KKP Kejar Target Pembentukan Kawasan Konservasi Perairan

Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan terbentuknya kawasan konservasi perairan seluas 32,5 juta hektar atau sebesar 10 persen dari luas perairan Indonesia pada 2030.
Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan terbentuknya kawasan konservasi perairan seluas 32,5 juta hektar atau sebesar 10 persen dari luas perairan Indonesia pada 2030.

Kementerian Kelautan dan Perikanan terus berupaya melakukan akselerasi pengelolaan kawasan konservasi daerah guna mendorong pertumbuhan pusat ekonomi baru. Hal itu bertujuan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan pemerintah provinsi.

Aryo Hanggono, Dirjen Pengelolaan Ruang Laut mengatakan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan sinergi program dan kegiatan pengelolaan kawasan konservasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mendorong tumbuhnya pusat ekonomi baru berbasis pengelolaan kawasan konservasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai prioritas nasional.

“Kawasan konservasi yang sudah ditetapkan tidak hanya untuk konservasi saja tetapi juga memiliki nilai ekonomis tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (8/3/2020).

Aryo menuturkan, KKP menargetkan terbentuknya kawasan konservasi perairan seluas 32,5 juta hektar atau sebesar 10 persen dari luas perairan Indonesia pada 2030. Hingga akhir Desember 2019, luas kawasan konservasi perairan di Indonesia telah mencapai 23,14 juta hektar atau 7,12 persen dari luas perairan yang terdiri dari 196 kawasan.

Dari jumlah itu, terdapat 166 kawasan yang dikelola oleh KKP sementara 30 kawasan lainnya dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Pengelolaan kawasan konservasi perairan pada prinsipnya dapat terlaksana apabila kawasan tersebut telah ditetapkan. Namun, hingga saat ini dari 156 kawasan yang terbentuk, baru sebanyak 24 kawasan yang sudah ditetapkan sementara 132 kawasan masih berstatus dicadangkan,” jelas Aryo.

Rendahnya jumlah kawasan yang telah ditetapkan berdampak pada efektifitas pengelolaan kawasan sehingga berpengaruh pada upaya pencapaian target pemanfaatan kawasan konservasi perairan sebagaimana telah ditetapkan dalam RPJMN 2020 – 2024.

“Untuk mengejar pencapaian target tersebut, diperlukan sinergitas antara pemerintah baik pusat maupun daerah serta stakeholders terkait,” ungkapnya.

Narasumber : https://ekonomi.bisnis.com

Ketersediaan Benih Kakap Putih Dijamin Aman

Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam menjamin ketersediaan suplai benih kakap putih sebagai pusat kawasan budidaya nasional.

Kepala (BPBL) Batam, Toha Tusihadi, mengatakan selain menjamin suplai benih, pihaknya juga akan melakukan diseminasi dan pendampingan teknologi budidaya.

Langkah awal yang akan dilakukan, yakni memberikan dukungan benih, dan membangun pola segmentasi penyiapan benih. BPBL Batam juga mendukung upaya merevitalisasi UPTD Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Selat Panjang yang dilakukan oleh Pemkab Kepulauan Meranti dengan melakukan pendampingan pelaksanaan rehabilitasi sarana dan prasarana serta pendampingan teknologi produksi benih.

“Penyediaan benih untuk mendukung pengembangan kawasan siap kami penuhi. Tim BPBL Batam telah menyiapkan tenaga pendamping, sehingga BBIP Selat Panjang mampu memproduksi benih secara mandiri,” kata Toha melalui keterangan resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang diterima Bisnis, Senin (10/20/2020).

Dalam penjelasannya, Toha menyampaikan bahwa pengembangan pusat kawasan budidaya laut di Kepulauan Meranti akan didorong melalui pola segmentasi usaha. Pola ini dibangun dengan harapan
bahwa kedepannya akan terbentuk suatu kawasan budidaya laut yang mandiri.

Segmen pertama adalah produksi benih 0,8 cm. Saat ini, benih 0,8 cm masih mengandalkan produksi dari BPBL Batam. Mulai 2020, BPBL Batam akan mendampingi BBIP sehingga nantinya untuk kebutuhan benih mampu dipenuhi dari balai ini.

Segman kedua, produksi pendederan di tambak oleh koperasi/Pokdakan produsen benih. Tugas dari Pokdakan adalah memproduksi benih ukuran 8 cm (siap tebar di KJA) dari benih ukuran 0,8 cm.

Pada segmen ini telah dilakukan penebaran perdana sebanyak 100.000 ekor dengan targetkan produksi benih ukuran 8 cm minimal 40.000 ekor. Kami menargetkan pada 2020 ini ada 3 siklus penebaran. “Nantinya dari pembesaran KJA dapat mencapai paling tidak 20 ton dan tenaga kerja yang terlibat diperkirakan minimal 50 orang, beber Toha.

Segmen ketiga, usaha pembesaran di Karamba Jaring Apung (KJA). Hasil produksi dari tiga siklus penebaran ini diproyeksikan mampu menghasilkan ikan konsumsi sebesar 40 ton sampai 60 ton.

Sementara itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau, telah mengalokasikam Rp1 miliar untuk mewujudkan Meranti sebagai pusat kawasan budidaya kakap putih nasional.

Narasumber : https://ekonomi.bisnis.com

Menteri Edhy Janji Atasi Transportasi Ikan Hias yang Mahal

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo berjanji akan mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapi para pembudidaya ikan hias. Diantaranya terkait mahalnya biaya angkut dan kendala regulasi.

“Misalnya, ada yang melaporkan kalau pindah barang dari Sumatera ke sini mahal dan waktunya lama. Ini akan segera kita terobos,” ujarnya seperti dikutip Bisnis dalam sebuah keterangan tertulis, Sabtu (30/11/2019).

Untuk menyelesaikan masalah ini, KKP katanya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. “Kami, pemerintah akan hadir untuk segera melakukan terobosan-terobosan dalam mengurangi hambatan-hambatan yang mengurangi ekonomi biaya tinggi,” tambahnya.

Indonesia diketahui memiliki potensi ikan hias air tawar yang belum tertandingi di dunia dengan sekitar 1.300 spesies. Kendati demikian, saat ini baru terdapat 90 spesies atau 7% dari keseluruhan potensi ikan hias air tawar yang sudah dibudidayakan.

Mahalnya transportasi pengiriman ikan hias, kendala regulasi, berkurangnya ketersediaan ikan hias di alam, dan terbatasnya ketersediaan induk unggul menjadi sejumlah isu utama yang dihadapi oleh para pelaku usaha saat ini.

Edhy menuturkan ikan hias merupakan komoditi perikanan yang tepat untuk dibudidayakan. Selain mudah, budidaya ikan hias tidak memerlukan wilayah yang begitu luas. Biaya yang diperlukan pun tak begitu besar. Tak kalah penting, pasar ikan hias masih terbuka lebar untuk permintaan domestik maupun ekspor.

“Budidaya ikan hias bisa menambah nilai ekonomi secara lebih cepat. Dari segi hitungan, kalau budidaya ikan hias ini laku di pasaran hasilnya akan lebih besar,” sebutnya.

Guna mendorong hal ini, Menteri Edhy menyatakan bahwa KKP akan merangkul seluruh stakeholder budidaya ikan hias. Dia memastikan, komunikasi dua arah dengan stakeholder akan terus dibangun ke depannya.

“Kita cari solusi untuk masalahnya, termasuk regulasinya, soal aturan-aturannya, dan juga fasilitas yang dibutuhkan,” tukas Edhy.

Diketahui, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan pameran ikan hias terbesar di dunia, “Nusantara Aquatic (Nusatic) 2019” di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang, yang terbuka untuk umum selama 29 November 2019 – 1 Desember 2019.

Pameran ikan hias terbesar di dunia ini diharapkan menjadi trigger untuk mendorong promosi ikan Indonesia di pasar domestik maupun pasar ekspor.

Narasumber : https://ekonomi.bisnis.com

Perinus Gandeng Jabar Fasilitasi Andon Penangkapan Ikan di Indonesia Timur

PT Perikanan Nusantara (Persero) dan pemerintah provinsi Jawa Barat menandatangani kerja sama fasilitas andon penangkapan ikan di wilayah Indonesia Timur dalam acara Peringatan Hari Pangan Sedunia ke-39 Tingkat Provinsi Jawa Barat, Rabu (02/10/2010), di Lapangan Atletik, Indramayu.

Yolanda Wulandelvi , Public Relation Supervisor PT Perikanan Nusantara (Persero), menuturkan perusahaan dan pemerintah daerah provinsi Jawa Barat sebelumnya telah menandatangani perjanjian kerja sama dalam Program “Jabar Go To East” pada 2 September 2019.

Perjanjian ini langsung ditandatangani oleh Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil dan Direktur Utama PT Perikanan Nusantara M. Yana Aditya di Gedung Pakuan, Bandung, Jawa Barat.

“Kerja sama ini untuk fasilitasi kegiatan andon penangkapan ikan oleh pelaku usaha kelautan dan perikanan asal Jawa Barat ke wilayah Indonesia Timur serta bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pelaku usaha kelautan dan perikanan,” papar Yolanda, Rabu (02/10/2019).

Ruang lingkup kerja sama a.l. pemetaan dan survey wilayah strategis penangkapan ikan di Indonesia Timur, pemanfaatan potensi sumber daya perikanan tangkap melalui kegiatan andon penangkapan ikan, pengembangan inovasi teknologi tepat guna untuk efektifitas dan efisiensi produksi perikanan tangkap dan penyediaan tempat tinggal sementara bagi pelaku usaha kelautan dan perikanan asal Jawa Barat yang melaksanakan kegiatan andon penangkapan ikan di wilayah Indonesia Timur.

Indonesia memiliki potensi sumber daya ikan laut kurang lebih sebesar 7,3 juta ton/tahun merupakan kekayaan laut yang patut disyukuri. Sebagian besar potensi tersebut berada di wilayah Timur Indonesia.

Pemerintah daerah provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan PT Perikanan Nusantara didasarkan kepada wilayah operasi dari perusahaan yang ada di Indonesia Timur.

Saat ini, perusahaan telah memiliki fasilitas perikanan yang memadai, diantaranya memiliki Cabang Usaha di Ambon, Bitung, Sorong, Gorontalo, Makassar serta Bacan di Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara.

Narasumber : bandung.bisnis.com

Menteri Susi Bersama Sekjen PBB Prakarsai Dialog Asean – Pasifik Selatan

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Kelautan Peter Thomson memprakarsai Asean South Pacific Maritime Dialogue on IUU Fishing di sela-sela penyelenggaraan Sidang Umum PBB di New York, AS, Rabu (25/9/2019).

Pertemuan ini merupakan langkah awal pembentukan koalisi aksi di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik untuk memberantas Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing.

Acara ini merupakan implementasi kesepakatan sherpa High Level Panel for a Sustainable Ocean Economy (HLP) tentang perlunya koalisi aksi sebagai praktik terbaik untuk menyelamatkan laut dunia.

Dalam pertemuan ini Menteri Susi menjelaskan terdapat tiga hal utama yang diperlukan untuk meningkatkan kerjasama antarnegara dalam pemberantasam IUU fishing berdasarkan pengalaman Indonesia.

Pertama, persamaan persepsi bahwa IUU Fishing merupakan ancaman yang serius terhadap kesehatan laut dan keamanan di laut harus dilakukan.

Kedua, pentingnya sistem yang transparan serta pertukaran informasi yang akurat dan mutakhir.

Ketiga, perlunya membangun forum untuk berbagi pengalaman dan keahlian untuk mewujudkan penegakan hukum terhadap IUU fishing yang efektif.

Pernyataan Susi disambut baik oleh para perwakilan negara yang hadir. Thailand menyampaikan ketiga upaya tersebut dapat diwujudkan melalui rencana pembentukan Asean IUU Fishing Network yang akan dibahas pada November mendatang dalam Asean Ministerial Meeting di Brunei.

Asean IUU Fishing Network akan menjadi sebuah platform negara-negara Asean untuk berbagi informasi dan data pemanfaatan sumber daya perikanan.

Mengingat pentingnya transparansi di bidang perikanan, Susi berpendapat agar platform jaringan tersebut juga dimanfaatkan untuk berbagi data transmitter dari Vessel Monitoring System (VMS) dan Automatic Identification System (AIS).

“Kalau kita antarnegara saling berbagi data tentang lalu lintas kapal dan memantaunya secara bersama-sama, praktik IUU Fishing lintas-batas pun pasti dapat lebih mudah diawasi dan ditekan,” ucapnya seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima pada Minggu (29/9/2019).

Susi berpendapat bahwa implementasi Port State Measures Agreement (PSMA) tidak akan efektif apabila kegiatan alih muat hasil tangkapan antar kapal di laut (transshipment) tetap dibiarkan, tidak diatur, dan tidak diawasi.

“Ratifikasi PSMA adalah hal yang bagus, tetapi akan menjadi macan tanpa taring tanpa pelarangan transshipment karena masih banyak kapal perikanan yang tidak melaporkan hasil tangkapannya ke pelabuhan. Sebaliknya, mereka  melakukan berbagai modus transshipment yang tersusun rapi,” ujarnya.

Menutup diskusi, Susi mengusulkan agar pertemuan tingkat menteri antarnegara dapat dilakukan secara teratur setidaknya setahun sekali. Momentum forum-forum internasional seperti Our Ocean Conference, United Nations Ocean Conference, maupun HLP dapat dimanfaatkan untuk melakukan pertemuan tersebut.

“Lewat pertemuan-pertemuan seperti ini, kita dapat saling bertukar informasi tentang program aksi masing-masing negara antar kawasan regional. Di samping itu, kita perlu segera merintis aksi bersama dengan menggunakan platform yang ada seperti Sekretariat Asean dan platform serupa untuk kawasan Pasifik Selatan,” pungkasnya.

Inisiatif untuk membangun koalisi negara mulai dijajaki di berbagai kawasan selain Asia Tenggara yakni di Afrika, Pasifik, dan Amerika Serikat. Moderator Jim Leape menyampaikan perlu adanya jaringan untuk menjembatani inisiatif antar kawasan tersebut.

Hadir dalam diskusi kali ini Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Kelautan, Menteri Luar Negeri Timor Leste, Penasihat Menteri Pertanian dan Kerja Sama Thailand, Penasihat Menteri Malaysia, dan perwakilan Misi Diplomatik Permanen Singapura untuk PBB.

Jim Leape dari Stanford University selaku moderator menekankan pentingnya koalisi antarnegara untuk melindungi keberlanjutan sumber daya perikanan dunia. Setiap negara kemudian diberikan kesempatan untuk menjelaskan kebijakan nasionalnya.

Menteri Luar Negeri Timor Leste Dionísio Da Costa Babo Soares menyampaikan bahwa negaranya telah melakukan beberapa langkah untuk memberantas IUU Fishing. IUU Fishing telah mengakibatkan kerugian sebesar US$20 juta setiap tahunnya.

Salah satu langkah pemberantasan yang dimaksud adalah dengan memberatkan sanksi terhadap pelaku IUU fishing pada criminal code dan mengakui adanya hubungan kuat antara IUU fishing dengan beberapa kejahatan lainnya di laut.

Selanjutnya, Penasihat Menteri Thailand mengangkat pentingnya peran negara pelabuhan (port state) untuk mencegah hasil tangkapan IUU fishing masuk ke pasar negaranya. Sejalan dengan hal itu, Penasihat Menteri Malaysia menyampaikan bahwa sebagai negara yang sudah meratifikasi , Malaysia turut berupaya meningkat perannya sebagai negara pelabuhan.

Hal ini dilakukan melalui penguatan koordinasi secara domestik antar-instansi yang memiliki kewenangan dalam pelaksaanaan inspeksi di pelabuhan.

Sementara itu, walaupun belum meratifikasi PSMA, Singapura menyampaikan bahwa negaranya telah melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki sistem inspeksi pelabuhan.

Berkaitan dengan hal itu, Thailand membagikan pengalamannya tentang pemberlakuan kebijakan monitored transshipment yang mewajibkan hasil tangkapan yang dialihmuatkan terdata lengkap. Semua prosesnya pun terawasi oleh CCTV.

Kehadiran Peter Thomson pada rapat ini menjadi penting untuk menghubungkan inisiatif yang dijajaki oleh negara-negara Asia Tenggara dan sekitarnya dengan negara di kawasan lainnya, terutama di Pasifik.

Thomson menyatakan akan mengangkat inisiatif yang dibahas pada pertemuan ini pada Pacific Ocean Alliance Meeting yang akan diselenggarakan di Suva, Fiji, pada 1 – 4 November 2019.

Dia juga menekankan urgensi aksi global untuk mewujudkan target-target Sustainable Development Goals (SDGs) ke-14, terutama yang ditargetkan untuk selesai pada 2020.

Narasumber : ekonomi.bisnis.com

Penjualan Pakan Udang Kembali Menggeliat

Realisasi penjualan pakan udang pada paruh pertama 2019 kembali menggeliat setelah sebelumnya sempat diprediksi akan mengalami penurunan. 

Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) mencatat realisasi penjualan pakan udang bertumbuh sebesar 4,5 persen dari 140.684 ton pada semester I/2018 menjadi sekitar 147.014,78 ton pada periode yang sama tahun ini. Padahal, pada awal tahun GPMT memprediksi penjualan pakan udang berpotensi terkoreksi sebesar 2 persen-3 persen lantaran adanya isu penyakit EMS atau early mortality syndrome

“Saya bersyukur outlook negatifnya ternyata tidak terbukti,” sebut Ketua Divisi Akuakultur GPMT Haris Muhtadi kepada Bisnis, belum lama ini. 

Menurut Haris, pertumbuhan penjualan pakan udang ini salah satunya lantaran keberhasilan Indonesia dalam mencegah masuknya penyakit EMS yang telah menjangkiti udang di sejumlah negara, seperti Vietnam dan Thailand. Di samping itu, tambahnya, peningkatan ini juga didorong oleh bertumbuhnya sejumlah investasi di sektor perikanan budi daya di dalam negeri, khususnya untuk komoditas udang. 

Selain pakan udang, penjualan pakan ikan di dalam negeri pun ikut mengalami kinerja positif. 

Realisasi penjualan pakan ikan pada semester I/2019 bertumbuh sebesar 3,5 persen dari 682.794 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan penjualan pakan ikan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi pada awal tahun yang hanya sebesar 1 persen—3 persen.

Narasuber : ekonomi.bisnis.com

Waspada dan Cegah Penyakit Udang Bercak Putih atau White Spot Syndrome Virus

Penyakit udang bercak putih dan myo sangat membuat petambak udang cemas. Pasalnya, akibat yang ditimbulkan tidak tanggung-tanggung, kematian massal pada udang. Meskipun akibat myo tidak separah bercak putih, akhir-akhir ini muncul istilah ‘myo rasa WSS’, lantas, bagaimanakah pencegahan dan penanggulangannya?

Kematian udang di tambak

Penyakit bercak putih yang disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV), menjadi kendala besar bagi para petambak udang, baik udang windu dan vaname dalam budidaya. Melacak jejaknya di masa lalu, penyakit ini pernah menjadi biang dari bangkrutnya industri udang windu nasional. Virus ini dapat mengakibatkan terjadinya kematian massal pada udang budidaya di segala usia.

Sementara itu, penyakit myo yang disebabkan oleh infectious myonecrosis virus (IMNV), meskipun tidak separah penyakit bercak putih, juga menyebabkan kerugian yang cukup serius diderita petambak.

Menurut catatan sejarah, pertama kali penyakit ini dideteksi pada kolam budidaya udang vaname di negara Brazil, Amerika Latin di tahun 2002. Penyakit yang menyebabkan nekrosis otot rangka, saluran pencernaan, dan ekor ini dapat menjadi penyebab kematian sekitar 70% pada udang vaname budidaya dalam satu siklus.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006 sejak ditemukannya penyakit tersebut di seberang samudera, telah ditemukan penyakit serupa yang menyerang pertambakan di daerah Situbondo, Jawa Timur, Indonesia. Selanjutnya, penyakit menyebar ke berbagai daerah hingga kini dan menjadi musuh bersama para petambak udang vaname.

Faktor Lingkungan, Pemicu Terjadinya Penyakit Udang                      

Faktor lingkungan ditengarai menjadi salah satu pemicu terjadinya serangan penyakit WSSV dan myo. Menurut pemaparan salah seorang praktisi tambak udang, Eko Winasis, kedua penyakit tersebut biasanya muncul pada saat terjadi goncangan/perubahan kualitas air di tambak.

Di samping itu, kata Eko, kondisi lingkungan sekitar yang terpapar kedua virus tersebut sangat berpengaruh terhadap kemungkinan serangannya. Misalnya saja, serangan penyakit dapat terjadi pada saat petambak memasukkan air baru dan terdapat organisme carrier kedua virus tersebut yang terbawa masuk ke dalam tambak. Sehingga, pada akhirnya, kedua penyakit tersebut berkembang biak di tambak.

Seperti yang sudah diketahui umum, kedua penyakit ini dapat menyerang udang dengan akibat yang mematikan. Penyakit WSSV dapat menyerang udang vaname maupun udang windu.

Sementara itu, kata Eko, penyakit myo kebanyakan menyerang udang vaname. Kasus serangan penyakit myo pada udang windu jarang terjadi. Bahayanya, virus penyebab WSS menyerang udang pada segala usia. Serangan dapat terjadi pada awal tebar benur, pertengahan maupun pada fase akhir budidaya. Lain halnya, penyakit myo pada umumnya menyerang udang yang sudah berumur di atas 50 hari.

Penyebab Penyakit Udang dan Carrier

Baik penyakit bercak putih maupun penyakit myo, keduanya disebabkan oleh serangan virus yang banyak membuat para petambak udang khawatir. Tidak hanya pada udang windu, penyakit bercak putih juga dapat menyerang jenis udang vaname.

Kemunculan penyakit tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Di samping faktor lingkungan, faktor yang terkait dengan kondisi udang dapat memicu terjadinya infeksi. Inang dari virus ini adalah dari kelompok crustacea.

Eko mengungkapkan, hewan carrier/pembawa bibit penyakit dapat berupa cacing, burung, jentik nyamuk, dan makhluk hidup lainnya. Pada awalnya, udang yang pertama kali terserang adalah udang dengan kondisi tubuh yang paling lemah. Dari udang yang sudah terinfeksi, penyakit akan menyebar dan menular ke udang-udang lain yang sehat.

Secara umum, penyebaran dapat terjadi melalui peristiwa kanibalisme pada udang. Dimana, udang yang terinfeksi dimangsa oleh sesamanya sehingga terjadi perpindahan virus. Selain itu, pemanenan udang yang terkena penyakit berisiko tinggi menyebarkan penyakit pada udang-udang di tambak lain yang sehat.

Hal ini dimungkinkan terjadi karena peralatan-peralatan panen yang digunakan dapat membawa virus dan bibit penyakit dari tambak yang sudah terjangkit penyakit. Sementara itu, udang yang terinfeksi masih dapat mengandung bibit penyakit yang dapat menyebar ke udang lainnya yang sehat.

Gejala Serangan Penyakit Bercak Putih

Lebih jauh, menurut pemaparan Eko, udang yang sudah terinfeksi virus WSSV dapat ditengarai dari beberapa gejala yang tampak, di antaranya adalah udang berenang secara disorientasi, mengapung, dan terdapatnya bercak-bercak putih yang ditemukan pada karapas. Bahkan, lebih jauh lagi, berdasarkan temuan di lapangan, Eko menjumpai udang yang terinfeksi penyakit ini berwarna kemerahan seperti air teh.

Selanjutnya, pada tubuh udang terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi kemerahan. Nafsu makan hilang pada udang yang sakit, beberapa hari setelah terjadi infeksi, udang akan berenang di permukaan air tambak dan tampak sekarat sebelum akhirnya mati.

Virus WSSV akan tumbuh optimal pada kisaran 18 – 30 oC, suhu normal pada tambak udang. Akan tetapi, virus akan cenderung berkembang biak lebih optimal pada suhu yang lebih tinggi pada rentang angka tersebut. Sementara itu, salinitas air tambak yang tinggi, pada kisaran 30 ppt, juga menjadi faktor lingkungan air yang dapat memicu perkembangbiakan virus WSS.

Lain lagi dengan penyakit myo, menurut pengakuan Eko, udang yang terserang penyakit myo biasanya ditengarai dengan kemunculan warna putih pada segmen 5 dan 6 (dekat ekor) pada badan udang. Selanjutnya, warna putih tersebut dapat berubah menjadi merah. Hal itu menjadi tanda adanya kerusakan daging pada bagian abdomen hingga ekor.

Sehingga, sekilas udang yang sakit tampak seperti udang yang sudah direbus. Meskipun penyakit myo dapat menyerang udang pada semua rentang usia, akibat penyakit ini tidak separah WSSV. Seperti halnya, WSSV, kanibalisme juga ditengarai menjadi salah satu penyebaran penyakit pada udang yang sehat.

Akibat Serangan Penyakit

Lebih jauh terkait akibat serangan penyakit, Eko memaparkan pengamalannya. Menurutnya, penyakit yang disebabkan WSSV dapat mengakibatkan membengkaknya angka kematian (mortalitas) pada udang. Tidak main-main, menurut Eko, populasi udang bisa habis dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari saja pasca-infeksi. Hal inilah yang membuat para petambak ketar-ketir.

Sementara itu, angka mortalitas yang disebabkan penyakit myo cenderung tidak separah yang disebabkan WSSV. Akan tetapi, Eko mengakui, akhir-akhir ini, muncul banyak kekhawatiran di kalangan para petambak.

“Sekarang, muncul istilah ‘myo rasa WSS’, penyakit myo dengan tingkat mortalitas yang cepat dan tinggi,” papar Eko.

Pada udang yang terinfeksi penyakit myo, kematian akan terjadi pada hari ke-9 dan hari ke-13 pasca-serangan. Penyakit ini menyebabkan petambak boros dalam pemberian pakan. Pasalnya, rasio konversi pakan dapat merangkak naik pada kisaran 4,4 akibat serangan virus myo.

Dampaknya bisa ditebak. Kedua penyakit viral ini mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan terhadap para petambak. Begitu juga, naiknya angka konversi pakan ke kisaran angka 4 sangat membebani petambak. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan uang ekstra untuk memenuhi kebutuhan pakan udang yang membengkak.

Langkah Pencegahan dan Penanggulangan

Ketika ditanya terkait langkah pencegahan serangan penyakit bercak putih dan myo, Eko memaparkan pendapatnya pada Redaksi Info Akuakultur. Menurut alumnus Universitas Diponegoro ini, jawabannya adalah penerapan biosekuriti yang ketat. Aspek ini mencakup screening (penyaringan) organisme baik inang maupun carrier, manusia (pekerja, pengunjung, dll), dan juga sarana produksi tambak. Termasuk dalam langkah pencegahan penyakit ini adalah pengaturan jarak panen dan tebar yang tidak terlalu dekat, manajemen air tambak, dan pengaturan pakan yang baik.

Lantas, bagaimana pengendalian yang perlu dilakukan jika sudah terlanjur terjadi? Menurut Eko, jika tambak sudah terserang penyakit tersebut, ada beberapa langkah yang sebaiknya diambil oleh petambak. Jika udang terserang penyakit bercak putih (WSS), segera dilakukan pemanenan dini. Udang-udang yang sudah mati segera dikubur di dalam tanah. Selanjutnya, lakukan disinfeksi air tambak sebelum dialirkan ke saluran buang. Langkah ini untuk mencegah penularan penyakit melalui air buangan yang sudah mengandung virus.

Berikutnya, berdasarkan pemaparan Eko, ketika tambak sudah terlanjur terserang penyakit myo, lakukan perbaikan kualitas air tambak. Hal ini dilakukan jika masih belum parah dan memungkinkan untuk dilakukan. Namun, jika serangan sudah parah, petambak sebaiknya melakukan panen dini. Langkah selanjutnya seperti yang terjadi jika terserang penyakit WSSV. (Noerhidajat/Adit)

Tangkal TiLV Pada Ikan Nila Sejak Dini

Beberapa tahun belakangan, merebak penyakit virus pada ikan nila atau Tilapia Lake Virus (TiLV) yang diderita oleh beberapa negara produsen ikan tersebut membuat Indonesia menyetop stok impor. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) kemudian mengeluarkan surat edaran nomor 3975/DJPB/VII/2017 pada 14 Juli lalu.

Surat edaran tersebut berisi tentang pencegahan dan pemantauan terhadap Penyakit TiLV pada ikan nila. Setidaknya, ada lima langkah yang dapat dilakukan agar Indonesia terhindar dari TiLV, dan hal tersebut terus dilakukan secara sinergis dan koordinatif oleh seluruh stakeholder perikanan budidaya, mulai dari pelaku, peneliti/akademisi, dan pengambil kebijakan.

Dalam edarannya, DJPB mengatakan kelima langkah tersebut, pertama, melarang pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang terkena wabah TiLV yaitu Israel, Kolombia, Ekuador, Mesir, dan Thailand.

Kedua, pemerintah membatasi pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang tidak terkena wabah dengan memenuhi ketentuan wajib melampirkan izin pemasukan ikan hidup, melampirkan sertifikat kesehatan ikan dan uji hasil mutu.

Ketiga, Indonesia untuk sementara tidak melakukan kegiatan penebaran benih Tilapia di perairan umum. Keempat, akan dilakukan pengujian laboratorium di pintu pemasukan dan pengeluaran antar daerah untuk Nila.

Kemudian, kelima, pemerintah meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB dan Dinas Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan surveilan serta monitoring terhadap penyakit TiLV.

Hingga saat ini belum ada wabah dan atau laporan kasus penyakit TiLV di Indonesia yang menimbulkan kematian sangat tinggi dan atau kerugian ekonomi yang signifikan, seperti halnya yang terjadi di beberapa Negara terdampak.

Meskipun demikian, Taukhid mengatakan, “potensi kemunculan dan dampak negatif dari penyakit tersebut tetap harus disikapi secara proporsional dan terukur,” ujarnya.

Lantas, jika TiLV sudah terlihat menyerang kolam-kolam bagaimana antisipasi pertama yang harus dilakukan pembudidaya agar penyakit tersebut tidak menimbulkan dampak kerugian yang besar serta seperti apa pencegahan sejak dini TiLV yang harus dilakukan pembudidaya.

Taukhid memaparkan, gejala klinis umum yang mengindikasikan adanya infeksi TiLV pada ikan nila antara lain lemah, katarak (endophthalmitis), exopthalmia, penyusutan mata dan phthisis bulbi, pengelupasan kulit/erosi dan ulcus, kongesti ginjal, peradangan otak (encephalitis), dan pembengkakan di hati.

“Organ atau jaringan yang dipilih sebagai materi uji deteksi TiLV secara molekuler adalah mata, otak, hati, limpa dan ginjal,” kata Taukhid.

Langkah antisipatif untuk mencegah TiLV, menurut Taukhid, pada unit usaha atau kolam budidaya ikan nila antara lain dapat dilakukan melalui:

  1. Benih atau bibit ikan nila yang digunakan bebas dari infeksi TiLV yang dapat ditelusur (traceability) sumber populasi induk, baik dari sejarah asal usul maupun hasil pemeriksaan laboratorium.
  2. Pada kawasan budidaya ikan nila yang menggunakan sumber air yang sama (daerah aliran sungai/DAS), belum ditemukan adanya kasus penyakit tersebut.
  3. Memastikan bahwa prosedur budidaya ikan selalu dilakukan secara baik dan benar sesuai kaidah Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).
  4. Membangun sistem informasi dini antar pelaku budidaya ikan nila terkait status penyakit tersebut.

Taukhid melanjutkan, apabila pada unit budidaya ikan nila terlihat adanya ikan-ikan yang menunjukkan gejala klinis disertai kematian yang diduga akibat penyakit tersebut, maka tindakan yang sebaiknya dilakukan adalah:

  1. Mengisolasi dan pemantauan secara intensif terhadap populasi ikan yang diduga terinfeksi TiLV.
  2. Menginformasikan kepada pihak terkait atau petugas yang kompeten untuk tindak lanjut penanganan teknis dan atau pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratoris dalam rangka konfirmasi penyebab utama penyakit tersebut.
  3. Pada populasi ikan nila yang sedang sakit, kurangi porsi pakan harian dan tambahkan unsur imunostimulan untuk menigkatkan ketahanan tubuh ikan.
  4. Pada kondisi kolam yang dapat dikontrol, upayakan flukutasi suhu air dalam periode 24 jam tidak lebih dari 2 oCelcius.
  5. Ikan yang mati segera diambil, selanjutnya dibuang/dikubur untuk memastikan bahwa bangkai ikan tersebut tidak berpotensi sebagai sumber penularan untuk ikan nila lainnya.

Belum ada obat atau bahan kimia yang efektif untuk mengobati ikan nila yang terinfeksi virus TiLV, kecuali penggunaan desinfektan untuk tujuan desinfeksi sarana dan prasarana selama proses produksi.

Beberapa informasi teknis menurut Taikhid yang mungkin perlu menjadi pertimbangkan dalam pengendalian penyakit TiLV pada budidaya ikan nila. Secara laboratoris, menurutnya, beberapa strain ikan nila yang telah berkembang di masyarakat memiliki tingkat resistensi yang berbeda terhadap penyakit TiLV.

Pola kematian ikan nila akibat penyakit TiLV berlangsung secara sub-akut hingga akut dengan masa inkubasi antara 1 – 14 hari. Individu ikan yang mampu bertahan hidup (survivors) akan mengalami proses penyembuhan, bertahan hidup dan terbentuk kekebalan terhadap penyakit tersebut. Namun status selanjutnya dari individu tersebut (potential carrier or totally eradicated) belum diketahui secara pasti.

“Faktor pemicu yang determinan terhadap munculnya kasus penyakit TiLV adalah fluktuasi suhu air yang cukup besar dalam periode 24 jam,” pungkas Taukhid. (Adit)

Diagnosa Cepat, Tepat dan Akurat Red Seabream Iridovirus Disease Pada Ikan Kerapu

Indonesia merupakan ekspotir ikan kerapu terbesar di dunia, Negara tujuan ekspor: Jepang, Taiwan, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina dan Hongkong. Ikan kerapu merupakan protogynous hermaphrodite (hermaprodit protogoni), dimana kerapu betina akan mengalami perubahan kelamin menjadi jantan.

Siklus virus Red Seabream Iridovirus Disease

Tiap jenis kerapu mengalami kematangan gonad pada ukuran dan umur yang berbeda, misalnya pada jenis kerapu lumpur, transisi dari betina dan jantan terjadi setelah ikan mencapai ukuran panjang badan 660-720 mm. Testis mulai matang pada ukuran tubuh 740 mm atau berat 11 kg.

Transformasi dari betina ke jantan memerlukan waktu yang cukup lama dan dalam kondisi alami. Kebutuhan ikan kerapu untuk konsumsi di pasaran semakin banyak sejalan dengan jumlah budidaya yang semakin meningkat.

Budidaya ikan kerapu dipengaruhi oleh penyakit menular yang disebabkan beberapa faktor salah satunya stres akibat kepadatan populasi dalam kolam pemeliharaan. Penyakit infeksius menjadi salah satu ancaman utama terhadap keberhasilan budidaya perikanan di Indonesia.

Beberapa kendala diantaranya morbiditas dan motalitas tinggi akibat penyakit Red Sea Bream Iridoviral Disease (RSIVD). Gejala klinis kerapu yang terinfeksi RSVID; ikan berenang lemah atau diam di dasar air, sehingga disebut juga penyakit tidur.

Perubahan makroskopis ascites, petechiae di insang, dan pembesaran limpa. Penularanya yang cepat dengan tingkat kematian yang tinggi menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, RSIVD menjadi ancaman serius perkembangan perikanan budidaya di Indonesia.

Penularan dan penyebaran Iridovirus pada ikan dalam suatu populasi terjadi melalui air yang terkontaminasi virus. Diperlukan diagnosa yang cepat dan akurat untuk deteksi dini serangan penyakit,

Hasil Kit rapid test

sehingga dapat dilakukan langkah penanganan untuk meminimalisir dampak kerugian yang lebih besar.

Limpa merupakan salah satu organ hematopoietik, berfungsi sebagai lokasi penyaringan antigen, penyimpanan dan penghancuran eritrosit. Limpa terlibat dalam proses keradangan yang bersifat sistemik, gangguan hematopoietik dan metabolisme.

Limpa sehat bewarna merah tua atau hitam dengan tepi tajam yang terletak di antara lengkungan lambung dan usus. Limpa ikan berbeda dengan mamalia, pulpa putih dan merah yang menyebar dan tidak beraturan serta kerangka jaringan ikat yang tidak menonjol.

Limpa juga merupakan tempat berkumpulnya limfosit-limfosit aktif yang masuk ke dalam darah. Limpa memberi reaksi dengan cepat terhadap antigen yang terdapat dalam darah dan merupakan organ penting dalam proses aktivasi sistem imun adaptif.

Limpa merupakan organ filter imunologik dari sistem sirkulasi. Limpa ikan kerapu pada infeksi RSIVD terlihat beberapa sel limfoid pada pulpa putih membesar dan berisi badan inklusi (inclusion bodybearing cells: IBC) basofilik intrasitoplasma dan beberapa sel limfoid juga terlihat mengalami nekrosis (piknosis, karyorheksis dan karyolisis).

Pengembangan Diagnosa Cepat

Pada 30 November 2017, pengelola program Pasca sarjana Sain Veteriner FKH UGM   mengadakan seminar hasil penelitian yang berbasis inovasi dan teknologi. Dwi Sulistiyono mahasiswa pasca sarjana Sain Veteriner mempresentasikan hasil penelitian yang sangat menarik dengan tema Rapid Diagnostic Test Red Sea Bream Iridoviral Disease (RSIVD) Pada Ikan Kerapu  (Epinephelus. sp) Dengan Kit Ko-Aglutinasi dan Studi Molekuler.

Penelitian ini dibimbing oleh Dr. drh. Surya Amanu, SU dan Prof. drh. Kurniasih M.V.Sc, Ph.D yang menjadi pioner pengujian Rapid Diagnostic Test penyakit di Ikan di Indonesia. Kedua ahli dari FKH UGM tersebut merupakan supervisor yang sangat ahli dibidang penyakit ikan di Indonesia.

Kit ko-aglutinasi dipersiapkan dengan beberapa tahapan yang memmbutuhkan kejelian dan ketelitian dalam proses pembuatanya. Produksi antibodi RSIVD dari kelinci dengan penyuntikan antigen atau vaksin RSIVD.

Panen antibodi dilakukan setelah titer antibody mencapai level yang dipersyaratkan. Antibodi yang telah dipanen kemudian dipurifikasi untuk mendapatkan immunoglobulin G (IgG). Immunoglobulin G dicampurkan dengan volume sama dengan protein A yang diproduksi oleh Staphylococcus aureus.

Dalam presentasinya, Dwi menjelaskan bahwa metode diagnostik berbasis serologi yang memiliki kelebihan cepat, akurat dan  murah, memanfaatkan Antibodi (Ig) yang mempunyai sifat reaktifitas yang sangat spesifik terhadap antigen yang menstimulir terbentuknya antibodi tersebut, diikatkan pada protein A Staphylococcus aureus yang memiliki kemampuan unik untuk mengikat bagian Fc dari IgG meninggalkan Fab bagian imunoglobulin bebas untuk mengikat antigen.

Uji Laboratorium

Uji laboratorium menggunakan Kit rapid test untuk mengetahui adanya reaksi terhadap antigen RSIVD dalam vaksin. Antigen yang digunakan dari virus vaksin RSIVD. Satu vial vaksin RSIVD 1000 dosis diencerkan dengan NaCl fisiologis sampai 5 ml, sebanyak 0,5 ml larutan diambil kemudian ditambahkan NaCl fisiologis hingga 10 ml. Kit diteteskan di atas slide glass atau objek gelas sebanyak 50 µl ditambah antigen dalam vaksin dengan volume yang sama.

Uji reaksi silang dilakukan dengan menguji antigen yang sering menjadi penyebab penyakit pada ikan yaitu Viral Nervous Necrosa, Koi Herpes Virus, Streptococcus iniae, Edwarsiela tarda, E. ectaluri, Aeromonas salmonicida.

Uji ini untuk mengetahui apakah ada reaksi silang Kit dengan antigen lainya. Hasil positif pada uji reaksi silang akan terjadi aglutinasi ditunjukkan dengan adanya debris pasir.  Hasil negatif uji ditunjukkan tidak ada perubahan reaksi.

Uji Lapangan

Sampel ikan kerapu sakit dari tambak atau keramba diambil sampel berupa Limfa. Limfa diekstraksi dengan cara digerus dan ditambahkan PBS pH 7.2 kemudian dilakukan sentrifugasi 8000 rpm selama 20 menit.

Supernanatan diambil dan digunakan sebagai sampel antigen. Sampel antigen lapangan diteteskan di atas objek gelas sebanyak 50 µl dan ditambahkan Kit rapid test RSIVD dengan perbandingan 1:1.

Kontrol positif menggunakan antigen dari vaksin RSIVD, kontrol negatif digunakan PBS. Hasil positif RSIVD akan terbentuk aglutinasi dan terlihat adanya debris pasir. Hasil negatif tidak menunjukan perubahan. Uji ini memerlukan waktu kurang lebih 15 menit untuk melihat terjadinya reaksi ko-aglutinasi kamar.

Uji ko-aglutinasi sangat cocok dikembangkan untuk deteksi penyakit dilapangan karena cepat, murah, mudah ditafsirkan, spesifik, sensitif, dan tidak memerlukan peralatan khusus. Batas sensitivitas uji ko-aglutinasi 106 PFU/ml dalam pengujian virus pada sel kultur dan ikan yang terinfeksi dan 103 CFU/ml dalam pengujian bakteri, ko-aglutinasi sangat sederhana, cepat dan ekonomis dapat digunakan untuk deteksi langsung dari jaringan ikan yang sakit, tanpa harus mengkultur patogen terlebih dahulu dalam media.

Ko-aglutinasi merupakan metode serologi yang lebih sensitif jika dibandingkan  dengan iFAT maupun PAP, tidak memerlukan mikroskop fluoresens yang mahal sebagaimana dalam pengujian iFAT, sehingga lebih cocok digunakan untuk deteksi penyakit dilapangan. Hasil pengujian yang dapat diketahui dengan cepat memungkinkan pemilik tambak atau keramba dapat segera melakukan langkah antisipasi dan mengurangi resiko kerugian yang lebih besar.

Pengujian dengan ko-aglutinasi tidak hanya dikembangkan dalam deteksi pada penyakit ikan dan hewan, karena sensitivitas dan spesifitas yang tinggi ko-aglutinasi banyak juga dikembangkan dalam deteksi agen penyebab penyakit pada manusia, diantaranya deteksi antigen pneumococcus dalam dahak pasien pneumonia, deteksi antigen Salmonella typhi dalam penderita deman tifoid pada manusia dan pengembangan ko-aglutinasi sebagai rapid test dalam deteksi Vibrio cholerae penyebab diare langsung.

Pengujian dengan kit ko-glutinasi tidak bisa dilakukan dengan mengumpulkan beberapa sampel dalam sekali uji (pooling) karena dapat terjadi positif palsu maupun negatif palsu. Pengujian dengan Pooling dapat menyebabkan pengenceran antigen manakala sampel yang dilakukan pooling tidak semuanya positif atau mengandung antigen (virus).

Sehingga dapat menyebabkan kosentrasi antigen terlarut pada sampel tidak equivalen. Kosentrasi optimum untuk reaksi yang terlihat baik pada pengujian dengan kit ko-aglutinasi adalah 50 µl kit ko-aglutinasi dan 50 µl antigen (supernatan  sampel).

Pengujian cepat, tepat dan akurat sangat membantu menemukan permasalahan penyakit, mengurangi resiko kerugian yang lebih besar dan mementukan tindakan penanganan penyakit yang lebih cepat. (Joko Susilo)

 

Probiotik Herbal untuk Sukses Budidaya Udang

Mendengar kata herbal, yang ada dibayangan kita adalah bahan alami. CV Pradipta Paramita ciptakan produk-produk probiotik herbal untuk budidaya udang yang baik untuk udang dan aman untuk lingkingan tambak.

Pada pameran perikanan budidaya AQUATICA ASIA & INDOAQUA beberapa waktu lalu, CV Pradipta yang juga produsen obat ikan dan udang menarik perhatian pengunjung dengan produk-produk probiotik dan mineral untuk budidaya perikanan.

Pameran yang digelar 28-30 November di JIExpo Kemayoran, Jakarta ini menjadi tempat yang tepat untuk sharing informasi bagi para pelaku usaha budidaya perikanan di Indonesia. Khususnya, bagi para pengunjung yang mencari obat ikan, probiotik, atau  mineral untuk menunjang suksesnya budidaya udang.

Agnes Herarti

General Manager CV Pradipta Paramita Agnes Herarti, mengatakan, pada pameran kali ini CV Pradipta Paramita memperkenalkan produk-produk probiotik dengan bahan herbal. Lanjutnya, selain probiotik, juga punya produk mineral untuk nutrisi dan menanggulangi kesehatan tambak udang.

Agnes mengatakan, CV Pradipta Paramita ingin menyajikan produk probiotik yang terbaik untuk customer di Indonesia. Lanjutnya, probiotik yang ada di Indonesia saat ini kebanyakan dari luar negeri, sehingga harga jualnya otomatis tinggi berbeda dengan produk dari Indonesia yang lebih murah dengan kualitas yang sudah teruji.

Menurut Agnes, produk dari luar negeri belum tentu cocok untuk tambak di Indonesia karena pelru beradaptasi, berbeda jika produk dari dalam negeri seperti yang dibuat CV Pradipta Paramita yang sudah teradaptaasi untuk tambak udang di Indonesia.

Diantara produk-produk probiotik herbal untuk udang dari CV Pradipta Paramita, Agnes memaparkan, ada Aquxit Bacilus, Minaraya Udang, dan Zipro Ikan. Ketiga produk tersebut merupakan probiotik premium yang dibuat dengan bahan herbal dan uji laboratorium ketat yang baik untuk menunjang sukses budidaya udang.

Aquxit Bacilus

Aquxit Bacilus merupakan probiotik premium untuk udang yang di formulasikan dengan teknologi menghasilkan kombinasi sempurna dari probiotik konsentrasi tinggi dan nutrisi extra yang dibutuhkan untuk kekebalan dan pertumbuhan udang sejak benih hingga dewasa.

Penggunaan Aquxit Bacilus sendiri secara rutin dapat meningkatkan kualitas air, menghindarkan

penyakit, menghasilkan bakteri aktif yang menjaga ekosistem tambak dengan mengurangi sulfur/Hidorgen Sulfida (H3S), Amonia (NH3), Nitrat (NO2) sehingga efektif mengurangi Total Amonia Nitrogen (TAN), serta dan menciptakan tambak udang yang lebih menguntungkan.

Selain itu, CV Pradipta Paramita punya Minaraya Udang yang merupakan larutan yang diformulasikan secara berimbang antara probiotik pilihan dan herbal yang diproses secara higenis dalam pengawasan uji laboraturium yang mampu meningkatkan nafsu makan udang.

Nafsu makan udang dapat menurun, khususnya apabila sedang terjangkit penyakit atau pasca terjangkit penyakit. Misalnya, udang sedang terserang bakteri vibrio yang menyebabkan WFD maka nafsu makan akan menurun dan pertumbuhan udang akan terganggu/lambat.

Minaraya Udang

Herbal yang digunakan untuk menaikkan nafsu makan udang antara lain, Zingiber officinale, Curcuma domestica, Kaempferia galanga, Curcuma xanthorrizha, Curcuma aeruginosa yang mana herbal ini cukup berpengaruh dan memberikan efek positif pada nafsu makan udang.

Segudang manfaat dari Minaraya Udang diantaranya: Mengembalikan nafsu makan yang turun akibat terserang penyakit udang, meningkatkan pertumbuhan plankton sehingga menambah nafsu makan alami dan mengurangi pakan tambuhan, meningkatkan daya cerna (TDN) dan menurunkan FCR sehingga secara real dapat meningkatkan SR pada udang, meningkatkan Dissolved Oxygen (DO) dalam ekosistem kolam sehingga kolam makin bersih dan tidak terinfeksi penyakit dan meningkatkan pertumbuhan udang dan meningkatkan produksi.

Kemudian, yang jadi produk unggulan yakni Zipro Ikan. Ini merupakan perpaduan antara rempah-rempah (Zingiber officinale, curcuma xanthorrhiza, curcuma domestica, dll) yang diolah bersama Propolis menjadi antibiotik alami yang sangat cocok untuk meningkatkan kekebalan ikan dan mengikis kontaminan yang disebabkan oleh bakteri, jamur bahkan beberapa virus.

Zipro Ikan

Produk ini sangat aman sangat aman, dan bila digunakan dalam dosisi berlebihpun tidak menyebabkan residu antibiotik dalam tubuh ikan, sehingga ikan menjadi tetap aman. Manfaat yang sudah terbukti dari Zipro Ikan adalah dapat mengendalikan penyakit bercak merah pada ikan yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophia & Pseudomonas hydrophyila.

Selain itu, dapat membantu meningkatkan stamina terhadap serangan Saprolegniasis sp. karena jamur, Saprolegnia, Achiya sp, Branchiomyses sp., membantu mencegah serangan penyakit Tuberculosis yang disebabkan oleh Mycobacterium fortoitum, mengendalikan serangan bintik putih karena infeksi jamur, SaprolegniaAchiya sp, Branchiomyces sp., mencegah serangan virus penyebab bintik putih pada ikan mas & ikan nila dari infeksi Epithelorra paputasam sp. dan mengendalikan serangan penyakit yang disebabkan infeksi bakteri, jamur atau virus (CCVD, SVC, IPN, LD, IHN, dll). (ADV)

DICARI AGEN PENJUALAN:
CV PRADIPTA PARAMITA
HUBUNGI 085725515154

Peran Probiotik Sukseskan Budidaya Vaname

Fabiola Yana Pradipta, S.TP
CV Pradipta Paramita – Biotehnology Industry

Tak dapat dipungkiri, kondisi air yang baik sangat mutlak dan penting dalam budidaya udang vaname. Hal ini disebabkan air menjadi media atau tempat bagi udang serta biota air lainnya hidup dan berkembang. Tak heran, banyak usaha dilakukan para pembudidaya untuk menjaga kualitas air dan keseimbangan lingkungan air.

Penerapan biosekuriti yang baik dapat mempertahankan kualitas air. Dengan menjaga keseimbangan pH, kecerahan air, dan parameter kualitas air lainnya, keberadaan penyakit dan virus bisa ditekan.

Salah satu poin yang dilakukan dalam biosekuriti di antaranya penggunaan probiotik, yaitu komponen dari feed suplement yang perannya saat ini tidak bisa diabaikan. Meskipun begitu, penggunaan probiotik juga harus tepat sasaran karena tidak semua probiotik memiliki fungsi yang sama.

Probiotik sebagai pengurai pakan

Probiotik bekerja dengan mengurai komponen pakan—baik dalam bentuk karbohidrat, lemak, atau protein—menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti gula, asam lemak, dan asam amino.

Penambahan probiotik menyebabkan pakan menjadi lebih mudah dicerna oleh udang atau ikan. Dengan begitu, sisa pakan yang tidak tercerna menjadi semakin sedikit, penambahan bobot semakin tinggi, dan cemaran kolam semakin sedikit. Berkurangnya cemaran amoniak dan nitrit membuat kolam pun semakin sehat.

Enzim yang dihasilkan probiotik akan menguraikan bahan pakan yang ada. Disebabkan kandungan pakan beragam—seperti karbohidrat, protein, lemak dan mineral serta vitamin, probiotik yang berisi  mix-bacteria akan lebih efesien dalam mengurai pakan.

Keberadaan enzim pengurai yang dihasilkan probiotik membuat karbohidrat dengan gugusan komplek dan susah dicerna—baik selulosa, hemiselulosa lignin, dan pektin—lebih mudah terurai menjadi gula yang lebih sederhana. Dengan begitu, gula menjadi mudah diserap tubuh udang. Sementara enzim protease dan lipase yang dihasilkan probiotik membuat protein dan lemak lebih mudah terurai.

Probiotik yang berfungsi meningkatkan pencernaan antara lain Bacillus sp., Bacillus subtilis, Lactobacillus spp., dan beberapa jenis lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Lactobacillus spp. pada udang selama 100 hari berturut-turut meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh terhadap serangan Vibrio harveyi secara signifikan(1). Dalam Journal of Applied Microbiology ISSN 1364-5072 juga dikatakan bahwa udang yang diberi Bacillus subtilis E20 dalam pakan mengalami pertumbuhan sangat baik karena aktifitas enzim protease dalam pencernaannya meningkat.

Probiotik sebagai penjaga daya tahan tubuh

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dalam tambak dapat mengakibatkan rentetan masalah lain, mulai dari gagal tumbuh hingga kematian masal. Vibrio spp. merupakan salah satu bakteri patogen dalam tambak udang yang dapat menyebabkan kematian masal.

Meskipun penggunaan antibiotik dan obat kimia dapat mengatasi masalah akibat keberadaan bakteri ini, tetapi penggunaannya dapat menyebabkan drug resistance bagi konsumen udang. Penggunaan probiotik menjadi jawaban atas masalah tersebut, salah satunya dengan menggunakan Lactobacillus acidophilus.

Udang yang telah melalui treatment dengan L. acidophilus lebih tahan terhadap V. alginolyticus dalam tambak udang. (3) Sementara benur yang telah diberikan bakteri asam laktat sebanyak 5×106 CFU/g selama 4 minggu berturut-turut memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik (SR 56-72%) ketika diserang V. Alginolyticus—lewat injeksi 0,1 ml yang mengandung 3×109 CFU/ml. (4)

Probiotik sebagai penjaga kualitas air

Dalam industri akuakultur, pengolahan tambak dan kolam biasa diikuti dengan adanya sisa pakan yang busuk, endapan kotoran, serta residu organik. Semakin lama, kualitas air semakin menurun, amoniak dan nitrit semakin menumpuk, dan potensi bahaya bagi ikan dan udang pun semakin besar.

Penggantian air secara berkala bsa menjadi solusi. Namun, selain mahal dan merepotkan, penggantian air bisa mengakibatkan polusi pada laut, sungai, dan lingkungan. Untuk mengatasinya, probiotik yang dapat digunakan sebagai solusi penjaga kualitas air di antaranya Bacillus amyloliquefaciens, yang mampu mengurangi nitrit. (2)

Masalah kualitas air tambak dan kolam lainnya adalah kehadiran BGA (blue green algae) atau cyanobacteria. Dalam tambak atau kolam, BGA menjadi momok bagi pembudidaya karena dapat menghambat pertumbuhan ikan dan udang.

Blooming BGA menyebabkan deoxygenation serta pelepasan racun yang menyerang saraf dan menyebabkan kematian, baik  pada ikan maupun udang. Kolam yang mengandung BGA mengeluarkan bau tidak sedap, yang disebabkan oleh metabolit sampingan dari BGA (geosmin dan 2-methylisoborneol). Penanggulangan cyanobacteria dapat diatasi dengan probiotik Bacillus cereus, yang dapat menyebabkan lisis atau hancurnya sel cyanobacteria.

Beberapa tambak di Indonesia telah menggunakan sistem bioflok atau semiflok, yang menggunakan keseimbangan plankton sebagai salah satu tolak ukur kesehatan tambak. Dalam Latin American Journal of Aquatic Research juga ditunjukkan bahwa probiotik dapat mempengaruhi jumlah bakteri heterotropis dalam endapan, nilai persentasi dari konsentrasi pyrrophyta, serta meningkatkan kualitas endapan dalam sistem tambak.

Manfaat penggunaan probiotik yang beragam tersebut dapat diambil sesuai kebutuhan dan kondisi yang sedang dihadapi pembudidaya. Perhatikan kesesuaian jenis probiotik dengan kondisi kolam dan dosis yang harus diaplikasikan.

Cermati pula industri penyedia probiotiknya. Pastikan perusahaan produsen probiotik tersebut sudah tersertifikasi dan memiliki Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB). (Ed: Rochim Armando)

Kecukupan Mineral Tambak, Jangan Diabaikan!

Ir. Suprapto

Technical Advisor

PT Indonesia Evergreen Feed

 

Seiring dengan maraknya usaha tambak udang, berbagai upaya untuk menyiasati lahan yang kurang memenuhi syarat untuk tambak pun dilakukan. Penerapan teknologi tambak plastik maupun semen semakin berkembang untuk mengatasi lahan dengan tanah poros, lahan gambut, maupun tambak tua, yang kondisi lahannya sudah rusak atau daya dukungnya telah menurun.

Adanya lapisan yang menyekat tanah dengan air—baik dengan penyemenan atau penggunaan plastik—tersebut membuat tanah tidak optimal dalam menyediakan mineral bagi media budidaya udang. Ditambah dengan penerapan biosekuritas yang ketat, suplai mineral dari lingkungan alam menjadi sangat terbatas. Hal ini terjadi akibat pembatasan jumlah air yang masuk ke dalam tambak dengan alasan untuk mencegah masuknya bibit penyakit. Kondisi ini diperparah dengan kecenderungan meningkatkan padat penebaran yang semakin tinggi sehingga tingkat kebutuhan mineral pun semakin naik.

Pentingnya mineral bagi lingkungan tambak

Mineral adalah substansi anorganik yang memiliki beberapa fungsi dalam tubuh hewan, di antaranya untuk menjaga proses metabolisme; sebagai pembentuk tulang, gigi, dan karapas; sebagai koenzim; serta menjaga keseimbangan tekanan osmotik dan asam-basa dalam tubuh. Namun kenyataannya, unsur-unsur tersebut sering diabaikan. (Sukarman dan Lili Solichah, 2012).

Berbagai mineral terkandung di dalam air laut dan tanah dasar tambak, baik berupa mineral makro maupun mikro. Kandungan mineral (garam) dalam air laut berkisar 31—38 gram per kg atau 31—38‰ dengan kandungan rata-rata 35‰ (35 gr/L, 599 mM) (Wikipedia). Perhitungan jumlah mineral dalam air laut dapat dilihat pada Boks 1.

Mikroba (bakteri) dan plankton merupakan organisme nabati yang sangat memerlukan mineral untuk kelangsungan hidupnya. Jika plankton dalam tambak stabil dan mikroba berkembang baik, kondisi lingkungan tambak pun menjadi baik. Dengan kondisi lingkungan yang baik, udang dan ikan yang ada di dalamnya juga tumbuh dengan baik dan tidak mudah terserang penyakit.

Dalam pertumbuhannya, fitoplankton membutuhkan mineral sebagai nutrisinya. Sebagai produsen primer, fitoplankton mampu mengubah C-anorganik (CO2) menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari. Fitoplankton mengambil N dalam bentuk ammonium (NH4+) atau nitrat (NO3) untuk menyusun protein. Diperlukan pula mineral lain seperti orthophosphate (H2PO4 dan HPO4=) untuk menyusun ATP; magnesium untuk membentuk klorofil; serta trace element untuk pembentukan enzim dan hormon, serta untuk proses biokimia yang terjadi di dalam sel.

Seperti halnya plankton, bakteri juga membutuhkan mineral. Bakteri mengambil N, baik dalam bentuk organik maupun anorganik. Bakteri heterotrofik memanfaatkan N-anorganik (ammonia maupun nitrat), tergantung pada nilai C/N ratio. Jika C/N ratio tinggi (lebih dari 12) maka bakteri heterotrofik menggunakan N-anorganik seperti ammonia sebagai sumber nitrogennya (Ebeling et al, 2006). Bakteri juga menyerap P, baik dalam bentuk anorganik maupun organik. Selain itu, bakteri membutuhkan mineral seperti K, Na, Cl, Ca, Mg, S, serta mikro mineral seperti Fe, Mn, Mo, Cu, Zn, Co, B, Ni, maupun mikro mineral lainnya.

Terbatasnya persediaan mineral dalam lingkungan tambak dapat menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil dan tidak seimbang. Plankton menjadi tidak stabil dan mikroba pun tidak dapat berkembang dengan baik. Akibatnya, lingkungan menjadi goncang dan tidak stabil sehingga kualitas air menjadi tidak baik. Udang atau ikan pun menjadi mudah stress dan mudah terserang penyakit.

Sering ditemukan kasus udang yang terlihat kram saat dipantau perkembangannya lewat anco. Hal ini bisa disebabkan udang kekurangan mineral dan stress akibat dominasi plankton blue-green algae atau dinoflagellata. Selain itu, sering pula ditemukan kasus kulit udang lembek serta tidak bisa mengeras akibat kekurangan mineral kalsium dan fosfor.

Kasus kematian udang, yang sering ditemukan dengan kondisi banyaknya udang tanpa kulit, diduga akibat kekurangan mineral. Sementara PH dan alkalinitas yang terlalu rendah diduga sebagai penyebab utama terjadinya molting massal pada udang.

Selanjutnya Baca Majalah Info Akuakultur Edisi April 2018