Ragam Peralatan dalam Pembenihan Kepiting Bakau

Meskipun survival rate (SR) yang didapatkan masih sangat rendah, BBPBAP Jepara mampu memproduksi benih kepiting bakau (Scylla sp.) sekitar 25.000—30.000 ekor crablet per siklus produksi. Sementara benih rajungan yang dihasilkan 100.00 ekor crablet per siklus. Apa saja sarana yang dibutuhkan?
BBPBAP Jepara sudah mengembangkan pembenihan kepiting bakau dari tahun 1994 dan menerima penghargaan dari Presiden Soeharto, presiden RI saat itu. Selanjutnya, pengembangan terus dilakukan hingga tahun 2000 dengan melakukan kerjasama penelitian di bidang pembenihan kepiting bakau bersama Belgia. Sempat dihentikan pada tahun 2009, kegiatan ini diaktifkan kembali pada tahun 2015 untuk memberi solusi terhadap keluarnya PERMEN KP No.1 tahun 2015 tentang pelarangan penangkapan kepiting bakau, rajungan, dan lobster.
Untuk mendukung keberhasilan usaha pembenihan kepiting bakau, terdapat sarana dan prasarana yang perlu disiapkan. Lisa Ruliaty, S.Pi, perekayasa madya di BBPBAP Jepara, mengungkapkan bahwa terdapat beberapa bahan dan peralatan yang perlu disiapkan dalam melakukan pembenihan kepiting bakau sesuai dengan tahapannya. Berikut bahan dan peralatan pembenihan udang berdasarkan fase pemeliharaannya.
Tahap pemijahan
Pada tahap pemijahan, sarana yang dibutuhkan adalah bak pemeliharaan induk dan bak pengeraman atau inkubasi. Bak pemeliharaan induk terbuat dari beton/fiber persegi empat atau bundar dengan kapasitas 5—10 ton atau 5—10 m3 dengan kedalaman bak minimal 50 cm. Dasar bak diberi substrat berupa pasir sebagai tempat berlindung bagi induk kepiting. Untuk menghindari perkelahian, induk bisa dipelihara dalam sekat-sekat kayu atau bambu yang diletakkan dalam kolam dengan kepadatan 2—3 ekor per meter persegi.
Air media yang digunakan sebagai media pemeliharaan induk merupakan air laut yang telah melalui tahap filtrasi dan sterilisasi dengan menggunakan kaporit atau klorin. Sterilisasi membutuhkan 10—15 ppm kaporit. Selain itu, sterilisasi bisa menggunakan natrium thiosulfat sekitar 5—7,5 ppm.
Baskom dibutuhkan untuk aklimatisasi dan desinfeksi induk kepiting. Untuk desinfeksi, induk direndam dalam baskom berisi 50 ppm formalin (1 ml formalin dalam 20 liter air) selama 5 menit. Sementara timbangan dibutuhkan untuk mengetahui bobot induk agar penentuan dosis pakan selama pemeliharaan induk bisa lebih efisien.
Saat ablasi atau pemotongan tangkai mata, alat yang digunakan adalah gunting untuk memotong, yang telah disterilisasi dengan alkohol. Cat spray digunakan untuk penanda atau tagging pada karapas kepiting bagi induk yang sudah diablasi. Adapun sterilisasi luka bekas pemotongan menggunakan larutan kalium permanganat (PK) sebanyak 30 ppm (0,6 g dilarutkan dalam 20 liter air laut steril), yang dipakai untuk merendam induk selama 5 menit.
Setelah memasuki kematangan gonad (TKG) III, induk dipindahkan ke bak pengeraman atau inkubasi. Kepadatan induk pada fase ini adalah 1 ekor per meter persegi. Bak pengeraman terbuat dari plastik atau fiber berbentuk silinder dengan kapasitas 100—200 liter. Sementara ketinggian air bak minimal 50 cm, dilengkapi satu titik aerasi.
Larutan formalin 50 ppm (1 ml formalin dalam setiap 20 liter air laut) diperlukan untuk merendam induk yang akan dimasukkan dalam bak pengeraman. Proses perendaman selama 10 menit. Peralatan sifon diperlukan untuk membersihkan air setiap 2—3 hari, disertai penggantian air sebanyak 50%, hingga telur menetas. Pembersihan ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi bibit penyakit dari pakan segar terhadap telur yang sedang dierami.
Setelah 10—12 hari masa pengeraman, telur akan menetas. Larva yang sehat akan berenang di kolom air dan bergerak ke arah permukaan air karena fototaksis positif terhadap cahaya. Sementara larva yang mati atau sehat mengendap di dasar. Diperlukan penyifonan untuk membuang larva yang mengendap.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Ragam Alat Kultur Pakan Alami untuk Benih Ikan Laut

Pada kegiatan pembenihan ikan laut, pakan alami merupakan kunci keberhasilan yang mutlak harus ada terutama pada stadia awal larva ikan laut. Keberadaannya sudah tersedia di alam. Cukup memperbanyak sesuai kebutuhan. Apa saja peralatan yang dibutuhkan?

Dalam hal penyediaan pakan alami untuk benih ikan laut, Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung telah lama berhasil melakukan kultur pakan alami. Menurut Emi Rusyani dari BBPBL Lampung, pakan alami yang ada di BBPBL Lampung terbagi menjadi dua kelompok, yaitu fitoplankton dan zooplankton.

Jenis-jenis fitoplankton yang sudah dibudidayakan secara massal di antaranya Nannochloropsis oculata, Chlorella vulgaris, Botryococcus sp., Tetraselmis chuii, Dunaliella salina, Spirulina plantensis, Chaetoceros calcitrans, Thallasiosira sp., Nitzschia sp., Isochrysis sp.  dan Pavlova sp.

Sementara ragam jenis zooplankton yang sudah bisa dibudidayakan secara massal antara lain Rotifera (Brachionus plicatilis); Kopepoda (Akartia sp., Oithona sp., dan Tigriopus sp.); dan kutu air laut (Diaphanosoma sp.).

Fitoplankton dibudidayakan untuk pakan zooplankton dan pakan teripang. Sementara zooplankton digunakan sebagai pakan larva ikan kakap (kakap merah dan kakap putih), kerapu (kerapu macan dan kerapu bebek), cobia, bawal bintang, dan ikan hias  nemo, blue devil, dan cardinal banggai).

Waktu pemeliharaan pakan alami berbeda untuk tiap skala atay tahapannya. Untuk skala laboratorium, lama pemeliharaan berkisar 7—14 hari, skala menengah atau semimassal 5—10 hari, dan pada skala massal 4—5 hari.

Ragam alat kultur

Keberhasilan kultur pakan alami yang telah dilakukan BBPBLLampung tak lepas dari sarana dan prasarana yang mendukung proses budidaya. Lebih lanjut Emi mengatakan bahwa peralatan yang dibutuhkan dalam kultur pakan alami tertera pada Tabel Alat KulturPakan Alami.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Budidaya Udang Vaname Lebih Untung Pakai Ecoshrimp Busmetik

Selain risiko kegagalan budidaya rendah, waktu setting persiapan lahan budidaya dengan Busmetik pun sangat singkat. Hanya 7—10 hari!

Dimulai sejak Tahun 2010 di tambak latih BAPPL STP Serang, pengembangan Busmetik telah melalui berbagai penyempurnaan. Saat ini, penggunaan Busmetik telah  diadopsi oleh masyarakat di beberapa daerah pendampingan seperti Lampung, Pacitan, Serang, Pulau Sebatik, dan daerah lainnya.

Berbicara soal budidaya udang yang efektif, efisien, dan menguntungkan secara finansial, permasalahan budidaya udang berwawasan lingkungan (ecoshrimp) merupakan hal penting yang harus diperhatikan.

Ecoshrimp adalah konsep pengembangan usaha budidaya udang dengan pendekatan ekologi, sedangkan Busmetik adalah akronim dari budidaya udang skala mini empang plastik sebagai teknologi yang digunakan. Dengan kata lain, Ecoshrimp-Busmetik adalah teknologi budidaya udang skala mini tambak plastik dengan pendekatan ekologi. Artinya, semua kegiatan budidaya dilakukan dengan pendekatan ekologi, yaitu dengan mengelola keseimbangan ekosistem lingkungan tambak,” terang Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si., Dosen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan Serang.

 

Budidaya udang berwawasan lingkungan merupakan teknologi budidaya udang yang selalu mempertimbangan keberlanjutan sumberdaya alam atau lingkungan dan bermuara pada keberlanjutan usaha. Dengan demikian, semua kegiatan budidaya harus membentuk daur hidup (loop) yang tidak terputus sehingga tidak menghasilkan limbah (zero waste). Konsep ini juga sering dikenal sebagai pendekatan “Blue Economy”.

Sinung melanjutkan, membudidayakan udang atau ikan sama dengan membudidayakan air. Artinya, kemampuan menjaga dan mememelihara air sebagai media hidup udang atau ikan akan menunjang keberhasilan dalam membesarkan udang atau ikan. Untuk itu, perairan sebagai sumber utama media pemeliharaan udang harus dijaga kualitasmya dengan tidak membuang langsung limbah budidaya ke dalamnya.

Spesifikasi

Busmetik merupakan salah satu teknologi budidaya udang yang dikembangkan di BAPPL-STP Serang berdasarkan prinsip-prinsip budidaya yang efektif, efisien, menguntungkan secara finansial, dan wawasan lingkungan. Adapun spesifikasi yang dikembangkan meliputi pemanfaatan lahan dengan luasan 600—1.000 meter persegi. Kawasan terdiri dari 1 tandon sedimentasi (20%), 1 tandon sterilisasi (20%), petak operasional (40%), dan konservasi mangrove (20%). Satu modul tambak dapat terdiri dari 4—5 unit petak tambak, salah satu di antaranya digunakan sebagai tandon sterilisasi. Tambak dilapisi bahan plastik HDPE (high density polyethelene) sebagai wadah budidaya.

Busmetik menggunakan sistem budidaya semi-tertutup dengan tingkatan budidaya mulai dari intensif sampai super-intensif. Teknologi ini tidak menggunakan senyawa kimia atau obat-obatan yang berbahaya dan antibiotik, tetap menjaga keseimbangan mikrobiologis dengan memanfaatkan aktifitas probiotik pada petakan selama pemeliharaan, serta menerapkan biosekuritas untuk menghindari masuknya predator dan vektor penyakit. Secara umum, Busmetik mengendepankan efisiensi dan efektivitas usaha atau kegiatan.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Penerapan Keramba Jaring Apung dalam Budidaya

keramba jaring apung, keramba jaring apung bulat, keramba jaring apung bundar, dermaga apung

Salah satu teknik budidaya dalam akuakultur yang berkembang saat ini adalah Keramba Jaring Apung (KJA). Tidak hanya budidaya ikan, KJA juga dapat diterapkan pada budidaya udang.

Teknologi budidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Budidaya dengan sistem keramba jaring apung mulai dikembangkan di perairan pesisir dan perairan danau. Beberapa keunggulan ekonomis usaha budidaya ikan dalam keraamba jaring apung yaitu: 1) Menambah efisiensi penggunaan sumberdaya; 2) Prinsip kerja usaha keramba dengan melakukan pengurungan pada suatu badan perairan dan memberi makan dapat meningkatkan produksi ikan; 3) Memberikan pendapatan yang lebih teratur kepada nelayan dibandingkan dengan hanya bergantung pada usaha penangkapan.

