Kepiting Rajungan dari Induk Alam

Sebagai salah satu hasil laut yang terkenal nikmat dan bernilai gizi, kepiting rajungan menjadi salah satu hasil laut yang permintaan pasarnya tinggi.

Kepiting rajungan juga dikenal dengan nama blue crab atau Portunus pelagicus. Kepiting rajungan memiliki bentuk, warna, dan penampakan yang berbeda dengan kepiting bakau. Jenis kepiting ini dapat ditemukan di daerah pasang-surut, dari Samudera Pasifik, Samudera Hindia, Timur Tengah, sampai pantai di Laut Mediterania.

Sebagai salah satu komoditas ekspor Indonesia, sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan hasil tangkapan laut. Dikhawatirkan, populasinya di alam akan menurun. Indikasinya terlihat selama tiga tahun terakhir, ekspor kepiting rajungan mengalami fluktuasi karena tidak stabilnya hasil penangkapan oleh nelayan. Sebagai salah satu komoditas ekspor, budidaya kepiting rajungan bisa dikategorikan sebagai peluang usaha baru.

Pembenihan dari induk tangkapan alam

Salah satu kendala dalam pengembangan teknologi pembenihan rajungan adalah rendahnya persentase sintasan benih atau tingkat kelangsungan hidup yang dihasilkan. Belum ada teknologi pembenihan kepiting rajungan yang mudah diaplikasikan. Namun, bukan berarti budidayanya tidak bisa dilakukan. Salah satu upaya memperoleh benih yaitu menggunakan induk rajungan hasil tangkapan alam yang sudah gendong telur.

Foto 2 (www.chesapeakebay.net)

Faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan budidaya kepiting rajungan adalah pemilihan lokasi pembenihan, yang disarankan berada di tepi atau di daerah sekitar pantai agar memudahkan penyedian air laut. Kondisi air laut yang digunakan untuk budidaya harus jernih dan tidak berlumpur. Di samping itu, syarat utama lainya adalah kemampuan memompa air paling tidak selama 20 jam terus-menerus.

Suhu air kolam kepitingan rajungan disarankan pada kisaran 30—31 oC. Selama pemeliharaan, induk rajungan diberi pakan berupa cumi-cumi 2 kali sehari. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan sistem sirkulasi yang mampu memompa air selama 20 jam non-stop dan diberi aerasi. Pergantian air dilakukan 2 minggu sekali sebanyak 50% total volume air.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah proses atau siklus perkembangbiakan dan preferensinya. Kepiting rajungan jantan hanya mau kawin ketika betina sudah dewasa dan dalam tahap terakhir pergantian kulit (molting).

Salah satu hal yang paling menguntungkan adalah kepiting rajungan betina dapat menghasilkan dua juta telur setiap kali memijah. Walaupun tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih-benih di alam rendah, dengan penjagaan lingkungan yang terkendali, tingkat keberhasilannya bisa ditingkatkan.

Pemindahan induk gendong telur harus dilakukan dengan hati-hati. Telur sebaiknya ditunggu dari berwarna kuning, berubah jingga, lalu hitam. Setelah itu, induk kepiting rajungan dipindahkan ke dalam bak penetasan yang sudah dibersihkan dengan air laut steril. Proses pemindahan sebaiknya dilakukan pada sore hari.

Penetasan memakan waktu selama 1—2 hari. Selama waktu tersebut, induk kepiting rajungan biasanya tidak mau makan dan air dalam kolam harus diganti 100% setiap harinya. Induk kepiting rajungan juga tidak diberi pakan untuk mengurangi risiko kontaminasi bibit penyakit lewat pakan segar.

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 8/September 2015

Screw Press, Solusi Murah Cetak Pelet Ikan Apung

Mahalnya harga pelet ikan apung sudah bukan hal asing. Berbagai upaya menyediakan bahan baku di sekitar lahan budidaya pun ramai dilakukan. Namun, pembudidaya menginginkan pakan yang instan dan relatif lebih tahan lama. Cetak pelet solusinya.

Selain memudahkan kegiatan pemberian pakan, penggunaan pelet juga memudahkan urusan penyimpanan. Bayangkan jika untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, baik nutrisi utama, vitamin, dan mineral menggunakan bahan baku segar. Berapa banyak tempat khusus untuk menyimpan sisa sayuran, buah-buahan, bekicot, cacing, dan sebagainya. Dengan membuat pelet, semua bahan tersebut diramu, dicampur, dan dicetak menjadi satu.

Pilihan favorit pelet pun jatuh pada pelet ikan apung. Dibandingkan peletikan tenggelam, pelet ikan apung lebih mudah pengontrolannya. Sisa pelet yang tidak termakan tidak langsung tenggelam. Untuk menghindari penurunan kualitas air, pembudidaya bisa dengan mudah mengambil dan membuangnya. Sayangnya, harga pelet apung jelas lebih mahal dari pelet tenggelam.

Solusinya? Jika punya anggaran lebih dan mencukupi, buat pelet apung sendiri!

Mengapa bisa terapung?

Pada pembuatan pakan apung, terjadi proses ekstrusi yang menyebabkan pakan ikan memiliki kemampuan untuk tetap berada di atas permukaan alias mengapung. Demikian tulis Fajar Zahari dalam blog Forsum, Feed Inspiration Centre.

Menurutnya, proses kimia-termodinamika merupakan 2 syarat keberhasilan proses ekstrusi ini, di mana hasil keluarannya berupa pakan apung. Dari segi kimiawi, kadar pati (starch) merupakan penentu.  Maklum, sifat fisik pati yang mengembang saat terkena panas setelah proses gelatinasi mengakibatkan hasil akhir produk memiliki sifat mengapung. Sementara proses gelatinasi dan panas berasal dari tekanan akibat desain screw (ulir) atau injeksi uap.

Bahan yang sudah tercampur dan mengandung kadar air sesuai syarat kemudian mengalir melalui screw. Saat itulah terjadi peningkatan tekanan dan suhu. Peningkatan tekanan dan suhu tersebut mengakibatkan terjadinya proses gelatinasi dari pati.

Mendekati tahap akhir di saluran keluar (dies), suhu dan tekanan semakin meningkat. Pada tekanan normal, air yang terkandung dalam bahan akan menguap. Namun, disebabkan berada pada tekanan tinggi, hal tersebut tidak terjadi. Setelah bahan keluar dari dies dan kembali pada tekanan atmosfer, air menguap secara cepat (rapidly) dan terjadi proses puffing (mengembang) akibat kandungan pati (starch) dalam bahan tersebut. Dua proses kimia-thermodinamika itulah yang menyebabkan terbentuknya pori-pori dalam pakan apung. Udara yang mengisi pori-pori tersebut menjadikan berat jenis pakan apung ringan dan mengambang di air.

Foto 2 #2 (Istimewa)Kelebihan dan kekurangan Screw Press

Salah satu mesin sederhana yang bisa digunakan untuk membuat pakan apung adalah Screw Press. Dalam sebuah bahan tulisan yang dikirimkan pada Info Akuakultur, Jan Lemmen dari PT Kaliber Mitra Sakti menjelaskan bahwa sebetulnya mesin ini tidak termasuk ekstruder, melainkan semacam screwconveyor dengan plat besi berlubang yang diletakkan di bagian depan. Pelet yang keluar dari mesin masih basah sehingga perlu dikeringkan.

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 8/September 2015

Tangkal 7 Penyakit Bakterial pada Budidaya Lele

Dikenal sebagai komoditas ikan budidaya yang tangguh, lele juga bisa tumbang akibat serangan penyakit. Salah satunya akibat serangan bakteri. Apa saja bentuk serangannya?   

AK 9 Kesling 1 1 (istimewa)

Nursaid nelangsa. Seribuan benih lele yang baru dimasukkan beberapa minggu lalu tampak mengambang di atas permukaan kolam. Di awali dengan matinya puluhan benih di satu hari, berlanjut setiap harinya berikutnya. Padahal ia sudah berusaha mengikuti petunjuk yang didapatkannya dalam sebuah pelatihan budidaya lele. Sebagai pemula, dia tak mau coba-coba dan mengikuti apa yang pernah diajarkan dalam mengelola kualitas air hingga titik dan komanya.

Hal serupa juga dialami Nugroho. Pemuda dari Purworejo ini bahkan pernah mengikuti magang di salah satu kolam budidaya. Namun, ia pun tak kuasa menahan keheranannya tatkala ribuan ekor benih ikan lelenya mati. Padahal SOP telah dijalankan.

Isa Anshari, pengelola Lele Mangkutana, menuliskan dalam websitenya bahwa merawat ikan lele tidak hanya berbicara soal kualitas air. Selain kualitas air, pembudidaya ikan lele perlu memperhatikan kualitas pakan dan serangan penyakit.

Salah satu penyebab munculnya penyakit pada ikan lele adalah serangan bakteri. Serangan bakteri ini menjadi begitu mematikan tatkala kondisi air kolam tidak bagus dan daya tahan tubuh ikan lele menurun akibat kekurangan nutrisi. Begitu pula dengan kondisi iklim atau cuaca di daerah setempat yang turut andil mempengaruhi tingkat stres pada ikan. Belum lagi jika benih yang didatangkan sudah membawa benih penyakit bakterial.

Berikut 7 penyakit bakterial yang biasa dan berpotensi besar menyerang pada budidaya ikan lele.

Pseudomonas

AK 9 Kesling 1 2

Pseudomonas merupakan bakteri saprofit yang dapat hidup di air tawar, air payau, dan air laut. Kekurangan oksigen, perubahan temperatur yang drastis, dan pakan yang buruk ditengarai sebagai pencetusnya. Bakteri ini menyerang lele semua ukuran, yang ditandai dengan munculnya borok pada kulit, serta pendarahan pada kulit, hati, ginjal, dan limpa. Lele yang terserang akan terlihat lemah, kurus, dan kurang nafsu makan. Bakteri Pseudomonas fluorescens biasa menyerang bagian sirip dan ekor hingga terjadi korosi.

Aeromonas hydrophylla

AK 9 Kesling 1 3

Bakteri ini juga dikenal sebagai penyebab penyakit MAS (motile aeromonad septicaemia). Tanda-tanda utama serangannya terlihat dari adanya luka berupa borok atau ulser berbentuk bulat atau tidak teratur berwarna merah keabu-abuan di permukaan tubuh. Selain itu, terjadi pendarahan lokal di organ seperti sirip dan insang. Perut terlihat busung dan muncul exophtalmia (pop eye) atau mata menonjol. Ikan yang terserang terlihat lemas dan berenang di permukaan kolam atau dasar kolam.

Aeromonas punctata

AK 9 Kesling 1 4

Bakteri ini menyerang benih ukuran 1—12 cm. Serangannya ditandai dengan adanya infeksi pada kulit kepala, badan
belakang, insang, dan sirip.  Gejala lain terlihat dari hilangnya nafsu makan.

 

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 9/Oktober 2015

Besarkan Benih Udang Galah Sistem Ugadi

Kini, sawah tak lagi sekadar hasilkan padi. Dengan Ugadi, tebar benih udang galah di 1.000 m persegi luas sawah hasilkan 1,52 kwintal udang galah siap konsumsi. Tak hanya itu, sawahnya pun menghasilkan 8,82 kwintal padi. Tak percaya? Berikut ulasannya.
Kepala Perwakilan FAO di Indonesia, Mark Smulders, mengatakan bahwa FAO sangat senang  bekerja dengan Pemerintah Indonesia dalam hal ‘win-win‘ inisiatif mina padi, yang merupakan bagian dari upaya regional di kawasan Asia-Pasifik. “Ini bahkan dapat menjadi rujukan ‘triple-win‘ praktik pertanian karena akan meningkatkan hasil panen padi, meningkatkan pendapatan, dan meningkatkan nilai gizi dari panen yang terdiri dari padi maupun ikan/udang,” ujarnya dalam Gatra.com (14/12).

Upaya pemerintah dalam mengembangkan udang galah dilakukan lewat optimalisasi hatchery seperti dibangunnya Balai Budidaya Udang Galah (BBUG) di setiap provinsi, yang bertujuan memperbaiki manajemen induk serta manajemen kesehatan dan lingkungan.

Peluang pasar udang galah masih terbuka luas, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk pasar lokal, permintaan datang terutama dari wilayah yang banyak dikunjungi turis seperti Bali, Jakarta, Batam, dan Surabaya. Sementara pasar di luar negeri telah terbentuk di Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Kanada, Skotlandia, Inggris, Selandia Baru, dan Australia. Selain itu, udang galah merupakan komoditas yang di unggulkan di Thailand dan India.

Di Indonesia, permintaan pasar udang galah berukuran 40—50 gram per ekor untuk suplai ke hotel-hotel, restoran, dan supermarket. Sementara permintaan udang galah untuk pasar luar negeri pada 100 gram per ekor dengan jaminan pasokan secara rutin. Sayangnya, kebutuhan tersebut belum terpenuhi, baik dari sumber penangkapan di alam maupun budidaya.

Pembenihan

Permintaan pembudidaya udang galah terhadap benur sebanyak 5 juta ekor per bulan, sedangkan kemampuan produksi masih 700 ribu—1 juta ekor per bulan. Kondisi ini menjadi peluang bagi balai benih, swasta, atau masyarakat untuk menggarap segmen pembenihan udang galah.

Saat penetasan, udang galah memerlukan air payau dengan salinitas 10—12 promil hingga PL atau post larva. Adapun saat juvenil sampai dewasa, udang galah hidup di air tawar. Larva udang galah hidup pada suhu 28—30 0C. Larva berumur 4—5 hari cukup mengonsumsi artemia. Setelah berumur 6 hari diberi pakan buatan dengan kadar protein 40%.

Setelah 4—5 hari sejak larva pertama kali pindah, dilakukan pergantian air sebanyak 25%. Setelah itu, pergantian air dilakukan 3 hari sekali. Satu minggu terakhir sebelum dipindahkan ke bak pendederan, pergantian air dilakukan setiap 2 hari sekali.

Pembesaran sistem Ugadi

Masa pemeliharaan udang galah dari juvenil sampai panen membutuhkan waktu 5—6 bulan. Untuk kepentingan budidaya pembesaran, benih udang galah yang dibutuhkan sudah mencapai tokolan  atau berukuran 3—5 cm. Biasanya, ukuran PL atau post larva tersebut sudah dipelihara di kolam pendederan selama 1—1,5 bulan. Udang dengan ukuran tersebut sudah lebih kuat dan tahan terhadap lingkungan di kolam pembesaran dibandingkan dengan udang galah berukuran 1—1,5 cm.

Menurut Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap, DKP Bantul Yogyakarta, Yus Warseno, S.Pi, M.Sc., “Udang galah bersifat kanibal sehingga dianjurkan menggunakan shelter sebagai pelindung saat udang galah moulting atau ganti kulit. Tanaman padi berfungsi sebagai shelter, sekaligus penghasil oksigen dan pakan alami sehingga larva tidak memerlukan aerasi. Selain itu, tikus juga tidak masuk ke tanaman padi karena terhalang kolam,” papar Ketua Kelompok Tani Mina Muda, Samberembe Satrianto.

Yus Warseno menambahkan, masyarakat atau pembudidaya cukup membeli benih, bisa berupa juvenil atau tokolan, kemudian langsung ditebar di sawah yang memiliki kemalir. Pembudidaya bisa membeli juvenil di hatchery udang galah atau BBUG. Kemudian dideder dulu di kolam yang telah disiapkan dengan shelter tanaman eceng gondok. Setelah berumur 2,5 bulan, benur sudah mencapai ukuran tokolan. Kemudian benur ditebar bersamaan waktu tanam padi sehingga bisa dilakukan panen bersama, udang galah dan padi.

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 12/ Januari 2016

Budidaya Gurame: Tetap Berdaya di Masa Tua

AK12 Ekbis 2 20Siapa bilang usaha budidaya hanya untuk mereka yang masih muda. Tepat memilih segmentasi usaha, budidaya ikan bisa menjadi pilihan mengisi waktu tua agar tetap produktif dan berdaya.
Sebagian besar mungkin berpikir bahwa usia tua adalah masa untuk pensiun, masa untuk istirahat, dan mengundurkan diri dari kesibukan duniawi. Namun tidak untuk Arif Setiadi (52 tahun). Di usianya yang bisa dikatakan tak lagi muda, pria yang pernah berkelana di negeri Kanguru, Australia, ini memilih mengisi waktunya dengan melakukan budidaya ikan koi dan gurame.
Di kediamannya, Karang Talun, Kalidawir, Tulungagung, Arif memiliki 4 buah kolam. Masing-masing ber ukuran 10 x 20 m, 12 x 22 m, dan 12 x 24 m. Kolam paling besar diisi bibit ikan gurame ukuran silet sebanyak 3.000 ekor. Artinya, padat tebar ikan rata-rata 10 ekor per meter persegi.
Nilai ekonomis
Dengan waktu pembesaran satu tahun, jumlah pakan standar yang dibutuhkan untuk setiap 1.000 ekor ikan gurame, sejak tebar hingga panen, sebanyak 30 sak. Saat wawancara dilakukan, harga pakan per sak isi 30 kg Rp 278.000. Artinya, untuk 3.000 ekor gurame yang dibesarkan Arief, total jenderal biaya pakan yang dibutuhkan sebesar Rp 25.020.000.
Selain biaya pakan, ongkos produksi mencakup biaya benih. Harga benih gurame ukuran silet saat wawancara dilakukan adalah Rp 1.200 per ekor. Total biaya untuk 3.000 ekor benih yaitu Rp 3.600.000. Ongkos listrik diperkirakan sebesar 1.200.000 per satu siklus. Adapun biaya tenaga kerja tidak ada karena pekerjaan ditangani sendiri. Jadi total biaya produksi yang diperlukan sebesar Rp 28.620.000.
Lalu, berapa keuntungan yang diraup Arief dalam kurun waktu satu tahun?
Dalam setahun, bobot ikan gurame yang dipanen rata-rata 500 gram per ekor atau sekilo isi 2 ekor. Jika survival rate sebesar 80%, Arief memanen gurame sebanyak 2.400 ekor. Artinya, bobot panen total sebesar 1.200 kg atau 1,2 ton. Jika harga berat basah sebesar Rp 32.000 per kilogram, Arief mengantongi hasil panen kotor sebesar Rp 38.400.000. Dikurangi ongkos produksi sebesar Rp 28.620.000, ungtung bersih yang masuk kantongnya sebesar Rp 9.780.000. Jika bisa menekan angka kematian, untung yang diperoleh bisa lebih besar.
“Tingkat kematian tergantung musim. Jika cuaca ekstrim atau sangat panas, gurame sering mengalami luka pada kulit dan sirip. Seperti terbakar. Dari 2.000 ekor bibit yang ditebar, jumlah panen bisa hanya 200 ekor,” beber Arief.
Ditanya soal solusi mengatasinya, Arief menyarankan agar mengisi air kolam setiap sore menjelang maghrib dan menghindari pengisian air sejak pagi hingga sore. Menurutnya, mengisi air saat cuaca panas sama seperti merebus ikan. “Selain itu, ikan harus beradaptasi terlebih dulu dengan air baru. Ikan menjadi stres,” tambahnya.
Selain menjaga kesehatan ikan dan lingkungan budidaya, Arief juga berupaya menekan pengeluaran pakan dengan pemberian pakan berupa dedaunan seperti kangkung, talas, dan daun singkong. “Selain murah, daun kangkung mudah diperoleh karena banyak petani kangkung di daerah saya. Untuk kangkung, harga bandrol Rp 70.000 untuk setiap satu kwintal atau 100 kilogram,” ungkapnya.
Tak patah arang
Setiap usaha tentu memiliki risiko. Sebagaimana bisnis lainnya, di balik keuntungan, ada risiko kerugian yang perlu disadari. Begitu pula dengan usaha pembesaran gurami yang dilakukan Arief. Ia sempat menderita kerugian yang besar saat pertama kali terjun.
“Ketika itu saya masih pemula, masih awam. Permasalahannya karena bibit ikan yang jelek dan harga jual yang sangat rendah,” kenangnya. Kala itu, panen gurame Arief hanya seharga Rp 18.000 per kilogram. “Padahal harga pakannya saja sudah Rp 270.000 per sak,” tambahnya.
Kerugian ini diperparah dengan kondisi bibit yang jelek. Bibit gurame tidak berkembang dengan baik. “Bayangkan, dalam setahun pemeliharaan, berat per kilo berisi 7 ekor ikan. Ikan centet atau kerdil. Ukurannya hanya sebesar 3 jari orang dewasa,” ungkapnya.
AK12 Ekbis 2 1Seiiring berjalannya waktu, ia memahami cara memilih bibit yang baik. Bibit gurame yang berpotensi kerdil ditandai dengan mata yang menonjol. Selain itu, siripnya tampak rapat. “Jika datang langsung ke pembenih, kita bisa memilih langsung benih yang kita anggap berpotensi tumbuh dengan baik. Tapi jika sibuk, terpaksa memesan via telepon, kita terpaksa pasrah dan percaya saja,” akunya.
Meskipun pernah gagal, Arief tidak patah arang. Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur. Untuk menyiasati waktu pemeliharaan ikan gurame yang cukup lama, Arief menyiasati pemasukan dengan budidaya ikan koi. “Budidaya ikan koi bagus, harganya relatif tinggi dan dijual satuan. Paling tinggi, ikan bisa dijual dengan harga Rp 35.000 per ekor, tergantung grade,” terangnya. Selain itu, waktu pemeliharaan ikan koi jauh lebih singkat. Dijualnya pun bisa dalam beragam ukuran, tergantung permintaan.
Dengan budidaya dua jenis ikan ini, Arief bisa terus mengisi pundi-pundi keluarga. Sejauh ini, penjualan kedua komiditas budidaya ikan air tawar itu mudah diserap pasar. Bakul ikan datang langsung ke tempatnya.
“Sebagai usaha untuk mengisi waktu tua, usaha budidaya pembesaran gurame cukup menjanjikan. Hanya saja memang dibutuhkan modal besar dan kesabaran karena masa pemeliharaannya relatif lama, yaitu satu tahun, tergantung ukuran pada awal penebaran,” pungkasnya. (Rch)

PERS RELEASE: PARADIGMA SUSTAINABLE DEVELOPMENT DALAM TAMBAK TEKNOLOGI SUPER INTENSIF

Sustainable development dalam Tambak Super Intensif

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) Maros, 14 Juni 2015

Saat ini, bertambak menjadi peluang untuk pemenuhan produksi pangan, khususnya pemenuhan protein dari hewan akuatik, seperti udang dan ikan.  Prinsip sustainable development harus mendasari proses produksi dalam tambak, tidak hanya fokus pada peningkatan produksi semata tetapi juga pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.  “Sudah bukan jamannya lagi mengkonversi hutan mangrove untuk menjadi tambak produksi, justru saatnya kita replanting bakau untuk memperbaiki ekosistem pesisir,” ungkap Prof Rachman Syah, peneliti utama Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) di Takalar, 14 Juni 2015.

Rachman Syah menjelaskan prinsip-prinsip budidaya udang vaname teknologi super intensif kepada peserta techno park magang teknologi yang diselenggarakan dari tanggal 10 – 16 Juni 2015 di Instalasi Tambak Percobaan BPPBAP di Desa Punaga, Kabupaten Takalar, Sulsel.  Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar, Barru, Pinrang Sulsel, Kabupaten Berau Kaltim, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pemakaian kincir dalam Tambak Super Intensif

Pakar lingkungan akuakultur tersebut menitikberatkan pada efisiensi penggunaan input akuakultur, termasuk lahan dan air.  “Dengan teknologi super intensif, penggunaan air yang dibutuhkan untuk produksi 1 kg udang hanya sebesar 2 m3 dan lahan kecil seluas 1.000 m2 dengan kedalaman 2 meter mampu menampung satu juta benur udang”, lanjut Rachman Syah.

Padat tebar yang tinggi perlu diikuti dengan penggunaan kincir dan blower sebagai aerasi untuk pemenuhan oksigen bagi biota budidaya.  Selain itu, penambahan bahan lain, seperti probiotik, molase diperlukan untuk memperbaiki kualitas perairan.  Lebih detail dijelaskan mengenai prinsip pengolahan air limbah budidaya yang menjadi fokus penelitian beliau tahun 2015.  “Sub sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mutlak diperlukan dalam sistem budidaya ini.  Konsep IPAL ini telah diwujudkan di tambak percobaan BPPBAP dengan adanya bangunan kolam pengolahan yaitu kolam sedimentasi, kolam oksigenasi, dan kolam biokonversi,” jelas alumni pascasarjana IPB ini.

Adanya IPAL ini dapat meningkatkan nilai tambah berupa fresh product berupa udang dengan dampak lingkungan yang minimal dan adanya co product berupa rumput laut, kekerangan, ikan nila yang dapat dipelihara di kolam biokonversi.  “komoditas ini merupakan organisme pada trophic level yang memanfaatkan rantai makanan level awal, sehingga mampu mengkonversi bahan organik dari limbah budidaya udang,” lanjut beliau.  Dukungan litbang perikanan budidaya ini diharapkan mampu mendorong efisiensi dalam akuakultur dengan prinsip sustainable sebagai faktor pendorong meningkatnya daya saing produk akuakultur Indonesia.

Contact Person:

Ir. Andi Parenrengi, M.Sc

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau

Sms: 0813 1533 4215

Indra Jaya Asaad, S.Pi, M.Sc

Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan Sarana BPPBAP

Sms: 0852 5533 5676

logo

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

BUDIDAYA AIR PAYAU

JALAN MAKMUR DG.SITAKKA NO.129 MAROS 90512

TELEPON (0411) 371544, FAKSIMILI (0411) 371545

LAMAN:  www.litbang.kkp.go.id/rica-maros   POS ELEKTRONIK: [email protected]

Pelatihan Budidaya Lele Sistem Bioflok

 

Pelatihan Bioflok Info Akuakultur

Pakar budi daya Lele Sangkuriang, Nasrudin menyebutkan, kebutuhan ikan Lele untuk pasar di wilayah Jabodetabek sebanyak 240 ton per harinya belum terpenuhi.

“Tapi sampai saat ini (peternak lele) belum mampu memenuhi kebutuhan pasar untuk wilayah Jabodetabek setiap harinya,” ujar Nasrudin saat ditemui di lokasi pembibitan Lele Sangkuriang miliknya di Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa (24/3).

Nasrudin mengatakan, dari 240 ton kebutuhan lele di Jabodetabek, yang baru bisa terpenuhi hanya 140 ton per harinya yang berasal dari peternak Lele di wilayah Bogor Raya yang memasok 80 ton hingga 100 ton sisanya dibantu dari peternak Lele wilayah Jawa.

Ia mengatakan, pemasaran Lele selain untuk konsumsi rumah tangga juga untuk gerai kuliner pecel Lele yang berjumlah 50.000 tenda tersebar di wilayah Jabodetabek. “Makanya kita tidak bisa mengekspor Lele karena untuk kebutuhan dalam negeri saja masih kurang,” ujar Nasrudin. (Sumber Republika Online)

Bioflok pada lele mulai banyak diminati. Tak heran, antusias masyarakat mengikuti pelatihan ini disebabkan sistem ini memiliki banyak keunggulan. Beberapa keunggulan sistem bioflok antara lain sebagai berikut.

Keunggulan bioflok #1. Hemat air

Sistem bioflok mampu menghemat penggunaan air, sedikit atau bahkan tanpa penggunaan air. Dalam sistem bioflok, amoniak yang menjadi musuh budidaya justru dijadikan sebagai salah satu sumber bahan baku protein untuk pakan ikan. Dengan penanganan yang tepat, penggantian air sedikit atau bahkan tidak perlu sama sekali.

Keunggulan bioflok #2. Hemat pakan

Selain menghemat air, sistem bioflok juga menghemat pakan ikan. Jika populasi  hingga diperoleh FCR 0,7. Artinya, dari 0,7 kg pakan yang diberikan mampu menghasilkan 1 kg daging. Mustahil!

Benar. Hampir mustahil mendapatkan nilai FCR tersebut jika menggunakan sistem budidaya yang biasa, cara budidaya yang biasa. Dengan sistem bioflok, pakan tidak hanya berasal dari pakan buatan atau alternatif yang diberikan, melainkan flok alami yang dihasilkan oleh sistem bioflok.

Keunggulan bioflok #3. Padat tebar tinggi

Jika cara tradisional hanya mampu menampung ikan sebanyak 100-300 ekor/m2, sistem bioflok mampu menampung 500 hingga 2.500 ekor/m2. Apakah mungkin?

Sangat mungkin, jika menggunakan sistem bioflok. Dengan sistem bioflok, air kolam sebagai media tempat hidup ikan akan terjaga kualitasnya.Ikan pun akan merasa nyaman meskipun agak sedikit hidup berdesakan.

Keunggulan bioflok #4. Bisa dibudidayakan di tempat terbatas/perkotaan

Dengan sistem bioflok, keterbatasan lahan tidak lagi menjadi masalah. Budidaya sistem bioflok bisa dilakukan meskipun lahan telah tertutup semen. Anda pun bisa membuat kolam di atas dak atap rumah jika memungkinkan kekokohannya.

Tak hanya membahas persoalan teknis budidaya lele dengan sistem bioflok, pelatihan yang diselenggarakan atas kerjasama Info Akuakultur dengan Farm 165 sebagai pihak yang ditunjuk sebagai P2MKP oleh DKP ini juga akan membahas mengenai cara membangun dan mengelola usaha. Tanpa pengetahuan dalam manajemen usaha, budidaya yang berhasil menghasilkan produksi tinggi bisa jatuh karena tidak mampu mengelola aset dengan baik. Oleh sebab itu, dibutuhkan ilmu manajemen pengelolaan usaha yang baik.

Segera daftarkan diri Anda, ikuti pelatihan budidaya ikan sistem bioflok plus plus ini.

Hubungi:

Rizky Yunandi 021 7829689, 089654733750

Infoakuakultur
Gedung ASOHI Grand Pasar Minggu
Jln. Raya Rawa Bambu No.88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520

Pesisir Barat, Primadona Baru Petambak Udang Lampung

Sempat mengalami penurunan produksi tidak lantas membuat para petambak udang Lampung pasrah. Didukung soliditas dan perasaan senasib yang kuat, para praktisi tambak saling berkomunikasi lewat forum yang mereka bentuk, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA). Adanya wadah komunikasi ini sangat membantu para praktisi petambak, yang nota bene-nya adalah para manajer pengelola yang bertanggung jawab atas keberhasilan usaha budidaya.

Serangan wabah penyakit WFD (white feses disease) dan WSSV (white spot syndrom virus) beberapa tahun lalu masih menyisakan luka. Tak hanya lokal Lampung, serangan wabah penyakit ini berimbas pada penurunan produksi udang secara nasional. Maklum, selama ini Lampung menjadi lumbung udang andalan ekspor Indonesia.

“Informasi terakhir dari teman-teman DKP, produksi nasional beberapa tahun belakangan ini agak menurun. Hal ini disebabkan adanya serangan penyakit, baik di Jawa Timur dan Lampung. Penyakit yang terbaru adalah white feses disease (WFD),” tutur Abeng.

Jangan melawan alam

Ketua FKPA Korwil IV ini juga mengatakan bahwa kunci paling utama dalam menjalankan usaha budidaya udang yang terjamin keberlanjutannya adalah manajemen kualitas air. Di samping itu juga jeli menilai kondisi lingkungan.

“Yang pasti, kalau kita mau budidaya yang bagus, artinya suistinable-nya jalan, ya kita harus bersahabat dengan alam. Itu kuncinya. Selama kita bisa bersahabat dengan alam, Insya Allah, budidaya masih bisa berjalan dengan bagus. Saya yakin,” ucapnya meyakinkan.

Sebagai ketua Korwil yang membawahi para petambak di wilayah Padang Cermin, Punduh Pidada, dan Hanura, ia selalu mengingatkan rekan sesama petambak saat berkumpul bersama untuk tidak berusaha melawan alam.

“Tidak ada ceritanya manusia bisa melawan alam. Pasti digulung oleh alam. Inilah pentingnya mempelajari dan memahami karakteristik alam,” ujarnya.

Salah satu bentuk memahami alam itu dengan mengamati karakteristik tambak saat pergantian musim. Pada saat kondisi kemarau, cuaca panas terik menyebabkan salinitas air tambak menjadi tinggi. Sementara pada musim hujan, suhu air turun drastis. Selain itu, air hujan yang turun dari gunung menuju muara dan laut lepas membawa polutan organik. Air menjadi keruh dan bisa menimbulkan masalah jika diambil untuk mengisi tambak. Dengan memahami kondisi lingkungan, pola budidaya bisa disesuaikan.

Sulitnya persoalan sumberdaya air ini juga dialami oleh Bimo, salah seorang petambak dari Kalianda. Ia mengaku bahwa sumber air memanfaatkan air sungai yang juga dihunakan oleh 3 farm atau tambak lainnya. Selain sebagai air masuk, sungai itu juga digunakan sebagai tempat pembuangan.

“Ini karena jarak tambak yang terlalu jauh dari laut, sekitar 1 km,” terangnya.

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, anggota FKPA ini juga menerapkan sistem tandon sebagai langkah biosekuriti.

Dampak serangan WFD selama dua tahun terakhir memang luar biasa. Produksi tambak menurun jauh dengan SR 50—70%. Indikasinya bisa dilihat. Pada saat beban bahan organik di perairan kolam mulai naik, seiring dengan banyaknya polutan yang kita masukkan dan ketidakmampuan pembudidaya mengelola limbahnya, penyakit ini akan muncul.

Meskipun demikian, dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand, produksi per hektar Lampung secara garis besar masih terkategori standar, antara 12—15 ton/hektar. Untuk pesisir Lampung Timur, pesisir Selatan (Kalianda dan Teluk Lampung) sampai ke Padang Cermin tampaknya agak sulit meningkatkan kapasitas produskinya. Rata-rata 12—15 ton, dan angka paling top 20 ton/hektar. Angka tersebut bisa dicapai setelah ada perombakan di konstruksi kolam.

Selengkapnya>> Baca Info Akuakultur Edisi Mei 2015

Menteri Susi Tagih Janji Pengusaha Pakan Ikan (Info Akuakultur Edisi April 2015)

Info Akuakultur 03 koperSektor perikanan budidaya air tawar menempati peran strategis dalam program ketahanan pangan dan gizi nasional. Pasalnya, dari total produksi ikan budidaya, 60% di antaranya merupakan kontribusi perikanan budidaya air tawar.

Harga pakan di pasaran saat ini dinilai sangat tinggi sehingga dikeluhkan para pembudidaya. Sebagai contoh, harga pakan lele di pasaran Rp 9.000—10.000/kg. Padahal, harga ikan lele sendiri hanya Rp 13.000/kg. Ini belum ditambah dengan biaya produksi lainnya seperti tenaga kerja, obat-obatan, listrik, dan komponen biaya produksi lainnya. Praktis, margin keuntungan yang diterima oleh pembudidaya menjadi sangat tipis.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti, harga pakan yang ada saat ini masih terlalu tinggi. Ia berharap agar komponen biaya untuk pakan bisa diturunkan hingga di bawah 60% dari total biaya produksi. Dengan penurunan harga pakan, para pembudidaya diharapkan akan lebih bersemangat dalam melakukan usaha. Keuntungan yang mereka peroleh pun bisa ditingkatkan.

Akibat tingginya harga pakan ikan, pembudidaya hanya mendapatkan margin yang kecil, setara dengan pendapatan level buruh. Padahal, dalam menjalankan usahanya, pembudidaya menghadapi risiko yang tidak kecil. Susi berharap dengan penurunan harga pakan, level mereka akan meningkat menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Untuk mengatasi hal tersebut, Susi meminta para pengusaha pakan ikan menurunkan harga pakan secara bertahap sebesar Rp 1.000 setiap bulan, hingga harga berkurang sebesar Rp 3.000. Pada pertemuan tersebut, Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) menyepakati untuk menurunkan harga pakan ikan secara bertahap dalam waktu dekat. Para pengusaha pakan berjanji untuk menurunkan harga pakan mulai bulan Maret 2015. Terkait keputusan GPMT tersebut, pemerintah memberikan apresiasi atas niat baik mereka mendukung usaha pemerintah.

Namun, beberapa media memberitakan bahwa hingga awal Maret 2015, harga pakan masih pada kisaran Rp 9.000—10.000/kg. Artinya, harga masih belum diturunkan dari sebelumnya. Oleh karena itu, Susi menyampaikan permintaan untuk kedua kalinya kepada para pengusaha untuk menepati janjinya. Bahkan Menteri KKP tersebut mengatakan bahwa jika harga pakan masih tetap tinggi, ia bersikukuh untuk mencari jalan keluar lain. Misalnya saja, tidak menutup kemungkinan untuk membuka keran impor supaya harga pakan bisa turun sehingga para pembudidaya ikan bisa terbantu.

Susah turun

Tak dapat dipungkiri titik pangkal permasalahan harga pakan tersebut adalah bahan baku. Selama bahan bahan bakunya masih mengandalkan impor, selama itu pula harga pakan tidak stabil. Inilah yang menjadi permasalahan utama sulitnya harga pakan diturunkan sesuai harapan Menteri Kelautan dan Perikan.

Handiman dari USSEC (United State Soybean Export Council) dalam sebuah diskusi dengan redaksi InfoAkuakultur mengungkapkan, bahan baku pakan—misalnya bungkil kedelai—masih murni mengandalkan impor dari Argentina, Brazil, dan India. Tentu saja ongkos transportasi dan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS menjadi pertimbangan dalam penentuan harga.

Di samping itu, menurut Denny Indrajaya, komponen bahan baku pakan yang lain—misalnya tepung ikan—juga masih menggunakan impor. Hal ini disebabkan tepung ikan produksi dalam negeri masih belum tersertifikasi. Bahkan, tepung ikan yang berasal dari ikan lemuru pun belum mendapatkan sertifikasi dari IFFO (International Fishmeal and Fish Oil).

Penggunaan tepung ikan impor yang cukup besar disebabkan bahan baku dari luar negeri tersebut sudah tersertifikasi oleh IFFO. Sertifikasi terhadap bahan baku sangat penting dalam industri perikanan, terutama jika produk budidaya tersebut ditujukan untuk komoditas ekspor, seperti ke Eropa. Denny mengungkapkan, pasar Eropa menghendaki semua bahan yang terlibat dalam budidaya tersertifikasi, termasuk bahan baku pakan.

Ketua Divisi Pakan Ikan GPMT tersebut juga mengatakan, sertifikasi tepung ikan tersebut untuk mendukung produksi berkelanjutan/lestari (sustainability). Salah satunya terkait dengan cara penangkapan ikan yang baik sehingga kelestariannya bisa terjamin. Beberapa negara pengekspor tepung ikan, misalnya Peru dan Chili sudah mendapat sertifikasi terhadap produk tersebut.

Di samping masalah sertifikasi, tepung ikan lokal juga terkendala masalah kualitas yang tidak stabil. Hal ini karena tepung ikan lokal diproduksi dari berbagai jenis ikan. Selain itu, tepung ikan dalam negeri sebagian masih menggunakan sisa-sisa ikan yang tak dimakan atau ikan rucah. hal ini menyebabkan mutu tepung ikan yang diproduksi tidak konsisten dan mempunyai kandungan gizi yang tidak seragam.

Sementara itu, Endhay Kusnendar, peneliti dari KKP memaparkan bahwa produksi bahan baku tidak terlepas dari adanya permintaan. Menurutnya, ketika industri perikanan budidaya berkembang, permintaan terhadap pakan atau bahan baku pakan akan meningkat.

Sementara impor tepung ikan belum bisa dihilangkan, produksi tepung ikan nasional menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan ekspor tepung ikan ke luar negeri. Ekspor tepung ikan lokal pada tahun 2012 mencapai 3.178 ton. Pada tahun 2013 mencapai 4.501 ton dan pada tahun 2014 mencapai 10.709 ton.

Secara total, produksi tepung ikan lokal mengalami tren kenaikan dari 35.554 ton pada tahun 2013 menjadi 47.215 ton pada tahun 2014. Data yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, memaparkan bahwa produksi tepung ikan lokal dari masyarakat pakan mandiri pada tahun 2012 mencapai 5.622 ton. Sementara pada tahun 2013, produksinya meningkat menjadi 6.165 ton. Namun, tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 3.456 ton.

Berbicara soal kebutuhan, konsumsi pakan akuakultur untuk ikan pada tahun 2014 mencapai 1.088.300 ton, sedangkan untuk udang 390.000 ton. Menurut data yang dikeluarkan Ditjen PPHP KKP, pada tahun 2014, total kebutuhan tepung ikan mencapai 90.327 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 36% dipenuhi produksi dalam negeri, sedangkan sisanya diperoleh melalui impor.

Dukung KKP, pengusaha pakan luncurkan pakan murah

Saat dihubungi Info Akuakultur, Deni Indradjaja mengatakan, permintaan Menteri KKP telah ditindaklanjuti dengan produksi pakan murah, tentunya dengan menyesuaikan nilai nutrisinya. “Ibarat bensin, ada produk kualitas Premium dan Pertamax. Jadi tinggal menyesuaikan dengan kebutuhannya. Pakan premium dengan pakan murah tentu berbeda dari sisi biaya produksi, harga, dan juga nilai nutrisinya. Jadi pembudidaya dipersilahkan untuk memilih,” terangnya.

Pengakuan Deni diamini oleh Coco Kokarkin. Direktur Produksi Ditjen Perikanan Budidaya KKP itu mengungkapkan, beberapa pabrik pakan sudah mulai meluncurkan produk pakan murah. Meskipun masih menjadi produk pakan alternatif, kehadiran pakan harga murah ini diharapkan bisa menjadi angin segar bagi para pembudidaya. Dengan begitu, para pembudidaya tetap bisa melakukan aktivitas budidaya sesuai dengan anggaran yang dimiliki. Dengan dukungan manajemen budidaya yang baik, para pembudidaya bisa memaksimalkan output pakan murah ini dengan cara menurunkan angka FCR, antara lain lewat pemberian probiotik, manajemen kualitas air, dan langkah teknologi yang lain.

Meskipun kadar proteinnya lebih rendah dibandingkan produk pakan premium yang beredar saat ini, kadar protein pakan murah masih masuk dalam kategori standar dengan protein berkisar 27—28%. Artinya masih sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) pakan ikan.

Dengan langkah produksi pakan murah ini pengusaha pakan ikan dan pengusaha budidaya diharapkan bisa saling menghidupi usahanya. Intervensi asing berupa masuknya pakan impor pun bisa dihindari sehingga pembangunan perekonomian lewat jalur budidaya perikanan bisa lebih mandiri dan berdaulat.***
(dikutip dari Majalah Info Akuakultur edisi April 2015)

Langganan, hubungi [email protected]

hp: 0812 9557 5575

Tiga Jurus Menang Bersaing (Bambang Suharno)

Bambang suharno
Bambang suharno

Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi dahsyat tahun 1998, saya sempat bertemu dengan pengusaha nyentrik Bob Sadino. Saya bertanya, bagaimana Om Bob menghadapi krisis. Ia, dengan gaya khasnya yang meyakinkan menjawab,” saya tidak menghadapi krisis, tapi menerima krisis”.

“Dari cara berpikir saja, saya beda dengan mereka kan?” ujarnya. Mereka yang dimaksud adalah para pengusaha dan juga pemerintah .

Dengan menerima krisis, artinya kita tidak mengeluh mengalami goncangan ekonomi. Bukan hanya goncangan ekonomi dan politik 1998, pelaku bisnis sukses pada umumnya memahami bahwa persaingan itu secara alami akan semakin ketat. Coba kita lihat, minimarket 10 tahun lalu hampir selalu dipenuhi pelanggan dari pagi hingga sore. Kini, ketika di semua sudut kota ada minimarket, pembeli cenderung sepi. Sebagian di antara mereka harus tutup karena tak layak untuk diteruskan. Jika anda bisnis computer, telepon seluler maupun pulsa, juga mengalami persaingan yang makin ketat dan makin tipis margin yang anda terima. Untunglah, jumlah penduduk terus bertambah, pendapatan masyarakat juga meningkat sehingga penjualan secara total berkembang pesat.

Kini ketika Indonesia akan memasuki tahap globalisasi melalui terbentuknya MEA, saya teringat dengan adanya MEA persaingan makin ketat, dan semua pelaku bisnis harus menerima persaingan, bukan melawan persaingan.

Bagaimana caranya? Beberapa tahun lalu saya bertanya kepada seorang guru bisnis; apa kiat sukses memenangkan persaingan. Berikut ini jawabannya .

Pertama, jadilah pelopor. Dalam sejarah bisnis, air minum dalam kemasan merk Aqua adalah pelopor. Demikian pula teh botol Sosro sebagai pelopor produsen teh dalam kemasan botol. Kedua merk ini menjadi pemenang dalam persaingan di kelasnya, karena menjadi pelopor.

Masalahnya, tidak semua pelaku bisnis dapat menjadi pelopor. Jadi apa yang harus dilakukan ? inilah kunci rahasia kedua, yaitu jadilah yang terbaik. Jika anda bukan pelopor, anda tetap bisa menjadi pemenang persaingan jika anda menyajikan yang terbaik. Jejaring Sosial facebook bukanlah yang pertama, namun ia menjadi pemenang persaingan, mengalahkan para pelopor, karena facebook menyajikan yang terbaik untuk penggunanya.

Hal yang sama berlaku untuk mesin pencari Google yang kini menguasai 80% market search engine dunia. Google bukanlah yang pertama alias pelopor. Ia adalah yang terbaik di antara search engine yang ada di dunia .

Masalahnya, tidak semua pelaku bisnis bisa menjadi yang terbaik. Jika demikian, ada jurus ketiga sebagai jurus pamungkas, yaitu jadilah yang berbeda. Bukankah banyak pebisnis yang tidak menjadi yang terbaik bisa eksis, bisa berkembang karena menyajikan sebuah perbedaan? Di sekitar kita banyak warung makan yang tidak menyajikan makanan paling enak namun bisa berkembang karena memberikan perbedaan. Perbedaan pun kadang bukan konten melainkan konteksnya saja. Ada soto gebrak, misalnya, yang terkenal “gebrakannya” ketika melayani pembeli. Ini tidak ada kaitannya dengan rasa soto, namun hanya menyajikan keunikannya saja, dan ternyata mampu menarik pembeli.

Alkisah, di suatu perusahan bir, suatu hari direksi mengundang konsultan marketing ke pabriknya untuk membantu membuat promosi yang lebih menarik dan berdampak. Ahli marketing itu langsung mengamati proses produksi bir. Singkat cerita, setelah mengamati proses produksi, ia langsung membuat kalimat promosi seperti ini,” Bir ini dibuat melalui 10 tahapan mulai dari penyaringan, penyimpanan……dst”.

Kalimat promosi ini diprotes oleh bagian produksi. Mereka berkilah,” semua bir juga dibuat dengan tahapan itu, buat apa dibuat kalimat promosi seperti itu?”

Inilah jawaban ahli marketing,” Ya, boleh saja pabrik lain melakukan hal yang sama, tapi mereka tidak mengatakannya kepada konsumen. Kitalah yang mengatakannya, sehingga konsumen merasa, inilah bir yang baik buat mereka”.

Begitulah, perusahaan Bir tersebut akhirnya menjadi pemenang dalam persaingan, hanya karena menyampaikan sesuatu yang berbeda kepada konsumen. Meski yang lain juga melakukan hal yang sama. Itulah perbedaan dalam segi konteks, bukan konten.

Bagaimana dengan anda?***

Penyebab Kerugian yang Tidak Terdeteksi Peternak lele

Di berbagai  wilayah  banyak  peternak lele mengatakan rugi dan rugi, dan kemudian usahanya gulung tikar. Sebenarnya apa penyebabnya?

 Mari kita telaah. Harga lele per bulan januari 2015 ini berkisar antara Rp 12.500 – Rp 14.000 per kg. Rata rata peternak tradisional menebar 2.000 ekor per kolam. Mereka menggunakan pakan pabrikan dan pakan alternatif berupa keong.

dwi avianto
Dwi Avianto

Peternak ini biasanya memakai pakan pelet 60 kg ditambah keong 20 kg. Harga pakan 285.000 /sak,dan dibutuhkan 2 sak sehingga total biaya pakan sebesar Rp 570.000.

Misalkan harga benih Rp 180/ekor , maka biaya benih untuk 2.000 ekor sebesar Rp 360.000. Keong pastilah gratis, peternak tinggal cari di sawah dan  empang . Dengan demikian total pengeluaran adalah  Rp 570.000 + Rp 360 = Rp 930.000 , belum termasuk listrik, air dan tenaga kerja.

Misalkan dengan tebar 2.000 ekor benih , target  produksi sebesar 200 kg (ini bila pakai pakan pellet murni ), maka dengan harga jual Rp 14.000/kg maka uang yang didapat  Rp 14.000x 200 kg = Rp 2.800.000.

Nah harusnya kan tidak rugi, malah untung banyak Rp 1.870.000. Tapi kenapa petani bisa gulung tikar? Kalau benar mereka rugi berarti penjualan di bawah biaya produki sebesar Rp.930.000 . Dengan harga jual Rp 14.000, berarti mereka panen di bawah 66 kg (Rp. 930.000 / 14.000 .

Pakan Daging Segar Penyebab Kanibal

kolam leleSekarang pertanyaannya, mengapa produksinya jauh di bawah normal? Apakah ada pencuri? Penyakit? Atau apa?

Dwi Avianto, seorang penyuluh dan praktisi perikanan di Demak Jawa Tengah mengatakan, pakan pelet yang jumlahnya minim ditambah dengan pakan daging segar (keong) dapat memancing lele berubah menjadi bersifat kanibal, makan sesama lele. Adanya pakan berupa keong membuat lele terbiasa dengan aroma daging sehingga bila ada lele yang terluka sedikit saja itu akan memancing lele yang sehat untuk menyerang dan memangsanya beramai ramai.

Perlu diingat bahwa lele punya sungut yang berfungsi mencium aroma makanan.Ikan atau biota air yang mempunyai sungut/antenna/antenula  pasti tidak bisa melihat hanya memakai sungut untuk membaui makanannya. Ini yang tidak diketahui masyarakat, sehingga banyak orang bilang ke pembudidaya lele, bahwa kalau lele dikasih keong, daging atau ayam tiren maka lele akan tumbuh lebih cepat besar. Ya benar, cepat besar karena selain daging daging yang diberikan peternak, malamnya ada tambahan daging berupa lele yang terluka. Biasanya peternak memberi pakan pada pagi dan sore hari, padahal lele aktif makan di malam hari.

Dan pergerakan lele yang muncul dipermukaan adalah yang besar-besar, sedangkan yang kecil masih di bawah. Ini yang dilihat orang ketika memberi pakan ayam tiren, terlihat lele besar-besar dan langsung dibuat kesimpulan bahwa lele cepat besar karena diberi pakan berupa bangkai ayam atau keong.

Oleh karena itulah kenapa saat panen , lelenya besar-besar tapi jumlahnya sedikit, sedangkan yang kecil banyak yang hilang.

Dan ujung ujungnya peternak rugi yang akhirnya “gulung terpal”.

Pakan Pabrik Lebih Efisien

Menurut Dwi Avianto sebagaimana ditulis di sukseslele.blogspot.com, bila peternak menggunakan 100 % pakan dari pabrik meski secara biaya kelihatan mahal, namun hasil akhirnya masih bisa mendapatkan laba 30% -60 %. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak mau memakai pakan pellet 100% karena merasa harga pakan tinggi. Mereka cenderung melihat harga pakan yang tinggi dan berpikir bakal rugi. Padahal dimana-mana usaha lele yang masih berdiri adalah mereka yang memakai pakan full pellet dari pabrik pakan. Hanya sebagian besar belum tahu cara menggunakannya dengan baik.

Saat ini harga Pakan pabrikan berkisar Rp 9.800 / kg sedangkan harga jual lele masih Rp 14.000. Bila menebar 2.000 ekor  bibit dengan hasil 200 kg bisa diperoleh untung  Rp 840.000 dikurangi benih  Rp 360.000 jadi masih dapat  Rp 480.000 . Padahal hasil ini memakai pakan pabrikan dengan cara budidaya yang biasa-biasa saja.

Jika teknik budidayanya disempurnakan Feed Conversion Ratio (FCR) bisa lebih rendah yakni 0,7 sampai 0,8. Semakin rendah FCR berarti keuntungan bertambah banyak.

Kita hitung bila FCR 0,8 saja, dari harga pakan Rp 9.800/kg maka biaya pakan per kg lele bisa dihemat menjadi Rp 7.840. Untung yang diperoleh menjadi Rp 14.000 – Rp 7.840 = Rp 6.160 . Bila hasil 200 kg maka untung nya =  1.232.000 , dikurangi benih seharga Rp 360.000 menjadi  = 872.000. Itu hasil dari satu kolam. “Jika anda memiliki 20 kolam. Silakan hitung sendiri potensi laba yang bisa anda peroleh,” kata Dwi kepada majalah Info Akuakultur. ***

Drh. A. Harris Priyadi, “Industri Akuakultur Perlu Kembangkan Vallue Added Chain”

Keunggulan sektor akuakultur kita yang masih EMS (Early Mortality Syndrome) free, harusnya ditonjolkan dan dijaga. Saat ini ada kasus “white feces” yang ditengarai sebagian pihak adalah awal sebelum terjadinya EMS, sepertinya pihak industri mencoba melakukan dan mencari solusinya sendiri-sendiri.

 

Begitulah pernyataan menarik dari Drh Akhmad Harris Priyadi, Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia, dalam sebuah perbincangan dengan majalah Info Akuakultur usai Rapat Panitia Munas Asosiasi Obat Hewan (ASOHI) belum lama ini.

Drh Harris sedang foto selfie di pabrik Pasuruan

Harris, demikian panggilan akrabnya, menambahkan, di negara kita jarang pihak universitas melakukan secara serius dan benar-benar “blusukan” mencari solusi bersama dengan platform kerja yang jelas dan sinergis. Sinergi segitiga antara pemerintah, swasta dan akademisi harusnya sama sisi dan bahu-membahu berkolaborasi.

“Situasi yang ideal adalah kebijakan yang “nyambung”, penelitian dan keilmuan yang bermanfaat langsung (bukan hanya teori) serta swasta yang kooperatif dan supportif, “ tambahnya. Ia mengaku khawatir dengan kasus white feces karena beberapa kejadian di negara lain, mewabahya penyakit EMS (Early Mortality Syndrome) di beberapa lokasi didahului dengan kasus white feces.

Hari itu wawancara dengan Harris di kantor ASOHI dilakukan dengan mencuri waktu di sela-sela serangkaian rapat pengurus ASOHI. Di organisasi yang menghimpun sekitar 180 perusahaan obat hewan ini Harris menjabat Ketua ASOHI Bidang Hubungan Antar lembaga. Sedangkan pada panitia Munas VII ASOHI yang rencananya akan berlangsung 6-7 Mei 2015, ia dipercaya sebagai Ketua Sterring Committee (panitia pengarah), sebuah posisi penting yang ikut menentukan jalannya sejumlah sidang yang membahas penyempuraan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga , Kode Etik , Program Kerja Organisasi serta Tata Tertib Munas dan proses pemilihan ketua umum.

“Saya harus lebih sering lagi mondar-mandir ke kantor ASOHI, nih,” ujarnya di sela-sela wawancara dengan Info Akuakultur. Perbincangan pun berlangsung singkat namun banyak hal yang diperoleh dari alumni Fakultas Kedokteran Hewan IPB tahun 1989 ini.

Harris lahir di Bandung 27 Mei 1965 di tengah-tengah keluarga guru (Almarhum ayahanda adalah guru kimia yang pernah menjadi dosen kimia di UKM Malaysia dan Kepala Sekolah Indonesia di Kairo). Ia menempuh pendidikan SD dan SMP di Surabaya, selanjutnya melanjutkan SMA di Sekolah Indonesia di Kairo Mesir, karena harus mengikuti tugas ayahnya. Lulus SMA tahun 1983, ia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di FKH IPB, sementara orang tuanya masih bertugas di Mesir.

Ia mengaku kurang berminat kuliah di Kairo misalnya di Universitas Al Azhar , karena kendala bahasa dan basic pendidikannya bukan dari pesantren. Ditanya soal pilihannya ke FKH ia menegaskan“Saya pilih Fakultas Kedokteran Hewan karena sejak kecil senang dunia hewan dan mata pelajaran biologi”.

“Selain itu saya masuk melalui jalur perintis II, yaitu jalur masuk tanpa test. Ini kan kesempatan bagus, saya kalau nggak diambil,” tambahnya lagi.

Sejak lulus dari IPB tahun 1989, ayah berputra 3 ini meniti karirnya di perusahaan obat hewan, baik perusahaan asing maupun lokal. Tercatat sudah 6 perusahaan yang ia “singgahi” sebagai tempat berkarya. Dan tahun 2009 ia memasuki perusahaan ke-7 untuk menjalankan amanah sebagai Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia, sebuah perusahaan feed additive & feed supplement yang pabriknya di kawasan Industri MM-2100 Cibitung, Bekasi. Pabrik ini memproduksi feed supplement untuk pasar Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

 Prospek Cerah

Mendiskusikan soal prospek perikanan Indonesia, Harris dengan nada semangat mengatakan, prospek perikanan sangat bagus untuk jangka menengah dan jangka panjang, walaupun jangka pendek masih banyak kendala. “Kelak, saat pendapatan masyarakat makin meningkat, katakanlah 5.000 USD per kapita per tahun, masyarakat tentu tidak setiap hari makan ayam, telur dan daging sapi, tapi ada variasi ikan. Jadi bukan dari segi ketercukupannya, tetapi ada level optimal yang konsumen akan jenuh dan butuh variasi yang halal dan thoyib, yaitu dari perikanan,” kata Harris.

Eksekutif yang hobi baca novel ini melihat perkembangan perikanan di Indonesia masih lambat tapi cenderung makin cepat. Produksi pakan ikan saat ini hanya sekitar 1,6 juta ton per tahun (pakan unggas di atas 14 juta ton per tahun), namun pertumbuhan produksi pakan ikan bergerak lebih cepat setidaknya dua tahun terakhir.

Setelah cukup lama mendalami dunia bisnis peternakan dan perikanan melalui industri feed additive, Harris menyimpulkan, para pelaku usaha perikanan perlu didorong untuk lebih kreatif menciptakan pengembangan di Value Added Chain. “Kalau hanya berfokus pada produksi dan efisiensi, akhirnya fokus pada saving yang kalau kebablasan akan mengorbankan mutu dan bisa jadi bumerang, misalnya ledakan penyakit akibat mengurangi aspek biaya kesehatan”.

Terobosan sebaiknya bukan hanya di budidaya, tapi juga di pasca panen. Misalkan saat ini sudah ada produk Pompano fillet, Patin fillet dan sejenisnya. Kalau bisa dibuat Mujaher fillet atau Nila fillet yang sudah berbumbu dan sebagainya melalui proses riset yang mendalam tentang rasa dan kecocokan selera, niscaya peluang keberhasilan akan makin baik.

Di pasar unggas dunia, Brazil dikenal sebagai produsen unggas termurah alias paling efisien, namun negara Eropa lebih memilih daging ayam dari Thailand. “Ini perlu dijadikan pelajaran bagi kita, bahwa yang paling efisien bukan berarti yang paling diterima di pasar. Ada aspek lain, yaitu value added chain, entah itu berupa pelayanan, kreativitas produk dan sebagainya,” tegasnya. Kalau hanya berpikir harus lebih murah, Indonesia akan kewalahan, dan akhirnya secara psikologis “mengakui” sebagai bangsa yang kalah bersaing. Agaknya inilah yang menjadi kekhawatiran sekaligus kepedulian Harris.

 Baca Novel

 Di tengah kesibukannya sebagai country manager, Harris masih menyempatkan untuk menjalankan hobinya travelling bersama keluarga dan membaca novel. Waktu SMA dan kuliah, ia suka novel petualangan asli berbahasa Inggris. Ini adalah cara paling praktis belajar bahasa Inggris. “Jadi saya pegang novel dan kamus. Dengan mengikuti alur cerita, saya cepat menghafal kosa kata Bahasa Inggris,” katanya, mengungkap rahasia cara cepat belajar Bahasa Inggis.

Khusus untuk novel Indonesia, Harris menyukai novel karya Habiburrahman, antara lain yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih” dimana keduanya novel best seller yang diangkat ke layar lebar. Karena pernah tinggal di Mesir, ia bisa menyelami cerita novel tersebut yang setting ceritanya sebagian di Mesir. (bams) ***

 

BIODATA

 

Nama                                      : Akhmad Harris Priyadi, drh.

Tempat, tanggal Lahir        : Bandung, 27 May 1965

E mail                                      : [email protected]

Jabatan                                   : Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia.

Nama Istri                               : Sinto Wulandari drh

Anak                                        :

1. Muhammad Bagus Harianto

  1. Maulana Ichsan Harianto
  2. Prasetyo Rahadi (keponakan ikut dari kecil).

 Pendidikan                             : FKH IPB lulus 1989

Personal Development Training : .Elanco Training development, Kemin University,             Gustav Kasser, Miller Heinman, CCL – Singapore, Emergenetics dan lain-lain