PAKAN PRODUKSI MAHASISWA UNISLA INI TINGKATKAN BOBOT TERNAK

 

 

Pakan PelletKu produksi mahaasiwa Fapet UNISLA (Foto: Istimewa)

 

Mahasiswa Fakultas Peternakan
(Fapet) Universitas Islam Lamongan (UNISLA) berinovasi dengan membuat produk
pakan ternak unggul dengan brand
“PelletKu”.
PelletKu merupakan pakan ternak
produk mahasiswa Fapet UNISLA yang diikutsertakan dan dinyatakan lolos dalam
seleksi Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) 2019, program Kementerian
Riset dan Teknologi yang diikuti seluruh mahasiswa Indonesia.
“Ide bisnis dari mahasiswa kami salah satunya adalah memproduksi pellet untuk pakan sapi dan kambing dengan label PelletKu,”
ungkap Kaprodi Fapet UNISLA, Wahyuni SPt, MSi, dihubungi Redaksi Infovet, Selasa (8/10/2019).
Pekan lalu, Didin Harianto
mahasiswa Fapet UNISLA beserta rekan satu kelompok mensosialisasikan PelletKu
di hadapan para peternak Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan.
(Dari kiri ke kanan) Didin Harianto, Kades Tenggulun, Nova Dinda Natasyah.

Konsentrat
pakan ini memiliki keunggulan membuat ternak sehat dan bobot meningkat dengan cepat. Selain itu, ternak tidak perlu lagi diberi pakan tambahan, karena
PelletKu sudah termasuk complete feed
atau sudah memenuhi kebutuhan gizi ternak dan formulasinya sudah lengkap.

“Keunggulan lainnya adalah pakan
ini tidak berdebu, sehingga pakan yang diberikan tidak mempengaruhi kesehatan
ternak,” kata Wakil Dekan Fapet UNISLA, Dyanovita (Novi) Al
Kurnia SPt, MAgr, Selasa (8/10/2019).
Lebih lanjut dijelaskan Novi, PelletKu
diolah dengan bahan baku dedak, kedelai, pollard molasses (silase jerami
jagung) dan berbagai limbah pertanian lain yang mudah diperoleh di kawasan
Lamongan.  
“Rencananya, pakan ini akan
diproduksi dalam jumlah banyak dan nantinya di-trial oleh mahasiswa Fapet
semester akhir,” ungkap Novi.
Novi berharap, ke depan usaha
mahasiswa Fapet UNISLA ini tetap berjalan dan terus mengembangkan jangkauan ke
pasar yang lebih luas.
Kelompok mahasiswa Unisla yang
mengikuti KBMI 2019 ini diketuai Didin Harianto dengan Abdullah Fanani, Nur
Khasanah, Arya Adhi Prasetyo dan Nova Dinda Natasyah sebagai anggota. (NDV)

Agribiz Network

PRINSIP PEMBERIAN PAKAN SAPI PEDAGING

 

 

Ternak sapi pedaging (Sumber: Istimewa)

Dalam penggemukan sapi, pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah tertentu dengan kandungan energi dan protein yang cukup, sehingga menghasilkan pertambahan berat badan (PBB) sesuai yang diharapkan.


Pakan ternak sapi pedaging di Indonesia saat ini sebagian besar masih menggunakan bahan pakan lokal. Hijauan sebagai sumber bahan pakan utama masih menjadi andalan peternak mencukupi kebutuhan energi ternak. Namun demikian, ketersediaan dan kualitas hijauan merupakan masalah utama dalam penyediaan pakan di Indonesia.


Pada musim hujan ketersediaan hijauan di Indonesia cukup berlebih, namun pada musim kemarau hijauan menjadi langka. Pada saat ketersediaan hijauan berlebih, peternak mestinya memanfaatkannya dengan mengolah menjadi hay (hijauan kering), silase atau pengolahan lainnya, sehingga dapat disimpan dan dimanfaatkan pada saat kelangkaan hijauan terjadi. Namun, keterampilan peternak masih sangat rendah sehingga hanya sebagian kecil saja yang dapat melakukannya.


Menurut Dr Idat Galih Permana dari Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam sebuah pelatihan tentang pakan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Bogor pada September 2019 lalu, menyatakan bahwa di samping ketersediaan hijauan yang fluktuatif, kualitas hijauan di Indonesia masih relatif rendah. Seperti halnya di daerah tropis, pertumbuhan hijauan untuk mencapai fase generatif sangat cepat, sehingga hijauan yang dipanen cenderung mengandung protein yang rendah dengan kandungan serat kasar tinggi. Rendahnya penggunaan pupuk pada lahan hijauan semakin menyebabkan menurunnya kualitas hijauan. Disamping itu, sebagian besar peternak masih sangat mengandalkan hijauan alam atau rumput alam, sehingga kualitasnya sama sekali tidak dapat dikontrol.


Sementara pemakaian konsentrat untuk ransum ternak ruminansia di Indoensia masih didominasi oleh bahan baku lokal. Hal tersebut terjadi karena ternak ruminansia tidak terlalu menuntut bahan baku dengan kandungan tinggi nutrien. Beberapa bahan baku yang umum digunakan dalam konsentrat ternak ruminansia diantaranya onggok, dedak padi, polar dan jagung sebagai sumber energi, serta bungkil sawit, bungkil kelapa dan ampas tahu sebagai sumber protein. Kendati demikian, permasalahan yang juga terjadi dalam penyediaan konsentrat adalah fluktuatif dan kualitas bahan baku yang tidak stabil.


Program penggemukan atau feedlot pada sapi pedaging ditujukan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan dalam waktu 3-5 bulan pemeliharaan sapi bakalan. Dalam program tersebut sapi bakalan diberi pakan dalam jumlah tertentu dengan kandungan energi dan protein yang cukup, sehingga menghasilkan pertambahan berat badan (PBB) yang diharapkan.


Pertambahan berat badan sapi tergantung dari banyak hal, antara lain jenis sapi, kelamin, umur, kualitas pemeliharaan pada masa pertumbuhan, serta jenis dan cara pemberian pakan. Selain pakan hijauan, sapi pedaging juga harus diberikan konsentrat khusus untuk penggemukan. Sebagai acuan dalam pembuatan pakan konsentrat sapi pedaging, dapat digunakan SNI Konsentrat Sapi Potong (3148-2:2017).


Jenis-jenis Bahan Pakan
Bahan pakan secara umum dikategorikan dalam empat jenis, yaitu hijauan, konsentrat, pakan suplemen dan imbuhan (additive). Konsentrat merupakan bahan pakan yang mengandung energi dan protein tinggi, serta memiliki kandungan serat yang rendah. Terdiri dari biji-bijian/serealia, umbi-umbian, maupun limbah industri pertanian (agroindustry wastes). Kualitas bahan pakan konsentrat sangat ditentukan pada proses pengolahan, komposisi nutrisi, palatabilitas, kontaminasi dan proses penyimpanannya.


Bahan konsentrat yang berasal dari limbah industri pertanian pada umumnya berupa bungkil dan ampas. Bungkil adalah limbah hasil ekstrasi minyak dari suatu bahan, misalnya bungkil kedelai, bungki kelapa, bungkil inti sawit dan lain sebagainya. Bungkil bisa mengandung protein yang tinggi dan kaya akan mineral. Sedangkan ampas adalah limbah industri pertanian yang berasal dari proses ekstraksi sari pati suatu bahan, misalnya ampas singkong (onggok), ampas tahu, ampas sagu dan lain sebagainya. Kandungan nutrien ampas lebih rendah dari bungkil, bahkan memiliki serat yang lebih tinggi.


Proses pengolahan bungkil dan ampas ini sangat berpengaruh terhadap kulitas bahan pakan. Hal itu dikarenakan komposisi nutrisi bahan pakan yang pada akhirnya akan  menentukan kualitas bahan pakan tersebut. Kandungan nutrien yang digunakan dalam penentuan kualitas adalah nutrien makro seperti karbohidrat/energi, protein, lemak dan pati, disamping kandungan mineral (makro maupun mikro), serta vitamin.


Penentuan kandungan nutrien makro dapat dilakukan dengan analisis proksimat. Analisis proksimat terdiri dari bakan kering, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrat tanpa nitrogen (BETA-N). Adapun untuk serat kasar, berhubungan negatif dengan kualitas, semakin tinggi serat kasar maka kualitas bahan pakan semakin rendah.


Sedangkan untuk segi palatabilitas yang merupakan daya suka ternak terhadap suatu bahan pakan, bisa dipengaruhi oleh komposisi nutrisi, bentuk fisik, rasa, serta kandungan anti-nutrisi. Bahan pakan yang berkualitas baik akan memberikan palatabilitas tinggi dan sebaliknya bahan pakan yang palatabilitasnya rendah dianggap kurang berkualitas. Kandungan nutrisi tentu akan mempengaruhi palatabilitas. Pakan yang mengandung energi dan protein tinggi lebih disukai ternak dan sebaliknya kadar serat memberikan palatabilitas yang rendah.


Selain itu, bentuk fisik seperti tekstur, warna, bau, juga turut mempengaruhi palatabilitas. Ternak ayam misalnya, lebih menyukai butiran jagung yang berwarna cerah dibandingkan jagung dalam bentuk tepung dan berwarna pucat. Demikian juga dengan kandungan anti-nutrisi sangat mempengaruhi palatabilitas. Contohnhya adalah biji kedelai utuh yang mengandung tripsin inhibitor, memiliki palatabilitas yang rendah dibanding dengan bungkil kedelai, atau sorgum yang mengandung tanin yang tinggi akan dikonsumsi lebih rendah dibandingkan dengan sorgum yang mengandung tanin yang rendah. Pada level tertentu, anti-nutrisi juga akan mengganggu pencernaan dan kesehatan ternak.


Faktor lain yang juga mempengaruhi palatabilitas adalah kontaminasi benda asing. Onggok atau ampas singkong yang dipalsukan dengan pasir laut akan memiliki palatabilitas yang rendah, demikian juga dengan bungkil inti sawit yang banyak mengandung tempurung sawit atau dedak padi yang dicampur sekam, tingkat konsumsi atau palatabilitasnya akan rendah. Perhatikan juga dengan proses penyimpanan, apabila kurang baik sangat mempengaruhi kualitas konsentrat. Penyimpanan yang buruk seperti lembab, kotor, sirkulasi udara kurang baik akan menyebabkan bahan pakan menjadi rusak, berjamur, yang akhirnya mengubah kandungan nutrisinya. Hal ini tentu menurunkan kualitas bahan pakan.


Selain konsentrat, pakan utama yang terpenting untuk ternak ruminansia besar dan kecil adalah hijauan. Hijauan dapat terdiri dari rumput dan legum, baik yang dibudidayakan maupun dari alam. Rumput budidaya memiliki produksi dan kualitas yang relatif baik, dibandingkan hijauan alam yang kualitasnya bervariasi. Kualitas hijauan budidaya tergantung pada beberapa hal, antara lain umur pemanenan, kualitas lahan, varitas, palatabilitas, bulkiness dan laksatif efek.


Untuk mendapatkan performa sapi pedaging yang baik dalam masa pemeliharannya, bahan pakan yang tersedia harus diberikan dengan prinsip formulasi ransum yang benar. Maksudnya adalah teknik meramu atau mengombinasikan beberapa bahan pakan agar mencapai kandungan nutrien sesuai kebutuhan ternak dengan harga ekonomis. Ransum yang baik harus memenuhi seluruh nutrien yang dibutuhkan ternak. Pakan harus menggunakan berbagai bahan pakan, karena tidak ada satupun bahan pakan yang memiliki kandungan nutrien yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ternak. Jadi untuk mencukupi kebutuhan seekor ternak, berbagai bahan pakan harus dikombinasikan. Dan karena tidak ada bahan pakan yang sempurna, maka setiap bahan pakan dalam ransum peran masing-masing. Dengan mengombinasikan dengan bahan lain, maka akan terjadi supplementary effect atau efek saling melengkapi.


Idat Galih menegaskan, ransum yang baik adalah ransum yang seimbang dengan harga yang murah (balance least cost ration), yaitu ransum yang memiliki kandungan nutrien yang cukup, serta menggunakan bahan pakan yang seimbang dengan harga rendah. Untuk menghasilkan ransum yang seimbang dan murah, maka harus menggunakan bahan pakan yang tersedia, berkualitas dan relatif harganya murah. Ransum harus berharga relatif murah karena untuk menghasilkan produk ternak dengan biaya per unit produksi yang murah maka ternak harus diberi pakan yang relatif murah. Namun demikian yang dimaksud dengan murah bukan berarti “murahan”, karena untuk sekadar menyusun ransum dengan harga murah sangat mudah, namun untuk menyusun ransum yang baik dan seimbang serta murah tidak mudah.


Untuk melakukan formulasi ransum, seorang peternak atau ahli nutrisi pakan harus mengetahui beberapa hal, antara lain kebutuhan nutrien ternak, ketersediaan bahan pakan dan komposisi nutriennya, harga bahan pakan tersedia, serta batasan penggunaan bahan pakan. Ada banyak metode dalam menyusun ransum, mulai dari metode sederhana, metode coba-coba sampai dengan menggunakan komputer dengan bantuan software tertentu. Penggunaan sotware pada prinsipnya adalah dengan menggunakan metode linier, yaitu suatu metode optimasi dalam meminisasi harga atau mekasimumkan keuntungan. *** 

Andang S Indartono

Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI)

Agribiz Network

SISTEM PERKANDANGAN DAN PAKAN ITIK

 

 

Ternak itik. (Sumber: Istimewa)

Kandang untuk itik yang dipelihara dengan sistem intensif sangat penting, agar usaha peternakan memberi nilai yang ekonomis.


Dalam pembuatan kandang sebaiknya memperhatikan adanya sinar matahari yang masuk dalam kandang untuk menghindari lantai basah atau lembab demi menjaga kesehatan itik.
Adapun manajemen perkandangan itik dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Terkurung basah: Lahan yang dibutuhkan lebih luas, di dalam kandang harus disediakan kolam.
b. Terkurung kering: Cukup disediakan tempat umbaran dengan air minum harus  adlibitum (cukup sepanjang waktu).
c. Model baterai: Modal lebih tinggi, terutama untuk pembuatan kandang, produksi dan kualitas telur terkontrol. Ukuran kandang setiap unit 45 x 35 x 55 cm.


Berdasarkan lantainya, kandang itik dapat dibedakan menjadi tiga tipe:
a. Kandang litter: Lantai kandang terbuat dari tanah, kandang ini sesuai diterapkan pada tanah pasir atau tanah yang mampu menyerap air, misalnya daerah sekitar pantai. Dinding kandang dibuat rapat setinggi 0,5-1 m dari tanah, bagian atas dapat dibuat dinding berjeruji baik dari bambu ataupun kayu. Kandang diusahakan menghadap ke Timur, agar pada pagi hari mendapat sinar matahari yang cukup. Kapasitas ideal kandang itik adalah 16 m2 untuk 100 ekor itik (4 x 4m). Tinggi kandang minimal 2,5 m dan luas umbaran semakin luas semakin baik. Kandang lantai litter sesuai untuk itik petelur.
b. Kandang lantai slat (panggung): Alas kandang (lantai) dibuat minimal 0,5 m dari tanah, slat dapat menggunakan kayu atau bambu, bagian depan dipasang papan berposisi miring untuk menghubungkan tanah dan lantai kandang. Kandang ini lebih efisien dan sehat, karena kotoran itik lansung jatung ke tanah, akan tetapi memerlukan biaya lebih besar. Kandang lantai slat sesuai untuk itik pedaging.
c. Kombinasi antara litter dan slat, yang sesuai untuk itik pedaging.


Nutrisi Pakan 
Pakan itik diberikan dalam bentuk crumble pada periode awal (starter), biasanya digunakan pakan pabrikan atau complete feed. Pakan yang diberikan pada periode pertumbuhan dan produksi akan lebih efisien dalam bentuk pasta, yaitu pakan kering ditambah dengan air perbandingan 1:1.


Bentuk bill/paruh itik yang lebar menyebabkan banyak pakan tercecer apabila pakan diberikan dalam bentuk kering (tepung). Selain itu, tingkah laku makan itik adalah selalu minum setelah makan.


Kandungan nutrien pakan untuk itik dibedakan berdasarkan periode pemeliharaan atau umur itik seperti disajikan pada Tabel 1 berikut:



Contoh susunan bahan pakan itik bisa dilihat pada Tabel 2 berikut:

 

Tulisan dirangkum berdasarkan materi Prof Dr Ismoyowati SPt MP,

Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Agribiz Network

KEMENTAN: EKSPOR PAKAN TERNAK KE TIMOR LESTE MENINGKAT

 

 

Seremonial pemotongan pita pelepasan ekspor pakan unggas PT Sinar Indochem (Foto: Humas Kementan)
Direktur Pakan, Sri Widayati hadir
dalam pelepasan ekspor perdana pakan unggas produk PT Sinar Indochem sebanyak 200 ton
pakan layer ke Negara Timor Leste dari total 300 ton.
“Ekspor pakan ternak ke Timor
Leste meningkat, dari sebelumnya pada tahun 2018 sebesar 4,33 ribu ton atau
senilai USD 0,785 juta menjadi sebesar 3,2 8 ribu ton atau senilai USD 1,087
juta hanya untuk semester pertama tahun 2019 (Januari-Juli 2019) saja. Ekspor
pakan ternak tahun 2019 ini telah melebihi pencapaian volume ekspor tahun
sebelumnya,” terang Sri Widayati, Senin (30/9) di Sidoarjo, Jawa Timur.  
Sri Widayati menegaskan bahwa pemerintah
akan terus mengawal dalam pengurusan proses persetujuan ekspor secara Government to Government dengan
negara-negara yang menjadi target ekspor. “Persetujuan ekspor pakan ke negara
Timor Leste tersebut dilakukan setelah sebelumnya diadakan Import Risk Analysis oleh Tim Delegasi Republik Demokratik Timor
Leste pada tanggal 26–28 Agustus 2019, yang difasilitasi oleh Kementerian
Pertanian,” ungkapnya.
Menurut Sri Widayati, saat ini
jumlah pabrik pakan skala besar di Indonesia mencapai 87 pabrik dengan produksi
pakan tahun 2018 sebesar 19,4 juta ton dan rencana produksi pakan tahun 2019
akan mencapai sebesar 20,5 Juta ton atau meningkat sebesar 6% dari tahun 2018.
“Sampai saat ini jumlah pabrik pakan yang telah mendapatkan sertifikat Cara
Pembuatan Pakan yang Baik (CPPB) dari Kementerian Pertanian sebanyak 70% dari
total 87 pabrik pakan yang ada, dimana salah satunya PT. Sinar Indochem,
sedangkan sisanya dalam proses audit” jelasnya.
Lanjut Sri Widayati menjelaskan
bahwa dalam rangka mewujudkan jaminan mutu dan keamanan pakan, maka setiap
tahun terus dilakukan audit CPPB terhadap pabrik pakan yang baru maupun yang
melakukan perpanjangan sertifikat CPPB. Sertifikat ini merupakan upaya
penjaminan pemerintah, sekaligus nilai tambah bagi perusahaan dan memberikan
kemudahan dalam akses untuk ekspor. Berdasarkan data BPS dan Pusat Data
Kementerian Pertanian, total ekspor komoditas peternakan ke Negara Timor Leste
tahun 2018 senilai USD 9,53 juta sedangkan data tahun 2019 bulan Januari sampai
dengan Juli tercatat senilai USD 6,27 juta.
Pada acara tersebut hadir juga Bupati
Kabupaten Sidoarjo Saiful Ilah, yang turut mengapresiasi bertambahnya pelaku ekspor
pakan ternak di tengah ketatnya persaingan merebut pasar global. Dia menegaskan,
bahwa pihaknya berkomitmen dalam mempermudah perijinan usaha untuk mendukung
berkembangnya perekonomian, serta mendorong ekspor produk dari wilayahnya.
Dukungan senada juga disampaikan
oleh Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Wemmi Niamawati yang
menyampaikan bahwa Provinsi Jatim memiliki 24 unit feedmill dengan total kapasitas 5,7 juta ton per tahun. Saat ini
kapasitas tersebut baru berproduksi 4 juta ton per tahun. Artinya Provinsi Jawa
Timur masih mampu meningkatkan produksi pakan. Disamping itu Provinsi Jawa
Timur juga memiliki 43 unit breeding farm
unggas yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur
berkomitmen dalam pengawasan mutu pakan yang berkualitas tinggi. Hal ini
terbukti dengan pemanfaatan alokasi APBN, APBD maupun Dana Alokasi Khusus (DAK)
untuk melaksanakan peningkatan mutu dan pengawasan keamanan pakan ternak di Provinsi
Jawa Timur”, imbuhnya.
Menutup sambutannya, Sri Widayati
berpesan bahwa dengan mulai terbukanya akses pasar, diharapkan semua pelaku
usaha dapat terus meningkatkan kuantitas maupun kualitas produk siap ekspor.
“Saya sangat berharap
produk-produk peternakan Indonesia lebih mampu bersaing di jalur perdagangan
internasional. Hal ini kiranya sekaligus dapat memotivasi para pelaku usaha
lain untuk tetap berupaya melalukan percepatan ekspor komoditas peternakan melalui
peningkatan kualitas produksi dan promosi ke negara lain,” pungkasnya.
(Rilis/INF)

 

Agribiz Network

PENERAPAN META ANALISIS DI INDUSTRI PAKAN

Efisiensi pakan ternak bisa ditingkatkan dengan memanfaatkan metode meta analisis. (Sumber: Istimewa)

Pakan memberikan kontribusi yang dominan dalam sistem produksi ternak. Setiap langkah efisiensi yang bisa dilakukan dalam pemberian pakan, akan berdampak nyata bagi tingkat keuntungan produksi ternak yang dihasilkan. Meta Analisis yang dilakukan para ahli nutrisi bisa menjadi jawaban untuk mengawali upaya efisiensi pakan.


Meta analisis adalah suatu sintesis ilmu pengetahuan muncul dari bidang psikologi dan banyak digunakan di bidang kedokteran. Makin banyaknya data yang tersedia terkadang tidak mampu digunakan secara optimal untuk proses pengambilan keputusan. Jika mengambil kesimpulan dari eksperimen tunggal dengan data statistika yang lemah membuat rekomendasinya tidak maksimal dan tidak kuat. Oleh karena itu, perlu adanya solusi. Metode meta analisis menjadi solusi untuk memanfaatkan data yang tersedia, sehingga kesimpulan yang diperoleh lebih kuat secara teoritis dan perhitungan statistik.


Meta analisis banyak digunakan di bidang kedokteran, terutama untuk pengujian obat-obat baru. Eksperimen bisa menghasilkan data yang beragam jika berbeda tempat, waktu dan metode eksperimen, sehingga untuk menghasilkan kesimpulan yang akurat perlu adanya analisis big data tersebut. Meta analisis dapat digunakan dalam eksperimen saintis dan sosial. Meta analisis mampu mengintegrasikan data yang telah dilakukan eksperimen sebelumnya dan digabungkan dengan teori yang ada untuk memberikan referensi kepada masyarakat secara umum. Adanya revolusi industri 4.0 dan adanya big data dengan kecepatan data digunakan untuk prediksi masa depan. Melalui simulasi perlu adanya sistem pengambilan keputusan. 


Konsep meta analisis dibangun dari berbagai eksperimen kemudian menghasilkan banyak data dan ditarik kesimpulan. Ada beberapa metode pengolah data untuk menghasilkan kesimpulan. Eksperimen tunggal dengan data yang sedikit akan menghasilkan kesimpulan yang lemah, oleh karena itu diperlukan berbagai eksperimen untuk menghasilkan kesimpilan dan referensi yang kuat. 


Hal yang harus dilakukan pada saat melakukan meta analisis antara lain harus mengetahui tujuan secara spesifik. Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan (DPP AINI) Dr Anuraga Jayanegara, dalam sebuah seminar teknis tentang meta analisis di Surabaya, Juli 2019, mengemukakan contoh suatu industri mengembangkan feed additive maka hasilnya harus spesifik untuk ternak apa, dosis yang dianjurkan, cara pemberian dan tentu saja hasil yang spesifik ini tidak dapat dihasilkan melalui eksperimen tunggal. Langkah selanjutnya yaitu koleksi data dari berbagai eksperimen dan teori yang ada. Data dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti percobaan (trial), jurnal, sejarah produk suatu industri yang selanjutnya dievaluasi. Kualitas data semakin baikjika data semakin lengkap.


Data harus memiliki range, misalnya penggunaan metionin harus ada batas maksimum dan minimumnya, serta memiliki ambang normal. Langkah terakhir yaitu melakukan public presentation, dapat berupa penulisan pada jurnal maupun sebagai pembicara dalam sebuah konferensi mengenai pakan.


Gabungan Beberapa Data
Pada prinsipnya, meta analisis yang menggabungkan beberapa data eksperimen memiliki tiga macam metode, yaitu Hedges’d, respon rasio dan anova (original data). Metode Hedges’d biasanya digunakan secara umum, sedangkan metode respon rasio banyak digunakan di bidang kedokteran terutama untuk penemuan obat baru. Adapun metode anova, adalah metode yang paling sering digunakan di bidang peternakan. Metode anova yang digunakan yaitu mix model methology, random effect dan fixed effect. Contohnya, penelitian kandungan serat pakan dan kaitannya dengan aktivitas mengunyah pada sapi perah. Ada banyak data dari berbagai eksperimen yang bisa dijadikan bahan untuk analisis hal tersebut. Hasilnya beragam, ada yang naik, ada yang turun, adapula yang datar. Langkah selanjutnya adalah dimasukkan ke mix model, sehingga akan menghasilkan adjudgment. Tentu akan ada eror hasil dan yang berbeda-beda. Mix model membuat eror hasil yang berbeda-beda itu menjadi sama, sehingga menghasilkan hubungan antara kandungan serat pakan dan aktivitas mengunyah pada sapi perah, yang kemudian dari situ bisa ditarik kesimpulan dan rekomendasi.


Aplikasi meta analisis yang telah diterapkan di Indonesia misalnya adalah penggunaan bahan pakan berupa protein kasar pada kambing dan domba, sehingga masyarakat dapat mengetahui perbedaan penggunaan nutrient pakan pada domba ekor gemuk dan domba garut. Hal tersebut dapat membantu mengefisiensikan pemberian pakan.


Meta analisis juga bisa dimanfaatkan untuk menetapkan suatu standar pakan untuk komoditas ternak tertentu, dengan berbasis data berbagai hasil penelitian yang telah banyak dilakukan. Misalnya meta analisis diarahkan untuk menentukan dosis optimum suatu feed additive atau feed supplement. Perbandingan efektivitas pada feed additive dan feed supplement sejenis juga bisa dilakukan, sehingga acuan standar penerapan penggunaan feed additive/feed supplement benar-benar sesuai kebutuhan jenis ternak, umur dan habitatnya. Dengan demikian, meta analisis dapat dimanfaatkan untuk menentukan feeding standard atau kebutuhan nutrisi pakan suatu spesies atau bahkan strain ternak tertentu pada kondisi iklim tropis di Indonesia.


Kelebihan dari penerapan meta analisis ini adalah biayanya relatif kecil, karena hanya perlu memasukkan data berbagai eksperimen yang tersedia, kemudian data dianalisis oleh aplikasi yang digunakan, misalnya dengan metode anova. Hasil yang di keluarkan dapat menjadi referensi masyarakat secara umum dalam pemberian pakan bagi ternaknya. Namun ada juga kelemahan dari meta analisis ini, yakni memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan analisis data yang sangat banyak dalam bentuk big data. Untuk mewujudkan itu, perlu adanya langkah kolaboratif para peneliti di bidang pakan, sehingga manfaat meta analisis ini dapat terwujud secara nyata, antara lain dengan pembuatan standar baku pakan nasional untuk setiap jenis ternak tertentu yang berbeda dengan standar untuk jenis ternak bahkan spesies ternak lain. ***

Andang S. Indartono

Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI)

Agribiz Network

JAPFA COMFEED TARGETKAN EKSPOR PAKAN TERNAK 1.000 TON KE TIMOR LESTE

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (Foto: Istimewa) 
Emiten perunggasan PT Japfa
Comfeed Indonesia Tbk. (JAPFA) melakukan ekspor perdana produk pakan ternak ke
Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) sebanyak 40 ton.
Rachmat Indrajaya, Direktur
Corporate Affairs Japfa Comfeed Indonesia, mengatakan perseroan menargetkan
volume ekspor pakan ternak ke Timor Leste bisa mencapai 1.000 ton sampai akhir
tahun ini. Produk pakan ternak Japfa dipesan oleh perusahaan peternakan Happy
Farm.
 “Pelepasan ekspor pakan ternak perdana ini
merupakan bentuk perluasan pasar Japfa ke pasar internasional, sesuai dengan
komitmen Japfa untuk mendukung pemerintah dalam upaya mendongkrak pendapatan
devisa negara melalui akselerasi volume komoditi ekspor,” katanya dalam
keterangan resmi, Jumat (13/9/2019).
Rachmat menambahkan ekspor pakan
ternak ini menjadi bentuk pecapaian dan pengakuan standar kualitas dan mutu
pakan ternak Japfa. Pasalnya, untuk dapat menjadi pengekspor pakan ternak harus
melewati serangkaian uji teknis dan klinis bersertifikasi internasional.
Selain pakan ternak, JAPFA pun
akan mengekspor day old chicken (DOC) broiler dan
layer, karkas ayam broiler, dan produk olahan.
Rachmat menegaskan emiten berkode
saham JAPFA itu akan terus menjaga kualitas semua produknya guna dapat terus
bersaing dalam pasar internasional.
Pada semester I/2019, JAPFA
mencatatkan pendapatan sebesar Rp18,24 triliun tumbuh 9,22% secara tahunan dari
posisi sebelumnya Rp16,70 triliun. Segmen peternakan tercatat sebagai
kontributor utama dengan raihan Rp7,16 triliun naik tipis yakni 0,56% dari
posisi sebelumnya Rp7,12 triliun.

Posisi kedua ditempati segmen
pakan ternak Rp6,93 triliun tumbuh 19,11% dari periode yang sama tahun lalu
Rp5,86 triliun. Ada segmen DOC sebesar Rp1,65 triliun yang naik 14,5% dari
posisi tahun lalu Rp1,44 triliun. (Sumber: market.bisnis.com) 

Agribiz Network

PT CARGILL INDONESIA LUNCURKAN PAKAN BEBAS ANTIBIOTIK

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : [email protected]
Pemasaran : [email protected]

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: [email protected]

Agribiz Network

MEMBEBASKAN PAKAN DARI ANCAMAN TOKSIN

Jagung sebagai bahan baku pakan rentan tercemar mikotoksin. (Foto: Infovet/Ridwan)

Toksin, atau lazim disebut dengan mikotoksin dalam dunia peternakan. Permasalahan klasik yang kerap kali mengintai semua unit usaha yang bergerak di bidang perunggasan dari hulu maupun hilir.

Toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh makhluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan). 

Dalam industri pakan ternak seringkali didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh cendawan/kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini tetapi juga di seluruh dunia.

Mikotoksin selalu Menjadi Momok
Dalam dunia peternakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang menjadi tokoh “protagonis”, ketujuhnya seringkali mengontaminasi pakan dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel. Peternak pun dibuat kerepotan oleh ulah mereka. Adapun jenis toksin yang penting untuk diketahui diantaranya, Aflatoksin, Ochratoksin, Fumonisin, Zearalenon, Ergot Alkaloid, Deoxynivalenol (DON)/Vomitoksin dan T-2 Toksin.

Menurut Managing Director Biomin Indonesia, Drh Rochmiyati Setiarsih, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tutur wanita yang akrab disapa Yati tersebut.

Di Indonesia kebanyakan petani jagung hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya, dengan bantuan sinar matahari/manual biasanya petani menjemur jagung hasil panennya. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan), sinar matahari tentu tidak bisa diandalkan. “Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” katanya.

Masih masalah iklim menurut Yati, Indonesia yang beriklim tropis merupakan wadah alamiah bagi mikroba termasuk kapang dalam berkembang biak. “Penyimpanan juga harus diperhatikan, salah dalam menyimpan jagung artinya… (CR)


Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2019.

Agribiz Network

PERAN MYCOTOXIN BINDER UNTUK PAKAN UNGGAS SEHAT PRODUKTIF

Mikotoksin dapat menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan. (Foto: Dok. Infovet)

Pakan memiliki peranan penting dan strategis dalam bisnis peternakan termasuk dalam usaha peternakan unggas, sebab menyangkut kebutuhannya sebagai penunjang hidup pokok, pengganti sel dan pembentuk produk akhir (daging dan telur). Kebutuhan biaya pakan dalam budidaya unggas pun adalah yang paling besar, yakni mencapai 70%. Oleh karena itu diperlukan kualitas dan kuantitas pakan yang sangat baik, agar meraih hasil produksi yang optimal dan menguntungkan. Apabila pakan yang diberikan buruk, seperti tercemar jamur dan toksinnya, sudah pasti mengancam kualitasnya dan merugikan ternak serta peternaknya.

Seperti halnya Mikotoksikosis, penyakit keracunan yang disebabkan oleh mikotoksin, yaitu metabolit sekunder hasil metabolisme jamur yang tumbuh pada pakan unggas. Ada 300 jenis mikotoksin, namun yang banyak menyerang unggas dan berbahaya adalah aflatoksin, T-2 toksin, DON, zearalenon, fumonisin dan okratoksin, dimana bermacam jenis mikotoksin tersebut biasa ditemukan dalam bahan baku pakan (jagung, bekatul, kedelai) dengan jumlah/konsentrasi yang bervariasi. Di wilayah ASEAN, Indonesia yang beriklim tropis menduduki peringkat tertinggi dalam hal pencemaran mikotoksin pada biji-bijian.

Jamur mudah tumbuh dimana saja, misal di tanah, materi organik yang membusuk dan jenis biji-bijian. Pada tanaman biji-bijian, kontaminasi jamur dapat terjadi selama penanaman, saat panen, selama tranportasi dan saat penyimpanan, dimana bahan baku pakan dengan kadar air lebih dari 14% yang disimpan pada suhu 10-42°C dengan kelembaban lebih dari 70% akan akan sangat mudah terkontaminasi jamur yang memicu produksi mikotoksin. Mikotoksin merupakan bahan kimia yang bersifat stabil dan mampu bertahan dalam jangka waktu lama, walaupun media yang menghasilkannya telah mati. Umumnya dijumpai dua atau lebih jenis mikotoksin pada satu jenis biji-bijian yang dipakai sebagai bahan baku pakan unggas dan menimbulkan efek toksik yang sangat berat.

Serangan mikotoksin pada unggas dipengaruhi berbagai faktor, antara lain jenis kelamin, umur, kondisi fisik, status nutrisi, kadar dan jenis mikotoksin, konsumsi pakan, lama serangan, manajemen peternakan dan infeksi penyakit lainnya. Pada ayam biasanya menderita penyakit ringan dan tidak spesifik, namun mikotoksikosis bersifat imunosupresif, disamping dapat memicu terjadinya berbagai penyakit.

Berdasarkan perjalanan penyakitnya, mikotoksikosis dibedakan menjadi dua,  mikotoksikosis akut dan mikotoksikosis kronis. Mikotoksikosis akut dimana kejadiannya cepat, fatal dan menimbulkan kerugian ekonomi besar yang akan mengganggu metabolisme lemak, sehingga terjadi timbunan lemak di hati (fatty liver syndrome). Sedangkan mikotoksikosis kronis, kejadiannya berlangsung lama dengan tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortalitas) rendah. Serangan mikotoksin dapat menurunkan ketersediaan… (SA)


Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2019.

Agribiz Network

KEMENTAN GENCARKAN UPSUS JAGUNG UNTUK KEBUTUHAN PAKAN

Ilustrasi jagung dan ayam (Foto: Pixabay)
Kementerian Pertanian (Kementan)
melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) terus
meningkatkan produksi ayam potong untuk mendukung akselerasi ekspor dan
ketahanan nasional. Salah satu upayanya dengan menggencarkan program upaya
khusus (Upsus) Jagung untuk kebutuhan pakan ternak.
Terkait hal ini peternak mandiri
ayam broiler asal Cianjur, Jawa Barat, Andi Sugimin mengaku merasakan betul
upaya pemerintah dalam penyediaan dan bantuan pakan ternak. Khusus untuk
bantuan, Andi menyebutnya sebagai bukti hadirnya pemerintah saat petani menghadapi
kesulitan.
Menurut Andi, salah satu
kehadiran pemerintah yang sangat dirasakan peternak adalah bantuan jagung
selama musim paceklik beberapa bulan lalu. Bantuan itu, kata dia, merupakan
suplemen bagi peternak untuk menjaga semangat produksi. 
“Peternak kecil bisa jadi
gulung tikar jika saat itu kondisi jagung tetap langka. Tapi kita berterima kasih
pada pemerintah atas bantuan penyediaan jagung, sehingga kami bisa melanjutkan
produksi. Semoga ke depan bantuan jagung terus bertambah,” katanya.
Andi berharap pemerintah
membatasi perijinan kuota perusahaan asing yang dinilai tidak seimbang baik
dari sisi permodalan maupun alat yang digunakan. Menurutnya dalam hal ini
pemerintah harus berani menolak ijin usaha tersebut, sembari mengucurkan
bantuan yang ada untuk peternak kecil. (Sumber: wartaekonomi.co.id)

Agribiz Network

HEMAT BIAYA PAKAN ALA FARMA SEVAKA NUSANTARA

Tidak
bisa dipungkiri bahwa dalam usaha peternakan, pakan merupakan komponen
penyumbang biaya tertinggi. Oleh karenanya dibutuhkan berbagai macam trik dalam
mengakali biaya pakan agar lebih efisien.

PT
Farma Sevaka Nusantara merasa terpanggil untuk membantu peternak dan produsen
pakan dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Bertempat di Hotel Harris
Surabaya, Selasa 2 Juli 2019 PT Farma Sevaka Nusantara mengadakan seminar yang
bertajuk Optimization of Nutrient Digestibility & Feed Mixing Cost by Novel
Enzymes. Seminar tersebut dihadiri oleh peternak, produsen pakan dan praktisi
perunggasan.
Drh
I Wayan Wiryawan selaku Direktur PT Farma Sevaka Nusantara mengingatkan akan
pentingnya kualitas pakan dalam menunjang performa ternak. “Kita harus
memberikan pakan yang berkualitas dan harus bisa terserap sepenuhnya oleh
ternak kita dengan biaya yang murah. Bicara nutrisi bukan melulu soal kadar
protein, tetapi juga kandungan gizi lainnya,” tukas Wayan. Ia melanjutkan bahwa
jika ternak tercukupi kebutuhan nutrisinya, maka selain performanya akan baik
produksi akan maksimal pula. Oleh karenanya ia bersama timnya concern untuk memberikan edukasi
berkelanjutan utamanya pada peternak akan hal ini.
Peserta dan Narasumber berfoto bersama (Foto : CR)
Pentingnya Suplementasi Enzim
Seminar
kemudian diisi oleh Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc Ketua Umum Asosiasi Ahli
Nutrisi dan Pakan Indonesia. Dalam presentasinya Prof. Nahrowi banyak
menjelaskan mengenai zat – zat antinutrisi serta potensi bahan baku pakan yang tidak
termanfaatkan dengan baik dalam suatu formulasi ransum.
Oleh
karenanya beliau mengingatkan kepada para peserta tentang pentingnya penggunaan
enzim secara ekosgen dalam memecah substrat yang tidak dapat dicerna oleh
ternak, utamanya monogastrik. Beliau juga berbicara banyak mengenai potensi
bahan baku alternatif seperti Palm Kernel
Meal
(PKM). “Saya sedang fokus di PKM,
karena Negara kita penghasil sawit terbesar, potensinya sangat baik sebagai
bahan baku alternatif dan jumlahnya yang banyak di Negara kita, harganya pun
murah,” kata Prof. Nahrowi. Namun menurut beliau memang dibutuhkan trik khusus
dalam mengloah PKM agar dapat termanfaatkan dengan baik secara menyeluruh.
Suplementasi enzim yang tepat akan menghasilkan ransum yang
berkualitas baik dengan energi metabolism yang mencukupi bagi ternak. Dengan
kecenderungan kenaikan harga bahan baku pakan disertai dengan menurunnya
kualitas bahan pakan, rasanya menggunakan enzim untuk meningkatkan kualitas
serta mengefisienkan formulasi di masa kini adalah suatu keharusan.
Dr.
Saurabh Agarwal dari Alivira Animal Health menjabarkan lebih jauh mengenai
prinsip penggunaan enzim, fungsi – fungsi enzim, serta tips dalam memilih
enzim. “Pemilihan enzim yang tepat ini penting, karena enzim harus digunakan
pada substrat yang tepat. Enzim juga harus tahan pada segala kondisi pH dan
tidak gampang terdegradasi oleh suhu pelleting,”
pungkasnya.
Dengan
memanfaatkan enzim sebagai katalisator dalam suatu ransum, harapannya produsen
pakan dan peternak selfmixing dapat
membuat pakan dengan kualtas yang prima namun harganya murah dan tetap efisien.
(CR)

Agribiz Network

MENJAGA MUTU BAHAN PAKAN TERNAK

Bahan pakan ternak wajib dijaga agar kualitasnya terjamin dan tidak membahayakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Bahan pakan ternak di Indonesia sebagian besar masih berkualitas rendah dan sangat bervariasi. Hal itu disebabkan karena adanya pengolahan yang tidak benar, serta pemalsuan. Kenyataan ini sangat memengaruhi kualitas ransum yang dihasilkan.


Dalam memproduksi pakan, produsen wajib menghasilkan dan mempertahankan kualitas ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak dan sesuai dengan yang tercantum dalam label pakan. Produsen juga harus menjaga agar ransum yang dihasilkan tidak membahayakan kesehatan ternak dan manusia sebagai konsumen produk  peternakan, serta menjamin bahwa semua bahan baku telah memenuhi standar kualita, dan tidak terdapat benda asing pada bahan baku atau ransum.


Untuk menjamin mutu pakan yang dihasilkan tersebut, maka dapat dilakukan dengan pengawasan mutu (quality control) pada tiap tahap proses produksi. Pengawasan mutu dilakukan pada setiap aktivitas dalam memproduksi pakan, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan, penyimpanan dan pengiriman.


Bahan baku yang digunakan sebagai input dalam industri pakan ternak diperoleh dari berbagai sumber dan mempunyai kualitas yang bervariasi. Penyebab beragamnya mutu bahan baku umumnya dikarenakan variasi alami (natural variation), pengolahan (processing), pencampuran (adulteration) dan penurunan kualitas (damaging and deterioration).


Itulah sebabnya mengapa secara berkala bahan baku pakan harus perlu dievaluasi, setidaknya dilakukan empat jenis evaluasi, yakni evaluasi fisik, biologi, kimia dan mikrobiologi:


1. Evaluasi fisik, pengujian bahan pakan secara fisik merupakan analisis pakan dengan cara melihat kondisi fisik bahan baku pakan. Pengujian secara fisik bahan pakan dapat dilakukan baik secara langsung (makroskopis) maupun dengan alat bantu (mikroskopis). Pengujian secara fisik, disamping dilakukan untuk mengenali bahan pakan secara fisik, juga berguna untuk mengevaluasi bahan pakan secara kualitatif. Namun, sebenarnya analisis secara fisik saja tidak cukup, karena adanya variasi antara bahan, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut, seperti analisis secara kimia, biologis atau kombinasi keduanya.


2. Evaluasi biologis, tujuan evaluasi bahan pakan secara biologis untuk mengetahui kecernaannya. Pengujian biologis sangat penting terutama untuk mengetahui nilai konversi pakan (FCR/feed conversion ratio). Namun demikian, nilai tersebut sebenarnya tidak merupakan angka mutlak, karena FCR tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi juga dipengaruhi faktor-faktor lain, diantaranya jenis ternak, umur ternak dan lain sebagainya. Semakin kecil nilai konversi pakan, berarti semakin baik kualitas pakan, karena akan semakin ekonomis. Untuk mengetahui nilai konversi pakan, perlu dilakukan pengujian lapangan dalam berbagai percobaan.


3. Evaluasi kimia, dimaksudkan untuk mengetahui persentase kandungan suatu zat yang terdapat pada suatu bahan pakan. Dari evaluasi itu, dapat diketahui kandungan gizi dari bahan pakan tersebut, misalnya kadar protein, lemak, karbohidrat, abu, serat dan kadar air. Hasil evaluasi kimia dapat dijadikan acuan untuk menentukan formulasi ransum, yaitu seberapa banyak bahan baku pakan tersebut akan digunakan dalam campuran formulasi ransum.


4. Evaluasi mikrobiologi, dalam uji mikrobiologi, sebuah mikroorganisme dipilih yang dikenal untuk menentukan nutrient yang ada. Jika nutrien yang akan diuji tidak ada, maka mikroorganisme yang dipilih tidak akan tumbuh.


Begitulah penjelasan mengapa perlunya bahan baku pakan melalui empat tahap evaluasi, agar aman dan terjamin kualitasnya.


Kemudian, pengolahan bahan baku yang tidak benar juga dapat menyebabkan kandungan zat pakan menjadi berubah. Bahan baku pakan yang terkontaminasi atau sengaja dicampur dengan benda-benda asing, dapat menurunkan kualitasnya, sehingga perlu dilakukan pengujian secara fisik untuk menentukan kemurniannya.


Penurunan kualitas bahan baku pakan dapat terjadi karena penanganan, pengolahan atau  penyimpanan yang kurang tepat. Penanganan bahan baku yang tidak benar dapat menyebabkan kerusakan sebagai akibat adanya serangan jamur (karena kadar air tinggi), ketengikan (bau) dan serangan serangga.




Ransum Berkualitas Baik
Menurut Ketua Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI), Prof Nahrowi, ciri ransum yang baik harus memenuhi beberapa hal, diantaranya ransum harus seimbang, yakni mempunyai semua nutrien dalam jumlah yang benar sesuai kebutuhan ternak. Pembuatan ransum juga harus memerhatikan aspek lingkungan kandang, seperti suhu dan kelembaban lingkungan. Kemudian, ransum juga semestinya yang palatable atau disukai ternak, serta harga yang bersaing. Selain itu, ransum yang baik juga ditandai dengan pencampuran bahan bakunya yang merata, baik dari bahan micronutrients maupun feed additives-nya, serta tidak mengandung unsur berbahaya bagi ternak.


Untuk meminimalkan variasi kualitas ransum yang dihasilkan, AINI menyarankan beberapa langkah, diantaranya:
• Mengetahui asal-usul bahan pakan yang akan digunakan.
• Melakukan uji fisik dan kimia terhadap bahan pakan sebelum formulasi ransum.
• Penanganan yang baik untuk bahan pakan yang akan disimpan.
• Meminimalisasi kesalahan selama proses pembuatan pakan, termasuk saat proses pencampuran.
• Menerapkan SOP terhadap pembelian, penerimaan, pengolahan dan pengiriman pakan.


Agar tidak terjadi variasi kualitas ransum yang terlalu berlebihan, maka sebaiknya dalam pengadaan bahan baku pakan dilakukan secara terorganisir, misalnya dengan satu organisasi khusus atau koperasi. Langkah lainnya adalah dengan melakukan prosedur standar sampling dan inspeksi sebagai upaya meminimalisir variasi bahan pakan. ***

Andang S. Indartono

Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi

dan Pakan Indonesia (AINI)

Agribiz Network