MEMPERKUAT RISET DAN INOVASI TEKNOLOGI DI SEKTOR KELAUTAN PERIKANAN

Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menggalakkan sinergi dengan lintas sektor, terutama perguruan tinggi, untuk mengembangkan perikanan budidaya. 

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan kerja sama dengan perguruan tinggi sangat penting, khususnya untuk memperkuat riset dan inovasi teknologi di sektor kelautan perikanan.

Dengan memanfaatkan teknologi, jumlah produksi yang dihasilkan bisa lebih banyak, baik untuk komoditas perikanan dan juga pakan.

“Saya berharap pakan ini bisa dikembangkan antara pemerintah dan perguruan tinggi, sehingga potensi impor bahan baku pakan seperti tepung ikan, tepung kedelai dan tepung gandum tidak ada lagi,” jelasnya dikutip dari keterangan resminya, Selasa (19/1/2021).

Perikanan budidaya yang dikembangkan tidak hanya komoditas ikan air tawar tapi juga air payau, seperti udang vaname, kerapu, dan bawal.

“Untuk itu baik di laut maupun di darat, kita akan gerakkan budidaya termasuk udang dan sebagainya,” tambahnya.

Dia mengemukakan perikanan budidaya memiliki turunan ekonomi yang cukup banyak, seperti jual beli pakan, pembenihan hingga usaha pembesaran. Dengan demikian, perputaran ekonomi yang dihasilkan pun besar dan menciptakan peluang lapangan kerja untuk masyarakat.

“Tadi saya tanya bupati [Sleman], produksinya lebih 80.000 ton per tahun. Bayangkan kalau kali Rp15.000 saja, sudah berapa yang dihasilkan. Kalau ini bisa dikembangkan, turunannya, mulai dari soal pembibitan, pakan, dan lain sebagainya, tentu akan lebih besar lagi perputarannya,” terangnya.

Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/

Kemenperin Siap Carikan Investor Tambak Udang Vaname

Kemenperin Siap Carikan Investor Tambak Udang Vaname

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai budi daya udang vaname di Provinsi Gorontalo memiliki potensi yang besar, sehingga perlu didukung oleh calon investor sektor industri pengolahan tambak.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku siap memfasilitasi Pemprov Gorontalo untuk mencari calon investor sektor industri pengolahan dalam upaya pengembangan tambak udang vaname. Adapun, budi daya udang vaname, selain guna memenuhi kebutuhan pasar domestik, juga berpeluang mengisi pasar ekspor.

“Kami akan mendorong peningkatan investasi untuk menumbuhkan industrinya. Oleh karena itu, pemerintah bertekad menciptakan iklim usaha yang kondusif dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bisa mengakselerasi sektor strategis tersebut,” kata Agus dalam siaran pers yang dikutip, Rabu (15/7/2020).

Sebelumnya, Agus telah melakukan pertemuan dengan Gubernur Gorontalo Rusli Habibi dan menyambut positif upaya memaksimalkan pengelolaan tambak udang vaname. Pihaknya dan berencana untuk meninjau langsung lokasinya.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, dari 16.713 hektare tambak udang yang tersebar di Kabupaten Pohuwato, Boalemo, dan Gorontalo Utara, saat ini hanya 54 persen yang beroperasi. Tidak hanya itu, sebagian besar dari tambak yang ada, baru dikelola secara tradisional.

Pada Januari-September 2018, ekspor perikanan Gorontalo mencapai 40,2 ton, terbanyak adalah udang vaname. Udang jenis ini cukup banyak diminati masyarakat Jepang.

Agus menambahkan guna mendorong pertumbuhan sektor industrinya, perlu didukung dengan ketersediaan sumber pakan untuk budi daya. Ekspor udang, terutama udang vaname, merupakan yang terbesar dari sektor kelautan dan perikanan.

Sementara, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menjelaskan sebagai daerah yang memiliki garis pantai yang panjang, Gorontalo sangat cocok untuk pengembangan udang vaname. Upaya pengembangan itu direalisasikan melalui program Kampung Vaname (KaVe) yang dicanangkan sejak 2016.

“KaVe dipusatkan di Kabupaten Boalemo, Pohuwato dan Gorontalo Utara. KaVe menjadi percontohan pengembangan udang vaname, melalui tambak budi daya udang intens tambak plastik [Busmetik] atau tambak buatan yang dilapisi plastik. Metode ini dinilai sederhana dan membuat udang cepat tumbuh,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo, Sila Botutihe berharap, dari hasil pertemuan Menperin dan Gubernur Gorontalo, akan dapat mempercepat masuknya investor untuk mengembangkan tambak udang vaname.

“Kami punya potensi udang vaname yang bersifat tambak rakyat. Dengan nantinya ada investor, pengelolaannya dari tradisional bisa menjadi sistem intensif,” tuturnya.

Sumber : https://ekonomi.bisnis.com

Ingin Budidaya Lobster? Ini Pedoman Persyaratan

Ingin Budidaya Lobster? Ini Pedoman Persyaratan dari KKP

Kementerian Kelautan dan Perikanan berkomitmen untuk mendorong tumbuhnya budidaya lobster di Indonesia. Melalui Permen KP Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan di wilayah Republik Indonesia, KKP membuka peluang bagi masyarakat pesisir untuk membudidayakan lobster.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan saat ini pemerintah telah menyiapkan sejumlah intervensi guna mendorong budidaya lobster. “Ini tentu akan menghidupi kelompok atau masyarakat dan akan menimbulkan peluang usaha baru,” kata Slamet melalui keterangan tertulis, Kamis 4 Juni 2020.