Berdasarkan laporan yang disusun oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim Republik Indonesia (DNPI) 2014, KJA adalah suatu saraana pemeliharaan ikan atau biota air yang kerangkanyaa terbuat dari bambu, kayu, pipa pralon atau besi bebentuk persegi yang diberi jaring dan diberi pelampung seperti drum plastik atau styrofoam agar wadah tersebut terapung di dalam air. Kerangka dan pelampung berfungsi untuk menahan jaring agar tetap terbuka di permukaan air, sedangkan jaring yang tertutup di bagian bawahnya digunakan untuk memelihara ikan selama beberapa bulan.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

 

 

Ragam Peralatan Pemijahan Ikan Air Tawar

Seiring meningkatnya usaha budidaya ikan air tawar, permintaan terhadap benih ikan pun semakin tinggi. Pasalnya, pasokan benih bagi para pembudidaya adalah salah satu factor yang menentukan keberhasilan bisnis mereka.

Dengan semakin berkembangnya usaha pembenihan ikan air tawar, ragam peralatan pendukungnya pun semakin berkembang dan maju. Dahulu, peralatan terbilang sederhana, terbuat dari bahan-bahan alami, seperti bambu, kayu, dan lain-lain. Namun, sekarang, peralatan tersebut berkembang seiring dengan perkembangan teknologi.

Usaha pemijahan ikan, mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Sebagai contoh, pemijahan saat ini tidak hanya dilakukan secara alami, tetapi juga dapat dilakukan dengan semi-buatan hingga buatan dengan bantuan penyuntikan hormon dan lain-lain.

Peralatan penunjang pun tidak kalah maju, jika dahulu hanya mengandalkan kondisi alam, saat ini kondisi lingkungan bisa dikendalikan dengan penggunaan aerator, alat pemanas/pengatur suhu, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini dijelaskan berbagai alat yang menunjang kegiatan pemijahan ikan air tawar.

Bak/kolam induk

Kolam induk berfungsi untuk memelihara indukan ikan sebelum proses pemijahan. Ukuran kolam induk sebaiknya tidak terlalu luas, sehingga memudahkan kegiatan pemantauan. Kolam induk ini harus dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air.

Hal ini untuk memudahkan proses pergantian air dan pengurasan kolam yang dilakukan ketika sudah kotor, kolam indukan terdiri dari dua petak, untuk jantan dan betina. Pada kolam mini, induk jantan ditempatkan terpisah dengan induk betina. Konstruksi kolam tidak harus luas, akan tetapi, kolam harus dalam, sekitar 100 – 140 cm. Pada kolam ini, padat tebar indukan sekitar 3 – 5 ekor/m2

Bak/kolam pemijahan

Kolam pemijahan berfungsi sebagai tempat pembuahan induk betina oleh induk jantan. Dasar kolam dibuat miring dengan sudut 2 – 5 derajat dan dilengkapi dengan kemalir. Kemalir merupakan kubangan yang digunakan induk ikan untuk proses pemijahan.

Dalamnya dapat mencapai 20 – 30 cm dari ketinggian permukaan dasar kolam. Dinding dan dasar bak atau kolam pemijahan sebaiknya dibuat dari semen. Tujuannya agar air tidak mudah keruh dan kotor. Di samping itu, hal ini juga sangat membantu dalam proses pembersihan kolam.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Auakultur

Kincir Berangkai Tenaga LPG Tingkatkan Kesejahteraan Pembudidaya Kecil

“Kincir berangkai tenaga LPG hasil inovasi BPBAP Takalar merupakan solusi bagi para pembudidaya menengah ke bawah. Biaya inventasi yang rendah serta dapat dioperasikan pada segala kondisi lahan, yang layak untuk budidaya udang vaname. Kincir ini jauh lebih hemat dibandingkan kincir listrik maupun solar,” ungkap Ketua Tim Innovator Kincir Berangkai Tenaga LPG Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Guno Gumelar, S.Pi.

 

Udang vaname merupakan komoditas andalan ekspor sektor budidaya saat ini. Berbagai metode telah dilakukan untuk meningkatkan produksi dan hampir semuanya bermuara pada intensifikasi produksi.

 

Intensifikasi produksi udang vaname pada umumnya dilakukan dengan peningkatan padat tebar dan peningkatan sarana produksi. Penggunaan kincir sebagai sarana produksi utama adalah hal yang wajib dalam intensifikasi  budidaya udang vaname.

 

Kendala utama bagi para pembudidaya menengah ke bawah adalah keterbatasan dana  untuk intensifikasi budidaya.  Semakin tingginya biaya pengadaan sarana produksi yang menjadi syarat intensifikasi budidaya, membuat para pembudidaya sulit untuk meningkatkan skala produksinya.

 

Kendala lain yang sering ditemui adalah keterbatasan jaringan listrik yang terdapat di kawasan budidaya, sehingga berdampak pada pemasangan instalasi baru yang sangat tinggi. Beberapa pembudidaya menggunakan tenaga solar dalam menggerakkan kincir, namun tingginya biaya operasional dan ketersediaan solar subsidi yang terbatas menjadi hambatan bagi para pembudidaya.

 

Selain biaya investasi awal yang tinggi, biaya operasional yang tinggi juga menjadi kendala besar dalam intensifikasi. Tingginya tarif dasar listrik dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi momok bagi para pembudidaya dalam mengoperasikan budidaya semi intensif dan intensif.

 

Guno mengungkapkan, “Perlunya solusi yang tepat atas berbagai kendala diatas untuk dapat meningkatkan produksi budidaya udang vaname. Dibutuhkan produk dengan biaya investasi awal yang rendah serta mudah diaplikasikan walaupun pada daerah budidaya yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik.”

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi Mei 2016

Kincir Angin Savonius, Efisien Pasok Oksigen Terlarut Dalam Air

Aspek kecukupan oksigen memegang peranan penting bagi keberhasilan budidaya. Terlebih dalam budidaya udang intensif dan superintensif, di mana kepadatan tebar udang sangat tinggi.

 

Seperti halnya hewan air lain, udang membutuhkan oksigen untuk kelangsungan hidupnya. Begitupula ketika udang dipelihara di dalam petak-petak tambak, keberadaan zat asam tersebut sangat vital. Pada tambak-tambak tradisional, di mana kepadatan udang yang ditebar cukup rendah, pemasangan kincir air tidak begitu diperlukan. Hal ini disebabkan, secara alami, oksigen dari udara dapat mengalami difusi ke dalam air. Jumlah oksigen yang terdifusi secara alami tersebut dianggap cukup untuk memasok kebutuhan oksigen udang yang dibudidayakan.

Namun, hal ini tidak berlaku untuk tambak-tambak intensif dan super-intensif. Pasalnya, populasi udang sudah sangat padat di setiap kolom air. Mengandalkan pasokan oksigen dari difusi dan hasil fotosintesis fitoplankton saja tidak cukup. Oleh karena itu, untuk menambah pasokan oksigen terlarut, pada permukaan air tambak dipasang kincir air.

Sebagaimana diketahui, putaran bilah-bilah kincir akan mengaduk udara ke dalam air. Dengan begitu, proses difusi oksigen ke dalam air menjadi jauh lebih efisien dan efektif dibandingkan mengandalkan proses alami. Oksigen terlarut dalam air pun menjadi lebih tinggi dan dapat mencukupi kebutuhan.

Kincir air lazim digunakan para petambak. Namun, ada beberapa peralatan lain yang memiliki fungsi hampir sama, tetapi prinsip kerjanya sedikit berbeda. Sebut saja air diffuser. Bedanya, kincir air mencampurkan udara ke dalam air sehingga oksigen dapat terlarut. Sementara diffuser menyemburkan udara ke dalam air secara langsung melalui udara bertekanan.

Kebutuhan daya penggerak kincir air

Pepatah orang Jawa Timur, “Jer Basuki Mawa Beya” berlaku dalam hal ini. Artinya, untuk mencapai kebahagiaan (basuki, kesuksesan), diperlukan pengorbanan (beya, biaya). Tak dapat disangkal, upaya untuk memasok oksigen dengan menggerakkan bilah-bilah kincir air membutuhkan beban listrik yang tidak sedikit. Terlebih jika umur udang sudah mencapai 40 hari, kincir angin diputar selama 24 jam per hari, non-stop hingga panen. Tak jarang, biaya pembelian BBM dan pasokan listrik PLN, sebagian besarnya berasal dari operasional kincir air. Hal ini tentu sangat membebani para petambak dengan biaya operasional yang membengkak akibat konsumsi BBM atau listrik PLN.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Tips Pilih Pompa Air untuk Kolam dan Tambak

 

Kebutuhan pompa air tidak dapat dihindari dalam budidaya ikan maupun udang intensif. Terlebih dalam budidaya ikan dan udang, di mana letak sumber lebih rendah dari ketinggian kolam atau tambak. Keberadaan pompa air hampir merupakan sebuah keharusan.

Pasokan air untuk tambak kerap menjadi kendala bagi banyak petambak udang dan pembudidaya ikan. Penurunan kualitas air serta keterbatasan pasokan air dan sirkulasi air, baik dalam pembuangan maupun pemasukan air, merupakan sekian dari banyak kendala yang mereka hadapi. Padahal, air merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam keberhasilan budidaya udang.

Menurut Senior Marketing Executive PT Sun Perkasa Indonesia, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang peralatan tambak, Yuriana, S.E, kendala awal yang dihadapi petambak biasanya posisi tambak yang jauh dari laut. Hal ini diperparah dengan buruknya kualitas air seperti banyaknya lumpur dan limbah dalam air tersebut. Padahal, kualitas air yang baik sangat menentukan kualitas hasil panen yang diperoleh petambak.

#Foto1. Yuriana, S.E., Senior Marketing Executive PT. Sun Perkasa Indonesia

Kendala lain yang sering dihadapi para pembudidaya udang di tambak yaitu pasokan tenaga listrik yang belum sesuai dengan kebutuhan. Tidak jarang, kawasan tambak merupakan daerah terpencil sehingga belum dialiri pasokan listrik PLN. Dalam penyediaan air tambak, para petambak pemula masih belum paham betul cara menentukan spesifikasi pompa yang cocok. Di samping itu, pengetahuan mereka pun masih terbatas dalam menentukan cara yang efisien untuk pengairan tambaknya.

Pompa, pemasok kebutuhan air tambak dan kolam

Pada prinsipnya, pompa air berfungsi untuk mengisap air dari permukaan yang lebih rendah menuju tempat yang lebih tinggi. Umumnya, saat ini pompa air menggunakan tenaga listrik sebagai sumber energi. Terdapat dua aspek penting dalam kinerja pompa air, yaitu daya isap dan daya dorong. Daya isap berkaitan dengan seberapa besar kekuatan pompa dalam mengisap air yang berada di bawahnya. Sementara itu, istilah daya dorong adalah ketinggian maksimum yang dapat dicapai oleh air akibat tenaga dorong dari pompa.

Oleh karena itu, dalam memilih pompa, hal yang perlu diperhatikan adalah kedalaman air yang akan diisap dan berapa tinggi posisi air tersebut dialirkan. Kedalaman air merujuk pada jarak antara posisi pompa dengan permukaan air yang akan diisap. Sementara itu, ketinggian air berarti jarak antara posisi pompa dengan ketinggian tempat air tersebut akan dialirkan.

Kisaran biaya untuk penyediaan air tambak tersebut biasanya tergantung dari seberapa luas tambak yang akan diairi. Di samping itu, banyaknya penggunaan pompa dan seberapa besar daya pompa yang digunakan untuk mengairi tambak tersebut turut menentukan biaya penyediaan air.

Budidaya Krustasea, Lebih produktif dengan Apartemen

Sektor perikanan budidaya merupakan andalan sector perikanan nasional. Hal ini mengingat, produksi akuakultur terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran, di tahun 2014, produksi akuakultur sebesar 16,8 juta ton dan meningkat menjadi 17,9 juta ton pada tahun 2015. Pada tahun 2016 produksi akuakultur Indonesia diperkirakan mencapai  19,5 juta ton atau meningkat 8,93 %.

 

Salah satu andalan sektor perikanan budidaya di antaranya adalah produk dari krustacea, misalnya udang air payau, udang laut, lobster, dan kepiting. Biota golongan Krustasea/Crustacea (hewan yang berkulit keras dan beruas) sangat bergantung pada ekosistem laut, payau maupun air tawar. Udang laut (Penaeus, Metapenaeus), kepiting bakau (Scylla), dan rajungan (Portunus, Charybdis, Thalamita) bergantung pada ekosistem mangrove, lamun, dan estuaria. Sedangkan lobster (Panulirus) dan udang kipas (Thenus) bergantung pada terumbu karang.

 

Namun ekosistem-ekosistem tersebut mengalami kerusakan yang terus berlangsung karena berbagai aktivitas manusia. Kerusakan tersebut menyebabkan menurunnya fungsi ekosistem dalam mendukung stok sumber daya perikanan laut. Kerusakan ekosistem-ekosistem pesisir tersebut juga mengancam kehidupan kota dan desa di pesisir dan pulau, berupa ancaman tenggelamnya pesisir dan pulau-pulau.

 

Akibat dari kerusakan ekosistem aslinya, berkembanglah sistem budidaya, baik untuk air tawar (akuakultur), air payau maupun air laut (marikultur). Di beberapa negara, marikultur bertujuan di samping untuk mencukupi kebutuhan pangan, juga untuk konservasi lingkungan. Sebagai contoh, di AS peternakan laut bertujuan untuk memperbaiki perairan pantai yang kritis dan untuk memenuhi kebutuhan permintaan makanan dari laut, di mana pengembangannya diawali dengan pengembangan teknik pembenihan, perbaikan habitat, dan teknik penebaran benih (Westley et al., 1989).

 

Untuk menjaga kestabilan stok perikanan, dapat juga diterapkan peternakan laut dalam bentuk reservat buatan. suatu wadah pemeliharaan, misalnya KJA (keramba jaring apung), ditempatkan pada lokasi yang cocok kemudian induk-induk ikan dipelihara di dalamnya. Benih yang dihasilkan dari pemijahan induk di dalam KJA langsung menjadi bagian biota untuk peningkatan stok ikan di alam (stock enhancement). Penelitian Ismail et al. (1998) dengan menggunakan kerapu lumpur (Epinephelus suillus) dan kakap mata kucing (Psammoperca waigiensis) menunjukkan bahwa cara ini dapat meningkatkan jumlah tangkapan nelayan.

 Selanjutnya Baca di Majalah Infoakuakultur 

Mengenal Ragam Alas Kolam dan Tambak

Dalam pembuatan kolam atau tambak, pembudidaya ikan dan udang dihadapkan pada beberapa pilihan dalam menentukan alas dasar dan dinding kolam. Sebut saja geomembran, terpal, semen, bahkan biocrete. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Sebagian pembudidaya ikan tradisional masih menggunakan tambak dan kolam dengan dinding tanah untuk merawat ikan-ikannya. Alasannya, faktor ekonomi. Namun, dalam budidaya ikan intensif, penggunaan kolam tanah dipandang memiliki beberapa kekurangan. Misalnya saja masalah tingkat porositas dan permeabilitas tanah yang tinggi. Oleh karena itu, tanah mudah sekali meloloskan air dan kolam selalu kekurangan air. Padahal, pada musim kemarau, air merupakan salah satu sumberdaya yang langka.

Seiring dengan berkembangnya teknologi alat dan mesin perikanan, ragam alas dan dinding untuk kolam pun semakin banyak pilihan. Sebut saja geomembran, lapisan terpal, biocrete, dan tentu saja lapisan semen.

Geomembran

Geomemberan merupakan lapisan kedap cairan sehingga cocok diaplikasikan dalam konstruksi tambak, kolam, dan media akuakultur lainnya. Geomembran mudah dibentuk, disambung, serta diperbaiki dengan menggunakan alat hot wedge, extruder atau las plastik. Salah satu kelebihan lapisan ini yaitu lebih cepat dalam hal instalasi dibandingkan dengan pembuatan beton maupun batu kali. Di samping itu, karakteristiknya yang kedap cairan membuat penggunaan geomembran dapat membantu menjaga lingkungan agar tidak tercemar limbah perikanan.

Lapisan geomembran terbuat dari polimer yang bersifat lentur, fleksibel, memiliki daya tahan terhadap cuaca, tahan terhadap korosi, sinar ultraviolet, dan serangan jamur. Karakteristik lainnya yaitu memiliki titik leleh yang relatif tinggi. Meskipun demikian, fitur ini berbeda-beda berdasarkan produsen pembuatnya.

Dalam budidaya udang di tambak, penggunaan geomembran memiliki beberapa keuntungan. Seperti diungkapkan oleh Marketing Manager PT. Multibangun Rekatama Patria, Ir. Isparmo, salah satu distributor geomembran di Indonesia, geomembran dapat melindungi udang dari keasaman tanah, terutama ketika baru tebar benih sehingga dapat menekan kematian pada udang. Pada kolam pembibitan pun, geomembran lebih aman dibandingkan dipelihara pada tambak semen, terutama untuk kolam atau tambak baru. Hal ini disebabkan semen masih mengandung zat kimia.

“Dalam penggunaannya, geomembran dapat bertahan hingga 20 tahun. Carbon black dalam lapisan geomembran berfungsi sebagai bahan pelindung dari UV. Sehingga lapisan ini tahan terhadap sinar matahari langsung,” papar alumnus UNS Surakarta ini.

Hasil uji laboratorium bahkan menyatakan daya tahannya jauh lebih lama. Salah satu metode tes yang terkemuka, ASTM (American Standard Testing Methods) D 5397, menguji aspek kekuatan menahan beban suatu material. Berdasarkan tes ini, diperoleh umur pakai geomembran secara ekstrapolasi mencapai 1000 tahun jika suhu pemakaian 20 oC.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, dibandingkan dengan menggunakan semen, instalasi tambak dengan menggunakan geomembran dapat menghemat biaya investasi hingga 30—40%. Bahkan, di beberapa daerah, seperti di Lampung, geomembran bekas (used geomembran) pun masih bisa dijual kembali ke sesama petambak.

Di pasaran, geomembran tersedia dalam beberapa jenis bahan dan ukuran ketebalan, antara lain geomembran HDPE (High Density Polyethilena) dan LLDPE (Low Density Polyethylene).

Terlepas dari berbagai keunggulannya, lapisan geomembran dapat mengalami kerusakan jika terkena benda tajam, misalnya kerikil yang permukaannya tajam atau terkena alat yang memiliki ujung runcing. Untuk mencegah hal ini, biasanya lapisan geomembran diberi timbunan di atasnya sebagai pelindung. Bahan yang dapat dijadikan pelindung ini antara lain pasir, ban bekas yang diisi pasir, batuan kecil, atau geotekstil.  Pemberian material timbunan ini dapat mencegah kontak langsung antara lapisan geomembran dengan permukaan yang tajam atau runcing.

Lapisan terpal

Harga yang terjangkau dan pemasangan yang mudah, menjadi alasan pemilihan terpal. Alih-alih menggunakan kolam semen, para pembudidaya memilih lapisan terpal karena alasan kepraktisannya. Lapisan terpal relatif lebih kuat dan awet dibandingkan lembaran plastik.

Terpal tersedia dalam berbagai ukuran dan warna. Namun, untuk budidaya perikanan biasanya yang digunakan adalah berwarna biru dan cokelat. Terdapat dua jenis terpal berdasarkan bahan penyusunnya, yaitu terpal plastik dan terpal karet atau terpaulin. Daya tahan kolam terpal karet atau terpaulin dapat mencapai 5—6 tahun. Menurut pengakuan Samuel, pengelola Selviquarium, terpal plastik dapat bertahan 2—3 tahun.

Umumnya, lapisan terpal yang tersedia di pasar dijual dalam bentuk lembaran dan bisa disesuaikan ukurannya, sesuai kebutuhan. Saat ini, terpal tidak hanya tersedia dalam bentuk lembaran. Beberapa pemasok sudah menyediakan terpal siap pakai sehingga pembudidaya tidak perlu repot merancang, memotong, dan melubangi terpal u ntuk membuat kolam ikan.

Menurut Jefry, salah seorang praktisi pembudidaya ikan lele, faktor penting dalam pembuatan kolam terpal adalah pembuatan rangka sebagai penahan atau pendukung terpal. Rangka kolam dapat dibuat dari kayu, bambu, atau logam. Di samping itu, rangka dapat ditiadakan dengan syarat tanah harus digali terlebih dahulu.

Semen

Di antara sekian alternatif bahan dinding dan alas tambak dan kolam, konstruksi dinding semen dan beton memakan biaya paling besar. Biaya investasi pembuatannya relatif mahal, tetapi dengan daya tahan bahan hingga puluhan tahun. Untuk itu, sebelum pembangunan kolam atau tambak semen, diperlukan pertimbangan rancangan dan lokasi secara masak.

Kolam semen relatif lebih aman dari serangan hama pembuat lubang, misalnya kepiting karena permukaannya keras. Di samping itu, karena daya tahannya, pematang kolam yang terbuat dari semen dapat menahan tekanan akibat ketinggian air. Menurut Jefry, salah seorang praktisi perikanan, untuk luasan petak kolam 100 meter persegi, lebar pematang 30—40 cm, dengan ketinggian 1—1,5 m, sudah cukup kuat untuk tekanan air di dalamnya.

Lapisan biocrete

Dinding atau lapisan biocrete merupakan salah satu inovasi di bidang akuakultur yang ditemukan oleh Dr. Bambang Widigdo bersama dengan rekan sejawatnya Dr. Kadarwan Soewardi, dan K.H. Stroethoff dari Belanda. Di samping praktis, pembuatannya pun relatif singkat. Hanya butuh waktu satu pekan, tambak berdinding biocrete sudah dapat ditebari benih.

Pembuatan dinding biocrete cukup sederhana dan bahan-bahan yang diperlukan tersedia melimpah di Indonesia. Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain bambu, ijuk, semen, dan lapisan plastic PE. Dinding dibuat menggunakan anyaman bambu, ijuk dan plesteran semen setebal 3 – 4 cm. Dasar kolam tambak menggunakan membran plastik PE. Penggunaan plastik pada dasar kolam untuk menghindari kebocoran air. Setelah itu, taburkan lapisan pasir setebal 3—4 cm di atas lapisan plastik. Di samping berfungsi sebagai pemberat, lapisan pasir tersebut berfungsi untuk menyerap dan menampung lapisan lumpur dari kotoran udang dan sisa-sisa pakan.

Pembuatan tambak biocrete ini terhitung murah jika dibandingkan dengan tambak semi plastik atau tambak beton. Meskipun berbiaya murah, Bambang mengatakan, daya tahan konstruksinya cukup awet bahkan tahan terhadap gempa. Sebagai contoh, konstruksi sepatu dinding biocrete bisa bertahan hingga 12 tahun. (Noerhidajat)

Sepeda Pencetak Pelet

Setiap pembudidaya ikan sudah pasti menginginkan biaya pakan yang serendah mungkin. Dengan teknologi sederhana sepeda pencetak pelet, mencetak pakan bukan lagi masalah sulit.

Salah satu syarat pembuatan pelet adalah bahan baku pakan tidak boleh bersaing dengan pakan manusia. Di Indonesia, bahan baku pakan sebenarnya tersedia melimpah. Sayangnya, masih banyak bahan baku pakan buatan yang masih harus di impor seperti kedelai, tepung ikan, dan bahan baku lainnya. Wajar jika harga pelet ikan menjadi mahal dan tidak sebanding dengan harga jual ikan.

Harga pakan buatan bermacam-macam, tergantung protein yang terkandung di dalamnya. Semakin tinggi protein, harga pelet menjadi semakin mahal. “Untuk pelet dengan protein di bawah 14% sekitar Rp 7.000/kg, pelet dengan protein 25—30% berkisar Rp 8.000 sampai Rp 9.000, dan pelet dengan protein 30—4 % berkisar Rp 9.000—Rp 15.000/kg,” tutur Bangun, pembudidaya lele sal Garut.

Bangun pun mencoba membuat pakan mandiri menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam seperti Azzola pinata yang terdapat di kolam-kolam Balai Benih Ikan Bayongbong, bulu ayam, kunyit untuk penambah nafsu makan ikan, limbah singkong, limbah tahu, limbah ikan asin yang ada di pasar, dan bahan lainnya. Semua bahan tersebut diolahnya sendiri.

Bangun membeli peralatan mesin pakan seperti mesin penghancur daging, mesin penepung, mesin pencetak pelet, dan open. Modal untuk semuanya mesin itu berkisar Rp 30.000.000. #Foto2. Bangun (Sumber foto: dok. pribadi)

AK13 Peralatan 2 2AK13 Peralatan 2 3

Pakan pelet buatan Bangun (Sumber foto: dok. pribadi)

Teknologi sederhana sepeda pencetak pelet

Untuk menyiasati biaya investasi alat pembuat pakan yang besar, seorang penyuluh perikanan di wilayah Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan, Apep Saepul Mahpud, SP., membuat sepeda pencetak pelet. Maksud pembuatan alat ini agar para pembudidaya ikan di tingkat menengah ke bawah dapat mengaplikasikan pembuatan alat ini dan meningkatkan pendapatan.

Sepeda pembuat pelet bekerja dengan sistem kayuh, teknologi sederhana cara pembuatan pakan ikan yang murah, mudah, ramah lingkungan dan dapat diimplementasikan oleh pembudidaya ikan. Adapun bahan baku pembuat pakan bisa disesuaikan dengan potensi setiap daerah, misalnya menggunakan keong mas, limbah kepala udang, cangkang kepiting, limbah ikan, dedak, daun pepaya, daun kaliandra, tongkol jagung, dan bahan lainnya.

Adapun alat-alat yang diperlukan untuk membuat sepeda pencetak pelet bisa menggunakan barang-barang bekas seperti sepeda yang tidak terpakai, besi siku 2 batang, gilingan daging No. 10, gir sepeda dan rantai, baskom, baut No. 10 secukupnya, dan tampah.

Selanjutnya peralatan tersebut dirangkai sesuai desain yang diperlukan. Perangkaian dengan menggunakan pengelasan dan pengeboran untuk pemasangan baut. Untuk lebih jelasnya seperti gambar (i) Pandangan depan, gambar (ii) Padangan Samping, dan gambar (iii) Pandangan Belakang.

AK13 Peralatan 2 4 (a)AK13 Peralatan 2 4 (b)AK13 Peralatan 2 4 (c)

Sepeda pencetak pelet tampak depan (a), tampak belakang (b), dan tampak samping (c)

(Sumber foto: dok. Apep Saepul Mahmud)

Pengoperasian sepeda pencetak pelet dilakukan dengan cara menggayuh pedal seperti mengayuh sepeda. Rantai penghubung akan memutar alat pencetak. Adapun bahan baku pakan yang telah dicampur dimasukkan ke dalam corong gilingan dan keluar lewat lobang cetang gilingan dalam bentuk pelet basah dan masuk ke baskom sebelahnya.

Jika sudah penuh, pelet basah dipindahkan ke alat penjemur berupa tampah. Sambil mengayuh sambil mencetak pelet. Untuk meringankan kayuhan, sepeda pencetak pelet ini dilengkapi dengan multi gear layaknya sepeda balap. Untuk lebih jelasnya seperti gambar berikut cara penggunaan sepeda pencetak pelet.

Keuntungan dari sepeda pencetak pelet ini adalah nyaman dipakai dan tidak menggangu lingkungan karena tidak mengeluarkan suara bising. Di samping itu, alat ini memberikan kemudahan bagi pembudidaya yang biasa mencetak pelet menggunakan mesin yang diputar menggunakan tangan.

Harganya pun terjangkau, tidak perlu mahal-mahal untuk bisa membuat pakan mandiri. Pembudidaya juga bisa memanfaatkan dan menggali potensi bahan baku pakan lokal yang ada di daerahnya. Dengan sepeda pencetak pelet, membuat pelet bisa dilakukan sekaligus berolah raga. Mau mencoba? (Resti Setiawati)

Struktur dan Bagian Tambak Ramah Lingkungan

Kegagalan utama produksi udang di tambak umumnya disebabkan serangan penyakit dan kualitas air yang buruk akibat pencemaran. Persiapan lahan yang benar serta upaya menjaga mutu air pasokan akan sangat membantu peningkatan produktivitas tambak.

Sistem tertutup adalah sistem pengelolaan air tambak, di mana penggantian air dilakukan seminimal mungkin. Caranya, dengan memanfaatan kembali air buangan. Untuk sistem ini pembuatan tandon sangat diperlukan.

Tandon dibuat sebagai wadah untuk menampung air dan pengontrol kualitas air dari sumber pemasukan seperti air laut dan air tawar. Setelah melalui proses filtrasi, air dapat dimanfaatkan kembali dengan syarat memenuhi parameter kualitas air yang optimal. Filtrasi air dapat dilakukan dengan proses secara fisika, kimia, dan biologis pada setiap tahapan tandon air.

Menurut Pakar Farmakologi Veteriner dan Dewan Pakar ASOHI, sekaligus Anggota Komisi Kesehatan Lingkungan DKP Pusat dan Mantan Anggota KLH Spesialisasi DAS (Daerah Aliran Sungai), Drh. Abadi Soetisna, M.Si., air buangan dari tambak, saat pergantian air atau pemanenan, tidak boleh langsung dibuang ke laut atau sungai agar tidak mengotori lingkungan dan menularkan penyakit. Oleh karena itu, diperlukan filter yang diletakkan pada inlet maupun outlet di petak tandon. “Filternya berupa batu kapur, ijuk, dan arang. Kemudian di setiap petak tandon harus ditempatkan aerator, bisa menggunakan kincir atau blower, untuk menambah oksigen terlarut dalam air,” terangnya.

IMG-20151229-WA0001[1] Drh. Abadi Soetisna, M.Si.,  Anggota Komisi Kesehatan Lingkungan DKP Pusat  (Sumber foto: dok. Info Akuakultur)

Petak karantina

Petak karantina berfungsi sebagai tempat penampungan air yang mempunyai standar baku mutu air, di mana nantinya digunakan sebagai suplai air pada saat penggantian air baru ke petak pembesaran atau petak tandon lainnya. Letak dan posisi petakan ditempatkan sebelum air disalurkan ke petak pembesaran atau petak distribusi air suplai. Luas  petakan yang optimal dapat menampung air baru pada kondisi kritis, yaitu antara 30—50%, tergantung tingkat teknologi yang diterapkan.

Saluran distribusi air

Saluran distribusi air merupakan saluran pembagi air untuk mensuplai air harian ke petak pembesaran. Petak ini ditempatkan pada tempat yang strategis untuk mensuplai air ke petak pembesaran dengan pertimbangan efisiensi penggunaan sarana dan fasilitas tambak. Volume air yang optimal untuk petak distribusi air antara 30—50% luas petak pembesaran. Petak ini juga dapat berfungsi sebagai petak karantina dengan tujuan untuk menghemat lahan.

Petak pembesaran

Petak pembesaran udang biasanya berada di tengah unit tambak sistem resirkulasi. Luas petak pembesaran yang optimal untuk tambak udang teknologi intensif dan super-intensif pada sistem resirkulasi tertutup antara 2.000—4.000 meter persegi. Sementara untuk tambak udang teknologi sederhana dan semi-intensif, luas antara 5.000—8.000 meter persegi. Bentuk tambak yang ideal adalah sama sisi dengan sudut tumpul. Tujuan bentuk petakan seperti ini diharapkan dapat memudahkan proses pengelolaan air dan lumpur di dasar tambak secara fisik.

Petak endapan lumpur

Petak endapan lumpur merupakan tempat penampungan buangan dari petak pembesaran. Peran petak ini sebagai petak pengendapan lumpur. Posisi petakan ini berada dekat dengan bagian ujung pintu monik dan PVC sentral drain pembuangan air. Luas petak pembuangan air pada dasarnya dapat menampung air yang dibuang dari petak pembesaran.

Petak tandon biofilter

Petak tambak ini biasanya ditebari organisme jenis ikan predator multispecies, untuk memangsa hama penular penyakit udang. Letak petakan ditempatkan setelah petak pengendapan. Luas petakan ini sama dengan petak distribusi air suplai dengan bentuk memanjang. Persentase petak tandon untuk teknologi intensif dan super-intensif antara 50—100%. Dengan kata lain, volume tandon mampu untuk mengganti air pada kondisi kritis dalam petak pembesaran minimal 50%, sedangkan untuk semi-intensif berkisar 30—50 %.

Air buangan di dalam tandon diendapkan dan didalamnya diberi tanaman rumput laut sebagai biofilter yang menyerap gas-gas terlarut bersifat racun seperti NH3, CO2, dan nitrit. Organisme lain dalam tandon biofilter seperti kerang bakau, tiram, dan vegetasi bakau. Kerang bakau dengan ukuran cangkang 4—5 cm ditebar dengan kepadatan 6—8 ekor per meter persegi. Sementara tiram dengan ukuran cangkang 5—7 cm ditebar dengan kepadatan 0,75 kg atau 28 ekor per meter per segi. Tiram ditempatkan pada rak bambu dengan kedalaman 10 cm.

Petak pengolah limbah

Petak pengolahan limbah berfungsi sebagai petak penampungan air buangan kotoran udang, terutama air buangan limbah tambak yang bermasalah seperti terserang virus. Pada petak ini, air di-treatment terlebih dulu, baik secara kimia maupun secara biologis. Setelah steril, air dibuang ke laut atau saluran umum.

Posisi petak pengolah limbah berada dekat dengan petak pembuangan air. Petak ini dapat ditanami pohon bakau sekitar 10—15% dari luas petakan untuk menyerap limbah anorganik secara biologis. Selain itu, treatment lain yang bisa diterapkan yaitu pemberian disinfektan, misalnya kaporit atau sejenisnya.

Elevasi dasar tambak terhadap saluran pembuangan

Elevasi dasar tambak sesuai standar dapat mempermudah pengelolaan air dan pembuangan lumpur, baik harian maupun insidental. Selain itu, elevasi tambak yang ideal akan mempermudah proses pemanenan dan persiapan lahan. Elevasi dasar tambak yang standar dan optimal dicirikan dengan kemiringan dasar tambak yang lebih tinggi dari saluran pembuangan air, berkisar antara 30—40 cm.

Central drain

Central drain merupakan sistem pembuangan air yang diletakan di bagian tengah petak pembesaran udang dan terbuat dari pasangan cor semen berbentuk bulat dengan diameter tergantung kebutuhan, umumnya 2—3 m. Untuk mengalirkan air ke arah saluran pembuangan, pada bagian tengah lingkaran cor semen tersebut dipasang PVC berukuran 8—12 inchi, buis beton berdiameter 20—30 cm, atau disesuaikan kebutuhan dan teknologi yang diterapkan.

Pintu monik

Pintu monik merupakan pintu pembuangan air yang terbuat dari cor semen serta buis beton. Pintu pengatur berada pada pematang bagian sisi dalam, sedangkan buis beton pembuangan air menghadap ke saluran pembuangan air. Ukuran pintu monik tergantung luas petakan dan konstruksi pematang tambak yang dioperasionalkan. Ukuran pintu monik yang sering digunakan pada tambak udang intensif umumnya memiliki lebar bukaan pintu antara    60—100 cm, tinggi 1,6—2,0 m,  panjang 80—120 cm, diameter buis beton 60—80 cm, dan  panjang buis beton tergantung lebar pematang bagian bawah. Pada tambak dengan teknologi sederhana dan semi-intensif, pintu pembuangan air dapat terbuat dari pintu kayu atau PVC dengan ukuran sesuai kebutuhan. (Resti Setiawati)