Cegah Penyakit Ikan dengan Fermentasi Mengkudu

Rasanya memang pahit, tapi jangan pandang sebelah mata khasiatnya. Buah dari polinesia ini memang terkenal memiliki banyak manfaat kesehatan, baik untuk manusia maupun ikan.

Buah mengkudu atau dalam bahasa latin Morinda citrifolia memiliki bau yang sangat khas. Meskipun bukan buah primadona untuk kalangan masyarakat, tanaman yang bisa tumbuh di dataran rendah maupun tinggi ini mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan manusia. Asal diaplikasian dengan baik dan benar, buah pace (sebutan Jawa) ini juga bisa dijadikan sebagai obat alami dalam budidaya perikanan,.

Seperti Basuki Hendriawan dari Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kelautan (BP4K) Lampung Tengah, yang memanfaatkan buah mengkudu sebagai obat penangkal penyakit ikan. Menurut Basuki, mengkudu atau pace selama ini sudah dikenal oleh masyarakat sebagai bahan yang bermanfaat bagi kesehatan, baik manusia maupun hewan. Kandungan zat antibiotik di dalamnya dipercaya dapat membantu pencegahan penyakit ikan.

AK13 Kesling 3 2

Foto2. Basuki Hendriawan (Sumber foto: dok. pribadi)

Basuki menambahkan, pencegahan penyakit ikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan budidaya perikanan. Pemanfaatan buah mengkudu melalui teknologi fermentasi sebagai salah satu usaha pencegahan penyakit ikan diharapkan dapat membantu para pembudidaya ikan untuk meraih kesuksesan dalam usaha di bidang perikanan.

Khasiat mengkudu bagi budidaya ikan, khususnya ikan lele, adalah mengobati penyakit atau gangguan yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Selain itu, mengkudu juga dapat mengurangi kanibalisme pada ikan lele.

AK13 Kesling 3 3

Foto3. Gejala serangan aeromonas (Sumber foto: Istimewa)

Buah mengkudu mempunyai kandungan yang cukup lengkap, di antaranya zat nutrisi, terpenoid, zat antibakteri, scolopetin, zat antikanker, serta xeronine dan proxeronine.

Secara keseluruhan, buah mengkudu memiliki gizi lengkap. Zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh seperti protein, vitamin, dan mineral penting, tersedia dalam jumlah cukup pada buah dan daunnya. Selenium, salah satu mineral yang terdapat pada buah mengkudu, merupakan antioksidan yang hebat. Berbagai jenis senyawa yang terkandung dalam buah mengkudu antara lain xeronine, plant sterois, alizarin, lycine, sosium, caprylic acid, arginin, proxeronine, antraquinines, trace elements, phenylalanine, magnesium, dan masih banyak nutrisi lainnya.

Terpenoid merupakan zat yang membantu proses sintesis organik dan pemulihan sel-sel tubuh. Adapun zat aktif antibakteri yang terkandung dalam sari buah mengkudu dapat mematikan bakteri penyebab infeksi seperti Pseudomonas aeruginosa, Protens morganii, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli. Zat antibakteri tersebut juga dapat mengontrol bakteri patogen seperti Salmonella montivideo, S. scotmuelleri, S. typhi, Shigella dusenteriae, S. flexnerii, S. pradysenteriae, serta Staphylococcus aureus.

 

Scolopetin merupakan senyawa yang sangat efektif sebagai unsur antiperadangan dan antialergi. Sementara zat antikanker pada mengkudu paling efektif melawan sel-sel abnormal.

 

Salah satu alkaloid penting yang terdapat di dalam buah mengkudu adalah xeronine. Buah mengkudu hanya mengandung sedikit xeronine, tapi banyak mengandung bahan pembentuk (precursor) xeronine alias proxeronine dalam jumlah besar. Proxeronine adalah sejenis asam nukleat seperti koloid-koloid lainnya. Xeronine diserap sel-sel tubuh untuk mengaktifkan protein-protein yang tidak aktif serta mengatur struktur dan bentuk sel yang aktif.

Aplikasi dan pemanfaatan mengkudu dalam budidaya

Banyaknya kandungan buah mengkudu menjadi modal yang sangat baik untuk dimanfaatkan bagi kesehatan manusia maupun hewan, khususnya dalam sektor budidaya perikanan. Ada beberapa cara untuk memanfaatkan buah mengkudu bagi perikanan, di antaranya langsung diberikan kepada ikan di kolam.

Cara tersebut sudah cukup baik dibandingkan tanpa pemberian mengkudu. Namun, ada cara yang dirasa lebih baik lagi yaitu dengan menerapkan fermentasi mengkudu terlebih dahulu agar mendapatkan hasil yang maksimal. Manfaat fermentasi di antaranya meningkatkan kandungan gizi dari bahan tersebut serta menghasilkan mikroorganisme yang dapat membantu menjaga kualitas air.

Basuki menjelaskan, cara memfermentasi mengkudu sampai bisa digunakan langsung pada kolam budidaya melalui beberapa tahapan berikut.

Pertama, siapkan buah mengkudu setengah matang atau mengkal dan probiotik. Jumlah bahan disesuaikan dengan kebutuhan.

Kedua, potong-potong buah mengkudu menjadi ukuran yang lebih kecil. Kemudian tumbuk hingga halus dan campurkan probiotik sesuai takaran.

Ketiga, aduk bahan hingga tercampur rata.

Keempat, simpan campuran bahan tersebut dalam wadah yang kedap udara. Setelah 5—7 hari, buka wadah dan mengkudu siap diaplikasikan. (Aditya Permadi)

Cegah Myo pada Udang Vaname

Anda tahu myo (mio)? Bukannya sebuah motor matic, sporty, keren, dan gaya; tapi myo yang dimaksud di sini adalah biang penyakit ganas yang bisa membuat udang mati massal dan membuat rugi petambak.

Apa sih, Myo? Pertama kali, virus myo atau Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) ditemukan di Brazil dan Pantai Amerika Selatan pada tahun 2003. Di Indonesia, IMNV ditemukan pertama kali di Situbondo pada tahun 2006, yang menyebabkan 300 ribu benur vaname mati. “Khususnya pembudidaya udang vaname, begitu takut dengan virus ini karena mereka beranggapan myo muncul berarti harus siap merugi,” ujar Deni Hamdani S.St.Pi Koordinator Instalasi Cibalong Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut Wilayah Selatan (BPBAPLWS) Garut.

Deni menyebutkan, gejala myo ditandai dengan terjadinya nekrosis atau kerusakan jaringan otot pada tubuh udang dengan ciri warna putih pada otot yang terserang. Udang mengalami kram, lalu pada segmen badannya terdapat seperti gumpalan awan putih. Jika sudah parah, jaringan otot akan mati dan berwarna merah.

AK13 Kesling 2 2

Foto2. Gejala awal IMNV tampak dari gumpalan awan putih di ruas badan dalam (Sumber foto: dok. Deni Hamdani)

AK13 Kesling 2 3

Foto3. Serangan fatal myo ditunjukkan dari warna merah tubuh (Sumber foto: dok. Deni Hamdani)

Penyebab wabah virus myo

Faktor pendukung lain penyebab virus myo cukup tinggi yaitu dampak perubahan iklim. Perubahan cuaca dan suhu perairan tersebut memicu stres pada udang dan menyebabkan daya tahan tubuh udang menurun. “Penyebab terjangkitnya penyakit ini ditengarai oleh menurunnya kualitas air atau tidak stabilnya kualitas air media budidaya, terutama fluktuasi suhu,” ungkap Deni.

Radi, petambak udang vaname di Jawa Tengah mengungkapkan, “Penyebab virus myo bukan karena masuk musim kemarau, tetapi dari suhu ekstrim dan tak menentu, yaitu suhu di atas 31 oC dan 32 oC. Jarang menyipon atau membersihkan tambak udang juga menjadi penyebab serangan myo.” Sisa pakan yang mengendap dan terakumulasi di dasar perairan akan berubah menjadi amoniak. Jika tidak dibersihkan akan menjadi racun bagi udang tersebut.

Jarak antar tambak yang saling berdekatan serta desain dan tata letak antar-tambak yang tidak teratur menyebabkan IMNV mudah menyebar. “Akibat virus, penyebaran penyakit myo cepat dan luas, mulai dari kontak langsung, dibawa carrier seperti burung dan kepiting, serta air media,” ungkap Deni.

Ketidaksesuaian penempatan inlet dan outlet dari pertambakan menyebabkan air buangan, yang banyak mengandung limbah dan kemungkinan mengandung bibit penyakit, dari salah satu tambak menjadi air masukan pada inlet tambak lain. Air buangan yang digunakan untuk kegiatan budidaya memiliki kualitas yang buruk sehingga menyebabkan udang yang dibudidayakan stres dan rentan terserang penyakit.

Seperti yang pernah disampaikan Agus Setyawan, S.Pi.,M.P, Dosen Universitas Lampung, “Sebagian besar sifat infeksi virus hanya mengenali inangnya secara spesifik. Jika sel inangnya bukan sel yang dikenali maka tidak akan menginfeksi. Biasanya inang yang diinfeksi oleh virus tertentu memiliki karakter atau masih dekat tingkat kekerabatannya.” Oleh sebab itu, serangannya terbatas hanya udang vaname saja, tidak ke udang galah, udang windu, atau pun ikan karena kekerabatannya jauh berbeda.

Dampak myo terhadap hasil panen

Keberadaan virus myo jelas menjadi ancaman bagi budidaya udang di Indonesia, bahkan dunia. “Di awal, IMNV terdeteksi sekitar tahun 2006—2012. Penyakit ini merupakan penyebab kegagalan panen yang paling utama pada budidaya udang vaname. Meskipun bisa ditangani, petambak jangan mengharapkan keuntungan. Cukup mengurangi kerugian,” ungkap Deni.

IMNV membunuh hingga 70% populasi udang vaname di Indonesia. Akibatnya, produksi udang secara nasional anjlok dan menyengsarakan 65 ribu petambak. Diperkirakan jumlah kerugian selama 2006—2010 mencapai US$ 150—500 juta.

Patogenisitas virus myo cukup ganas, yaitu mampu menyebabkan angka mortalitas mencapai 40% hingga 70%. “Kasus penyakit ini ditemui di Kabupaten Pangandaran tahun 2010—2012. Kemudian berkembang dengan pesat tahun 2013 akhir. Banyak petambak di Pangandaran yang gulung tikar akibat terserang virus ini, walau pun sampai saat ini ada beberapa petambak yang masih bertahan,” tutur Deni.

Sekitar 80% kawasan tambak udang di Indonesia terkategori menggunakan budidaya ekstensif dengan padat tebar 1—10 ekor/m2. Drh. Abadi Soetisna, M.Si., Anggota Komisi Kesehatan Lingkungan DKP Pusat, mengungkapkan, “Mudahnya penyebaran virus myo pada udang vaname dengan pola tambak ekstensif, salah satu faktornya karena tidak mempunyai tandon yang dilengkapi dengan arang, ijuk, dan kapur yang berfungsi sebagai filter air.”

Deni menambahkan, “Sampai saat ini penyakit Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) merupakan penyakit yang paling ditakuti dan menjadi penyebab kegagalan pada tambak serta menempati urutan kedua setelah White Spot Syndrome Virus (WSSV).”

Sementara 20% kawasan tambak udang sisanya terkategori menggunakan budidaya intensif. “Meskipun intensif, jika padat tebar dan pemberian pakannya berlebih, serta adanya bangkai udang yang tidak dibuang juga mengundang hadirnya virus myo,” ungkap Radi.

Pencegahan dan pengobatan IMNV

Dengan penanganan yang benar, wabah IMNV bisa dicegah. Pemilihan induk dan bibit yang terbebas dari penyakit jelas meminimalkan risiko serangan. Pengurangan kepadatan tebar memberi lebih banyak tempat atau ruang mengurangi faktor terjadinya stres pada udang. Bangkai udang yang telah terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi diambil dan dibakar.

Selain itu, penggunaan probiotik dan kapur dilakukan secara rutin pada pagi hari. Jumlah pakan diturunkan hingga 30—40% keadaan normal hingga tingkat kematian berkurang dan tidak ada kematian lagi. Multivitamin atau vitamin C diberikan secara terus-menerus hingga kondisi udang kembali normal.

Penggantian air cukup dengan membuang air pada siang hari dan diisi kembali pada malam hari.  Kualitas air perlu diperhatikan dan diperbaiki, hindari pergantian air secara drastis, dan berikan partial droping plankton.

Saat ini, belum diperoleh cara dan obat untuk mengendalikan virus ini. Beberapa bahan alami yang diketahui memiliki efek antiviral pada manusia maupun hewan terestrial, misalnya bawang putih, daun jambu biji, dan meniran. Di samping itu, obat herbal tersebut mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sistem imun pada ikan. Namun menurut Deni, “Ketika udang sudah terkena myo, tindakan yang paling aman adalah panen. Itu pun jika dari ukurannya sudah bisa di jual.”

Senada dengan hal tersebut, Agus menyebutkan bahwa,”Semua penyakit yang disebabkan virus pada dasarnya belum ada obatnya karena sifat infeksi virus biasanya intraseluler sehingga tidak terjangkau oleh obat-obatan. Hal yang perlu diperhatikan adalah dengan menjaga kualitas air tambak agar tetap layak untuk budidaya udang, meningkatkan imunitas udang, dan penerapan biosekuriti yang baik untuk mencegah masuknya patogen dalam area tambak.”

Deni mengatakan bahwa yang perlu dingat dalam penanganan sebuah penyakit yaitu jangan mencari obat dulu, tetapi perbaiki kualitas air terlebih dulu. Setelah stabil, dilanjutkan penanganan pada udang. Dengan penanganan yang benar, berdasarkan pengalamannya, kolam yang telah terjangkit myo di usia 40 hari bisa di-recovery kembali. Panen dilakukan pada usia 65—70 hari dengan rata-rata SR 60%.”

Deni menyebutkan, beberapa cara menangani penyakit myo yang pernah ia dilakukan di antaranya: (1) penggantian air 10—20%, merupakan cara paling cepat dan efektif, tetapi risiko paling besar; (2) penyiponan pada titik mati secara rutin, efektif jika cara dan waktu penyiponan tepat; (3) penggunaan probiotik; serta (4) penggunaan multivitamin, efektif jika kualitas air lingkungan sudah stabil.

(Resti Setiawati)

Ramuan Herbal untuk Ikan Lele

Banyak cara dilakukan pembudidaya lele untuk menangkal serangan penyakit pada kolam budidayanya. Di samping menggunakan obat-obatan kimia, tak sedikit yang menggunakan ramuan herbal sebagai obat. Apa saja jenis dan khasiatnya?

Foto 2Beberapa jenis herbal sudah banyak dikenal dan diketahui khasiatnya oleh para pembudidaya. Salah satu di antaranya adalah bawang putih. Di samping sebagai bumbu dapur, tanaman umbi-umbian ini ternyata memiliki beragam khasiat dalam budidaya ikan. Meskipun demikian, tak sedikit juga yang mencampur berbagai jenis herbal untuk lebih memperkuat daya sembuhnya. Nah, ramuan inilah yang kemudian digunakan sebagai campuran pakan atau dicampurkan langsung ke dalam air kolam.

Untuk mengenal beragam ramuan herbal dan manfaatnya, redaksi infoakuakultur kali ini berhasil mewawancarai salah seorang praktisi budidaya lele dari Tanah Pasundan, tepatnya dari Kabupaten Garut. Namanya Taopik Ridwan, seorang praktisi budidaya lele yang gemar berbagi, terutama tentang ilmu perikanan. Karena kegemarannya berbagi, saat ini ia mengelola grup facebook “Komunitas Lele Sangkuriang”, yang jumlah anggotanya mencapai 15.000 orang. Dalam grup inilah ia berbagi ilmu mengenai beragam metode dalam budidaya ikan, terutama ikan lele. Berikut beberapa ramuan herbal berdasarkan pengalaman Taopik dalam berbudidaya.

Ramuan herbal atasi masalah jamur

Jamur bisa menginfeksi ikan lele pada tahap pembenihan. Gejala infeksinya bisa ditengarai dari adanya bintik-bintik putih pada sekujur tubuh ikan lele, mulai dari kepala hingga ke bagian ekor. Jika infeksi jamur ini dibiarkan, bagian kulit yang terinfeksi akan melepuh. Tak hanya itu, lele yang terinfeksi bisa mengalami kematian.

 

 

Bila lele sudah terserang penyakit jamur, penanggulangannya bisa dilakukan dengan membuat ramuan herbal berikut.

  • Bawang putih 2 siung.
  • Daun sirih 10 lembar.
  • Kunir 1/4 kg.
  • Daun pepaya 10 lembar. Daun pepaya bisa diganti dengan daun jambu biji atau daun kipahit.

Langkah pembuatan herbal dilakukan dengan menghaluskan semua bahan tersebut. Bisa dicincang atau dimasukkan ke dalam blender. Selanjutnya, bahan-bahan yang sudah halus direbus dalam 2 liter air bersih dan biarkan mendingin hingga suhu kamar.

 

Ramuan tersebut bisa diaplikasikan langsung ke dalam air kolam dengan dosis 1 gelas setiap hari hingga ikan sembuh.

Herbal untuk kesehatan air kolam

Kunci kesehatan ikan adalah kualitas lingkungan, terutama air yang sehat. Oleh karena itu, salah satu cara untuk menjaga kesehatan ikan adalah dengan menjaga kesehatan lingkungan air kolam.

Menurut pengalaman Taopik, ramuan herbal bisa juga digunakan untuk menjaga kualitas air kolam. Langkah pembuatannya dimulai dengan mempersiapkan bahan herbal sebagai berikut.

  • Air bersih 5 liter.
  • Daun pepaya jantan 10 lembar.
  • Daun sirih 10 lembar.
  • Daun ketapang 10 lembar.
  • Daun jawer kotok 10 lembar.
  • Arang kayu 1 kilogram.
  • Kotoran kambing 1 kilogram. Sebaiknya gunakan kotoran kambing basah, yang bercampur dengan air seninya, bukan kotoran yang berbentuk bulat.

Masukkan semua bahan ke dalam satu wadah, misalnya ember atau galon berisi sedikit air bersih. Biarkan campuran tersebut selama dua pekan. Setelah itu, ramuan herbal ini bisa digunakan untuk air kolam.

 

Sebelum disiramkan ke dalam air kolam, sekitar 80 ml cairan ramuan herbal diencerkan dengan air bersih sebanyak 5 liter air, lalu tambahkan 2 sendok makan garam dapur. Siramkan ramuan herbal tersebut ke dalam air kolam.

Dosis ramuan herbal tersebut untuk kolam ikan berukuran 10 m2. Untuk kolam ikan yang berukuran lebih besar, dosis perlu ditambah sesuai dengan perbandingan yang sudah disebutkan di atas. Waktu penyiraman ramuan herbal ini bersamaan dengan proses pengomposan kolam. (Noerhidajat)

Tangkal 7 Penyakit Bakterial pada Budidaya Lele

Dikenal sebagai komoditas ikan budidaya yang tangguh, lele juga bisa tumbang akibat serangan penyakit. Salah satunya akibat serangan bakteri. Apa saja bentuk serangannya?   

AK 9 Kesling 1 1 (istimewa)

Nursaid nelangsa. Seribuan benih lele yang baru dimasukkan beberapa minggu lalu tampak mengambang di atas permukaan kolam. Di awali dengan matinya puluhan benih di satu hari, berlanjut setiap harinya berikutnya. Padahal ia sudah berusaha mengikuti petunjuk yang didapatkannya dalam sebuah pelatihan budidaya lele. Sebagai pemula, dia tak mau coba-coba dan mengikuti apa yang pernah diajarkan dalam mengelola kualitas air hingga titik dan komanya.

Hal serupa juga dialami Nugroho. Pemuda dari Purworejo ini bahkan pernah mengikuti magang di salah satu kolam budidaya. Namun, ia pun tak kuasa menahan keheranannya tatkala ribuan ekor benih ikan lelenya mati. Padahal SOP telah dijalankan.

Isa Anshari, pengelola Lele Mangkutana, menuliskan dalam websitenya bahwa merawat ikan lele tidak hanya berbicara soal kualitas air. Selain kualitas air, pembudidaya ikan lele perlu memperhatikan kualitas pakan dan serangan penyakit.

Salah satu penyebab munculnya penyakit pada ikan lele adalah serangan bakteri. Serangan bakteri ini menjadi begitu mematikan tatkala kondisi air kolam tidak bagus dan daya tahan tubuh ikan lele menurun akibat kekurangan nutrisi. Begitu pula dengan kondisi iklim atau cuaca di daerah setempat yang turut andil mempengaruhi tingkat stres pada ikan. Belum lagi jika benih yang didatangkan sudah membawa benih penyakit bakterial.

Berikut 7 penyakit bakterial yang biasa dan berpotensi besar menyerang pada budidaya ikan lele.

Pseudomonas

AK 9 Kesling 1 2

Pseudomonas merupakan bakteri saprofit yang dapat hidup di air tawar, air payau, dan air laut. Kekurangan oksigen, perubahan temperatur yang drastis, dan pakan yang buruk ditengarai sebagai pencetusnya. Bakteri ini menyerang lele semua ukuran, yang ditandai dengan munculnya borok pada kulit, serta pendarahan pada kulit, hati, ginjal, dan limpa. Lele yang terserang akan terlihat lemah, kurus, dan kurang nafsu makan. Bakteri Pseudomonas fluorescens biasa menyerang bagian sirip dan ekor hingga terjadi korosi.

Aeromonas hydrophylla

AK 9 Kesling 1 3

Bakteri ini juga dikenal sebagai penyebab penyakit MAS (motile aeromonad septicaemia). Tanda-tanda utama serangannya terlihat dari adanya luka berupa borok atau ulser berbentuk bulat atau tidak teratur berwarna merah keabu-abuan di permukaan tubuh. Selain itu, terjadi pendarahan lokal di organ seperti sirip dan insang. Perut terlihat busung dan muncul exophtalmia (pop eye) atau mata menonjol. Ikan yang terserang terlihat lemas dan berenang di permukaan kolam atau dasar kolam.

Aeromonas punctata

AK 9 Kesling 1 4

Bakteri ini menyerang benih ukuran 1—12 cm. Serangannya ditandai dengan adanya infeksi pada kulit kepala, badan
belakang, insang, dan sirip.  Gejala lain terlihat dari hilangnya nafsu makan.

 

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 9/Oktober 2015

Mengenal Obat Ikan (Drh. Abadi Soetisna MSi)

udang-vannameiDalam beberapa tahun terakhir ini perikanan budidaya di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ini disebabkan karena konsumsi ikan makin meningkat akibat pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu aspek penting dalam budidaya ikan adalah obat-obatan ikan yang juga mengalami banyak perkembangan dari berbagai aspek. Obat ikan kini bukan lagi hanya berperan dalam mengobati penyakit ikan, melainkan juga untuk mencegah penyakit, meningkatkan pertumbuhan dan berbagai fungsi lainnya.

