Windu, Masih Jadi Primadona

Meskipun udang asli Indonesia ini telah kehilangan dominasinya di ranah budidaya dalam negeri, bukan berarti ia kehilangan penggemar. Tak sedikit yang tetap setia menggelutinya dan berharap windu kembali menjadi primadona.

Wajar jika vaname menjadi primadona pasar ekspor, terlebih ke pasar Amerika Serikat. Pasalnya, udang vaname memang spesies asli di pantai Pasifik timur di Amerika bagian tengah dan Selatan. Demikian ungkap Dr. Romi Novriadi, S.Pd.Kim, M.Sc, Peneliti Senior di DJPB, KKP. Kondisi ini juga didukung oleh banyaknya warga Amerika bagian Tengah dan Selatan yang datang dan berbaur menjadi penduduk di Amerika Serikat.

“Selama saya kuliah di sana, khususnya di beberapa negara bagian yang berada di selatan seperti Alabama, Mississippi, Florida, dan Georgia, fast food yang khusus menjual udang vaname seperti shrimp basket cukup menjamur dan menjadi destinasi favorit bagi warga setempat untuk ber-kuliner ria bersama keluarga,” jelas Romi.

Pria yang juga menjabat sebagai Director World Aquaculture Society-Asian Pacific Chapter ini juga mengungkapkan bahwa kedua jenis udang—windu dan vaname—bisa dijadikan andalan untuk mendatangkan devisa. Dengan begitu, budidaya udang bisa menjadi sektor andalan untuk membuka lapangan kerja dan menyejahterakan kehidupan masyarakat.

Saat ini, jika dilihat dari volume ekspor dan permintaan, tentu udang vaname lebih diminati. Namun, dengan stabilnya harga udang windu di pasaran, komoditas ini—dengan bantuan riset, teknologi, dan promosi dari berbagai pihak—dapat dijadikan alternatif potensial untuk peningkatan produksi udang nasional

Tidak bisa dipungkiri, teknologi hulu ke hilir—mulai dari pemuliaan induk, produksi benih, teknologi pakan, manajemen pemeliharaan dan pasar—sangat berpihak ke vaname. Terkait udang windu, meskipun teknologi pemuliaan dan produksi benihnya juga sudah dikuasai, sektor pasar internasional masih menjadi tantangan tersendiri.

“Selama berada di Malaysia, saya melihat udang windu menjadi alternatif utama untuk recovery tambak vaname yang terkena imbas mewabahnya AHPND (acute hepatopancreatic necrosis disease) di beberapa lokasi seperti Johor Bahru, Ipoh, Kedah, dan Selangor. Dengan produksi yang konsisten di dua tahun terakhir, para petambak bisa mendorong konsumen untuk mulai menikmati udang windu. Saat ini, permintaan untuk komoditas udang windu di Malaysia semakin meningkat dan kondisi ini bisa menjadi celah ekspor untuk produsen udang windu di Indonesia karena produksi di Malaysia tidak mampu mencukupi akibat jumlah benih yang terbatas,” ungkap Romi.

“Jika semua parameter keberhasilannya sama antara vaname dan windu, sebenarnya dari rasa orang akan lebih memilih windu karena rasanya lebih “lezat” dibandingkan vaname,” tutur Fauzan Bahri, Sales Manager Skretting Indonesia.

Masih menurut Fauzan, sebagian besar induk vaname masih mengandalkan impor, sedangkan windu kemungkinan masih bisa di-supply dari kertersediaan di alam. Dari sisi peluang mandiri, yang paling berpeluang adalah windu karena sumber induk masih banyak di area laut Indonesia. Namun, dibutuhkan proses genetic improvement untuk mendapatkan calon induk windu yang berkualitas.

Untuk fasilitas budidaya seperti pakan, peralatan, dan obat-obatan, Indonesia sudah mencukupi. Untuk windu, faktor Induk berkualitas masih menjadi ‘PR’. Sementara tantangan pada budidaya vaname saat ini adalah serangan penyakit seperti IMNV, WFD, APHND, dan penyakit lainnya sehingga diperlukan sistem yang tepat untuk menghadapi serangan penyakit tersebut.

“Selain itu adalah masalah tekanan harga secara global sehingga ‘PR’ sekararang adalah bagaimana memproduksi udang dengan efektif dan effisien sehingga bisa menekan atau mengurangi biaya produksi udang,” ungkap Fauzan.

Tetap Bertahan

Meskipun sempat terpuruk, tak dipungkiri bahwa komoditas windu pernah mengantarkan industri udang Indonesia berjaya di era tahun 1980—1990-an dan membawa kemakmuran bagi para pembudidayanya. Banyak tambak beralih membudidayakan udang vaname, jenis introduksi dari Amerika. Namun, tak sedikit pula yang tetap ‘setia’ menggeluti usaha budidaya udang asli Indonesia ini.

Salah satu pembudidaya udang windu ini adalah Abdul Waris Mawardi, petambak dari Desa Waetuoe, Kecamatan Larinsang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Dengan motivasi meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga, Waris mulai terjun dan menekuni usaha tambak udang sejak 20 tahun lalu. Sejak awal, ia membudidayakan udang windu dan bandeng. Bicara soal loyalitas pada udang windu sebagai komoditas utama tambak, Waris mengatakan akan tetap loyal pada komoditas windu dan bandeng. Pasalnya?

“Udang windu dan bandeng masih sangat dicari di pasaran. Selain itu, udang windu dan bandeng sesuai dan sangat cocok dibudidayakan di lahan tambak daerah kami,” ungkap Waris.

Dari 5 hektar tambak yang dimiliki, Waris bisa memanen 500 kg udang windu/hektar per tahun. Hasil panennya langsung diambil PT Atina, eksportir udang ke Jepang. Adapun harga yang berlaku Rp125 ribu/kg untuk size 25, Rp80 ribu/kg size 40, Rp50 ribu/kg size 60, dan Rp50 ribu/kg untuk size 70—100.

Pendapat senada juga diungkap oleh Syarifuddin.Ketua Pokdakan Pottotau, Kelurahan Larinsang, Kecamatan Larinsang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini mengaku mulai terjun ke dunia tambak udang sejak tahun 1990. “Ketika itu harga udang cukup mahal dan tidak banyak masalah seperti saat ini. Selain itu, harga sarana produksinya terjangkau dan selalu tersedia,” kenangnya.

Di awal usaha, Syarifudin membudidayakan udang windu dengan pola polikultur bercampur bandeng secara tradisional. Namun, tren budidaya udang vaname membuatnya tertarik untuk mencoba udang asal Amerika Serikat itu pada tahun 2015. Alasannya tak jauh berbeda dengan petambak udang vaname lainnya, tahan penyakit dan harga jual mahal.

Setahun membudidayakan vaname tak lantas membuat Syarifudin jatuh hati. Menurutnya, vaname justru lebih mudah terserang penyakit. Sejak 2016, ia pun kembali beralih membudidayakan udang windu dan fokus pada komoditas tersebut sampai sekarang.

“Meskipun menggunakan teknologi tradisional secara turun-temurun, masih bisa dapat untung dengan menggunakan pakan alami phronima suppa. Perkembangan harganya pun terus membaik, mulai dari size 100 hingga size besar. Itulah alasan kami bertahan pada udang windu. Masalahnya, saat ini benurnya terkadang langka karena banyak permintaan, terutama pada bulan September sampai Januari,” ujar Syarifudin.

Kebangkitan Nasional Udang Windu

“Secara nasional, keberadaan udang windu harus dipertahankan. Selain memiliki nilai ekonomis, udang windu juga memiliki nilai ekologis penting karena merupakan udang endemik dan pembentuk keragaman plasma nutfah Indonesia,” tulis Dr. Tarunamulia, ST., M.Sc., Peneliti Madya BRPBAP3 Maros kepada Info Akuakultur. Menyitir pernyataan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Dr. Ir. Slamet Soebjakto. M.Si, Taruna mengungkapkan bahwa induk dan benih yang bebas penyakit menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan budidaya udang windu.

Sementara itu, Dr. Ir. Andi Parenrengi, M.Sc., Ketua Kelompok Peneliti Bioteknologi Akuakultur, BRPBAP3 Maros, mengakui bahwa strain udang windu unggulan hasil domestikasi “belum” ada. Namun, induk udang windu yang memiliki keunggulan dari karakter genetiknya dapat diperoleh dari perairan alam Indonesia.

Hasil penelitian Prof. Dr. Haryanti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol, Bali, menunjukkan bahwa induk udang windu asal perairan Aceh memiliki karakater genetik yang lebih unggul atau terbaik dibandingkan dengan beberapa lokasi induk udang windu lainnya. Lokasi lain tersebut secara berturut-turut adalah Timika, Pangandaran, Sulawesi Selatan, Sumbawa, Bali, Madura, Tarakan, dan Cilacap.

Sementara itu, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP3) Maros sedang melakukan serangkaian kegiatan litbang terkait dengan domestikasi dan perakitan strain unggul udang windu melalui teknologi transgenesis dan marker DNA, dengan fokus pada perbaikan karakter ketahanan penyakit dan pertumbuhan. Hasil sementara riset perakitan strain udang windu kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan adanya peningkatan ketahanan penyakit terhadap virus bintik putih (WSSV) sebesar 24,5% dan Vibrio harveyi sebesar 67%. Sementara hasil riset kerjasama dengan (BBPPBL) Gondol menunjukkan bahwa aplikasi marker DNA tumbuh cepat memperlihatkan peningkatan pertumbuhan sebesar 35,2% dibandingkan dengan kontrol.

“Meskipun demikian, kegiatan domestikasi dan perakitan strain udang windu unggul masih dihadapkan pada kendala dalam pematangan induk. Oleh karena itu, sebagai langkah awal penggunaan udang windu berstatus SPF (specific pathogen free)—baik benur maupun induk—merupakan rekomendasi yang harus dilakukan dalam mencegah tersebar luasnya wabah penyakit pada sentra-sentra produksi udang windu di Indonesia,” aku Andi Pangrengi.

Terbentuknya pasar ekspor udang windu dapat mengakibatkan peningkatan kebutuhan benur untuk kepentingan budidaya. Untuk mengantisipasi ketersedian benur yang memadai—baik jumlah maupun kualitas, terdapat beberapa langkah yang bisa diambil (lihat boks).

Untuk mengembalikan kejayaan udang windu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti WWF (World Wildlife Fund) terus mendorong penerapan prinsip-prinsip pengelolaan akuakultur  berkelanjutan (sustainable aquaculture). Aplikasinya antara lain melalui cara budidaya ikan yang baik (CBIB) dan akuakultur  berbasis ekosistem (Ecosystem Approach to Aquaculture—EAA). Secara lokal, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memprakarsai “Gerakan Kebangkitan Udang” sejak tahun 2008. (Rch/Resti/Adit)

Genjot Produksi Udang, Pilih Windu atau Vaname?

AK 53 Juni 19 – Rubrik Laput 1 REV

Genjot Produksi Udang, Pilih Windu atau Vaname?

Udang masih menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia di tahun 2018. Dari sisi nilai, udang menyumbang devisa sebesar USD 1,3 Milyar atau 36,96% dari total nilai ekspor. Padahal, dilihat dari volumenya, udang hanya menyumbang 18,35% dari keseluruhan volume komoditas ekspor Indonesia.

Menurut data Direktorat Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan tahun 2018; USA, Jepang, Belanda, dan China merupakan pasar utama produk udang Indonesia. Keempat negara tersebut menyerap lebih dari 85,62% produk udang Indonesia. Sementara dari sisi nilai, ekspor udang keempat negara tersebut mencapai 89,34% atau sebesar USD 1,16 Milyar dari keseluruhan udang yang diekspor Indonesia. Demikian papar Ir. Coco Kokarkin Soetrisno, M.Sc, Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, saat dihubungi Info Akuakultur.

Berbagai jenis udang—baik udang windu maupun vaname—pada umumnya digemari masyarakat tujuan ekspor. Dengan alasan, udang merupakan salah satu makanan laut yang lebih murah dibandingkan tuna, salmon, atau cumi-cumi. Selain harganya terjangkau dan kandungan gizinya relatif tinggi, pasokan dan ketersediaan udang di pasar tergolong aman.

Ekspor udang masih menjadi primadona ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Adapun Amerika Serikat (AS) masih menjadi pasar tujuan ekspor udang terbesar Indonesia. Di Negeri Paman Sam tersebut, ekspor udang dari Indonesia merupakan yang terbesar kedua setelah India. Sementara di Eropa, Indonesia berada di urutan ke-16 pengekspor udang ke benua biru tersebut sehingga peluangnya masih sangat besar.

Perkembangan produksi udang nasional tahun 2015—2018 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 35,22%. Sejak tahun 2017, produksi udang secara total telah mencapai target dan pada tahun 2018 capaian target produksi udang sebesar 153,63%. Jika melihat fakta di lapangan, geliat pembudidaya untuk memelihara udang semakin meningkat. Dari Laporan Kinerja DJPB Triwulan III Tahun 2018 terlihat bahwa hal tersebut dipicu oleh membaiknya harga udang dan meningkatnya produktivitas udang di tingkat pembudidaya.

Produksi udang nasional pada tahun 2013 hingga 2017 dapat dilihat pada grafik berikut.

Sumber: Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (2019)

Sedangkan ekspor udang Indonesia tahun 2018 hingga April 2019 dapat dilihat pada Tabel Data Ekspor udang Indonesia 2018—2019 berikut.

Tabel Data Ekspor Udang Indonesia 2018 – 2019* (angka sementara hingga April)

Tahun Volume (kg) Nilai (USD)
2018 197.433.608 1.742.119.193
2019         62.636.116 514.323.203

Sumber: Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (2019)

Sementara itu, potensi wilayah perikanan budidaya mencapai 12,9 juta hektar dan baru termanfaatkan sebesar 7%. Untuk budidaya tambak, pemanfaatan baru 650.509 hektar, sedangkan potensinya sebesar 2.964.331 hektar (Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2019).

Pilih Windu atau Vaname?

Hingga pertengahan tahun 90-an, jenis udang yang paling diminati petambak di Indonesia adalah udang windu. Namun, seiring dengan menurunnya kualitas lingkungan dan merebaknya berbagai penyakit, budidaya udang vaname pun mendominasi budidaya udang di Indonesia.

Kegiatan budidaya udang terutama udang windu di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1991 – 1994. Penurunan kualitas lingkungan, kesalahan dalam penerapan teknologi, dan merebaknya berbagai macam penyakit menyebabkan gagal panen dan semakin menurunkan produksinya.

Setelah itu, budidaya udang vaname mulai berkembang di masyarakat. Hal fundamental yang melatarbelakangi popularnya budidaya vaname di kalangan petambak dapat dilihat secara teknis maupun ekonomi. Secara teknis, keunggulan udang vaname yaitu tahan penyakit, waktu budidaya lebih cepat, SR tinggi dan produktivitas tinggi, budidayanya lebih mudah, dan intensifikasi budidayanya relatif mudah untuk dilaksanakan. Dari sisi ekonomi, peluang pasar ekspornya tinggi, mampu meningkatkan pendapatan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja karena produktivitasnya tinggi, dan potensi lahannya tersedia.

“Selain lebih kuat terhadap berbagai penyakit, alasan lain udang vaname lebih diminati oleh pembudidaya karena kepadatan tebar lebih tinggi, baik dengan teknologi ekstensif, semi-intensif, maupun intensif,” tutur Coco.

Hal ini terlihat pada Tabel Tingkat Teknologi Budidaya Udang.

Tabel Tingkat Teknologi Budidaya Udang

Teknologi budidaya udang Kepadatan (ekor/m2)
Udang windu Udang vaname
Tradisional Monokultur PolikulturTradisional plus 2 – 5 >2 2 – 3 5 < 8
Semi intensif 6 – 15 15 – 25
Intensif >15 > 50

Sumber: Pusat Riset Perikanan BRSDMKP (2018)

Saat ini, budidaya udang vaname dengan teknologi intensif berkembang pesat karena didukung ketersediaan benih SPF (Spesific Pathogen Free) yang cukup, sehingga memiliki kelangsungan hidup (SR) tinggi. Dengan kepadatan lebih tinggi, produktivitas budidaya udang vaname jelas lebih tinggi daripada udang windu. Produktivitas udang windu berkisar 600–3.000 kg/hektar per musim tanam, sedangkan udang vaname berkisar 6.000–10.000 kg/hektar per musim tanam.

Tak hanya menghasilkan produksi yang tinggi, udang vaname ternyata juga mampu membangkitkan kembali usaha pertambakan nasional yang tadinya sudah mulai lesu. Perkembangan udang vanamei sudah menyebar di sentra-sentra budidaya udang nasional seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan. Dengan begitu, sangat tepat bila udang vaname menjadi andalan bagi industri perudangan nasional.

“Dari segi produktivitas tambak dan keuntungan finansial, udang vaname masih lebih unggul,” tutur Supono, senada. Menurut data dari Ketua Program Studi Magister Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut Universitas Lampung tersebut, vaname memiliki produktivitas 15—20 ton/hektar, sedangkan udang windu 5—6 ton/hektar. Dari FCR, vaname lebih kecil, yaitu 1,4—1,6; sedangkan windu 1,8—2,0.  Adapun dari SR, vaname lebih tinggi , dibanding windu, yaitu 90%:70%. Sementara kepadatan vaname lebih tinggi, yaitu lebih dari 100 ekor/m2, dan windu maksimal 40 ekor/m2.

Beberapa praktisi budidaya udang juga mengamini pendapat Coco dan Supono. Agus Suryadi, misalnya. Aqua Technical Support Manager PT Kemin Indonesia ini beranggapan bahwa budidaya tetap lebih menguntungkan, meskipun dari sisi indukan, udang windu lebih mudah diperoleh karena spesies lokal Indonesia.

“Vaname tetap lebih menguntungkan karena bisa dibudidayakan dengan densitas  tinggi. Di habitatnya, vaname bisa mengisi kolom air yang lebih luas, sedangkan windu cenderung demersal. Jika dibandingkan, vaname tetap menjadi leader produksi dengan temuan-temuan teknologi baru dan upaya menjaga sustainability budidaya,” terangnya.

“Untuk saat ini, L. vannamei menjadi tren pasar. Kelebihan budidaya vaname yaitu laku di pasar walau size kecil, sedangkan udang windu harus size besar. Meskipun dalam risiko terkena masalah penyakit semuanya sama, tetapi vaname lebih punya nilai lebih dalam pasar dibanding windu pada size kecil,” ujar Nunung Nurhayat Daman, petambak dari Bengkayang, Pontianak, Kalimantan Barat. Pada 1992—2006, Nunung membudidayakan udang windu dan bandeng. Selanjutnya, pada 2006—2015, udang vaname mulai ia budidayakan selain tetap membudidayakan udang windu. Namun, pada 2015 sampai sekarang, Nunung beralih 100% ke udang vaname. 

Hari Juliyanto, Sekjen SCI Banyuwangi, mengungkapkan bahwa vaname masih menjadi komoditas yang menarik bagi pelaku budidaya. “Minat masih di udang vaname karena produktivitasnya yang tinggi dan pangsa pasarnya. Udang vaname size 150 masih laku di pabrik, sedangkan windu size 70 masih pasar lokal. Pabrik juga masih jarang yang menerima udang windu. Yang kami tahu, windu masih barang premium, meskipun secara umum harganya relatif sama dengan vaname. Untuk size besar, windu masuk pasar Eropa dan AS, sedangkan size sedang masih oriental,” paparnya.

Saling Melengkapi

Meskipun produksi udang vaname Indonesia saat ini lebih tinggi dibandingkan udang windu karena tuntutan pasar dan kondisi lingkungan, keduanya sama-sama memiliki nilai strategis, baik dari sudut pandang kedaulatan serta ketahanan pangan, ekonomi, pasar ekspor, maupun diversifikasi komoditas budidaya.

“Saat ini, indukan vaname dengan kualitas baik sebagian besar masih harus di-impor. Meskipun ada juga perusahaan nasional yang memproduksi induk yang baik, tetapi masih sangat sedikit produksinya dibanding impor. Untuk udang windu pengetahuan saya terbatas, tetapi setahu saya yang dibudidayakan di Indonesia memang dari induk lokal,” ujar Aryo Wiryawan, Chairman and Founder JALA, Start Up Monitor Tambak Udang.

“Oleh karena itu, pengembangan keduanya sama-sama terus kita dorong. Kita tidak bisa mengesampingkan salah satunya, meskipun saat ini—karena tuntutan pasar dan kondisi lingkungan—vaname lebih mendominasi, baik produksinya, ketersediaan benih—termasuk hatchery/HSRT, maupun penguasaan dan penerapan teknologinya,” terang Coco.

Dari sisi pengadaan benih dan teknologi budidaya, untuk jenis vaname dan windu telah dikuasai dengan baik. Pemerintah telah mempunyai broodstock center, untuk udang windu di BBPBAP Jepara dan untuk vaname di BPIU2K Karangasem Bali, yang mampu memproduksi benih udang dengan kualitas tinggi. Langkah ini meminimalkan ketergantungan Indonesia terhadap benih-benih dari negara lain. Selain itu, pemerintah—melalui UPT DJPB—selalu mendorong dan membina HSRT dan unit pembenihan swasta agar mereka mampu mandiri dan menghasilkan udang yang berkualitas.

Dari sisi pemasaran, daya saing harga udang sangat menentukan. Oleh karenanya, pihak KKP menggalakkan usaha budidaya udang dalam sistem kluster, di mana ada integrasi kegiatan sehingga memudahkan dalam penyediaan benih, pengawasan teknologi, pencegahan dan penanganan penyakit, serta pembinaan yang akan berujung pada efisiensi usaha dan daya saing udang kita di luar negeri. 

“Selain itu, dampak positif yang terjadi dengan pengembangan budidaya udang yaitu berkembangnya industri sarana penunjang seperti usaha pembenihan (hatchery), pabrik pakan, industri peralatan, dan usaha penanganan hasil perikanan,” ungkap Coco.

Saat ini, KKP juga sedang mengembangkan jenis udang lokal, yang bibitnya bisa ditemukan di perairan Indonesia. Jenis udang tersebut adalah udang putih, yang dikenal di pasar internasional dengan sebutan banana shrimp (Penaeus merguiensis). Pengembangan udang tersebut dilakukan langsung oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah selama dua tahun terakhir. Dibandingkan vaname, Marguiensis disebut lebih tahan dari serangan penyakit.

“Sebagai jenis baru yang sedang dikembangkan, Marguiensis adalah harapan baru untuk bisnis perudangan nasional. Namun, keberadaan Marguiensis ke depan tidak akan menggantikan vaname yang saat ini menjadi andalan Indonesia untuk ekspor ke pasar internasional,” tandas Coco. (Rch/Resti/Adit)

Tabel Produksi Udang Windu Nasional Tahun 2013 – 2017 (satuan Ton)

No. Provinsi 2013 2014 2015 2016 2017
1. Aceh  5.621  8.048  8.114  9.418  16.349
2. Sumatera Utara  9.627  8.326  5.635  11.423  4.015
3. Sumatera Barat  2  2  –  –  –
4. Riau  27  8  11  86  20
5. Kepulauan Riau  0  –  2  13  0
6. Jambi  –  35  27  12  8
7. Sumatera Selatan  5.641  5.010  4.796  400  14.974
8. Bangka Belitung  –  1  –  –  –
9. Bengkulu  278  781  2.325  34  –
10. Lampung  2.791  1.103  1.788  808  –
11. DKI Jakarta  201  129  108  208  226
12. Banten  404  382  405  237  710
13. Jawa Barat  27.860  42.168  36.901  35.614  146
14. Jawa Tengah  33.580  5.083  2.775  2.511  4.480
15. DI Yogyakarta  –  –  –  –  –
16 Jawa Timur 9.842  9.774  9.472  10.247  7.690
17. Bali  –  –  –  –  –
18. Nusa Tenggara Barat  4.299  972  958  190  –
19. Nusa Tenggara Timur  –  –  –  –  –
20. Kalimantan Barat  1.865  4.654  3.011  3.100  20.996
21. Kalimantan Tengah  52  46  103  124  –
22. Kalimantan Selatan  4.758  5.881  7.214  14.113  14.637
23. Kalimantan Timur  10.758  8.774  9.466  10.524  19.960
24. Kalimantan Utara  –  –  1.047  941  6.892
25. Sulawesi Utara  390  65  74  85  276
26. Gorontalo  143  24  11  2  –
27. Sulawesi Tengah  22.403  3.985  8.832  4.393  –
28. Sulawesi Barat  1.898  2.549  3.075  5.591  383
29. Sulawesi Selatan  15.319  16.036  14.850  14.777  12.212
30. Sulawesi Tenggara  13.275  7.961  6.610  6.676  4.062
31. Maluku  526  –  –  1  1
32. Maluku Utara  1  0  2  17  –
33. Papua  17  5  9  5  –
34. Papua Barat  4  9  4  6  –
  TOTAL 171.583 131.809 127.627 131.556 128.038

Sumber: Statistik Perikanan Budidaya, Ditjen Perikanan Budidaya

Tabel Produksi Udang Vaname Nasional Tahun 2013 – 2017 (satuan Ton)

No. Provinsi 2013 2014 2015 2016 2017
1. Aceh  1.244  1.391  4.470  11.679  17.266
2. Sumatera Utara  19.791  16.161  17.475  28.440  23.289
3. Sumatera Barat  3  2  3  16  –
4. Riau  32  49  40  35  316
5. Kepulauan Riau  32  2  1  –  42
6. Jambi  –  –  –  –  –
7. Sumatera Selatan  40.016  40.928  42.331  34.000  45.178
8. Bangka Belitung  710  747  1.056  1.637  1.098
9. Bengkulu  945  3.302  4.103  5.788  6.791
10. Lampung  72.051  62.872  42.883  55.153  45.980
11. DKI Jakarta  –  –  –  0  –
12. Banten  1.407  1.606  1.223  1.178  2.855
13. Jawa Barat  61.633  60.120  60.920  62.124 120.769
14. Jawa Tengah  13.872  30.610  19.924  21.799  20.900
15. DI Yogyakarta  812  2.446  3.364  2.787  2.987
16 Jawa Timur 47.150  54.373  65.582  78.704 146.076
17. Bali 2.932  3.423  3.243  5.318  5.277
18. Nusa Tenggara Barat  56.960  78.967  89.884 115.389  92.488
19. Nusa Tenggara Timur  13  7  31  14  –
20. Kalimantan Barat  39.092  32.073  1.544  1.500  –
21. Kalimantan Tengah  –  –  4  5  11
22. Kalimantan Selatan  –  –  –  –  –
23. Kalimantan Timur  –  –  –  –  –
24. Kalimantan Utara  –  –  –  –  –
25. Sulawesi Utara  272  84  64  66  3
26. Gorontalo  996  2.209  3.239  1.802  27.585
27. Sulawesi Tengah  91  500  1.237  11.286  19.923
28. Sulawesi Barat  1.138  3.025  9.707  13.980  17.145
29. Sulawesi Selatan  8.542  15.247  12.827  14.835  24.296
30. Sulawesi Tenggara  18.369  27.230  25.769  25.711 126.591
31. Maluku  2.065  4.915  10.142  4.897  10.924
32. Maluku Utara  111  90  23  32  –
33. Papua  –  –  –  –  –
34. Papua Barat  –  –  –  –  –
  TOTAL 390.278 442.380 421.089 498.174 757.793

Sumber: Statistik Perikanan Budidaya, Ditjen Perikanan Budidaya

Peran Startup di Sektor Akuakultur

Menahan masuknya kemajuan teknologi (Statup di sektor Akuakultur) )hanya akan membuat kemunduran dan gagap teknologi, untuk itu dibutuhkan peran startup yang bisa menjadi jembatan informasi ke pembudidaya di lapangan.

Arus kemajuan teknologi nyaris tidak terbendung yang kemudian menuntut kehidupan menjadi lebih praktis dan dinamis. Bahkan, teknologi dapat mempengaruhi hal terkecil dalam kehidupan manusia, yakni soal gaya hidup (life style). Lantas seperti apa kemajuan teknologi menyentuh sektor akuakultur atau budidaya perikanan Indonesia saat ini?

Di era digitalisasi saat ini, telah lahir banyak startup di kalangan anak-anak muda kreatif, termasuk di bidang teknologi digital akuakultur. Mereka mampu menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat pembudidaya.

Bahkan ketika membuka play store di smartphone dan mengetik keyword ‘budidaya ikan dan udang’ dan lain sebagainya, akan banyak bermunculan aplikasi android yang bisa menjadi pilihan dalam membantu budidaya ikan dan udang.

Startup sendiri, menurut Aryo Wiryawan, Founder and Chairman JALA, ialah perusahaan rintisan yang mengincar pertumbuhan eksponensial dengan memberikan solusi produk maupun jasa yang sebelumnya tidak bisa disediakan oleh perusahaan atau pihak lain secara konvensional.

Tidak jauh berbeda dengan Aryo, Andri Saputra dari Mina Indonesia mengatakan, startup selain sebagai perusahaan rintisan atau yang sedang mengembangkan berbagai bisnis model inovatif untuk memberikan solusi kepada konsumennya, startup juga bisa memberikan solusi menggunakan pendekatan teknologi informasi (TI) yang memang sedang berkembang pesat di Indonesia dan di seluruh dunia.

“Dengan adanya beragam startup dan berbagai solusi yang ditawarkan tentu akan membuat sektor perikanan budidaya akan berkembang sangat pesat,” tambah Andri.

Bagus Facsi Aginsa ex CEO FisHby mengatakan, pada dasarnya startup adalah suatu entitas yang terdiri dari beberapa orang yang ingin menyelesaikan suatu permasalahan yang ada dengan sebuah inovasi. “Startup yang menyelesaikan permasalahan yang ada di dunia akuakultur atau perikanan budidaya berarti dinamakan startup akuakultur atau perikanan budidaya,” pungkas Bagus.

Tren startup ini tentu akan bisa memperkuat konektivitas rantai bisnis akuakultur dan menjembatani secara efisien para pemangku kepentingan akuakultur dan beberapa startup yang mulai berkembang di sektor akuakultur seperti eFishery, Iwa-Ke, fisHby, fishlog, JALA, InFishta, Growpal, Mina Ceria, Venambak, Nalayan, Minapoli, dan Mina Indonesia.

Berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, lebih dari 130 juta penduduk Indonesia telah terkoneksi dengan internet. Penetrasi teknologi digital sudah mulai menjadi suatu kebiasaan atau pola hidup masyarakat mulai dari belanja online, transportasi online hingga pembayaran non tunai untuk berbagai transaksi.

Hal tersebut, menurut Rully Setya Purnama CEO Minapoli, akan menjadi peluang yang sangat potensial untuk menghadirkan inovasi-inovasi sampai ke pembudidaya. Tentunya peluang tersebut bukan tanpa syarat, kuncinya adalah inovasi harus menjadi solusi dari permasalahan yang ada di pembudidaya dan terlebih dapat memberikan benefit dari sisi finansial/ekonomi.

Selain itu, Rully menambahkan, munculnya startup di sektor akuakultur dapat membawa perubahan ataupun bisnis model baru yang akan memberikan dampak positif pada kemajuan perikanan budidaya baik dari sisi ekonomi, sosial maupun lingkungan (sustainability).

Hal tersebut sejalan dengan karakter startup itu sendiri, kata Aryo, yaitu inovatif dan lincah dalam mengembangkan solusi untuk permasalahan sektor akuakultur di Indonesia. Inovatif dalam arti mereka bisa menawarkan teknologi baru yang terjangkau oleh para pembudidaya.

Lincah, karena startup biasanya didirikan oleh tim kecil yang secara operasional sangat efisien sehingga mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan baik dari sisi teknologi maupun dari sisi bisnis.

Dengan demikian, startup dapat menjadi lokomotif dalam penerapan teknologi baru di dunia akuakultur untuk meningkatkan kualitas, efisiensi dan sustainability pada budidaya perikanan. “Startup juga dapat masuk ke berbagai aspek budidaya mulai dari pendanaan, teknologi baru sampai pemasaran,” tutur Aryo.

Peran dan Jenis Startup

Saat ini, Rully menjelaskan, beberapa inovasi yang dikembangkan para startup perikanan di Indonesia cukup beragam mulai dari akses permodalan, alat kualitas air dan alat pemberi pakan otomatis yang bisa dikontrol dan monitor secara jarak jauh.

Peranan startup dalam memajukan perikanan budidaya di era saat ini sangat penting, kata Andri, misalnya saja dulu banyak pembudidaya ikan atau udang yang kesulitan mencari permodalan usaha, namun berkat startup yang bergerak dibidang financial technology (fintech) masalah ini dapat diatas dengan baik, melalui permodalan dari investor yang dilakukan secara bergotong royong (crowd funding).

Contoh beberapa aplikasi android budidaya perikanan

Masyarakat urban/perkotaan yang mempunyai uang namun memiliki kesibukan dapat menginvestasikan uangnya kepada pembudidaya ikan atau udang, hasil keuntungan ini pun dibagi rata antara investor dan pembudidaya ikan dengan sistem sharing profit yang saling menguntungkan.

Peranan startup fintech inilah yang menghubungkan antara pembudidaya yang membutuhkan modal dan investor tersebut dan memberikan laporan kegiatan budidaya secara berkala dan transparan menggunakan teknologi. Startup Fintech yang memfasilitasi permodalan ini diantaranya Growpal, InFishta, Crowde, Mina Ceria dan lainnya.

Startup yang juga berperan penting dalam sektor perikanan budidaya adalah startup yang bergerak dibidang Internet Of Things (IoT). Startup IoT berperan dalam mempermudah pekerjaan budidaya dengan terintegrasi teknologi,

Beberapa contoh startup IoT seperti eFishery yang membantu pembudidaya ikan dan udang untuk memberikan pakan ikan secara otomatis yang selama ini masih dilakukan secara manual oleh pembudidaya.

Dengan adanya eFishery, pemberikan pakan ikan pun dapat dilakukan secara otomatis sesuai dengan waktu yang ditentukan dan jumlah pakan ikan atau udang yang diberikan dapat sesuai kebutuhan, sehingga pemberian pakan menjadi lebih efektif dan tidak ada pakan yang terbuang atau tidak dimakan oleh ikan atau udang dan membuat biaya pakan dapat ditekan seminimal mungkin.

Startup IoT yang juga tidak kalah menarik dan bermanfaat bagi pembudidaya adalah JALA, startup ini menciptakan sebuah alat yang dapat memantau kualitas air tambak secara otomatis dengan menggunakan sensor, sehingga mampu memantau kualitas air tambak secara otomatis yang membuat pembudidaya ikan atau udang dapat mengetahui suhu, pH, salinitas, DO (Dissolved Oxygen) dan kualitas air lainnya secara realtime.

Dari situ, pembudidaya dapat mengambil keputusan secara tepat seperti mengganti air, meningkatkan atau menurunkan pH, salinitas dan hal lainnya yang diperlukan untuk menjaga kualitas air yang sesuai dengan yang diperlukan.

“Uniknya semua aktivitas ditambak tersebut dapat dipantau dan dilakukan melalui smartphone, sehingga pembudidaya dapat melakukan pekerjaan di manapun dan kapan pun berada,” ujar Andri.

Kemudian ada startup yang bergerak di bidang Education Technology (EdTech) seperti Mina Indonesia juga sangat berperan dalam membantu pembudidaya ikan di Indonesia melalui pendidikan, pelatihan dan pendampingan usaha budidaya.

Pelatihan tentang manajemen bisnis, manajemen kualitas air, pembuatan pakan ikan atau udang, pengendalian hama dan penyakit ikan dan udang, pemasaran dan lainnya menjadi materi pelatihan yang sering diajarkan oleh Mina Indonesia kepada pembudidaya ikan dan udang di seluruh Indonesia.

Selain itu bagi yang ingin memulai usaha budidaya ikan dan udang namun memiliki kendala pengetahuan dan keahlian dalam memulai usaha, Mina Indonesia juga siap memberikan pendampingan usaha sejak awal, sehingga usaha yang dijalankan dapat berhasil dan berkembang.

Pemasaran hasil budidaya tentu juga menjadi kendala pembudidaya ikan dan udang di Indonesia, untuk itulah startup yang bergerak dibidang pemasaran atau E-Commerce seperti Aruna Indonesia dan Nalayan berperan penting dalam membantu pemasaran baik dalam negeri maupun ekspor, sehingga dapat bermanfaat besar bagi pembudidaya.

Sementara itu Minapoli lebih fokus dalam mengembangkan jejaring informasi dan bisnis perikanan melalui platform onlinenya yang menyediakan media untuk pemasaran produk/jasa, publikasi event dan berbagi informasi perikanan.

Kendala Startup

Menahan masuknya kemajuan teknologi hanya akan membuat kemunduran dan gagap teknologi. Menjadi kendala ketika era digitalisasi tidak bisa dirasakan juga sampai ke pembudidaya langsung.

Menurut Bagus, kurang sampainya kemajuan teknologi kepada kalangan terbawah ini yang memang menjadi kesulitan tersendiri. Menurut pengalaman pribadinya, pembudidaya di daerah-daerah memang membutuhkan bimbingan dari para pelaku startup secara intensif.

Senada dengan Bagus, Andri menjelaskan, agar penggunaan teknologi dapat berdampak luas bagi pembudidaya tentu edukasi bagi pembudidaya menjadi faktor penting yang terus dilakukan. Dalam melakukan edukasi dilakukan dengan dua cara yakni melalui online dan offline.

Melalui online, edukasi dilakukan dengan membuat konten yang menjelaskan tentang pemanfaat teknologi dan pentingnya teknologi dalam membantu pembudidaya ikan dan udang baik berupa tulisan, infografis, maupun video yang diupload di website, facebook, youtube dan media online lainnya yang sering diakses oleh pembudidaya. Sedangkan edukasi yang dilakukan secara offline yakni melakukan seminar, pelatihan maupun pendampingan langsung ke pembudidaya langsung di lapangan.

“Kita harus menyediakan pendamping di lapangan agar teknologi yang kita bawa ke pembudidaya dapat diterima dengan baik. Pembudidaya akan merasa membutuhkan teknologi baru jika dia sudah merasakan dampak positifnya. Maka temani dan bimbing mereka paling tidak selama 2 – 3 siklus budidaya, setelah teknologi tersebut terbukti bagus, mereka akan inisiatif belajar dengan sendirinya,” pungkas Bagus.

Startup merupakan bagian yang sangat penting bagi kemajuan suatu industri, dengan banyaknya startup di sektor perikanan budidaya, akan semakin banyak inovasi yang dilahirkan dan semakin pesat juga perkembangan industri akuakultur Indonesia. (Adit/Resti)

Inovasi Teknologi Perikanan Budidaya

KJA Bundar di Gondol, Bali

Adanya perkembangan teknologi internet kemudian dikolaborasikan dengan kemajuan teknologi konvensional, sehingga tren digital dan ramah lingkungan saat ini banyak berkembang di Indonesia.

Sedikit menelisik, China dengan garis pantai 30.000 km mampu menghasilkan ikan budidaya laut 15 juta ton pada tahun 2015, Indonesia dengan garis pantai 95.000 km baru mampu menghasilkan ikan budidaya laut 1,5 juta ton pada tahun 2015 (sumber: FAO, tidak termasuk rumput laut). Hal ini menunjukkan potensi budidaya ikan laut Indonesia sangat besar, terutama karena nilai komoditas laut memiliki nilai lebih tinggi dibanding komoditas air tawar.

Kemudian, apa yang seharusnya di lakukan pemerintah untuk terus memaksimalkan potensi budidaya maritim? Pemerintah harus bisa terus memaksimalkan kemajuan teknologi keramba jaring apung lepas pantai (KJA Offshore) dan memaksimalkan potensi lepas pantai menjadi solusi Indonesia menggenjot hasil perikanan maritim, khususnya produksi ikan seperti kakap putih.

General Manager PT Gani Arta Dwitunggal Andi Jayaprawira mengatakan, Indonesia memiliki teknologi perikanan budidaya yang sangat maju di berbagai bidang, melebihi negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Dalam bidang peralatan penunjang KJA misalnya, kata Andi, PT Gani Arta Dwitunggal (Aquatec) yang merupakan perusahaan dalam negeri sudah memproduksi jaring Ultra High Molecular Weight Polyethylene (UHMWPE), yaitu jaring anti predator dengan kekuatan setara kawat baja. Jaring ini terbuat dari bahan Polyethylene khusus yang memiliki kekuatan lebih kuat dari kawat baja yang telah digunakan dalam berbagai industri menggantikan rantai dan seling baja.

Dalam soal KJA, Indonesia telah mengembangkan KJA HDPE Bundar Offshore diameter 20 hingga 50 meter yang dipakai di Balai Besar Penelitian Perikanan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol Bali untuk penelitian dan pemeliharaan ikan Tuna Ekor Kuning.

Indonesia juga telah mengembangkan KJA HDPE Submersible, yaitu KJA yang dapat ditenggelamkan dan diapungkan kembali ke permukaan air. Kegunaan dari KJA ini sendiri adalah untuk dipakai di daerah yang memiliki masalah badai Taifun, di mana KJA HDPE Submersible dapat ditenggelamkan ketika badai Taifun datang, sehingga kegiatan budidaya tidak terganggu dalam cuaca Taifun sekalipun.

Kemudian, Andi memaparkan, KJA HDPE lainnya yang dikembangkan oleh PT Gani Arta Dwitunggal adalah KJA HDPE bebas limbah, yaitu KJA yang dapat menanggulangi hingga 90% limbah pakan dan kotoran yang umumnya dihasilkan oleh KJA tradisional, sehingga KJA HDPE bebas limbah ini sangat ramah lingkungan dan dapat dipakai untuk memecahkan permasalahan yang saat ini sedang dihadapi Waduk Cirata.

KJA HDPE bebas limbah ini merupakan hasil kerjasama PT Gani Arta Dwitunggal dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran (FPIK UNPAD) oleh Dr. Yudi Nurul Ihsan (Dekan FPIK UNPAD). Selain KJA HDPE bebas limbah ini dengan FPIK UNPAD juga telah bersama-sama mengembangkan KJA HDPE untuk kerapu cantang yang telah terpasang di Pangandaran dan panen pada bulan Oktober 2018.

Lalu, perusahaan yang terletak di Bandung tersebut juga telah mengembangkan KJA HDPE khusus kepiting dan lobster. Untuk melengkapi teknologi KJA HDPE, juga mengembangkan sistem pengangkat jaring yang mudah digunakan, sehingga pembudidaya ikan dapat mengangkat jaring dengan mudah untuk panen atau membersihkan jaring.

Tren Digital

Menurut Andi, adanya perkembangan teknologi internet kemudian dikolaborasikan dengan kemajuan teknologi konvensional, sehingga tren digital dan ramah lingkungan saat ini banyak berkembang di Indonesia.

“Tren digital berkembang karena memberikan kemudahan dalam mengawasi kegiatan budidaya ikan, sedangkan tren ramah lingkungan muncul karena kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan juga karena permintaan dari luar negeri,” tambahnya.

KJA buatan Indonesia sejak awal selalu mengedepankan aspek ramah lingkungan dari KJA HDPE dan peralatan penunjangnya. Dalam proses produksinya tidak menghasilkan limbah karena menggunakan bahan Polyethylene yang baru (virgin) dan mengikuti prosedur AMDAL.

Bahan HDPE yang digunakan memenuhi kriteria food grade, kata Andi, yaitu dapat digunakan untuk memproduksi peralatan yang berhubungan dengan penyajian makanan. Dengan demikian, penggunaan bahan Polyethylene tersebut menghasilkan produk yang sangat ramah lingkungan, dan ikan hasil budidaya dalam KJA HDPE dapat diterima oleh negara-negara pengimpor ikan di Eropa, Amerika, Australia, Vietnam, China dan Jepang.

Dampak kemajuan teknologi terhadap kemajuan perikanan budidaya Indonesia sangat besar. Contohnya, beberapa perusahaan perikanan budidaya di Batam, Pesisir Selatan, Pandeglang, Situbondo, Ambon, dan Bali yang memakai produk KJA HDPE dan net UHMWPE Aquatec dapat dengan mudah mengekspor hasil budidaya ikan mereka ke Eropa, Amerika, Australia, Vietnam, China dan Jepang.

Hal ini dikarenakan KJA HDPE buatan Indonesia terbukti ramah lingkungan sehingga ikan yang dibudidayakan di dalam KJA HDPE memenuhi kriteria environmentally friendly dan food safety negara-negara tersebut, sehingga dapat diterima dengan baik.

Selain ramah lingkungan, KJA HDPE yang terkenal tahan ombak dan cuaca juga memudahkan pembudidaya dalam mengurus dan mengembangkan bisnis budidaya ikan. Hal ini terbukti dengan 16.000 KJA HDPE yang telah terpasang di Indonesia dan diekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, China, Maldives, dan Afrika.

“Belasan ribu KJA HDPE yang terpasang di Indonesia inilah yang memampukan Indonesia untuk mencapai rekor penjualan ekspor kerapu beberapa tahun terakhir. Dari 16.000 KJA HDPE yang terpasang, KJA yang rusak dapat dihitung dengan jari atau kurang dari 1 per mil,” tutur Andi.

Kualitas dan ketahanan KJA HDPE buatan anak negeri terhadap ombak besar dan cuaca buruk, juga inovasi yang mempermudah proses kegiatan budidaya ikan inilah yang mendorong pengusaha budidaya ikan untuk tetap memilih produk KJA dalam negeri.

Teknologi Micro dan Nano Bubble

Sistem filtrasi dan microbubble pada RAS budidaya udang vaname ultra intensif

Tidak jauh berberbeda dengan perikanan marikultur, kemajuan inovasi teknologi juga merambah sektor perikanan air tawar dan payau. Belum lama ini sering terdengar teknologi micro dan nano bubble dalam budidaya ikan dan udang, kemudian seperti apa keunggulan teknologi tersebut.

Seperti yang terlansir di Agronet, teknologi ini bekerja memanfaatkan gelembung udara. Prinsip kerja teknologi ini adalah dengan cara memasukkan gas oksigen ke dalam cairan lewat injektor, pembangkit gelembung. Bedanya, pada gelembung nano ukuran gelembung udara sangat kecil dibanding micro.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri dijelaskan, 1 nanometer sama dengan satu per satu miliar meter (1/1.000.000.000 m), dilambangkan dengan (nm). Ukuran ini kira-kira sama dengan 50.000 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia. Dengan mata telanjang, benda dalam skala nano meter tidak dapat terlihat.

Teknologi nano bubble, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diklaim mampu meningkatkan pertumbuhan ikan dan udang hingga 40 persen dari bobot biasa. Teknologi ini diperuntukan perikanan budidaya agar mempercepat pertumbuhan ikan dan udang sampai 40 persen.

Hal tersebut bisa terjadi, sebab menurut Johan, Bussiness Development Manager PT Maxima Arta Prima, nano bubble dapat menghasilkan gelembung-gelembung udara yang sangat halus sehingga dapat memberikan asupan udara (DO) yang maksimal bagi udang karena gelembung-gelembung udara tersebut tidak cepat naik ke permukaan air.

Johan melanjutkan, walaupun gelembung-gelembung udara yang dihasilkan lebih halus namun DO yang dihasilkan lebih stabil dari kincir konvensional sehingga mudah di kontrol dan tidak perlu khawatir sewaktu penurunan DO yang biasanya terjadi pada malam hari.

Kemudian akhir tahun lalu KKP luncurkan teknologi microbubble budidaya udang vaname skala kecil dengan teknologi mikrobuble ultra intensif. Saat ini, kata Kukuh Adiyana Peneliti dari Pusat Riset Perikanan KKP, saat ditemui di kantornya oleh Redaksi Info Akuakultur, produksi udang pada umumnya belum dapat memberikan dampak terhadap pembudidaya skala kecil atau rumah tangga, karena sebagian besar masih dikuasai oleh petambak bermodal besar.

Kukuh menambahkan, permasalahan lainnya yakni keterbatasan lokasi budidaya karena jauh dari sumber air laut atau payau. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan rekayasa teknologi akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, salah satunya adalah dengan pengembangan teknologi microbubble dengan integrasi Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk budidaya udang vaname.

Bak pemeliharaan pada RAS budidaya udang vaname ultra intensif

Saat ini juga terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pembudidaya perikanan, khususnya udang, yaitu biaya listrik yang tinggi dan modal yang cukup besar (untuk skala tambak). Selain itu adanya limbah yang tidak dikelola dengan baik, serangan penyakit, serta daya dukung lingkungan yang menurun.

Kukuh mengatakan, teknologi itu dapat dikembangkan dengan kepadatan kurang lebih 1.000  ekor udang vaname per meter kubik, sehingga produktivitas udang yang dihasilkan sangat tinggi. “Sebelum adanya invensi teknologi baru ini, budidaya udang vaname tertinggi pada budidaya supra intensif dengan kepadatan sekitar 400 ekor udang vaname per kubik,” ujar Kukuh.

Microbubble dengan integrasi RAS itu memiliki beragam kelebihan, diantaranya tidak ada air limbah perikanan yang dibuang ke lingkungan, serta bisa diaplikasikan di tengah perkotaan yang jauh dari sumber air laut, karena pengelolaan media air budidaya dilakukan secara berkelanjutan.

Kelebihan lainnya, menurut Kukuh, adalah tidak memerlukan proses penyifonan, yaitu pembuangan lumpur limbah sisa pakan dan kotoran udang. Limbah padatan pada sistem ini akan tertangkap di filter fisik, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

Sistem dan metode budidaya dan produksi udang vaname ultra intensif ini juga telah didaftarkan patennya melalui Sentra Kekayaan Intelektual KKP, dengan nomor paten P00201810738. Sedangkan teknologi microbubble-nya telah diberi sertifikat paten nomor IDS000002014.

“Teknologi ini dapat diaplikasikan pada skala rumah tangga hingga industri, sehingga pembudidaya kecil dapat diberdayakan,” kata Kukuh. (Adit/Resti)

2019: Teropong Peluang Indonesia dalam Pasar Ekspor Udang Dunia

Di pasar ekspor, Indonesia memiliki tiga jenis udang andalan, P. Monodon (udang windu), P. Merguensis (udang putih), dan L. Vannamei (udang vaname). Bagaimana prospeknya?

Ekspor Komoditas Utama Januari – Oktober 2018

Dalam Refleksi 2018 & Outlook 2019 yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), terlihat bahwa udang merupakan ekspor komoditas utama hasil perikanan Indonesia setelah rumput laut dalam kurun Januari—Oktober 2018.

Dari data terlihat bahwa ekspor rumput laut sebanyak 175.640 ton atau 28,27% dari total ekspor hasil perikanan; diikuti udang 165.120 ton (26,58%); cumi-sotong-gurita 118.760 ton (19,12%); tuna 95.750 ton (15,41%), cakalang-tongkol 42.150 ton (6,79%); dan kepiting 23.770 ton (3,83%).

Meskipun menduduki posisi nomor dua dalam volume ekspor, tetapi komoditas ekspor udang menduduki posisi nomor wahid dalam nilai ekspor. Udang menghasilkan USD1.462,09 juta atau 46,87% dari nilai total ekspor hasil perikanan Indonesia. Sementara tuna USD498,37 (15,98%); cumi-sotong-gurita USD429,3 juta (13,76%); kepiting-rajungan USD242 (13,06%); rumput laut USD241,59 (7,75%); dan cakalang-tongkol USD80,43 (2,58%).

Dilihat dari pasarnya, terdapat 5 negara yang menjadi tujuan utama ekspor udang Indonesia, yaitu Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, ASEAN, dan China. Peringkat pertama diduduki Amerika Serikat yang menyerap 69,86% ekspor udang Indonesia; diikuti Jepang 20,76%; Uni Eropa 5,09%; ASEAN 2,40%; dan China 1,89%.

Bersaing dengan India

Berbicara soal pasar dunia tentu tidak lepas dari kompetisi dengan negara produsen komoditas serupa. Begitu pula dengan pasar ekspor udang.

Dilansir dari Bisnis.com, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa persaingan di komoditas udang tidak mudah. “Kompetitor kita India. Saya dengar mereka sudah membuat sistem konsinyasi dengan importir di AS. Ini barangkali akan sangat berat untuk dilawan,” ujarnya di sela-sela seminar “Innovative Aquaculture” pada Kegiatan Aquatica Asia & Indoaqua 2018 beberapa waktu lalu.

Negara Tujuan Utama Komoditas Udang Januari – Oktober 2018

Sejak akhir Tahun 2018, India memang banyak mengirimkan udang langsung ke pelabuhan Amerika. Para importir di Amerika akan menerima barang, menjualnya, dan baru membayar setelah barang terjual.

Apakah hal ini mempengaruhi harga udang dunia?

Ujang Komaruddin, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, mengatakan bahwa harga udang vaname di akhir 2018 memang mengalami penurunan. Sebagai contoh, di awal Oktober, harga size 100 sekitar Rp. 56.000/kg, sedangkan pada awal Desember turun menjadi Rp. 44.000/kg. Salah satu faktornya adalah hukum suplay dan demand.

“Pada bulan-bulan tersebut, produksi di India sedang melimpah atau panen raya sehingga sangat mempengaruhi harga pasar dunia. Permintaan pasar relatif tetap, sedangkan pasokan melimpah, sehingga harga cenderung turun,” terangnya.

“Penurunan harga udang di Indonesia juga disebabkan oleh produksi negara lain meningkat, sebagai contoh Ekuador. Ekuador, yang selama ini produksinya kita abaikan, tahun 2018 menghantam pasar dengan total produksi mencapai 500.000 ton,” kata Supito, Perekayasa Madya Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.

Selain itu, Supito juga mengatakan bahwa India membuka tambak besar-besaran di Gujarat, yang akan dibuka 5.000 ha tambak, belum di tempat lain. Ekuador dan India inilah yang menjadi pemicu turunnya harga udang.

Menurut Harli, Teknisi Tambak PT Maju Tambak Sumur, Lampung, kecenderungan harga udang turun disebabkan beberapa faktor, yaitu lesunya pasar udang dunia karena stok pasar Eropa terpenuhi dan sudah terpenuhinya kuota kontrak cold storage sehingga terlihat cold storage menekan harga ke petambak atau ke tengkulak.

“Harga udang turun bukan karena harga udang dunia turun, tetapi dipengaruhi kuota ekspor yang menurun. Jadi cold storage sekarang menurunkan harganya. Setelah saya diskusi dengan pihak cold storage, kemungkinan akan naik di Februari awal 2019,” ujar Harli.

Pendapat serupa juga dilontarkan Budi Hardja Wibawa, Manajer PT Tirta Mutiara Makmur, Surabaya. Menurutnya, setiap akhir tahun harga udang selalu turun. Rumornya karena cold storage sudah bisa memenuhi kotrak dengan buyer. Udang yang masuk ke cold storage di akhir tahun disimpan dulu untuk pengiriman tahun berikutnya sehingga cold storage menurunkan harga karena mungkin belum dapat kontrak untuk tahun depannya.

“Di awal tahun harga biasanya tinggi karena negara lain penghasil udang umumnya tidak ada panen karena masih dingin,” ungkap Budi.

Menghadapi persaingan pasar dan turunnya harga

“Harga udang selalu dinamis, jadi tidak perlu reaktif menyikapinya. Selama produktifitas bisa dijaga, petambak masih mendapatkan untung,” ujar Yuri Sutanto, Senior Scientist PT Central Proteina Prima. Menurutnya, dari sisi produsen udang—baik pembudidaya, produsen pakan, dan penyedia sarpras lainnya, sebaiknya tetap fokus pada peningkatan produktifitas panen. Hal ini akan bisa mem-buffer dinamika harga udang.

Permintaan udang untuk pasar lokal maupun ekspor sangatlah tinggi. Sementara produsen udang sendiri sebenarnya masih belum mampu untuk mencukupi kebutuhan pasar dunia. “Menurut saya, ini merupakan PR besar untuk pengusaha udang di Indonesia, sekaligus prospek yang bagus ke depannya,” ujar Hadi Wijaya, Junior Business Development Manager PT Maxima Arta Prima.

Menurutnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti, pun mengusulkan agar para pengusaha udang di Indonesia mulai mencoba pasar nontradisional dan membidik negara tujuan ekspor lain seperti Timur Tengah atau Afrika. Selain itu, Susi juga menuntut para pelaku usaha untuk bisa menyajikan produk yang lebih variatif.

Lalu, bagaimana dengan ancaman konsinyasi dari India pada pasar Amerika?

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, sistem konsinyasi itu sebetulnya merugikan India sendiri. Pasalnya, harga yang dipasarkan terbilang rendah dan bisa membanting harga di pasaran. India akan lebih banyak mengirimkan hasil produksi udang mereka ke luar, padahal di saat yang sama masih  harus menjaga kualitasnya.

“Kita tidak akan meniru mereka, karena kita tidak akan membanting harga. Bertahan dengan produksi sebanyak-banyaknya dan kualitas terbaik,” ungkap Slamet.

Tingkatkan kemampuan produksi

Moch. Nurhudah, Dosen Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta, mengungkapkan data produksi terakhir yang dikeluarkan oleh KKP dalam acara “Refleksi 2018 dan Outlook 2019” bahwa udang merupakan salah satu komoditas utama budidaya di samping lele, nila, dan rumput laut. Sementara data ekspor udang menempati ranking pertama untuk nilai ekspor dan nomor dua setelah rumput laut untuk volume eksport.

Berdasarkan data FAO, di tingkat internasional, Indonesia merupakan penghasil udang vaname nomor dua setelah China, sedangkan India menempati posisi ketiga. Sementara tingkat pertumbuhan produksinya berada pada urutan kedua setelah India. Dengan demikian, udang masih merupakan komoditas yang memiliki prospek baik untuk dikembangkan.

Sebagaimana rencana KKP dalam “Outlook 2019”, secara umum kegiatan budidaya diharapkan dapat meningkatkan produksinya hingga 10,36 juta ton di tahun 2019. Berdasarkan data produksi tahun 2015—2017 (yaitu secara berurut  4.364.751 ton; 4.364.751 ton;  5.658.948 ton) dan angka estimasi di tahun 2018 hingga bulan September sebesar 5.601.305 ton, angka tersebut membutuhkan peningkatan lebih dari 30% berdasarkan angka estimasi produksi tahun 2018.

“Pertanyaan penting yang perlu dijawab untuk mencapai target tersebut adalah: siapakah aktor utama yang akan memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan peningkatan produksi budidaya tersebut, termasuk udang?” tanya Nurhudah retoris.

“Jawabnya tentu sederhana,” ujar Nurhudah, “ yaitu pelaku budidaya.” Jika komunitas pelaku budidaya kebanyakan adalah pembudidaya kecil atau tradisional, merekalah aktor utama yang harus mendapkatkan perhatian.

Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang melekat pada pembudidaya tradisional maka salah satu pendekatan yang diperlukan adalah pendampingan untuk menjalankan “Knowledge Based Aquaculture”. Oleh karena itu, para sarjana perikanan umumnya dan lulusan dari satuan pendidikan di bawah KKP khususnya bisa diberikan peran untuk mendukung pencapaian target tersebut.

Dari sisi peran KKP, Supito berpendapat bahwa permintaan pasar udang menurutnya tetap stabil dan ada penambahan secara perlahan. Terkadang produksi naik sehingga harga cenderung turun, terkadang turun kuotanya sehingga harga tinggi.

Meskipun demikian, pada harga rendah—contoh size 100 harga 45.000, sedangkan biaya produksi per kilogram udang sekitar 30.000—petambak masih mempunyai margin keuntungan yang tinggi dibanding komoditas budidaya lainnya.

Saat ini, udang dari India dan Ekuador membanjiri pasar, sedangkan kebutuhan pasar Amerika dan Uni Eropa hanya 700 ribu ton. “Harus ada terobosan ke pasar lain ke timur tengah atau pasar dalam negeri, selain diversifikasi produk udang dan tentunya perbaikan dalam proses produksi yang mengacu pada standar yang diminta pasar,” saran Supito.

Peran balai selalu merekayasa teknologi usaha budidaya udang untuk menghasilkan efisiensi produksi. Dengan begitu, produksi yang dihasilkan bisa dioptimalkan melalui beberapa langkah. Pertama, meningkatkan produktivitas persatuan luas dengan teknik parsial. Kedua, meningkatkan kualitas udang dengan mengatur padat penebaran sehingga dihasilkan ukuran udang yang mempunyai harga pasar tinggi. Ketiga, menciptakan manajemen usaha budidaya skala rumah tangga berbasis teknologi pengelolan lingkungan yang aman.

Teknik bisa merubah pemikiran bahwa usaha budidaya udang tidak harus bermodal besar. Rekonstruksi luas tambak tradisional menjadi tambak dengan luas 500—1.000 m2 dengan penerapan teknologi budidaya udang yang tepat mampu meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat pembudidaya.  (Rochim/Adit/Resti)

Ujian Tsunami Bagi Perikanan di Pesisir Banten

Kilat dan petir berlangsung terus-menerus selama 3 malam paska-tsunami. Jalanan sepi, hanya suara-suara sirine ambulan sesekali melintas dan menambah suasana semakin mencekam.

Demikian tutur Yayan Sofyan, Kepala Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang kepada Info Akuakultur saat mengenang kejadian tsunami yang menerjang pesisir Banten beberapa waktu lalu.

Kantor LP2IL Serang (A), dan Rumah Dinas (B)

Sejak Februari 2010, Yayan telah bekerja di LP2IL Serang yang terletak persis di pinggir pantai, lengkap dengan pemandangan laut dan Gunung Anak Krakatau. Di tahun-tahun pertama, ia sudah dikagetkan aktivitas anak gunung krakatau, dengan gelegar kecil dari tengah laut yang menggetarkan kaca-kaca bangunan kantor. Pada tahun 2010—2011, debu vulkanik menyembur dan menyebarkan bau belerang yang menyengat sehingga pegawai harus memakai masker.

Bahkan tahun 2012 atau 2013, aktivitas getarannya pernah berlangsung dari siang sampai pagi hari dengan jarak antargetaran kecil sebanyak 10 kali per menit atau setiap 6 detik sekali. Sampai Yayan mengaku harus me-lackband kaca pada dinding rumah karena takut pecah.

“Gunung Anak Krakatau selalu begitu dari tahun ke tahun sehingga kami sudah akrab dengan perilakunya,” kata Yayan.

Pada tanggal 22 Desember 2018 pagi, Yayan melihat keanehan di pinggiran Gunung Anak Krakatau yang belum pernah dilihatnya. “Terkesan ada asap putih di permukaan air, seperti halnya ketika kita memasukan benda panas ke dalam air. Bahkan saya kira perahu layar karena bergerak menjauh dari pinggiran gunung. Saya lihat dengan menggunakan teropong sederhana,” lanjutnya.

Yayan Sofyan

Menjelang maghrib, Yayan kembali melihat pemandangan yang tidak seperti biasa. Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap berbentuk seperti payung. Ia pun segera memanjat tembok dinding petakan tambak dan berdiri di tanggul setingginya kira-kira 2,5 meter dan mengabadikan momen langka tersebut.

Paska-Maghrib, pemandangan mengejutkan kembali terjadi. Api yang keluar dari kepundan Gunung Anak Krakatau, yang sebelumnya tidak pernah sebesar itu, tampak seperti lilin atau lebih mirip seperti korek api gas atau las karbit, memancar. Yayan pun memanggil anak dan istrinya yang kemudian semua tercengang dan memuji, Subhanallah. “Foto saya posting pukul 18:49 dan direspon teman saya dengan kata-kata Wisata Lahar. Saya pun membalas Didahului kembang api anak krakatau.”

Tak heran, sebentar lagi tahun baru, di mana pada malam pergantian tahun tersebut, sepanjang Pantai Anyer Carita ramai dengan pesta kembang api. “Kami lama memandangi fenomena tersebut. Sampai saatnya memasuki waktu isya, saya kembali pergi ke mushola untuk azan dan shalat sendiri.”

Sekembali dari mushola, api yang keluar dari gunung anak krakatau sedikit meredup. Sekira pukul 20.00 WIB, api terlihat samar tertutup asap hitam. Sampai saat itu, Yayan belum menyadari keadaan gunung tersebut.

Sekira pukul 21.40, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Yayan yang sedang jagongan bersama satpam di pos jaga mencari sumber suara. Ternyata, sumber suaranya itu berasal dari arah laut, di mana pos satpam berada kira-kira 200 meteran dari pantai. Spontan ia berteriak, tsunamiiiiiiiiii!

Semua panik. Dengan segera Yayan pulang ke rumah dinasnya  yang berjarak 400 m dari pos satpam dan hanya 30 meter dari pinggir pantai. “Saya masuk ke rumah, sempat menyiapkan baju untuk mengungsi dan menyelamatkan surat-surat penting. Istri dan anak saya segera dievakuasi dengan mengunakan motor ke depan kantor. Kami sekeluarga mengungsi di rumah teman kantor yang tinggal di kampung Pasauran I. Saat memasuki jalan kampung, banyak orang yang berjalan menuju tempat yang tinggi, ada juga yang pakai kendaraan. Saat itu hujan rintik-rintik.”

Pukul 23.00, Yayan kembali menuju kantor bersama 3 orang satpam untuk mengecek kondisi bangunan yang terletak persis di pinggir pantai. Tanggul roboh dan dengan bantuan senter mereka melihat bak-bak fiber pecah bahkan ada yang bergeser jauh dari posisi sebelumnya.

Dari pukul 23.00 sampai pukul 01.00, tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Sepi dan mencekam. “Minggu pagi (23/12), saya bersama teman berkedara sepeda motor menyusuri jalan sepanjang pantai dari Kampung Pasauran ke arah Kampung Carita. Mulai dari Kampung Cilurah, kira-kira 1 km dari kantor, sudah terlihat rumah yang pagarnya rusak tanpa ada penghalang apa apa terhadap laut. Di Desa Mataram, Sambolo, kerusakan terlihat lebih berat. Pos polisi jalan raya dan kontainer yang rencananya akan dijadikan vila—yang semula di pinggir pantai persis—terlempar ke seberang jalan, vila-vila di pinggir pantai serta saung-saung tempat berdagang hancur porak poranda. Mobil-mobil banyak yang berpindah ke tengah sawah atau menumpuk di depan bangunan vila. Aparat Kemanan, Basarnas, dan ambulan sudah mulai berdatangan untuk mengevakuasi dan membuka akses jalan.

Paska-tsunami, hujan turun terus-menerus dengan waktu lama dan intensitas yang besar. Cuaca pada saat musim barat terjadi, baik siang maupun malam. Saat malam suasana semakin mencekam. Hujan dan penampakan kilat-kilat serta petir yang hanya terjadi di atas gunung anak krakatau berlangsung sekira 3 malam setelah kejadian tsunami.

Dampak tsunami Anak Krakatau terhadap perikanan budidaya

“Dalam 3—4 bulan ke depan, produksi udang, khususnya wilayah Jabar, Banten  dan Lampung akan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan cukup banyak hatchery yang ada di pesisir Banten dan Lampung Selatan rusak berat akibat tsunami,” ungkap Ketua Bidang IPTEK, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Bambang Nardianto .

Menurut Bambang, kerusakan tersebut mengakibatkan pasokan benur terganggu, meskipun tambak pembesaran yang ada di pesisir kedua propinsi tersebut tidak banyak mengalami kerusakan. Kerusakan tambak pembesaran hanya berupa kerusakan kecil seperti pagar tambak roboh, pompa laut hilang, atau paralon distribusi air hanyut.

Kerusakan yang terjadi di hatchery bervariasi, ada  yang hancur, rusak bangunannya, dan rusak sistem instalasi untuk proses  pembenihannya. Kerugian secara langsung berupa kerugian materi seperti fisik bangunan, benur dalam proses pemeliharaan, induk, dan sarana produksi lainnya yang ikut hilang. Nilai kerusakan bisa mencapai milyaran rupiah.

Adapun kerugian tidak langsung berupa kerugian kehilangan potensi produksi hatchery yang hilang dalam beberapa bulan  ke depan. Kehilangan potensi produksi benur bisa mencapai 400 juta ekor/bulan. Jika recovery membutuhkan waktu 6 bulan, kehilangan potensi produksi benur sebesar 2—2,5 milyar ekor. Kerugian potensi ekonomi bisa mencapai puluhan milyar rupiah.

Dari sisi budidaya pembesaran udang, proses budidaya terhambat akibat pasokan benur tidak mencukupi. Potensi kehilangan produksi udang minimal bisa mencapai 4.000 ton per bulan. Jika recovery memerlukan waktu 6 bulan, potensi kehilangan produksi udang Lampung, Banten, dan Jawa Barat minimal 24.000 ton. Nilai ekonomi bisa mencapai ratusan milyar rupiah. Dampak lain yang ditimbulkan adalah berkurangnya serapan pakan udang. Potensi kehilangan serapan pakan udang bisa mencapai 6.000 ton/bulan.

“Kondisi tersebut berpengaruh pada penurunan produksi, meskipun hanya di kisaran 10%-15%. Meskipun begitu, pasar udang Indonesia tidak terlalu terganggu secara signifikan karena masih ada produksi udang yang bisa dihasilkan oleh daerah lain,” terang Bambang.

Sementara menurut Yayan, secara umum dampak tsunami terhadap kegiatan perikanan budidaya tidak signifikan di beberapa wilayah. Beberapa perusahaan hatchery di daerah Kosambi, Karang Bolong, secara fisik tidak mengalami kerusakan. Kerusakan hanya pada instalasi PIP yang sedikit rusak akibat lokasi bangunan berada di seberang Jalan Raya Anyer Carita. Begitu juga tambak di sekitar Panimbang, yang relatif tidak terganggu, karena lokasinya berada cukup jauh dari pantai.

Untuk KJA yang banyak di sekitar daerah Panimbang, tepatnya di Desa Copanon, sebagian besar masih di posisi dan sebagian ada yang bergeser ke pantai. “Dari info lapangan, di daerah sekitar Taman Jaya, wilayah yang berbatasan dengan Taman Nasional Ujung Kulon, juga tidak terdampak,” terang Yayan.

Sementara kerusakan di wilayah Pandeglang akibat tsunami relatif kecil. “Kalau tambak udang yang ada di wilayah Kec. Sumur, Kab. Pandeglang, Alhamdullilah selamat. Yang di Cikeusik, di Wanasalam, semuanya selamat, tutur H. Buntara, salah seorang petambak udang di Sumur, Pandeglang, kepada Info Akuakultur.

Peran KKP di daerah bencana

Secara langsung, peran KKP terhadap dampak tsunami cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan menjadikan balai-balai penelitian di pesisir—yang tidak terdampak tsunami—sebagai salah satu posko relawan, posko pendistribusian bantuan, dan dapur umum. Peran lainnya adalah melakukan pemetaan dan pendataan nelayan yang menjadi korban tsunami untuk diberikan bantuan tertentu agar mata pencahariannya bisa terus berlangsung. “Terhadap pemilik usaha pembenihan skala kecil (backyard) dan hatchery yang terdampak akan dilakukan pendampingan dan pemberian bantuan agar pembenih kembali bisa melakukan usahannya kembali,” ujar Bambang.

Dalam jangka pendek, kegiatan yang akan dilakukan yaitu membuka akses untuk mendapatkan benur dari hatchery yang berada di daerah lain agar proses budidaya tetap berjalan. Tentu saja, dengan tetap mengedapankan kualitas dan treceability benur yang akan dibudidayakan. Dalam jangka menengah, dilakukan percepatan perbaikan infrastruktur dan sarana produksi serta mempercepat pengadaan indukan udang yang baru.

Begitu pula menurut Yayan, sebagai PIC Posko KKP Peduli Bencana Tsunami wilayah Banten. Menurutnya, KKP sangat peduli terhadap stakeholder-nya, termasuk pelaku kegiatan budidaya. Pada masa tanggap darurat, KKP melakukan kunjungan untuk mengecek kondisi, baik SDM maupun fisik paska-bencana tsunami. Beberapa kegiatan yang dilakukan di antaranya pemberian bantuan sembako, ikan segar, perlengkapan tidur, perlengkapan penerangan, serta perlengkapan kesehatan maupun masak-memasak.

Doa dan harapan

“Di wilayah kami tidak ada yang budidaya ikan. Semuanya bertambak udang vanamei. Kalau bantuan buat masyarakat yang terkena tsunami, Alhamdulilah, sangat cukup. Yang belum adalah pembangunan rumah-rumah yang hancur. Itu saja deh. Yang diperlukan masyarakat Kecamatan Sumur, Desa Tamanjaya, Kampung Pani’is, yang 55% kampungnya habis terkena tsunami, adalah relokasi ke tempat yang aman di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kampung Nelayan juga, Desa Ujung jaya, Kampung Tanjung Lame, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Yang terpenting jalan segera dibangun dan listrik harus stabil,” harap H. Buntara.

Sementara Yayan mengungkapkan harapannya bahwa menimbang potensi bencana akibat gelombang tinggi saat ini daerah tambak perlu dijaga vegetasi bakau atau mangrove-nya. Tujuannya agar barisan bakau bisa menjadi penahan hempasan gelombang. Di samping itu, pembangunan unit hatchery perlu mempertimbangkan bangunan dengan sepadan pantai sesuai aturan, salah satunya bagi yang bangunannya terlalu dekat dengan pantai.

“Saya yakin penduduk di sekitar pantai sangat shock dan takut. Namun apa mau dikata, mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka terlahir dan tumbuh di situ. Sikap pasrah serta yakin bahwa ajal tetap akan datang ada atau pun tidak ada bencana tsunami membuat mereka ikhlas atau terpaksa untuk bertahan. Begitu juga kami,  ini sudah menjadi tugas yang harus saya terima dengan lapang dada, meskipun sanak keluarga terkadang mengatakan pindah saja. Saya yakin, tetap yakin, dengan Maha Pengasih dan Penyayang-nya Allah SWT. Namun kami tetap harus waspada dan ini menjadi pengalaman dan pelajaran hidup berharga bagi kami. Sebagaimana disampaikan salah satu pimpinan kami, baik kepada kami maupun kepada para nelayan yang kami temui, bahwa bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Yang terpenting kita harus belajar dan tahu apa yang harus kita lakukan saat menghadapi bahaya dan tetap waspada,” jabar Yayan.

Yayan melanjutkan, “…Kami berbela sungkawa terhadap para korban tsunami, baik di wilayah Banten maupun Lampung. Semoga mereka mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Begitu juga korban selamat serta yang kehilangan harta bendanya, semoga diberi kesabaran dan kekuatan serta kemudahan rejeki yang lebih baik. Kepada para donatur/relawan yang telah empati membantu sesama baik dengan hartanya, tenaganya maupun fikirannya semoga menjadi ladang amal yang selalu mengalir dan semoga pihak pemerintah maupun pihak terkait untuk segera dapat memulihkan kondisi ekonomi maupun fisik agar aktivitas warga terdampak tsunami cepat kembali normal.”

“Akhirnya kita harus sadar bahwa manusia itu lemah, hanya Tuhan yang Maha Perkasa. Semua takdirnya telah menjadi ketetapan atau Sunatulloh sebagai ujian bagi umat manusia agar semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Di balik ini semua pasti ada hikmahnya. Allah SWT mengajarkan kepada manusia ini yang baik dan ini yang tidak baik. Jika tetap melanggar, ketentuan akan berjalan. Semoga bangsa Indonesia selalu diberikan perlindungan oleh Yang Maha Kuasa…Aamiin.. ‘Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. QS Al-Anbiya Ayat 35’,” pungkas Yayan. (Rochim/Adit/Resti)