ASOHI BERI MASUKAN PERSYARATAN GMP PADA PERMENTAN NO 45 TAHUN 2019

ASOHI BERI MASUKAN PERSYARATAN GMP PADA PERMENTAN NO 45 TAHUN 2019
Ketua Umum ASOHI Drh Irawati Fari melalui surat resminya bernomor : 026/ASOHI/V/2020 yang ditujukan kepada Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Republik Indonesia memberikan masukan terhadap Persyaratan GMP pada Permentan No 45 tahun 2019 tentang “Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik di Bidang Pertanian”
Lebih lengkapnya sebagai berikut, sehubungan dengan telah diberlakukannya Permentan No 45 tahun 2019 tentang “Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik di Bidang Pertanian”, di mana pada Pasal sebagai berikut; Pasal 77 ayat 1 bagian f nomor 4: mencantumkan persyaratan sertifikat GMP (Good Manufacturing Practice) untuk pemenuhan komitmen pendaftaran obat hewan jadi; dan Pasal 96 ayat 1 bagian a nomor 9: mencantumkan persyaratan untuk sertifikat GMP (Good Manufacturing Practice) untuk pemenuhan komitmen pemasukan bahan baku obat hewan.
“Berdasarkan informasi yang kami terima dari anggota ASOHI, maka bersama ini kami informasikan bahwa anggota kami yang melakukan pendaftaran obat sediaan Feed Additive, Biologik dan Biologik kit serta bahan baku teregistrasi ditolak pada saat tahap proses verifikasi, karena tidak melampirkan sertifikat GMP,” jelas Irawati dalam suratnya.
Setelah kami melakukan pendataan kepada anggota,untuk produk-produk Feed additive, Biologik dan bahan baku di beberapa negara seperti USA, Eropa, Korea, Cina dan lain-lain mereka tidak menggunakan sertifikat GMP untuk Feed Additive dan Bahan baku melainkan menggunakan sertifikat Fami-QS atau FCA (Feed Chain Alliance), dan untuk produk Biologik Kit menggunakan sertifikat ISO.
Untuk itu kami mengajukan permohonan kepada pihak pemerintah agar dapat meninjau kembali Permentan 45 tahun 2019 pasal 77 ( ayat 1F no:4) dan pasal 96 (ayat 1A no:9) dan menambahkan bahwa sertifikat Fami-QS dan atau FCA untuk sediaan Feed Additive dan bahan baku dan sertifikat ISO untuk sediaan Biologik Kit dapat diterima sebagai alternative yang setara dengan prasyarat sertifikat GMP.
Berdasarkan PROTAP Pendaftaran Obat Hewan N0 02/Kpys/LB.450/F/03/06 untuk syarat surat keterangan bahwa pabrik obat hewan telah mengikuti cara pembuatan obat hewan yang baik bisa diberikan GMP atau ISO atau HACCP untuk data pendaftaran selain obat hewan produk Biologik dan Farmasetik.
Sebagai bahan pertimbangan, kami informasikan sebagai berikut:
  • Bahwa umumnya GMP digunakan sebagai persyaratan untuk Dunia farmasi. 
  • Fami-QS adalah standart yang diakui secara global mencakup kualitas dan keselamatan (termasuk didalamnya GMP)
  • Fami-QS umum digunakan di negara luar pada produk Feed Additive dan Bahan Baku
  • Fami-QS adalah pionir di bidangnya karena merupakan satu-satunya kode yang dapat disertifikasi khusus di bahan pakan dan campurannya dan dirancang untuk validitas Internasional, sehingga peserta Fami-QS dapat ditemukan di seluruh Dunia
  • Fami-QS dan GMP+ International pada tanggal 1 Maret 2013 telah mengadakan “Nota kesepakatan” dengan tujuan untuk memfasilitasi perdagangan pakan dunia dengan menghilangkan hambatan teknis untuk perdagangan, tanpa membahayakan keamanan pakan di setiap titik.
  • Fami-QS dan GMP+ International pada tanggal pada tanggal 5 Maret 2013 di Brussel menyatakan bahwa “Sertifikasi pihak ketiga menjadi fitur penting dari rantai pasokan global dan berkontribusi sebagai alat penting untuk memastikan keamanan di semua tahapan dalam rantai pasokan.
  • Nota Kesepakatan ini didasarkan pada kepercayaan antara FAMI-QS dan GMP+ International, yang telah dicapai sejak pengakuan pertama yang ditandatangani pada 19 Mei 2006; dan berlanjut dengan penilaian 2 skema di atas yaitu sertifikasi hasil dan operasional.
“Demikian yang dapat kami sampaikan, kami berharap Pemerintah dapat menerima permohoan kami sehingga proses pendaftaran obat hewan untuk sediaan Feed Additive dan Biologik Kit dan pemasukan bahan baku dari Luar Negeri dapat berjalan lancar dan dapat memenuhi kebutuhan Industri peternakan kita,” pungkas Drh Irawati Fari, Ketua Umum ASOHI.

KABAR GEMBIRA, OBAT DAN VAKSIN TERNAK TERMASUK DIKECUALIKAN PSBB

KABAR GEMBIRA, OBAT DAN VAKSIN TERNAK TERMASUK DIKECUALIKAN PSBB
Aturan larangan dan pengecualian kegiatan selama PSBB sudah diatur tegas oleh Pemerintah, mulai dari Peraturan Menteri Kesehatan, hingga Peraturan Gubernur. Berikut aturan mengenai apa saja yang akan dilarang beroperasi dalam pelaksanaan PSBB dan yang dikecualikan alias tetap boleh beroperasi secara terbatas.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 tahun 2020 Tentang  Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), ada beberapa tempat yang akan ditutup, dan beberapa tempat masih diperbolehkan beroperasi.
Perincian tata cara ini tertuang di Peraturan Menteri Kesehatan yang diteken oleh Menkes Terawan Agus Putranto pada Jumat, 3 April 2020. Beleid baru ini resmi diundangkan pada tanggal yang sama, melalui Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 326.
Adapun daftar perusahaan komersial dan swasta yang dikecualikan atau tetap boleh beroperasi diantaranya adalah:
Toko-toko yang berhubungan dengan bahan dan barang pangan atau kebutuhan pokok serta barang penting, yang mencakup makanan (antara lain: beras, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, bawang bombay, gula, minyak goreng, tepung terigu, buahbuahan dan sayuran, daging sapi, daging ayam, telur ayam, ikan, susu dan produk susu, dan air minum dalam kemasan) termasuk warung makan/rumah makan/restoran, serta barang penting yang mencakup benih, bibit ternak, pupuk, pestisida, obat dan vaksin untuk ternak, pakan ternak, gas LPG, triplek, semen,besi baja konstruksi, dan baja ringan.
Dikecualikannya perusahaan obat dan vaksin ternak untuk tetap beroperasi selama PSBB sesuai dengan masukan Ketua Umum ASOHI melalui surat resminya dengan nomor : 022/ASOHI/III/2020 bertanggal 31 Maret 2020 terkait Rencana Pemerintah Bila Dilakukan Lockdown (PSBB) di Beberapa Wilayah Indonesia. Surat tersebut ditujukan kepada Menteri Pertanian RI, Menteri Perdagangan RI, Menteri Perindustrian RI, dan Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Hal ini sudah barang tentu menjadi prestasi dan keberhasilan ASOHI dalam memperjuangkan kepentingan anggota. Selamat untuk ASOHI dan anggotanya! (WK)

ATUR VENTILASI AGAR TERHINDAR DARI PENYAKIT

ATUR VENTILASI AGAR TERHINDAR DARI PENYAKIT

Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil akhir produksi ayam broiler adalah beban panas yang tinggi (heat stress). Hal ini terjadi karena ayam broiler merupakan tipe ayam pedaging yang pada prinsipnya adalah penumpuk lemak di dalam tubuh dalam jumlah besar pada masa produksi akhir (panen). Salah satu penyakit akibat iklim yang ekstrem yakni heat stress. Pada umumnya heat stress terjadi karena penumpukan lemak menjadi penghambat pembuangan panas yang dibentuk oleh tubuh, sedangkan ayam broiler juga mendapat panas tubuh dari hasil metabolisme dan aktivitas lingkungan sekitar.

Aktivitas yang menyebabkan terjadinya panas lingkungan dipengaruhi oleh temperatur, kelembapan dan sirkulasi udara. Ketiga faktor tersebut merupakan elemen penting yang mempengaruhi produksi ayam broiler. Karena ketiga faktor tersebut berperan dalam proses terbentuknya kenyaman pada ayam, dimana akan meghasilkan produksi yang maksimal atau bahkan sebagai predisposisi timbulnya suatu penyakit pencernaan (Colibacillosis) dan pernapasan (CRD/Chronic Respiratory Disease) atau bahkan keduanya (CRD kompleks).

Atur Ventilasi  
Salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi heat stress yang muncul akibat ketiga faktor tersebut adalah manajemen ventilasi. Ventilasi merupakan pergerakan udara yang memungkinkan terjadinya pertukaran antara udara di dalam dan di luar kandang. Dengan manajemen ventilasi yang baik, maka angka temperatur, kelembapan dan sirkulasi udara dapat diatur agar kondisi nyaman ayam dapat dicapai. Dalam sistem kandang terbuka, cara meciptakan pergerakan udara di dalam kandang dapat dilakukan dengan pemberian kipas angin, penerapan sistem buka-tutup tirai kandang, serta pembuatan model kandang monitor.

Manajemen brooding pada sistem pemeliharaan ayam broiler merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan pemeliharaan hingga satu periode ke depan. Karena di masa ini, DOC akan mengalami pertambahan jumlah sel (hiperplasia) terutama otot. Oleh karena itu, kondisi di dalam kandang harus sangat mendukung. Dimulai dari suhu ideal, kelembapan yang tepat, serta kualitas oksigen yang memadai untuk proses perkembangan.
Kebanyakan peternak melupakan faktor terakhir tersebut, peternak cenderung lebih memperhatikan suhu dan kelembapan saja. Sehingga tidak jarang pada umur 7-10 hari tirai masih tertutup. Hal ini diperkuat oleh fakta yang didapat dari Technical Support PT Gold Coin Indonesia, Drh Rizqy Arief Ginanjar.

“Kenyataan yang terjadi ketika tirai masih ditutup, akan mengakibatkan sirkulasi udara di dalam kandang minimal, bahkan tidak terjadi. Sehingga kelembapan dan amonia di dalam kandang tidak bisa terkontrol. Dengan angka kelembapan dan amonia yang tinggi di dalam kandang akan memicu terjadinya penyakit,” ujar Rizqy.

Lebih lanjut, manajemen tirai yang baik harus mulai diperhatikan ketika masa brooding. Tirai yang digunakan harus menggunakan metode double screen guard (tirai luar-dalam). Aplikasinya adalah dengan menggunakan dua buah tirai, satu untuk di dalam kandang dan satu lagi untuk di luar kandang. Pada saat DOC chick-in hingga umur tiga hari, tirai dalam masih dapat ditutup rapat agar panas di dalam brooder tercapai.

Ketika memasuki umur empat hingga tujuh hari, tirai luar pada siang hari sudah harus mulai dibuka disertai dengan pelebaran dari sekat (chick guard). Tirai dibuka ±10-20cm yang bertujuan agar terjadi pertukaran udara oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2). Sedangkan untuk tirai dalam masih dipertimbangkan untuk ditutup, namun juga melihat kondisi ayam.

Ketika malam, tirai masih harus ditutup agar ayam tidak terkena cold shock. Pada umur 7-10 hari dengan asumsi pertumbuhan bobot badan yang makin berkembang, maka tirai dan pelebaran sekat juga harus mengikuti. Tirai luar pada siang hari diturunkan ¼ dari tinggi kandang (±40-50 cm), sedangkan untuk tirai dalam sudah bisa mulai dilepas. Pada malam hari tirai dapat ditutup kembali.

Pada umur 10-14 hari, tirai luar pada siang hari sudah dapat dibuka ½ tiang kandang dan pada malam hari tirai dapat dibuka ¼ tiang kandang. Pada umur 15-20 hari, tirai luar pada siang hari sudah dapat dibuka seluruhnya, namun pada malam hari tirai masih ditutup untuk antisipasi stres akibat cuaca dingin. Pada umur 21 hari hngga panen tirai sudah dapat dibuka seluruhnya baik pada siang hari maupun malam hari. Namun masih dengan pertimbangan kondisi cuaca, adakalanya dinaikan (ketika hujan atau angin besar).

Pengaturan Tirai Kandang

Umur Kondisi Tirai Keterangan
Luar Dalam
Siang Malam Siang Malam
1-2 Tutup Tutup Tutup Tutup * lihat kondisi cuaca
3-6 Buka ¼ Tutup Buka ½ Tutup
7-10 Buka ¼ Tutup Buka Buka ½
11-14 Buka ½ Buka ¼ * Buka Buka
15-20 Buka* Buka ½ * Buka Buka
21-panen Buka Buka * Buka Buka

Disamping manajemen tirai, faktor sirkulsi udara juga dapat dibantu dengan penambahan kipas angin dan pembuatan kandang monitor. Pemberian kipas angin sering dipasang di dalam kandang yang memiliki alas litter. Tujuan pemberian kipas angin adalah untuk mempercepat perpindahan udara di dalam kandang. Jenis kipas angin yang digunakan adalah kipas angin pendorong (blower fan) dengan berbagai ukuran 24”, 36” dan 42”. Kipas angin dapat ditempatkan pada ketinggian 50-100 cm dari lantai.

Di daerah tropis jenis kandang tipe terbuka yang memiliki konstruksi panggung diharapkan memiliki atap yang berbentuk monitor. Karena cuaca pada wilayah tropis sangat mempengaruhi dalam tata laksana manajemen ventilasi. Selain dengan manajemen buka-tutup tirai, pembuatan kandang jenis panggung dan atap monitor pada kandang terbuka sangat membantu dalam proses pertukaran oksigen dan karbondioksida atau bahkan pembuangan senyawa berbahya H2S serta NH3.

Salah satu peternak yang sudah mengaplikasikan manajemen ventilasi adalah Suhardi. Menurutnya, ditengah iklim dan cuaca ekstrem seperti saat ini manajemen ventilasi yang baik akan menunjang performa apalagi jika dibarengi dengan pemeliharaan yang baik.
“Saya selalu rutin dalam mengatur ventilasi, karena saya kurang biaya untuk bikin closed house jadi mau tidak mau saya harus bisa mengatur ventilasi. Paling sebagai tambahan saya sedikit rajin semprot desinfektan, sama memisahkan ayam yang mati. Biar enggak nular penyakitnya,” kata Suhardi.

Pengaturan ventilasi ini, lanjut dia, sangatlah penting. Hal buruk pernah menimpa Suhardi dikala anak kandangnya lupa melakukan maintenance buka-tutup tirai. “Pernah cuaca lagi panas-panasnya lupa buka tirai, ayam malah mati kepanasan semua, mana baru chick-in. Peristiwa seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari, makanya saya rutin mengatur ventilasi, supaya ayam tetap oke performanya,” tandasnya. (CR)

Sumber : http://www.majalahinfovet.com

KONTROL SUHU DAN KELEMBAPAN SAAT BROODING

Peran brooder sangat penting untuk menjaga suhu dalam kandang saat masa brooding,
agar ayam nyaman dan pertumbuhannya bisa optimal.

Untuk mencapai sukses pada periode awal pemeliharaan ayam (periode starter), apakah ayam bibit (breeder), ayam pedaging (broiler) atau ayam petelur (layer), kontrol suhu dan kelembaban sekitar anak ayam (DOC) sangat penting dilakukan di samping kualitas pakan, air minum dan ventilasi udara. Sistem thermoregulator ayam atau sistem pengaturan suhu tubuh ayam yang bersifat hometermik (suhu tubuh bersifat relatif stabil) berada pada kisaran tetentu yaitu suhu 40-41C. Namun saat ayam berumur 0-5 hari, ayam belum mampu mengatur suhu tubuhnya sendiri, karena pertumbuhan bulu sebagai salah satu kelengkapan pengatur suhu tubuh belum lengkap. Ayam baru mulai mampu mengatur suhu tubuhnya sendiri secara optimal sejak umur dua minggu. Oleh karena itu, peranan brooder (pemanas) sangatlah penting untuk menjaga suhu kandang tetap dalam zona nyaman, seperti yang disajikan pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1: Suhu dan Kelembaban Udara yang Nyaman Bagi Ayam

Ayam pedaging Ayam petelur
Umur (hari) Suhu (oC) Kelembaban (%) Umur (hari) Suhu (oC) Kelembaban (%)
1 3229 6070 03 3331 5560
3 3027 6070 47 3231 5560
6 2825 6070 814 3028 5560
9 2725 6070 1521 2826 5560
12 2625 6070 2124 2523 5565
≥15 2425 6070 ≥25 2523 5565

Sumber: Ross Manual Management (2009) & ISA Brown Manual Management (2007).

Di samping suhu, kelembaban udara (kadar air yang terikat di dalam udara) juga perlu diperhatikan, karena akan memengaruhi suhu yang dirasakan ayam, yang ada kaitannya dengan pengeluaran suhu tubuh pada ayam adalah melalui painting (membuka mulut), di mana semakin tinggi kelembaban udara, maka suhu efektif yang dirasakan ayam akan semakin tinggi pula. Sebaliknya ayam akan merasakan suhu yang lebih dingin dibanding suhu lingkungan saat kelembaban rendah, seperti pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2: Pengaruh Kelembaban Terhadap Suhu yang Dirasakan Ayam

Suhu efektif yang dirasakan ayam (oC) Kelembaban kandang pada Thermohygrome-ter (%)
40% 50% 60% 70% 80%
Suhu kandang pada Thermo-hygrometer (oC)
30 36,0 33,2 30,8 29,2 27,0
28 33,7 31,2 28,9 27,3 26,0
27 32,5 29,9 27,7 26,0 24,0
26 31,3 28,6 26,7 25,0 23,0
25 30,2 27,8 25,7 24,0 23,0
24 29,0 26,8 24,8 23,0 22,0

Sumber: Ross Manual Management (2009).

Pengaruh Terhadap Produktivitas

Disaat kondisi suhu dan kelembaban tidak nyaman, maka ayam akan merespon/bereaksi dengan berbagai cara, diantaranya:

  • Saat Suhu Terlalu Dingin: Otak ayam akan merespon dengan meningkatkan metabolisme untuk menghasilkan panas tubuh. Efek suhu dingin ini terhadap anak ayam (DOC) pada masabrooding, jelas lebih tampak dibanding ayam remaja/dewasa, karena sistem thermoregulator-nya belum optimal. Suhu dingin ini bisa disebabkan berbagai faktor, antara lain suhu brooding yang terlalu rendah, litter yang dingin karena basah atau air minum yang terlalu dingin. Sebagai peternak dapat mengamati dan menganalisa penyebab suhu dingin ini dari tingkah laku ayam, di mana bila DOC berkerumun di bawah brooder, ayam berdiam diri, meringkuk, serta kondisi kaki yang basah, berarti suhu brooder terlalu rendah dan perlu dinaikkan, atau kemungkinan litter basah dan dingin. Secara alamiah bila ayam (DOC) nyaman dengan suhu kandang, maka dalam waktu 15 detik setelah disebar di bawah brooder, akan terjadi aktivitas biologis selanjutnya seperti bergerak/berlari, makan dan minum.
  • Saat Suhu Terlalu Panas: Pada kondisi ini ayam akan terlihat painting sebagai usaha tubuh mengeluarkan panas yang berlebih. Sebelumnya ayam akan berusaha dengan melakukan perluasan area permukaan tubuh (melebarkan/menggantungkan sayap) dan melakukan peripheral vasodilatation, yaitu meningkatkan aliran darah perifer terutama di jengger, pial dan kaki. Efek lanjutan pada kondisi ini ialah konsumsi pakan menurun dari biasanya sedang konsumsi air minum meningkat tajam, sehingga terjadi mencret (kotoran berair) dan pertambahan bobot badan terhambat akibat dari asupan nutrisi tidak terpenuhi dan metabolisme tubuh terganggu. Bila painting tidak mampu menurunkan suhu tubuh, maka ayam akan mengalami kematian mendadak.

Perlunya Database Suhu dan Kelembaban

Database suhu dan kelembaban di dalam kandang perlu dibuat, berupa pencatatan tentang kedua unsur tersebut baik kondisi pagi hari, siang, sore dan malam atau dini hari terutama mengingat Indonesia yang beriklim tropis. Catat juga respon ayam apakah ada painting, dan berdasarkan recording ini peternak bisa cepat bertindak apabila terjadi sesuatu di luar kondisi normal dan ideal.

Dalam satu kandang, minimal ada 3-5 titik untuk mengukur suhu dan kelembaban, yaitu bagian depan, tengah, belakang, atas (dekat genting) dan lantai kandang, dengan menempatkan alat otomatik (Thermohygrometer) di tiap kandang. Untuk kandang brooder, alat Thermohygrometer digantungkan di chick guard (pembatas lingkaran brooder), sedang pada kandang postal tanpa brooder bisa di tempatkan di bagian tengah kandang dengan ketinggian 40-60 cm.

Manajemen suhu dan kelembaban ini, juga harus melibatkan, 1) Pengaturan kepadatan. 2) Pemberian vitamin dan elektrolit. 3) Manajemen buka tutup tirai. 4) Penambahan kipas angin. 5) Sistem hujan/kabut buata. 6) Modifikasi konstruksi kandang. 7) Penggunaan closed house (kandang tertutup) jika ayam berjumlah ratusan ribu sampai jutaan ekor.

Semoga ulasan ini dapat membantu peternak untuk memberikan kondisi lingkungan yang nyaman bagi ayam, agar produktivitas ternak bisa tercapai secara optimal. (Sjamsirul. A)

Narasumber : http://www.majalahinfovet.com

GITA DAN INFOVET GELAR PERDANA ZOOM ONLINE SEMINAR BIOSEKURITI

GITA DAN INFOVET GELAR PERDANA ZOOM ONLINE SEMINAR BIOSEKURITI

GITA Organizer dan Majalah Infovet menggelar Online Seminar Biosekuriti dengan tema : “Pandemi vs. Biosekuriti (Pada Peternakan Unggas) diikuti 120 peserta dari seluruh tanah air terdiri dari Akademisi (Unsrat Manado, Unlam Banjarmasin, Unram Lombok, IPB Bogor, Unpad Bandung, Unbra Malang, Unud Bali, Polbangtan Gowa, UNU Blitar, Unair Surabaya, UNP Kediri dll). Seminar ini adalah seminar perdana yang didukung oleh perusahan obat hewan nasional yaitu PT Romindo Primavetcom, PT Biomin dan PT Zoetis.

Alfred Kompudu

Seminar yang diselenggarakan di tengah maraknya Pandemi Covid 19 ini, menghadirkan pakar Biosekuriti yang masing-masing sudah lama malang melintang di bidangnya yaitu Alfred Kompudu, S Pt, MM (Master Trainer Biosekuriti dari  Australian Centre for International Agriculture Research) dengan materi : “Implementasi Biosekuriti 3-Zone di Peternakan Unggas” dan Drh. Baskoro Tri Caroko (National Poultry Technical Consultant) dengan materi : “Desinfeksi Yang Tepat Untuk Peternakan”. Sebagai moderator Bambang Suharno, Pemimpin Umum/Redaksi Infovet.

Baskoro Tri Caroko


Alfred Kompudu sebagai pembicara pertama mengawali dengan mengemukakan kasus merebaknya wabah Flu Burung (Avian Influenza) di Cina yang disebabkan virus H5N1 di Hunan – Cina yang merupakan provinsi pusat penyebaran virus Corona (Kompas.com), disamping mengemukakan terjadinya kematian puluhan unggas akibat wabah Flu Burung di Bondowoso – Jatim dan enam ribu ayam mati karena wabah penyakit unggas yang sama di Sidrap – Sulawesi  yang praktis waktunya hampir bersamaan dengan kemunculan Covid 19.

Pembicara menekankan bahwa untuk menghadapi kedua virus tersebut (baik Flu Burung maupun Covid 19) perlu dipegang 3 Prinsip Biosekuriti (Bio = Hidup, Sekurity = pengamanan) yaitu mencegah kuman masuk, tumbuh/berkembang dan menyebar, sedangkan elemen biosekuriti yang wajib diaplikasikan ialah isolasi, kontrol lalu-lintas/pergerakan (orang/kendaraan/barang/hewan lain) dan sanitasi (Cleaning & Desinfection).

Selanjutnya Alfred merekomendasikan “Biosekuriti 3-Zona” (Zona Merah = kotor, Zona Kuning = perantara/buffer dan Zona Hijau = bersih) untuk Peternakan Unggas dengan tujuan 1) Mencegah kuman/mikroorganisma menginfeksi unggas/ayam 2) Menjaring kuman hingga 3 lapisan perlakuan 3) PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) 4) Daya saing perunggasan (kualitas produk, ancaman AMR) 5) Sesuai dengan GFP (Good Farming Practise). Pada akhir penyajian materi Alfred meyakinkan peserta seminar dengan Analisa Ekonomi Implementasi Bio 3-Zona di Farm, bahwa peternakan ayam petelur (Layer) yang menerapkan akan menurunkan penggunaan Antibiotik 40%, penurunan penggunaan Desinfektan 30%, penghematan biaya OVK hingga Rp 10 jt (USD 770 – Kurs saat itu), HD (Hen Day) telur rata=rata 90% atau 56 kg/1.000 ekor Layer. Pada peternakan ayam pedaging (Broiler) yang menerapkan Bio 3-Zona ternyata mampu memperoleh tambahan profit (keuntungan) Rp 1.048,-/ekor/siklus.

Searah Jarum Jam: Drh Sulaxono,
Bambang Suharno, Baskoro, Alfred

Pembicara kedua Drh. Baskoro Tri Caroko mengemukakan bahwa berdasarkan fakta lapangan vaksinasi saja tidak cukup untuk mencegah suatu wabah penyakit unggas karena vaksin tidak memberikan proteksi 100%, disamping sumber penularan (Zoonotik Pools) sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit dan kita mengharapkan ayam tetap sehat agar tumbuh sempurna sehingga berproduksi optimal.

Selanjutnya Baskoro menekankan pentingnya Prinsip Pengendalian Penyakit Unggas ialah “One Health”, dalam arti bahan desinfektan yang digunakan harus mempertimbangkan 1) Efektif dan tidak berbahaya bagi pekerja, masyarakat dan makhluk hidup sekitarnya 2) Tidak menimbulkan kerusakan atau pencemaran, bebas polusi dan ramah lingkungan serta tidak menyebabkan residu antibiotik atau bahan berbahaya lainnya pada unggas maupun produk turunannya.

Seminar diakhiri dengan acara tanya-jawab yang nampak peserta sangat antusias, bahkan sempat menyinggung standar dosis dan jenis-jenis desinfektan yang boleh digunakan untuk menghadapi wabah virus yang menyerang manusia seperti Covid 19 dan virus Flu Burung yang menyerang hewan dan manusia. Para peserta yang hadir mendapatkan softcopy materi dan E-Sertificate. Seminar model “Online” ini diharapkan terus berlanjut dengan topik yang menarik dan dibutuhkan insan perunggasan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. (S.Alam)

Narasumber : http://www.majalahinfovet.com

KEKURANGAN PAKAN MENDORONG PARA PETERNAK IRAN UNTUK MENGUBUR DOC HIDUP-HIDUP

KEKURANGAN PAKAN MENDORONG PARA PETERNAK IRAN UNTUK MENGUBUR DOC HIDUP-HIDUP

Puluhan video yang diposting di media sosial di Iran menunjukkan ribuan DOC dikubur hidup-hidup dengan buldoser. Ini kemungkinan terkait dengan kenaikan harga di pasar pakan domestik Iran selama beberapa minggu terakhir.

“Diumumkan bahwa karena sanksi, transfer uang pembelian untuk sekitar 3 juta ton jagung dan bungkil kedelai tidak dilakukan tepat waktu sehingga persediaan bahan pakan tersebut terpengaruh. Akibatnya, harga pakan ternak naik,” Dr Majid Movafegh Ghadirly, ketua Asosiasi Industri Pakan Iran berkomentar.

Iran memproduksi 2,3 juta ton daging unggas dan 1 juta ton telur per tahun, dan mengimpor 80% bahan baku untuk produksi pakan, menurut Asosiasi Industri Pakan Iran.

Rekaman diposting tak lama setelah Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa sektor pertanian negara itu tidak terkena wabah coronavirus, dan bahwa warga tidak perlu khawatir tentang pasokan makanan karena produksi biji-bijian cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal sampai Maret 2021.

Peternak tidak membeli anak ayam yang baru lahir karena lemahnya permintaan di pasar domestik. Ini berarti bahwa hatchery lokal tidak memiliki pilihan lain selain memusnahkan DOC.

Peternak lokal mengeluh bahwa konsumsi unggas dan telur sangat rendah karena epidemi Covid-19 yang berkelanjutan di negara itu membuat hampir seluruh industri perhotelan tidak beroperasi. Harga pakan ayam di Iran naik dua kali lipat menjadi 3.000 tomans (€ 0,18) per kilo.

Dengan penjualan yang lemah di pasar, para peternak tidak dapat menaikkan harga, yang berarti bahwa mereka harus menderita kerugian mendekati 3.000 tomans per ayam.

Harga pasar rata-rata untuk ayam sebelum awal pandemi Covid-19 adalah 12.800 tomans per kilo (€ 0,77), tetapi menyusut menjadi 9.500 tomans (€ 0,57) pada bulan April 2020, Pusat Statistik Iran memperkirakan.

Menanggapi kritik tersebut, Asosiasi Produsen DOC menulis surat kepada semua anggotanya melarang pemusnahan DOC, menjanjikan hukuman bagi mereka yang melanggar perintah. Belum terlihat apakah peringatan itu akan membuahkan hasil.

Diperkirakan bahwa hingga 15 juta ekor DOC dimusnahkan di Iran selama beberapa minggu terakhir karena krisis, kata Persatuan Petani Unggas Teheran dalam sebuah pernyataan akhir April.

Negara ini menghasilkan 1,2 miliar ekor anak ayam per tahun. Ada kekhawatiran bahwa para petani akan segera beralih ke pemusnahan ayam dewasa, karena krisis Covid-19 tidak akan segera mereda.

Sumber: poultryworld.net

UPAYA TEKNIS MANAJEMEN STRES PADA BROILER MODERN DALAM PERSPEKTIF KONSEP MILEU

UPAYA TEKNIS MANAJEMEN STRES PADA BROILER MODERN DALAM PERSPEKTIF KONSEP MILEU

Secara sadar atau tidak, ayam yang dipelihara mau tidak mau, suka tidak suka, harus selalu berinteraksi dengan berbagai macam mikroorganisme di sekelilingnya (bahkan di dalam tubuhnya sendiri) dan berada dalam suatu lingkungan tertentu pada waktu yang sama. dengan kata lain, ayam dan mikroorganisme tersebut hidup dalam lingkungan yang sama, dimana ketika ada perubahan yang terjadi pada lingkungan tertentu maka akan berpengaruh pula terhadap keduanya.

Pada saat lingkungan di sekitar ayam mengalami perubahan yang ekstrem, tidak jarang ayam akan terganggu kenyamanannya (stres dengan berbagai derajad variasi keparahan). Di sisi lain mikroorganisme pada kondisi itu mempunyai peluang yang lebih besar untuk melakukan invasi dan menyebabkan gejala sakit.

Dengan kondisi tersebut, sebagai praktisi lapangan dituntut memahami bagaimana interaksi yang terlibat di dalamnya. Melalui konsep mileu, tahapan analisa dalam melacak faktor pemicu utama sekaligus menghubungkan dengan faktor ikutan terkait dengan tata laksana manajemen akan lebih terarah, lebih menyeluruh (holistik) dan lebih sistimatik. Sehingga upaya untuk meminimalisir dampak negatif yang akan muncul bisa lebih tepat sasaran.

Konsep Mileu
Mileu adalah suatu situasi, kondisi dan realita yang terjadi di sekeliling lingkungan ayam yang bersifat dinamis (berubah dari waktu ke waktu). Situasi, kondisi dan realita tersebut tidak hanya dalam satu pen (sekatan) dalam satu kandang saja, namun juga bisa dalam skala yang lebih besar berupa flock tertentu, farm tertentu bahkan area atau daerah tertentu. Dalam skala tertentu bisa sama-sama dipahami bahwa satu sekatan mempunyai mileu yang berbeda dengan sekatan lain, begitu pula mileu antar kandang, kemudian mileu di sekitar pegunungan/dataran tinggi berbeda dengan yang ada di sekitar pantai, bahkan dalam cakupan yang lebih luas bahwa mileu ayam di negara tropis bisa berbeda dengan mileu ayam di negara sub tropis.

Komponen Mileu
Untuk memahami lebih jauh tentang konsep mileu, ada beberapa hal yang harus ditelaah lebih rinci, yaitu komponen mileu. Secara garis besar ada tiga komponen yaitu: 

1. Komponen fisik. Komponen ini terdiri dari semua faktor yang ada di sekitar lingkungan ayam yang secara fisik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kenyamanan ayam, diantaranya suhu/temperatur lingkungan, kelembapan lingkungan, kecepatan angin, static pressure pada kandang sistem tertutup, konsentrasi debu, perlakuan-perlakuan fisik tertentu seperti penerimaan DOC, penyebaran DOC di area brooding, pelaksanaan vaksinasi dan lain sebagainya.

2. Komponen kimia. Semua hal terkait dengan unsur kimiawi yang ada di sekitar lingkungan ayam sangat berdampak terhadap kenyamanan ayam, diantaranya konsentrasi NH3 (amonia), CO2 (karbon dioksida), O2 (oksigen), CH4 (gas metan), CO (karbon monoksida), Formalin dan lain-lain. Termasuk di dalamnya adalah pestisida di sekitar kandang yang ada di area persawahan.

3. Komponen biologis. Komponen ini terdiri dari… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020)

Eko Prasetio, DVM
Private Broiler Commercial Farm Consultant

KLARIFIKASI DIRJEN PKH TERKAIT PEMBERITAAN PENGADAAN AYAM RP 770.000 PER EKOR

KLARIFIKASI DIRJEN PKH TERKAIT PEMBERITAAN PENGADAAN AYAM RP 770.000 PER EKOR
KLARIFIKASI DIRJEN PKH TERKAIT PEMBERITAAN PENGADAAN AYAM RP 770.000 PER EKOR

Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita memberi penjelasan terkait pemberitaan media online Tempo.co, Selasa (28/4/2020).

Menurut dia berita berjudul Anggaran Pengadaan Ayam Rp 770.000 Per Ekor Dipertanyakan perlu diluruskan agar tidak menimbulkan multi-interpretasi. Ketut menjelaskan, saat ini Ditjen PKH melakukan penghematan dari pagu semula Rp 2,022 triliun menjadi Rp 1,21 triliun. Upaya itu sejalan dengan penghematan anggaran di Kementan.

“Dalam perencanaan Ditjen PKH Tahun Anggaran 2020, selalu mengacu pada rambu-rambu penghematan,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (02/05/2020).

Dirjen PKH melanjutkan, upaya itu juga sesuai undang-undang. Pemotongan anggaran meliputi belanja perjalanan dinas, pertemuan, dan belanja barang lainnya secara proporsional. Penghematan dilakukan untuk mendukung prioritas kegiatan dan penanganan coronavirus disease 2019 (Covid-19) dengan memfasilitasi bantuan sapi, kambing, domba, ayam, dan babi. Sementara itu terkait anggaran ayam lokal, penetapan harga tidak otomatis Rp 26,96 miliar dibagi 35.000 ekor atau sebesar Rp 770.000 per ekor.

Seperti yang dipaparkan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI, Ketut menguraikan bahwa sesungguhnya anggaran itu terdiri dari beberapa komponen kegiatan lain. Kegiatan yang dimaksud, adalah pengadaan 35.000 ayam lokal senilai Rp 2,02 miliar dan hibah ayam produksi dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahun 2020 senilai Rp 3,96 miliar.

Ada juga kegiatan penyelesaian sisa kontrak pekerjaan Program Bekerja Tahun 2019 senilai Rp 20,98 miliar di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara. Ketut lalu menjelaskan rincian alokasi penggunaan anggaran dana tersebut, yakni adanya bantuan 35.000 ayam lokal senilai Rp 2,02 Miliar untuk Peternak/Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). Bantuan tersebut selanjutnya akan didistribusikan ke 22 kabupaten di 11 provinsi dengan beberapa komponen pengadaan.

Rincian Distribusi UPTD Untuk UPTD, dialokasikan di empat provinsi, yakni Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, dan Gorontalo dengan harga satuan per ekor Rp 55.525. Rincian nominal itu adalah, biaya ayam lokal umur empat minggu dan distribusinya Rp 30.000, pakan 2,5 kilogram (kg) dengan harga per kg Rp 7.000, sehingga total harga pakan Rp 17.500 (selama 2 bulan). Ada pula bantuan obat Rp 1.500, bantuan biaya perbaikan kandang Rp 2.500, serta operasional pendampingan dan bimbingan teknis Rp 4.025.

Rincian Alokasi untuk kelompok peternak Alokasi untuk kelompok peternak dilakukan di tujuh provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Bali, Aceh, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat dengan harga satuan per ekor Rp 58.538. Rinciannya adalah, biaya ayam dan distribusi Rp 30.000, pakan 2,5 kg dengan harga per kg Rp 7.000, sehingga total harga Rp 17.500 selama 2 bulan. Kemudian, bantuan obat Rp 1.500, bantuan pembuatan kandang Rp 4.400, serta operasional Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) untuk pendampingan dan bimbingan teknis Rp 5.138.

Rincian Hibah Ayam Day Old Chicken (DOC) Hibah Ayam Day Old Chicken (DOC) Sembawa dan Kampung Unggul Balitbangtan atau ayam KUB produksi Unit Pelaksana Teknis (UPT). Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan ternak (BPTU-HPT) memberikan Sembawa kepada kelompok ternak senilai Rp 3,96 miliar dengan rata-rata harga satuan per ekor Rp 36.538. Untuk pakan, jumlahnya 4,27 kg dengan harga Rp 7.000 per kg, sehingga total harga Rp 29.900 yang diberikan selama 3 bulan. Bantuan obat adalah Rp 1.500 dan Operasional CPCL, pendampingan, dan bimbingan teknis Rp 5.138.

Rincian Penyelesaian kontrak sisa pekerjaan Sementara itu, penyelesaian kontrak sisa pekerjaan Kegiatan Bekerja tahun anggaran 2019 di Gorontalo dan Sulawesi tenggara adalah Rp 20,98 miliar. Anggaran itu dilaksanakan Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar untuk disalurkan ke Gorontalo dan BPTU-HPT Denpasar ke Sulawesi Tenggara.

Ditjen PKH juga akan memberikan bantuan paket ternak 550 babi kepada kelompok ternak dengan total anggaran Rp 5,03 miliar ke Papua, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. Menurut Ketut, satuan biaya paket bantuan untuk Papua dengan wilayah lain tentu berbeda karena faktor geografis dan tingkat kesulitan dalam pendistribusian, termasuk alat angkut. Satuan biaya yang dimaksud yakni untuk pengadaan ternak babi di wilayah Papua, dengan harga Rp 13.115.000 per ekor. Kemudian, untuk biaya ternak babi dan distribusi adalah Rp 10 juta. Untuk pakan adalah 120 kilogram per ekor dengan total nilai Rp 2,16 juta selama 2 bulan.

Ada pula biaya pembuatan kandang sebesar Rp 100.000 per ekor dan operasional CPCL, pendampingan, dan bimbingan teknis sebesar Rp 830.000. Terkait pengadaan ternak babi di luar Papua, harga satuan peket pekerjaan per ekor adalah Rp 4.385.000. Biaya ternak babi dan distribusi adalah Rp 3 juta. Biaya pakan adalah 120 kilogram per ekor dengan total biaya Rp 970.000 selama 2 bulan, biaya pembuatan kandang Rp 100.000 per ekor, dan operasional CPCL pendampingan, dan bimbingan teknis Rp 315.000. Dengan demikian, jumlah alokasi pengadaan babi dan komponen pendukungnya untuk wilayah Papua adalah 300 ekor dengan nilai Rp 3,93 miliar.

Untuk di luar Papua adalah 250 ekor dengan nilai Rp 1,10 miliar, sehingga harga rata-rata paket bantuan pengadaan babi dan komponen pendukungnya adalah Rp 9.146.000 per ekor. “kegiatan ini pada prinsipnya diusulkan untuk membantu petani peternak pada situasi pandemi Covid-19,” ujar Ketut.

Narasumber : kompas.com

NTT Akan Menanam Jagung 10.000 Hektare Tahun Ini

NTT Akan Menanam Jagung 10.000 Hektare Tahun Ini
NTT Akan Menanam Jagung 10.000 Hektare Tahun Ini

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalokasikan anggaran senilai Rp25 miliar untuk mengembangkan komoditas jagung dengan memanfaatkan lahan seluas 10.000 hektare pada 2020.

“Alokasi anggaran Rp25 miliar ini untuk program tanaman jagung yang dikerjakan tahun ini untuk mendukung ketersediaan pangan maupun peningkatan PAD,” kata Kepala Badan Keuangan Daerah Provinsi NTT Zakarias Moruk melalui siaran pers, Senin (18/5/2020).

Dia menjelaskan bahwa pemprov telah menyiapkan lahan seluas 10.000 hektare untuk penanaman jagung dengan perincian setiap hektare lahan membutuhkan biaya Rp2,5 juta.

Pengembangan jagung sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan di tengah pandemi virus corona jenis baru (Covid-19).

Di sisi lain, lanjutnya, pembangunan kebuin jagung tersebut akan berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah pemerintah provinsi yang ditargetkan pada 2020 ini sebesar Rp1,6 triliun, mengalami kenaikan dari target pada 2019 sebesar Rp1,2 triliun.

Zakarias menuturkan bahwa pemerintah provinsi melalui BPTP Naibonat dan Dinas Pertanian telah melakukan penelitian terkait pengembangan jagung tersebut dan dari hasil penghitungan bisa berkontribusi besar terhadap PAD.

“Melalui program ini diperkirakan kita bisa mendapat pengasilan mencapai Rp120 miliar lebih dari produksi jagung,” katanya.

Dia menambahkan bahwa pada tahun ini, pengembangan jagung dilakukan pada lahan seluas 10.000 hektare dan pada 2021 ditargetkan bertambah mencapai 100.000 hektare.

“Karena itu dari sisi PAD kami optimistis terus meningkat karena selain jagung, potensi ekonomi lain juga dikembangkan seperti rumput laut, peternakan sapi, dan lainnya,” katanya.

Narasumber : https://kabar24.bisnis.com/

Kemenhan Menyalurkan Paket Makanan untuk Tenaga Medis

Kementerian Pertahanan bekerjasama dengan PT Japfa Comfeed Indonesia menyalurkan paket makanan untuk tenaga medis yang tengah berjuang melawan penyebaran virus Corona (Covid-19).

“Para tenaga medis adalah patriot bangsa yang berada di garis depan melawan Covid-19. Kemhan selalu all out mendukung mereka agar Indonesia menjadi pemenang melawan pandemi ini,” ujar Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono lewat keterangannya, Kamis (7/5/2020)

Dia mengatakan bahwa melalui kerja sama dengan Kemenhan, PT Japfa Comfeed Indonesia bakal menyalurkan 2.500 paket makanan siap saji bagi tenaga medis di 25 Rumah Sakit yang berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Dia mengatakan hal tersebut adalah bentuk nyata aksi Bela Negara dan kepedulian dari masyarakat di tengah perjuangan melawan pandemi Covid-19.

“Kegiatan ini juga merupakan sarana untuk memberdayakan para Kader Bela Negara dalam melaksanakan aksi bela negara di tengah pandemi Covid-19 ini,” katanya.

Wahyu menjelaskan bahwa penyaluran paket makanan untuk tenaga medis akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Selasa dan Kamis. Adapun, penyerahan bantuan Pada Kamis (7/5/2020) ini diawali dengan penyerahan secara simbolis oleh Wamenhan bersama Vice President Social Investment PT Japfa Comfeed Indonesia Artsanti.

Dalam pelaksanaan penyaluran paket makanan ini, Kemenhan melibatkan dan didukung Menwa Mahajaya dan Komunitas kader Bela Negara Kemenhan RI sebagai Tim Relawan yang mendistribusikan paket makanan tesebut.

Hal ini merupakan rangkaian kegiatan sebelumnya yang membagikan bahan makanan berprotein hewani kepada masyarakat terdampak PSBB akibat Covid-19, dan akan dilanjutkan dengan kegiatan serupa selama masih ada pandemi Covid-19.

“Saya ucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas patriotisme Anda semua yang ikut dalam aksi Bela Negara melawan Covid-19 ini,” ujar Sakti.

Narasumber : https://kabar24.bisnis.com/

PERKEMBANGAN KASUS AVIAN INFLUENZA DAN SOLUSINYA

PERKEMBANGAN KASUS AVIAN INFLUENZA DAN SOLUSINYA
PERKEMBANGAN KASUS AVIAN INFLUENZA DAN SOLUSINYA
Kasus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) masih banyak terjadi di dunia. China merupakan negara yang paling banyak mengalami wabah yang disebabkan oleh beberapa strain virus HPAI (H5N1, H7N9, H5N6 dan H5N8) dengan penyebaran yang semakin luas pada unggas dan juga korban pada manusia.

Di Indonesia, hingga saat ini kasus Avian Influenza (AI) pada unggas telah menyebar keseluruh provinsi. Berdasarkan laporan dari Team Veterinary Representative PT Romindo Primavetcom, kasus AI masih terjadi di Kalimantan (dua kasus), Medan (tiga kasus), Jawa Timur (dua kasus) dan Tangerang (satu kasus).

Penyakit AI dilaporkan pertama kali muncul di Indonesia pada 2003 silam, penyakit tersebut disebabkan oleh HPAI strain H5N1 clade 2.1. Sampai saat ini Kasus AI telah menyebar di seluruh provinsi, dan dikarenakan dampaknya yang merugikan, maka AI dimasukan dalam 25 penyakit hewan menular strategis berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 4026/Kpts/OT.140/4/2013.

Virus AI dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu bentuk akut yang disebut dengan HPAI dan yang bentuk ringan disebut Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Virus pada unggas yang mempunyai subtipe H5 atau H7 telah diketahui mempunyai hubungan erat dengan penyakit yang bersifat patogenik, sebaliknya banyak juga virus influenza A subtipe H5 atau H7 yang bersifat tidak patogen (Tabbu, 2000).

Sebagian besar ahli penyakit unggas menyatakan penanggulangan AI masih sulit mencapai hasil yang diinginkan. Beberapa hal yang menjadi hambatan untuk bebas dari penyakit AI diantaranya sistem pemasaran unggas yang sebagian besar belum tertata dengan baik. Dengan sistem pemasaran yang ada saat ini, ayam afkir yang diduga terjangkit AI dapat mencemari tempat penampungan di pasar tradisional dan mencemari alat transportasi yang berasal dari pasar tradisional tersebut. Sehingga pada saat kembali ke peternakan, alat-alat transportasi tersebut akan mencemari peternakan karena tidak melalui proses sanitasi dan desinfeksi yang baik.

Vaksin inaktif AI saat ini sering menjadi “kambing hitam” kegagalan program penanggulangan penyakit. Perdebatan penggunaan vaksin yang efektif masih sering didiskusikan.

Program vaksinasi pada peternakan petelur komersial dan peternakan ayam pembibit saat ini sudah berjalan dan terprogram dengan baik. Namun, masih ada empat kelompok unggas yang belum melakukan vaksinasi terhadap AI, yaitu kelompok ayam broiler (pedaging), ayam pejantan (jantan jenis ayam petelur), ayam kampung dan jenis unggas lain (bebek, angsa, puyuh). Hal tersebut mengakibatkan kurang efektifnya program vaksinasi terhadap AI karena jumlah populasi ayam terbesar di Indonesia adalah populasi ayam broiler, ayam kampung dan unggas lain dibandingkan dengan populasi ayam petelur komersial dan ayam pembibit.

Penanggulangan AI dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Terdapat tiga hal yang dapat dilakukan di peternakan, yaitu tatalaksana peternakan yang optimal, vaksinasi dan biosekuriti.

Karakteristik Patologi Anatomi AI.


Program Vaksinasi AI
Perlu dipahami bahwa pemberian vaksinasi AI tidak dapat serta-merta secara langsung menghilangkan tantangan virus dan memberikan jaminan bahwa ayam bebas dari penyakit AI.

Tujuan vaksinasi terhadap AI adalah untuk mengurangi gejala klinis, mengurangi gangguan produksi telur, menurunkan mortalitas yang disebabkan virus AI, mengurangi populasi ayam yang rentan dan mengurangi pencemaran/shedding virus di lokasi peternakan.

Prinsip dasar pemakaian vaksin AI adalah antigen vaksin harus dapat memberikan stimulasi kekebalan yang optimal sebelum virus asal lapang menginfeksi tubuh ayam. Kemudian, vaksin harus homolog dengan sub tipe H atau subtipe H dan N virus asal lapang. Karakteristik vaksin AI yang ideal (menurut Suarez, 2000) vaksin dapat meransang respon kekebalan humoral (HMI-humoral mediate immunity) dan kekebalan seluler (CMI-cell mediate immunity), sehingga perlindungan terhadap ayam cepat terbentuk.

Vaksin AI juga harus aman untuk unggas dan aman untuk diproduksi. Master seed berasal dari virus LPAI, serta waktu yang diperlukan untuk stimulasi kekebalan singkat sehingga cocok  digunakan pada ayam pedaging.

Kriteria lain yang diharapkan pada vaksin AI adalah harga relatif tidak mahal, mudah diberikan pada ayam, perlindungan efektif dan dapat dicapai dengan dosis tunggal untuk ayam semua umur.

Pencegahan penyakit terhadap AI umumnya sudah dilakukan oleh peternak. Program standar yang telah dilakukan peternak ayam petelur adalah dengan melakukan vaksinasi dengan vaksin inaktif sebanyak minimal tiga kali. Bahkan di beberapa wilayah padat peternakan, vaksinasi inaktif telah dilakukan 3-4 kali pada periode grower dan 1-2 kali pada periode bertelur. 

Pelaksanaan Vaksinasi AI
Teknik alias cara pemberian vaksin juga mempengaruhi hasil vaksinasi. Pemberian vaksin dengan reaksi stres yang minim dapat meningkatkan ransangan kekebalan yang tinggi. Selain itu metode vaksinasi, program vaksinasi, vaksinator dan peralatan vaksinasi beserta sarana/prasarana peternakan ayam, meliputi umur/variasi umur dan status kesehatan, kesemuanya memegang peranan dalam keberhasilan penanggulangan AI.
Untuk mengurangi… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2020)

Narasumber : http://www.majalahinfovet.com/

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264
JAKARTA. Telp.021 8300300

Thailand Meningkatkan Ekspor Setelah Pasar Ayam Jatuh 50% di Dalam Negeri

Thailand Meningkatkan Ekspor Setelah Pasar Ayam Jatuh 50% di Dalam Negeri
Thailand Meningkatkan Ekspor Setelah Pasar Ayam Jatuh 50% di Dalam Negeri

Thailand bertujuan untuk meningkatkan ekspor daging ayam sebesar 10% tahun ini menyusul penurunan konsumsi domestik sebesar 50% sebagai akibat merebaknya Covid-19, The Nation Thailand melaporkan.

Thailand dapat memproduksi 2,86 juta ton daging ayam per tahun (penyedia terbesar ke-8 di dunia) dengan sekitar 60% untuk konsumsi domestik dan 40% untuk ekspor. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan penurunan 50% konsumsi ayam domestik, dan memangkas harga dari Bt33-34 (sekitar US $ 1) per kilogram menjadi Bt24-25 (US $ 0,75) per kilogram.

Ekspor daging ayam pada kuartal pertama naik 7,21% dibandingkan dengan kuartal terakhir tahun sebelumnya, kata ketua Asosiasi Eksportir Unggas Thailand, Dr Anan Sirimongkolkasem. Namun, lockdown di berbagai negara, terutama AS, UE dan Jepang, dapat menurunkan ekspor hingga 5%.

Permintaan dari Jepang dan Korea Selatan

Karena berkurangnya kasus Covid-19 di Thailand, permintaan impor daging ayam dari Jepang dan Korea Selatan meningkat. Kedua negara itu biasanya mengimpor dari Brasil di mana situasi Covid-19 semakin serius. Menteri Perdagangan Jurin Laksanawisit mengadakan diskusi dengan penyedia dan eksportir daging ayam swasta untuk mengevaluasi situasi ekspor.

Kementerian didesak untuk membuat perjanjian perdagangan bebas dengan UE dan Inggris, menetapkan kuota impor daging ayam sekitar 280.000 – 320.000 ton per tahun, dan untuk mencari tarif impor Inggris yang lebih rendah dari US $ 1.000 per ton. Kementerian juga diminta untuk mencari pasar baru di Jepang dan melobi Cina untuk menyetujui pabrik ayam olahan Thailand dan memperluas pasar daging bebek.

Selain itu, sektor swasta meminta kementerian membangun pasar baru di Korea Selatan, Filipina, Arab Saudi dan Taiwan. Sekitar 920.000 ton daging ayam diekspor pada 2019, sementara dalam 3 bulan pertama 2020, 230.000 ton telah diekspor.

Sumber: poultryworld.net