidaya udang windu, agar mendapatkan hasil panen yang maksimal dan tentunya survival rate (SR) tinggi.

 

Saifullah Junaidy, B.Sc dari Dinas Kelautan dan Perikanan Nanggroe Aceh Darussalam, mengatakan, “Perencanaan budidaya perlu dalam budidaya udang windu, dimana didalamnya menentukan jumlah siklus dalam setahun. Kemudian rencanakan waktu budidaya dengan tepat menurut daerah masing-masing.”

 

Seperti yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar untuk kegiatan pembenihan rata-rata 6 siklus/tahun. Sedangkan untuk kegiatan pembesaran yang dikembangkan dalam kegiatan pendampingan teknologi/ diseminasi teknologi rata-rata 3 siklus/tahun.

 

Budidaya udang di Indonesia 80% tradisional dan 20% secara intensif. “Secara umum para pembudidaya di Sulawesi Selatan melakukan kegiatan budidaya udang windu secara tradisional dan semi intensif,” kata Perekayasa BPBAP Takalar, Dasep Hasbullah, S.P., M.Si.

 

“Budidaya udang windu di Aceh sebelum tsunami begitu menggembirakan, akan tetapi yang paling pesat perkembangannya di era 1990-an, pada tahun 2000-an agak menurun diakibatkan terserang penyakit dan sesudah tsunami memang tidak ada sama sekali, setelah beberapa tahun baru ada yang memulai secara tradisional,” ungkap Saifullah.

 

Kiat Tingkatkan SR

Para pembudidaya perlu melakukan kegiatan budidaya dengan menerapkan kaidah-kaidah cara budidaya ikan yang baik (CBIB), mulai dari tahap persiapan, tahap pemeliharaan sampai ke tahap panen dan pascapanen.

 

Menurut Saifullah, ”Untuk meningkatkan kelulusan hidup (SR) Pilihlah benur yang bagus, kemudian melakukan persiapan pada tambak sesuai Standard Operational Procedure (SOP), berikan pakan yang berkualitas dan perhatikan pemeliharaannya.”

 

Senada hal itu, Dasep mengatakan, “Gunakan benih unggul dan tahan penyakit, menerapkan padat penebaran yang ideal, pemberian pakan ideal dan pemeliharaan lingkungan tambak secara serius sesuai kaidah cara budidaya ikan yang baik.”

 Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur