MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK MELALUI PENINGKATAN BIOSEKURITI

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Peternakan Provinsi Lampung berkomitmen dalam mengurangi dampak resistensi AMR pada sektor peternakan. Hal tersebut disampaikan oleh Drh Syamsul Ma’arif dalam Webinar yang digelar Dinas Peternakan Provinsi Lampung yang berkolaborasi dengan FAO ECTAD Indonesia, USAID, Pinsal Petelur Nasional Lampung, dan Kementerian Pertanian. Webinar tersebut berlangsung pada Senin (23/11) lalu.

Syamsul juga menjabarkan mengenai pentingnya sertifikasi NKV dalam produk pangan asal hewan, dimana sertifikat tersebut menjamin kualitas dan keamanan pangan tersebut.

“Kita sedang menggalakkan adanya sertifikasi NKV pada unit produksi pangan asal hewan, diantaranya adalah peternakan ayam petelur dan peternakan sapi perah. Dimana salah satunya persyaratan NKV peternakan tersebut harus memiliki sistem biosekuriti yang baik,” tukas Syamsul.

Syamsul juga menambahkan bahwa penerapan biosekuriti yang baik dalam suatu peternakan akan berdampak positif bagi peternak dan konsumen. Dirinya juga menyebutkan data WHO dimana diperkirakan nanti pada tahun 2050 kematian manusia akibat resistensi antimikroba akan lebih tinggi ketimbang penyakit lain seperti kanker.

“Ini sangat urgen, oleh karena itu saya salut dengan Lampung yang mau berusaha untuk menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan aman untuk konsumen. Semoga program serupa dapat diduplikasi oleh provinsi lainnya,” tutur Syamsul.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pinsar Petelur Nasional Lampung Jenny Soelistiyani mengapresiasi kerjasama antara peternak dan stakeholder terkait di Lampung. Menurutnya kerjasama ini merupakan suatu contoh apik dimana komitmen bertemu dengan kerja keras hingga menghasilkan sesuatu yang baik.

“Kami peternak layer di Lampung berkomitmen untuk ini. Target kami waktu itu dalam setahun ada 11 peternak yang memiliki NKV, tetapi kenyataannya kurang dari setahun kita ada 14 yang mendapatkan sertifikasi NKV, sampai kita mendapatkan rekor MURI,” tutur Jenny.

Jenny juga menuturkan bahwa dengan menerapkan biosekuriti tiga zona yang baik di peternakannya, selain berimbas pada performa ternak juga berujung pada keuntungan secara ekonomi.

“Ayam jadi jarang sakit, kalaupun ada yang sakit tracebility-nya lebih mudah. Keuntungan meningkat, penggunaan antibiotik berkurang, meskipun penggunaan disinfektan meningkat, tetapi kita tetap untung dan jadi lebih enak tidur,” pungkas dia.

Seminar tersebut merupakan rangkaian acara dari Pekan Kesadaran Antimikroba Se-dunia (World Anti Microbial Awareness Week) yang digulirkan oleh WHO pada minggu ketiga di bulan November. Dengan adanya event ini diharapkan agar masyarakat dunia lebih bijak dalam menggunakan antimikroba baik di sektor kesehatan manusia dan hewan

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/ (CR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CopyAMP code