Intervensi tersebut dimulai dari pembentukan kelompok pembudidaya, penataan berdasarkan daya dukungnya dan pengaturan segmentasi usaha sekaligus sistem budidaya lobster terintegerasi dengan budidaya kerang hijau untuk pakan lobster. Selain itu, KKP juga menyiapkan bantuan sarana-prasarana serta fasilitas pendataan melalui sms gateway untuk pembudidaya.

Saat ini, KKP juga telah menyiapkan pedoman minimal persyaratan budidaya lobster yang terbagi dalam tujuh poin.

Pertama, untuk lokasi harus memenuhi rencana umum tata ruang (RUTR) dan terdaftar. Kedua, layout budidaya harus memiliki sirkulasi arus dan oksigen yang cukup, bersih dan sesuai kapasitas keramba. Ketiga, proses produksi mulai dari pakan harus segar dan berkualitas baik guna menghindari penyakit.

“Kemudian keempat aspek sosial ekonomi harus memberdayakan masyarakat sekitar, ada transfer teknologi dan kestabilan harga,” ujar Slamet.

Pedoman, kelima ialah lingkungan yang mensyaratkan restocking minimal 2 persyaratan dari hasil budidaya serta pengendalian pencemaran. Keenam, daya saing dengan mendahulukan produk Indonesia, serta terakhir kuota, yakni mengutamakan benih untuk budidaya ketimbang ekspor serta Kerampa Jaring Apung (KJA) diatur sesuai kapasitas.

“Kebijakan pemerintah menjamin kebutuhan benih dalam negeri. Eksportir ada kuotanya, untuk ekspor yang jelas tidak melebihi yang dibudidayakan. Jadi dahulukan dulu kebutuhan untuk pembudidayaan. Juknis sudah ada dan akan kita kirimkan ke dinas,” tutur Slamet.

Tak hanya dari aspek teknis, KKP melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) juga menyiapkan modul pelatihan untuk pembudidaya lobster, mulai dari segmen 1 hingga 3, penangananan benih dan lain sebagianya. Hal serupa juga akan disiapkan untuk para nelayan penangkap benih lobster guna menjamin aspek keberlanjutan.

Sumber : https://bisnis.tempo.co

Susi Pudjiastuti: Saya Tidak Pernah Mengalami Krisis Seburuk Saat Ini

Susi Pudjiastuti: Saya Tidak Pernah Mengalami Krisis Seburuk Saat Ini
Susi Pudjiastuti: Saya Tidak Pernah Mengalami Krisis Seburuk Saat Ini

Pengusaha sekaligus Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menceritakan pengalamannya dalam mengelola bisnis di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Susi pun mengatakan, dirinya tidak pernah mengalami krisis sehebat saat ini. Pasalnya, di masa krisis moneter 1998 dulu, justru menjadi titik mula kesuksesan bisnis seafoodnya. Susi mengatakan, kala itu dirinya justru beruntung karena bisa mengekspor seafood dengan mata uang dollar.

“Pandemi ini sangat buruk untuk dunia bisnis. Saya tidak pernah mengalani krisis sehebat ini. Saat krisis 98 dulu justri menjadi angin segar karena saya mengambil kesempatan untuk melakukan ekspor seafood, pendapatan saya dalam mata uang dollar kala itu,” ujar Susi dalam video conference, Jumat (5/6/2020).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, akibat pandemi bisnis maskapai penerbangan perintisnya kini tengah berhenti beroperasi.

Pasalnya, pembatasan dan penutupan akses bandara di hampir seluruh wilayah di Indonesia membuat armada yang ia miliki saat ini tak bisa terbang.

“Dari 180 penerbangan sehari, kini tidak ada sama sekali (penerbangan Susi AIr). Saya harus melakukan restrukturisasi pegawai, memikirkan biaya setiap pekan, setiap bulan,” ujar Susi.

Dirinya pun menceritakan, awalnya di bulan Januari hingga Februari telah berencana untuk melakukan ekspansi bisnis. Kala itu, Susi Air membuka lowongan untuk 200 orang. Namun ternyata, iklim bisnis berubah sangat cepat akibat pandemi. Susi yang kala itu masih di Jakarta pun memutuskan untuk kembali ke Pangandaran.

“Dan saya mulai melihat dunia usaha yang mulai berguguran, saya pun mengisi waktu untuk membaca, mendengarkan, iklim usaha sudah kolaps. Di April, (pesawat) di setiap bandara mulai tidak bisa terbang kemana-mana, hingga akhirnya Jakarta berhenti sama sekali,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya pun mengatakan kepada seluruh pelaku usaha yang saat ini sedang dihadapkan pada keadaan sulit untuk tetap fokus dan tidak panik.

Jika memang skenario terburuk terjadi, para pelaku usaha harus bisa jujur kepada pegawai atau pihak-pihak yang bekerja sama dengannya.

“Kita harus berpikir skenario apa yang harus dilakukan untuk survive dalam dua bulan, enam bulan, hingga setahun. Memangkas ini dan itu, melakukan ini dan itu, jangan membelanjakan ang untuk hal-hal yang tidak perlu,” ujar Susi. “Saya harus merumahkan karyawan, menutup kantor cabang. Apa yang saya lakukan? Saya berbica kepada para karyawan apa yang terjadi, saya terbuka. Namun jika ada yang tidak puas dengan apa yang saya lakukan, ya itu risikonya,” jelas dia.

Narasumber : https://money.kompas.com

Prospek Cerah Industri Hatchery Udang

Keberhasilan budidaya udang tidak dapat dilepaskan dari mata rantai industri perudangan, salah satunya adalah daya dukung industri perbenihan udang. Oleh karena itu, untuk menghasilkan industri budidaya udang yang sehat dan maju, diperlukan dukungan pasokan benih dari hatchery yang handal dan berkelanjutan.

Bisnis udang dalam negeri, terutama udang jenis vaname, semakin menggeliat. Tak mengherankan, komoditas tambak ini merupakan salah satu produk dengan pangsa pasar tidak hanya domestik, akan tetapi luar negeri. Dengan demikian, bisnis untuk meraup devisa asing dalam bentuk dollar AS semakin terbuka lebar.

Wajar saja, pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP), membidik peningkatan produksi yang signifikan komoditas ini. Pasalnya, udang merupakan salah satu komoditas andalan penghasil devisa yang dapat diandalkan. Tidak tanggung-tanggung, KKP mematok target peningkatan produksi hingga 250% di tahun 2024. Cukup menantang!

Dengan semakin berkembangnya bisnis budidaya udang, hal ini memicu efek domino terhadap industri-industri ikutan lainnya yang menjadi pendukung. Salah satu industri yang menjadi pendukung budidaya udang adalah industri yang memasok benih (benur) untuk budidaya (tahap pembesaran). Dengan target budidaya udang semakin meningkat, permintaan terhadap benih pun naik secara signifikan. Tentu saja, ini menjadi peluang bisnis bagi para pelaku industri mengingat keberadaan bisnis-bisnis hatchery masih dikatakan kurang.

Menurut Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Lampung, Supono, Keberadaan hatchery tergantung dari kondisi tambak udang yang beroperasi serta produksi yang dihasilkan. Kasus merebaknya penyakit mempengaruhi tambak yang beroperasi yang berimbas pula pada permintaan benur.  Hatchery yang mampu bertahan adalah yang mampu menghasilkan benih yang berkualitas dengan harga yang bersaing.

“Peluang hatchery ke depannya sangat menjanjikan karena permintaan benur meningkat sejalan dengan pembukaan lahan baru dan peningkatan target produksi udang oleh pemerintah.  Teknologi pembenihan yang sudah dikuasai serta kemudahan memperoleh induk yang berkualitas specific free pathogen (SPF) menjadi kekuatan yang dimiliki untuk menangkap peluang dari peningkatan permintaan benur oleh petambak,” tambah Supono.

Lanjutnya, Induk udang vaname yang berkualitas saat ini masih impor, misalnya dari Kona Bay. Hatchery yang sudah besar, dilengkapi dengan uji kualitas benur terutama yang berkaitan dengan penyakit seperti: WSSV, IMNV, TSV, dll, sehingga benur yang dihasilkan bebas dari penyakit tersebut (specific pathogen free/SPF).  Namun untuk hatchery skala kecil/rumah tangga, jaminan bebas penyakit tidak ada sehingga petambak harus waspada dalam menentukan hatchery ketika membeli benur.

Peran Penting Hatchery dalam Industri Budidaya Udang

Menurut pengakuan Sudiarnoto Soegito, Divisi Akuakultur PT. Golden Westindo Artajaya, keberhasilan Budidaya khususnya Udang tidak dapat dilepaskan dari lima aspek sebagai berikut, yaitu pemilihan lokasi usaha budidaya, kualitas pakan, kualitas benih atau benur dari hatchery (SPF/SPR), manajemen budidaya (program pemberian pakan, kualitas air, dan sebagainya).

Menurutnya, kelima aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena memiliki keterkaitan yang sangat erat. Sudiarnoto menambahkan, “di samping keempat aspek tersebut di atas, ada satu hal lagi yang menentukan keberhasilan budidaya udang, yaitu dan selanjutnya adalah kepasrahan kepada Tuhan Pemilik Alam Semesta, yaitu doa. Salah satu saja diabaikan maka hasilnya akan kurang maksimal atau mungkin mengakibatkan usaha budidaya gagal total,” tuturnya.

Disinilah peran hatchery sangat penting untuk mendukung budidaya dengan menghasilkan benur yang berkualitas tinggi sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan. Sehingga keberadaannya sangat diperlukan sepanjang proses budidaya itu masih berlangsung. Hal ini karena saat ini, tidak mungkin usaha budidaya mengandalkan tangkapan alam.

Di pihak lain, Agus Saiful Huda, Petambak di Jawa Timur, berpendapat serupa terkait peran industri hatchery dalam budidaya udang secara keseluruhan. Menurutnya, keberhasilan petambak sangat tergantung dan atau dipengaruhi oleh industri perudangan dari hulu ke hilir, salah satunya adalah industri hatchery. Hal ini mengingat pakan dan teknologi budidaya di Indonesia sudah bagus.

Benur bagi petambak adalah raw material/bahan baku utama disamping media air. Hatchery adalah salah satu mata rantai yang terpenting dalam bisnis akuakultur, disamping grow out (petambak), pakan & nutrisi, equipment & teknologi dan processing (cold storage).

Ia melanjutkan, merujuk pada teori the Weakest Link (Wallodi Weibull,1887) yang mengungkapkan, kekuatan suatu rantai terletak pada mata rantai yang paling lemah. Ibaratnya, bendungan yang paling kokoh pun akan hancur bila ada satu titik pada bangunan itu yang bocor. Demikian juga halnya dengan bisnis akuakultur, bila hatchery tidak menghasilkann kualitas benur yang baik, bisnis akuakultur akan hancur. Oleh karena itu, saling menguatkan antara rangkaian bisnis akuakultur adalah suatu keharusan.

Induk, Salah Satu Kunci Keberhasilan Industri Hatchery

Masih menurut Sudiarnoto, industri hatchery memiliki peluang yang sangat besar, sepanjang budidaya terus berkembang. Namun peluang itu tidak lepas dari tantangan, misalnya tingkat persaingan semakin ketat karena itu diperlukan produktivitas tinggi dan efisiensi dari pengelolaan hatchery dengan tetap mengacu pada standar mutu benih/benur yang dihasilkan dengan menerapkan CPIB (Cara Pembenihan Ikan/Udang yang Baik).

Sayangnya, harga Induk yang tersedia tidaklah murah mengingat harus Impor dengan menggunakan dollar AS. Sementara itu, induk udang sangat tergantung pakan segar dan hidup, misalnya saja cumi dan cacing laut atau Polychaeta untuk menjamin produktivitas tetap terjaga dan kualitas nauplinya bagus. Semua pakan ini mengandalkan tangkapan alam, jika pengelolaan pakan di hatchery tidak baik, maka pakan hidup ini bisa menjadi sumber kontaminasi dan merusak kaidah biosecuriti. Meskipun demikian, para teknisi sudah sangat paham bagaimana mengatasinya.

Jarak Tempuh, Tantangan Industri Hatchery

Tantangan berikutnya, terkait dengan industri hatchery adalah terkait dengan lokasi dan aksesibilitas. Menurut Soediarnoto, lokasi hatchery terpusat pada lokasi-lokasi tertentu saja. Sehingga, hal ini terkadang industri ini mengalami kesulitan dalam aspek distribusi dan transportasi benih menuju lokasi-lokasi budidaya. Alternatif lain, jalur distribusi dapat dilakukan melalui udara, akan tetapi, biaya menjadi membengkak.

Faktor berikutnya, karena terkosentrasi di area tertentu, sehingga jika terjadi outbreak penyakit, perairan tersebut mudah terkontaminasi. Sehingga dapat melumpuhkan industri ini di daerah berdekatan secara menyeluruh.

“Fakta lain di lapangan, tantangan hatchery adalah sering mengalami bad debt bahkan bahkan dead debt sehingga sangat mengganggu cash flow kelancaran operasional,” imbuh Soediarnoto.

Senada dengan Soediarnoto, Elmas Handy Prabowo, Direktur PT Delta Agro, berpendapat serupa. Menurutnya, sangat banyak kebutuhan petambak secara nasional yang tidak mungkin dipenuhi oleh hanya beberapa hatchery besar.\

“Mendapatkan benur berkualitas secara kontinu menjadi tantangan terbesar dalam dunia hatchery serta wilayah kepulauan yang membuat biaya pengiriman cargo antar pulau terlalu tinggi. Jadi yang terpenting menurutnya adalah adalah konsistensi kualitas benur, yang saat ini masih naik turun,” tambah Handy.

Benur Bersertifikat, Wajib!

Untuk menjamin keberhasilan budidaya, benur memegang peranan yang sangat penting dalam mencegah terjangkitnya tambak dari serangan penyakit. Salah satunya adalah jaminan bahwa benur tersebut bebas dari patogen sehingga tidak mengandung penyakit bawaan.

Untuk itu, disinilah pentingnya benur memiliki sertifikat mengenai riwayat biologisnya. Terkait dengan aspek sertifikasi, Sudiarnoto menekankan pentingnya benur bersertifikat. Menurutnya, benur yang bagus harus jelas historisnya sehingga bisa disertifikasi. Peran pemerintah sangat penting dalam hal ini sebagai pengatur kebijakan. Salah satu historisnya adalah dari mana sumber induknya. Banyak hatchery yang tidak mempunyai induk membeli naupli dari hatchery lain yang mempunya induk dan jual Naupli. Menurutnya, hal tersebut tidak masalah selama jelas terjamin asal sumber induknya.

Kondisi Industri Hatchery dalam Negeri

Sudiarnoto melanjutkan, sejauh Ini Induk yang baik bersumber dari AS (Hawai atau Florida). Sayangnya, induk vaname Nusantara belum bisa berperan di dalam negeri. Benur Free Pathogen (SPF dan SPR) dengan standar pemerikasaan/SOP dan peralatan yang baik tentu bisa diandalkan hasilnya. Karena itu benur harus di periksa di laboratiorium yang sudah terakreditasi pemerintah sehingga sertifikat hasilnya dapat diandalkan.

Namun harus diyakini bahwa benur yang sudah bersertifikat SPF/SPR terpercaya bukanlah satu-satunya yang menjamin keberhasilan budidaya. “Kesalahan besar para teknisi adalah menganggap kualitas benur adalah segalanya semacam ‘key to success’ budidaya udang. Padahal, itu hanya part of the success saja,” ungkapnya.

Agus, menambahkan terkait dengan kondisi industri hatchery dalam negeri. Menurutnya, tantangan hatchery sekarang adalah terkait dengan ketergantungan yang kuat dengan pasokan broodstock impor.

“Titik yang paling lemah manakala kita tergantung dengan broodstock impor adalah bila terjadi faktor-faktor geopolitik global dan atau isu-isu yang berhubungan dengan penyakit,” ujarnya.

Selanjutnya, kedua penggunaann “live feed”. Penggunaan pakan hidup yang umum untuk indukan udang adalah cacing laut jenis polychaeta sebagai komponen diet maturasi induk. Meskipun demikian, komponen ini perlu diwaspadai. Pasalanya, berdasarkan penelitian Vijayan et al (2005), bertajuk Polychaete worms:- a vector for white spot syndrome virus (WSSV), cacing Polychaeta sebagai vektor WSSV.

Maka hal penting yang harus dilakukan adalah penyaringan (screening) cacing polychaeta untuk WSSV sebelum digunakan untuk pakan induk. Berikutnya, adalah ketergantungan industri hatchery dalam negeri terhadap kualitas dan kuantitas algae. Ketergantungan algae terutama pada stadia zoea yang hingga saat ini belum tergantikan dengan pakan buatan. Selanjutnya, adalah berbagai masalah seperti zoea syndrom, Vibriosis, luminiscent bacteria. Dengan demikian, konsep biosekuriti menjadi hal yang sangat mutlak dalam industri hatchery.

Masih menurut Agus, dengan dipatoknya target KKP untuk menggenjot kenaikan produksi budidaya sebesar 250%, peluang bagi hatchery semakin terbuka lebar. Industri ini dituntut untuk lebih dapat meningkatkan kapasitas produksi dengan kualitas yang prima. Pasalnya, para petambak berharap bahwa hatchery dapat menghasilkan benur dengan tingkat kelulushidupan (survival rate) yang tinggi, mempunyai  pertumbuhan yang cepat, sehat, dan bebas dari penyakit, baik virus maupun bakteri dan parasit.

Sehingga, ada potensi yang besar untuk  pengembangan dan perbaikan genetic udang putih lokal seperti Penaeus merquensis, Penaeus indicus dan Peenaeus monodon untuk mengurangi ketergantungan impor broodstock.

Menurutnya, udang vaname diintroduksi di Indonesia sejak tahun 2001. Sehingga, hingga saat ini, hampir dua dasawarsa udang tersebut dibudidayakan di Indonesia. Dengan rentang waktu yang cukup lama tersebut, ia berpendapat, sudah tentu para pelaku/pengusaha hatchery sudah memahami seluk beluk broodstock sehingga pengusaha hatchery. Dengan demikian, mereka sudah mempunyai standar yang tinggi untuk broodstock.

“Hanya saja, persoalan yang mengiringinya adalah sistem dan manajemen di hatchery untuk diselesaikan, di antaranya adalah ketergantungan pada pakan hidup, algae dan biosekuriti,” Agus. (Noerhidajat/Resti/Adit)

Narasumber : https://infoakuakultur.com

Ekspor Tuna dan Lobster Padang Terhenti

Ekspor Tuna dan Lobster Padang Terhenti
Ekspor Tuna dan Lobster Padang Terhenti

Ekspor tuna dan lobster asal Kota Padang, Sumatera Barat, terhenti sejak terjadi pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) karena negara tujuan menghentikan permintaan untuk sementara waktu.

“Pandemi Covid-19 menyebabkan ekspor ikan asal Padang mandek, akibatnya harga ikan tuna anjlok menjadi hanya Rp27 ribu per kilogram dibandingkan harga ekspor yang menembus Rp54 ribu per kilogram,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang Guswardi di Padang, Jumat (29/5/2020).

Menurut dia saat ini nelayan yang biasanya menangkap tuna untuk kebutuhan ekspor lebih memilih menyediakan pasokan lokal kendati harganya turun.

“Ekspor mulai terhenti awal tahun, negara tujuan biasanya Jepang, China dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Tidak hanya komoditas tuna, untuk lobster juga terhenti pengirimannya ke luar negeri.

Ia menyebutkan ada sekitar lima kelompok besar nelayan yang bergerak di bidang ekspor tuna termasuk PT Dempo.

Biasanya pengiriman dari Bandara Internasional Minangkabau setelah ikan dibekukan ke Jakarta untuk dikirim ke negara tujuan, ujarnya.

Sementara itu untuk budidaya perikanan air tawar di Padang cukup baik kendati permintaan juga turun karena pembeli sepi.

“Ikan tetap ada tapi pembeli berkurang, terutama nila dan lele,” kata dia.

Guswardi menyebutkan terdapat 1.200 orang yang membudidayakan ikan air tawar dengan kolam air deras dan tanah.

“Produksi cukup untuk memenuhi kebutuhan Padang ditambah dengan hasil tangkapan nelayan dari laut,” kata dia.

Sementara itu berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat ekspor daging dan ikan olahan mengalami penurunan 0,95 persen pada Januari-Maret 2020 dibandingkan periode yang sama pada 2019. Pada Januari-Maret 2019 nilai ekspor daging dan ikan olahan mencapai 0,05 juta dolar Amerika Serikat.

Narasumber : https://sumatra.bisnis.com

KKP Berikan Benih Ke Pembudidaya Udang Windu

KKP Berikan Benih Ke Pembudidaya Udang Windu
Data mencatat bahwa hingga pertengahan bulan Mei 2020, BPBAP Takalar telah menggelontorkan total bantuan benih seperti Udang, Bandeng, Rajungan, Nila Salin dan Kakap Putih sebanyak 25,5 juta ekor dimana 18 juta ekor bantuan benih diantaranya adalah benih Udang Windu.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan bahwa udang windu merupakan salah satu komoditas unggulan di Sulawesi Selatan. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan prospek pasar yang baik, potensi wilayah dengan adanya pakan alami serta dukungan dan komitmen dari pemerintah daerah turut berperan menarik minat pembudidaya.
“Pengelolaan udang windu harus mempertimbangkan kesesuaian lokasi memenuhi prinsip cara budidaya yang baik agar usaha budidaya dapat berkelanjutan dan tidak mengulangi kegagalan usaha budidaya udang windu di masa lalu,” ujar Slamet.
Slamet menegaskan bahwa pemerintah saat ini terus mengembangkan budidaya udang berbasis kawasan, yang menjadi salah satu kegiatan prioritas KKP. Target yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo yakni meningkatkan nilai ekspor udang nasional  250% hingga tahun 2024.
“Beberapa strategi juga telah kami lakukan agar target dapat tercapai serta meminimalisir kegagalan dalam usaha budidaya udang windu seperti melarang penggunaan induk udang asal tambak dan menyediakan induk udang hasil breeding program dari broodstock center. Saat ini kita memiliki broodstock center khusus udang windu di BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar yang akan didorong untuk menghasilkan induk-induk unggul untuk masyarakat,” jelas Slamet.
Slamet menambahkan beberapa strategi lain yang dilakukan oleh pemerintah ialah memangkas birokrasi perizinan usaha dan regulasi investasi, membuat percontohan berbasis kawasan budidaya tambak udang, fasilitasi akses permodalan, rehabilitasi infrastruktur tambak serta peningkatan kualitas SDM.
“Selain memenuhi pasar ekspor, permintaan udang windu di pasar lokal juga cukup terjaga terutama di masa pandemi seperti sekarang, dimana kebutuhan untuk makanan bergizi sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” imbuh Slamet.
Seperti diketahui, udang merupakan sumber protein yang penting untuk pembentukan sel-sel tubuh yang turut berperan untuk mencegah penyakit. Kandungan nutrisi dalam udang dan manfaatnya seperti protein untuk membentuk sel tubuh, antioksidan dapat mengurangi peradangan, yodium untuk mendukung produksi hormon, asam lemak omega-3 yang dapat menekan risiko sakit jantung serta kalsium yang baik untuk tulang, gigi dan kinerja tubuh lain.
Selaras dengan Slamet, Kepala BPBAP Takalar Supito menyebutkan bahwa potensi budidaya udang windu di Sulawesi Selatan membutuhkan sinergitas berbagai elemen pendukung. Sudah menjadi komitmen KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) untuk mendorong pengelolaan akuakultur secara bertanggungjawab di masyarakat.
“Komoditas udang windu menjadi primadona khususnya di kalangan pembudidaya skala kecil dengan teknologi sederhana karena memiliki harga pasar yang baik dan relatif stabil. Keuntungan ekonomis yang didapat per satuan termasuk yang tertinggi dibandingkan dengan komoditas lain, sehingga banyak menarik minat pembudidaya,” lanjut Supito.
Supito menyoroti ada beberapa faktor penyebab kegagalan produksi pembesaran udang windu seperti kualitas benih yang rendah dan terinfeksi penyakit, daya dukung lahan yang menurun, lingkungan budidaya yang terkontaminasi, dan fluktuasi lingkungan dalam tambak yang ekstrim akibat eutrifikasi. Selain itu sistem tata guna air yang buruk antar pembudidaya juga dapat memperparah kegagalan dan memudahkan proses kontaminasi dan infeksi penyakit pada petakan tambak dalam satu kawasan. 
“Untuk itulah dalam memberikan pendampingan, kami selalu menekankan pentingnya menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik dalam berbudidaya. Selain itu kekompakan pembudidaya dalam satu kelompok maupun kawasan juga selalu kami tekankan dalam memperhatikan musim tanam serta merancang strategi pola tebar benih,” sambung Supito.
Supito menyatakan BPBAP Takalar siap menyuplai benih udang windu bermutu kepada pembudidaya dengan kualitas tinggi yang bebas penyakit (specific pathogen free/SPF) dan tahan penyakit (specific pathogen resistance/SPR). “Beberapa kajian telah dilakukan oleh tim teknis kami salah satunya untuk menekan infeksi white spot syndrome virus (WSSV) dengan memelihara larva udang windu dalam suhu hangat 32-33 °C,” tambah Supito.
Supito menyebutkan kajian dalam teknik berbudidaya juga telah dilakukan oleh tim BPBAP Takalar adalah aplikasi pupuk fermentasi bakteri lactobacillus  untuk mencegah terjadinya pembusukan lumpur dasar tambak,  meningkatkan kesuburan pakan alami karena mampu menguraikan kelebihan organik dasar tambak tanpa menggunakan oksigen terlarut,  sehingga oksigen terlarut di air cukup selama pemeliharaan udang. 
 “Dengan koordinasi dan kerjasama yang baik dari semua pihak, diharapkan budidaya udang windu dapat kembali merajai industri udang tanah air di masa mendatang,” tutup Supito.

Ikan Pupuyu, Plasma Nutfah Asli Kalimantan yang Dilestarikan

Ikan Pupuyu, Plasma Nutfah Asli Kalimantan yang Dilestarikan

Tak hanya menyalurkan bantuan ikan bermutu, Bulan Mutu Karantina Tahun 2020 diisi dengan beragam kegiatan, termasuk restocking benih ikan lokal.

Restocking benih ikan lokal dilakukan oleh Balai Karantina Ikan, Pengendali Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Banjarmasin, yaitu ikan Papuyu di Embung Loktabat Selatan, Kota Banjarbaru. Tujuannya tidak lain adalah melestarikan plasma nutfah asli Kalimantan.

Kepala BKIPM Banjarmasin Sokhib mengatakan program restocking benih ikan lokal tersebut dilakukan bersama dengan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin.

“Total 40.000 ekor yang dilaksanakan di Embung Sidodadi, Kelurahan Loktabat Selatan, Banjarbaru,” kata Sokhib dalam siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dikutip pada Jumat (15/5/2020).

Ikan papuyu adalah ikan yang umumnya hidup liar di perairan tawar. Ikan ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Bethok atau Bethik (bahasa Jawa), Puyu (bahasa Melayu) atau Pepuyu (bahasa Banjar). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Climbing Gouramy atau Climbing Perch, merujuk pada kemampuannya memanjat ke daratan.

“Nama ilmiahnya adalah Anabas testudineus. Jenis ikan air tawar ini termasuk bahan masakan khas masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan,” sambungnya.

Bagi masyarakat setempat, papuyu jadi menu wajib pada setiap acara adat. Adapun restocking ini juga sekaligus menyukseskan Agenda Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang memiliki 169 capaian terukur dan target yang ditentukan oleh PBB. Terlebih pada capaian ke-14, terkait dengan ekosistem laut dan ke-15 terkait dengan ekosistem darat.

“Merupakan bagian dari kepedulian BKIPM dalam ikut menjaga keberlangsungan ekosistem hayati khususnya SDA perairan dan perikanan agar terus lestari. Kegiatan restocking ikan lokal ini merupakan salah satu bentuk upaya menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan ikan yang menjadi salah satu ikan asli Kalimantan,” urai Sokhib.

Kegiatan restocking ini juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Banjarbaru, perwakilan BPBAT Mandiangin, perwakilan Kelurahan setempat, serta panitia dari Balai KIPM Banjarmasin dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan dan pengendalian Covid- 19.

“Diharapkan benih ikan Papuyu yang diilepaskan dapat berkembangbiak dan lestari untuk menjadi warisan bagi anak cucu di Negeri Banua,” tukasnya.

Serapan KUR di Sektor Perikanan Belum Maksimal

Serapan KUR di Sektor Perikanan Belum Maksimal

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyebut penyerapan kredit usaha rakyat (KUR) belum maksimal dimanfaatkan para pelaku usaha di sektor ini.

Hal tersebut merujuk pada serapan KUR yang baru mencapai Rp2,5 triliun dari pagu yang disiapkan sebesar Rp190 triliun di 2020. “KUR yang selama ini sudah menjadi alat bantu yang menurut saya sangat efektif tapi belum terlaksana dengan baik,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (15/5/2020).

Edhy menyebut minimnya serapan KUR terjadi karena kurangnya informasi ke masyarakat. Berdasarkan pengamatan di lapangan, masyarakat justru berani menerima kredit informal. Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Menteri Keuangan serta Presiden Joko Widodo telah mengintruksikan agar dana KUR segera dimanfaatkan.

Terlebih program KUR saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. “KUR sekarang berbeda. Saya ingat sekali waktu saya sebagai anggota Komisi VI DPR dulu, KUR itu hanya dapat Rp5 juta meningkat jadi Rp25 juta dan sekarang Rp50 juta tanpa agunan. Bahkan bisa akumulasi,” sambungnya.

Lebih lanjut, Edhy mengaku telah menyiapkan langkah agar para pelaku usaha bisa dan berani memanfaatkan KUR yang memiliki bunga sebesar 6 persen tersebut. Langkah yang dimaksud adalah kemudahan dalam perizinan.

“Nah, dari angka yang ada, untuk tidak menjadi perdebatan. Maka dari itu KKP melakukan langkah terobosan, kita memberikan penguatan kepada pelaku usaha,” ungkapnya.

Narasumber : https://ekonomi.bisnis.com/

Di Tengah Pandemi Corona, Batam Mampu Ekspor Ikan Rp93,88 Miliar

Di Tengah Pandemi Corona, Batam Mampu Ekspor Ikan Rp93,88 Miliar

Terhitung sejak Januari hingga 16 Mei 2020 ini, tercatat volume ekspor hasil perikanan Kota Batam mencapai 2.329,64 Ton untuk Komoditi Mati dan 340.131 ekor ekspor Komoditi hidup. Dengan Total Nilai mencapai Rp 93,88 miliar.

Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Batam, Anak Agung Gede Eka Susila menjelaskan, meskipun berada di tengah pendemi Corona, kegiatan ekspor produk perikanan dari Kota Batam ke beberapa negara tetap berjalan. Walaupun memang volume ekspor yang berjalan tersebut sedikit terkoreksi karena penurunan permintaan dan suplai barang dari daerah lokal lain di Indonesia.

Pihaknya masih bersyukur bisa menjaga stabilitas gerak ekspor tersebut. Konsistensi ini diharapkan masih bisa terjaga dan kembali optimal setelah pandemi Covid-19 ini selesai.

“Alhamdulilah ekspor kita masih bisa berjalan, ekspor utama kita ekspor ke Singapore, China, Vietnam dan Jepang,” kata Agung di Batam Centre, Batam hari ini, Senin (18/5/2020).

Agung tidak merinci perbandingan ekspor saat ini dengan tahun 2019 lalu. Namun ia menjelaskan kondisi 2019 berjalan baik karena arus masuk barang dari luar daerah untuk diekspor melalui Batam.

Kasubsi Wasdalin Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Batam, Dwi Sulistiyono menjelaskan, sepanjang tahun 2019 lalu, frekuensi ekspor produk perikanan melalui wilayah kerja (Wilker) SKIPM Batam menyentuh angka 3.145 kali dengan total nilai ekspor sebesar Rp 379.666.749.326.

Komoditas produk perikanan yang diekspor, kelompok ikan konsumsi segar/beku menjadi yang tertinggi dengan volume sebesar 4.650.600kg atau senilai Rp331.057.791.941. Disusul komoditas ikan konsumsi hidup dengan volume sebanyak 1.202.882 ekor dengan nilai ekonomis Rp 43.883.479.315.000,-.

Untuk ekspor ikan hias sendiri tertinggi terjadi pada bulan Oktober sebanyak 2.554 ekor. Sedangkan berdasarkan nilai ekonomisnya, ekspor tertinggi terjadi pada bulan Mei senilai Rp 41,831 miliar.

Narasumber : https://sumatra.bisnis.com/

PENERBIT GITA PUSTAKA : BUKU-BUKU PETERNAKAN DAN PERIKANAN

Indononesia merupakan daerah yang sangat potensial untuk kegiatan berbagai budidaya seperti peternakan ayam, ayam petelur, budidaya ikan, penggemukan sapi dan penggemukan domba. Konsumsi ayam boiler di Indonesia tergolong sangat meningkat jumlahnya, bisa kita jumpai usaha usaha yang berbahan dasar ayam sangat mudah didapatkan apalagi saat saat hari hari libur besar.

Tak jarang ditemui orang yang melakukan usaha budidaya secara otodidak belajar sendiri tanpa ada panduan dan cara budidaya peternakan dengan benar, hanya mengandalkan pemikiran sendiri dan apa kata orang.

Berikut ini buku panduan peternakan populer yang dapat dijadikan referensi dan bisa di buka melalui Web www.jurnalpeternakan.com:

PENERBIT GITA PUSTAKA
PENERBIT GITA PUSTAKA

 

PT Japfa Comfeed Minta Restu Rights Issue 3,5 Miliar Lembar Saham

Japfa Comfeed (JPFA) Minta Restu Rights Issue 3,5 Miliar Lembar Saham

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. akan meminta izin kepada pemegang saham untuk melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dikutip di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (6/5/2020), Japfa Comfeed Indonesia berencana mengeluarkan saham baru Seri A dalam jumlah sebanyak-banyaknya 30 persen dari jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Nantinya, saham baru tersebut akan diterbitkan dari portepel perseroan dan dicatatkan di BEI. Saham baru memiliki hak yang sama dan sederajat dalam segala hal termasuk hak atas dividen.

“Untuk mendapatkan persetujuan dari pemegang saham berkaitan dengan rencana itu, perseroan akan melaksanakan rapat umum pemegang saham luar biasa pada 18 Juni 2020,” tulis Manajemen Japfa Comfeed Indonesia melalui keterbukaan informasi di laman BEI.

Kendati mandat atau persetujuan dari pemegang saham akan memberikan wewenang kepada perseroan untuk meningkatkan modal dengan mengeluarkan saham baru, emotin berkode saham JPFA itu akan tetap memperhatikan baik keadaan internal maupun eksternal sebelum mengeksekusi rights issue.

JPFA berencana menggunakan seluruh dana yang diterima dari rights issue untuk keperluan korporasi umum bagi perseroan dan/atau anak-anak perusahaan.

Perseroan mengklaim apabila eksekusi HMETD dilakukan sebanyak-banyaknya 30 persen dari saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh maka akan berpengaruh positif terhadap kondisi keuangan konsolidasian dan struktur permodalan dengan memperbaiki debt to equity ratio.

“Dengan HMETD ini diharapkan akan meningkatkan frekuensi perdagangan saham perseroan atau dengan kata lain dapat meningkatkan likuiditas saham perseroan,” ujar manajemen.

Narasumber : https://market.bisnis.com/