KABAR TERBARU :ASCITES (PULMONARY HIPERTENSION SYNDROME) PADA UNGGAS

KABAR TERBARU :
ASCITES (PULMONARY HIPERTENSION SYNDROME) PADA UNGGAS

(( PHS (Pulmonary hypertension syndrome) yang kemudian diikuti dengan ascites merupakan salah satu penyebab kerugian dalam industri perunggasan terutama pada ayam broiler dan layer. ))

PHS biasanya disebut sebagai ascites, yang menyebabkan kerugian akibat kematian hingga 2% dan 0,35% yang terjadi di Kanada. Pada tahun 1994, kerugian akibat ascites diperkirakan mencapai $ US 12 juta di Kanada dan $ US 100 juta di Amerika. Perkiraan biaya kerugian di seluruh dunia untuk PHS mendekati $ US 500 juta.
Untuk Indonesia, kejadian Ascites kurang mendapat perhatian bagi kalangan pakar perunggasan, akademisi maupun peternak. Hal ini mengingat Ascites merupakan penyakit individual yang bersifat tidak menular atau non infeksius.
Padahal, secara statistic angka kejadian Ascites di negeri ini cukup tinggi terutama pada ayam broiler dan layer dengan mutu genetic yang rendah, pakan dengan nilai gizi yang kurang lengkap serta lingkungan pemeliharaan yang kurang sesuai dengan kualitas bibit ayam broiler modern saat ini.

Penyebab Utama

Mekanisme utama penyebab ascites adalah meningkatnya tekanan hidrostatis intravaskuler, kemudian terjadi gagalnya ventricular kanan. Sebagai akibat dari meningkatnya tekanan, transudate keluar dari pembuluh darah dan akan terakumulasi di dalam rongga abdominal, kondisi inilah yang disinyalir sebagai pemicu terjadinya ascites pada ayam.
Kemudian terjadinya gagal jantung pada ayam broiler muda sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk seleksi genetik untuk pertumbuhan cepat, efisiensi pakan yang tinggi dan besarnya proporsi otot dada, hal ini semuanya membutuhkan oksigen yang tinggi.
Ratio yang rendah antara volume paru-paru dan berat badan pada ayam broiler modern, hal ini menyebabkan ketidakmampuan sistem pernapasannya untuk mengangkut oksigen yang dibutuhkan, sehingga dapat menyebabkan Hipoksia dan respiratory acidosis.

Radikal Bebas

Kejadian Hipoksia dapat meningkatkan produksi radikal bebas. Hasil penelitian Ghislaine Roch, Martine Boulianne dan Laszlo De Roth dari Universitas Montreal Kanada membuktikan bahwa ada pengaruh antioksidan (vitamin E dan Selenium, baik yang organik maupun anorganik) terhadap kejadian PHS.
Jika terjadi Hipoksia, maka berbagai mekanisme dapat meningkatkan produksi radikal bebas termasuk lemak peroksida, hidrogen peroksida dan superoksida. Kerusakan jaringan sekunder hingga munculnya Hipoksia dapat menarik sel darah putih yang kemudian melepaskan radikal bebas sehingga menyebabkan kerusakan berbagai jaringan di organ dalam tubuh ayam.
Sementara itu, Maxwell dan Enkuvetchakul dkk (1993) mengamati infiltrasi sel inflammatori di berbagai jaringan pada ayam yang terkena PHS. Menurut mereka, Asidosis juga akan mempengaruhi integritas membran seluler dan mengurangi penghapusan radikal bebas, yang berarti menambah buruknya efek negatif radikal bebas. Tingginya plasma lemak peroksida terjadi pada broiler yang terkena PHS.
Hipotesa Maxwell (1986) menyebutkan bahwa tingkat antioksidan pada broiler yang terkena PHS rendah. Teori ini didukung oleh penemuan Enkuvetchakul dkk (1993), yang menunjukkan lebih rendahnya vitamin E pada paru-paru dan hati serta level glutationin pada ayam yang terkena PHS.

Antioksidan

Peran antioksidan adalah untuk mengubah bentuk radikal bebas ke dalam ikatan-ikatan yang aman, menghentikan proses lemak peroksida. Vitamin E (tokoferol) dan GSH-Px (serum glutathionine peroxidase) merupakan antioksidan yang bagus. Vitamin E menurunkan radikal peroksida menjadi lemak yang dioksidasi. Lemak ini diubah oleh GSH-Px menjadi lemak alkohol, yang berperan dalam memperbaiki lemak.
Pembentukan satu jenis GSH-Px tergantung pada keberadaan Selenium. Ini merupakan alasan mengapa Selenium dan vitamin E dapat bekerja secara sinergi untuk melindungi membran seluler. Ayam yang menderita PHS memiliki berat badan rendah, hematokrit tinggi, konsentrasi GSH (tokoferol dan glutationin) pada hati dan jaringan paru-paru rendah.
Tekanan oksidasi ditandai meningkatnya plasma lemak peroksida dan rendahnya oksidasi GSH di dalam hati dan eritrosit. Beberapa hasil penelitian mengindikasikan bahwa vitamin E implantasi sangat efektif dalam mengurangi angka kematian karena kasus PHS pada broiler.
Sementara itu, suplemen vitamin E dalam pakan ternak tidak memberikan efek terhadap performan dan kematian. Dosis vitamin E yang digunakan dalam penelitian Ghislaine Roch, Martine Boulianne dan Laszlo De Roth dari Universitas Montreal Kanada ini adalah 87 IU/kg pakan, ini merupakan dosis yang direkomendasikan untuk ayam komersial.
Namun pada studi tersebut menunjukkan bahwa level tersebut terlalu kecil karena tidak berpengaruh secara signifikan dan perlu kiranya untuk melakukan penelitian dengan pemberian dosis vitamin E yang lebih tinggi. (Daman Suska, dari berbagai sumber).

LALAT VEKTOR AI SEBUAH TELAAH UP DATE

LALAT VEKTOR AI
SEBUAH TELAAH UP DATE
“Bukan sesuatu yang mengada-ada kalau lalat menjadi salah satu terdakwa menyebarnya dengan cepat wabah AI di Indonesia’ ujar Prof drh HRWasito M.Sc Ph.D dan Prof drh Hj Hastari Wuryastuti M.Sc Ph.D kepada Infovet sebelum tampil dalam seminar di Indolivestock Juli 2008.
Menurut Hastari yang juga istri dari Wasito, bahwa dugaan banyak pihak burung liar lah yang pantas dicurigai menjadi penyebarnya. Dugaan itu memang sangat didukung oleh aneka bukti yang kuat, seperti banyaknya burung migran antar pulau dan benua yang berada di Indonesia. Namun kini, untuk sementara waktu belum ada penelitian yang intensif untuk menguatkan dugaan itu. Justru kini, secara intensif pasangan suami istri yang guru besar FKH UGM itu terus mengerjakan penelitian tentang peranan lalat dalam penyebaran AI di Indonesia. Bahkan bukan itu saja menurut Wasito, ia rajin melakukan korespondensi dengan pakar di belahan dunia lain untuk menguak misteri lalat dan penyakit AI yang mengguncangkan dunia itu.
“Yang jelas dan patut diperhatikan semua praktisi kesehatan lapangan saat ini, bahwa gejala klinis dan patologis AI kini sudah mengalami perubahan jika dibandingkan ketika pertama kali ditemukan di Indonesia” ujar Wasito. Menurutnya ia belum sampai pada tahap mengungkapkan adanya mutasi genetik dari virus AI.
Selanjutnya Hastari mengungkapkan bahwa wabah AI yang sudah masuk pada tahap KLB (Kejadian Luar Biasa) itu, korban manusia yang terduga/suspect Flu Burung sejak 2003 – April 2008 123orang dan sebanyak 107orang meninggal dunia. Begitu banyaknya korban pada manusia dan juga kerugian pada industri peternakan dengan sebaran geografis yang luas, maka muncul pertanyaan bagaimana jalur penyebarannya terjadi?
Menurut Hastari, diduga ada banyak cara penyebaran dan penularan AI. Pertama melalui burung ke burung, yaitu dari burung liar ke unggas peliharaan. Dalam jalur ini, virus AI keluar dari ingus hidung dan mulut atau feses burung liar kemudian menginfeksi unggas peliharaan. Jalur kedua adalah dari burung ke manusia, akan tetapi hal ini jarang terjadi, dan yang mungkin terjadi adalah dari unggas peliharaan ke manusia. Sedangkan jalur ketiga dan jarang terjadi adalah dari manusia ke manusia. Dijalur ini virus AI sangat potensial untuk berubah terutama jika menyerang manusia yang daya kebalnya rendah. Sehingga kekhawatiran akan munculnya pandemi Influenza dunia memang masuk akal.
Secara ekologis AI pola penyebarannya adalah dari burung migran ke unggas peliharaan seperti ayam, itik, angsa dan bangsa unggas lainnya. Dan unggas peliharaan ini akhirnya menjadi hospes reservoir. Dalam hal ini serangga lalat diduga mempunyai peran penting penularan. Begitu juga dalam penularan dari unggas peliharaan ke manusia, babi dan binatang lain sperti kucing maupun kucing liar.
Sebuah fakta tentang lalat, menurut Hastari bahwa serangga itu suatu spesies hewan yang tersebar sangat luas mulai dari daerah sub tropis sampai ke kawasan katulistiwa/equator. Selain itu serangga itu ada dan hidup dimanapun ada kehidupan manusia. Dalam reproduksinya setiap lalat betina mampu bertelur sebanyak 120butir per minggu dengan capaian umur 2 – 8 minggu dan untuk siklus hidupnya 1-4minggu. Sepasang lalat dewasa selama 5 bulan, secara teoritis dapat berkembang biak menjadi 191.000.000.000.000.000.000.(21digit). Sungguh fantastis sekaligus menyeramkan!!!!
Lalat yang selalu berada ditempat kotor dengan morfologi mulutnya, maka disamping mampu membawa kontaminan juga menyebarluaskan melalui mulut itu, sehingga mampu menjangkau ke aneka spesies hewan dan manusia dalam geografis berbeda meski tidak luas. Perluasan sebaran itu justru oleh karena dukungan alat transportasi manusia. Sudah terbukti nyata, bahwa lalat adalah salah satu penyebar lebih dari 50 penyakit pada hewan dan manusia. Sebagai contohnya adalah penyakit kolera, salmonellosis, kolienteritits, trachoma, pink eye, mastitis, cacing mata, cacing pita dan cacing gilig serta masih banyak yang lainnya.
Bagaimana penularan AI melalui lalat..? Menurut Hastari, target untuk membuktikan bahwa lalat rumah adalah vektor dari AI, maka dikumpulkan lalat dari farm ayam yang berasal dari 3 tempat berbeda yaitu Maros, Karanganyar, Tuban selama out break AI sejak 2005. kemudian sebanyak kira-kira 100mg tubuh lalat di homogenisasi da diekstrak untuk analisa PCR (Polymerase Chain Reaction). Dan hasilnya dari Analisa PCR dan Ekstraksi RNA tubuh lalat, dimana berhasil diisolasi Virus AI pada lalat yang berasal dari Maros daan Karanganyar. Sedangkan sampel lalat yang dari Tuban hasilnya negatif.
Atas dasar hasil pengujian itu, jelas sudah bahwa virus AI sudah masuk dan berada di dalam lalat. Namun kemudian muncul pertanyaan baru, apakah lalat berperanan sebagai vektor Biologis atau Mekanis? Selanjutnya Hastari terus aktif meneliti tahapan berikut, yaitu 1-2 tahun setelah wabah AI. Lokasi pengambilan sampel lalat kali ini di tempat yang berbeda yaitu Maros, Tasikmadu, malang dan Tulungagung.
Dengan menggunakan metode “Immuno Histo Chemistry Method” diperoleh hasil bahwa virus AI positif IHC, terutama di alat reproduksi lalat. Hasil ini menguatkan arah dugaan lalat sebagai vektor biologis. Begitu juga di bagian perut lalat ditemukan hasil positif pula pada IHC.Sedangkan di kutikula dan serabut otot juga ditemukan positif virus AI. Hasil uji ini semakin mengindikasikan bahwa lalat juga berperanan sebagai vektor mekanis.
Untuk semakin menguatkan dugaan itu, selanjutnya dilakukan isolasi virus AI daro Homogenat lalat. Dengan uji Hemagglutination (HA)Test dan Hemagglutination Inhibition (HI) Test, diperoleh hail bahwa pada passage4 (P4) sampel dari Tulungagung ternyata diperoleh hasil titer HA : 2pangkat10, sebuah angka yang sangat tinggi. Karena menurut Hastari uji itu baru pada P4. Sedangkan titer HA 2pangkat4 saja suah merupakan warning, peringatan waspada.
Sample lalat dari Tasikmadu ternyata pada P9 hanya diperoleh titer HA 2pangkat8. sebaliknya dari Malang meski paa P5 ternyata hasil titer HA justru mencapai 2pangkat11.
Dari paparan itu menurut Hastari, kemungkinan jalur penularan adalah lalat menghisap cairan dari pakan dan feses busuk yang mengandung pathogen konsentrasi tinggi. Hal itu dilakukan berulang dan berpindah tempat, termasuk memuntahkan ekskresi ke lain tempat ketika hinggap. Akhirnya bahan/material infeksius itu masuk ke usus 3 jam setelah makan. Jalur-jalur tersebut mempunyai resiko lebih tinggi daripada penularan dengan melalui kaki atau badan lalat.
PT Novartis Indonesia memberikan solusi terpadu untuk mengatasi masalah lalat di farm. Baik itu melalui campuran pakan, tabur dan semprot. Solusi terpadu itu juga mampu memberikan pilihan, baik itu pengendalian lalat dewasa maupun pada stadium larva. Larvadex 10% yang mengandung Cyromazine 10% dicampur pakan, akan mampu mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan larva. Sedangkan Neporex 2WSG yang mengandung Cyromazine 2% digunakan secara tabur, semprot atau siram. Untuk mengendalikan larva pada tempat tumbuh larva. Dan yang terakhir adalah Agita, dimana merupakan umpan lalat siap tabur. Lalat akan mati ketika perutnya kontak dengan Agita. Pokoknya slogan Novartis ANTI FLY PROGRAM merupakan solusi terpadu untuk membantu kenyamanan peternak dan perlindungan ayam dari penularan aneka penyakit potensial termasuk AI (iyo)

HARAPAN TERBENTANG PERUNGGASAN 2009 | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan

HARAPAN TERBENTANG PERUNGGASAN 2009

(( Gantungan sejuta harapan di tahun 2009 mendatang memang mempunyai argumen yang kuat untuk dijadikan pegangan dan dasar alasan sikap itu. Setidaknya dalam paruh waktu 2008 para peternak ayam petelur dan ayam potong di Indonesia memang mampu, meraup keuntungan yang tidak kecil. ))

Jika melihat perjalanan dunia usaha perunggasan domestik yang dalam kurun waktu tahun 2008 lebih banyak menanjak menggembirakan, maka, menyongsong tahun 2009 para praktisi perunggasan ternyata secara umum banyak yang mengungkapkan rasa optimistisnya.
Demikian hasil rangkuman pendapat dari perbincangan Tim Pemantau Lapangan Infovet dengan para praktisi perunggasan yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya. Mereka itu antara lain, Pengurus Pinsar Solo Ir H Agus ES, Drh Boris Budiarto, Ir Arief Bantula, dan Drh Wachid N.
Gantungan sejuta harapan di tahun 2009 mendatang memang mempunyai argumen yang kuat untuk dijadikan pegangan dan dasar alasan sikap itu. Setidaknya dalam paruh waktu 2008 para peternak ayam petelur dan ayam potong di Indonesia memang mampu, meraup keuntungan yang tidak kecil. Meskipun sempat dihadang sejumlah masalah klasik seperti harga pakan yang sempat naik berkali-kali kemudian dikoreksi penurunan lagi. Juga adanya kenaikan BBM yang berdampak pada daya beli masyarakat yang turun ataupun sergapan beberapa gangguan kesehatan ayam.
Bentangan harapan itu antara lain di wujudkan dengan sejumlah indikator yang positip. Meskipun ada rasa was-was akan akibat krisis finansial global, terutama efek domino krisis ekonomi di AS. Banyak harapan dari para praktisi perunggasan agar pemerintah mengambil kebijakan yang tepat sasaran dan kondusif untuk lebih mendukung semakin majunya sektor perunggasan domestik.
Meski nilai mata uang rupiah yang terus melemah terhadap dollar AS, menjadi salah satu titik rawan berkembangnya usaha sektor perunggasan domestik, namun jika saja daya serap dan daya beli masyarakat bisa terjaga atau bahkan naik, hal itu bukan masalah. Untuk itu kebijakan pemerintah yang tegas dan lugas serta rasional, maka diharapkan masih mampu menyisakan rasa optimistis itu. Bahkan nampaknya rasa itu akan membentang luas, jika saja pemerintah benar-benar menurunkan harga BBM (Premium, Solar dan Gas) , sebab komoditi energi itu termasuk penitng dalam kegiatan usaha perunggasan di Indonesia.
Boris menilai bahwa krisis finansial di AS semoga cepat teratasi dengan cepat dan juga semoga imbasnya tidak terlalu parah dan lama bagi kegiatan ekonomi Indonesia. Menghindar dan mengelak jelas tidak mungkin, tapi berharap terbaik adalah salah satu bentuk optimistis. Terutama kaitannya dengan kandungan impor bahan baku untuk kegiatan usaha sektor perunggasan, seperti pakan, obat-obatan. Sebut saja pakan yang merupakan 65% dari biaya produksi sektor perunggasan di mana hampir kandungan impor untuk bahan bakunya, maka sudah pasti rentan terhadap gejolak nilai kurs mata uang.
Agus sependapat bahwa bahan baku dan obat impor kini penuh ketidak pastian bahkan dengan pola kencenderungan harga naik terus sesuai irama kurs rupiah. Namun jika saja saya serap pasar akan hasil produksi perunggasan seperti telur dan daging tetap terjaga, maka setidaknya masih mampu memberi ruang kepada para peternak untuk bertahan dengan harapan besar di tahun mendatang.
Sedangkan, Wachid menilai bahwa beban berat saat ini bukan pada biaya operasional, akan tetapi justru rasa was-was yang menghinggapi para pelaku bisnis perunggasan. Hal itu muncul oleh karena belum tahu pasti seperti apa dampak negatid yang akan lahir dari kasus krisis finansial di AS. Juga seberqapa lama krisis itu akan berjalan dan sektor apa saja yang akan paling parah terkena imbasnya.
Sektor perunggasan menjadi sangat rentan oleh karena seperti diuraikan dimuka, yaitu akibat kandungan bahan impor yang relatif cukup tinggi, sedangkan pasar hasil produksi masih terbatas di area domestik alias dalam negeri. Untuk itu, secara umum para pelaku perunggasan nampaknya semua bersifat menunggu dengan harap cemas.
Lain dengan Boris yang berharap banyak keapda para pelaku justru jangan bersifat menunggu saja, namun justru harus aktif kreatif membuka pasar atau ada langkah inovasi untuk meraih peluang. Berbicara peluang, menurut praktisi lapangan Arief Bantula, bahwa sejak krisi finansial, memang belum terasa terhadap omset penjualan obat-obatan secara signifikan. Gairah para peternak masih tinggi, bahkan ada keinginan untuk ekspansi pada ayam potong dan peremajaan pada peternak ayam petelur. Namun, sayang semua terbentur pada tersedianya bibit yang memadai.
Menurut Arief, harga bibit ayam petelur melambung tinggi dengan ketidak pastian kualitas yang cukup, akhirnya membuat peternak mengerem untuk peremajaan. Sedangkan pada ayam potong, meski harga bibitnya masih wajar, namun semua peternak ada rasa was-was untuk menambah populasi, terkait dengan kekhawatiran akan naiknya harga pakan dan anjlognya daya serap pasar akan hasil produksi. Maka kondisi dilematid ini menyebabkan serapan akan obat-obatan dan vitamin relatif tetap stabil. “Omset penjualan obat memang tidak turun, akan tetapi juga tidak naik”ujar Aried.
Indikasi riil tentang stabilnya omset penjualan obat, menurut Wachid merupakan bukti bahwa dunia perunggasan sudah mulai terkena imbas krisis finansial AS. Sebab seharusnya justru akan mengalami peningkatan omset penjualan obat seandainya kondisi riil harga telur dan daging yang terus membaik selama hampir 6 bulan terakhir ini. Namun ternyata tidak terjadi. Bisa juga oleh karena tidak adanya penambahan populasi yang signifikan.
Memang benar tidak ada penambahan populasi ayam yang signifikan, jelas Agus, namun itu justru lebih baik agar harga jual hasil produksi tetap terjaga, sehingga tidak semakin membuyarkan dunia perunggasan domestik. Sebab nampaknya jika terjadi PHK besar-besaran pada industri pabrik yang ekspornya terganggu, maka pasti akan mempengaruhi daya serap pasar.
Untuk itu menurut Agus pembatasan produksi DOC memang harus alamiah sesuai dengan kondisi riil pasar. Sedangkan Boris, berharap produski DOC digenjot agar populasi meningkat populasinya untuk semakin menggairahkan usaha perunggasan. Jika tidak ada penamabahan populasi, maka pertumbuhan usaha produksi obat akan stagnan.
Pilihan manapun, apapun, pada umumnya mereka sepakat bahwa harapan dan rasa optimistis memang harus ditumbuhkan dengan antisipasi yang rasional akan dampak negatif krisis finansial global ini. (iyo)

DI MASA KRISIS:BERUNTUNGLAH PETERNAK! | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan

DI MASA KRISIS:
BERUNTUNGLAH PETERNAK!

(( Beruntung bagi mereka yang bergerak di bidang peternakan terutama di bidang perunggasan. Peternak ayam komersial apakah itu layer atau broiler tetap meraih untung pada saat krisis global melanda sebagian Negara di belahan bumi ini. ))

Dalam hitungan jam, menit ataupun detik perjalanan bangsa ini di tahun 2008 akan berakhir. Problematika kehidupan mewarnai perjalanan panjang dalam kurun waktu satu tahun ini.
Banyak hal yang sudah diraih namun tidak sedikit pula permasalahan negeri ini yang masih membutuhkan kearifan dan kebijaksanaan dalam menanganinya. Semisal kasus korupsi yang masih menjadi onak duri dalam pelaksanaan kegiatan kepemerintahan. Korupsi harus dibumihanguskan dari negeri ini, kalau tidak maka tunggu saja kehancurannya. Korupsi merupakan manifestasi dari krisis moral yang memerlukan pendekatan personal untuk menanganinya.
Di samping itu, krisis ekonomi yang melanda dunia juga berimbas pada tatanan perekonomian negeri ini. Beberapa barang kebutuhan pokok merangkak naik pasca lumpuhnya perekonomian Negara adidaya Amerika Serikat. Lalu apa hubungannya dengan subsektor peternakan kita?
Krisis global secara tidak langsung berdampak pada menurunnya harga produk pertanian. Petani karet mengalami shock berat akibat melemahnya harga karet ditingkat pedagang pengumpul, demikian juga dengan petani kelapa sawit.
Informasi terakhir menyatakan bahwa harga sawit jatuh ke level paling rendah, yakni Rp 100 per kilogram, sungguh sangat tidak menguntungkan bagi petani sawit, demikian juga bagi pabrik pengelola tandan buah segar (TBS) untuk memproduksi minyak sawit mentah, mereka banyak yang menghentikan operasionalnya untuk sementara waktu.

Beruntunglah Peternakan!

Beruntung bagi mereka yang bergerak di bidang peternakan terutama di bidang perunggasan. Peternak ayam komersial apakah itu layer atau broiler tetap meraih untung pada saat krisis global melanda sebagian Negara di belahan bumi ini.
Perkembangan perunggasan tahun 2008 mengalami sedikit penurunan bila dibandingkan dengan capaian populasi di tahun 2007, hal ini bukan saja karena adanya dampak penyakit Avian Influenza namun faktor-faktor lainnya seperti kondisi ekonomi masyarakat yang tidak stabil juga mempengaruhi daya beli produk peternakan, sehingga secara kuantiti produksi daging broiler dan telur kurang namun menurunnya daya beli masyarakat mampu menstabilkan pasokan daging broiler dan telur dipasaran.
Demikian dikatakan Pakar kesehatan unggas Prof drh Chales Rangga Tabbu MSc PhD di ruang kerjanya Departeman Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Menurutnya secara nasional untuk produksi DOC broiler per minggu di tahun 2008 hanya berkisar 16-18 juta ekor jauh dari produksi DOC broiler untuk tahun 2007.
Bila dihubungkan dengan kebutuhan pasar maka secara teoritis, disaat populasi menurun maka akan terjadi peningkatan harga. “Nah disini peternak diuntungkan,” ujarnya. Kemudian untuk bulan-bulan tertentu banyak ayam sakit terutama sakit pernafasan ataupun sakit pencernaan, sehingga untuk mendapatkan ayam dengan ukuran besar sangat sulit, pada kondisi ini harga akan mengalami kenaikan dan keuntungan tersebut akan menjadi milik peternak seutuhnya.
“Seyogyanya usaha peternakan ayam broiler masih sangat menjanjikan, hanya saja yang memprihatinkan adalah daya beli masyarakat yang kurang terutama pada kondisi krisis keuangan global yang menyebabkan banyak PHK dan kenaikan harga BBM tapi tetap tidak mempengaruhi daya beli masyarakat,” papar peraih gelar Master of Science (MSc) dari Washington State University ini.
Dikatakannya bahwa untuk Indonesia konsumen terbanyak daging broiler dan telur adalah konsumen menengah ke bawah, sementara untuk konsumen di bawah menengah ke bawah ini daya belinya terbatas, padahal konsumen terbesar untuk produk unggas ini ada pada level tersebut.
“Jadi ini tetap akan mempengaruhi kalau kita konversikan antara produksi dengan jumlah penduduk tetap masih jauh berkurang ditambah lagi dengan daya beli masyarakat yang rendah,” ujar Prof Charles.
Kemudian, kalau dilihat perkembangan di layer, kasus yang sama juga dirasakan, data populasi layer terakhir untuk tahun 2008 hanya berkisar pada angka 60-65 juta ekor, bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya jelas jauh berkurang. Produksi telur pun juga berkurang.
Namun yang cukup menggembirakan adalah harga telur di tahun 2008 cukup tinggi, mungkin rekor tertinggi. Ini mungkin sebagai gambaran bahwa popuasi dan produksi layer memang rendah. Namun perlu disyukuri bahwa harga telur dan daging broiler cukup murah bila dibandingkan dengan harga tempe ataupun harga sebatang rokok.
Menariknya bahwa masyarakat Indonesia memang sudah terbiasa dengan makan daging dan telur, jadi kalau tidak beli itu artinya memang mereka tidak punya uang. Ketakutan makan telur menurut Prof Charles biasanya terjadi pada konsumen level atas, yakni konsumen dengan resiko kolesterol tinggi, pada hal ini sama sekali tidak berbahaya, kolesterol pada telur tetap aman untuk penderita jantung koroner. (Daman Suska)

YANG HARUS DIKERJAKAN PETERNAK 2009

YANG HARUS DIKERJAKAN PETERNAK 2009

((Apa yang harus dikerjakan oleh peternak menghadapi percaturan bisnis perunggasan di tahun 2009 nanti? ))
Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD yang dinobatkan sebagai Guru Besar Madya per 1 Mei 1998 ini menyarankan kepada peternak dalam menghadapi percaturan bisnis perunggasan di tahun 2009 nanti agar praktek manajemen peternakan yang lebih baik dan optimal, terutama dengan menjaga kualitas DOC, pakan dan mengembangkan sistem perkandangan dan peralatan kandang ke arah yang lebih baik dan higienis, lingkungan dan sumber air minum yang baik.
Namun itu semua tetap berpedoman pada penerapan biosekuriti di farm. Penerapan biosekuriti bukan hanya di dalam kandang tapi untuk luar kandang pun perlu diterapkan.
“Kata kunci dari semua kegiatan di usaha peternakan ayam adalah bagaimana caranya peternak meningkatkan efisiensi, disamping itu bagaimana caranya meningkatkan kualitas produk yang masuk ke dalam tubuh ayam untuk menghasilkan produk peternakan yang berkualitas pula,” pungkas Prof Charles.
Perubahan cuaca tak menentu ini juga mendapat apresiasi dari drh Joko Prastowo MSi dosen Penyakit Parasiter Ternak Departemen Parasitologi FKH UGM Yogyakarta. Menurutnya, penyakit parasiter pada ternak selalu ada pada setiap periode musim. Hubungannya dengan perubahan cuaca ini adalah musim panas dan hujan saat ini terjadi tidak menurut masanya.
Di samping itu, Indonesia termasuk negara beriklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan berbagai macam parasit. Artinya apapun cara yang dilakukan peternak untuk menghambat munculnya kasus penyakit parasiter pada ternak sangat minim keberhasilannya, termasuk penerapan biosekuriti.
Joko mencontohkan pada satu kasus parasiter pada ayam misalnya Koksidiosis dengan Koksidianya. Koksidia tersebut ditularkan melalui ookista yang mempunyai dinding yang tebal, sehingga ookista dari Koksidia ini diadaptasikan oleh induknya untuk dapat bertahan hidup dalam berbagai macam bentuk perubahan lingkungan tempat tinggalnya.
“Apapun jenis makhluk hidup selalu ingin survive, tidak satupun makhluk hidup yang ingin mati percuma, termasuk parasit yang selalu bertahan hidup untuk kelangsungan generasinya, maka apapun bentuk ancaman dari luar tubuhnya akan dilawan seperti perubahan cuaca, pengaruh biokimia dan lainnya,” papar Joko.
Joko memprediksikan semua penyakit parasiter akan tetap muncul di tahun 2009 nanti. “Ini merupakan konsekwensi hidup di negara tropis, semuanya tumbuh subur termasuk mikroorganisme penyebab penyakit,” ujar Joko dengan senyum sumringahnya.
Ditambahkannya bahwa pertahanan terdepan di farm memang biosekuriti, tapi sejauh mana peternak mampu menerapkan biosekuriti tersebut, apakah setiap menit, setiap jam, atau setiap hari dilakukan penyemprotan? Lalu terkait dengan manusia dan lalu lintasnya, apakah setiap orang yang masuk ke kandang harus mandi dulu, kemudian tersedianya zona-zona pembatas di setiap farm, bukankah ini semua akan menambah biaya?
“Inilah problem peternak yang juga harus dipikirkan oleh para pakar perunggasan negeri ini,” imbau Joko.
Satu lagi yang menjadi sorotannya adalah pemetaan wilayah untuk peternakan tidak sebagus negara-negara maju, dapat dibayangkan bahwa ada usaha peternakan yang berdiri kokoh di tengah-tengah kota, di tengah-tengah pemukiman, nah bagaimana mungkin kontak antara manusia sakit dengan ternak sehat tidakkan terjadi?
Pada hal kita tahu bahwa sebagian penyakit penularannya ada yang melalui udara, mampu ngak kita berkata bahwa negeri ini bisa dibebaskan dari penyakit-penyakit ternak strategis dalam kondisi perwilayahan untuk usaha peternakan yang masih amburadul tersebut? Lantas, apa yang diperlukan terkait hal tersebut?
“Sumberdaya manusia yang handal dan tata ruang yang bagus untuk usaha peternakan,” tegas Joko dengan mantap.
Sumberdaya manusia termasuk perilaku, kebiasaan dan skill yang berhubungan langsung dengan dunia unggas, sementara itu tata ruang berhubungan dengan perwilayahan tadi, artinya ada wilayah-wilayah tertentu yang diplotkan hanya untuk usaha peternakan, tidak ada jenis usaha lainnya di wilayah tersebut, dan ini untuk jangka waktu panjang, misalnya 5, 10, 15 atau 20 tahun kedepan.
“Ini lebih baik dan akan membantu peternak untuk menciptakan usaha peternakan yang benar-benar dapat dinikmati hasilnya. Di samping itu, perwilayahan ini bukan saja mendatangkan untung bagi peternak tapi masyarakat pun akan menikmatinya, yakni terbebas dari polusi akibat usaha peternakan tersebut,” paparnya.
Terkait pengendalian dan pengobatan parasit Joko menyarankan untuk melakukan tindakan sanitasi harus secara benar dan ketat. Kemudian, buang secara periodik tumpukan feses yang disinyalir sebagai sumber perkembangbiakkan serangga dan kumbang, keduanya ini diyakini dapat menularkan penyakit pada ayam.
Lalu, jika memungkinkan, kandang bambu harus diganti dengan kandang kawat untuk mencegah infestasi tungau dan caplak, gangguan burung, tikus dan hewan liar lainnya harus diperkecil, hilangkan areal yang tergenang air di sekitar kandang, metoda manajemen pemeliharaan ayam yang efisien dan efektif akan membantu untuk memperkecil populasi parasit di farm.

Terkait Pangan Asal Ternak

Terkait keamanan pangan asal ternak salah satunya daging broiler misalnya daging ayam mati kemaren (tiren), daging busuk sampai pada daging ayam yang terkontaminasi residu antibiotika atau dari jenis obat lainnya masih tetap menjadi dilema di tahun 2009 nanti.
Kondisi ini harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Isyu-isyu yang tidak jelas sumber yang pasti jangan dibesar-besarkan, karena ini berhubungan dengan psikologis konsumen.
Demikian dikatakan Nanung Danar Dono SPt MP dosen Ilmu Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. “Pada dasarnya konsumen produk bahan pangan asal ternak sangat mudah dipengaruhi. Ambil contoh ketika terjadi kasus AI di negeri ini.”
Pemberitaan seputar AI begitu santer, sehingga tidak menyisakan ruang pikir buat konsumen, hasilnya apa? Konsumen pada takut mengkonsumsi daging ayam, ketakutan mereka tidak beralasan, karena penyakit AI sendiri tidak ditularkan melalui daging ayam,” papar Nanung.
Di samping itu, daging ayam mati kemaren peredarannya sulit dideteksi. Hal ini terkait jejaring atau rantai penjualan yang begitu apik, sehingga masyarakt yang kurang paham dengan ilmu perdagingan akan terkecoh. Hanya satu yang dapat dijadikan batasan apakah itu daging tiren atau bukan, yakni dengan mengetahui harganya, bila harga yang ditawarkan jauh dari harga pasar yang sebenarnya, maka konsumen harus waspada, ada apa dengan daging tersebut.
Di samping keterbatasan ilmu tentang perdagingan, kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk menghadirkan daging sebagai lauk-pauk dalam keluarga, mengharuskan sebagian kecil konsumen memaksakan diri membeli daging ayam tiren tersebut, alasannya cukup masuk akal, yakni harga murah.
Pada hal dari segi kesehatan, daging ayam tiren sama sekali tidak baik lagi untuk dikonsumsi, hal ini mengingat bahwa daging merupakan bahan pangan yang disukai oleh mikroorganisme untuk hidup dan berkembangbiak demi kelangsungan generasinya. Bila kondisi ini terjadi, lantas siapakah yang harus disalahkan, pembelikah atau penjual?
Penggunaan antibiotika untuk menggertak pertumbuhan juga masih menjadi bahan diskusi dibeberapa event terkait kesehatan unggas yang ada hubungannya dengan kesehatan konsumen produk asal ternak.
Sebenarnya, penggunaan antibiotika untuk growth promotor dibeberapa negara sudah sejak lama dihentikan, hal ini mengingat bahwa tingkat residu beberapa antibiotika dalam daging ayam dan daging ternak lainnya dapat merugikan konsumen.
Di negara maju seperti Jerman, Swedia, Denmark dan Swis telah mengeluarkan peraturan terkait pembatasan penggunaan antibiotika dalam pakan ternak ataupun antibiotika yang digunakan sebagai obat untuk tindakan preventif dan kuratif pada ternak.
Indonesia sendiri, larangan atau pembatasan penggunaan antibiotika untuk ternak masih dalam ranah abu-abu, sehingga wajar masih memunculkan kekuatiran bagi sekelompok konsumen untuk mengkonsumsi bahan pangan asal ternak tersebut. Lalu, apa solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hal tersebut? ”Back to nature atau kembali ke alam,” ajak Nanung.
Dikatakannya bahwa mengembalikan ke alam memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi secara genetika ayam broiler dan layer diplot untuk berproduksi maksimal, artinya segala sesuatu yang akan diberikan ke ayam-ayam tersebut juga dari bahan-bahan yang maksimal pula kualitasnya.
Saat ini, alternatif penggunaan asam-asam organik dibeberapa farm mulai digalakkan. Asam-asam organik tersebut sebenarnya dapat diproduksi secara otomatis dalam tubuh ternak melalui proses fermentasi, hasilnya digunakan sebagai sumber energi.
Kemajuan dibidang biotekhnologi yang begitu pesat mengilhami industri-industri pakan ternak untuk memproduksi asam-asam organik dalam bentuk komersial seperti asam asetat, propionat laktat dan citrat yang dikemas dalam bentuk cair.
Asam-asam organik sintetik tersebut ditambahkan ke dalam pakan ternak dengan tujuan untuk menigkatkan produktifitas ternak. Di samping itu, penciptaan lingkungan yang serasi bagi perkembangan mikroflora dalam tubuh ternak dapat meningkatkan performance ternak, hal ini mendatangkan untung tersendiri bagi peternak.
Penciptaan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri tertentu melalui penurunan keasaman dapat mengaktifkan serta merangsang produksi enzim-enzim endegenous, hal ini dapat meningkatkan absorbsi nutrisi dan konsumsi pakan untuk pertumbuhan, produksi dan reproduksi ternak.
Akankah penggunaan asam organik untuk imbuhan pakan ternak dapat menggantikan kedudukan antibiotik? Ini tergantung pada peternak dan pakar perunggasan negeri ini. (Daman Suska)

Pemanasan Global dan Penyakit 2009

Pemanasan Global dan Penyakit 2009

(( Untuk tahun 2009, peternak masih tetap berhadapan dengan penyakit pernafasan dan pencernaan. ))

Yang perlu diwaspadai oleh semua pihak yang intens dengan dunia perunggasan justru efek pemanasan global. Untuk tahun 2009 efek pemanasan global masih cukup menonjol, hal ini ditandai oleh perubahan musim yang mendadak, curah hujan tak menentu, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, angin puting beliung dan banjir, ini semua dapat mempengaruhi pola tanam petani yang secara langsung dapat juga mempengaruhi pola panen.
Di samping itu, efek pemanasan global juga berhubungan erat dengan bidang peternakan. Hal ini terkait dengan beberapa produk pertanian yang dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak seperti jagung, kedele, gandum dan lainnya.
Perubahan cuaca yang tidak menentu ini dirasa sangat merugikan petani, misalnya pas mau panen lalu tiba-tiba hujan, hasil panen akan mudah rusak, hal ini akan menyebabkan meningkatnya kadar air produk pertanian yang dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak, kerusakan ini biasanya akibat pencemaran jamur yang berlanjut pada pembentukkan mikotoksin.
Ketersediaan bahan baku pakan ternak sangat fluktuatif, kadang tersedia dalam jumlah yang melimpah namun seringkali secara kuantiti keberadaan bahan baku pakan ternak tidak mencukupi, hal ini akibat beberapa negara pemasok produk pertanian untuk bahan baku pakan ternak seperti India, China dan Vietnam juga mengalami gagal panen akibat adanya bencana alam.
Di samping itu petani Amerika terutama Amerika latin, sebagian produk pertaniannya digunakan untuk proyek pengembangan biodiesel. Berdasarkan fenomena ini maka kebutuhan bahan baku pakan ternak mengalami pengurangan terutama adanya penggunaan untuk kebutuhan bahan pangan manusia dan alokasi penggunaan untuk proyek biodiesel yang ditujukan untuk menghadapi kekurangan bahan bakar minyak dunia.
“Ini jelas masalah besar yang akan dihadapi peternak dan stack holder peternakan di tahun 2009 nanti,” papar Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.
Lalu bagaimana pengaruh pemanasan global terhadap lingkungan? Menurut Pakar kesehatan unggas ini pengaruh lingkungan terutama yang berkaitan dengan kandang berdampak buruk terhadap capaian produksi baik daging maupun telur.
Dampak lingkungan dimaksud seperti periodesasi musim dan cuaca yang sukar ditentukan oleh peternak, seperti perubahan dari panas ke hujan dan atau sebaliknya. Kemudian lingkungan panas dan dingin yang terlalu ekstrim juga berpengaruh terhadap kesehatan ayam, hal ini dikaitkan dengan kejadian stress yang cukup tinggi pada ayam.
Otomatis ketahanan terhadap penyakit akan berubah begitu juga kepekaan ayam terhadap penyakit akan meningkat. “Inilah pengaruh lingkungan tersebut, kadang sangat panas dan kadang sangat dingin, yang menyebabkan berkurangnya peredaran oksigen di sekitar kandang ayam. Ini juga akan memicu munculnya penyakit-penyakit tertentu,” papar Prof Charles.

Penyakit Pernafasan dan Pencernaan

Untuk tahun 2009, Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD pakar Kesehatan Unggas yang dilahirkan di Sumba pada 4 Agustus 1948 ini memprediksi bahwa peternak masih tetap berhadapan dengan penyakit pernafasan dan pencernaan.
Kedua penyakit ini bisa dikatakan menduduki posisi puncak pada lists of disease yang menyebabkan kerugian besar bagi peternak. Penyakit pernafasan dimaksud seperti Koriza dan CRD, lalu Koli masih perlu diwaspadai kehadirannya.
Sebenarnya ada apa dengan Koli? Koli merupakan penyakit rutin yang hadir hampir disepanjang tahun. Kejadian Koli di farm sering dikaitkan dengan kondisi farm dengan sumber air minum yang kurang memenuhi syarat.
Di samping itu kejadian Koli berawal dari penerapan manajemen yang tidak maksimal, sehingga agent Koli dapat leluasa setiap saat menyerang ayam. Koli merupakan penyakit kompleks, ini berdasar pada kedudukan Koli sebagai penyakit pencernaan dan dapat pula berbentuk pernafasan.
Pengaruh cuaca dan temperatur yang sangat ekstrim dapat meningkatkan kejadian stress yang ekstrim pula pada ayam. Hal ini berdampak pada ketahanan terhadap penyakit demikian juga respon pos vaksinasi pun juga tidak bagus.
Untuk tahun 2009 penyakit-penyakit besar semacam ND masih tetap dominan, susah ditangani. Kematian yang tinggi akibat ND untuk tahun 2009 jarang terjadi tapi gangguan titer anti bodi yang berkepanjangan pada ayam produksi berdampak pada menurunnya produksi telur.
Penyakit imunosupresif masih diprediksi mewarnai percaturan penyakit ayam di tahun 2009 terutama penyakit Gumboro. Penyakit ini merupakan penyakit akibat rusaknya sel B dan sel T akibat virus yang tergolong genus Birnavirus dengan famili Birnaviridae. Gumboro dan ND ibarat “sepasang kekasih” yang saling melengkapi untuk membobol benteng pertahanan ayam.
Di peternakan broiler, Gumboro selalu muncul, bila Gumboro masuk ke farm maka penyakit apa saja bisa datang seperti Koksidiosis yang dimotori oleh perubahan cuaca secara mendadak.
Yang tak kalah pentingnya adalah penyakit yang sudah menjadi endemis di seluruh wilayah Indonesia, yakni Avian Influenza (AI). Penyakit AI masih tetap muncul ditahun 2009 namun bentuknya lebih ke bentuk ringan yang dicirikan dengan tingkat kematian rendah tetapi pada ayam broiler dapat menghambat pertumbuhan, ayam peka terhadap penyakit lain karena AI juga bersifat imunosupresif bila ayamnya tidak mati, sedangkan pada ayam petelur dapat menurunkan produksi telur.
“AI bentuk ringan ini gejalanya kadang tidak teramati oleh peternak, meskipun demikian AI bentuk ringan masih tetap disebabkan oleh HPAI. Nah, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan mutasi virus AI ini yang akan terus berlangsung, karena untuk tahun 2007-2008 sudah ada indikasi terjadinya mutasi virus AI,” ujar Prof Charles.
“Bila kita tidak hati-hati dan tidak mengikuti perkembangan dinamika virus AI di lapangan, begitu juga efektivitas vaksinasi, biosekuriti dan peranan manajemen maka kita akan tetap mendapat masalah besar dari penyakit ini di tahun 2009 nanti,” papar Gubes Patologi FKH UGM Yogyakarta ini.
Kemudian, dampak pengaruh pemanasan global ini perlu disikapi dengan bijak oleh peternak, terutama dalam memilih bahan baku pakan ternak. Peternak dituntut untuk berhati-hati dalam memilih bahan baku pakan tersebut, terutama jagung dan katul. Kedua jenis bahan baku pakan ini sangat rentan dengan kontaminasi jamur yang mengawali terbentuknya mikotoksin sebagai pemicu kejadian mikotoksikosis pada unggas.
Peternak harus selektif dalam seleksi bahan baku, bagaimana cara penyimpanannya dan bagaimana cara pemberiannya pada ternak. Pada tingkat feed mill agak lebih ketat menyeleksi bahan baku pakan ternak yang diimpor, yang dibeli atau yang dikumpul dari dalam negeri.
Hal ini menuntut peternak agar dapat melakukan kegiatan-kegiatan preventif yang bertujuan agar peternak dapat menekan atau mencegah terbentuknya mikotoksin pada pakan.
Lalu bagaimana dengan anjuran untuk menggunakan toksin binder pada pakan ternak? “Penggunaan toksin binder pada pakan hanya sekedar tips untuk mengurangi kontaminan jamur. Namun untuk penggunaannya tergantung pada tingkat pencemaran jamur tersebut,” ucap Charles.
“Bila level cemarannya terlalu tinggi maka penggunaan toksin binder tidak mampu mengatasinya dan sebaliknya pada tingkat cemaran yang rendah, penggunaan toksin binder mampu mengatasi cemaran jamur tersebut bahkan bisa sampai pada level 0, ini lebih baik,” papar Prof Charles.
Terkait cemaran jamur ini, doktoral alumni Michigan State University USA ini menghimbau agar peternak dapat menekan seminimal mungkin cemaran jamur dalam pakan ternak, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko yang diakibatkan oleh jamur tersebut. (Daman Suska)

Penelitian Kemitraan Broiler | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan

Penelitian Kemitraan Broiler

(( Bagaimana kenyataannya sehingga, kita memperoleh gambaran adanya harapan untuk tercapainya usaha peternakan maju, ekonomis dan mandiri? ))

Permasalahan utama yang dihadapi peternak rakyat dalam usaha peternakan ayam pedaging adalah keterbatasan kemampuan modal untuk penyediaan agro input, khususnya pakan yang merupakan komponen terbesar (60-75%) dari total biaya produksi. Demikian Gunawan K Johar dari Institut Teknologi Bandung.

Maka, kata Gunawan, hampir seluruh kemitraan ayam ras pedaging yang terbentuk adalah merupakan anak perusahaan dari perusahaan pakan. Kemitraan yang dianggap sebagai jawaban untuk mengangkat kembali usaha peternakan rakyat dari keterpurukan akibat krisis ekonomi. Bagaimana kenyataannya sehingga, kita memperoleh gambaran adanya harapan untuk tercapainya usaha peternakan maju, ekonomis dan mandiri?

Balikpapan

Gunawan pun melakukan penelitian terhadap 2 (dua) model kemitraan yang berbeda di Balikpapan. Hasilnya ternyata, fleksibilitas pengembangan profitabilitas peternak sangat terbatas hanya pada produktivitas kegiatan budidaya yang tercermin pada nilai FCR (feed conversion ratio) dan sistem pembagian keuntungan (profit sharing) yang sangat tergantung perusahaan mitra, karena kekuatan bargaining peternak sangat lemah.

“Untuk mendapatkan bentuk kemitraan yang memadai telah dilakukan pengembangan alternatif model kemitraan dengan memasukkan aspek profitabilitas, prospek kemandirian usaha, kodeterminasi hubungan kemitraan serta kesinambungan usaha,” tutur Gunawan.

Menurut peneliti ini, dari hasil kajian 5 (lima) model alternatif kemitraan, alternatif terbaik adalah alternatif 4 yaitu Model Kemitraan Organisasi Peternak – Perusahaan Mitra dengan kareteristik mandiri mengelola sektor Budidaya, pasca panen dan pemasaran dengan jasa kredit perbankan.

Untuk implementasinya, tambah Gunawan, diusulkan melalui 4 (empat) tahapan yaitu: tahapan 1. yaitu perubahan sistem penggunaan FCR untuk penentuan harga; tahapan 2. yaitu perubahan sistem profit sharing; tahapan 3. yaitu peralihan dalam penanganan pasca panen dan pemasaran dari Inti kepada peternak dan tahapan 4. yaitu perubahan sistem rantai nilai agribisbisnis yang dilaksanakan peternak.

Keberhasilan dan aplikasi model ini, ujar Gunawan, “Perlu dukungan intsrumen kebijakan dan penegakannya yang lebih berpihak kepada peternak, serta keikhlasan pihak yang kuat untuk memberikan kesempatan akses yang lebih besar dalam sektor pasca panen dan pemasaran kepada peternak mitra.” Demikian sumber di School of Business and Management ITB.

Magelang

Adapun Suharti dari Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada melakukan penelitian ini dilakukan terhadap enampuluh peternak ayam potong di Kabupaten Magelang, yang terdiri dari tiga puluh peternak mandiri dengan skala usaha berkisar 2500 ekor sampai dengan 15.000 ekor, dan peternak plasma dengan skala usaha berkisar 3000 ekor sampai dengan 16.000 ekor per periode.

Pada dua belas kecamatan, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung atas responden berdasarkan kuisioner yang telah ditetapkan. Selanjutnya dilakukan perhitungan analisis profit yaitu keuntungan dalam rupiah dan profitabilitas yang diukur dengan profit margin dan return on investment.

Untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel yang mempengaruhi tingkat keuntungan, profit margin dan return on investment dilakukan dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat keuntungan peternak mandiri lebih tinggi sebesar dibanding peternak plasma. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap keuntungan adalah skala usaha, total biaya, harga jual dan umur panen.

Kemudian rata-rata profit margin peternak mandiri lebih tinggi sebesar 19% dibanding peternak plasma sebesar 15%. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap profit margin adalah skala usaha, total biaya dan harga jual, demikian pula return on investment peternak mandiri lebih besar sebesar 42% dibanding peternak plasma sebesar 28%. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap return on investment adalah skala usaha ,investasi, dan harga jual. (SBMITB/PPSUGM/YR)

Leucocytozoonosis, dari Gejalanya sampai Penanganannya

Leucocytozoonosis, dari Gejalanya sampai Penanganannya

Medion Technical Support Team
(Drh Budi Purwanto, Drh Ch Lilis Lestariningsih, Hindro Setyawan, S.Pt)

Leucocytozoonosis atau “malaria like” merupakan penyakit parasit dalam (endoparasit) yang disebabkan oleh protozoa, yaitu Leucocytozoon sp. Protozoa ini ialah parasit darah yang hidupnya di dalam sel darah merah. Leucocytozoon sp. yang menyerang ayam ada 2, yaitu L.caulleryi dan L.sabrezi.

Siklus hidup Leucocytozoon sp.

Penyakit ini pertama kali muncul di Afrika Selatan yang kemudian menyebar ke Amerika dan Asia, termasuk Indonesia.Penyakit ini seringkali muncul pada saat perubahan musim dari penghujan ke kemarau. Lalat penggigit seperti Simulium sp. dan Culicoides sp. berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit ini.

A B

Simulium sp. (A) dan Culicoides sp. (B) yang berperan sebagai vektor penyebaran Leucocytozoonosis

Secara umum, Leucocytozoonosis bisa menyerang pada ayam petelur dan ayam pedaging. Berdasarkan data lapangan Medion kasus Leucocytozoonosis cukup sering ditemukan dan penyakit ini masuk dalam 10 besar penyakit yang sering menyerang.

Kerugian yang Ditimbulkan
Serangan leucocytozoon sp. pada anak ayam, baik ayam pedaging maupun petelur dapat menimbulkan kesakitan 0-40% dan tingkat kematiannya mencapai 7-50%. Sedangkan pada ayam dewasa dapat menimbulkan kesakitan 7-40% dan kematian 2-60%. Selain itu, serangan penyakit ini dipastikan akan mengakibatkan hambatan pertumbuhan dan menurunkan produksi telur yang mencapai 25-75%.

Mekanisme serangan atau penularan Leucocytozoon sp.

Gejala Klinis
Serangan Leucocytozoon sp. dapat terjadi tanpa disertai gejala klinis maupun disertai gejala klinis. Gejala klinis yang dapat ditemukan adalah feses berwarna hijau, depresi, hilang nafsu makan, muntah darah dan kelumpuhan yang diikuti dengan kematian. Sedangkan serangan penyakit ini yang tidak menunjukkan gejala klinis ditandai dengan adanya penurunan produksi telur dan penurunan berat badan.

Jengger ayam pucat dan ayam susah bernapas

Feses berwarna hijau ada gumpalan putih

Perubahan Bedah Bangkai
Perubahan yang ditemukan pada saat bedah bangkai diantaranya ditemukan bintik atau bercak perdarahan di hampir seluruh organ dalam tubuh ayam, seperti hati, paru-paru, limpa, thimus, ginjal, pankreas, usus, proventrikulus, otak, otot paha dan otot paha.

Perdarahan pada sebagian besar organ tubuh ayam

Bercak perdarahan pada bagian perut, otot dan kulit akibat pecahnya pembuluh darah

Bintik-bintik perdarahan, seperti bekas digigit nyamuk pada otot paha

Adanya darah yang menjendal di dalam rongga darah

Peradangan pada proventrikulus dan isis ventrikulus bercampur darah. Inilah yang membuat ayam muntah darah

Peradangan pada paru-paru sehingga terjadi pneumonia sampai paru-paru berdarah. Hal inilah yang membuat ayam sulit bernapas.

Diagnosa Banding
Serangan penyakit Leucocytozoonosis memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit, seperti Gumboro, infectious laryngotracheitis (ILT) dan Newcastle disease (ND).
 Gumboro
Gejala yang mirip ialah perdarahan pada bagian paha ayam. Yang membedakannya ialah perdarahan pada paha yang disebabkan oleh Leucocytozoon sp. berbentuk bintik-bintik sedangkan pada serangan Gumboro berbentuk garis.

A B

Perdarahan pada paha akibat leucocytozoonosis berbentuk bintik-bintik (A) sedangkan akibat Gumboro berupa garis (B)

Selain itu, serangan Gumboro juga mengakibatkan perdarahan di antara oesofagus-proventrikulus dan ventrikulus-proventrikulus, sedangkan Leucocytozoonosis menyebabkan perdarahan di seluruh daerah proventrikulus.

 Infectious laryngotracheitis (ILT)
Leucocytozoonosis bisa dikelirukan dengan ILT dari adanya muntah darah. Cara membedakannya ialah dengan melakukan bedah bangkai dan melihat asal dari darah tersebut. Jika berasal dari salurn pernapasan, yaitu trakea maka penyebabnya ialah ILT sedangkan apabila berasal dari salurn pencernaan, yaitu proventrikulus dan ventrikulus maka penyebabnya adalah Leucocytozoonosis.

Muntah darah akibat ILT disebabkan karena perdarahan pada trakea

 Newcastle disease (ND)

A B

Ciri khas serangan ND diantaranya terlihat pada peradangan pada usus (A) dan proventrikulus (B)

Serangan ND menimbulkan peradangan pada proventrikulus di bagian kelenjar (yang terlihat lebih menonjol dari permukaan), sedangkan leucocytozoonosis menyebabkan peradangan dan perdarahan di seluruh permukaan proventrikulus. Selain itu, ND juga mengakibatkan peradangan usus.

Pentingnya “Pemantapan Diagnosa”

Serangan leucocytozoonosis memiliki gejala yang mirip dengan beberapa penyakit lainnya. Oleh karenanya jika sekiranya muncul keraguan dalam penentuan jenis penyakit hendaknya kita tidak ragu untuk melakukan uji laboratorium sebagai pemantapan diagnosa. Caranya ialah melakukan pemeriksaan preparat apus darah guna mendeteksi adanya sporozoit dari leucocytozoon sp.

A B C
Beberapa hasil pengamatan terhadap sporozoit leucocytozoon sp. diantaranya Leucocytozoon sp. fase gametocyte (A); Merozoit dari L.caullery yang terdapat di dalam sitoplasma di sel darah merah (B) dan Macrogametocyte atau calon Leucocytozoon sp. di antara sel darah merah (C)

Tahap pengambilan dan penanganan sampel darah menjadi titik kritis pertama terhadap validitas hasil pemeriksaan di laboratorium. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan dan penanganan sampel darah sebelum dilakukan pemeriksaan preparat apus darah antara lain :
1. Jumlah sampel darah setiap kandang minimal 10 sampel agar data yang dioleh bisa mencerminkan kondisi seluruh ayam dan sampel darah diambil dari ayam yang pucat atau sakit
2. Lokasi pengambilan sampel darah untuk ayam ialah di vena brachialis (di daerah sayap)
3. Volume darah yang diambil ialah 1-2 ml. Setelah diambil, darah segera dimasukkan ke dalam vial 6R yang telah diisi antikoagulan lalu dikocok hingga merata
4. Untuk pengiriman ke laboratorium, gunakan marina cooler atau filopur yang telah diberi es. Pengiriman sampel darah sebaiknya dilakukan segera setelah pengambilan darah. Lama pengiriman hendaknya tidak lebih dari 2-3 hari

Pengendalian (Pencegahan dan Pengobatan) Leucocytozoonosis

Upaya pencegahan yang optimal tentu akan menekan kasus dan kerugian akibat leucocytozoonosis. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan antara lain :
1. Hindari adanya genangan air di sekitar kandang. Pastikan tidak ada lubang yang dapat menampung air di sekeliling kandang. Pastikan selokan bersih dan dapat mengalirkan air secara lancar
2. Hilangkan semak belukar atau rumput dan tanaman yang tidak berguna yang terdapat di sekitar kandang karena bisa menjadi tempat atau sarang nyamuk (vektor leucocytozoon sp.)
3. Perhatikan barang-barang yang dapat menampung air sehingga menjadi sarang dan tempat berkembang biaknya nyamuk. Buang atau hilangkan barang-barang tersebut dari lingkungan kandang
4. Bersihkan dan sanitasi kandang secara rutin
5. Jika perlu lakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida untuk membasmi nyamuk
6. Lakukan pemeriksaan sampel darah untuk mengetahui adanya sporozoit dari Leucocytozoon sp.

Saat ayam telah terserang leucocytozoonosis maka pengobatan yang dapat dilakukan ialah dengan memberikan antibiotik yang dapat menekan pertumbuhan schizont. Antibiotik tersebut antara lain :
 Sulfonamid yang dikombinasikan dengan vitamin A dan K3
Sulfonamid berkerja dengan cara menghambat asam folat sehingga pertumbuhan schizont ditekan dan infeksi terhenti. Adanya vitamin A dan K3 akan membantu mencegah atau mengurangi perdarahan dan kerusakan sel lebih lanjut.
 Kombinasi antara Sulfonamid dan diaminopirimidin
Kombinasi antara sulfonamid dan diaminopirimidin bersifat sinergis (saling menguatkan) dalam menghambat asam folat sehingga pertumbuhan schizont dapat ditekan. Kombinasi obat yang lainnya ialah sulfonamid dan pirimethamin maupun sulfonamid dan trimethoprim. Sulfamonomethoxine merupakan golongan sulfonamid dengan daya kerja yang lama, yaitu selama 24 jam sehingga bisa menekan asam folat secara optimal.

Malaria like (leucocytozoonosis) merupakan penyakit parasit darah mampu menurunkan produktivitas ayam. Memahami tentang gejala klinis dan perubahan patologi anatomi akan mempermudah kita dalam penanganannya. Pemantapan diagnosa melalui uji laboratorium juga diperlukan terlebih lagi gejala klinis dan patologi anatominya mirip dengan beberapa penyakit. Saat diagnosa telah termantapkan, langkah penanganannya pun menjadi semakin terarah dan efektif.

KETIKA 500 PETERNAK PRIANGAN TIMUR MEMETAKAN DIRI

KETIKA 500 PETERNAK PRIANGAN TIMUR MEMETAKAN DIRI

(( Jumlah peternakan perunggasan di Priangan Timur ada 6000-7000. Replacement tiap bulan ayam pedaging broiler 5,5 juta ekor, ayam pejantan 4 juta ekor. Kesemuanya tersebar di daerah Priangan Timur. ))

Terkait Fokus Manajemen Peternakan Broiler, Infovet meliput acara rutin tahunan Silaturahmi Perunggasan Priangan Timur yang diselenggarakan di Gedung Islamic Centre-Ciamis 15 Oktober lalu.
Acara akbar peternak Priangan Timur ini dihadiri sekitar 500 orang dari Dirjen Peternakan, Bupati Ciamis atau yang mewakilinya, Praktisi perunggasan, Pengusaha nasional bidang Pakan, Breeding dan Obat-obatan, Dekan Fakultas Peternakan UNPAD dan UNSUD, Gabungan Organisasi Peternakan Ayam Nasional (GOPAN), Pusat Informasi Pasar (Pinsar), Dinas Peternakan Ciamis dan para peternak se-Priangan Timur.
Walaupun kondisi peternakan di Indonesia sedang runyam karena adanya korelasi positif antara kenaikan harga bahan baku pakan, bibit, dan obat-obatan; kondisi perunggasan di Priangan Timur yang selalu tetap exist. Silaturahmi yang digelar tersebut sangat efektif untuk mengembangkan perunggasan yang akan datang; karena dapat meningkatkan kerjasama dan saling bertukar informasi.
Menurut H Ajat Darajat Ketua Umum dan Dewan Penasehat Kerukunan Perunggasan Priangan Timur, populasi masyarakat perunggasan di Priangan Timur berjumlah 6000-7000 peternak. Replacement tiap bulan ayam pedaging broiler 5,5 juta ekor, ayam pejantan 4 juta ekor. Kesemuanya tersebar di daerah Priangan Timur. Adapun ayam jantan dibudidayakan sebagai jantannya ayam petelur, selain itu juga sebagai substitusi ayam kampung yang selama ini sudah mulai hilang.
Pada sambutan pertama Ir Tri Hardiyanto Ketua Umum GOPAN mengungkapkan, “Peternakan rakyat sesungguhnya yang tetap eksis, di sinilah tempatnya.” Hal ini dikarenakan adanya kerjasama yang baik antara pemerintah, asosiasi, stakehorder yang terkait, dan para peternak. Dengan harapan market kita lebih diperluas lagi dan kampanye gizi nasional terus berlangsung.
Selanjutnya Ir Ahmad Dawami dari Dewan Penasehat Perunggasan Nasional menyatakan kita tidak boleh terlena dan puas dengan kondisi seperti ini. “Sebaiknya prepare mengatasi masalah perunggasan ke depannya,” katanya.
Ahmad Dawami menguraikan cara mengatasi masalah perunggasan ke depan tersebut adalah terus mengembangkan usaha, meningkatkan rasa nasionalisme dengan membeli produk dalam negeri. Lalu, pemerintah juga harus merealisasikan program yang sudah di budgetkan, mempertahankan demand dengan cara mempertahankan pendapatan masyarakat, lantas efisiensi dan optimalkan potensi daerah masing-masing.
Yang terakhir adalah sambutan dari Dirjen Peternakan Prof Dr Tjeppy Darojatun MSc. Dirjen menegaskan, “Meningkatkan ketahanan pangan khususnya protein hewani asal ternak merupakan pengembangan peternakan yang patut mendapatkan prioritas.”
Dr Tjeppy mengatakan, dalam program pemerintah, indikator makro ekonomi menunjukkan pembangunan peternakan sudah menunjukan kemajuan signifikan. Namun demikian tercapainya kemajuan tersebut belum optimal terutama di sisi kesejahteraan peternak.
Khusus untuk produksi daging ayam dan telur, menurut Dr Tjeppy, walau dari segi produksi telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, hampir 65% dari komponen produksinya masih tergantung impor. Komponen tersebut misalnya bahan baku pakan seperti jagung, tepung ikan,bungkil kedelai, bibit, vaksin dan obat-obatan serta sarana produksi lainnya.
Mestinya, kata Dr Tjeppy, ”Selain komoditi tersebut dapat diproduksi secara massal dan harganya relatif terjangkau, masyarakat juga mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Maka, upaya yang harus ditingkatkan adalah restukturisasi industri kedepan khususnya ayam ras dan wabah flu burung yang dapat memporak porandakan industri perunggasan di tanah air.”
Hal ini, lanjutnya, seharusnya kita jadikan momentum penting dan menjadikan peternakan rakyat yang berdaya saing. Tjeppy pun menjelaskan, industri ayam ras baru tumbuh pada tahun 70-an hanya puluhan ribu ekor, tetapi sekarang 1.2 miliyar ekor yang disertai tumbuhnya industri pendukung secara bersamaan. Namun demikian, masalahnya, ayam ras diwarnai adanya isu monopoli, masih tergantung pada impor, dan berfluktuasi harga sarana produksi.
Solusinya, tutur Dirjen, “Adalah dengan memperdayakan peternak unggas industri kecil dan menengah agar mampu melangsungkan usahanya dan menjadikan industri berbasis sumberdaya lokal.”
Membangun organisasi ini menurut Dirjen tidaklah mudah karena butuh waktu, adanya tokoh yang mampu membimbing dan meningkatkan kepercayaan dan kompak di lingkungan peternak, serta pemerintah selalu mendukung peternakan.
Dirjen Peternakan Prof Dr Tjeppy Darojatun MSc pun menyinggung bahwa Kabupaten Ciamis merupakan daerah produksi ternak unggas yang penting untuk memenuhi konsumen unggas DKI dan sekitarnya. Dengan adanya wabah flu burung, merupakan momentum penting dalam menata sektor perunggasan secara menyeluruh dan bertahap. Dalam kaitan ini pemerintah membenahi berbagai aspek seperti masuknya perbibitan, pakan, vaksin, dan obat hewan.
“Dan penataan perbibitan yang bebas flu burung harus dilakuukan melalui perbibitan dengan langkah Good Breeding Practice, dan diluar perbibitan dilakukan Good Farming Practice, terutama peternakan komersial dan ayam buras serta ayam local lainnya,” tegas Dirjennak.
Langkah ini dikenal dengan kompartementalisasi dan browning, dengan harapan flu burung dapat dikendalikan dan sekaligus melakukan penataan usahanya. Dalam hal industri pakan secara bertahap akan mendorong dalam penggunaan bahan baku pakan lokal, selanjutnya tempat pemotongan unggas dan perdagangannya akan ditata agar di masa mendatang tidak lagi perdagangan ayam hidup di pasaran tradisional tetapi penjualan dalam bentuk karkas.
Tambah Dirjen, “Saya mengharapkan langkah restrukturisasi ini dapat didukung berbagai pihak termasuk keluarga besar perunggasan priangan timur yang semoga dapat menjadi perintis berubahnya industri perunggasan menjadi grade trade industri.”
Sementara itu Drh Mokhammad Ridwan alumni IPB salah seorang TS SANBE Farma yang diwawancarai Infovet mengatakan, peternak di wilayah ini sebagian besar peternakan skala kecil (1000-2500 ekor). Walaupun begitu, mereka tetap survive menggeluti bisnis dengan kondisi krisis ekonomi global pada saat ini. Dengan semakin tingginya harga bahan pakan, bibit ataupun obat-obatan, perunggasan di priangan timur ini tetap menjadi jantungnya perunggasan Indonesia.
Adapun penyakit yang biasa timbul pada ayam pejantan adalah Kocsidiosis dan gumboro. Sedangkan yang menyerang ayam betina adalah ngorok atau CRD (pada musim pancaroba) dan E. Coli pada musim penghujan tiba. Tetapi semuanya itu bisa teratasi dengan baik. (Fuji)

AYAM BANGKAI KAPAN BERAKHIR ?

AYAM BANGKAI
KAPAN BERAKHIR ?

(( Perniagaan daging ayam di Indonesia adalah merupakan mata rantai yang panjang. Padahal sebagai komoditas pangan yang sangat dibatasi waktu alias cepat busuk, maka situasi seperti itu menjadi problema yang pelik. Jika saja rantai perniagaan dapat dipotong, maka sangat mungkin sekali perniagaan curang itu dapat dicegah atau ditekan. ))

Operasi yustisi alias penegakan hukum perniagaan daging ayam yang dilakukan pemerintah secara insidental menjelang hari raya keagaman nampaknya sampai saat ini belum memberikan hasil yang optimal. Juga belum mampu menentramkan hati masyarakat sebagai konsumen.
Terkesan langkah itu hanya show of force aparat pemerintah kepada public secara massive. karena hampir selalu mengundang dan mengajak media cetak maupun elektronik. Mereka alias sang aparat hanya merasa punya’kuasa’ dan berhak menindak, akan tetapi lalai dan alpa akan kewajibannya yang lebih besar sebagai Abdi Negara yaitu untuk berbuat dalam meningkatan pengetahuan dan memberikan bimbingan juga pengarahan.
Itulah benang merah yang bisaa dipetik dari perbincangan INFOVET dengan para praktisi yang sangat kompeten. Mereka adalah Drh Haji Hayat Junaedi MMA, Drh Haji Maryono, Sutri Sino dan Hadi Santosa.
Hayat Junaedi praktisi peternakan berpengaruh di Yogykarta yang juga Calon Anggota Legislatif di Propinsi DIY itu mengkritisi bagaimana kinerja aparatur pemerintah. Menurut Hayat yang juga Ketua Dewan Pakar Partai Demokrat Yogyakarta, bahwa apaarat hanya melihat para pedagang sebagai “obyek” dari sebuah mata rantai perniagaan dan kurang didudukkan sebagai “subyek” yang sebenarnya amat penting peran dan kontribusinya kepada pemda /negara.
Bagaimana tidak…? Sedikit atau banyak, Negara, termasuk aparaturnya telah berhutang kepada para pedagang yang dijadikan obyek itu. Sudah jelas mereka memberikan kontribusi pada APBD melalui pungutan retribusi dan pajak alias pendapatan daerah. Dan yang jauh lebih penting lagi adalah serapan tenaga kerja, sehingga mengurangi angka pengangguran.
Semestinya bukan saja pedagang dipandang sebagai partner pemerintah dalam perannya menyediakan kebutuhan pangan bergizi yang mudah dan murah, namun juga sebagai pelaku atau subyek perekonomian daerah.
Andai saja mental dan perilaku aparatur sudah tereformasi maka kasus perniagaan daging ayam bangkai tidak akan semarak seperti selama ini. Kalaupun untuk hilang atau tidak ada sama sekali perniagaan daging ayam bangkai memang sangat sulit dan kompleks permasalahannya.
Kompleksitas itu menurut Hadi Santosa, Ketua ASOHI Jateng, mirip dengan peredaran obat hewan illegal. Dimana kasus perniagaan ayam bangkai marak oleh karena adanya permintaan dan pasokan. Mereka yang melakukan hal itu memang tercela dan patut diberikan hukuman yang setimpal agar jera dan tidak mengulang kembali.
Namun pada kenyataannya sangat sulit sekali, oleh karena penegakan huukum yang ada tidak mampu memberikan efek jera. Sangat mirip sekali dengan peredaran obat hewan illegal. Bahkan nampaknya akan semakin berkembang sejalan dengan semakin berkembangnya industri perunggasan nasional.
Mengapa demikian? Hal itu oleh karena adanya sejumlah mata rantai perniagaan ayam yang panjang dan akhirnya melahirkan praktek curang perniagaan daging ayam. Sekedar mencermati, bahwa perniagaan daging ayam di Indonesia adalah merupakan mata rantai yang panjang. Padahal sebagai komoditas pangan yang sangat dibatasi waktu alias cepat busuk, maka situasi seperti itu menjadi problema yang pelik. Jika saja rantai perniagaan dapat dipotong, maka sangat mungkin sekali perniagaan curang itu dapat dicegah atau ditekan.
“Sulit dan tetap sulit, jika saja penegakan aturan dan sanksi hukum tidak tegas dan berat,” ujar Hayat. Meski demikian, pemerintah sebagai regulator dan fasilitator harus terus mengupayakan hal itu. Untuk menurut Hadi, secara rutin tetap harus dilakukan operasi yustisi. Selain untuk memberikan ruang gerak para pelaku menjadi sempit juga untuk menciptakan iklim kondusif usaha perunggasan nasional.
Suasana kondusif itu perlu lanjut Hadi, sebab bukti dan fakta lapangan selama ini semakin menguatkan bahwa isu, rumor ternyata sangat mudah menggoyahkan perniagaan komoditas itu. Dimana pada akhirnya akan mengganggu proses produksi atau budi daya karena, tekanan harga jual di pasar yang bisa anjlog. Memang kunci utama pada adanya kebutuhan atau permintaan dan di lain pihak terjadi pasokan yang mudah. Jika saja kemudahan pasokan itu bisaa dipangkas atau dihilangkan , maka hampir pasti tidak akan ada lagi bisnis curang dan culas.
Sedangkan Sutri Sino berpendapat, bahwa sulitnya memberantas perniagaan daging ayam bangkai oleh karena memang nilai rupiahnya sangat menggiurkan. Sebagai orang yang terjun langsung di perniagaan daging ayam, Sutri memaparkan fakta lapangan dimana saja komoditas itu bisaa diperoleh.
Pertama yaitu di hulu atau di kandang. Teramat banyak ayam yang mati setiap hari bisa dikumpulkan dari kandang dan dari berbagai umur ayam. Kematian ayam di setiap kandang bagaimanapun tidak bisa dihindarkan. Di sisi lain para pedagang ayam bangkai sebagai kolektor setiap hari bisa keluar masuk kandang berkali kali silih berganti. Kolektor itu bisa terjun sebagai penjual daging ayam ataupun hanya sebagai pengumpul yang akan dipasok ke pengepool menengah. Ini merupakan jalur gelap.
Sedangkan jalur semi legal adalah, pedagang ayam yang secara legal memanen dari kandang untuk di setor ke pedagang ecer atau ke pasar pemotong. Dalam proses pengangkutan, sudah pasti tidak bisa dihindarkan adanya ayam yang mati. Meski tidak banyak, tetap saja akan ada ayam yang mati dalam proses pengangkutan itu. Pekerja transportasi bisa berbuat tidak terpuji dengan menjualnya. Ataupun yang lebih sering para kolektor ayam bangkai akan aktif dan sangat proaktif mencari di saat proses pengangkutan.
Lini berikut adalah di tempat pedagang pengepool sebelum dikirim ke pedagang ecer atau pemotong. Dalam jangka waktu sebelum dikirim, sangat besar terjadinya kematian, sehingga pada lini ini juga menjadi target sasaran para pedagang kolektor.
Lini atau kawasan yang lebih besar adanya ayam bangkai bebas diperjualbelikan adalah di pasar pusat perniagaan ayam. Di pasar, teramat mudah dan kasat mata bahwa ayam bangkai diperjual belikan tanpa ada rasa bersalah dan sungkan. “Pasar pusat perniagaan ayam, adalah juga pusat terbesar perniagaan ayam bangkai. Di kawasan itu ayam bangkai diperjualbelikan dengan terbuak, terang-terangan,” ujar Sutri.
Maka sebenarnya jika mau diberantas, dari kawasan itulah paling mudah dan paling efektif. Kemudian timbul pertanyaan, mengapa aparat tidak secara rutin saja melakukannya di kawasn itu??
“Ohhh tidak mudah dan akan ada resistensi dan penolakan dan juga bahkan perlawanan dari para pedagang yang berjualan disitu,” ujar Hayat. Tidak ada jalan lain kecuali para petugas yang kompeten secara arif memberikan penyuluhan kepada konsumen dan juga utamanya kepada para pedagang. Sebab untuk memangkas rantai pemasaran yang cukup panjang itu menjadi tidak mudah dan butuh waktu panjang.
Lalu bagaimana? Jawabnya: “Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang?” (iyo, sdrman, YR)

3 TAHAP PRODUKSI DAGING EFISIEN

3 TAHAP PRODUKSI DAGING EFISIEN

(( Untuk mempersiapkan DOC untuk memproduksi daging yang efisien dan aman harus melalui tiga tahapan, ketiganya saling berinteraksi satu sama lainnya. Tahapan-tahapan tersebut seperti (1) perbaikan pakan, (2) perbaikan manajemen dan (3) perbaikan pada sistem penyembelihan.))

“Sudah saatnya sistem pemeliharaan broiler negeri ini dikembalikan ke alam,” demikian dikatakan Nanung Danar Dono SPt MP dosen Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hal ini mengingat pada produksi yang dihasilkan broiler berupa daging harus sehat, aman dan tidak membahayakan konsumen.
Di samping itu, menurut Bapak dua putri ini, produksi daging broiler “made In Indonesia” relative lebih alot atau keras, tidak seperti daging broiler di Eropa dan negara lainnya di dunia. Rata-rata peternaknya menghasilkan daging broiler dengan tekstur daging yang empuk disertai cita rasa daging yang renyah dan gurih. Broiler modern dengan mutu genetik terpilih, harus dipelihara dengan sistem manajemen terpilih pula.
Nanung menggarisbawahi bahwa untuk mempersiapkan DOC untuk memproduksi daging yang efisien dan aman harus melalui tiga tahapan, ketiganya saling berinteraksi satu sama lainnya.
Tahapan-tahapan tersebut seperti (1) perbaikan pakan, (2) perbaikan manajemen dan (3) perbaikan pada sistem penyembelihan.
Menyitir pada bagian ketiga dari tiga tahapan yang dikemukakan Nanung, yakni perbaikan pada sistem penyembelihan, perlu diterapkan, hal ini mengingat bahwa sebagian besar konsumen daging broiler di negeri ini adalah komunitas muslim, yang membutuhkan produk akhir broiler yang aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Perbaikan Pakan

Makanan atau pakan broiler terutama pada minggu pertama pemeliharaan perlu diperhatikan. Hal ini berhubungan dengan capaian bobot badan akhir saat panen. Pakan yang baik adalah pakan yang mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan broiler untuk tumbuh dan pembentukan daging.
Nutrisi dimaksud seperti kandungan karbohidrat sebagai sumber energi, protein dan asam-asam amino, mineral dan vitamin, baik yang larut dalam lemak (fat soluble vitamins) maupun yang larut dalam air (water soluble vitamins).
Mengenai nutrisi, pada saat ini sudah tersedia pakan broiler berbagai merek. Pakan-pakan tersebut pada umumnya dapat memenuhi kebutuhan nutrisi brolier. Namun komposisi pakan tersebut pada umumnya hanya ditujukan untuk mencapai target berat badan broiler saja, sedangkan untuk kebutuhan nutrisi lainnya dipenuhi dari vitamin dan premix sintetik.
Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada mutu produk dan cita rasa daging brolier yang dihasilkan nantinya. Demikian disampaikan drh Jananta Kuswandiyah Laboran pada Laboratorium Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu.
“Pertanyaannya, nutrisi seperti apa yang diinginkan, kalau hanya sekedar untuk mencapai target berat badan dan feed konversi mungkin saat ini sudah bagus, tapi kalau mau mencari pakan brolier dengan komposisi komplit dan berimbang tentunya masih sangat langka,” papar Bapak satu putra ini.
Di beberapa negara panas termasuk Indonesia, kandungan nutrisi pakan dimanfaatkan ayam untuk membantu mengurangi pengaruh stres panas pada ayam pedaging maupun ayam petelur.
“Stres secara nyata merupakan faktor yang mempercepat penyebaran penyakit,” papar Prof Charles. Lebih lanjut dikatakannya bahwa sebagian besar organisme penyebab penyakit seperti virus dan bakteri sangat potensial berkembang pada ayam dalam kondisi stres.
Selanjutnya, agen pathogen ini akan menyerang jaringan tubuh ayam yang memiliki resistensi rendah terhadap berbagai faktor stres internal maupun eksternal, sehingga kondisi ini dapat merangsang respon fisiologis dalam tubuh ayam untuk mengembalikan keseimbangan dalam tubuhnya seperti sediakala.
“Hal ini terus berlanjut selagi ayam masih berada dalam cekaman stres,” ujar mantan dekan FKH ini.
Sementara itu, Nanung Danar Dono SPt MP yang dosen Ilmu Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan menyatakan bahwa bahan pakanpun dapat menyebabkan stres pada broiler modern. “Mari kita kilas balik, secara umum ayam merupakan herbivore, pemakan biji-bijian, ini telah dibuktikan sejak ratusan tahun silam.
Nah, kondisi saat ini, pakan ayam disajikan dalam bentuk jadi dengan racikan dari berbagai bahan pakan, mulai dari bijian, tepung darah, tepung ikan, tepung tulang dan berbagai jenis bahan pakan asal hewan yang digodok menjadi satu dengan batasan-batasan kandungan nutrisi yang dibutuhkan,” papar alumni Pasca Sarjana Fapet UGM ini.
Dikatakannya, ayam yang mengkonsumsi pakan berbahan dasar dari berbagai jenis pakan asal hewan secara umum memang tinggi kandungan N-nya, terutama MBM dan DOC yang tidak memenuhi kriteria pasar atau DOC over produksi, digiling kembali untuk dijadikan bahan dasar pakan.
Tingginya kandungan N dalam pakan ini tidak memberi jaminan pertumbuhan optimal pada ayam, karena menurut Sekretaris Eksekutif Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewah Yogyakarta ini bahwa pakan asal hewan tersebut kandungan N-nya memang tinggi, tapi yang terukur adalah N yang terikat pada keratin (protein bulu), dan ini secara umum tidak tercerna oleh sistem pencernaan unggas.
Nah inilah secara fisiologis sebagai pemicu stres pada ayam, akibatnya pada ayam yang masih hidup akan rentan dengan berbagai jenis penyakit sedangkan pada ayam yang akan dipotong dapat menyebabkan daging alot atau keras dengan cita rasa beda pada ayam yang dipotong dalam kondisi rileks.
“Hindari stres selama masa pemeliharaan, terutama stres akibat panas,” pinta Nanung. Lalu, apa hubungannya stres panas dengan berbagai kandungan nutrisi pakan?

Manajemen

Manajemen merupakan satu kata yang digunakan banyak kalangan dari berbagai macam disiplin ilmu. Apakah itu dari ilmu sosial, politik, budaya, maupun ilmu alam yang disebut sebagai ilmu statik, yakni keilmuan yang masih menganut pada teori-teori yang baku.
Manajemen dalam sistem pemeliharaan ternak diartikan sebagai pengadministrasian berbagai kegiatan yang ada dan yang sudah disepakati atau mengacu pada kegiatan-kegiatan yang sudah ada sebelumnya, yang secara teoritika kegiatan tersebut dapat memberikan nilai tambah pada usaha tersebut.
Terry (1961) mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pelaksanaan, serta pengawasan dengan memanfaatkan ilmu dan seni agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Berpijak pada statemen ini, untuk mendapatkan nilai lebih (red; laba atau keuntungan) dari suatu usaha maka peternak atau pelaku usaha di bidang peternakan harus mengadaptasikan semua runtutan kegiatan manajemen dalam setiap tingkatan kegiatannya.
Hal dimaksud seperti perencanaan terhadap pemilihan day old chick (DOC) yang akan dipelihara, bila perencanaan-perencanaan lainnya telah diterapkan sebelumnya. “Mengapa harus dimulai dari DOC?” satu pertanyaan yang cukup menarik yang dilontarkan Prof drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Menurutnya seleksi yang baik merupakan awal yang baik pada suatu usaha peternakan, apakah itu usaha peternakan broiler komersial, layer komersial, pembibitan, maupun usaha peternakan lainnya yang berorientasi pada keuntungan. Lalu, apakah hanya sebatas pada seleksi DOC saja?
“Jelas tidak, kegiatan seleksi yang baik harus diikuti dengan manajemen yang baik pula, apalagi untuk usaha ayam broiler yang disebut sebagai usaha ayam pedaging komersial dengan waktu yang sangat singkat” papar Prof Charles.
Ditambahkannya, pada kegiatan tersebut yang bermain peran adalah peternak yang merupakan manajemen puncak, pembuat keputusan dan pengambil segala kebijakan terkait maju mundurnya usaha tersebut.
Untuk ayam broiler modern misalnya, manajemen pemeliharaan selama tujuh hari pertama, terutama selama tiga hari pertama merupakan kunci keberhasilan dalam pencapaian bobot badan. Manajemen pemeliharaan broiler pada tujuh hari pertama ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti deviasi dari kondisi normal selama pengukuran, baik itu suhu, kelembaban, tekanan statis, maupun faktor-faktor lainnya yang juga berperan dalam pencapaian bobot badan pada akhir pemeliharaan.
Faktor-faktor dimaksud seperti kualitas udara yang meliputi kadar amoniak, kualitas udara yang rendah, dan lain-lain, kemudian kualitas litter atau sekam, ini ditujukan pada usaha peternakan broiler dengan sistem kandang panggung, lalu perilaku ayam apakah terlalu aktif atau pasif.
Satu penelitian yang cukup fenomenal di dunia perunggasan dilakukan di Universitas Georgia, dengan hasil yang menunjukkan bahwa ayam-ayam berumur muda yang kekurangan pemanas selama 45 menit pada tujuh hari pertama, dapat menyebabkan kehilangan bobot badan 135 gram pada umur 35 hari.
Jika satu bagian flok mengalami kondisi tersebut maka tingkat keseragaman (uniformity) yang dihasilkan akan rendah. Sebaliknya, pemanasan berlebih pada ayam-ayam muda tersebut, akan menekan laju pertumbuhan dan menurunkan bobot badan pada umur tujuh hari pertama. Dengan perlakuan senada, jika pemanasan berlebih terjadi disatu bagian flok, maka akan dihasilkan tingkat keseragaman (uniformity) yang rendah pula.

Penyembelihan

Menurut Nanung Danar Dono SPt MP Penyembelihan harus dilakukan pada saat ayam benar-benar berada pada kondisi tidak stres, dengan demikian pilihan pangan produk unggas ini dapat dinikmati konsumen dalam berbagai bentuk sajian sesuai dengan selera penikmatnya. (Daman Suska).

TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?

TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?

(( Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. Misalnya cuma 2 kali periode menang, sesungguhnya hasil usahanya lebih besar daripada nilai kekalahan yang 4 periodenya. ))

Kapasitas peternakan di Indonesia tidak banyak berubah, dengan kapasitas total sama dibanding tahun-tahun lalu. Adapun perbandingan antara peternakan yang baru dengan peternakan yang berhenti lebih banyak yang berhenti. Demikian Drh Arief Hidayat Technical Department PT Mensana Aneka Satwa.
Menurut Drh Arief, peternak yang bertahan, jumlah populasi ternaknya sudah di atas 50.000 ekor. Hal-hal yang menjadi kebutuhan utama peternakan berupa bibit, kandang dan tanah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, guna peternakan ayam petelur cukup mahal, apalagi peternakan pembibitan. Yang paling rendah permodalannya adalah peternakan broiler.
“Itupun, orang berpikir lebih suka membeli bekas peternakan yang tidak terpakai lagi, sebagai tangan kedua. Malah, kalau bisa jangan membeli, namun lebih baik menyewa. Yang dari awal investasi, jarang, karena banyak terhambat resesi global. Yang penting bagi mereka, harga produk terjangkau,” papar Arief Hidayat.
Dokter hewan yang banyak berpengalaman di bidang perbibitan selama 13 tahun dan di PT Primatama Karya Persada selama 7 tahun ini mengatakan cara mempertahankan eksistensi peternakan ini adalah menjaga aset-aset peternakan supaya jangan sampai hilang. Yang paling banyak pasang surut adalah usaha peternakan ayam pedaging (broiler). Para pelaku bisnis peternakan broiler rata-rata dengan menyewa kandang, bukan sebagai pemilik kandang.

Pelayanan ke Peternakan
Dalam melayani peternak, yang dilakukan Tim PT Mensana Aneka Satwa, menurut Drh Arief antara lain kunjungan rutin dan pelatihan-pelatihan, diberlangsungkannya bulan promosi, dan lebih menekankan pada unsur pendidikan dan lebih percaya kepada diri sendiri. Sebagai contoh, kata Drh Arief, tanpa menyebut nama produk obat, peternak tetap dididik dan mengerti obat yang dimaksud.
Menurut Technical Service PT Medion pada 1982-1983 ini, ia merasakan pendidikan untuk disiplin bekerja di perusahaan ini dan kini ia terapkan di perusahaan yang sekarang.
Di era kemitraan ini, pemimpin di PT Mensana Aneka Satwa yang jumlah cabangnya di Indonesia mencapai jumlah 25 cabang mengatakan memang banyak perusahaan obat hewan yang mengalami cukup hambatan untuk masuk ke peternakan yang bukan satu grup kemitraan. Namun baginya, hal ini tidak menjadi hambatan.
Sebagai contoh, sebagai mantan karyawan PT Japfa Comfeed, Drh Arief Hidayat terhitung familiar dengan para peternak yang mnenjadi anggota kemitraan perusahaan nasional ini. Malah peternak pun berkata, “Coba dari dulu ke sini,” mengungkapkan penerimaan terhadap kehadirannya sekarang dalam hal teknis kesehatan hewan PT Mensana Aneka Satwa.
Sementara ihwal campur tangan dinas peternakan, sejauh ini Drh Arief merasakannya: tidak ada. Adapun banyak peternak yang merahasiakan akses peternakannya. Dokter hewan yang masuk FKH IPB pada 1978 ini mengatakan kelemahan-kelemahan peternakan ayam pedaging adalah masalah manajemen atau pengelolaan.

Tidak Ada Ceritanya Peternak Broiler Rugi
“Peternak, rata-rata tidak begitu mempedulikan manajemen pemanas. Juga tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya ayam 3-5 tahun yang lalu berbeda dari ayam yang sekarang,” ujar angkatan 15 di FKH IPB ini. Bila pada pertumbuhan ayam umur seminggu mencapai pertumbuhan optimal, maka selanjutnya tinggal mengisi yang lain-lain.
Dalam perhitungan keuangan kas dan investasi, menurut Drh Arief, belum banyak yang membedakan perhitungan-perhitungan penyusutan, perhitungan harga pakan dan konversi pakan, serta harga ayam pedagingnya. Sampai saat ini hal-hal semacam ini masih menjadi pola pikir peternakan.
Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. Bila misalnya 2 kali periode kalah, maka 4 kali periodenya menang. Bila 4 kali periodenya menang, 2 kali periodenya menang. Namun, sesungguhnya, meskipun cuma 2 kali periode menang, hasil usahanya lebih bear daripada nilai kekalahan yang 4 periodenya.
Dalam setahun tidak ada ceritanya peternakan broiler rugi. Perhitungan usaha ayam pedaging itu berbeda dengan usaha ayam petelur. Dengan investasi yang sama dengan usaha ayam pedaging, keuntungan bisnis ayam petelur adalah 10% dari untungnya broiler. Setiap tahun kita selalu mendengar keluhan peternak yang merasa rugi. Namun kalau untung sejatinya peternak tidak pernah omong. “Biasa, masalah klasik sejak jaman dulu,” kata Drh Arief.
Untuk memasyarakatkan kepedulian kepada peternakan dan peternakan ini, Drh Arief Hidayat mengaku dengan adanya Rubrik di Infovet “Solusi Peternak Handal” yang diasuh PT Mensana Aneka Satwa, namanya menjadi banyak dikenal dan peternak lebih banyak membaca. “Infovet banyak membantu, dan peternak lebih senang terhadap materinya,” kata Drh Arief.

Filosofi Peternak Ayam
Bagi Drh Arief Hidayat, yang sangat perlu dihayati adalah filosofi peternak ayam. Bahwa sesungguhnya, pekerjaan peternakan adalah pekerjaan sehari 24 jam dan seminggu 7 hari. Dengan filosofi ini, bila kita betul suka ayam, maka kita akan berpikir seperti ayam; sehingga kita empati dengan kondisi ayam dan selalu membuat ayam nyaman di dalam kandang. Bila sudah nyaman dalam kandang maka hal-hal lain yang tidak dibutuhkan tidak akan lagi mengganggu.
Drh Arief mempunyai pengalaman bersama seorang pimpinannya yang berpikir sangat sistematis bertanya secara perhitungan matematika mestinya ayam itu menghasilkan produksi terbaik. “Namun, mengapa kenyataannya kok lain?” tanya pimpinannya itu.
Dokter hewan alumnus FKH IPB ini pun menjelaskan bahwa ayam merupakan makhluk hidup, ada faktor X yang tidak kita ketahui. Yang kedua adalah mengelola ayam merupakan suatu sening, bukan ilmu matematika. “Ada yang tidak bisa kita kendalikan,” Arief Hidayat mengingatkan.
Drh Arief mengatakan soal kontribusi strain (bangsa) ayam. Dengan 7 strain yang dibeli oleh peternak broiler saat ini, menurutnya hal ini sudah tepat tepat. Masalahnya, katanya, bibit adalah tetap bibit; sedangkan strain tetaplah strain. Yang penting adalah bagaimana mengelolanya, sejak dari Grand Parent Stock yang menentukan genetik strainnya. Selanjutnya dari sini akan muncul bibit ternak yang baik-baik.
Kontribusi pada performan atau penampilan ayamnya, biaya bibit berperan 12% dari keseluruhan performan ayam; biaya tata laksana adalah 12 persen; biaya kesehatan (obat-obatan) sebesar 6%; dan biaya pakan paling banyak yaitu sejumlah 70 persen. (YR)