Jenis obat hewan

Pada umumnya pemahaman masyarakat menganai fungsi obat adalah untuk menyembuhkan penyakit, padahal fungsi obat sekarang ini sudah semakin luas. Setidaknya ada 6 fungsi obat ikan , yaitu:

  1. Untuk pengobatan/penyembuhan penyakit, misalnya antibiotik
  2. Untuk pencegahan penyakit , misalnya vaksin
  3. Untuk peningkatan produksi/reproduksi , misalnya Growth Promotor
  4. Untuk alat diagnostik, misalnya antigen
  5. Untuk mengurangi rasa sakit/stress dalam perlakuan ikan/transportasi
  6. Untuk kosmetik , misalnya agar warnanya lebih cerah

Sementara itu dari jenis sediaannya, obat ikan, dapat dikasifikasikan menjadi tiga kategori utama yaitu Farmasetika ( antara lain jenis antibiotika ), Biologik (antara lain vaksin, serum, antiserum) dan premiks.

Pengertian premiks dalam perundang-undangan, terdiri dari feed additive (imbuhan pakan) dan feed suplement (pelengkap pakan). Banyak orang mencampuradukkan pengertian feed additive dan feed suplement. Bahkan di kalangan industri, semua yang dicampur di pakan disebut sebagai feed additive. Untuk memudahkan pengertian, penjelasannya begini. Feed additive atau imbuhan pakan, adalah zat yang dicampurkan di pakan yang merupakan zat yang baru sama sekali. Misalkan pakan ditambah dengan antibiotika yang bisa mempercepat pertumbuhan. Kalau sekarang kita banyak mendengar pembahasan tentang antibiotic growth promoter (AGP), itu adalah antibiotika yang dicampur dalam pakan. Karena di dalam pakan, aslinya tidak ada AGP, maka AGP termasuk kategori feed additive.

Namun jika kita menambahkan zat yang sudah ada di pakan, maka zat itu termasuk feed suppplement (pelengkap pakan). Vitamin sering disebut sebagai Feed Additive, padahal yang tepat adalah feed supplement.

Nah, selain farmasetik, biologik dan premik, ada kategori baru yaitu obat alami dan obat herbal. Obat alami adalah obat-obatan yang dibuat dari bahan alami, baik dari hewan, tanaman maupun dari tanah. Sedangkan obat herbal adalah obat-obatan yang berasal dari zat aktif tanaman.

Kapan Obat Ikan Diberikan?

Bagi dokter hewan, pemberian obat untuk ikan harus melalui tahapan yang benar, yaitu sebagai berikut:

  1. Tegakkan diagnose. Dokter hewan harus dapat menegakkan diagnose, mencari penyebab penyakitnya
  1. Setelah diagnose, langkah selanjutnya adalah menjawab pertanyaan : betulkah diperlukan pemberian obat ?
  2. Jika jawabannya perlu, segera dipilih obatnya , bagaimana memberikannya, berapa lama, serta berapa dosisnya
  3. Perlu dikaji juga bagaimana efek terhadap pemberian obat tersebut.
  4. Tidak kalah pentingnya adalah soal nilai ekonomis, alias berapa harga obatnya. Inilah bedanya pemberian obat untuk manusia dengan obat untuk hewan dan ikan.     Misalnya : ikan sakit karena infeksi kuman maka obat tertentu. Jika harga obatnya lebih mahal dari harga ikan, maka pemberian itu tidak akan dilakukan, perlu dicari alternative solusinya.

Cara Pemberian Obat

Ada beberapa cara pemberian obat ikan yang perlu kita ketahui, yaitu:

  1. Pemberian secara oral (melalui mulut). Dalam hal ini pemberian bisa langsung dicekok, bisa juga dicampur ke dalam pakan
  2. Parenteral (melalui suntikan). Ada beberapa cara pemberian melalui suntikan, yaitu suntikan intra muscular, intra vena serta intra peritoneal
  3. Dipping dan flushing. Pemberian obat ikan juga bisa dilakukan dengan cara dipping (direndam di air) dan Flushing (dicelupkan).

Perlu diperhatikan bahwa meskipun sama-sama diperlakukan pemberian obat dengan cara direndam, tapi gurame dengan ikan mas bida memberikan response yang berbeda. Hal ini kaitannya dengan perbedaan struktur sisik ikan.

Demikian sekilas informasi mengenai obat ikan. Semoga bermanfaat. ***

Drh. Abadi Soetisna, MSi. Pakar Farmakologi Veteriner, IPB, Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI)