8 KELAS FEED ADDITIVE

Feed additive adalah bahan pakan non nutrien yang ditambahkan dalam campuran pakan (ransum) untuk tujuan tertentu. Setiap feed additive memiliki mekanisme kerja yang berbeda-beda dalam meningkatkan kinerja ternak. Berikut ini beberapa feed additive yang disering ditambahkan dalam ransum, dengan tujuan meningkatkan kinerja pertumbuhan.

Antibiotik

Mekanisme kerjanya adalah dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri di organ usus halus. Harapannya makronutrien dapat tercerna dan terabsorbsi secara optimal.

Probiotik

Mekanisme kerjanya adalah dengan cara menambah jumlah mikroba yang bermanfaat yang kemudian dapat mengurangi mikroba yang merugikan sehingga dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan.

Prebiotik

Mekanisme kerjanya adalah dengan cara menyediakan substrat atau ‘makanan’ bagi mikroba yang baik. Agar mikroba yang bermanfaat dapat tumbuh dengan maksimal dan menghambat bakteri negatif.

Fitobiotik

Mekanisme kerjanya dengan cara mematikan mikroba patogen, meningkatkan sekresi enzim pencernaan, memperlancar aliran darah, mengurangi kadar glukosa darah, memperbaiki keadaan organ dalam, memperbaik fungsi organ dan saluran pencernaan, meningkatkan nafsu makan, meningkatkan kualitas produk pencernaan dan fungsi khusus lain.

Enzim

Mekanisme kerjanya dengan cara menambah atau melengkapi jumlah enzim dalam saluran pencernaan yang tujuannya melengkapi nutrien pakan.

Asam Organik

Mekanisme kerjanya dengan cara menurunkan pH saluran pencernaan dengan harapan mikroba patogen tidak tahan karena sensitif terhadap perubahan pH, dan menyebakan mikroba patogen tidak bisa tumbuh dan berkembang biak bahkan mati.

Zat Warna/Aroma

Ditujukan untuk meningkatkan palatabilitas dan konsumsi pakan.

Antioksidan

Antioksidan adalah senyawa yang mencegah ketengikan (rancidity) oksidatif dari lemak tak jenuh. Ketengikan tersebut penting untuk dicegah karena dapat merusak vitamin A, D, E, dan beberapa vitamin B kompleks. Semua bahan pakan akan mengalami kerusakan, terlebih bahan pakan yang kaya lemak. Bahan pakan yang kaya lemak ini akan mengalami auto oksidasi dan segera mengalami proses ketengikan. Untuk mencegah oksidasi bahan pakan, maka secara rutin mestinya antioksidan diberikan dalam bahan pakan ternak.

(Sumber: Prof Dr Ir Zuprizal, Perkembangan Pakan Unggas (Ayam) di Indonesia dan Teknologi Feed Additive)

http://www.majalahinfovet.com/

KETIKA KONDISI PANDEMI COVID-19 KONSUMSI TAK SETARA PRODUKSI

Sepenggal kalimat yang di-posting di salah satu WhatsApp Group (WAG), 21 Agustus 2020, pukul 20:03 itu, kesannya bak pisau bermata dua. Maklum, pengirimnya adalah pejabat Eselon II Kementerian Pertanian. Salah satu pejabat kunci yang memiliki otoritas tinggi dalam penerbitan rekomendasi.

Mungkin saja, maksud sang Pejabat mengirimkan pesan singkat itu sekedar berbasa-basi. Sekedar menjalin komunikasi dengan para anggota WAG, atau bisa jadi bersifat “intimidasi” yang tersembunyi.

Pada tanggal yang sama pukul 14:50, Beliau mem-posting pesan panjang. Isinya mengimbau kepada bapak/ibu pimpinan perusahaan pembibitan dan pakan ayam ras agar dapat menaikkan serta melaksanakan penyerapan live bird (LB) berdasarkan alokasi penyerapan masing-masing perusahaan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab bersama, sehingga stabilisasi perunggasan dapat tercapai dengan lebih baik.

Landasan yang dipergunakan adalah Surat Himbauan No. B-22007/PK.230/F2.5/07/2020 tanggal 22 Juli 2020 tentang penyerapan LB peternak UMKM. Selain itu, juga Surat Himbauan No. B-12005/TU.020/F2.5/08/2020 tanggal 12 Agustus 2020 tentang penyerapan LB internal dan eksternal perusahaan pembibit ayam ras pedaging.

Tunggu punya tunggu, lebih dari 5 jam sejak pesan panjang itu tayang, (mungkin) membuat sang Pejabat penasaran dan bertanya-tanya. Eksekusinya adalah, tayangan sepenggal kalimat ambigu di WAG itu: “Wa saya tdk di respon trima kasih. Gmna hp sy nt rusak tidak bisa klik rekomendasi impor GPS.

Ajaib, dalam hitungan menit, malam itu juga muncul respon positif: Siap. Keesokan paginya, respon pertama pukul 04:25. Selanjutnya, berurutan muncul respon-respon positif lainnya hingga sore pukul 17:38.

Konsumsi Daging Ayam

Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7 November 2019, merilis data “Demand Daging dan Telur Ayam Ras 2020.” BPS mengestimasikan bahwa demand daging ayam ras tahun 2020 sebesar 3.442.558 ton. Bila dikonversikan dengan jumlah penduduk Indonesia, berarti konsumsi daging ayam ras pada 2020 tersebut mencapai 12,79 kg/kapita/tahun.

Pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Tak terkecuali tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging ayam ras. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) pada 14 Juli 2020, menerbitkan skenario baru konsumsi daging ayam menjadi 9,08 kg/kapita/tahun. Berdasarkan revisi itu, demand-nya menjadi 2.447.691 ton. Surplus sekitar 1 juta ton.

Bila ditarik ke arah hulu, berarti juga terjadi kelebihan produksi DOC broiler. Semula diprediksi bahwa produksi DOC broiler pada 2020 sekitar 3,6 miliar ekor. Situasi dan kondisi pandemi COVID-19 tersebut menjadikan produksi DOC broiler berlebihan.

Dampak akhir dari semuanya itu adalah terpuruknya harga LB, khususnya di pulau Jawa. Kegaduhan pun timbul di mana-mana, apalagi di media sosial. Beraneka macam komen bermunculan di berbagai WAG perunggasan. Seperti halnya kejadian-kejadian terdahulu, Ditjen PKH pun turun tangan. Ujung-ujungnya adalah terbitnya suatu kebijakan. Kali ini bukan lagi berbentuk Surat Edaran (SE), tapi Surat Himbauan (SH).

Manfaatkan Momentum

Alih-alih memanfaatkan momentum perlunya pemenuhan gizi guna meningkatkan daya tahan tubuh dalam menghadapi pandemi COVID-19, Kementerian Pertanian (Kementan) justru me-launching kalung Anti Virus Corona Eucalyptus pada 8 Mei 2020. Promosinya luar biasa. Melibatkan berbagai media massa. Tayang di mana-mana. Bahkan, promosi lintas departemental dan institusional.

Tak ayal lagi, klaim sebagai “anti-virus” memantik polemik dan kontroversi. Masing-masing pihak berargumentasi berdasarkan sudut pandang dan latar belakang keilmuannya. Belakangan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Fadjry Djufry, dalam konferensi virtual pada 6 Juli 2020 melunak. Disebutkannya “Kalaupun tidak punya khasiat membunuh virus corona (COVID-19), paling tidak melegakan pernapasan.”

Sejatinya, Kementan juga melakukan kampanye peningkatan konsumsi daging ayam guna menguatkan daya tahan tubuh. Sayangnya, video promosi itu hanya tayang dalam akun Instagram Kementan @kementerianpertanian. Tidak dipublikasikan secara massif. Tak ada penayangan oleh media mainstream.

Dalam video berdurasi satu menit tersebut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengajak masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam sebagai salah satu cara menjaga daya tahan tubuh dari infeksi virus corona (COVID-19).

Memang, momentum selalu ada. Kapan saja dan di mana saja. Tapi uniknya, momentum bisa lewat begitu saja. Dibutuhkan kejelian dan kecerdasan untuk menangkap dan memanfaatkan momentum itu secara pas sehingga menghasilkan manfaat bagi kebanyakan masyarakat.

Dalam situasi pandemi COVID-19, konsumsi daging ayam menurun. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan daya tahan tubuh kuat dan sehat guna mengatasi ancaman infeksi virus corona. Tentu saja ini merupakan peluang sekaligus momentum.

Sekiranya Kementan bisa menangkap peluang dan memanfaatkan momentum tersebut secara optimal, maka secara bertahap dan pasti, konsumsi daging ayam bisa setara dengan produksinya. Tak ada lagi pesan singkat pejabat dalam WAG yang bersifat ambigu. Pesan intimidasi berbungkus basa-basi komunikasi. ***

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/

Penulis adalah,

Dewan Pakar Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia

 

JENIS-JENIS ENZIM DALAM INDUSTRI PAKAN TERNAK

Feed additive (imbuhan pakan) merupakan suatu bahan yang dicampurkan ke dalam pakan yang dapat mempengaruhi kesehatan, produktivitas, maupun keadaan gizi ternak, meskipun bahan tersebut bukan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi (Adams, 2000).

Feed additive merupakan bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan/atau juga antibiotika (Anggorodi, 1985). Fungsi feed additive adalah untuk menambah vitamin, mineral dan antibiotika dalam ransum, menjaga dan mempertahankan kesehatan tubuh terhadap serangan penyakit dan pengaruh stres, merangsang pertumbuhan badan (pertumbuhan daging menjadi baik) dan menambah nafsu makan, meningkatkan produksi daging maupun telur.

Sedangkan feed supplement (pakan tambahan), merupakan bahan pakan tambahan yang berupa zat-zat nutrisi, terutama zat nutrisi mikro, seperti vitamin, mineral atau asam amino. (Drh Hermawan Prihatno).

A. Enzim

Enzim merupakan senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa-senyawa yang komplek menjadi sederhana. Saat ini telah terindentifikasi lebih kurang 3.000 enzim. Walaupun dalam tubuh makhluk hidup enzim dapat diproduksi sendiri sesuai kebutuhan, penambahan enzim pada pakan kadang kala masih dibutuhkan. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti anti-nutrisi faktor pada bahan pakan (lectins dan trypsin inhibitor), rendahnya efesiensi kecernaan bahan pakan dan tidak tersedianya enzim tertentu dalam tubuh ternak. Xylanase dan ß-glucanase adalah contoh enzim yang digunakan pada ternak monogastrik untuk meningkatkan daya cerna ternak. Rendahnya kemampuan ternak muda untuk mencerna protein pada kacang kedele (glycin dan ß-conglycinin) dapat diatasi dengan penambahan enzim protease.

Jenis-jenis Enzim dalam Industri Pakan Ternak

Terdapat empat tipe enzim yang mendominasi pasar pakan ternak saat ini, yaitu enzim untuk memecah serat, protein, pati dan asam fitat (Sheppi, 2001).

1. Enzim Pemecah Serat

Keterbatasan utama dari pencernaan hewan monogastrik adalah bahwa hewan-hewan tersebut tidak memproduksi enzim untuk mencerna serat. Pada ransum makanan ternak yang terbuat dari gandum, barleyrye atau triticale (sereal viscous utama), proporsi terbesar dari serat ini adalah arabinoxylan dan ß-glucan yang larut dan tidak larut (White et al., 1983; Bedford dan Classen, 1992 diacu oleh Sheppy, 2001). Serat yang dapat larut dan meningkatkan viskositas isi intestin yang kecil, mengganggu pencernaan nutrisi dan karena itu menurunkan pertumbuhan hewan.

Kandungan serat pada gandum dan barley sangat bervariasi tergantung pada varitasnya, tempat tumbuh, kondisi iklim dan lain-lain. Hal ini dapat menyebabkan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2020 (MAS-AHD)

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/

Cara Pembuatan Probiotik

Oleh: Muhammad Fiqi Zulendra, S.S.T.Pi

Untuk memperbaiki kondisi lingkungan di tambak udang, para petambak bisa mempraktikan cara pembuatan Probiotik

Probiotik adalah mikroba yang diberikan melalui makanan maupun lingkungan yang memiliki sifat menguntungkan bagi udang yang dipelihara. Probiotik dapat diberikan melalui mulut dengan cara dicampurkan dengan pakan yang akan diberikan dan dapat juga diberikan melalui lingkungan yaitu probiotik ditebar secara merata pada air kolam pemeliharaan.

Probiotik yang digunakan adalah jenis bakteri Lactobacillus casei yang berfungsi menguraikan bahan organik dan menurunkan gas toksik dalam tambak. Jenis bakteri tersebut sangat mudah untuk didapatkan. Bakteri Lactobacillus casei dapat ditemukan pada produk susu fermentasi. Harganya pun masih terjangkau bagi para pembudidaya udang di tambak.  

Bakteri Lactobacillus casei difermentasi selama 3-4 hari dalam kondisi tertutup rapat dengan aerasi. Fermentasi tersebut ditambahkan dengan molase. Pemberian molase berfungsi sebagai makanan bakteri. Alat yang digunakan untuk membuat probiotik adalah aerator, selang aerator, batu aerator, timbangan dan ember. Sementara itu, bahan yang digunakan untuk membuat probitoik adalah bakteri Lactobacillus casei, molase, pernipan (ragi roti), garam, tepung ikan, dedak dan air tawar yang sudah dimasak. 

Cara pembuatan probiotik adalah sebagai berikut :

  1. Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan
  2. Pasangkan batu aerator pada selang aerator
  3. Pasangkan selang aerator yang sudah dilengkapi batu aerator pada aerator yang akan digunakan
  4. Bolongkan tutup ember untuk memasukan selang aerator ke dalam ember yang akan digunakan
  5. Timbang masing-masing bahan yang akan digunakan

Air Tawar                             :        10 Liter

Tepung ikan                         :        500 gr

Tepung dedak                       :        500 gr

Bakteri Lactobacillus casei      :        195 ml

Molase                                 :        250 gr

Garam                                 :        250 gr

Pernipan (ragi roti)               :        11 gr

  • Rebus air tawar sampai mendidih kemudian didinginkan. Perebusan bertujuan untuk membunuh bakteri yang terdapat dalam air.
  • Masukkan air yang telah direbus kedalam wadah/ember yang akan digunakan
  • Masukkan tepung ikan dan dedak, aduk sampai melarut.  
  • Masukkan garam dan aduk sampai melarut.
  • Masukkan pernipan (ragi roti) dan molase, serta bakteri Lactobacillus casei dan aduk sampai melarut
  • Aduk sampai melarut
  • Pasang aerasi pada ember yang digunakan
  • Tunggu 3-4 hari, biasanya populasi bakteri akan tumbuh dengan pesat dan bakteri probiotiknya sudah siap untuk diaplikasikan ke tambak pemeliharaan.

Jika tepung ikan dan dedak susah untuk ditemukan, pembuatan probiotik juga dapat dilakukan dengan cara mencampurkan bahan air yang sudah direbus dengan bakteri Lactobacillus casei, molase, pernipan (ragi roti). Aduk sampai semuanya melarut dan pasang aerasi. Biarkan selama 3-4 hari.

Setelah itu, probiotik hasil fermentasi ditebar secara merata ke seluruh tambak dengan tetap menghidupkan kincir/blower agar selama penebaran probiotik terjadi juga produksi hydrogen preoksida untuk melawan vibrio. Pengaplikasian probiotik dapat juga dilakukan dengan cara mencampurkan pakan dengan probiotik yang bertujuan agar pakan udang yang telah dicampur dapat membantu proses pencernaan dan sebagai imunostimulant udang.

Probiotik ini dapat berfungsi untuk meningkatkan kualitas air yang merupakan habitat udang. Air yang berkualitas baik, akan membuat udang lebih sehat dan sulit terkena serangan penyakit yang biasa menyerang pada udang.  Selain bisa untuk memperbaiki kualitas air, probiotik juga bermanfaat untuk membantu percepatan pertumbuhan udang dan meningkatkan produktivitas udang serta berfungsi menghambat munculnya bakteri patogen yang biasa tumbuh di dalam air.*

*Penulis adalah Instruktur Pertama Budidaya Perikanan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Bitung.

Budidaya Alga, Untuk Tingkatkan Nutrisi Pakan Ikan

Mikroalga, alga mikroskopis kaya nutrisi untuk kegiatan budidaya perikanan

Mikroalga, di samping kehadirannya menjadi ancaman bagi kegiatan akuakultur, beberapa jenis di antaranya justru menjadi berkah bagi perikanan. Pasalnya, kandungan nutrisinya dibutuhkan beberapa jenis ikan budidaya, terutama jenis herbivora.

Alga kerap kali dituding sebagai penyebab munculnya berbagai serangan penyakit dan kematian massal pada ikan maupun udang. Awalnya, terjadi ketidakseimbangan alga di dalam lingkungan perairan.

Selanjutnya, akibat dari komposisi jenis alga yang tidak seimbang, kualitas perairan munurun, tingkat kandungan oksigen dalam air berkurang. Bahkan, sejumlah jenis alga ditengarai mengeluarkan bahan toksik.

Daya tahan tubuh ikan dan udang menurun. Tidak dapat dihindari, penyakit pun merebak ketika daya tahan tubuh turun dan kondisi lingkungan memburuk. Pada akhirnya, terjadi kerugian telak akibat kematian massal pada ikan dan udang budidaya yang tak terhindarkan.

Benarkah alga menjadi biang dari malapetaka tersebut? jawabannya iya. Akan tetapi, kabar baiknya, alga tidak hanya melulu menimbulkan efek negatif bagi budidaya perikanan. Sejumlah alga diketahui berpengaruh positif dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, misalnya untuk industri farmasi, kosmetika, pangan, dan industri lainnya.

Beberapa di antaranya diperlukan dalam kegiatan akuakultur sebagai sumber pakan untuk ikan. Sebut saja misalnya Chlorella vulgaris, Porphyridium cruentum, Dunaliella salina, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jenis-jenis mikroalga tersebut dipandang menguntungkan karena dapat menyediakan nutrisi yang berlimpah bagi ikan budidaya. Bahkan, karena kandungan nutrisinya yang kaya, tidak sedikit jenis mikroalga tersebut banyak dibudidayakan secara massal mengingat nilai ekonominya yang tinggi.

Mengenal Alga Lebih Dekat

Menurut klasifikasi dalam ilmu biologi, alga merupakan sejenis organisma fotosintesis yang mengandung klorofil, menghasilkan O2 dan merupakan suatu thallus (jaringan vegetatif) yang tidak terdeferensiasi menjadi akar, batang dan daun. Jadi, organisme ini berbeda dengan lumut atau jenis tanaman lainnya.

Pada kerajaan tumbuhan (kingdom plantae), organisme sudah jelas diklasifikasikan berdasarkan organ daun, batang dan akar, sementara pada alga tidak demikian. Meskipun begitu, alga dan tumbuhan sama-sama mempunyai klorofil sehingga mempunyai kemampuan melakukan proses fotosintesis, yaitu mampu menyintesis makanannya sendiri dari sinar matahari dan sumber karbon.

Dengan demikian, seperti halnya tumbuhan, alga pun dapat menghasilkan zat asam (oksigen) sebagai produk samping dari proses fotosintesisnya dan karbohidrat (karbon) sebagai produk utamanya.

Menurut pemaparan Rahmania Admirasari, dari Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), alga sendiri diklasifikan menjadi dua berdasarkan ukurannya, yaitu:

Rahmania Admirasari
  • Makroalga, alga yang berukuran besar, sehingga dapat dilihat dan diamati oleh mata telanjang;
  • Mikroalga atau alga yang berukuran kecil (mikroskopis) dan bakteria fotosintetik oksigenik (Cyanobacteria).

Produk Bernilai Ekonomis Tinggi dari Mikroalga

Saat ini, di dunia sudah dikenal luas beragam jenis alga dengan produk utama yang bernilai ekonomis tinggi. Sebut saja misalnya spirulina. Jenis mikroalga ini menjadi salah satu bahan baku suplemen kesehatan bagi manusia karena kandungan proteinnya yang tinggi, kandungan beragam vitamin yang bermanfaat bagi tubuh, serta kandungan mineral dan asam lemaknya.

Di samping itu, masih banyak jenis alga lain yang bermanfaat dan menjadi komoditas penting. Berikut ini beberapa jenis mikroalga dan berbagai jenis produk yang dihasilkan.

  • Spirulina plantesis, Phycocyanin, produk yang dihasilkan berupa biomassa dan suplemen makanan kesehatan, serta bahan dasar kosmetika
  • Chlorella vulgaris, produk yang dihasilkan berupa biomassa, suplemen kesehatan, dan sumber pakan
  • Dunaliella salina, produk yang dihasilkan Carotenoids, ß-carotene, suplemen makanan, sumber pakan.
  • Haematococcus plavialis produk yang dihasilkan adalah Carotenoids, astaxanthin, yang digunakan dalam suplemen makanan, industri farmasi, dan pakan
  • Odontella aurita sebagai sumber asam lemak, dan bahan baku farmasi, kosmetika, dan sumber makanan.
  • Porphyridium cruentum, produk yang dihasilkan di antaranya adalah polisakarida untuk industri farmasi, kosmetika, dan pakan hewan
  • Isochrysis galbana, produk yang dihasilkan di antaranya adalah asam lemak untuk pakan ternak,
  • Phaeodactylum tricornutum, bahan yang dihasilkan di antaranya adalah lemak, asam lemak, nutrisi asam, serta bahan baku untuk bahan bakar.

Mikroalga, Bahan Bernutrisi Tinggi Bagi Ikan

Alga berperan tak kalah penting dalam kegiatan akuakultur. Beberapa jenis alga sudah dikenal luas sebagai sumber pakan alami bagi ikan jenis herbivora, seperti ikan bandeng, mas, dan lain-lain.

Menurut Rahmania, aplikasinya dalam bidang akuakultur dapat berupa pakan langsung pada fase pembesaran larva, juvenile, atau pun untuk sebagai pakan zooplankton yang pada akhirnya menjadi pakan alami bagi ikan.

  • Sumber pakan alami pada fase pembesaran larva dan juvenilles dari moluksa, crustacea dan ikan.
  • Sumber pakan bagi zooplankton (rotifer, copepoda, dll) yang pada akhirnya menjadi sumber pakan alami bagi ikan.
  • Sumber pakan bagi Ikan herbivore

Tabel 1. Beberapa jenis mikroalga dan manfaatnya bagi jenis hewan akuakultur

Alga Organisma Akuakultur
Chlorella Brachionus
Scenedesmus Artemia, Ikan mas
Skeletonema Tiram dan kerang
Nitzschia Tiram dan kerang
Chaetoceros Tiram dan kerang

Budidaya Mikroalga Skala Massal

Mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi, tak sedikit praktisi yang sudah melakukan budidaya mikroalga secara massal. Jenis alga yang dibudidayakan tertentu untuk yang bernilai nutrisi tinggi atau digunakan untuk keperluan lainnya.

Selain itu, jenis yang dibudidayakan tersebut haruslah yang tidak beracun baik bagi hewan maupun manusia. Rahmania mengungkapkan, beberapa persyaratan budidaya mikroalga untuk kegiatan akuakultur harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya adalah:

  • Non toksik atau tidak beracun;
  • Ukuran tubuhnya tepat untuk dikonsumsi oleh organisma yang akan dibudidayakan;
  • Dinding sel alga mudah dicerna;
  • Kandungan nutrisi cukup baik.

Pada dasarnya, dalam kegiatan budidaya mikroalga, ada beberapa komponen wajib yang harus ada, yaitu cahaya matahari, karbondioksida (CO2), air, nutrisi, dan peralatan pendukung. Gas karbondioksida dibutuhkan sebagai sumber karbon bagi alga.

Kehadiran air mutlak diperlukan sebagai sumber hydrogen dalam sintesis karbohidrat yang terdiri dari unsur Karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O). Sementara itu, kebutuhan nutrisi lainnya, di antaranya unsur Nitrogen, Fosfor, dan unsur-unsur mineral lainnya dapat dipenuhi dari pasokan air limbah budidaya perikanan.

Seperti diketahui, air limbah yang berasal dari budidaya perikanan banyak mengandung sisa-sisa pakan dan zat-zat eksresi ikan, misalnya ammonia, nitrat, nitrit, dan fosfat. Bahan-bahan tersebut merupakan unsur hara bagi mikroalga sehingga airnya dapat dimanfaatkan untuk kultivasi mikroalga.

Gambar 1. Metode budidaya mikroalga secara umum

            Gambar 2. Alur budidaya mikroalga dan waktu pemanenan yang tepat

Kultivasi mikroalga dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sistem terbuka dan sistem fotobioreactor (sistem tertutup). Pada metode terbuka, budidaya mikroalga dilakukan pada kolam/ bak-bak terbuka dengan ukuran yang luas.

Sementara itu, budidaya dengan metode fotobioreactor dilakukan di dalam reaktor-reaktor tertutup yang biasanya terbuat dari kaca/plastik transparan. Hal ini agar permukaan dapat ditembus cahaya matahari yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.

Masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri. Sebagai contoh, pada metode tertutup (fotobioreaktor), kelebihannya adalah terjaga dari kontaminasi, produktivitas lebih tinggi, serta tidak membutuhkan lahan yang relative luas. Meskipun demikian, metode ini mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya adalah biaya investasi awal yang mahal.

Di lain pihak, jika budidaya dilakukan pada kolam terbuka, kelebihannya antara lain biaya investasi awal yang relatif rendah dan perawatan mudah. Akan tetapi, kelemahan yang ditimbulkan di antaranya adalah membutuhkan luas lahan yang besar, mudah terkontaminasi oleh mikroalga yang lain, sehingga dapat memicu terjadinya kompetisi. (Noerhidajat/Resti)

Atur Asupan Nutrisi untuk Si ‘Dua Sahabat’

Irwan Dwi Susatyo (Sumber: Resti)

Ikan nila dan mas termasuk komoditas perikanan dengan tingat permintaan pasar yang tinggi. Dalam kegiatan budidaya, dua jenis ikan ini kerap dipelihara berbarengan karena saling melengkapi. Sehingga, dalam pola pemberian pakan pun, kedua ikan ini kerap disandingkan.

Dengan semakin meningkatnya populasi dunia, kebutuhan terhadap pangan pun semakin meningkat. Salah satunya adalah kebutuhan dunia terhadap protein hewani yang berasal dari ikan konsumsi.

Lebih jauh, peranan ikan sebagai pemasok protein hewani agar tercukupi menunjang kesehatan manusia. Pasalnya, seseorang yang mengalami defisiensi protein akan mengalami penurunan fungsi otak dan menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit.

Beberapa sumber protein hewani dari ikan dapat dipenuhi dari jenis ikan nila dan ikan mas. Mengingat tingginya permintaan terhadap dua jenis ikan air tawar tersebut, sektor budidaya pun semakin bergairah.

Berdasarkan tinjauan ekonomis, harga ikan mas terbilang tinggi. Apalagi jika terjadi kelangkaan pasokan, seperti terjadinya fluktuasi karena perubahan musim. Sama halnya, ikan nila, terutama jenis nila merah, akhir-akhir ini mengalami lonjakan.

Dalam aspek budidaya, ibaratnya dua sahabat, ikan mas dan nila sering dibudidayakan secara bersamaan, terutama pada media keramba jaring apung (KJA). Pada bagian atas dipelihara ikan mas, sementara ikan nila berada jaring bagian bawah.

Hal ini beralasan karena ikan nila diketahui sebagai pemakan detritus dan plankton. Di samping itu, ikan ini juga memakan sisa pakan mas dari jaring bagian atasnya. Dengan metode demikian, jumlah pakan yang tidak termanfaatkan dapat ditekan.

Contoh feeding program untuk pakan terapung (PT Matahari Sakti)

Tingkatkan efisiensi pakan pada ikan mas dan nila

Berdasarkan hasil wawancara dengan Irwan Dwi Susatyo, yang menjabat sebagai Laboratory  & Fish Technical Support PT Matahari Sakti, pengaturan pola pemberian pakan dapat dilakukan dengan feeding program atau progam pemberian pakan.

Caranya seperti yang tertera pada kemasan masing-masing produk pakan ikan yang sudah menyertakan feeding rate. Penjelasan ini dapat dijadikan acuan ketika memberi pakan. “Dari takaran tersebut, dapat diterapkan pemotongan 10 – 20% pada setiap kali pemberian pakan,” papar Irwan.

Alternatifnya, masih menurut Irwan, dapat juga dilakukan dengan takaran yang sudah dihitung pakan yang diberikan secara ad-libitum. Hanya saja, metode ini memerlukan waktu sedikit lebih lama karena proses pengamatan terhadap aktivitas ikan selama menyantap pakan dan kondisi pakan di permukaan perairan (habis atau sisa).

Pellet tenggelam atau terapung?

Menurut Irwan, pada dasarnya, pakan pellet baik jenis tenggelam maupun terapung dapat digunakan untuk kedua jenis ikan tersebut. Akan tetapi, para pembudidaya dua ikan tersebut lebih banyak menggunakan pakan jenis tenggelam dalam praktiknya.

Hal ini karena berkaitan dengan beberapa pertimbangan. Pertama, pakan pellet terapung rentan terbawa arus/gerakan air, baik akibat tiupan angin maupun karena aliran. Sehingga, pakan akan terbawa keluar dari KJA sehingga penggunaannya lebih boros. Di samping itu, pakan jenis tenggelam juga harganya lebih murah sehingga penggunaannya dapat mengurangi biaya.

Akan tetapi, penggunaan pellet tenggelam bukan berarti tanpa kelemahan. Dalam aplikasinya di KJA, pellet yang ditebarkan tidak semua disantap ikan budidaya. Ada sebagian pakan yang belum sempat termakan dan langsung bergerak ke dasar perairan.

Hal ini tentu saja dapat mengurangi efisiensi pakan karena pakan tersebut akan menjadi endapan di dasar perairan. Untuk mengurangi jumlah pakan yang langsung tenggelam tersebut, para pembudidaya menerapkan KJA berlapis di bagian bawah petak yang utama.

Biasanya, mereka memelihara ikan nila pada lapisan bawah, sementara KJA tingkat atas diisi ikan mas. Sehingga, pakan yang tak termanfaatkan di KJA lapis atas akan disantap oleh nila yang mengisi KJA lapisan di bawahnya.

Kandungan nutrisi pellet

Pakan buatan berupa pellet diracik berdasarkan peruntukannya. Artinya, kandungan nutrisi yang ada di dalamnya disesuaikan dengan karakteristik ikan yang dibidik. Sebagai contoh, pakan yang diproduksi untuk ikan pada awal-awal pertumbuhan mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan pakan untuk ikan dewasa.

Di samping itu, pellet untuk ikan herbivora (pemakan tumbuhan) berbeda kandungan nutrisinya dengan ikan yang bersifat karnivora (pemakan bahan hewani), omnivora (pemakan segala), dan lain sebagainya.

Terkait ikan nila dan mas, Irwan mengungkapkan, ikan nila dipandang lebih bersifat omnivora, sementara itu ikan mas lebih bersifat herbivora. “Dengan demikian, kebutuhan protein pakan ikan nila lebih tinggi daripada ikan mas,” ungkapnya. Selain protein juga membutuhkan lemak, mineral dan vitamin guna menyempurnakan komposisi pakan dalam mendukung perkembangan ikan nila dan mas.

Pentingnya suplemen pakan nila dan mas

Selain pakan, keberadaan suplemen sangat penting untuk menunjang pertumbuhan, baik ikan nila maupun ikan mas. Beberapa jenis suplemen yang penting adalah vitamin C. Suplemen ini bersifat immunostimulant.

Fungsinya untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Di samping itu, beberapa suplemen yang bersifat imunostmulant lainnya yaitu β-glucan dan mineral. Penting diketahui, bahwa suplemen tidak harus berasal dari produk pabrik/ komersial.

Akan tetapi, pembudidaya dapat memanfaatkan herbal sebagai suplemen untuk ikan. lebih lanjut, Irwan memaparkan, bahan alami seperti bawang putih, kunyit dan temulawak merupakan beberapa dari sekian herbal yang dapat dimanfaatkan untuk suplemen pakan.

Bahan-bahan tersebut disamping sebagai bahan antibakteri alami juga bersifat bersifat sebagai antibiotika alami juga berfungsi sebagai atraktan dan imunostimulant. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian perikanan yang dilakukan salah satu universitas di Mesir, penggunaan bawang putih dalam campuran pakan dapat meningkatkan budidaya ikan nila.

Salah satunya adalah penambahan rasio berat badan, penigkatan perilaku hewan ke arah yang lebih baik. Lebih jauh lagi, allicin, kandungan senyawa dalam bawang putih terbukti sebagai zat anti-virus, anti-bakteri, anti-jamur, dan anti-protozoa, aktivitas yang sangat menguntungkan budidaya perikanan. Bawang putih pun kaya akan kandungan kalsium (Ca), karbohidrat, fosfor (P), zinc (Zn), dan zat besi (Fe), sejumlah mineral yang diperlukan di dalam tubuh ikan. (noerhidajat)

Pakan Penentu Maturasi

Induk udang membutuhkan kandungan nutrisi lebih untuk proses pematangan sel telur dan juga sperma. Terlebih dari itu induk udang dengan kualitas prima akan menghasilkan anakan yang juga memiliki kualitas baik.

Selain dengan rekayasa genetik untuk menghasilkan turunan bebas penyakit (SPF) dan tahan terhadap penyakit (SPR) juga ditentukan oleh kualitas nutrisi pakan. Pada tahap perkembangan telur, pakan menjadi penyumbang nutrisi yang penting bagi induk udang, yang mendukung untuk proses pematangan sel telur dan juga sperma.

Perekayasa Pertama Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem, R.A. Media Graha Siswi Wardhana, mengatakan pakan diberikan dengan sekenyangnya atau adlibitum, biasanya pada kisaran dosis 30-50% biomasa induk udang/hari, dengan frekuensi 4-5 kali/hari.

Lanjutnya, jumlah pakan induk yang diberikan bisa fluktuatif mengikuti nafsu makan. Hal itu penting, karena kekurangan pakan akan menyebabkan terhambatnya perkembangan gonad, rusaknya sperma, sehingga bisa mengakibatkan menurunnya fekunditas dan fertilitas.

Sebaliknya jika berlebihan dalam pemberian pakan akan tidak efisien dan merusak lingkungan, kotor, air keruh, berbuih dan bau tidak sedap. Dengan kodisi ini induk udang juga akan terganggu kesehatannya dan bisa berdampak rusaknya sistem reproduksinya.

Jenis Kelamin

Jenis kelamin, kata Media berpengaruh terhadap pola pemberian pakan induk. Induk betina diberi pakan berupa cacing nereis dengan frekuensi yang lebih banyak dibanding dengan tiram atau cumi (3:2). Artinya dalam sehari induk betina diberi pakan berupa cacing nereis sebanyak 3 kali dan pakan tiram/cumi sebanyak 2 kali.

Hal ini berkebalikan dengan induk jantan yang memiliki perbandingan pakan cacing nereis dan tiram laut/cumi adalah 2:3. Perbedaan ini berhubungan dengan proses pematangan gonad pada induk betina. Cacing nereis memiliki kandungan protein tinggi dan asam lemak tak jenuh yang sangat diperlukan oleh induk betina dalam proses pematangan gonad.

Kesesuaian pakan yang diberikan terhadap induk udang dapat dilihat dari respon induk terhadap pakan yang diberikan yaitu udang aktif mencari pakan sesaat setelah diberikan. Jika setelah 2 jam sisa pakan masih kelihatan banyak (> 20%), maka berarti kelebihan pakan perlu dikurangi, sebaliknya jika pakan telah habis sebelum 1 jam, maka berarti kurang pakan, sehingga jumlah pakan berikutnya bisa ditambah.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Atur Pola Pemberian Pakan, Raih Hasil Optimal

Untuk mencapai hasil yang optimal, pemberian pakan pada udang perlu memperhatikan aspek-aspek yang terkait dengan teknologi budidaya yang digunakan, umur dan ukuran udang, dan kondisi lingkungan yang ada.

Agar pakan dapat dimanfaatkan secara efisien bagi pertumbuhan udang secara optimum, pakan yang diberikan harus berkualitas baik. Menurut Ketua Kelompok Peneliti Nutrisi, Balai Riset Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan, Maros, Sulawesi Selatan, Usman, faktor penentu kualitas tersebut antara lain kandungan nutrisi yang seimbang (makro dan mikro nutrient, misalnya asam amino dan asam lemak essensial, kolesterol, fosfolipid, vitamin, mineral, carotenoid,  serta energi), memiliki nilai kecernaan yang tinggi, daya atraktan tinggi serta water stability yang baik. Di samping itu, pakan yang akan diberikan tidak boleh disimpan terlalu lama. Agar kandungan nutrisinya tidak rusak, penyimpanan pakan tidak boleh melebihi 3 bulan sejak diproduksi. Tempat penyimpanan pakan yang baik di antaranya tidak kena matahari langsung, kering dan suhunya tidak panas (<30oC).

Menurut Usman, pemberian pakan juga perlu memperhatikan aspek efisiensi dan kelestarian lingkungan. Untuk itu, sebaiknya pakan diberikan tidak sampai 100% ikan kenyang. Pasalnya, ketika udang sudah benar-benar kenyang, pasti ada pakan yang tersisa sehingga dapat menjadi limbah yang mencemari lingkungan. Di samping itu, tingkat kecernaan pakan juga cenderung menurun ketika kondisi udang kenyang. Namun cara makan udang yang lambat dan habitanya banyak di dasar tambak menyebabkan sangat sulit memantau tingkat kekenyangannya. Hal ini berbeda dengan ikan yang dapat langsung diamati ketika diberi pakan karena dapat langsung dipantau. Oleh karena itu, pemberian pakan pada udang hanya didasarkan atas persentase dari total biomassanya dan sangat diperlukan pemasangan anco (tray pakan) yang cukup di tambak. Idealnya, setiap hektar lahan tambak dipasang anco sebanyak 6 hingga 8 buah.

 

Akibat pemberian pakan berlebih

Lebih lanjut Usman menuturkan, pola pemberian pakan akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan oleh udang. Dalam arti bahwa jika dosis dan frekuensi pemberian pakannya kurang, maka tingkat konsumsi pakannya akan rendah (pertumbuhan lambat). Tetapi jika dosis pemberian pakannya tinggi, maka udang akan memakan pakan sampai kenyang (tetapi akan ada sisa pakan yang tidak termakan). Pemberian pakan berlebih akan menyebabkan paling tidak dua kerugian yaitu merusak kualitas air, menaikkan rasio konversi pakan. Sehingga menyebabkan biaya untuk pakan membengkak. Penumpukan pakan yang tidak termakan dapat merusak kualitas air dan dasar tambak. Sehingga secara tidak langsung akan menurunkan nafsu makan dan kesehatan udang.

Agar proses pemberian pakan memberikan hasil yang optimum, maka perlu adanya peralatan yang dapat menjamin kualitas air selalu dalam kondisi optimum, antara lain kincir atau sejenisnya, pompa, dan alat pengukur kualitas air. Selanjutnya, memberi pakan secara tepat sesuai dosis dan waktu (frekuensi), dan memonitor nafsu makan udang setiap waktu pemberian pakan (memasang anco, sekitar 6-8 buah/ha). Jika pakan tersisa, takaran perlu dikurangi. Akan tetapi, jika kebalikannya, pakan cepat habis, takaran atau jumlah pakan perlu ditambah. Seperti yang dituturkan oleh Usman, berikut ini adalah acuan umum dalam pengelolaan pakan untuk udang yang dibudidayakan secara semi intensif  dan intensif. Pola pemberian pakan juga perlu mempertimbangkan sifat udang yang lambat makan, dan lebih aktif pada malam hari, terutama udang windu. menghindari nutrient pakan banyak tercuci dalam air (larut), lama waktu pakan tercerna dalam usus udang, sifat udang yang banyak aktif pada waktu malam hari (khususnya udang windu), dan keberadaan pakan alami di dalam tambak.

Selanjutnya Baca di majalah Info akuakultur

Campur Pellet Dengan Ikan Rucah, Turunkan Biaya Pakan

Permintaan pasar terhadap produk perikanan laut seperti bawal dan kerapu terus meningkat. Sementara itu, daya dukung lingkungan terhadap perikanan tangkap semakin menurun akibat penangkapan yang melampaui kapasitasnya (overfishing). Sehingga, budidaya laut (marine culture) menjadi solusi ketimpangan tersebut

Budidaya ikan laut sudah dikenal masyarakat pembudidaya terutama untuk jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi, antara lain ikan bawal, ikan tenggiri, dan lain-lain. Seiring dengan kemajuan dan meningkatnya budidaya laut (marine culture), produktivitas pun semakin ditingkatkan. Salah satu aspek produktivitas tersebut di antaranya adalah efisiensi penggunaan pakan dan biaya yang dikeluarkan. Sebagaimana diketahui secara umum, pakan menjadi salah satu masalah utama dalam budidaya, termasuk dalam hal ini perikanan budidaya laut. Tidaklah mengherankan, hal ini karena biaya pakan mencapai 80% dari biaya operasional yang dikeluarkan oleh pembudidaya. Hal ini terutama terjadi untuk budidaya perikanan intensif di mana pemberian pakan untuk ikan dilakukan secara intensif menggunakan pakan komersial, terutama jenis pellet.

Sementara itu, kualitas pakan untuk perikanan laut dituntut berkualitas tinggi. Hal ini di antaranya adalah dengan adanya kandungan protein yang tinggi. Pasalnya, ikan laut membutuhkan protein yang lebih banyak daripada perikanan air tawar dalam pertumbuhannya. Mengingat dalam budidaya perikanan intensif pasokan nutrisi berasal dari pakan, konsekuensinya, pakan harus mengandung jumlah protein yang mencukupi. Dengan demikian, kandungan protein yang cukup menjadi kunci utama dalam tinjauan nutrisi pakan.

Dalam budidaya perikanan laut intensif, pakan buatan menjadi pilihan utama, misalnya saja pakan berbentuk pellet. Sayangnya, kandungan protein pakan pellet menjadi penentu tinggi rendahnya harga. Semakin tinggi kandungan protein pakan, semakin mahal harga pellet tersebut. Padahal, kandungan protein menjadi penentu pertumbuhan optimal ikan budidaya. Sehingga, Untuk menyiasati mahalnya harga pakan pellet, maka dilakukan dengan metode pencampuran pellet dengan bahan baku pakan lain yang harganya labih murah. Hal ini tentu saja dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan pakan yang cukup. Akan tetapi, bagaimanakah kualitas pakan tersebut? apakah pencampuran tersebut mempengaruhi kualitas pakan? Menjawab pertanyaan tersebut, beberapa peneliti yang terdiri dari Salsal Purba, Endang Widiastuti, Joni Agus Rusdian mengkaji pengaruh pencampuran pakan tersebut terhadap laju pertumbuhan ikan kakap putih dalam budidaya laut. Ujicoba dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, Jembatan III Pulau Setoko, Batam, Kepulauan Riau.

Pencampuran pellet dan ikan rucah

Salsa Purba dan kawan-kawan melakukan uji coba pencampuran pakan pellet dengan bahan baku ikan rucah untuk pakan ikan kakap. Pakan pellet dapat menghasilkan ikan tumbuh dengan optimal karena kandungan nutrisinya yang sudah dirancang. Hal ini dapat diketahui dengan rendahnya rasio konversi pakan yang mencapai 2. Sementara itu, ikan yang diberi ikan rucah saja membengkakkan angka rasio konversi pakan menjadi 6. Artinya, untuk mendapatkan pertambahan bobot ikan budidaya seberat 1 kg, diperlukan 6 kg ikan rucah. Untuk menyiasati harga pakan pellet yang tinggi, pencampuran pakan menjadi salah satu alternatif.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Mengenal Ragam Pakan Ikan Jenis Pelet

 

Mahalnya biaya bahan baku pakan, merupakan salah satu yang mempengaruhi harga jual pakan ikan kepada para pembudidaya ikan. Tingginya biaya bahan baku ini tidak dapat dilepaskan dari banyaknya bahan yang harus diimpor dari negara lain.

Meskipun memiliki kecenderungan penurunan, misalnya tepung ikan, pasokan utama bahan baku ini masih mengandalkan impor, di antaranya dari Negara Peru dan Chili. Selain bahan baku tersebut, bungkil kedelai pun masih mengandalkan impor dari Amerika Latin. Kondisi seperti ini menyebabkan industri pakan untuk perikanan tidak stabil karena fluktuasi harga bahan baku yang kerap terjadi.

Padahal, Indonesia sebagai negara tropis, memiliki banyak sekali potensi bahan baku pakan. Di laut Indonesia, banyak jenis ikan, salah satunya jenis lemuru yang dapat dijadikan sebagai bahan baku tepung ikan. Di darat, sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia banyak menghasilkan bungkil kelapa sawit, bahan yang dapat dijadikan media budidaya maggot, belatung yang digadang-gadang berpotensi sebagai bahan baku sumber protein. Di perairan air tawar, tumbuhan air azolla, dapat berkembang subur, lagi-lagi sebagai bahan baku penyedia protein.

 

Lebih jauh lagi, bahan baku ini tidak hanya berasal dari sumber utama. Sebagai gantinya, bahan baku pakan ikan dapat diperoleh dari produk samping kegiatan utama. Sebagai contoh, bahan baku jagung yang masih mengandalkan impor sebagai sumber karbohidrat dapat diganti dengan dedak yang merupakan produk samping dari kegiatan penggilingan padi. Bahan baku tepung ikan sebagai sumber protein pakan dapat diperoleh dari hasil samping industri pengolahan ikan dan udang yang berupa ikan rucah, sisa-sisa udang, cangkang udang dan lain-lain.

Pakan ikan komersial

Di pasaran, pakan ikan dijual dalam beragam bentuk dan ukuran. Namun secara umum, pakan ikan diproduksi dalam bentuk pakan kering, larutan, dan pakan basah (pasta). Pakan kering bisa berbentuk tepung (serbuk) atau pelet. Pakan yang berbentuk tepung biasanya diperuntukkan bagi benih-benih ikan yang berukuran cukup kecil. Sementara itu, pakan yang berbentuk pellet tersedia dalam berbagai ukuran, tergantung dari jenis ikan yang dipelihara. Pakan berukuran besar digunakan untuk jenis ikan yang berukuran besar pula.

Pakan kering banyak digunakan dan cukup akrab di kalangan pembudidaya ikan. Ini karena pakan kering memiliki masa simpan yang relative lebih lama dibanding pakan basah karena kandungan airnya yang rendah. Sementara itu, pakan yang berbentuk pasta, karena berkadar air tinggi, tidak dapat tahan lama jika disimpan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur

Tekan Biaya Pakan Bandeng dengan Katalisator Enzimatik

Tak selalu pakan tinggi protein akan memacu pertumbuhan dan menghasilkan keuntungan lebih besar. Faktanya, dengan katalisator enzimatik, pakan rendah protein pun bisa hasilkan efisiensi keuntungan tiga kali lipat pada budidaya bandeng sistem ekstensif.
Umumnya, budidaya ikan bandeng yang berkembang di masyarakat menggunakan cara ekstensif. Sumber pakan andalan dalam sistem ini dari penumbuhan pakan alami seperti klekap dan plankton. Sayangnya, keuntungan yang didapat dalam pemeliharaan ikan bandeng cukup rendah sehingga budidaya bandeng sulit berkembang. Padahal, pendekatan biokonomik memperlihatkan bahwa ikan bandeng ternyata memberikan keuntungan yang sangat menjanjikan.
Menurut Erik Sutikno, Perekayasa Madya pada Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, teknologi ekstensif dari hasil uji penambahan enzim katalisator pada pakan ternyata memberikan keuntungan berlipat dibandingkan teknologi ekstensif pada umumnya. Jika budidaya dengan teknologi ekstensif pada umumnya menghasilkan 1.500 kg per hektar setiap 4—5 bulan dengan ukuran 5—6 ekor/kg, aplikasi penambahan katalisator enzimatik menghasilkan bandeng dengan ukuran 3—4 ekor dama masa pemeliharaan 3 bulan. Sementara keuntungan yang dihasilkan antara Rp 27.450.000—Rp 31.900.000 juta per 3 bulan atau setara dengan Rp 82.350.000—95.700.00 per tahun.
Beda ikan, beda kebutuhan
Menurut Erik, perkembangan budidaya ikan bandeng sejak lama mengalami pergeseran paradigma nutrisi. “Pada saat pembudidaya ingin meningkatkan produksi, sifat herbivora ikan bandeng digeser ke arah omnivora atau karnivora, yaitu dengan cara memasukkan unsur tepung ikan ke dalam diet pakan,” ujarnya.
Pakan ikan bandeng yang beredar di lapangan saat ini bervariasi dengan kandungan protein antara 15—25%. Paradigma yang berkembang bahwa semakin tinggi kandungan protein dalam pakan akan mempercepat pertumbuhan ikan yang dipelihara. Akibatnya, petambak melakukan itu walaupun akhirnya nilai profit margin-nya menjadi rendah. Rendahnya margin ini mengakibatkan budidaya ikan bandeng bukan dianggap sebagai bisnis utama.
“Pendekatan biokonomik sangat diperlukan untuk mengevaluasi penggunaan pakan formula atau pakan buatan. Benar pertumbuhan ikan ditentukan oleh tingginya protein? Ternyata, tidak selamanya berlaku pada semua jenis ikan. Biaya peningkatan protein dari sumber ikan cukup mahal, yaitu sekitar Rp 250 per 1 persen protein. Dengan pemahaman anatomi dan fisiologis ikan lebih mendalam dapat merubah paradigma tersebut,” terang Erik.
Pertumbuhan ikan merupakan ekspresi dari perbanyakan sel kompleks tubuh suatu organisme. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perbanyakan sel tubuh, salah satunya yaitu tercukupinya kebutuhan energi seperti Adenosin TriPospat (ATP) yang berasal dari kelompok karbohidrase. Perubahan energi tergantung dari kemampuan aktivasi katalisator dalam pencernaan ikan. Struktur pencernaan akan menentukan proses biokimiawi dalam mengubah substrat menjadi produk energi.
Ikan bandeng memiliki sifat eksotik, pertumbuhannya yang terhenti beberapa waktu akan kembali berkembang normal saat mendapat lingkungan yang baik dan makanan yang sesuai dalam jumlah cukup. Aktivitas enzimatik dalam pencernaan mulai terbentuk saat ikan mulai lapar. Semakin merasa lapar, produksi enzim dalam pencernaan semakin meningkat.
Enzim berperan sebagai katalisator untuk merubah subtrat menjadi produk energi dan energi sangat diperlukan untuk perbanyakan sel sebagai expresi pertumbuhan. Enzim pencernaan ikan bandeng didominasi oleh karbohidrase, terbukti dari penampakan ususnya yang sangat panjang.
Jumlah enzim paling banyak ditemukan di bagian depan usus. Semakin mendekati anus, jumlah enzim yang dihasilkan semakin sedikit. Ketidakcukupan enzim mengakibatkan pakan buatan tidak dapat dicerna. Pada penggunaan pakan berprotein tinggi, pencernaan ikan tidak mampu merubah menjadi energi sehingga akan menghasilkan sampah yang banyak.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Budidaya Bawal Bintang, Lebih Efisien dengan Pakan Campuran

Pakan ikan untuk budidaya laut dinilai masih cukup mahal dibandingkan pakan untuk ikan air tawar. Namun, pengujian yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Laut Batam pada 2014 menunjukkan bahwa pemberian pakan campuran bisa menekan biaya pengadaan pakan bawal bintang hingga 40%!

Demikian ungkap Koordinator Fungsional, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Ir. Muh. Kadari, MSi., dalam tulisan ilmiah yang ditulisnya bersama Hebdrianto dan R. Pramuanggit. Kadari melanjutkan bahwa bila dihitung, terdapat perbedaan yang sangat nyata antara harga pakan campuran (mix) dan komersial di Batam, Kepulauan Riau. “Harga pelet campuran Rp 8.500/kg, sedangkan pelet komersial ikan laut merk tertentu mencapai Rp 21.000/kg. Dari sisi hasilnya, pakan campuran menghasilkan pertumbuhan yang tidak terlalu jauh dibandingkan pakan komersial.”

Prospek bawal bintang dan efisiensi pakan

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) merupakan salah satu ikan laut yang semakin bernilai ekonomis. Ikan ini memiliki prospek pemasaran yang bagus di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

Setelah keberhasilan pembenihan skala massal yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, permintaan benih ikan bawal bintang semakin banyak. Hal ini tak lepas dari keunggulan jenis ikan ini, yaitu mudah dibudidayakan; tidak memerlukan waktu lama untuk membesarkan hingga mencapai ukuran konsumsi; dan harganya relatif tinggi, baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Mengimbangi potensinya ekonomisnya, pertumbuhan bawal bintang yang optimal tentu tak lepas dari peran pakan yang diberikan. Pakan yang baik harus memenuhi nilai gizi atau nutrisi bagi ikan. Menurut Kadari, mengenal kebutuhan nutrisi ikan merupakan landasan dalam pembuatan pakan ikan sendiri karena setiap ikan membutuhkan nilai gizi yang berbeda. Oleh karena itu, ikan perlu diberi makan dengan makanan yang mengandung kadar nutrisi yang memadai. Nutrisi yang harus ada pada ikan adalah protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin.

Pakan dengan keseimbangan nilai gizi tersebut untuk memenuhi kebutuhan ikan dan memacu pertumbuhan ikan agar cepat besar. Kekurangan nutrisi membuat pertumbuhan ikan lambat dan berakibat pada membengkaknya biaya dan waktu panen yang cukup lama.

Sekira 50% dari kebutuhan kalori yang diperlukan oleh ikan berasal dari protein. Bahan ini berfungsi untuk membangun otot, sel-sel, dan jaringan tubuh, terutama bagi ikan-ikan muda. Kebutuhan protein sendiri cukup bervariasi, tergantung pada jenis ikannya. Secara umum, protein merupakan unsur kunci yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan pada seluruh jenis ikan.

Berdasarkan kebutuhan ikan terhadap protein, secara garis besar banyaknya dosis protein bisa dikelompokkan menjadi empat kelompok. Kelompok I adalah ikan herbivora dengan kebutuhan protein berkisar 15—30% dari total. Kelompok II ikan karnivora dengan kebutuhan protein 45%. Kelompok III ikan omnivora dengan kebutuhan protein 35—42%. Sementara Kelompok IV adalah ikan-ikan muda dengan diet pakan mengandung protein 50%.

Dibandingkan pakan untuk ikan air tawar, pakan untuk ikan air laut dinilai masih cukup mahal, terlebih di wilayah Kepulauan Riau. Di daerah ini, suplai pakan ikan laut sangat terbatas dan relatif lebih sulit memperolaehnya dibandingkan pakan komersial ikan air tawar. Namun di sisi lain, ketersediaan ikan rucah (trash fish) cukup melimpah.

“Untuk menjembatani hal tersebut, diperlukan kajian penggunaan kedua bahan ini, yaitu menerapkan pakan campuran pelet ikan air tawar dan rucah pada penggelondongan ikan bawal bintang yang dipelihara di keramba jaring apung,” papar Kadari.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur