Pacu Pertumbuhan Ikan Sidat

 

 

Parameter kualitas air yang optimal dan protein yang tinggi pada pakan, dapat memacu meningkatkan pertumbuhan sidat.

 

Ikan sidat sekilas terlihat mirip dengan belut, namun tubuh sidat lebih memanjang dan memiliki kepala berbentuk segi tiga serta memiliki empat sirip dibagian dada yang sering disebut telinga, dubur, punggung dan ekor. Kemudian memiliki sisik yang sangat halus dan tubuhnya ditutupi lendir.

 

Sidat memiliki siklus hidup yang unik, dimana sejak menetas hingga dewasa hidup di air tawar, sungai, atau danau namun ketika siap memijah akan migrasi serta  hidup dilaut dalam dan induknya ini akan mati.

 

Sampai saat ini sidat belum bisa dipijahkan di kolam baik secara alami maupun buatan. Benih yang digunakan untuk usaha pembesaran sepenuhnya masih merupakan hasil penangkapan dari alam. Dimana saat migrasi glass eel ditangkap di genangan air payau hingga sungai untuk kemudian dibesarkan di kolam pembesaran.

 

Dosen Program Studi Akuakultur Universitas Tadulako Palu, Dr. Ir. Samliok Ndobe, M.Si., mengatakan, “Sungai – sungai di Sulawesi Tengah umumnya terdapat populasi ikan sidat, salah satu jenis ikan sidat ukuran glass eel yang melakukan ruaya anadromous di Sungai Palu adalah Anguilla marmorata.”

 

Glass eel merupakan salah satu tahapan dari tujuh tahapan siklus hidup ikan sidat, yaitu bentuk ikan sidat kecil (larva/benih) yang sudah menyerupai keseluruhan morfologi ikan sidat dewasa tetapi belum memiliki pigmen tubuh (transparan) sehingga disebut glass eel (sidat kaca).

 

Seperti yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Benih sidat  yang dipelihara mulai dari ukuran glass eel (0,16 gr) sampai ukuran 0,5 – 1 gr dengan lama pemeliharaan 2-3 bulan dengan SR diatas 80%. Setelah pemeliharaan tersebut kemudian dijual ke Jakarta, dengan harga Rp 500.000,-/kg atau 1000 ekor.

 

Perekayasa BPBAT Tatelu, Iman Sudrajat, S.Pi. mengatakan, “Sebenarnya kegiatan kami bisa sampai ke tingkat konsumsi namun faktor ketersediaan dan harga pakan sidat komersil bila masuk ke wilayah Sulawesi Utara tentu menjadi sangat tinggi.”

 

Kegiatan budidaya pembesaran benih sidat (elver) di BPBAT Tatelu yang dimulai dari glass eel, hingga 2 minggu tidak dilakukan pergantian air, cukup dengan hanya mengangkat kotoran yang ada menggunakan serok setiap pagi sebelum pemberian pakan.  Setelah 2 minggu baru dilakukan pergantian air sebanyak 50% per 3 hari dan mulai dilakukan penjarangan.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur Edisi Mei 2016

Prospek Usaha Catfish

 

 

“Produksi  Catfish (Lele dan Patin) menyumbang sekitar 50% dari total produksi nasional komoditas ikan air tawar.  Budidaya catfish umumnya dilakukan oleh masyarakat ekonomi menengah kecil, sehingga berperan dalam meningkatkan perekonomian rakyat  dan menyerap tenaga kerja,” ungkap Sekjen Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Dr. Azam B. Zaidy.

 

Menurut Azam, “Catfish merupakan komoditas ikan air tawar masa depan, seiring dengan makin terbatas ketersediaan air dan ketersedian lahan untuk budidaya ikan.”

 

Azam menambahkan, “Lele dan patin  dapat dipelihara di daerah dengan ketersediaan air tawar yang terbatas dengan produktivitas tinggi yaitu sebesar 75 – 100 kg/m3.”  Khususnya ikan lele telah dibudidayakan di seluruh nusantara.

 

Seperti yang pernah dikatakan oleh Pengamat Perikanan di Aceh, Saifullah, “budidaya pembenihan dan pembesaran lele di Aceh bagus, dan masyarakat pun menyukai makan lele. Sedangkan ikan patin kurang berkembang karena belum dikenal. Adapun harga lele dipasaran Aceh saat ini Rp 28.000,-/kg, dengan perkilo ada tujuh ekor.”

 

Senada dengan hal itu, menurut pengamat perikanan di Sulawesi Ghufran H. Kordi K., “budidaya lele dumbo dan sangkuriang di Sulawesi sudah berkembang dan ada yang membenihkannya, sampai di pekarangan rumah pun banyak yang membudidayakannya. Berbeda dengan patin, meskipun ada tapi sedikit karena kurang dikenal. Namun, harganya lebih baik dibanding dengan harga lele saat ini, yang mencapai sekitar Rp 13.000/kg karena mengalami pasokan berlebih.”

 

Begitu pun dengan Karminto, salah seorang pembudidaya lele di Pati, Jawa Tengah, menurutnya, “prospek budidaya pembenihan dan pembesaran lele sangat berkembang hal ini didukung dengan potensi daerah seperti banyaknya kolam-kolam yang luas, kurang lebih ada 1000 kolam di Pati, sehingga masyarakat banyak yang membudidayakan lele.”

 

Adapun kendala dalam budidaya lele dan patin ini, menurut Pembudidaya di Gondosuli Tulungagung Jawa Timur, Marjo, salah satunya yaitu faktor ketersediaan air yang fluktuatif. “Budidaya saya pada tahun 2015 lalu sewaktu kemarau panjang kolam-kolamnya sering mengalami kekeringan. Sedangkan pada 2016 ini masuk penghujan sering mengalami kebanjiran karena susah membuang air.”

 

Ternyata dalam budidaya catfish ini banyak keuntungan yang didapat, selain kota Tulungagung ini masuk juara kedua sebagai kawasan minapolitan, juga kelompok “Mina Jaya” yang diketuai oleh Marjo mendapatkan rekor Muri pada tahun 2015 sebagai penghasil pecel lele 5000 cuek.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi Mei 2016

Kupas Budidaya Bawal Bintang Komoditas Alternatif Pengganti Kerapu

 

 

Jadi komoditas unggulan, target pertumbuhan bawal bintang lima tahun ke depan 31,5% per tahun. Berminat?

 

Mulai 2015, bawal bintang menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya.  “Target produksi bawal bintang di tahun 2015 masih 1.900 ton. Namun, target pertumbuhannya dalam kurun waktu lima tahun ke depan adalah 31,5% per tahun. Bawal bintang akan menjadi salah satu komoditas alternatif budidaya laut atau marikultur,”  kata  Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sinarharapan.co.id.

Bawal bintang merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya air laut. Kelebihannya, masa budidaya bawal bintang lebih pendek, yaitu sekitar 6 bulan. Sebagaimana dilansir dalam kkpnews.kkp.go.id, Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung berhasil mengembangkan percontohan budidaya atau demonstrasi farming (demfarm) ikan jenis bawal bintang dengan pencapaian produksi hingga 25 ton di dua wilayah, yakni Ringung dan Tanjung Putus, Lampung.

Sebagian besar budidaya ikan bawal bintang di Provinsi Lampung berada di wilayah Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan. Sementara sentra KJA berada di wilayah Ringgung, Ketapang, Pulau Tegal, Pulau Pahawang, sampai daerah Tanjung Putus.

Sebelumnya, jenis ikan yang dibudidayakan di wilayah tersebut adalah jenis kerapu (bebek, macan, sunu, kertang, cantik), cobia, dan kakap putih. Jenis  kerapu dan kakap putih merupakan jenis yang paling banyak dibudidayakan dan berorientasi ekspor. Seiring turunnya permintaan dan harga komoditas, terutama kerapu bebek, pembudidaya KJA di Lampung beralih melakukan budidaya ikan bawal bintang untuk meneruskan usahanya sejak 5 tahun  terakhir.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Lirik Potensi Unggul Lele Mutiara

 

 

“Lele mutiara (Clarias gariepinus) bukan hasil dari persilangan tapi hasil perbaikan genetis menggunakan program seleksi,” ungkap Bambang Iswanto, S.Pi.,MP., Peneliti Muda Bidang Akuakultur, Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi.

 

Lele mutiara merupakan hasil seleksi generasi ketiga (G3). Pada awalnya, generasi ini dibentuk melalui kombinasi persilangan empat strain lele Afrika yang ada di Indonesia, yakni lele mesir, paiton, sangkuriang, dan dumbo sebagai populasi induk pembentuknya (founder populations).

 

Berdasarkan hasil karakterisasi yang dilakukan di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, masing-masing populasi (strain) induk pembentuk tersebut diketahui memiliki keunggulan dan kekurangan. Lele mesir, yang diperoleh dari hibah mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat pada awal tahun 2011, memiliki keunggulan ketahanan terhadap penyakit dan lingkungan yang kuat serta keseragaman ukuran yang relatif tinggi. Sayang, pertumbuhan dan fekunditasnya relatif rendah.

 

Lele paiton, yang dikoleksi dari Model Pembenihan Ikan Lele (MPIL) Mojokerto pada awal tahun 2010, memiliki performa pertumbuhan dan efisiensi pakan yang tinggi. Namun, keseragaman ukurannya rendah, kanibalismenya tinggi, dan relatif rentan terhadap penyakit.

 

Lele sangkuriang, yang dikoleksi dari Balai Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Cijengkol awal tahun 2010, memiliki keunggulan fekunditas yang tinggi serta daya adaptasi terhadap lingkungan budidaya yang baik. Namun, rentan terhadap penyakit dan pertumbuhan yang relatif rendah.

 

Adapun lele dumbo, yang dikoleksi dari pembenih lokal pada awal tahun 2010, merupakan populasi pelengkap dengan performa yang moderat.

 

“Masing-masing keunggulan tersebut diharapkan dapat digabungkan dalam suatu strain lele Afrika unggul yang baru,” ungkap Bambang.

 

Penggabungan keunggulan performa beragam strain lele tersebut pada tahap awal dilakukan melalui persilangan di antara keempat strain lele. Disebabkan keunggulan masing-masing strain tersebut tidak sama, jumlah masing-masing induk yang digunakan dalam proses persilangan tersebut juga dibuat tidak sama.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi April 2016

Genjot Produksi Udang Windu dengan Phronima suppa

 

Permintaan udang windu tak kalah besar dibanding permintaan udang vaname. Namun, permintaan pasar tersebut tidak dapat terpenuhi oleh pasokan produksi.

 

Udang windu merupakan komoditas ekspor untuk mendulang emas. Betapa tidak, dengan harga yang fantastis, banyak pembudidaya yang tergiur untuk menggenjot produksi. Sayang, prospek cerah di tambak udang tidak dibarengi dengan pengetahuan petambak mengenai cara berbudidaya yang benar., udang dipaksa untuk selalu makan. Pemberian pakan yang tidak proporsional untuk menggenjot panen menimbulkan timbunan kandungan bahan organik yang merusak keseimbangan biota air yang menguntungkan. Udang pun terkapar, tak mampu melawan gempuran penyakit. Diperkirakan, kerugian total yang diderita oleh petambak di Indonesia mencapai 300 juta USD setiap tahunnya. Luas tambak yang terkena dampak wabah ini tak kurang dari 70% dari total luas tambak di Indonesia. Kerugian yang sangat besar!

 

Secercah harapan dari timur

Di tengah suramnya budidaya udang windu yang tak kunjung menggeliat, kabar menggembirakan datang dari Timur. Tepatnya di Provinsi Sulawesi Selatan. Sejak tahun 2005, ditemukan sejenis pakan alami udang berupa krustasea (hewan berbuku-buku) berukuran mikroskopis yang hidup dalam perairan. Mikroorganisme endemik ini hanya hidup di wilayah tertentu. Saat ditemukan, perairan kawasan Pinrang menjadi habitat asli dari krustasea ini, tepatnya di desa  Wiringtassi dan desa Tasiwalie, Kecamatan Suppa, Pinrang, Sulawesi Selatan.  Dikatakan endemik karena mikroorganisme ini tidak ditemukan di perairan lain di luar kawasan tersebut.

Di daerah tersebut, di mana phronima hidup, sintasan udang windu cukup tinggi, yaitu mencapai angka 70%! Sebaliknya, udang windu yang dipelihara di perairan tanpa Phronima suppa hanya menghasilkan sintasan sebesar 10%. Hattah memaparkan, tambak yang mendapat pasokan Phronima suppa selama 47 hari masa pemeliharaan udang mengalami kenaikan hasil panen menjadi rata-rata 285 kg/ha. Sementara itu, tambak tanpa pemberian pakan alami tersebut hanya dapat memanen sekitar 50,6 kg/ha saja. Menurutnya, pakan alami ini dapat menyediakan nutrisi bagi udang, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Tak heran, sejak dulu Kabupaten Pinrang menjadi daerah penghasil udang windu terbesar di kawasan Sulawesi Selatan.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi April 2016

Kunci Sukses Budidaya Udang Vaname Intensif

 

 

“Budidaya udang vaname secara intensif perlu memperhatikan dinamika kualitas air secara harian, penggunaan benur sehat, pakan berkualitas, dan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih,” ungkap Perekayasa Madya Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Ir. Warih Hardanu, M.Sc.  

 

Budidaya udang vaname teknologi intensif merupakan budidaya udang padat modal dan teknologi tinggi. “Karenanya, mengoptimalkan persiapan lahan merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan dalam budidaya, khususnya udang vaname,” ungkap teknisi udang vaname PT Central Proteina Prima, Tbk Eli Riswandi, S.Kel.

 

Pada dasarnya, setiap kegiatan harus dilakukan dengan matang, baik dalam perencanaan maupun persiapannya. “Salah satu faktor utama penunjang keberhasilan ini adalah sterilisasi lahan dengan menggunakan disinfektan untuk membunuh carrier beserta virus yang dibawanya,” jelasnya.

 

Eli menambahkan, “Selain itu, pengukuran kualitas air dan tanah di laboratorium juga termasuk penunjang keberhasilan dalam budidaya vaname. Misalnya, kecukupan alkali, TOM, TAN, dan parameter-parameter kimia lainya.”

 

Budidaya udang vaname intensif memiliki porsi rasio lahan 4 : 6. Artinya, 40% untuk petak tandon dan 60% untuk petak pemeliharaan. “BLUPPB Karawang menerapkan rasio petak tandon : petak pemeliharaan udang sebesar 20—30 : 70—80,” ungkap Warih.

 

Soal padat penebaran pada sistem intensif, Eli mengatakan, “Padat penebaran pada budidaya udang vaname intensif sekitar 70—100 ekor/meter persegi, adapun ukuran benur yang ditebar PL9—PL11.”

 

Padatnya penebaran pada sistem intensif merupakan satu keunggulan, tetapi bukan tanpa masalah. “Kelebihan padat tebar intensif jelas meningkatkan produktifitas. Akan tetapi kelemahannya, penurunan kualitas air pemeliharaan sangat cepat sehingga menjadi pemicu timbulnya infeksi penyakit baik bakterial maupun viral,” ungkap Warih.

Selanjutnya baca di Majalah Info Akuakultur Edisi April 2015

Pendederan Ikan Bandeng

Dengan memanfaatkan perairan payau atau pasang surut, budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) di tambak telah berkembang secara pesat hampir di seluruh Indonesia. Kebutuhan benih (nener) bandeng pun besar dan harus terpenuhi.

 

 

“Ikan bandeng merupakan salah satu komoditas ketahan pangan nasional,” jelas Supito, S.Pi, M.Si, Koordinator Budidaya Udang Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Oleh karena itu, ketersediaan nener bandeng sebagai salah satu sarana produksi yang utama dalam usaha budidaya bandeng di tambak harus terpenuhi. Untuk saat ini, perkembangan teknologi budidaya bandeng di tambak dirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha budidaya udang.

 

Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala. Selama ini, produksi nener alam belum mampu mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang. Oleh karena itu, peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat penting. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan para pembudidaya bandeng di Indonesia, nener disuplai dari Bali dan hasil tangkapan alam.

 

Produksi benih nener di hatchery diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat dan pasokan penangkapan di alam yang diduga akan menurun. “Kebutuhan nener di pembudidaya sangat besar sehingga diperlukan pengembangan pembenihan bandeng oleh pihak swasta untuk pengembangan produksi nener seperti di Bali,” ungkap Supito.

 

”Bagian Pembenihan ikan bandeng di BBPBAP Jepara sudah bisa memijahkan dan memproduksi nener,” tambah Supito, “distribusi nener yang dihasilkan BBPBAP Jepara sebagian besar untuk pembudidaya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.”

AK14 Budidaya 2 2

Supito, S.Pi, M.Si (Sumber foto: dok pribadi)

AK14 Budidaya 2 3

 I Gde Budha Adnyana, S.St.Pi (Sumber foto: dok pribadi)

 

Masih tradisional

Sebagian budidaya bandeng masih dilakukan secara tradisional, yaitu dengan mengandalkan pupuk untuk pertumbuhan klekap sebagai pakan alami. Selain itu, perairan masih mengandalkan pasang-surut.

 

Pernyataan senada dikemukakan oleh Koordinator  Budidaya Bandeng Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, I Gde Budha Adnyana, S.St.Pi. ”Sistem budidaya pendederan ikan bandeng yang diterapkan merupakan budidaya bandeng tradisional. Umumnya nener berasal dari panti benih di daerah Gondol, Bali, dan daerah Situbondo, Jawa Timur,” ujarnya.

 

Masyarakat pembudidaya Demak, Jawa Tengah, biasanya mendatangkan nener dari Jepara dengan beragam ukuran dan harga. Ukuran nener dengan panjang antara 2—2,5 cm dibandrol dengan harga Rp 75.000 per seribu ekor. Sementara nener dengan panjang 5—7 cm dihargai Rp 150.000 per seribu ekor.

 

Pada umumnya, satu petak tambak tradisional berukuran 1 Ha dengan padat tebar 250.000 ekor nener/Ha. ”Untuk budidaya pendederan ikan bandeng secara tradisional, tingkat kelangsungan hidup sebesar 70%. Hal ini disebabkan tingkat kontrol terhadap hama seperti burung, biawak, dan ular sangat sulit,” ungkap Gde.

 

Pendederan

Pendederan dalam tambak dilakukan hingga nener berumur satu bulan. Selanjutnya, nener dilepaskan ke dalam tambak besar. Tambak pembesaran dibersihkan dengan menggunakan jaring untuk menangkap predator atau ikan-ikan pemakan bibit bandeng. Tujuannya agar nener aman sampai umur satu bulan untuk dilepaskan ke dalam tambak besar.

 

Ikan bandeng merupakan ikan herbivora dengan pakan utama berupa plankton dan alga maupun makroalga seperti bentic algae (kelekap) dan filamenteis algae (lumut). ”Dalam usaha budidaya pendederan bandeng, dilakukan persiapan penumbuhan pakan klekap sebelum nener ditebar dengan pupuk urea dan TSP. Kemudian nener ditebar sesudah klekap menutupi seluruh permukaan dasar tambak,” ungkap Gde.

 

Pendederan merupakan kegiatan pemeliharaan benih yang dilakukan untuk menghasilkan benih ukuran tertentu yang siap dibesarkan dinkolam pembesaran. “Segmen pendederan dimulai dari pemeliharaan nener menjadi benih kelas sebar 2—3 cm, 3—4 cm, 4—5 cm, hingga 8—10 cm. Masa pemeliharaan dari nener sampai ukuran 2—3 cm sekitar 20 hari, sedangkan untuk mencapai 8—10 diperlukan waktu 45 hari,” terang Gde.

AK14 Budidaya 2 4

Nener bandeng (Sumber foto: BBPBAP Jepara)

 

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 14/Maret 2016

 

Pen Culture, Budidaya Teripang dengan Kurung Tancap

Teripang menjadi salah satu primadona andalan marikultur bernilai ekonomis tinggi. Tak heran, banyak orang terjun ke bisnis jualbeli steripang, baik penangkap, pembudidaya, maupun penampung. Akibat penangkapan teripang liar di alam, kini populasinya semakin menurun.

Meskipun penangkapan di alam masih memungkinkan, pasokan teripang sudah semakin berkurang. Seperti diutarakan oleh M. Yusuf, seorang PNS dari Sibolga, Sumatera Utara, yang pernah menggeluti bisnis teripang.

“Dulu, di daerah kami, teripang itu dibuang begitu saja oleh nelayan karena dipandang tidak bernilai. Banyak teripang dibiarkan begitu saja di bibir pantai. Namun, setelah tahu nilai ekonominya, orang berbondong-bondong melakukan perburuan teripang. Sekarang, karena banyaknya penangkapan, nelayan harus mencarinya ke laut lepas, sekitar 160 mil dari pantai,” papar Yusuf yang berprofesi sebagai pegawai pengadilan.

Tak heran, dengan harga yang fantastis, teripang semakin banyak diburu. Betapa tidak, harga beberapa jenis teripang, seperti pengakuan M. Yusuf, bisa menembus angka di atas 1 juta. Bahkan, untuk beberapa jenis teripang tertentu, harganya mencapai 2—3 juta per kilogram kering.

AK13 Budidaya 2 2

Foto2. M. Yusuf

Saat ini, teknik budidaya yang lazim dipraktikkan masyarakat adalah kegiatan penangkaran teripang. Berikut cara penangkaran dan pembesaran yang dirangkum Redaksi Info Akuakultur dari berbagai sumber.

Pemilihan benih teripang

Benih teripang dapat ditemukan di daerah pantai yang ditumbuhi lamun. Alternatif lainnya, benih dapat dibeli dari balai benih yang sudah memproduksi benih teripang. Jika benih didapat dari alam, upayakan kegiatan pengumpulan benih dilakukan pada waktu pagi atau sore hari.

Benih yang akan ditebar sebaiknya berukuran seragam, baik jenis maupun ukurannya. Kriteria benih teripang yang baik dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain dari penampakan tubuhnya yang padat berisi dan tidak cacat. Di samping itu, benih yang baik tidak mengeluarkan cairan berwarna kekuningan.

Jika benih didatangkan dari lokasi lain, hindari pengangkutan benih dalam waktu panjang, misalnya lebih dari satu jam dalam keadaan ditumpuk. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau malam hari atau pada saat suhu tidak panas menggunakan wadah berisi substrat pasir, terutama pada sistem pengangkutan terbuka.

Benih juga dapat dihasilkan dari pemeliharaan induk teripang yang dipelihara dalam kurung tancap. Induk adalah teripang yang sudah dewasa dengan ukuran tubuh berkisar antara 20—25 cm, yang dianggap sudah dapat bereproduksi. Jika diperoleh dari tangkapan alam, sebaiknya benih teripang berukuran 5—7 cm. Pasalnya, teripang yang sudah mencapai ukuran tersebut sudah dapat beradaptasi dalam lingkungan baru dan memiliki daya tahan yang cukup.

Jika teripang didapat dari lokasi yang cukup jauh dari tempat penangkaran, sebaiknya lakukan transportasi benih secara cermat. Caranya, masukkan benih teripang ke dalam plastik berukuran 2 liter yang telah diberi substrat pasir dan air. Selanjutnya, masukkan benih teripang ke dalam wadah tersebut. Kepadatan benih di dalam wadah maksimal 3 hingga 4 ekor setiap plastiknya.

Pemilihan lokasi dan konstruksi

Lokasi budidaya menentukan keberhasilan pembesaran teripang. Pilih lokasi terbaik dengan beberapa pertimbangan, di antaranya: (1) dasar perairan laut berupa pasir, pasir berlumpur, berkarang, yang ditumbuhi tanaman rumput lindung; (2) perairan bersih dan tidak tercemar bahan-bahan kimia; (3) terlindung dari angin kencang dan gelombang besar; (4) kedalaman perairan berkisar 50—150 cm pada saat surut terendah; (5) perairan memiliki sirkulasi air yang bagus; (6) kadar garam perairan atau tingkat salinitas dalam rentang 24—33 ppt, kecerahan 50—150 cm, dan suhu 25—30 °C.

Pada sistem pen culture, area budidaya dipagari menyerupai kurungan agar teripang tidak dapat meloloskan diri. Tinggi pagar dibuat lebih tinggi dari permukaan air laut saat pasang tertinggi. Biasanya, luas kurungan pagar berkisar 400—800 meter persegi.

Jika pagar terbuat dari kayu, sebaiknya gunakan jenis kayu yang tahan air seperti kayu ulin. Balok kayu kerangka ditancapkan di empat penjuru sedalam 0,5—1 meter. Selanjutnya, balok kayu pagar ditancapkan 10—20 cm dari permukaan dasar perairan dan dibuat rapat agar teripang tidak dapat meloloskan diri, baik dari celah pagar maupun dari dasar lumpur.

Jika dinding kurungan menggunakan waring, upayakan agar sisi waring bagian bawah dipasangi papan kayu untuk mencegah teripang meloloskan diri. Papan kayu ini juga dibenamkan sedalam 30 cm untuk mencageh teripang meloloskan diri melalui dasar lumpur. Jika tidak menggunakan papan, bagian bawah waring ditekuk ke arah dalam sepanjang 15 cm. Ukuran mata jaring sekitar 0,2 cm atau lebih kecil dari ukuran tubuh teripang.

Pembesaran teripang

Padat tebar benih disesuaikan dengan kondisi perairan. Pada perairan yang subur, padat tebar benih berukuran 30—40 g/ekor disarankan 15—20 ekor/m persegi. Jika benih berukuran 40—50 g/ekor, sebaiknya padat tebar 10—15 ekor/m persegi. Proses penebaran benih dilakukan pada waktu pagi atau sore hari ketika suhu tidak terlalu tinggi.

Teripang yang dibudidayakan di habitat aslinya mengandalkan pakan alami berupa plankton dan detritus yang tersedia di dalam perairan. Agar plankton tumbuh subur, selama pemeliharaan diberikan kotoran ayam yang dicampur dedak halus dan air sebanyak 0,1 kg/m persegi. Campuran kotoran ayam dengan dedak halus berfungsi sebagai pupuk untuk menyuburkan pertumbuhan plankton diatom, pakan alami bagi teripang.

Proses pencampuran dilakukan di dalam plastik. Sebelum ditebarkan, campuran dikepal-kepal supaya tidak mudah hancur. Dengan demikian, pupuk penyubur plankton ini tidak mudah hanyut ketika ditebarkan. Selanjutnya, kepalan-kepalan pupuk tersebut ditebarkan ke dalam air pada saat air surut.

Cara lain, pupuk dimasukkan ke dalam karung plastik. Selanjutnya, karung dibenamkan ke dalam air laut di dalam kurungan tancap. Dalam kurun waktu sepuluh hari, perairan sudah subur dan plankton akan tumbuh di lingkungan tersebut.

Proses pemanenan teripang

Lama waktu pemeliharaan hingga teripang hingga mencapai ukuran siap panen berkisar 4—5 bulan. Biasanya, ukuran teripang sudah mencapai 300—500 gram per ekor. Pemanenan dilakukan pada waktu air mencapai surut terendah. Proses ini perlu dilakukan beberapa kali, mengingat teripang biasa membenamkan diri di pasir atau lumpur ketika terjadi air surut. Ketika air pasang kembali, teripang akan keluar dari tempat persembunyiannya. Pada saat itu dapat diketahui jumlah teripang yang belum dipanen.

AK13 Budidaya 2 3

Foto3. Panen teripang di Nha Trang, Vietnam (abc.net.au)

Agar tahan lebih lama ketika dipasarkan, terdapat penanganan yang harus dilakukan. Caranya, tusuk teripang yang masih segar dengan lidi pada bagian anus untuk membersihkan isi perutnya. Kemudian, perut dibelah sepanjang 5—10 cm dan isinya dikeluarkan. Proses pembersihan dilanjutkan dengan pembilasan menggunakan air bersih. Selanjutnya, teripang direbus selama 30 menit hingga matang.

Kulit teripang dibersihkan dengan cara direndam menggunakan bahan alami, yaitu parutan pepaya muda selama 1 jam. Alternatif lain, parutan pepaya diganti dengan NaOH, KOH, atau CaCO3. Langkah berikutnya adalah proses pengasapan untuk mengurangi kandungan air. Proses pengeringan lanjutan dilakukan dengan oven atau penjemuran di bawah terik matahari. Teripang yang berkualitas baik memiliki bobot 40% dari bobot basah. (Noerhidajat)

Mengatasi Kanibalisme pada Lele

Ikan lele terkenal dengan sifat kanibalismenya. Ikan tak bersisik ini tak segan makan sesamanya. Sifat ini menjadi salah satu kendala yang sering dikeluhkan para pembudidaya ikan lele. Apa saja faktor pemicunya dan bagaimana cara mengatasinya?

Foto 1

 

Kecenderungan memakan teman sendiri membuat para pembudidayanya tidak bisa memperoleh untung maksimal. Kerap kali, jumlah ikan yang diperoleh pada saat panen tidak seperti yang diharapkan.

Untuk mengatasi masalah kanibalisme tersebut, redaksi Info Akuakultur mencoba menelusuri informasi dari pembudidaya. Hasilnya, faktor pemicu kanibalisme pada lele terangkum pada tulisan berikut.

Kekurangan pakan

Ketika diwawancara, Adriansyah, pengelola Alifagro, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis lele, mengungkapkan bahwa masalah pakan merupakan pemicu utama kanibalisme pada lele. Menurutnya, jumlah pakan yang tidak memenuhi kebutuhan menyebabkan lele berperilaku agresif dan memangsa temannya sendiri. Oleh karena itu, ia menyarankan agar kebutuhan pakan tercukupi.

 

“Sebagai patokan, kebutuhan pakan dalam sehari adalah 5% dari bobot biomassa ikan. Pemberian pakan tersebut dilakukan tiga kali sehari. Pagi sekitar pukul 09.00—10.00, petang sekitar pukul 06.00, dan terakhir pukul 22.00 malam,” paparnya.

Menurut pengusaha jebolan Universitas Indonesia ini, bobot biomassa lele perlu di-cek setiap 10 hari sekali. Caranya dengan pengambilan sampel. Selanjutnya, ikan ditimbang, lalu dikalikan dengan jumlah populasi total yang ada dalam satu kolam. Kemudian, pakan sebanyak 5% dari total biomassa ikan ditebarkan merata ke seluruh kolam setiap harinya.

Selain itu, Adri berbagi tips dalam menekan perilaku kanibalisme ikan peliharaannya. Secara teratur, ia mengaplikasikan probiotik. Pemberiannya bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui pencampuran dengan pelet ikan dan bisa dicampurkan langsung ke dalam air kolam.

Pemberian pakan tambahan selain pelet, misalnya ayam yang mati, tidak mempengaruhi sifat kanibalisme. Namun, ia menekankan, untuk lele berukuran 10 cm, ayam sebaiknya direbus terlebih dahulu. Sementara untuk lele berukuran lebih besar, ayam cukup dibakar saja. Pemberian pakan tambahan ini untuk menyiasati kebutuhan protein ikan yang tinggi. Di samping itu, jika pasokan ayam tidak tersedia, ia biasa menggunakan sosis afkir, yang banyak tersedia.

Ukuran tak seragam

Bambang Wahyono, salah seorang praktisi budidaya lele di Wonosobo, Jawa Tengah, berbagi kiat dan pengalaman menekan kanibalisme lele. Menurutnya, sifat kanibalisme bisa dipicu ukuran tubuh yang tidak seragam. Akibatnya, lele berukuran lebih besar cenderung memangsa temannya yang berukuran lebih kecil. Oleh karena itu, lele yang dipelihara dalam satu kolam diupayakan memiliki ukuran tubuh yang seragam.

 

Menurut Bambang, tebar benih dalam kolam yang sama sebaiknya berasal dari benih berumur sama. Pasalnya, lele berumur sama cenderung memiliki besar tubuh yang hampir sepadan. Meskipun demikian, hal ini tidak menjamin bahwa ukuran ikan akan seragam seterusnya karena berbagai faktor. Sebagian lele tumbuh lebih cepat dari pada yang lainnya. “Untuk itu, kegiatan penyortiran ikan harus dilakukan, paling tidak setiap 2 minggu sekali,” terangnya.

Penyortiran bisa dilakukan dengan menggunakan ember khusus sortir. Dengan demikian, akan didapatkan ukuran ikan yang seragam dalam satu kolam yang sama.

 

Kondisi air kolam

Kondisi air kolam, bening dan keruhnya, bisa mempengaruhi tingkat kanibalisme. Air yang bening membuat jarak pandang lele lebih jauh. Bambang menuturkan, mengurangi jarak pandang ikan bisa menurunkan tingkat kanibalisme pada lele. Caranya dengan membuat air kolam budidaya agak keruh, misalnya dengan menerapkan sistem budidaya bioflok, red water system (sistem mikrobia penyangga atau system budidaya air merah), dan cara lainnya.

“Keruh di sini bukan berarti air tersebut kotor karena banyak mengandung sisa pakan dan kotoran yang tak terurai. Namun, air yang berwarna keruh ini lebih karena kehadiran bakteri atau alga yang menguntungkan bagi pertumbuhan ikan,” jelas Bambang.

Padat tebar tinggi

Padat tebar tinggi tanpa disertai sistem yang mendukung bisa memicu terjadinya kanibalisme pada ikan lele. Dalam kondisi demikian, kompetisi antar-ikan dalam mendapatkan makanan akan sangat tinggi. Begitu pun juga dalam mendapatkan ruang gerak dan kebutuhan lainnya. Tingkat kompetisi yang tinggi mendorong kanibalisme.

Namun, Bambang mengakui, selama sistemnya mendukung, padat tebar tinggi tidak menjadi masalah. Kolamnya sendiri memiliki padat tebar sekitar1.000—1.200 ekor ikan setiap m3. Namun, untuk menyiasati padat tebar yang tinggi, ia mempraktikkan system budidaya air merah (red water system) dengan aplikasi probiotik yang dibuat sendiri dengan gula merah.

Stres lingkungan

Stres lingkungan bisa menjadi pemicu sifat kanibalisme lele. Lele yang stres cenderung bersifat agresif. Jika faktor mendukung, sifat kanibal lele muncul sehingga mereka bisa memangsa temannya sendiri yang berukuran lebih kecil.

Beberapa faktor lingkungan bisa menyebabkan lele mengalami stres, antara lain fluktuasi suhu, lingkungan air yang buruk, serta kurangnya pasokan oksigen. Padat tebar yang terlampau tinggi tanpa dilengkapi sistem yang mendukung bisa menyebabkan penurunan kualitas air, antara lain rendahnya kadar oksigen terlarut. Akibatnya, lele menjadi stres dan mendorong munculnya kanibalisme.

Faktor pemicu stres lainnya adalah lingkungan sekitar kolam budidaya. Idealnya, kolam budidaya dibuat di tempat yang tenang, jauh dari keramaian kendaraan, dan lalu-lalang orang. Kondisi lingkungan yang ramai dan gaduh bias memicu stres lingkungan dan pada akhirnya meningkatkan kanibalisme. (Noerhidajat)

Busmetik, Solusi Petambak Udang Skala Kecil

 

 

 

Pengembangan teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik atau yang dikenal dengan Busmetik saat ini sedang gencar digalakkan. Pengembangan Busmetik merupakan upaya meningkatkan produktivitas dan efisien produk hasil perikanan yang makin diminati pasar lokal dan internasional.

Busmetik merupakan pengembangan teknologi budidaya udang, yang saat ini dijadikan media pembelajaran untuk mencetak peserta didik yang terampil dalam budidaya udang. Mengapa udang? Tak lain karena hingga saat ini udang menjadi komoditas bisnis yang sangat menguntungkan.

Teknologi Busmetik merupakan hasil kajian empiris sejak akhir tahun 2009, yang dilakukan oleh civitas akademika Sekolah Tinggi Perikanan (STP). Inilah instrument pokok dalam pembelajaran pendidikan vokasi untuk program studi Teknologi Akuakultur di STP Serang, Banten.

Banyak keuntungan dari teknologi Busmetik, antara lain biaya murah sehingga terjangkau oleh petambak kecil dan menegah. Pengolahan tambak pun menjadi lebih mudah karena luasan petak menjadi lebih kecil dibandingkan tambak ekstensif/tradisional.

Teknologi Busmetik sangat cocok untuk budidaya udang vannamei (Litopeneus vannamei) karena udang vannamei dapat dipelihara dalam kepadatan tinggi, di atas 100 ekor/m3. Selain itu, udang vannamei memiliki pertumbuhan lebih cepat, lebih tahan terhadap penyakit, dan memiliki segmen pasar yang fleksibel.

Prosedur pemeliharaan

Beberapa komponen penting dalam penerapan teknologi Busmetik, yaitu: (1) wadah budidaya, (2) media budidaya, (3) biota budidaya, dan (4) Lingkungan sekitar.

Wadah budidaya dibuat dengan dimensi yang tidak terlalu luas dan dilapisi plastik jenis high density poly ethylene (HDPE) dengan ketebalan 0,5 mm. Sementara kedalaman tambak berkisar 80—100 cm. Media budidaya, dalam hal ini air, harus memenuhi kriteria secara fisik, kimia, maupun biologi. Di samping itu, bebas dari hama dan penyakit. Biota budidaya yang akan dibudidayakan harus sehat, berukuran seragam (PL 10—12) dan bebas dari penyakit. Sementara dalam teknologi Busmetik, kondisi sekeliling tambak sangat berpengaruh. Oleh sebab itu, tambak hendaknya dikelilingi ekosistem mangrove.

AK 9 Budidaya 2 2 Udang vannamei memiliki pertumbuhan lebih cepat dan lebih tahan terhadap penyakit (istimewa)

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Pusluh), proses pemeliharaan udang pada teknologi Busmetik diawali dengan penyiapan petakan tambak. Dimensi tambak berbentuk empat persegi panjang dengan luas 600—1.000 m2. Petakan tambak yang dilapisi plastik akan sangat memudahkan persiapan. Tambak cukup dikeringkan 1—2 hari, lalu dibersihkan dan selanjutnya siap diisi air.

Kegiatan selanjutnya adalah pensucihamaan dengan mengunakan kaporit. Dosis kaporit yang digunakan 50—60 mg per liter. Setelah 2—3 hari, air di dalam tambak akan netral dari klorin dan siap untuk diberikan bakteri probiotik jenis Bacillus.

Berdasarkan rilis Pusluh, ada dua faktor penting yang harus diperhatikan dalam memberikan probiotik jenis Bacillus. Pertama, stochastic, yaitu berkaitan dengan waktu untuk memberikan probiotik. Kedua, deterministic, yaitu dosis yang cukup agar Bacillus mampu menjalankan perannya dengan baik.

Berdasarkan pemahaman terhadap kedua faktor tersebut, dalam teknologi Busmetik, Bacillus diberikan pada awal persiapan setelah air tambak netral dari klorin. Hal ini dimaksudkan agar Bacillus mendominasi mikroorganisme pada media pemeliharaan. Selanjutnya, pemberian Bacillus dilakukan secara berkala hingga akhir pemeliharaan untuk mempertahankan populasinya dalam air tambak. Pengalaman lapangan membuktikan, aplikasi Bacillus dengan cara seperti ini mampu mempertahankan kualitas air tambak lebih lama sehingga udang lebih stabil dan meminimalkan pergantian air.

Teknologi Busmetik telah terbukti menghasilkan panen udang dengan maksimal, yaitu tiga kali panen dalam 1 tahun. Tak heran jika pada tahun 2013, teknologi Busmetik mendapatkan apresiasi dari Menteri Kelautan dan Perikanan, yang waktu itu dijabat oleh Sharif C. Sutardjo.

Sebagai contoh, berdasarkan pengalaman kelompok pembudidaya ikan Posdaya Mulyosari di Desa Sidomulyo, Ngadirejo, Pacitan, Jawa Timur, empang seluas 600 m2 dengan padat tebar tinggi 250 ekor/m3 menghasilkan 2.280 kg udang vannamei. Volume panen sudah memperhitungkan kelangsungan hidup udang selama budidaya sebesar 95%.

Empang plastik dapat dipakai untuk 3 kali siklus budidaya. Dengan investasi awal sebesar Rp 165 juta dan ongkos operasional Rp 67 juta, pendapatan per siklus mencapai Rp 114 juta. Bila dihitung setiap siklus, petambak Busmetik dapat memetik laba bersih sebesar Rp 47 juta di luar nilai investasi.

Produksi udang harus terus ditingkatkan guna mendongkrak peningkatan produksi perikanan budidaya secara nasional. Oleh sebab itu, di samping mengembangkan wirausaha dan perluasan lapangan pekerjaan, berbagai upaya akan terus dilakukan termasuk inovasi teknologi, salah satunya dengan teknologi Busmetik. Melihat hasil produksi udang yang sangat menjanjikan dalam Busmetik, sudah saatnya inovasi teknologi ini dapat diterima oleh masyarakat secara luas, terutama pelaku perikanan budidaya. Dengan begitu, keberhasilannya diharapkan dapat meningkatkan produksi udang nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kala itu, Sharif mengatakan bahwa teknologi Busmetik mampu meningkatkan produktivitas udang sehingga perlu terus dikembangkan. Harapannya, pengembangan tidak hanya dilakukan pemerintah, melainkan juga pihak swasta. Sharif menerangkan bahwa sejumlah tenaga ahli perikanan dari negara lain juga sudah mempelajari teknik budidaya tersebut dan berharap bisa dikembangkan di negaranya masing-masing. Tenaga ahli perikanan asing tersebut antara lain nerasal dari Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, India, dan China.

“Kesempatan memproduksi udang dengan teknologi Busmetik harus bisa dimanfaatkan Indonesia, mengingat sejumlah negara pesaing saat ini produksi udangnya gagal karena terserang penyakit ‘Early Mortality Syndrome (EMS)’ yang mematikan,” ujarnya. “Saya berharap agar di masa datang Indonesia tidak tertinggal lagi soal budidaya udang dari negara yang justru sebelumnya belajar dari kita. Kemampuan teknologi ini hendaknya bisa terus ditingkatkan dan terus dilakukan inovasi” (Althaf Danayah)

 

 

 

 

PERS RELEASE: PARADIGMA SUSTAINABLE DEVELOPMENT DALAM TAMBAK TEKNOLOGI SUPER INTENSIF

Sustainable development dalam Tambak Super Intensif

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) Maros, 14 Juni 2015

Saat ini, bertambak menjadi peluang untuk pemenuhan produksi pangan, khususnya pemenuhan protein dari hewan akuatik, seperti udang dan ikan.  Prinsip sustainable development harus mendasari proses produksi dalam tambak, tidak hanya fokus pada peningkatan produksi semata tetapi juga pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.  “Sudah bukan jamannya lagi mengkonversi hutan mangrove untuk menjadi tambak produksi, justru saatnya kita replanting bakau untuk memperbaiki ekosistem pesisir,” ungkap Prof Rachman Syah, peneliti utama Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) di Takalar, 14 Juni 2015.

Rachman Syah menjelaskan prinsip-prinsip budidaya udang vaname teknologi super intensif kepada peserta techno park magang teknologi yang diselenggarakan dari tanggal 10 – 16 Juni 2015 di Instalasi Tambak Percobaan BPPBAP di Desa Punaga, Kabupaten Takalar, Sulsel.  Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar, Barru, Pinrang Sulsel, Kabupaten Berau Kaltim, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pemakaian kincir dalam Tambak Super Intensif

Pakar lingkungan akuakultur tersebut menitikberatkan pada efisiensi penggunaan input akuakultur, termasuk lahan dan air.  “Dengan teknologi super intensif, penggunaan air yang dibutuhkan untuk produksi 1 kg udang hanya sebesar 2 m3 dan lahan kecil seluas 1.000 m2 dengan kedalaman 2 meter mampu menampung satu juta benur udang”, lanjut Rachman Syah.

Padat tebar yang tinggi perlu diikuti dengan penggunaan kincir dan blower sebagai aerasi untuk pemenuhan oksigen bagi biota budidaya.  Selain itu, penambahan bahan lain, seperti probiotik, molase diperlukan untuk memperbaiki kualitas perairan.  Lebih detail dijelaskan mengenai prinsip pengolahan air limbah budidaya yang menjadi fokus penelitian beliau tahun 2015.  “Sub sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mutlak diperlukan dalam sistem budidaya ini.  Konsep IPAL ini telah diwujudkan di tambak percobaan BPPBAP dengan adanya bangunan kolam pengolahan yaitu kolam sedimentasi, kolam oksigenasi, dan kolam biokonversi,” jelas alumni pascasarjana IPB ini.

Adanya IPAL ini dapat meningkatkan nilai tambah berupa fresh product berupa udang dengan dampak lingkungan yang minimal dan adanya co product berupa rumput laut, kekerangan, ikan nila yang dapat dipelihara di kolam biokonversi.  “komoditas ini merupakan organisme pada trophic level yang memanfaatkan rantai makanan level awal, sehingga mampu mengkonversi bahan organik dari limbah budidaya udang,” lanjut beliau.  Dukungan litbang perikanan budidaya ini diharapkan mampu mendorong efisiensi dalam akuakultur dengan prinsip sustainable sebagai faktor pendorong meningkatnya daya saing produk akuakultur Indonesia.

Contact Person:

Ir. Andi Parenrengi, M.Sc

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau

Sms: 0813 1533 4215

Indra Jaya Asaad, S.Pi, M.Sc

Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan Sarana BPPBAP

Sms: 0852 5533 5676

logo

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

BUDIDAYA AIR PAYAU

JALAN MAKMUR DG.SITAKKA NO.129 MAROS 90512

TELEPON (0411) 371544, FAKSIMILI (0411) 371545

LAMAN:  www.litbang.kkp.go.id/rica-maros   POS ELEKTRONIK: [email protected]

BETERNAK LELE DI KOLAM TERPAL

IMG_4173Dalam perjalanan ke berbagai tempat, Info Akuakultur menjumpai peternak lele yang memelihara ikan ini dalam kolam terpal. Sebuah upaya praktis dan ekonomis yang patut untuk ditiru. Bagaimana teknis dan keberhasilan usaha ini? Info Akuakultur pilih dua contoh, di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Jombang. Keduanya di Jawa Timur.

Lele Kolam Terpal Bojonegoro

Lebih dikenal dengan nama Didik Sangkuriang, Didik Setiawan (22 tahun) dari Kecamatan Ngambon Kabupaten Bojonegoro dengan Kelompok Tani “Regas” berhasil membudidayakan ikan lele jenis Sangkuriang. Sejumlah 30 orang anggota Regas memelihara ikan lele di pekarangan rumah masing-masing dengan media terpal untuk kolam berukuran 4 x 2 meter persegi untuk 1000 ekor lele.

Didik sendiri memiliki 9 kolam dan masih mengembangkan lagi menjadi 12. “Terpal dibeli di pasar seharga sekitar Rp 140.000 untuk tipe A5 (4 x 6 meter persegi). Dengan demikian membutuhkan lahan seluas kebutuhan,” katanya.

Dia mengaku, bibit ikan lele dibeli dari tetangga bernama Heri Setiawan salah seorang yang pernah ikut pelatihan dan pemegang sertifikat pemijahan ikan lele Sangkuriang di perikanan Abah, Jawa Barat. Heri sendiri yang sebelumnya pelayar tertarik bidang ini berkat pengaruh kakaknya.

Selanjutnya diungkap peternak ikan yang juga guru komputer SMK Ngambon ini, harga seekor bibit lele sepanjang 4-6 cm adalah Rp 150. Dengan demikian 1000 ekor bibit untuk satu kolam dibutuhkan dana Rp 150.000.

Tahap pemeliharaan membutuhkan waktu 3 bulan. Guna pembuatan kolam, tanah seluas 4 x 2 meter persegi digali sedalam kurang lebih 40 cm, diratakan. Setiap sudut diberi bambu penahan, dibuat pagar atau dinding dari bambu berkeliling. Terpal digelar dan ujung-ujungnya dilipat sesuai tinggi pagar sehingga terbentuk kolam.

Air sumur diisikan ke dalam kolam terpal setinggi 40 cm tersebut, diberi larutan herbal. Larutan ini tidak diperjualbelikan dan dirahasiakan formulanya namun diberikan secara cuma-cuma jika membeli bibit pada pemilik sertifikat “Sangkuriang” tadi. “Supaya kami dapat bersilaturahmi,” kata Heri pemegang sertifikat di Ngambon.

Selanjutnya pupuk kandang berupa kotoran kambing dalam karung zak dimasukkan ke dalam kolam, dibiarkan selama seminggu. Tujuannya keluar jentik-jentik, plankton dan zooplankton guna pakan ikan lele.

Setelah seminggu, pupuk kandang diangkat, bibit dimasukkan, lalu dibiarkan 1-2 minggu. Baru kemudian air ditambahkan. Masuklah pada tahap pemeliharaan.

Pada tahap pemeliharaan, setiap hari ikan diberi makan berupa pellet (Jawa: wur) yang sudah difermentasi. Pellet ini dibeli di toko perikanan/ peternakan/ poultry shop. Fermentasi dilakukan oleh Didik selaku peternak sendiri sesuai pengajaran oleh Heri.

Dalam fermentasi itu, 10 mililiter enzim xylase dicampur dengan 10-20 mililiter tetes tebu dalam 1 liter air. Pakan ternak direndam secukupnya pada campuran itu sampai terfermentasi. Ditunggu beberapa saat sampai siap ditaburkan sebagai makanan ikan.

Pemberian pakan tersebut dilakukan sehari empat kali, sampai tiga bulan masa panen. Besaran pellet disesuaikan dengan umur ikan. Sekali pemberian pakan menghabiskan satu baskom bulat. Untuk ukuran Lele 3-4 cm, selama 3 bulan habis pakan sejumlah 60 kilogram. Harga pakan adalah Rp 263.000 untuk satu zak (berat bersih 30 kilogram). Pakan ini dibeli di kecamatan kota, Bojonegoro. “Di peternak belum ada,” akunya.

Setelah tiga bulan, masa panen pun tiba. Satu panenan habis 1 zak pakan. Satu kolam menghasilkan paling sedikit 70 kilogram. Satu kilogramnya ada delapan ekor lele. Sejumlah 30 orang anggota kelompok tani sudah merasakan hasil panen Lele Sangkuriang itu. Panen dijual ke konsumen langsung, tengkulak, pesanan atau di pasar.

“Bila dibeli borongan satu kolam, per kilogramnya dihargai Rp 13.500. Bila dibeli eceran, per kilogramnya dihargai Rp 17.000-Rp 18.000,” ungkap Didik Sangkuriang.

Kini Didik sedang menjajagi kerjasama dengan instansi sekolah yaitu kantin. Keinginannya ke depan adalah mengembangkan wisata kuliner alternatif di Kecamatan Ngambon. “Ngambon identik dengan Lele Sangkuriang,” katanya tentang harapannya.

Anggota jejaring sosial Blogger Bojonegoro yang dikenal sebagai satu-satunya Blogger yang memperkenalkan kegiatan beternak lele ini pun menambahkan, “Karena tren saat ini orang memilih makan jauh dari kota dengan suasana yang nyaman. Dengan Lele Sangkuriang dan suasana demikian, kami siap menyediakan.”

 

Lele Kolam Terpal Jombang

 

Di Desa Sidowaras Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang, kolam lele milik Ali Mochtar ada tiga berupa kolam terpal. Masing-masing berukuran 2 x 3 meter persegi, 1,5 x 3 meter persegi, dan 1,5 kali 2,5 meter persegi. Bibit lele baginya yang diluar beternak bekerja serabutan termasuk mahal, per ekor Rp 3000-4000.

Pakan lele itu adalah ayam yang sudah mati, dibakar sampai bulunya hilang dan direbus. Kalau membeli pakan pabrik menurutnya kurang menguntungkan karena mahal. Untuk 1 sak seberat 30 kilogram saja harganya Rp 270.000. Bandingkan dengan harga bangkai ayam yang per ekornya cuma Rp 2000. Maka diapun lebih suka membeli ayam mati, bisa sampai 10, tergantung di kandang peternakan ayam terdekat yang mati banyak atau sedikit.

Biasanya satu kali panen dari 1000 ekor lele bisa dapat 60-70 kilogram, saat peliputan ini hanya 10-25 kuintal. (Yonathan)