GEJOLAK HARGA PANGAN KEMBALI MENEKAN INDUSTRI DALAM NEGERI

Gejolak harga pangan kembali menekan industri dalam negeri. Setelah terusik tingginya harga kedelai, kini disusul dengan kenaikan harga daging sapi segar.

Para pedagang daging sapi di kawasan Jabodetabek yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Daging Indonesia telah memulai aksi mogok berjualan.

Aksi para pedagang yang dilakukan sebagai respons terhadap tingginya harga daging sapi segar tersebut, berlangsung selama tiga hari sampai Jumat (22/1/2021).

Kenaikan harga telah dirasakan dari sisi usaha penggemukan sapi bakalan eks-impor. Para importir juga memperoleh harga yang tinggi dari negara produsen, dalam hal ini Australia. Lalu akankah kondisi tersebut dapat mempengaruhi kinerja emiten yang menggarap sektor tersebut? Bagaimana prospeknya?

APDI menyatakan bahwa terdapat kenaikan harga daging sapi dari Australia per Juli 2020 di harga US$3,6/kg. Sementara itu harga komoditas pangan itu per Januari-Februari 2021 naik ke level US$3,9/kg. Harga tersebut belum termasuk biaya bongkar muat pelabuhan dan transportasi.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan PT Estika Tata Tiara Tbk. (BEEF) memiliki postur bisnis, yang mayoritas penjualan perseroan berasal dari produk sapi asal Australia. Produk tersebut baik yang diimpor langsung maupun dibeli dari perusahan lokal (penggemukan).

Sumber : https://market.bisnis.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *