PT CENRAL PROTEINA PRIMA TBK OPTIMISTIS PENJUALAN PAKAN UDANG BERTUMBUH

PT Central Proteina Prima Tbk. optimistis bahwa penjualan pakan udang masih bisa tumbuh kendati permintaan sepanjang tahun ini diproyeksi turun.

PT Central Proteina Prima Tbk. optimistis bahwa penjualan pakan udang masih bisa tumbuh kendati permintaan sepanjang tahun ini diproyeksi turun.

Direktur Feed Business PT. Central Proteina Prima Tbk Hendri Laiman menyebutkan bahwa secara umum, sejumlah kondisi seperti harga udang yang rendah dalam 6 bulan atau 7 bulan terakhir, wabah penyakit udang, dan kondisi cuaca dengan intensitas hujan yang masih tinggi di beberapa tempat menyebabkan petambak udang khawatir untuk memulai budi daya, ungkapnya ekonomi.bisnis.com.

Fluktuasi nilai tukar rupiah yang menyebabkan harga pakan tidak stabil serta cenderung tinggi juga berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi para petambak udang. “Jadi, ada kekhawatiran dari petambak itu untuk melakukan tebar di awal-awal tahun ini,” katanya baru-baru ini.

Dengan berkurangnya penebaran benih udang, permintaan pakan juga otomatis akan berkurang. Namun, dia optimistis bahwa perusahaan bisa tetap mempertahankan kinerja yang sama seperti tahun lalu untuk penjualan pakan udang. “[Produksi] udang akan tumbuh 2%—5%. Masih tumbuh, tetapi kembali lagi, melihat situasi belakangan ini kemungkinan udang stagnan atau bisa tumbuh, tetapi tidak akan tinggi.”

Hendri menuturkan PT. Central Proteina Prima Tbk  telah melakukan beberapa langkah seperti mencetak teknisi atau pendamping untuk pertambakan udang.

Kendati bukan merupakan karyawan PT. Central Proteina Prima Tbk, selama ini pihaknya teah melatih 600—700 orang pendamping baik melalui kerja sama langsung antara PT. Central Proteina Prima Tbk dan para calon pendamping maupun atas permintaan pemilik tambak. “Jadi, dengan kondisi penyakit, kondisi budi daya yang lebih sulit, malah lebih banyak yang ke kami. Kalau pabrik lain, mereka fokus benar benar jual pakan saja.”

Para pendamping yang mendapatkan pelatihan dari PT. Central Proteina Prima Tbk saat ini tersebar di beberapa daerah sentra tambak udang di Indonesia. Menurutnya, hingga saat ini PT. Central Proteina Prima Tbk masih aktif berkomunikasi dan mengadakan diskusi terkait dengan kondisi industri udang dalam negeri dengan para pendamping yang pernah dilatih.(Af)

Baby Lobster Senilai Rp15 Miliar Dilepasliarkan di Perairan Simeulue

Seratusan ribu benih atau dikenal sebagai baby lobster dilepasliarkan Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Aceh.

Seratusan ribu benih atau dikenal sebagai baby lobster dilepasliarkan Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Aceh.

baby lobster tersebut merupakan hasil pencegahan penyeludupan dengan nilai Rp15 miliar

Kepala BKIPM Aceh Diky Agung Setiawan di Banda Aceh, Minggu (5/5/2019), mengatakan bayi sejenis udang laut tersebut dilepasliarkan di kawasan perairan laut Kecamatan Simeulue Timur, Pulau Simeulue, pada Sabtu (4/5/2019) malam uangkapnya ekonomi.bisnis.com .

Baby lobster yang dilepasliarkan berjumlah 101.600 ekor berasal dari Tembilahan, Riau. Baby lobster ini merupakan hasil pencegahan pihak Karantina Ikan dan Bea Cukai Tembilahan, Riau pada 3 Mei 2019,” kata Diky.

Jumlah baby lobster yang ditangkap mencapai 101.800 ekor. Namun, untuk kepentingan proses hukum, sebanyak 200 ekor baby lobster diambil sebagai barang bukti.

“Kerugian negara yang dapat diselamatkan dari upaya penyelundupan seratusan ribu baby lobster tersebut mencapai Rp15 miliar lebih,” kata Diky.

Diky mengatakan, pelepasliaran di perairan Pulau Simeuleu merupakan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Pelepasan dihadiri unsur Dinas Kelautan dan Perikanan Simeulue, TNI AL, Polri, Panglima Laot Simeulue serta aparat gampong setempat.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Simeulue Isdawati menyatakan terima kasih kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) khususnya BKIPM Aceh yang melepasliarkan baby lobster di pulau terluar Indonesia tersebut.

“Kami berharap pelepasliarkan baby lobster dapat terus dilakukan di perairan Pulau Simeulue di masa mendatang, sehingga benih lobster ini bisa berkembang, kata Isdawati.(Evi)

Swine fever ails more than just China’s favourite meat, with millions of small farmers, exports likely to suffer

A pig farm in China’s southern Jiangsu province. We can expect a sharp fall in domestic pork production for the coming two years at least, David Dodwell writes. Photo: AP

One of my more shocking journalistic journeys was made in the mid-1980s, visiting a nondescript factory in the heart of Chongqing. I had asked to explore China’s farming industry, but the ministry of foreign affairs had some difficulties in getting me near an actual farm. Instead, this factory processed all of Sichuan’s pig intestines – 300 million a year.

I watched mountains of recently warm intestines stretched along clean metal tables, while one end of each intestine was plugged to a tap in the wall. After their inside walls had been flushed clean, the intestines were wrapped into tidy bundles of 12, put into huge ceramic jars, generously salted and then taken down into underground storage.

From September, when the weather began to cool, the jars would be brought out of cellarage and loaded onto barges down to Wuhan. From there, the jars took the train to Beijing and then the trans-Siberian railway across to Europe. The bosses told me this single factory supplied the great majority of Europe’s sausage casings.

So news that African Swine Fever has swept into China is a big deal, with massive ramifications not just for millions of Chinese pig farmers and the world’s largest consumer market for pork meat, but for industries across the world, whether it is German sausage makers, or Iowan soybean exporters.

The scale of China’s pork crisis is unclear. Most agree it arrived in Liaoning in the north in August last year, perhaps from Russia or Eastern Europe. Routine Chinese official paranoia about admitting a problem or being honest about the details means that it is uncertain, eight months later, just how far the swine fever has spread. Remember the reticence in admitting even the existence of SARS even after it had broken out in Amoy Gardens in Hong Kong?

Police officers and workers in protective suits are seen at a checkpoint on a road leading to a farm where African Swine Fever was detected, in China’s northern Hebei province, in this file photo from February this year. Photo: Reuters

Officials admit it has now reached virtually every province. Han Changfu, minister of agriculture and rural affairs, says there is “a complicated and grim situation”. There are also reports it has spread into Cambodia, Laos, Vietnam, Thailand and Myanmar. Media reports say around 1 million pigs have been slaughtered so far. With a countrywide population of around 433 million pigs (which produce over 700 million pigs for slaughter every year), most expert sources predict an even more massive culling to come. The farm-centred Rabobank predicts that China’s pork output is likely to fall by 20 per cent to 30 per cent over 2019, with herds being cut by up to 40 per cent.

This fall will not just be due to mass culling. With officials anxious to isolate outbreaks, and pig farmers unable to get pigs to market, many are expected to abandon pig breeding. One farmer was quoted as saying he planned to move over to growing strawberries. Meanwhile, Rabobank says there is likely to be a nationwide shortage of pork products amounting to around 4 million tonnes – almost one tenth of China’s annual consumption. Instructions to “let them eat strawberries” will not be swallowed very well.

Given the size of China’s pig farming sector, it is perhaps surprising that African Swine Fever has not arrived earlier. First recorded around 1907 in Kenya, it has been endemic to Africa for over a century, spread by soft ticks through local populations of warthogs, wild boar and bush pigs, which carry the virus, but suffer no symptoms. That perhaps explains Pumbaa’s “hakuna matata” – Swahili for “no worries” – popularised in Disney’s Lion King. But we can leave Disney to deal with that little contradiction.

Swine fever was recorded as spreading to Lisbon in 1957, and is now endemic across Europe, in particular across the former Soviet economies in eastern Europe (135,000 pigs were culled in Romania last year). For pigs, the virus is grim and normally fatal. Within days of developing a high fever, the skin goes purplish. There is discharge from the eyes and nose and bloody diarrhoea. They die within days.

Mercifully, the virus has yet to find a way of leaping across into humans.

While we might think we are lucky that this global pig pandemic has not yet morphed into a long expected human pandemic, the catastrophic economic implications of African Swine Fever still loom large.

Pork is the world’s most widely consumed land-based protein source. We slaughter about 1 billion pigs a year – about 23 million a week – with China, the EU and the US accounting for 85 per cent. We slaughter more chickens (about 60 billion a year) but they do not add up to the same volume of meat as comes from pigs. We slaughter around 300 million cows a year, and even though they produce more meat per cow, pigs still provide more meat in total.

Pork for sale at a supermarket in Beijing. About a billion pigs are slaughtered for meat every year, with China, the EU and the US accounting for 85 per cent. Photo: Reuters

Farmers prefer them because a pig can breed three times a year, and produce litters of six to 12 piglets, which means up to 36 piglets a year, compared with cows bearing one calf a year. Calves need at least a year to reach “slaughter weight”, while piglets are ready for slaughter in six months.

It is this grim arithmetic that has for millennia made pork the meat of choice in China. Clay effigies of pigs have been found in Chinese tombs dating back 8,000 years. But this arithmetic does not work well with the arrival of African Swine Fever. Apart from being fatal to pigs, it has the potential to prove fatal to the livelihood of millions of small farmers across China.

The fever is hard to wipe out because it lives on for so long in pork products (it can live for one month in salami, 140 days in cured Iberian pork and almost 400 days in Parma ham), and because pigs are carried such long distances to capture countrywide price differences.

So for the coming two years at least, we can expect a sharp fall in domestic Chinese production, significant increases in pork imports (Brazil is likely to be a huge beneficiary) and price hikes for all meat products as unsatisfied demand for pork switches across to poultry and beef.

The story for global food security is likely to be sobering, as industrial farming concentrates reliance on a dwindling range of protein sources and a rising world population creates a relentless pressure to supply more meat.

We should give a thought to the debt we owe the pigs that have become our industrial commodities, and recognise the dangers we have created for ourselves in engineering our food in this way.(agribiznetwork.com)

MENPERIN RESMIKAN PETERNAKAN SAPI SENILAI RP612 MILIAR DI BLITAR

Menteri Peridustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Peternakan Sapi Perah PT Greenfields Indonesia di Blitar, Jawa Timur. [Dok Kementerian Perindustrian]
Kementerian Perindustrian terus mendorong industri pengolahan susu di dalam negeri agar semakin meningkatkan produktivitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen baik di pasar domestik maupun ekspor. Untuk itu, pengembangan industri pengolahan susu perlu dilakukan melalui program kemitraan dengan peternak sapi perah secara terintegrasi.

“Program kemitraan tersebut,diharapkan membawa multiplier effect yang akan memacu pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan penyerapan tenaga kerja, sehingga mampu menyejahterakan masyarakat,” kata Menteri Peridustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Peternakan Sapi Perah PT Greenfields Indonesia di Blitar, Jawa Timur, dikutip Suara.com Selasa (6/3/2018).

Menperin memberikan apresiasi kepada PT Greenfields Indonesia yang telah berinvestasi membangun peternakan sapi perah modern dan terintegrasi, sehingga ikut pula berperan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia melalui berbagai macam produk susu olahan yang dihasilkannya. ”Kami berharap perusahaan tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan investasi, produktivitas, perbaikan kualitas, dan metode budidaya ternak yang lebih baik,” tuturnya.

Menperin juga menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah daerah khususnya Kota Blitar yang turut mendorong penciptaan iklim usaha yang kondusif. Hal ini berdampak pada peningkatan investasi sektor industri. “Kami dengar, di sini sudah ada tiga investor, termasuk ada pabrik gula terintegrasi. Sementara itu, Greenfield menargetkan akan bangun lima pabrik lagi, setelah di Malang dan Blitar. Peluang ini perlu ditangkap, untuk menjadikan klaster industri yang terpadu,” jelasnya.

PT Greenfields Indonesia meresmikan peternakan sapi perah di Wlingi, Blitar, Jawa Timur. Peternakan yang kedua ini merupakan upaya ekspansi dari peternakan Greenfields yang pertama di Babadan, Malang. Dengan mampu menampung lebih dari 10.000 ekor sapi perah di lahan seluas 172 hektar, pertenakan baru ini dianggap yang terbesar di Indonesia.

“Investasinya ini mencapai Rp612 miliar yang bermitra secara langsung dengan 250 peternak dan sebanyak 3.000 tenaga kerja tidak langsung,” ungkap Airlangga. Efek berantai ini berperan besar mendorong perekonomian nasional dan Blitar.

Pada akhir tahun 2020, peternakan ini ditargetkan mencapai kapasitas maksimum 10.000 sapi perahyang menghasilkan sebanyak 50 juta liter susu segar setiap tahun. Peternakan Greenfields yang kedua ini menggunakan teknologi terbaru, antara lain teknologi pemerah susu otomatis dengan sistemberputar, teknologi kandang sapi tertutup yang menggunakan kipas angin sistem hibrida, serta sistempencahayaan long-day untuk memaksimalkan produktivitas susu sapi.

Menurut Airlangga, pengembangan industri pengolahan susu di dalam negeri ke depannya masih cukup prospektif karena menyangkut pemenuhan kebutuhan primer manusia. Bahkan, subsektor ini juga berkontribusi penting terhadap pertumbuhan signifikan pada industri makanan dan minuman.

Hal ini ditunjukkan dengan laju pertumbuhan industri makanan dan minuman pada pada tahun 2017 yang mencapai 9,23 persen, jauh diatas pertumbuhan PDB nasional sebesar 5,07 persen.Di samping itu, peran subsektor industri makanan dan minuman terhadap PDB sebesar 6,14 persen dan terhadap PDB industri nonmigas mencapai 34,3 persen, sehingga menjadikannya subsektor dengan kontribusi terbesar dibandingkan subsektor lainnya pada periode yang sama.

Kurangi impor

Menperin menjelaskan, pengembangan peternakan sapi perah dapat mengurangi ketergantungan bahan baku susu impor sehingga menghemat devisa. Upaya ini dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi nasional dengan menggerakkan sektor-sektor strategis domestiksesuai amanat Nawacita. “Kami menargetkan suplai bahan baku susu segar meningkat jadi 41 persen tahun 2022, dengan kualitas semakin baik,” ujarnya.

Menurutnya, dari segi off-farm, terdapat lebih dari 60 industri pengolahan susu yang beroperasi di Indonesia. Namun saat ini ada 14 perusahaan yang telah bermitra dengan peternak sapi dalam negeri.Pasokan bahan baku susu segar dari para peternak sapi perah lokal hanya mampu mencukupi 852 ribu ton per tahun atau sekitar 23 persen, sedangkan kebutuhan bahan baku susu segar untuk industri pengolahan susu dalam negeri sebesar 3,7 juta ton pada tahun 2016.

“Karena bahan bakunya belum bisa dipasok dari domestik, sisanya masih diimpor dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Jadi, masih banyak ruang bagi mereka yang ingin berinvestasi untuk memperdalam struktur industri pengolahan susu di Indonesia,” papar Airlangga.

Dalam mengatasi kondisi tersebut, Menperin mengatakan, pihaknya terus mendorong industri pengolahan susu di dalam negeri untuk semakin meningkatkan komitmen investasinya. Kemenperin telah mengusulkan pemberian insentif fiskal bagi sektor-sektor industri yang menyerap banyak tenaga kerja sehingga akan berkontribusi dalam menumbuhkan sektor manufaktur dan perekonomian nasional.

CEO AustAsia Dairy Group Edgar Collins mengatakan, dengan beroperasinya peternakan yang kedua ini, akan terjadi peningkatan produksi susu segar dalam negeri secara signifikan serta memperkokoh posisi Greenfields sebagai produsen susu segar nomor satu di Indonesia. “Kami juga ingin memperkenalkan praktik peternakan sapi perah moderen sebagai model untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas dari susu segar dalam negeri,” jelasnya.

Edgar Collins menambahkan, pihaknya sedang membangun Greenfields Dairy Institute Foundation yang akan melatih lebih dari 800 peternak sapi perah setiap tahunnya untuk meningkatkan keterampilan mereka agar mampu meningkatkan produktivitas. “Hal ini tentunya akan meningkatkan pendapatan mereka,” imbuhnya.

Sejak tahun 2000 Greenfields telah menjadi ekportir besar produk susu segar dari Indonesia. Saat ini sekitar 20 persen produksinya diekspor ke negara-negara seperti Hong Kong, Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Myanmar dan Kamboja.(Af)

CEGAH RESISTENSI ANTIMIKROBA DI PETERNAKAN DENGAN BIOSECURITY

FAO dan Kementan terapkan Biosecurity untuk cegah resistensi antimikroba di peternakan.

Resistensi Antimikroba masih jadi masalah utama kesehatan di Indonesia, terutama di sektor kesehatan hewan dan peternakan.

Kementan dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) terus berusaha menerapkan aturan biosecurity untuk mengatasi penyakit dan memerangi resistensi antimikroba di seluruh peternakan ayam petelur di Indonesia.

Hal tersebut mendapat dukungan dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Petelur Nasional dalam Musyawarah Nasional PPN di Solo beberapa waktu lalu.

Intervensi biosecurity diklaim terbukti lebih efektif dan murah dalam mencegah ancaman bibit penyakit, khususnya virus flu burung di lokasi peternakan ayam.

Hasil kajian FAO ECTAD juga menyimpulkan bahwa implementasi biosecurity 3-zona secara rutin dan konsisten di peternakan ayam petelur dapat menurunkan penggunaan antibiotik hingga 40 persen dan penurunan penggunaan desinfektan hingga 30 persen.

“Biosecurity 3-zona yang rutin dan konsisten menjadi standar dasar di peternakan ayam petelur untuk menghasilkan produksi telur yang stabil dan aman dikonsumsi masyarakat,” kata James McGrane dari FAO ECTAD dari rilis yang diterima oleh Suara.com

Biosecurity 3-zona merupakan model peternakan yang dibagi menjadi tiga bagian terpisah. Lewat modelan ini, risiko biosecurity terbagi menjadi area luar yang berisiko tinggi (zona merah), area layanan dengan risiko menengah (zona kuning), hingga zona hijau yang bersih dengan akses terbatas.

Akses dari zona merah ke zona kuning memerlukan tindakan mandi dan penggantian pakaian serta alas kaki yang lengkap, sementara akses lebih jauh ke dalam zona hijau memerlukan penggantian alas kaki kedua untuk mempertahankan standar biosecurity.(Evi)

Peraturan Baru, Proses Perizinan Lebih Cepat

Peraturan Baru, Proses Perizinan Lebih Cepat

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Rapat Koordinasi perkembangan Regulasi Pakan dan Obat Ikan pada 15 April 2019 di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta. Acara tersebut di gelar dalam rangka sosialisasi kebijakan peredaran Bahan Baku Pakan Ikan dan dan Obat Ikan.

KKP percepat pelayanan perijinan pakan dan obat ikan. Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan : Permen KP No. 55 Tahun 2018 tentang Pakan Ikan dan Permen KP No. 1 Tahun 2019 tentang Obat Ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya saat sosialisasi Permen KP bidang pakan dan obat ikan di Jakarta. Perubahan Permen KP dilakukan sebagai upaya perbaikan pelayanan perijinan di bidang pakan dan obat ikan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perijinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (online single submussion).  Menurutnya ada ketentuan dalam perijinan yang direvisi agar lebih efisien, transparan dan akuntabel.

“Kita ingin melalui Permen KP yang baru, proses perizinan bisa lebih cepat, sehingga pelaku usaha lebih diuntungkan karena sistem sudah online dan berbagai persyaratan tidak berbelit belit. Selain itu, percepatan layanan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB) dan Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB) akan memberikan jaminan kualitas pakan dan obat ikan yang digunakan pembudidaya ikan” tambah Direktur Pakan dan Obat ikan, Ir. Mimid Abdul Hamid, M.Sc.

David Alfian dari PT Biotek Saranatama, menyatakan bahwa perubahan permen KP terkait pelayanan perijinan bidang pakan dan obat ikan sangat membantu pihaknya, karena perijinan saat ini lebih simpel, transparan dan waktu pelayanan yang lebih cepat.

“Sangat berterima kasih atas upaya KKP dalam perbaikan pelayanan ini. Kami berharap kedepan sosialisasi terus dilakukan jika ada peraturan baru, sehingga kami lebih faham jika ada isu isu baru yang berkembang”, pinta David dalam keterangannya.

Dalam kegiatan sosialisasi Permen KP No. 55 tahun 2018 dan Permen KP No. 1 tahun 2019, yang juga dihadiri oleh stakeholder perikanan budidaya, disebutkan bahwa setidaknya ada 2 (dua) poin penting yang telah direvisi yakni terkait prosedur layanan perijinan yang semula tidak terintegrasi menjadi berbasis OSS (online single submission) dan lama waktu proses layanan yang lebih cepat dari sebelumnya.

Business Manager West Indonesia PT Evonik Indonesia, Lucia Monia Simanjuntak, acara ini sangat membantu terutama untuk memfasilitasi  penerapan Permen yang baru, terutama untuk para importir, dengan adanya kebijakan ini akan bisa menentukan langkah kedepannya seperti apa termasuk yang perlu di highliight adalah penerapan sistem OSS KKP yang nantinya akan di launching 22 April 2019 ini.

“Kedepannya kita akan lebih fokus ke arah online untuk submit data dan lain sebagainya, jadi bagi kami cukup membantu karena kita jadi lebih efektif dan efisien dalam berurusan dengan hal yang berkaitan dengan importasi maupun registrasi produk baru, jadi tidak perlu lagi bolak-balik ketemu langsung dengan pihak KKP,” tutur Lucia.

Seperti yang sudah diketahui, dalam bidang pakan ikan, layanan Surat Keterangan Teknis (SKT) impor bahan baku dan/atau pakan ikan dari semula 7 hari kerja menjadi 5 hari kerja. Layanan pendaftaran pakan ikan dari semula 25 hari kerja menjadi 20 hari kerja, dan layanan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik dari semula 37 hari menjadi hanya 15 hari kerja.

Sedangkan di bidang obat ikan, untuk layanan Penerbitan Surat Keterangan Teknis bahan baku, obat ikan dan sampel obat ikan dari semula 3 hari kerja menjadi 2 hari kerja; layanan penerbitan Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB) dari semula 25 hari menjadi 15 hari; dan layanan pendaftaran obat ikan dari semula 12 hari kerja menjadi hanya 10 hari kerja.

Di samping itu dalam Peraturan yang baru ini, pelaku usaha dapat langsung menjalankan usahanya setelah mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha) dan pernyataan kesanggupan komitmen.

Assistant. Manager Purchasing PT Malindo Feedmill. Handy Christian, pertemuan kali ini berguna karena menjadi tahu tentang peraturan-peraturan, administrasi, regulasi dari KKP dan import perdagangan. “Diharapkan terus dilakukan sosialisasi jika ada perubahan peraturan baru agar informasi yang akan diterima lebih up to date,” ucap Handy. (Resti/Adit)

Indonesia Kembali Ekspor DOC

Indonesia kembali melepas ekspor produk pertanian. Sebanyak 17.340 ekor bibit ayam petelur (day old chicken full stock layer/DOC FS Layer) siap diberangkatkan ke Timor Leste dari Bandara Ngurah Rai, Bali. Keberhasilan ini juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan devisa negara.

Tren ekspor produk pertanian merupakan bukti keberhasilan dalam peningkatan daya saing petani maupun peternak Indonesia dalam menghasilkan produk pertanian. “Usaha Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, sekaligus kemampuan untuk memenuhi standar dan aturan internasional adalah kunci bagi produk pertanian kita untuk bisa tembus ke pasar Internasional. Ekspor pertanian Indonesia saat ini adalah bukti bahwa petani dan peternak kita mampu memenuhinya,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada Kamis (6/9).

Amran pun mengapresiasi industri pembibitan ayam di Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana milik PT. Charoend Pokhpan Indonesia (CPI) yang ekspor perdana 17.340 ekor DOC FS Layer senilai USD 9.435 itu. Ini merupakan pengiriman awal dari total rencana sekitar 35 ribu ekor senilai USD 19.425 untuk tahun 2018.

Sebelumnya, pada pertengahan 2018 lalu, Indonesia juga berhasil ekspor 10.000 ekor bibit ayam pedaging (DOC FS Broiler) ke Timor Leste. Ekspor tersebut ditargetkan bisa mencapai 97.500 ekor dengan nilai USD 52.650 sampai Desember 2018 nanti.

Tren peningkatan ekspor hewan hidup ini sekaligus membuktikan keseriusan Indonesia dalam menerapkan sistem biosekuriti berbasis kompartemen bebas penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI). Sistem ini merupakan jaminan dalam kesehatan hewan yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian dengan melakukan sertifikasi bagi perusahaan yang akan melakukan ekspor.

Amran menginstruksikan jajaran Karantina Pertanian di seluruh pelabuhan, bandara, kantor pos dan pos lintas  batas negara untuk tingkatkan pengawasan lalulintas produk pertanian. “Industri peternakan kita telah bangkit kembali, pastikan tidak ada penyakit asal luar negeri yang dapat mengancam lagi,” pinta Amran.

Amran menerangkan produk pertanian punya standar khusus dalam perdagangan internasional, bahkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengeluarkan mekanisme terkait Sanitary and Phytosanitary (SPS) dengan tujuan menjaga manusia, hewan, dan tumbuhan dari penyakit, hama, dan kontaminasi.

Pada kesempatan tersebut, Amran juga melepas ekspor pakan ternak ke Timor Leste sebanyak 365 ton senilai USD 182.375, sehingga nilai total ekspor keseluruhan ke Tomor Leste pada tahun ini sebanyak USD 254.450. Untuk tahun 2019 mendatang, PT. CPI sendiri menargetkan pertumbuhan ekspor DOC FS Broiler dan DOC FS Layer serta pakan ternak ke Timor Leste sebesar 350 persen dari tahun 2018.

Selain melepas ekspor bibit ayam petelur, Menteri Amran juga melepas ekspor manggis sebanyak 9.000 ton di tempat yang sama. Kunjungan Mentan kali ini yang berlangsung dari 5-6 September 2018 ini juga untuk menghadiri penandatangan nota kesepahaman dengan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dalam upaya stabilisasi ketersediaan pasokan pangan dan percepatan ekspor komoditas pertanian, serta melepas bantuan untuk Lombok.http://ditjennak.pertanian.go.id

Sahabat Setia Peternak Modern

Melalui layanan dan produk terbaik yang ditawarkan, SCI mengajak peternak untuk memiliki pola pikir yang lebih maju sehingga dapat sukses bersama-sama.

Di berbagai kesempatan, PT Sehat Cerah Indonesia (SCI) selalu berupaya untuk hadir di pameran yang bertema peternakan di tanah air. Seperti pada 4-6 Juli 2018, SCI berpartisipasi pada Indolivestock 2018 Expo & Forum yang diadakan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Partisipasi dalam pameran kali ini semakin menunjukkan eksis¬tensi dan kiprah SCI sebagai perusahaan obat hewan dan imbuhan pakan (feed additive) yang patut diperhitungkan.

General Manager PT Sehat Cerah Indonesia, Daru Kintoko mengatakan, SCI mengikuti pameran tersebut tidak sekedar hadir tetapi ingin lebih mendekatkan diri dengan para pelanggan. Selain itu, ingin bisa menyapa para relasi dan bertemu dengan orang-orang baru yang berkiprah di bidang yang sama yaitu peternakan.

Dari hari pertama pameran, stan SCI selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung. Tim SCI pun menyambut dan melayani dengan baik para pengunjung yang datang. “Biasanya pengunjung datang ke stan SCI untuk men¬cari informasi mengenai profil perusahaan, produk-produk yang dimiliki, maupun menyapa para tim di SCI,” jelas Daru.

Dalam urusan layanan terhadap pelanggan, tim SCI sangat fokus bah¬kan memiliki semboyan khusus yaitu SCI “Sahabat Setia Peternak Modern”. “Semboyan ini memiliki arti bahwa SCI akan selalu ada untuk memberikan layanan terbaik. Adapun makna dari kata modern dalam semboyan itu adalah SCI ingin mengajak peternak untuk memiliki pola pikir yang lebih maju sehingga dapat sukses bersama-sama,” urainya.

SCI tidak hanya memikirkan pelanggan tetapi juga sangat menjaga hubungan baik dengan prinsipal dan distributor. Terbukti, prinsipal yang bekerjasama dengan SCI bertahan dalam itungan waktu yang cukup lama.”Hal ini dikarenakan SCI memiliki rekam jejak yang bagus serta tim yang lengkap dan tersebar di seluruh Indonesia,” katanya.

Adapun prinsipal SCI berasal dari berbagai negara di dunia seperti Delacon, Lifebiopharma, Norel, Ewabo, Liptosa, Evonik, Nb Shandong, Sumitomo, Hipra, Ab Vista, Anpario, Calier, Inovad, Lohmann, Hylen, Jaco, dan neofarma. Dalam memilih prinsipal, SCI sangat selektif menentukan kriteria perusahaan yang akan bekerjasama, tak heran produk-produk yang ditawarkan SCI merupakan produk-produk pilihan. “SCI sangat berpegang teguh terhadap kualitas produk, produk yang dibutuhkan pasar, prinsipan yang dapat memberikan dukungan dan mampu diajak bekerjasama,” ujar Daru.

Ditambahkan Product Manager PT Sehat Cerah Indonesia, Beny Mustofa, terkait dengan aspek kualitas dari produk-produk yang ditawarkan, SCI melakukan kerjasama dengan pihak terkait seperti peneliti dari beberapa perguruan tinggi maupun peternak. “Kami bersama-sama melakukan penelitian untuk mencari data yang valid dan berbasis ilmiah,” tandasnya.

Beny menjelaskan, fokus utama produk-produk SCI saat ini terkonsentrasi pada tiga bagian yaitu feed additive, farm product, dan vaksin yang diperuntukkan bagi ayam dan babi. Namun, ke depan SCI berencana untuk melakukan ekspansi dengan menawarkan produk untuk perikanan budidaya, marikultur, dan ruminansia. “Kami sedang mempersiap¬kannya secara matang,” ujarnya.

Sodium Butirat pada Saluran Pencernaan

Dalam perkembangannya, permintaan produk-produk yang dipasarkan SCI sema¬kin hari semakin meningkat. Pangsa pasar produk SCI masih didominasi di sentra-sentra peternakan seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. “Layanan terbaik sekaligus edukasi terus dilakukan tim SCI baik untuk pelaku industri pabrik pakan maupun peternak,” jelas Beny.

Pada pameran kali ini, SCI menggelar seminar teknikal pada hari pertama dan kedua dengan menghadirkan para pembicara yang menjadi prinsipal SCI. Kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permen¬tan) Nomor 14/Permentan/PK.350/5/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan yang salah satu poin pentingnya adalah pelarangan penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoter) dan anti koksi sebagai imbuhan pakan menjadi perhatian Norel. Regional Technical Manager Norel S.A Spain, Allan Renee B Junsay, dalam menerap¬kan peraturan tersebut perlu memperhatikan beberapa aspek seperti program biosekuriti, sistem manajemen kandang, strategi vaksinasi, kualitas air, kualitas pakan, dan pemilihan feed additive yang tepat.

Pada seminar yang digelar di hari pertama pameran ini, Allan mengungkapkan penelitian terhadap 364 responden di USA, Amerika Latin, Asia, Eropa, dan Afrika yang menun¬jukkan bahwa alternatif pengganti AGP yang paling banyak digunakan adalah asam organik, phytogenics/essensial oil, enzim, probiotik, dan prebiotik. Dalam hal ini SCI memiliki produk alternatif pengganti AGP dari Norel yaitu Gustor N’rgy dengan kandungan utama sodium butirat.

Menurut Allan, sodium butirat pada Gustor N’rgy berfungsi sebagai antimikrobial yang berguna untuk mengatasi bakteri patogen seperti E.Coli atau Salmonella. Gustor N’rgy juga mampu memperbaiki vili usus sehingga dapat meningkatkan penyerapan nutrisi. Tak hanya itu, kandungan sodium butiratnya juga dapat meningkatkan immunological yang berfungsi sebagai anti-inflammatory dan meningkatkan barrier di saluran pencernaan. “Pemberian Gustor N’rgy 1 kg per ton pakan mampu meningkatkan kecernaan energi (5,8 %) dan protein (4,7 %). Pemberian Gustor N’rgy dalam pakan telah terbukti mampu memperbaiki performa pada ayam,” tandasnya.

Produk Phytogenic

Selain Gustor N’rgy, SCI memiliki produk lain yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti AGP, yaitu BSG® 510. BSG® 510 merupakan produk phytogenic dari Delacon. Poultry Species Leader Delacon Biotechnik GmbH, Austria, Jan Dirk Van Der Klis mengatakan, produk phytogenic adalah produk yang berasal dari tanaman dengan senyawa aktif tertentu.

Terdapat 4 kandungan phytogenic pada BSG® 510 diantaranya essential oil, bitter substances, saponin, serta pungent substances. Mikro enkapsulasi essensial oil yang terkandung di dalamnya berperan sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sekresi disgestive juice. Sedangkan bitter substances, mampu meningkatkan retensi nutrisi dan sekresi asam empedu.

Kandungan saponin pada BSG® 510 dapat menghambat aktivitas urea dan mengurangi produksi amonia. Sedangkan pungent substances berfungsi untuk mengaktivasi proses metabolik maupun sirkulasi darah, mendukung proses detoksifikasi, serta meningkatkan kemampuan sekresi disgestive juice.

Jar menyatakan, pada broiler, BSG® 510 terbukti mampu meningkatkan berat badan hingga 1,3 %. Produk ini juga dapat mem¬perbaiki FCR (rasio konversi pakan) hingga 2 %. Tak hanya itu, tingkat kematian pada broiler juga relatif rendah.

Permasalahan bau pada kandang pun dapat teratasi berkat produk dari Delacon ini. Pasalnya, BSG® 510 telah teruji dapat mengurangi amonia. “Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BSG® 510 menurunkan emisi amonia sebanyak 21-43 % pada broiler, tergantung pada musim,” ungkapnya. lTROBOS/Adv/Agribisnis

 

Farmsco Memberi Nilai Lebih Kepada Pelanggan

Farmsco menawarkan teknologi ukuran partikel pakan untuk tingkatkan performa ayam dan siap berkontribusi maksimal terhadap perkembangan industri peternakan serta kesejahteraan peternak Indonesia

PT Farmsco Feed Indonesia, gencar promosikan produknya agar semakin dikenal di Indonesia. Salah satunya melalui gelaran Indolivestock Expo & Forum 2018 yang bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) pada (4-6/7) 2018. Tampil perdana di pameran peternakan berskala internasional tersebut, Presiden Direktur PT Farmsco Feed Indonesia, Kwun Chun Nyun bersama tim Farmsco bersemangat menyam¬but pengunjung yang datang ke stan.

“Pameran ini sangat luar biasa. Banyak sekali stakeholder yang hadir. Sangat tepat untuk mempromosikan Farmsco,” ujar Kwun. Kerja keras tim dalam mempersiapkan debut perdananya di Indolivesock terbayar sudah dengan pengahargaan The 2ndBest Stand Design oleh pihak penyelenggara.

Tidak hanya itu, Presiden Republik Indo¬nesia, Joko Widodo sempat menyambangi stan ini saat melakukan kunjungan ke pameran Indolivestock Expo & Forum 2018. Selain promosi, Farmsco juga ingin membanggakan para pelanggan setianya bahwa produk yang mereka gunakan selama ini, ternyata memi¬liki stan yang besar dan mewah di pameran Indolivestock kali ini.

Nilai Lebih Farmsco
Farmsco merupakan bagian dari Harim Group. Perusahaan peternakan nomor 1 di Korea Selatan. Penjualan pakannya menca¬pai 4 juta ton per tahun. Januari 2018 ini, mereka melebarkan sayap di Indonesia dengan mendirikan pabrik pakan PT Farmsco Feed Indonesia. “Kami ingin berkontribusi terhadap perkembangan industri peternakan Indonesia melalui teknologi dan pengalaman kami selama 40 tahun di Korea,” ujar Kwun.

Kwun menilai Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial. Ia pun sangat optimis dengan perkembangan industri ini ke depannya. Selama kurang lebih 7 bulan hadir di Indonesia, angka penjualan pun cukup memuaskan.

Dalam menghadapi ketatnya persaingan di industri ini, Farmsco mener¬apkan 3 strategi utama yaitu memaksimalkan value sales (penjualan yang memberi nilai lebih), kualitas, serta technical service. Semuanya berlabuh pada kepuasan pelanggan.

“Kepuasan pelanggan adalah hal paling utama bagi Farmsco. Kami tidak menjual pakan, tapi menjual value atau nilai lebih. Selama konsumen puas dan ayam pun nyaman, sehingga produksi lebih tinggi serta profit maksimal pun tercapai,” kata Kwun.

Farmsco membawa sesuatu yang berbeda. Mengusung slogan ‘Farmsco is Different’, Kwun menegaskan bahwa pakan mereka memang berbeda dengan yang lain. Salah satu perbedaan yang dimaksud Kwun adalah ukuran partikel pakan.”Ukuran partikel pakan untuk laying period di Indonesia lebih kecil dibandingkan negara lain. Padahal ukuran partikel yang lebih besar akan semakin baik untuk gizzard. Performa saluran cerna ayam akan semakin bagus. Dengan teknologi dari Korea Selatan, Farmsco hadirkan pakan laying period dengan ukuran partikel lebih besar,” ungkapnya.

Diceritakan Kwun, awalnya pelanggan memang kaget. Mereka takut ayam tidak bisa mengonsumsinya karena ukuran lebih besar. Setelah mereka coba ternyata hasilnya memuaskan.

Selain teknologi ukuran partikel, yang membedakan Farmsco dengan perusahaan lainnya adalah Farmsco memiliki pakan khusus dan lengkap. Untuk ayam layer (ayam pete¬lur), Farmsco mempunyai feed series mulai dari periode pullet (ayam dara calon petelur) hingga ayam usia 66 minggu sampai apkir. Lengkapnya feed series ini yang tidak dimiliki perusahaan lain.

Teknologi Ukuran Partikel Pakan
Selain berbagi informasi di stannya, Farmsco juga berbagi ilmu dengan mengadakan seminar teknis. Seminar yang terdiri dari dua sesi ini dibawakan oleh Formulator Supervisor PT Farmsco Feed Indonesia, Intan Nursiam.

Pada sesi pertama Intan menjelaskan lebih rinci mengenai keunggulan teknologi ukuran partikel pakannya. Dikatakannya, ukuran partikel pakan dapat mempengaruhi performa ternak. Ukuran partikel memiliki titik optimum. Jadi kita tidak bisa memberikan pakan dengan ukuran sangat halus, karena ada beberapa organ yang perkembangannya menjadi tidak baik apabila ukuran partikelnya tidak sesuai.

Berdasarkan beberapa kajian, salah satu kunci utama yang berperan pada saluran pencernaan broiler dan layer adalah gizzard (empedal). “Ternyata gerbang pertama se¬belum ke usus halus yang perlu dioptimalkan adalah gizzard. Organ ini fungsinya seperti gigi pada manusia,” terang Intan.

Intan menjelaskan alasan ukuran par¬tikel dapat mengoptimalkan kinerja gizzard sehingga menghasilkan performa ayam yang baik. Ketika gizzard berkembang dengan baik, stimulasi produksi asam klorida (HCl ) juga se¬makin meningkat. Gizzard merupakan benteng pertahanan pertama ayam. Tingginya HCl di organ tersebut dapat menghambat masuknya bakteri-bakteri patogen dari lingkungan ke saluran cerna. Selain itu, tingginya kandungan asam dapat memicu produksi enzim-enzim, terutama enzim pencernaan protein.

Uniknya, teknologi ini memakan biaya yang rendah (low cost). Tidak perlu menambah instalasi alat baru. Cukup mengubah screen pada Hammer Mill saja. ”Berdasarkan riset yang dilakukan, peningkatan ukuran partikel bisa menghemat biaya sebanyak Rp 2 per ton. Penghematan diperoleh dari penghematan konsumsi listrik Hammer Mill,” kata Intan.

Ukuran partikel pakan yang direkomen¬dasikan Intan untuk broiler (1-7 hari) adalah 500-600 mikron, broiler (>7 hari) adalah 800- 900 mikron, dan layer adalah 1.200-1.500 mikron. Khusus untuk layer, berdasarkan riset dengan ukuran partikel tersebut dapat meningkatkan eggmass sekitar 3 gram per hari per ekor, dan memperbaiki feed intake menjadi 1-3 gram per ekor per hari.

Di sesi ke dua, Intan menjelaskan mengenai keunggulan pakan pullet Farmsco. Katanya, Farmsco sangat fokus pada pakan periode pullet ini. Karena pullet memiliki beban yang sangat berat. Dengan berat awal 30-40 gram, dituntut untuk menghasilkan telur hampir 1.000 kali lipat berat awalnya. “Jadi kita harus mendesain pakan yang sesuai dengan perkem¬bangan tubuh dan umurnya. Sehingga pada saat periode produksi, konsistensi produktivi¬tasnya dapat dipertahankan,” jelasnya.

Sambung Intan, Farmsco menyiapkan pondasi beternak layer semenjak usia awal dari umur 0-3 minggu. Tujuannya agar pe¬ternak layer mendapatkan keuntungan yang lebih. Lalu, Farmsco juga memiliki pakan Egg-Shell+ yang diformulasikan agar layer dapat bertelur dalam waktu yang paling lama melalui peningkatan kekebalan dan penguatan kulit serta warna telur yang diperlukan dalam rangka memperpanjang umur produktivitas. “Pakan ini direkomendasikan untuk layer usia 66 minggu hingga afkir,” pungkasnya. lTROBOS/Adv(http://company-news.agribiznetwork.com/company-news)

ASOHI KEMBALI LATIH 95 ORANG PENANGGUNG JAWAB TEKNIS OBAT HEWAN

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) kembali menyelenggarakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PPJTOH) yang bertempat di Hotel Santika TMII, Jakarta. Kegiatan dilakukan mulai Selasa-Kamis (28-30 Agustus 2018).

Acara ini merupakan kegiatan tahunan ASOHI yang bertujuan untuk mensertikasi para dokter hewan dan apoteker yang bekerja sebagai penanggung jawab obat hewan di tempat mereka bekerja.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Direktur Kesehatan Hewan, Drh Fajar Sumping Tjatur Rasa PhD, diikuti oleh sekitar 95 peserta yang merupakan dokter hewan dan apoteker dari berbagai perusahaan obat hewan dan industri pakan ternak di Indonesia.

Ketua Panitia Pelaksana, Drh Forlin Tinora, menyampaikan, goal yang akan dicapai dalam kegiatan pelatihan tahun ini adalah melahirkan penanggung jawab teknis obat hewan yang dapat menjaga mutu, khasiat dan keamanan obat hewan sebelum digunakan peternak untuk ternaknya.

“Kita ingin memastikan bahwa obat hewan yang digunakan dan diberikan pada ternak benar-benar obat hewan yang aman, baik bagi ternaknya maupun untuk konsumen yang akan mengonsumsi produk ternaknya,” kata Forlin dalam sambutannya, Selasa (28/8).

Untuk menjawab itu semua, para peserta akan dibekali dengan berbagai materi terkait dengan obat hewan, peraturan-peraturan pemerintah dan materi lainnya yang menunjang pelaksanaan tugas mereka masing-masing.

Selanjutnya, diakhir acara tepatnya pada 30 Agustus 2018, para peserta akan diajak berkunjung ke Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) yang berlokasi di Jalan Raya Pembangunan Gunung Sindur, Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. Hal ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman peserta, sekaligus melihat langsung proses pengujian keamanan dan khasiat obat hewan yang akan diedarkan dan digunakan.

Sementara itu Ketua Umum ASOHI Drh Irawati Fari mengatakan, pelatihan PJTOH biasanya setahun sekali, namun karena peminatnya terus bertambah maka tahun ini sudah diadakan 2 kali dan kemungkinan bulan Oktober atau November mendatang diadakan lagi. Selain dari perusahaan obat hewan  saat ini peserta dari perusahaan pakan makin bertambah. “Ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dari PJTOH ataupun calon PJTOH di perusahaan obat hewan dan pakan untuk terus mengupdate pengetahuan teknis maupun perundang-undangan,” ujar Irawati.

 

Empat Perusahaan Raih Sertifikat Pembiakan Sapi Kemitraan Indonesia Australia

Penyerahan sertifikat keberhasilan kepada empat perusahaan pembiakan dan koperasi peternak sapi, menjadi salah satu agenda acara pada Simposium Program Pembiakan Sapi Potong Indonesia dan Australia, Rabu (12/9/218) di Jakarta.

Empat perusahaan tersebut diantaranya PT Buana Karya Bhakti, PT Kalteng Andinipalma Lestari, Sentra Peternakan Rakyat Megajaya, dan PT Bio Nusantara Teknologi.

Keberhasilan ini menandai pencapaian penting bagi keempat perusahaan ersebut untuk menjadi perusahaan pembiakan sapi yang komersial dan berkelanjutan. Terutama dalam produktivitas ternak, pengendalian biaya dan pengelolaan iklim usaha yang kondusif, setelah lebih dari 18 bulan bekerja sama dengan Program Pembiakan Sapi Komersial Indonesia Australia (Indonesia Australia Commercial Breeding Program/IACCB).

Keempat perusahaan tersebut berbagi data dan pembelajaran sehingga semakin banyak pihak dapat belajar, berinvestasi dan berhasil di sektor ini. Tiga mitra IACCB lain sedang menjalani proses untuk mendapatkan sertifikat keberhasilan yang sama.

“Indonesia mengundang lebih banyak investor untuk berkontribusi dalam pencapaian target Indonesia, demi meningkatkan populasi sapi dan memperluas perdagangan dan investasi ke negara lain,” ungkap Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal BKPM, Wisnu Wijaya Soedibjo.

Kegiatan Simposium yang diadakan Indonesia Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector (Partnership) dan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), bekerjasama dengan BKPM ini dihadiri oleh lebih dari 200 orang praktisi dan akademisi di bidang daging merah dan ternak sapi.

Diantaranya termasuk perwakilan industri dan petani seperti PT Lembu Jantan Perkasa, PT Sulung Ranch, dan tujuh perusahaan pembiakan yang telah bermitra dengan IACCB selama 18 bulan terakhir.

Simposium ini bertujuan untuk menyediakan platform bagi para praktisi dan akademisi untuk bertukar pikiran mengenai tantangan dan peluang pembiakan sapi pada skala komersial di Indonesia, untuk berkontribusi positif terhadap ketahanan pangan serta iklim investasi Indonesia.

ISPI sebagai mitra pelaksana simposium sangat mengapresiasi acara ini sebagai ajang untuk mendapatkan masukan dan pembelajaran dari industri peternakan sapi.

“Pembelajaran dan pengalaman dari industri akan memberikan masukan berharga dalam upaya pembiakan sapi dengan skala komersial dan peningkatan populasi sapi di Indonesia,” kata Ir Didiek Purwanto, Sekretaris Jenderal PB ISPI. (NDV)