BETERNAK LELE DI KOLAM TERPAL

IMG_4173Dalam perjalanan ke berbagai tempat, Info Akuakultur menjumpai peternak lele yang memelihara ikan ini dalam kolam terpal. Sebuah upaya praktis dan ekonomis yang patut untuk ditiru. Bagaimana teknis dan keberhasilan usaha ini? Info Akuakultur pilih dua contoh, di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Jombang. Keduanya di Jawa Timur.

Lele Kolam Terpal Bojonegoro

Lebih dikenal dengan nama Didik Sangkuriang, Didik Setiawan (22 tahun) dari Kecamatan Ngambon Kabupaten Bojonegoro dengan Kelompok Tani “Regas” berhasil membudidayakan ikan lele jenis Sangkuriang. Sejumlah 30 orang anggota Regas memelihara ikan lele di pekarangan rumah masing-masing dengan media terpal untuk kolam berukuran 4 x 2 meter persegi untuk 1000 ekor lele.

Didik sendiri memiliki 9 kolam dan masih mengembangkan lagi menjadi 12. “Terpal dibeli di pasar seharga sekitar Rp 140.000 untuk tipe A5 (4 x 6 meter persegi). Dengan demikian membutuhkan lahan seluas kebutuhan,” katanya.

Dia mengaku, bibit ikan lele dibeli dari tetangga bernama Heri Setiawan salah seorang yang pernah ikut pelatihan dan pemegang sertifikat pemijahan ikan lele Sangkuriang di perikanan Abah, Jawa Barat. Heri sendiri yang sebelumnya pelayar tertarik bidang ini berkat pengaruh kakaknya.

Selanjutnya diungkap peternak ikan yang juga guru komputer SMK Ngambon ini, harga seekor bibit lele sepanjang 4-6 cm adalah Rp 150. Dengan demikian 1000 ekor bibit untuk satu kolam dibutuhkan dana Rp 150.000.

Tahap pemeliharaan membutuhkan waktu 3 bulan. Guna pembuatan kolam, tanah seluas 4 x 2 meter persegi digali sedalam kurang lebih 40 cm, diratakan. Setiap sudut diberi bambu penahan, dibuat pagar atau dinding dari bambu berkeliling. Terpal digelar dan ujung-ujungnya dilipat sesuai tinggi pagar sehingga terbentuk kolam.

Air sumur diisikan ke dalam kolam terpal setinggi 40 cm tersebut, diberi larutan herbal. Larutan ini tidak diperjualbelikan dan dirahasiakan formulanya namun diberikan secara cuma-cuma jika membeli bibit pada pemilik sertifikat “Sangkuriang” tadi. “Supaya kami dapat bersilaturahmi,” kata Heri pemegang sertifikat di Ngambon.

Selanjutnya pupuk kandang berupa kotoran kambing dalam karung zak dimasukkan ke dalam kolam, dibiarkan selama seminggu. Tujuannya keluar jentik-jentik, plankton dan zooplankton guna pakan ikan lele.

Setelah seminggu, pupuk kandang diangkat, bibit dimasukkan, lalu dibiarkan 1-2 minggu. Baru kemudian air ditambahkan. Masuklah pada tahap pemeliharaan.

Pada tahap pemeliharaan, setiap hari ikan diberi makan berupa pellet (Jawa: wur) yang sudah difermentasi. Pellet ini dibeli di toko perikanan/ peternakan/ poultry shop. Fermentasi dilakukan oleh Didik selaku peternak sendiri sesuai pengajaran oleh Heri.

Dalam fermentasi itu, 10 mililiter enzim xylase dicampur dengan 10-20 mililiter tetes tebu dalam 1 liter air. Pakan ternak direndam secukupnya pada campuran itu sampai terfermentasi. Ditunggu beberapa saat sampai siap ditaburkan sebagai makanan ikan.

Pemberian pakan tersebut dilakukan sehari empat kali, sampai tiga bulan masa panen. Besaran pellet disesuaikan dengan umur ikan. Sekali pemberian pakan menghabiskan satu baskom bulat. Untuk ukuran Lele 3-4 cm, selama 3 bulan habis pakan sejumlah 60 kilogram. Harga pakan adalah Rp 263.000 untuk satu zak (berat bersih 30 kilogram). Pakan ini dibeli di kecamatan kota, Bojonegoro. “Di peternak belum ada,” akunya.

Setelah tiga bulan, masa panen pun tiba. Satu panenan habis 1 zak pakan. Satu kolam menghasilkan paling sedikit 70 kilogram. Satu kilogramnya ada delapan ekor lele. Sejumlah 30 orang anggota kelompok tani sudah merasakan hasil panen Lele Sangkuriang itu. Panen dijual ke konsumen langsung, tengkulak, pesanan atau di pasar.

“Bila dibeli borongan satu kolam, per kilogramnya dihargai Rp 13.500. Bila dibeli eceran, per kilogramnya dihargai Rp 17.000-Rp 18.000,” ungkap Didik Sangkuriang.

Kini Didik sedang menjajagi kerjasama dengan instansi sekolah yaitu kantin. Keinginannya ke depan adalah mengembangkan wisata kuliner alternatif di Kecamatan Ngambon. “Ngambon identik dengan Lele Sangkuriang,” katanya tentang harapannya.

Anggota jejaring sosial Blogger Bojonegoro yang dikenal sebagai satu-satunya Blogger yang memperkenalkan kegiatan beternak lele ini pun menambahkan, “Karena tren saat ini orang memilih makan jauh dari kota dengan suasana yang nyaman. Dengan Lele Sangkuriang dan suasana demikian, kami siap menyediakan.”

 

Lele Kolam Terpal Jombang

 

Di Desa Sidowaras Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang, kolam lele milik Ali Mochtar ada tiga berupa kolam terpal. Masing-masing berukuran 2 x 3 meter persegi, 1,5 x 3 meter persegi, dan 1,5 kali 2,5 meter persegi. Bibit lele baginya yang diluar beternak bekerja serabutan termasuk mahal, per ekor Rp 3000-4000.

Pakan lele itu adalah ayam yang sudah mati, dibakar sampai bulunya hilang dan direbus. Kalau membeli pakan pabrik menurutnya kurang menguntungkan karena mahal. Untuk 1 sak seberat 30 kilogram saja harganya Rp 270.000. Bandingkan dengan harga bangkai ayam yang per ekornya cuma Rp 2000. Maka diapun lebih suka membeli ayam mati, bisa sampai 10, tergantung di kandang peternakan ayam terdekat yang mati banyak atau sedikit.

Biasanya satu kali panen dari 1000 ekor lele bisa dapat 60-70 kilogram, saat peliputan ini hanya 10-25 kuintal. (Yonathan)

Mengenal Obat Ikan (Drh. Abadi Soetisna MSi)

udang-vannameiDalam beberapa tahun terakhir ini perikanan budidaya di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ini disebabkan karena konsumsi ikan makin meningkat akibat pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu aspek penting dalam budidaya ikan adalah obat-obatan ikan yang juga mengalami banyak perkembangan dari berbagai aspek. Obat ikan kini bukan lagi hanya berperan dalam mengobati penyakit ikan, melainkan juga untuk mencegah penyakit, meningkatkan pertumbuhan dan berbagai fungsi lainnya.

Jenis obat hewan

Pada umumnya pemahaman masyarakat menganai fungsi obat adalah untuk menyembuhkan penyakit, padahal fungsi obat sekarang ini sudah semakin luas. Setidaknya ada 6 fungsi obat ikan , yaitu:

  1. Untuk pengobatan/penyembuhan penyakit, misalnya antibiotik
  2. Untuk pencegahan penyakit , misalnya vaksin
  3. Untuk peningkatan produksi/reproduksi , misalnya Growth Promotor
  4. Untuk alat diagnostik, misalnya antigen
  5. Untuk mengurangi rasa sakit/stress dalam perlakuan ikan/transportasi
  6. Untuk kosmetik , misalnya agar warnanya lebih cerah

Sementara itu dari jenis sediaannya, obat ikan, dapat dikasifikasikan menjadi tiga kategori utama yaitu Farmasetika ( antara lain jenis antibiotika ), Biologik (antara lain vaksin, serum, antiserum) dan premiks.

Pengertian premiks dalam perundang-undangan, terdiri dari feed additive (imbuhan pakan) dan feed suplement (pelengkap pakan). Banyak orang mencampuradukkan pengertian feed additive dan feed suplement. Bahkan di kalangan industri, semua yang dicampur di pakan disebut sebagai feed additive. Untuk memudahkan pengertian, penjelasannya begini. Feed additive atau imbuhan pakan, adalah zat yang dicampurkan di pakan yang merupakan zat yang baru sama sekali. Misalkan pakan ditambah dengan antibiotika yang bisa mempercepat pertumbuhan. Kalau sekarang kita banyak mendengar pembahasan tentang antibiotic growth promoter (AGP), itu adalah antibiotika yang dicampur dalam pakan. Karena di dalam pakan, aslinya tidak ada AGP, maka AGP termasuk kategori feed additive.

Namun jika kita menambahkan zat yang sudah ada di pakan, maka zat itu termasuk feed suppplement (pelengkap pakan). Vitamin sering disebut sebagai Feed Additive, padahal yang tepat adalah feed supplement.

Nah, selain farmasetik, biologik dan premik, ada kategori baru yaitu obat alami dan obat herbal. Obat alami adalah obat-obatan yang dibuat dari bahan alami, baik dari hewan, tanaman maupun dari tanah. Sedangkan obat herbal adalah obat-obatan yang berasal dari zat aktif tanaman.

Kapan Obat Ikan Diberikan?

Bagi dokter hewan, pemberian obat untuk ikan harus melalui tahapan yang benar, yaitu sebagai berikut:

  1. Tegakkan diagnose. Dokter hewan harus dapat menegakkan diagnose, mencari penyebab penyakitnya
  1. Setelah diagnose, langkah selanjutnya adalah menjawab pertanyaan : betulkah diperlukan pemberian obat ?
  2. Jika jawabannya perlu, segera dipilih obatnya , bagaimana memberikannya, berapa lama, serta berapa dosisnya
  3. Perlu dikaji juga bagaimana efek terhadap pemberian obat tersebut.
  4. Tidak kalah pentingnya adalah soal nilai ekonomis, alias berapa harga obatnya. Inilah bedanya pemberian obat untuk manusia dengan obat untuk hewan dan ikan.     Misalnya : ikan sakit karena infeksi kuman maka obat tertentu. Jika harga obatnya lebih mahal dari harga ikan, maka pemberian itu tidak akan dilakukan, perlu dicari alternative solusinya.

Cara Pemberian Obat

Ada beberapa cara pemberian obat ikan yang perlu kita ketahui, yaitu:

  1. Pemberian secara oral (melalui mulut). Dalam hal ini pemberian bisa langsung dicekok, bisa juga dicampur ke dalam pakan
  2. Parenteral (melalui suntikan). Ada beberapa cara pemberian melalui suntikan, yaitu suntikan intra muscular, intra vena serta intra peritoneal
  3. Dipping dan flushing. Pemberian obat ikan juga bisa dilakukan dengan cara dipping (direndam di air) dan Flushing (dicelupkan).

Perlu diperhatikan bahwa meskipun sama-sama diperlakukan pemberian obat dengan cara direndam, tapi gurame dengan ikan mas bida memberikan response yang berbeda. Hal ini kaitannya dengan perbedaan struktur sisik ikan.

Demikian sekilas informasi mengenai obat ikan. Semoga bermanfaat. ***

Drh. Abadi Soetisna, MSi. Pakar Farmakologi Veteriner, IPB, Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI)

Budidaya Ikan dan Ketahanan Pangan (Andang S Indartono)

foto-diri-asIndonesia merupakan negara besar dengan jumlah pulau sekitar 17 ribu, yang memiliki sumber daya laut yang besar, baik sumber daya hayati maupun non hayati. Tidak hanya kekayaan laut, daratan Indonesia juga memiliki perairan tawar luas yang menyimpan potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Dengan potensi perairan yang begitu besar, maka budidaya ikan di Indonesia pun sangat prospektif, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun jika untuk keperluan ekspor. Potensi besar pasar ikan hasil budidaya dapat dilihat dari terus meningkatnya jumlah penduduk dan makin sadarnya konsumen untuk mengonsumsi ikan. Naiknya konsumsi ikan berarti meningkatnya kesehatan dan kecerdasan seseorang.

Ikan hasil budidaya di Indonesia, baik ikan air tawar maupun ikan laut memiliki daya saing yang baik dengan ikan hasil budidaya dari negara lain, karena iklim di Indonesia sangat kondusif untuk budidaya ikan. Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), selama periode 2010 – 2014, produksi perikanan budidaya telah mengalami peningkatan produksi sebesar 23,75 % yaitu dari 6,3 juta ton pada 2010 menjadi 14,5 juta ton.

Pertumbuhan sebesar itu memiliki kontribusi nyata dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional. Perikanan budidaya yang memiliki kontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yakni komoditas ikan air tawar seperti Nila, Mas, Lele, Gurame dan Patin. Komoditas air tawar bahkan telah mampu berkontribusi sebesar 60% dari total produksi perikanan budidaya. Hal ini membuktikan bahwa perikanan budidaya memiliki peran penting dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat seriring dengan pertumbuhan penduduk Indonesia.

Tingginya pertumbuhan budidaya ikan tersebut harus didukung oleh suplai pakan ikan yang alangkah baiknya jika lebih banyak menggunakan bahan baku pakan lokal dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang sangat melimpah di tanah air. Pemanfaatan bahan baku pakan ikan dari dalam negeri akan sekaligus meningkatkan pendapatan pembudidaya karena dengan demikian biaya produksi usaha budidaya perikanan tidak terlalu tergantung pada bahan baku impor yang harganya lebih mahal.

Data dari KKP (2015) menunjukkan, kebutuhan pakan ikan dan udang secara nasional pada tahun 2015 mencapai 9,27 juta ton dimana 49 % nya merupakan kebutuhan pakan ikan air tawar seperti ikan mas, nila, gurame, patin dan lele. Kalau melihat target produksi perikanan budidaya yang dicanangkan pemerintah di 2015 yang mencapai 16,9 juta ton, maka akan dibutuhkan pakan ikan dan udang secara nasional sebanyak 9,27 juta ton, yang mana 49 % diantaranya adalah kebutuhan pakan ikan komoditas air tawar. Atas hal itulah maka Gerakan Kemandirian Pakan Ikan yang telah dicanangkan oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan harus didukung dan direalisasikan di sentra-sentra produksi budidaya perikanan, sehingga tidak sekadar menjadi wacana semata.

Penggunaan bahan baku pakan lokal sebenarnya telah menjadi bagian dari kearifan lokal para pelaku budidaya ikan di beberapa daerah di Tanah Air. Penggunaan Azolla sp untuk bahan baku pakan ikan adalah salah satu contohnya. Tanaman air yang mudah tumbuh dan dibudidayakan ini menurut beberapa hasil penelitian memperlihatkan kandungan protein 21–23%, sehingga Azolla bisa digunakan sebagai subtitusi pakan ikan sebagai sumber protein.

Azolla juga mudah dan murah untuk dibudidayakan, sehingga sangat cocok untuk mendukung usaha budidaya ikan seperti seperti budidaya nila, lele, dan gurameyang dilakukan masyarakat.

Sumber gizi penting

Walaupun tingkat konsumsi ikan di masyarakatmasih rendah, tetapi peluang bisnis dari budidaya ikan air tawar masih sangat tinggi. Hal ini disebabkan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, mencapai 240 juta jiwa -yang jika pendapatan per kapita naik sedikit saja, maka permintaan akan ikan pun ikut terdongkrak secara signifikan. Potensi menggiurkan budidaya ikan juga dipicu oleh hasil budidaya yang kerap menjadi bahan baku industri olahan makanan, yakni bisnis makanan olahan berbahan ikan. Contohnya adalah olahan abon ikan, nugget berbahan ikan patin dan lele, serta bakso ikan, otak-otak, kerupuk, dan sarden. Produk olahan hasil perikanan budidaya ini memberikan keuntungan lebih besar dibanding jika dipasarkan dalam bentuk ikan segar atau berbentuk komoditi.

Dengan sentuhan teknologi pangan yang tepat, maka produk olahan hasil budidaya ikan tersebut akan menjadi salah satu andalan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Sentuhan teknologi pangan itu antara lain adalah cara pengolahan yang memenuhi persyaratan keamanan pangan, teknologi pengolahan dengan pemanasan yang tepat seperti pada pembuatan ikan kaleng, teknologi marinasi yang stabil, atau teknologi penggorengan yang tepat. Dengan berbagai teknologi olahan pangan yang beragam, menjadikan para pelaku bisnis olahan hasil budidaya ikan memiliki berbagai pilihan dalam mewujudkan produk hasil ikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan permintaan konsumen saat ini.

Terlebih lagi, produk ikan memiliki sejumlah kelebihan zat gizi yang dapat menunjang ketahanan pangan masyarakat. Zat gizi yang terkandung dalam ikan tersebut antara lain Asam Lemak Omega-3 yang sangat bermanfaat dalam menjaga arteri dari penyumbatan dan menurunkan tekanan darah. Asam lemak ini juga mampu mengurangi resiko serangan jantung dan stroke. Dengan mengonsumsi ikan secara rutin, maka berkat omega-3 yang terkandung di dalamnya, dapat pula mengurangi resiko arthritis, diabetes, dan kanker. Beberapa ahli bahkan telah membuktikan bahwa omega-3 bisa membantu perkembangan otak, sehingga sangat cocok untuk dikonsumsi anak-anak dan remaja.

Kelebihan ikan berikutnya adalah kandungan lemak jenuh yang rendah. Berbeda dengan daging ayam, kambing, sapi yang memiliki lemah jenuh tinggi, ikan malahan mengandung lemak tak jenuh ganda. Lemak jenuh tinggi, jika dikonsumsi terlalu banyak akan memicu munculnya berbagai penyakit tidak menular seperti penyumbatan arteri, jantung, tekanan darah tinggi dan stroke. Lemak tak jenuh ganda yang terkandung dalam ikan memiliki fungsi yang sebaliknya: memperlancar kerja jantung, membantu menstabilkan tekanan darah, dan membantu meminimalkan risiko terjadinya stroke.

Ikan segar hasil budidaya juga mengandung protein yang lengkap. Hampir semua asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh untuk mempertahankan metabolisme tubuh yang sehat, ada pada ikan. Beberapa penelitian telah menunjukkan, ada sekitar 18 gram protein untuk setiap 100 gram ikan segar. Namun jika ikan tersebut diawetkan atau dikeringkan, maka kadar proteinnya menjadi berkisar 40 gram dalam 100 gram ikan kering.

Tidak hanya kaya akan protein, ikan juga kaya akan mineral, terutama magnesium, phospor, yodium, fluor, zat besi, copper, zinc, dan selenium. Mineral sangat penting perannya dalam sistem metabolisme tubuh untuk perkembangan sel-sel dan proses regenerasinya.

Kelebihan lain produk ikan yang tak dimiliki sumber protein hewani lain adalah, ikan memiliki status halal bahkan untuk ikan yang sudah mati (telah menjadi bangkai). Dengan begitu, ikan sangat sesuai untuk konsumen Indonesia yang mayoritas muslim.

Upaya mendongkrak konsumsi ikan dalam negeri juga menjadi salah satu prioritas yang dilakukan oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan, dengan adanya program Gerakan Makan Ikan (Gemarikan). Konsumsi ikan yang terus meningkat, diharapkan dapat dipenuhi dari dalam negeri sendiri, terutama dari hasil budidaya ikan yang dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah. ***

Penulis adalah Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI). twitter: @andangindartono | email: [email protected]

Kongres X ISPI Swasembada Daging Menjadi Isu Utama

Bulan Oktober 2010 ini dua organisasi besar menyelenggarakan Kongres, yaitu ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia) dan PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia). ISPI menyelenggarakan kegiatan kongres di Hotel Singgasana, Makassar pada 4-7 Oktober, sedangkan PDHI di Hotel Gumaya Semarang pada. Saat tulisan ini disusun, kongress ISPI baru saja usai, sedangkan PDHI baru akan memulai Kongresnya. Mengingat kami diburu deadline, kami memutuskan liputan ISPI dimuat pada edisi Oktober ini, sedangkan liputan Kongress PDHI akan dimuat pada edisi Nopember mendatang. Selamat membaca.

Makasar diserbu Sarjana Peternakan, demikian judul sebuah artikel di kompasiana.com. Tanggal 4-7 Oktober ini kota Makasar Sulsel, memang dipenuhi dengan aktivitas para tokoh sarjana peternakan dari berbagai wilayah Indonesia. Mereka hadir memenuhi sebuah hajat besar yaitu kongres ke-10 Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI). Para istri sarjana peternakan pun ikut hadir dalam acara akbar ini, karena mereka juga memiliki organisasi bernama Ikatan Istri Sarjana Peternakan Indonesia (IISPI) yang melaksanakan Kongres yang ke-6..

Hampir semua pengurus cabang ISPI yang berjumlah 34 cabang hadir ke Makasar. Demikian pula para tokoh senior ISPI, baik pejabat, mantan pejabat, tokoh intelektual maupun pengusaha. Mereka antara lain Erwin Soetirto (mantan Dirjen Peternakan), Soepodo Budiman, Baroto Suranto, Don P Utoyo, Prof. Kusuma Diwyanto, Prof Muladno, Prof. Zaenal Bachrudin, Nurendro Trikesowo, Aprilani Purwanto dan lain-lain.

Rangkaian awal kegiatan dimulai dengan kampanye gizi, diselenggarakan ISPI dan IISPI bekerjasama dengan Ibu-ibu dari tim penggerak PKK Provinsi Sulsel. Dilaksanakan pada hari senin 4 Oktober 2010 bersama murid-murid SD Kera-Kera Tamalanrea.

Sore harinya jam 16-18 dilaksanakan acara Pra Kongres yang berisi paparan Ketua Umum Ispi 2006-2010 Yudhi Guntara Noor mengenai berbagai persiapan yang telah dilakukan dalam menyukseskan Kongres ke-10, mulai dari rancangan Tata Tertib Sidang, proses pemilihan pimpinan sidang, rekomendasi ISPI serta proses pemilihan Ketua Umum. Acara ini dipandu oleh Dr Rochadi Tawaf, salah satu Ketua PB ISPI.

Acara dilanjutkan dengan kunjungan ramah tamah ke rumah Dinas Ketua DPRD Sulsel M Roem yang diikuti oleh semua pengurus PB ISPI, IISPI, delegasi Pengurus Cabang serta para wartawan. Acara ini berlangsung hingga jam 10 waktu setempat. Pagi harinya tanggal 5 dilakukan seminar tentang perbibitan sapi potong dan kemudian acara pembukaan Kongres oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

Dalam Kongres X ini, pelaksanaan kegiatan diserahkan kepada Pengurus Cabang ISPI Sulsel dimana Prof Jasmal A. Syamsu bertindak sebagai Ketua Panitia.Kegiatan Kongres yang dipusatkan di Hotel Singgasana Makassar ini mengusung tema “Menggalang Profesionalisme Sarjana Peternakan dalam Pembangunan Nasional”. Para peserta merupakan perwakilan dari Pengurus Besar dan Pengurus Cabang ISPI Seluruh Indonesia. Selain itu juga ada utusan dari dinas peternakan provinsi dan kabupaten/kota, beberapa organisasi peternakan dan kesehatan hewan, forum pimpinan perguruan tinggi peternakan Indonesia dan mahasiswa peternakan, serta para sponsor yang terdiri dari perusahan dan industri peternakan.

…………selengkapnya baca majalah Infovet edisi Oktober 2010, pemesanan dan berlanggananan klik disini

DELAPAN WINDU FKH UGM YOGYAKARTA

Peran Dokter Hewan saat ini diperlukan untuk mewujudkan kesejahteraan Masyarakat yang berwawasan lingkungan. Berikut paparan Prof Dr Drh Bambang Sumiarto SU MSc, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) dalam rangka memperingati 8 windu FKH UGM Yogyakarta.

Usia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada sudah menginjak delapan windu (64 tahun), yang berdiri berdasarkan SK Menteri Kemakmuran RI No. 1280/a/Per. tanggal 20 September 1946. Sedangkan Universitas Gadjah Mada sendiri diresmikan 19 Desember 1949 oleh Pemerintah RI yang kala itu bernama Universiteit Negeri Gadjah Mada. Dahulu, nama FKH disebut Pendidikan Kedokteran Hewan Tinggi (PKHT) berkedudukan di Klaten yang merupakan kelas paralel dengan PKHT di Bogor dan mahasiswanya masih tercatat 12 orang.

Dalam perjalanan waktu, kini orientasi FKH UGM menuju Fakultas berkelas internasional serta berperan serta dalam kegiatan riset dan pengabdian masyarakat menghadapi mewabahnya penyakit hewan lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti AI. Kerjasama dengan luar negeri masih terkonsentrasi pada MoU yang telah terjalin dengan delapan Universitas di Queensland, Jepang, Australia, Malaysia, Korea, Jerman dan RRC.

Di tataran internasional disepakati bahwa hampir sebagian besar negara berkembang termasuk Indonesia, perlu memperbaiki sistem pendidikan Kedokteran Hewannya. Oleh karenanya, OIE menyarankan agar negara berkembang melakukan refokus kurikulum dan perbaikan standar kompetensi. Perguruan tinggi harus mengembangkan strategi reformasi untuk menyesuaikan dan mengemas kurikulumnya sedemikian rupa untuk mempertahankan kualitas pendidikan dan memperkuat praktek-praktek kesehatan hewan yang relevan dengan sistem budidaya ternak dan ekosistem hewan.

Dalam konteks tren baru dan masa depan industri peternakan, dibutuhkan kurikulum yang lebih terfokus pada kemampuan praktek dan mengembangkannya ke bidang-bidang surveilans, epidemiologi, kesehatan, produksi, manajemen ekonomi dan bisnis. Oleh sebab itu, paradigma pembelajaran SCL (Student Centered Learning) dengan PBL (Problem Based Learning) mulai dilaksanakan tahun 2007.

Saat ini, Tahun Akademik 2010/2011, FKH UGM mengelola 1085 mahasiswa, terbagi atas S-1 reguler 670 orang, PPDH 348 orang, S2 sebanyak 81 orang (2 orang dari Libya), S3 sebanyak 36 orang (1 orang dari Irak) dan S1 swadaya 43 orang. Tiap tahun peminat pendaftar mengalami peningkatan. Tahun ajaran 2010/2011, jumlah peminat 2031 orang dan diterima 214 orang, sedang yang mendaftar ulang 197 orang (92 %). Dari jumlah ini, sebanyak 172 orang memilih FKH UGM sebagai pilihan pertama. Yang sungguh membanggakan, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada wisuda terakhir (Agustus 2010) rata-rata mencapai 3,02 (tertinggi 3,90) dan lulusan tercepat 4 tahun 1 bulan.

Pendidikan tidak akan berhasil jika kualitas dosen tidak berkualitas. Sampai akhir Juli 2010, FKH UGM memiliki 43 dosen (52,4 %) bergelar Doktor yang 11 orang di antaranya Guru Besar atau Profesor (13,4 %), bergelar S2 sebanyak 36 orang (43,9 %) yang 15 orang di antaranya mengikuti pendidikan S3 (18,3 %), bergelar profesi 3 orang (3,7 %) dan harus sudah menyelesaikan S2 pada tahun 2012 sesuai tuntutan UU Guru dan Dosen.

Tenaga kependidikan sebagai salah satu pilar pendukung berlangsungnya proses pembelajaran dan pelayanan administrasi yang baik dan bermutu, terus ditingkatkan kualitasnya. Tahun 2010, FKH UGM tercatat memiliki tenaga kependidikan berstatus PNS sebanyak 92 orang dan 17 orang honorer SK Dekan. Tuntutan terhadap penyediaan tenaga pendidik dan kependidikan terutama untuk mendukung operasional laboratorium yang akan didirikan dan pengembangan pelayanan Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi, yang disikapi dengan proses rekrutmen tenaga baru yang akan diselenggarakan bulan November 2010.

Mengenai pengembangan dan pemberdayaan Senat Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), sampai 31 Juli 2010 FKH UGM telah memfasilitasi terselenggaranya 97 program kerja yang mendapat dukungan dana dari fakultas dan iuran Persatuan Orang Tua Mahasiswa (POTMA) serta pihak lain yang tidak mengikat (sponsor).

Beasiswa sebagai salah satu instrumen peningkatan kesejahteraan untuk mahasiswa berprestasi, mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu terus diupayakan ketersediaannya melalui pendanaan UGM, fakultas dan sumber lain yang sesuai dengan misi pendidikan. Data mahasiswa FKH UGM yang mendapatkan beasiswa 267 orang (SPP/BOP), 149 orang (PPA), 14 orang (pegawai FKH UGM), 76 orang (BBM), 41 orang (Supersemar), 3 orang (Tanoto Foundation), 1 orang (PT BTN), 19 orang (Yayasan Karya Salemba Empat), 1 orang (Bank Mandiri), 1 orang (Dinas Pendidikan DIY) dan lain-lain. Di samping itu juga ada beasiswa Bantuan Khusus Mahasiswa bagi mahasiswa Sumatera Barat yang terkena musibah gempa pada tahun 2010, diberikan berupa pembebasan SPP dan BOP selama satu tahun untuk mahasiswa S1 dan keringanan biaya SPP 50 % untuk satu semester atau 25 % untuk satu semester berikutnya bagi mahasiswa pascasarjana.

Kerjasama nasional dengan Radio Republik Indonesia dalam bincang-bincang sore mewujudkan 53 episode mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Begitu juga kerja bareng dengan koperasi, Pemda Kalimantan Selatan, Riau, dan perusahaan swasta dalam bentuk program penelitian, pendidikan dan pemagangan telah menghasilkan kinerja positip. Fasilitasi proses rekrutmen lulusan oleh pengguna lulusan merupakan komitmen FKH UGM untuk memberikan pelayanan kepada lulusan agar memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keinginannya. Sampai saat ini, FKH UGM telah memfasilitasi 106 penawaran lowongan pekerjaan bagi lulusannya baik dari perusahaan swasta nasional, internasional, dinas pemerintah dan TNI/POLRI.

Alumnus FKH UGM tersebar hampir di seluruh propinsi yang ada di Indonesia dan luar negeri. Data dokter hewan praktisi alumnus di luar negeri yang bekerja di Malaysia 7 orang, Brunei Darusalam 4 orang, Vietnam 6 orang, AS 1 orang dan Afrika 1 orang. Peran alumnus untuk memberikan kontribusi terhadap kualitas lulusan dan pengembangan institusi serta dalam meningkatkan minat masyarakat untuk melanjutkan studi di FKH UGM sangatlah penting. Untuk itu FKH berupaya terus memperbaiki kualitas hubungan dan komunikasi dengan alumnus secara terus menerus lewat GAMAVET (Gadjah Mada Veterinarian) yang berdiri sejak Kongres PDHI di Lombok beberapa tahun yang lalu.

Keberadaan Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi merupakan RSH Pendidikan, unit pelayanan masyarakat dan RSH rujukan, yang dibuka 5 Agustus 2009. Hingga Agustus 2010 telah melaksanakan pelayanan sebanyak 3976 pasien dan 450 pasien rawat inap. Pasien terdiri atas anjing 1645 ekor, kucing 1768 ekor, kelinci 279 ekor, burung 90 ekor, kambing 4 ekor, sapi 14 ekor dan hewan lain (hamster, kura-kura, ayam, musang, monyet, ular, tupai, tokek, iguana) sebanyak 176 ekor. Pemasukan keuangan sampai akhir Agustus 2010 mencapai 547, 460 juta rupiah. Untuk melengkapi bacaan mendapat sumbangan 45 judul buku serta membangun Theatre Elisa Nugroho mendapat suntikan dana 225 juta dari drh. Elisa Nugroho. Di samping itu drh Ali Usman dari PT Biotek Saranatama menyumbangkan 200 juta rupiah untuk membangun ruang periksa VIP.

Presiden RI pertama Ir. Sukarno pada saat meresmikan UGM, pernah berpesan: Kutitipkan Universitas ini sebagai pemersatu bangsa. Usia FKH UGM boleh saja tua, tetapi sikap dan watak para pendidik jangan terpecah-belah. Sangat disayangkan keberhasilan dan kebesaran FKH UGM tidak diikuti oleh kebesaran hati beberapa dosen. Terbukti dari pantauan Infovet pada acara Dies 64 tahun FKH UGM tidak diikuti oleh dosen senior termasuk beberapa Guru Besar yang menjadi kebanggaan bersama.

Kapan para pakar ini mau bersatu-padu. Apakah mereka tidak sadar, bisa menjadi Dokter Hewan hingga menjadi dosen karena jasa FKH UGM? Di samping itu informasi atau undangan yang disampaikan kepada para alumnus tidak dikirim via surat ke masing-masing instansi melainkan hanya lewat SMS sehingga pesta akbar temu kangen alumnus yang seharusnya dihadiri lebih banyak tamu undangan menjadi kurang semarak. Mungkinkah GAMAVET bisa menjembatani semua ini? Tugas mulia bagi para civitas akademika termasuk para alumninya yang tergabung dalam GAMAVET untuk mempersatukan penyimpangan sesuai keinginan Sukarno. (red)

BAGI-BAGI TELUR DI PERINGATAN HARI TELUR SEDUNIA

Asosiasi Perunggasan baik petelur maupun pedaging di bawah koordinasi Pusat Informasi dan Pasar (Pinsar) Unggas Nasional mengkampanyekan Hari Telur Sedunia yang jatuh pada 8 Oktober 2010 di Bundaran HI, Jakarta.

Koordinator kampanye Hari Telur Sedunia, Ricky Bangsaratu, yang dijumpai Infovet di lokasi kampanye, Jumat (8/10), mengatakan target acara tersebut lebih menekankan agar konsumsi telur meningkat dan mempersiapkan agenda bulanan yang direncanakan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian.

Perkembangan perunggasan nasional telah jauh beranjak. Tantangan yang dihadapi juga kian beragam dan kompleks. Sampai kini, sekalipun berbagai perkembangan telah berlangsung, namun tingkat konsumsi telur per kapita nasional belum juga mencapai 5 kg. Jauh dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sekalipun.

Ini disebabkan masih banyak anggota masyarakat kita yang belum memiliki kesadaran penuh akan pentingnya kandungan gizi asal telur bagi kesehatan, pertumbuhan, kecerdasan anak-anak dan keluarga, serta produktifitas. Di sisi lain, dari kalangan terdidik juga masih banyak persepsi yang keliru tentang telur. Kenyataan menunjukkan sebaliknya, rokok yang mengandung racun berbahaya, tingkat konsumsinya jauh lebih tinggi dibanding dengan konsumsi telur. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya kampanye gizi ini.

Tanggal 8 Oktober, adalah hari Telur Se-Dunia (World Egg Day). Salah satu momen terbaik bagi masyarakat perunggasan, untuk mengingatkan kembali kepada sesama insan perunggasan bahwa ada tugas besar tentang peningkatan konsumsi telur nasional.

“Maka adalah penting bagi segenap anggota Pinsar Unggas Nasional dan seluruh stakeholder perunggasan nasional untuk terus menyatu dan melakukan aksi Kampanye Gizi. Aksi-aksi yang menciptakan simpati dan mengedukasi masyarakat agar masyarakat semakin tercerahkan akan pentingnya nilai gizi dalam produk unggas, khususnya telur. Tidak saja bagi kesehatan keluarga, tetapi juga bagi masa depan anak bangsa,” ujar Ricky Bangsaratu .

Kampanye gizi lewat aksi pembagian 12.000 butir telur rebus dilaksanakan di Bundaran Hotel Indonesia dan melibatkan publik figur yang identik dengan icon kesehatan, kekuatan dan prestasi. Diantaranya adalah Rikas (L-Men of the year 2010), Hadi Yulizar (Top 5 L-Men 2007), Kris T. Lalamentik (Runner Up L-Men 2006), Davi (Binaragawan Nasional) dan Nania (Indonesian Idol).

“Kampanye Hari Telur Sedunia ini merupakan yang pertama di Indonesia. Acara ini diperingati dunia pada tiap Jumat kedua bulan Oktober,” kata Vinca Lestari Dharmawan, Ketua Bid. Layer Pinsar yang juga panitia kampanye. Dalam kesempatan tersebut, mereka mensosialisasikan manfaat telur sebagai makanan yang aman untuk dikonsumsi. Telur adalah sumber protein terbaik dan termurah untuk anak-anak hingga orangtua dan sarapan telur bisa melangsingkan.
Selain itu, putih telur bisa meringankan demam berdarah dan telur kaya dengan kandungan protein, energy, folat, albumin, kolin, lecithin, iron, riboflavin, niacin, magnesium, potassium, natrium, lipid, vitamin A, lutein dan zeaxanthin.

“Kampanye yang dilakukan sebanyak 120 orang tersebut merupakan anggota asosiasi perunggasan dari Jawa, Sumatera dan Bali. Setelah acara ini akan diadakan rapat evaluasi dan jika acara ini dinilai berhasil maka kampanye akan dilakukan setiap tahun dan bisa merangkul daerah lain,” kata Ricky menambahkan.

Selain asosiasi peternak, kampanye ini juga mendapat dukungan dari perusahaan yang bergerak dibidang perunggasan diantaranya adalah perusahaan integrator perunggasan dan produsen/distributor obat hewan. Dengan semboyan “1 Telur Sehari Anda Pasti Sehat”, diharapkan di masa mendatang kegiatan kampanye yang berlangsung secara kontinyu dan terencana akan mampu meningkatkan konsumsi telur nasional. Tidak saja untuk meningkatkan konsumsi protein hewani yang mencerdaskan anak bangsa, namun juga untuk menggerakan ekonomi rakyat, kemandirian bangsa dan ketahanan pangan nasional.

Lima Manfaat Terbaik dari Telur
Terdapat 5 manfaat terbaik yang didapatkan dari mengkonsumsi telur yaitu sebagai nutrisi penting karena kaya akan vitamin, mencegah penyebaran Food-Borne Phatogen E Coli, Mencegah kadar kolesterol dalam darah, sangat baik untuk kesehatan mata dan memiliki protein yang tinggi.

Telur adalah sumber protein yang relatif murah. Selain itu juga telur mengandung choline, zat yang diperlukan oleh tubuh supaya tetap sehat terutama untuk perkembangan otak dan memori.

Nutrisi penting, telur mengandung berbagai nutrisi penting yaitu protein, vitamin A, D, E, dan B, fosfor dan zinc. Berkadar lemak dan kalori rendah. Satu butir telur hanya mengandung 80 kal. Inilah yang membuat telur sangat disarankan saat seseorang menjalani diet.

Mencegah penyebaran Food-Borne Pathogen, E Coli. Putih telur memiliki peran yang sangat penting mencegah penyebaran bakteri. Menurut penelitian oleh peneliti di Jepang, adalah zat peptide (yang ada ditelur) yang mengikat bakteri E.Coli dan mencegah untuk bisa menyebar.

Mencegah kadar kolesterol dalam darah. Tidaklah benar jika ada yang berpendapat bahwa telur meningkatkan kadar kolesterol darah. Tetapi sebaliknya menurut penelitian di Universitas Harvard, tidak ada hubungan antara penyakit kardiovaskular dan makan telur. Telur hanya mengandung 5 gram lemak dan hanya terdiri dari lemak jenuh. Tanpa mengandung lemak tak jenuh, yang memicu kenaikan kolesterol.

Baik bagi mata, pada telur terdapat Lutein dan Zeaxanthin. Dua zat ini membantu menjaga kesehatan mata dan melindungi mata dari efek ultraviolet sinar matahari. Selain itu juga 2 zat ini mengurangi risiko terkenanya penyakit Age-related Macular Degeneration, salah satu penyebab kebutaan bagi orang yang berusia diatas 65 tahun. Juga sudah dibuktikan bahwa dengan memakan telur, dapat mengurangi risiko penyakit katarak.

Sebagai sumber protein tinggi. Seperti yang sering dikatakan orang tua dulu, kalau telur sumber protein dan karena itu telur digunakan sebagai standarisasi dari sumber protein yang lain. Protein berfungsi untuk memperbaiki organ tubuh. Otot, kulit, dan organ-organ tubuh semua tersusun dari protein. Protein sendiri terdiri dari 20 zat asam amino yang berbeda-beda, dan 9 di antaranya tidak diproduksi oleh tubuh kita sendiri. Telur mengandung 9 zat penting dan asam amino, yang berfungsi meningkatkan kadar protein dalam tubuh.

Makan Telur Dapat Menurunkan Berat Badan
Makan telur sangat mengenyangkan terlebih lagi semua kandungan protein dan zat gizi di dalamnya terpenuhi. Makan telur 1-2 butir tiap hari membuat orang gampang merasa kenyang sehingga bisa menurunkan berat badan.

Itulah mengapa pada tahun 1979, mantan perdana menteri Inggris Margaret Thatcher bisa mengurangi berat badannya dalam jangka waktu singkat dengan mengonsumsi 28 butir telur dalam seminggu.

Makan sebutir telur tiap hari mencukupi kebutuhan 20 persen konsumsi harian manusia. Sehingga setelah makan telur orang tidak perlu lagi berlebihan mengonsumsi makanan lainnya.
Sebuah tim peneliti yang melakukan penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa orang yang makan telur memiliki hampir semua zat gizi yang lebih tinggi daripada orang yang tak mengonsumsi telur.

“Manfaat kesehatan dari telur tampak sangat besar. Sehingga mungkin tidak berlebihan jika menyebutnya makanan super. Telur merupakan makanan yang paling bergizi dari semua makanan yang ada,” kata Dr Carrie Ruxton, seorang ahli diet independen dan penulis laporan, seperti dilansir dari Dailymail, Rabu (10/3/2010).

Telur bisa dianggap ‘makanan super’ karena selain dapat meningkatkan kesehatan juga dapat melawan obesitas. Dan menurut ahli gizi, makan telur satu butir sehari dapat menurunkan berat badan.

Studi yang dirilis ini akan dipublikasikan pada bulan Juni dalam jurnal Nutrition and Food Science. Studi ini meneliti 71 penelitian dan bahan referensi yang memeriksa komposisi gizi telur dan perannya sebagai makanan.

Peneliti menemukan bahwa telur tidak hanya rendah kalori, tetapi juga merupakan sumber kaya protein dan dikemas dengan zat gizi yang penting bagi kesehatan, terutaman vitamin D, vitamin B12, selenium, dan kolin. Telur adalah makanan ideal pada setiap tahap kehidupan serta mudah dimasak dan menyenangkan untuk dimakan.

Sebuah laporan juga menegaskan bahwa diantara makanan protein, telur mengandung campuran asam amino esensial terkaya. Ini sangat penting untuk anak-anak, remaja, dewasa muda karena keseimbangan yang tepat diperlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan. Dalam telur juga ditemukan antioksidan yang tinggi, yang dapat membantu mencegah penuaan terkait macular degeneration yang menyebabkan kebutaan.

Kelompok-kelompok tertentu yang mendapatkan manfaat dengan makan lebih banyak telur yaitu kaum muda, pecinta daging dan orang-orang yang menghindari susu.

Temuan kunci adalah bahwa telur merupakan makanan penting sumber vitamin D dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan asupan harian vitamin D. Rendahnya kadar vitamin D dikaitkan dengan sejumlah kondisi medis seperti kerusakan tulang, kanker, penyakit jantung, multiple sclerosis, gangguan kekebalan tubuh dan masalah-masalah kesehatan mental.

Temuan terbaru yang didanai oleh British Egg Industry Council, mengatakan bahwa satu atau dua telur sehari tidak berpengaruh pada kolesterol total bagi kebanyakan orang. Menurut Dr Ruxton, ada manfaat gizi yang nyata bila makan telur tiap hari. Bukti menunjukkan bahwa telur dapat berguna untuk mengenyangkan, mengendalikan berat badan dan juga untuk kesehatan mata. (Red)

TATA RUANG DAN KOMUNITAS PETERNAKAN DI LAMPUNG

Peristiwa penolakan penduduk pemukiman sekitar peternakan terjadi di mana-mana, dan dalam laporan peristiwa ini juga terjadi di propinsi yang terletak di bagian paling selatan Pulau Sumatera, yaitu Propinsi Lampung. Bagaimana aktivis peternakan di Lampung menghadapi peristiwa ini?

Tata ruang dan komunitas peternakan di Propinsi Lampung mendapati peristiwa berupa kendala munculnya pemukiman di sekitar peternakan. “Padahal, dulu wilayah peternakan terbebas dari pemukiman,” ungkap Drh Slamet Riyadi salah seorang praktisi peternakan di Propinsi Lampung langsung kepada Infovet belum lama ini di Jakarta.

Dengan banyaknya pemukiman penduduk di sekitar peternakan, kini peternakan mengalami banyak masalah sebagaimana terjadi di wilayah lain, yaitu, demontrasi penduduk menuntut supaya peternakan digusur,” ungkap Slamet Riyadi yang sudah sejak 1993 sudah bekerrja di Lampung sebagai manager peternakan di PT Wira Liki sampai 1995.

Tak ayal Pemerintah Daerah Propinsi pun mengkaji ulang tata ruang wilayah untuk komunitas peternakan. Lampung Barat selama ini merupakan daerah yang identik dengan komunitas peternakan ayam pedaging. Slamet Riyadi menjelaskan bahwa, “Pengembangan populasi ternak di Lampung terdiri atas berbagai jenis ternak, yaitu ternak besar sapi dan unggas.

Namun demikian Drh Slamet Riyadi yang pada 1995-2010 bekerja sebagai TS (Technical Service) hingga Kepala Cabang PT Agro Makmur Sentosa di Propinsi Lampung, berpendapat untuk penataan tata ruang wilayah ini tidak bisa mengandalkan hanya pemerintah sendiri. Masyarakat peternakan di situ pun dituntut untuk ikut aktif. Dengan demikian terdapatlah pengembangan khusus wilayah ini. Sebagai pengurus ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) Daerah Lampung, Drh Slamet Riyadi pun mengungkap, “ASOHI mendukung dengan ikut memberi masukan dan ikut serta dalam usaha pengaturan tata wilayah ini.”

Memang hal penataan wilayah itu belum terwujud, dan menurut Drh Slamet Riyadi yang di ASOHI Lampung bekerja bersama Drh Urip Sutayo dan Drh Zulpida, penataan wilayah ini membutuhkan jangka waktu lama. Intinya, pihaknya berjuang keras dan menghindari agar peternakan jangan sampai tergusur. Dan tim dari ASOHI pun memberi pengertian supaya peternak aktif memberi saran kepada para masyarakat di sekitar. Jangan sampai dianaktirikan, sebagai sesama warga negara peternak mempunyai hak untuk berkembang.

Peristiwa masalah menyangkut tata ruang dan komunitas peternakan tersebut terjadi kecuali di komunitas peternakan Mako Agung yang merupakan komunitas peternakan ayam pedaging di Lampung Utara. “Di sini peternakan tidak terlalu menjadi masalah,” kata Drh Slamet Riyadi yang selulus dari FKH Unair Surabaya pada 1992 bekerja di CV Biovet. Berbeda dengan di komunitas lain yang mana apapun masalah dapat terjadi yaitu masalah polusi, bau, lalat, dan belum diterima oleh penduduk sekitar.

Kalau dulu di Lampung hewan-hewan ternak dibiarkan bebas berkeliaran, dan setelah beberapa tahun kemudian, mereka ditangkap dan dimasukkan kedalam kandang, dihitung jumlahnya dan diberi tanda pemilik pada tubuhnya, Direktur PT Akraman Kemuliaan di Lampung ini pun mengungkap daerah komunitas-komunitas peternakan yang ada saat ini di Propinsi Lampung antara lain komunitas peternakan Margo Agung di Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan, komunitas peternakan Pekalongan di Lampung Timur, komunitas Prokinal di Kotabumi Lampung Selatan dan komunitas peternakan Tanjung Bintang di Lampung Selatan.

Pengembangan terus dilakukan, peternak kelinci di Lampung Barat kini mengembangkan kelinci anggora lantaran nilai jual yang lebih tinggi. Salah satu kegiatan kontes ternak di kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan belum lama ini membuka pemetaan antara lain ternak yang dikembangkan di sini adalah sapi bali betina (bibit), sapi hasil inseminasi buatan/ IB (jantan) yaitu sapi sapi bali, sapi PO (peranakan ongole), sapi brangus, sapi brahman, sapi limousin dan sapi simental, serta sapi PO jantan.

Pada 1996 Infovet pernah menulis, dalam kasus pencemaran lingkungan oleh peternakan ayam, yang menjadi pemicu permasalahan sebenarnya akibat dari pemukiman yang terus berkembang. Pada awal pembangunan, peternakan (paling banyak terdengar bermasalah peternakan ayam) didirikan jauh dari pemukiman penduduk namun lama kelamaan di sekitar areal petemakan tersebut menjadi pemukiman. Hal tersebut menjadi-jadi karena perkembangan dan rencana tataruang yang tidak konsisten.

Departemen Pertanian telah menyadari hal tersebut dengan mengeluarkan peraturan menteri melalui SK Mentan No. 237/1991 dan SK Mentan No. 752/1994, yang menyatakan bahwa usaha peternakan dengan populasi tertentu perlu dilengkapi dengan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Untuk usaha peternakan ayam ras pedaging, yaitu populasi lebih dari 15.000 ekor per siklus terletak dalam satu lokasi, sedangkan untuk ayam petelur, populasi lebih dari 10.000 ekor induk terletak dalam satu hamparan lokasi.

Rupanya gesekan soal tata ruang peternakan dengan pemukiman penduduk ini masih terus terjadi. Juga di Lampung. Mari semua berusaha agar masalah seperti ini dapat segera teratasi. (Red)