PENUHI KEBUTUHAN SUSU NASIONAL, FRISIAN FLAG GANDENG PETERNAK SAPI LOKAL

 

 
Milking Parlour System dengan mesin modern di Dairy Village, Subang (Foto: Istimewa)

 

             

 

PT Frisian Flag Indonesia (FFI) menggandeng kemitraan dengan peternak sapi perah lokal untuk membeli susu mereka. Produksi susu lokal diklaim baru bisa memenuhi 19 persen dari kebutuhan konsumsi susu nasional.
 
Dalam bincang-bincang Bewara bersama para peternak sapi perah di Tulungagung, Jumat malam, 18 Oktober 2019 lalu, Fresh Milk Relationship Manager Frisian Flag Indonesia Efi Lutfillah mengatakan konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini sebesar 16,5 kilogram per orang per tahun. Sementara produksi lokal baru mencapai 864,6 ribu ton atau sekitar 19 persen dari kebutuhan nasional sebanyak 4,5 juta ton.
 
“Artinya kebutuhan susu untuk konsumsi nasional masih cukup tinggi. Ini pasar yang jelas bagi peternak sapi perah kita untuk bermain di sana,” kata Efi.
 
Tingginya kebutuhan susu nasional ini, menurut Efi Lutfillah, tak akan bisa dipenuhi perusahaan susu seperti Frisian Flag tanpa dukungan dari peternak sapi perah Indonesia. Hal ini pula yang mendorong FFI membangun kemitraan dengan koperasi peternak sapi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur.
 
Tak hanya menerima produksi susu peternak, FFI memberikan pendampingan mulai hulu hingga hilir untuk menggenjot produktivitas peternak. Melalui program edukasi Bewara, FFI mengembangkan pengetahuan dan kemampuan peternak agar mampu bekerjasama dalam kelompok.
 
Di Kabupaten Tulungagung, FFI sukses menggandeng kemitraan dengan Koperasi Bangun Lestari. Koperasi ini memiliki keanggotaan yang cukup luas meliputi Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan Ponorogo, dengan kapasitas produksi 50.000 liter per hari. Sedikitnya terdapat 1.000 peternak dengan 5.000 ekor sapi yang dikelola anggota koperasi ini.
 
“Kami sangat diuntungkan dengan kerjasama ini,” kata Nurdin Afandi, Sekretaris Koperasi Bangun Lestari.
 
Selain pendampingan manajemen kandang, para peternak juga mendapat kepastian harga dari FFI. Negosiasi soal harga dengan FFI juga lebih egaliter dibanding perusahaan susu lain. FFI juga telah mengirimkan salah satu peternak Tulungagung ke Belanda untuk melihat langsung peteranakan sapi di sana.
 
Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Epi Taufik mengatakan pengetahuan dan pemahaman para peternak sapi perah lokal masih harus diperbarui. Banyak sekali kesalahan dalam manajemen kandang, pemberian pakan, hingga teknik memerah yang merugikan peternak. “Selain kualitas susunya buruk, produktivitas sapi juga turun,” kata Epi.
 
Dia berharap program kemitraan yang dibangun FFI dengan Koperasi Bangun Lestari ini bisa memacu produksi susu lokal, serta mengurangi ketergantungan pada produk impor. (Sumber: bisnis.tempo.co).

Agribiz Network

DEMONSTRASI PETERNAK DI KEMENTAN HASILKAN BEBERAPA KESEPAKATAN

 

Aksi demonstrasi kembali terjadi di Ibukota, kali ini bukan di Gedung DPR/MPR melainkan di Kementerian Pertanian, Jl. Harsono RM, Ragunan. Rabu (26/9), sekitar 700-an peternak yang mengatasnamakan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) menyambangi kantor Menteri Pertanian.
 
Seruan yang digaungkan masih seputar kondisi harga ayam yang anjlok di bawah HPP beberapa bulan belakangan ini. “Kami peternak rakyat mandiri menyampaikan tuntutan dan aspirasi kami kepada pemerintah dan pihak terkait dalam menstabilkan harga ayam hidup dan penegakan regulasi,” ujar Pardjuni, orator  aksi.
 
Ia juga mengatakan bahwa sebelumnya GOPAN juga sudah beberapa kali melakukan pertemuan dan berdiskusi dengan pihak terkait yang membidangi urusan ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementan, hingga Perum Bulog. Namun, pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil yang nyata, alias nihil. “Sudah berapa kali kami rapat, hasilnya nol besar,” pungkasnya.
 
700-an orang peternak datangi Kementan menuntut stabilisasi harga ayam. (Foto: Infovet/CR)

Diajak Berdialog
Menanggapi aksi tersebut, Kementerian Pertanian dengan cepat mengajak peternak untuk masuk dan melakukan dialog. Dalam dialog tersebut, peternak, Kementan dan perwakilan perusahaan berdiskusi satu meja. Ada beberapa poin penting tuntutan peternak kepada pemerintah dan integrator selain menstabilkan harga jual ayam hidup, diantaranya :
1. Perusahaan integrasi dan afiliasinya tidak menjual ayam hidup ke pasar becek.
2. Perusahaan integrasi diharapkan memotong seluruh ayam produksinya di Rumah Potong Ayam (RPA) dan menjual ke pasar modern.
3. Perusahaan dan peternak yang memiliki populasi ayam masuk atau chick in 300 ribu per minggu, wajib memiliki RPA dengan kapasitas potong minimal 50% dari produksi.
4. Perusahaan integrasi harus mengembangkan pasar ekspor.
5. Perusahaan terintegrasi menurunkan harga DOC dan pakan, serta menjual minimal 60% DOC pada peternak mandiri dan menghentikan sistem kawin pakan-DOC bagi peternak mandiri.
6. Meminta pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden untuk penataan iklim usaha perunggasan nasional yang berkeadilan dan melindungi peternak unggas rakyat mandiri. (Sesuai UU 18 tahun 2009 jo UU 41 tahun 2014 pasal 33).
Diskusi sempat berlangsung alot antara peternak, perusahaan integrator dan pemerintah. Sampai-sampai menteri pertanian, Amran Sulaiman, mengambil alih diskusi sebagai moderator. Amran pun geram dengan suasana diskusi tersebut, ia mengancam para integrator yang tidak mau menyetujui tuntutan peternak agar dicabut izin impor GPS-nya.
 
“Para direktur, tolong catat ini perusahaan-perusahaan yang tidak mau sepakat, kalau perlu dicabut izin impornya, biar sekalian kalau mau dibikin ribut yang besar, jangan tanggung-tanggung,” kata Amran.
 
Tensi mulai mereda ketika kesepakatan yang dicapai dalam diskusi tersebut. Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, menyatakan permintaan maafnya kepada semua unsur yang hadir.

“Saya minta maaf kepada semua, utamanya peternak dan Bapak menteri, karena ketidakmampuan saya dalam mengurus ini, sehingga semua jadi ricuh begini. Saya juga sebenarnya tidak ingin ada yang dirugikan baik integrator maupun peternak, kita harus hidup berdampingan dan seirama, sekali lagi saya mohon maaf bila ada yang merasa dirugikan,” tuturnya.
 
Sementara itu, sikap dingin perwakilan integrator terlihat ketika Infovet hendak meminta tanggapannya terkait kesepakatan yang dibuat.

Kendati demikian, para integrator yang hadir, diantaranya Japfa, Charoen Pokphand, Panca Patriot, Sumber Unggas Jaya dan beberapa perusahaan lainnya, sepakat mengikuti aturan dan tuntutan peternak, dengan penerapan secara bertahap. (CR)

Agribiz Network

MA’RUF AMIN BUKA SEMINAR PINSAR, DUKUNG TERBENTUKNYA KOPERASI PETERNAK YANG KUAT

 

 

Wakil Presiden terpilih Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin berpendapat para peternak unggas Indonesia sudah memahami teknik peternakan secara baik. Selain itu secara kultutal mereka pekerja keras, ulet dan disiplin. Artinya etos kerjanya baik. Yang perlu diperkuat adalah pola kerjasama antar para peternak. Kerjasama yang diharapkan dalam bentuk koperasi yang dikelola dengan baik.

Pandangan tersebut disampaikan pada saat memberikan sambutan pada seminar Nasional Pinsar Indonesia (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia), Sabtu 21 September 2019 di Gand Zuri hotel, BSD, Tangerang. Seminar diikuti oleh pengurus Pinsar pusat dan daerah,  sejumlah pimpinan asosiasi perunggasan, pejabat di Ditjen PKH dan tamu undangan.

Ma’ruf mengatakan di negara maju seperti Eropa, koperasi mampu menjadi bisnis kelas dunia. Hal ini harus diupayakan oleh peternak di Indonesia.

“Untuk itu perlu campur tangan pemerintah agar peternak dapat hidup dan terus berkembang melalui lembaga koperasi,” tegas  Ma’ruf.

Terhadap tantangan di masa depan antara lain kekalahan Indonesia di WTO, Ma’ruf berpendapat ini adalah PR pemerintah dan semua stakeholder. Kita semua perlu  berkontribusi untuk mengatasi tantangan ini. Beberapa langkah misalkan menggalang   sentimen masyarakat agar mengonsumsi daging ayam lokal yang lebih fresh dan jaminan halal.

Di akhir sambutan, Ma’ruf berpesan agar kita semua optimis dalam menghadapi berbagai tantangan. “Tetaplah optimis dalam menghadapi berbagai macam tantangan. carilah solusinya melalui seminar ini,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar hasil seminar ini hanya bagus dalam pemikiran, tapi dapat ditindaklanjuti sehingga memberi nilai tambah bagi perunggasan nasional.Munas, Pelantikan Pengurus dan Seminar 

Jajaran pengurus pusat Pinsar Indonesia

Seminar yang dibuka Wapres terpilih ini merupakan rangkaian acara Munas V Pinsar Indonesia yang berlangsung mulai kemarin (20/9/2019). Sebagaimana diberitakan Infovet tadi malam, Munas telah menghasilkan keputusan berupa penetapan Ketua Umum Pinsar Singgih Januratmoko dan Ketua Dewan Pembina Hartono untuk periode 201902024. Pagi tadi acara dilanjutkan dengan pelantikan seluruh jajaran pengurus Pinsar periode 2019-2024, yang dilakukan oleh Ketua Umum terpilih Singgih didampingi Ketua Dewan Pembina Hartono, dan disaksikan oleh seluruh peserta Munas dan peserta seminar.

Dari susunan pengurus Ketua Umum didampingi oleh Ketua Harian yang dijabat oleh Eddy Wahyudin yang sebelumnya sebagai Wakil Ketua Umum. Tampak ada tokoh senior masuk dalam jajaran dewan pembina antara lain Dr. Ir. Rachmat Pambudy dan Prof Muladno. Sementara itu ada bidang baru yaitu bidang unggas Lokal yang dipimpin oleh Naryanto, seorang pembibit ayam kampung yang cukup dikenal. Ada juga Bidang Kesmavet yang dikomandani oleh Drh Rakhmat Nuriyanto, mantan Ketua Umum ASOHI,

Setelah pelantikan dilanjutkan dengan peluncuran Koperasi Pinsar Unggas Sejahtera yang bekerjasama dengan Koperasi Akurat (Akar Usaha Rakyat Terpadu Indonesia)  untuk memasarkan hasil anggota Pinsar.

KH Akhmad Syauqi, Dr Sofyan Syaf dan Prof Muladno

Adapun seminar nasional yang dipandu oleh pakar sosiologi pedesaan IPB Dr Sofyan Syaf menghadirkan narasumber Prof Muladno dan KH Akhmad Syauqi yang merupakan pengasuh sebuah Pondok Pesantren. Syauqi adalah putra dari KH Ma’ruf Amin.

Seminar mengangkat tema Membangkitkan Kembali Sejuta Peternak UMKM di Era Milenial.***

Agribiz Network

KEMBALI GELAR AKSI, RATUSAN PETERNAK SERBU KANTOR KEMENKO PEREKONOMIAN

Aksi damai yang dilakukan ratusan peternak broiler saat menyambangi kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat. (Dok. PPRN)

Harga jual live bird (LB) yang kembali anjlok menjadi pemicu peternak broiler yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) kembali menggelar aksi damai. Kali ini demo dilakukan di depan kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (5/9).

Ratusan peternak rakyat yang sudah berkumpul sejak pagi membawa spanduk berisikan tuntutan meminta perbaikan harga untuk  keberlanjutan usaha mereka. Dalam keterangannya, Sugeng Wahyudi, salah satu koordinator aksi menyebut, anjloknya harga sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu, harga LB broiler terendah terjadi pada Agustus 2019 yang mencapai Rp 8.000 per kg di tingkat peternak. 

“Pada tahun ini selama kurun waktu sembilan bulan, usaha perunggasan mengalami dua kali ‘gelombang tsunami’ anjloknya harga LB di tingkat peternak. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh oversupply produksi LB,” kata Sugeng.

Ia mengemukakan, sejak Juni 2019 gejolak harga LB sudah mulai terjadi. Puncaknya pada Agustus kemarin harga LB benar-benar terjun bebas dari harga yang sudah ditetapkan pemerintah, yakni Rp 19.000 per kg.

“Berbagai upaya dilakukan dan disuarakan peternak kepada pemerintah, termasuk upaya antisipasi untuk menjaga kestabilan harga. Namun tak pernah ada solusi jitu dan berkepanjangan,” ungkapnya.

Ia pun sangat menyayangkan upaya-upaya yang telah dilakukan tak berdampak signifikan pada keberlanjutan usaha peternakan rakyat.  “Tercatat sudah puluhan kali rapat koordinasi dan evaluasi melibatkan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perekonomian bahkan Bareskrim Polri. Tapi semua upaya mentok, peternak kembali menelan pil pahit merasakan buruknya penataan industri perunggasan nasional,” ucap dia.

Selain harga LB di tingkat peternak yang kembali merosot tajam, keluhan lain yang dirasakan peternak yakni mahalnya harga sapronak (sarana produksi ternak). Tercatat sejak 2019 harga pakan terus bertahan di level Rp 6.800-7.400 per kg. Kemudian harga DOC juga mengalami kejadian serupa. Dari catatan PPRN, harga DOC sejak Agustus 2018 mencapai Rp 6.600-6.100, perlahan turun pada Juni-Agustus 2019 menyentuh angka Rp 4.000.

“Namun itupun belum membantu karena harga LB anjlok ke titik terendah. Sementara di sisi lain, upaya penyeimbangan supply-demand melalui pengurangan produksi DOC selalu berdampak lebih dulu terhadap kenaikan dan ketersediaan DOC bagi peternak,” pungkasnya.

Adapun beberapa tuntuan peternak rakyat yang disampaikan PPRN diantaranya, tuntutan jangka pendek menaikkan harga LB minimal di HPP (Harga Pokok Produksi) peternak, penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) untuk penataan iklim usaha perunggasan nasional yang adil agar peternak rakyat terlindungi, meminta perlindungan segmentasi pasar ayam segar untuk peternak rakyat mandiri, penataan hilirisasi usaha perunggasan melalui upaya kewajiban memiliki RPHU (Rumah Pemotongan Hewan Unggas) bagi perusahaan unggas intergrasi seperti diatur dalam Permentan No. 32/2017 dan meminta pembubaran tim komisi ahli perunggasan. (RBS)

Agribiz Network

RESPON PETERNAK ATAS ANCAMAN SERBUAN AYAM BRASIL

 

 

Ayam potong di pasar (Foto: Google Image)

Arus masuk importasi ayam dari Brasil diprediksi meningkat
pasca-kekalahan Indonesia atas gugatan Brasil di Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body) Organisasi
Perdagangan Dunia (WTO). Menanggapi hal ini, Gabungan Organisasi Peternak Ayam
Nasional (Gopan) memiliki tiga usulan untuk pemerintah.

Pertama, Gopan berharap pemerintah memperhatikan harga
sarana produksi ternak (sapronak) agar memiliki harga yang terjangkau dan tidak
memberatkan kelompok peternak-peternak mandiri skala kecil dan menengah.
Sapronak terdiri atas sejumlah bahan baku yang dibutuhkan
dalam pengelolaan produksi peternakan. Dalam konteks peternakan ayam, komponen-komponen
sapronak terdiri dari bibit ayam, pakan, serta obat-obatan.
Menurut Sekretaris Jenderal Gopan Sugeng Wahyudi, biaya
pakan yang dibutuhkan dalam pengelolaan produksi peternakan saat ini masih
terbilang tinggi. Tingginya biaya pakan membuat Harga Pokok Produksi (HPP)
dalam pengelola produksi peternakan juga menjadi tinggi. Hal ini dikhawatirkan
akan membuat ayam yang diproduksi oleh peternak mandiri memiliki harga yang
tidak kompetitif, apabila dibandingkan dengan harga ayam impor yang masuk dari
Brasil nantiya.
Gopan berharap agar pemerintah menyediakan skema pembiayaan
dengan bunga yang murah bagi peternak-peternak ayam yang mau meng-upgrade
kualitas dan kapasitas kandangnya. Menurut Sugeng, prasarana berupa kandang
memiliki peran yang penting dalam menentukan efisiensi biaya pengelolaan
produksi peternakan ayam.
“Kandang-kandang ini harus di-upgrade agar produktivitas
meningkat. Kalau produktivitas meningkat, biaya-biaya produksinya juga bisa
turun,“ terang Sugeng kepada Kontan.co.id, Jumat (9/8).
Sementara itu, Sugeng menilai bahwa kondisi kandang yang
dimiliki oleh peternak umumnya kurang memenuhi syarat karena belum menggunakan
sistem closed house. Padahal,
pembiayaan yang diperlukan untuk meng-upgrade kandang ke dalam bentuk kandang
dengan sistem closed-house
membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Gopan juga berharap pemerintah bisa mempertahankan
pasar-pasar tradisional yang ada sebagai ‘lahan’ bagi peternak rakyat skala
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Sugeng menjelaskan bahwa selama ini saja peternak mandiri
sudah mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan besar
yang memasarkan produknya di pasar tradisional. Namun demikian, arus importasi
ayam yang masuk dari Brasil dinilai berpotensi memperparah kondisi persaingan
yang ada di pasar tradisional lantaran dapat memicu peningkatan jumlah suplai
produk ayam perusahaan-perusahaan besar di pasar tradisional.
Dalam hal ini, Sugeng menilai perlu ada campur tangan
pemerintah untuk melindungi peternak-peternak ayam skala kecil dan menengah.
“Perusahaan besar dan perusahaan kecil itu kan
pasarnya sama. Maka dari itu saya usulkan harus ada kekhususan bagi peternak
rakyat agar mereka bisa tetap eksis,“ sebut Sugeng. (Sumber: kontan.co.id)  

 

Agribiz Network

PETERNAK JAWA TENGAH KOMPAK BAGI-BAGI AYAM GRATIS

Aksi bagi-bagi ayam gratis di Semarang (Foto: Istimewa)

Hari ini, Rabu (26/6/2019) secara serentak, para peternak
mandiri yang tergabung di dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia
(Pinsar Indonesia) wilayah Jawa Tengah dan Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta
(Apayo) menggelar aksi bagi-bagi ayam gratis.

Lebih dari 8.000 ekor ayam hidup akan dibagikan di lima
tempat di Solo secara serentak. Sementaara, 5.000 ekor ayam dibagikan gratis ke
masyarakat di empat titik pembagian ayam gratis yaitu di Stadion Kridosono,
Balaikota Yogyakarta, Alun-alun Utara dan di depan Taman Pintar.
Aksi ini dilakukan para peternak sebagai bentuk
protes kepada pemerintah menyusul anjloknya harga ayam broiler di pasaran.
Ketua Apayo, Hari Wibowo dihubungi Infovet, Selasa (25/6/2019)
mengungkapkan aksi para peternak ayam broiler ini merupakan bentuk protes karena
murahnya harga beli ayam dari pedagang. Harga beli yang murah itu menyebabkan para
peternak merugi.
“Ini bentuk protes kami atas murahnya harga ayam. Kami
sebagai peternak merugi. Daripada dijual murah lebih baik dibagikan gratis ke
masyarakat,” ujar Hari.
Hari menguraikan sejak September 2018 terjadi ketimpangan harga
ayam. Hari menyampaikan harga ayam dipasaran saat ini mencapai Rp29.000/Kg
hingga Rp30.000/Kg. Sedangkan pedagang membeli dari peternak hanya seharga
Rp7.000/Kg hingga Rp8.000 /Kg.
Sementara di Solo, kegiatan bagi-bagi ayam dilakukan bekerja
sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Berdasarkan sumber yang Infovet peroleh dari PPN Solo, kegiatan
akan digelar di halaman Kantor Kecamatan Banjarsari, Pendapa Kantor Kecamatan
Jebres, halaman Kantor Kecamatan Laweyan, Pendapa Kantor Kecamatan Serengan dan
di area bekas SD Negeri Baturono Pasar Kliwon.
Peternak di Kota Semarang juga memembagi-bagikan ayam di
tujuh lokasi yang tersebar di Kota Semarang, mulai dari Kramas Jalan Mulawarman,
Tembalang, hingga Pasar Pedurungan.
Disebutkan sebelumnya, harga ayam hidup saat ini di tingkat
peternak hanya sekitar Rp8.000-Rp10.000/kg. Harga tersebut jauh di bawah harga
pokok produksi (HPP) yang mencapai Rp18.500/ kg.
Para peternak mandiri menilai pemerintah gagal melindungi
keberlangsungan usaha mereka. Jumlah produksi yang berlebih serta anjloknya
harga ayam menjadikan peternak mengalami kerugian selama berbulan-bulan.
Dampaknya beberapa peternak harus menutup usahanya, sedangkan sisanya bertahan
meski harus menambah hutang atau bahkan menjual aset untuk menutup biaya
produksi. (NDV)

Agribiz Network

SIASAT PETERNAK JUAL AYAM DI PINGGIR JALAN

Peternak menjual ayam langsung ke konsumen di pinggir jalan kawasan Klaten, Boyolali, Salatiga (Foto: bisnis.com)


Menjual ayam di pinggir jalan
demi menyiasati rendahnya harga ayam hidup, menjadi langkah yang ditempuh
peternak. Seperti diketahui, harga ayam di tingkat peternak saat ini Rp
8.000-Rp 10.000/kg atau hanya separuh dari Harga Pokok Produksi (HPP) yang
mencapai Rp 18.500/kg.
Upaya menjual langsung ke
konsumen ini, diharapkan peternak bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi meskipun
tetap belum menguntungkan.
“Jika HPP saja 18.500, harga ayam
selayaknya Rp20.000/kg. Tapi sekarang ini dengan HPP saja berada jauh di
bawahnya,” terang Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia
(Pinsar Indonesia) wilayah Jawa Tengah (Jateng), Parjuni, Minggu (23/6/2019).
Saat ini, menurut Parjuni, para
peternak mandiri sudah menanggung kerugian cukup besar sejak enam bulan
terakhir. Selain harga yang rendah, jumlah stok ayam di kandang pun melimpah
karena terjadi over produksi. Terkait
hal ini sejak beberapa hari terakhir, para peternak pun mulai melakukan aksi di
jalan, yaitu dengan menjual hasil panen kepada konsumen langsung dengan harga
murah.

“Informasi yang kami terima,
kemarin [Sabtu (22/6)] di Salatiga ada, di Blitar ada, juga di Klaten dan
Boyolali. Mereka membawa ayam dengan mobil kemudian menjualnya di pinggir jalan
dengan harga murah. Rata-rata dijual Rp25.000/ekor dengan bobot sekitar dua
kilogram. Kalau normal harga 

Rp40.000/ekor,” kata dia.
Biasanya para peternak menjual
menjual hasilnya kepada pedagang atau broker. Sedangkan mengenai jumlah
produksi, dia mengatakan saat ini total di Jateng ada over produksi sekitar
40%.
Parjuni mengatakan untuk produksi
di Jateng sekitar 40 Juta-42 juta ekor per pekan.
Adapun pada rapat analisa kondisi
perunggasan di Kantor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada
13 Juni lalu, yang merumuskan akan adanya penarikan 30% bibit unggas untuk
mengendalikan oversupply.
Kebijakan itu rencana diterapkan
pada 24 Juni ini. Namun Parjuni masih menyangsikan hal itu terealisasi. Sebab
menurut informasi yang dia terima, masih ada rapat finalisasi kebijakan sebelum
diterapkan.
Harga daging ayam potong di
pasaran masih di atas Rp30.000/kg. Berdasarkan informasi yang diunggah di
Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi, PIHPS Jateng, harga daging ayam
potong di Solo pada 21 Juni sekitar Rp31.000/kg. Jika dibandingkan harga ayam
hidup di tingkat peternak ada selisih minimal Rp21.000/kg. (Sumber: bisnis.com)

Agribiz Network

HARGA AYAM ANJLOK, PETERNAK, PENGUSAHA DAN PEMERINTAH KEMBALI REMBUG

Rembug antara pemerintah, peternak dan pengusaha unggas di Kementerian Pertanian, Kamis (13/6/2019). (Foto: Infovet/Ridwan)

Akibat harga jual unggas yang merosot tajam, para peternak rakyat yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Penyelamatan Peternak Rakyat dan Perunggasan Nasional (PRPM) kembali menyuarakan aspirasinya ke Kementerian Pertanian (Kementan).

Pertemuan terbatas dilakukan bersama Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita, bersama Tim Pakar Analisis SupplyDemand Ayam Ras dan Telur, serta asosiasi bidang perunggasan, pada Kamis (13/6/2019) di Kementan.

Adapun aspirasi yang disampaikan yakni, menaikkan harga jual ayam hidup di atas HPP peternak rakyat, memisahkan pasar peternak rakyat dan integrator, terbitkan Permentan yang membela peternak rakyat dan revisi UU peternakan dan kesehatan hewan.

Pasalnya, diakui peternak, harga jual live bird terpuruk hingga menyentuh angka Rp 9.000-12.000/kg untuk  wilayah Jawa Tengah, sementara di daerah Jawa Barat mencapai Rp 16.000-17.000/kg. Harga tersebut sangat jauh dari harga pokok produksi (HPP) yakni Rp 19.000-20.000/kg (HPP). Hancurnya harga ditingkat peternak tersebut disinyalir akibat berlebihnya pasokan produksi final stock (FS).

“Industri perunggasan tahun ini sangat parah kondisinya, karena HPP semakin tinggi kemudian produksinya juga semakin tinggi, sehingga harganya jeblok,” kata Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami.

Sempat sedikit memanas akibat perdebatan mengenai perhitungan jumlah supplydemand, potensi produksi GPS serta jumlah DOC yang dihasilkan antara GPPU dan tim analisis pemerintah, namun begitu perdebatan dapat diakhiri.

“Asumsi-asumsi yang digunakan kan berbeda, sehingga hasil hitungannya juga jadi sedikit berbeda. Untungnya rujukan data yang sama masih digunakan, memang begini kalau mau menyatukan banyak kepala menjadi satu tujuan, tapi yowis gak popo, yang penting demi kepentingan bersama,” ucap Dawami sembari berkelakar.

Untuk memperbaiki harga, pemerintah bersama tim pakar analisis supplydemand ayam ras dan telur memutuskan beberapa hal, diantaranya: 
1. Pengurangan DOC FS broiler di wilayah Pulau Jawa, dengan cara menarik telur tetas setelah candling sebesar 30% dari total telur fertil.
2. Pelaksanaan pengurangan pada 24 Juni-23 Juli 2019, yang pengawasannya melibatkan unsur dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan provinsi/kabupaten/kota, GPPU, GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), PPUN (Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara) dan Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia).
3. Melakukan revisi Permentan No. 32/2017 tentang Penyediaan Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi dalam rangka penyempurnaan regulasi di bidang perunggasan.
4. Setiap pelaku usaha di bidang perunggasan komersial (peternak, peternak mandiri, integrator, koperasi, dll) harus menyampaikan nama, alamat lengkap, nomor Hp broker kepada Ditjen PKH paling lambat tanggal 20 Juni 2019, yang selanjutnya akan dikoordinasikan dengan kementerian lembaga terkait.

“Keputusan bersama pelaksanaan cutting telur tetas dari total telur fertil oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan guna memangkas over produksi,” kata Ketua Tim Analisis SupplyDemand, Trioso Purnawarman. (RBS/CR)

Agribiz Network

MARKET PROJECT UNTUK PERMUDAH PETERNAK DAN KONSUMEN

Pemukulan gong oleh Walikota Bogor, Bima Arya, saat membuka launching Market Project, Rabu (22/5/2019). (Foto: Infovet/Ridwan)

Dalam rangka memperpendek rantai pemasaran, meningkatkan efisiensi dan membangun saluran pemasaran baru dari peternak ke konsumen, pemerintah menginisiasi kegiatan Market Project (MarkPro).

“Kegiatan ini juga sebagai sarana pelaksanaan sosialisasi atau promosi peningkatan konsumsi pangan asal ternak, serta sosialisasi berbagai program kegiatan nasional,” kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian (Kementan), Fini Murfiani, saat launching MarkPro di lapangan Kelurahan Baranangsiang Bogor, Rabu (22/5/2019).

Kegiatan tersebut atas kerjasama Kementan, Dinas Pertanian Bogor, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) dan Koperasi Pertanian Agrisatwa (Koperasi Takwa).

Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, yang turut hadir dalam acara, menyatakan dukungannya atas penyelenggaraan MarkPro guna memotong rantai pasok pangan asal hewan. 

“Hal ini seiring dengan penduduk Kota Bogor yang memerlukan ketersediaan produk asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), untuk penguatan pemenuhan kebutuhan gizi protein hewani yang cukup tinggi,” ujar Bima.

Ia berharap, kegiatan MarkPro dapat berkelanjutan, sehingga rantai pasok dari tingkat peternak hingga konsumen dapat terjaga. “Tidak hanya menguntungkan bagi kesejahteraan peternak, namun juga meningkatkan asupan gizi bagi masyarakat,” tambahnya.

Sementara di tempat terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, I Ketut Diarmita, mengungkapkan bahwa kegiatan MarkPRO merupakan salah satu upaya mendekatkan peternak dengan konsumen, sehingga peternak dapat menentukan margin price sesuai dengan biaya produksi dan konsumen dapat memperoleh harga yang realistis.

“Selain itu, MarkPro dapat dijadikan embrio saluran pemasaran baru bagi peternak untuk memasarkan produknya secara langsung kepada konsumen, dimana produk yang dijual dapat berupa produk peternakan dan produk olahannya. Ini menjadi peluang bagi UMKM peternakan untuk mengembangkan diri mempromosikan dan memperkuat jalur market-nya,” kata Ketut.

Dalam kegiatan MarkPro, juga dilengkapi edukasi bagi masyarakat untuk pengenalan produk pangan asal hewan yang ASUH, melalui Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) Bogor. Edukasi berupa pengenalan perbedaan karkas ayam sehat dengan karkas ayam mengandung formalin dan ayam bangkai. Kemudian cara membedakan telur ayam yang baik dan yang rusak, serta mengenali perbedaan daging sapi, kerbau dan babi hutan (celeng).

Fini Murfiani dan Dirkeswan Fadjar Sumping Tjatur Rasa (tengah) bersama Bima Arya (pojok kanan) didampingi peternak bogor meninjau bazaar murah di lokasi launching Market Project. (Foto: Infovet/Ridwan)


Kegiatan yang juga dilakukan dibeberapa kabupaten dan kota lainnya ini juga menampilkan bazaar produk berupa karkas broiler dingin segar sebanyak 4.200 ekor, telur 2.100 kg dan produk lainnya. Selain itu, adapun partisipasi industri pengolahan susu yang memberikan susu gratis kepada masyarakat dan bazaar susu, diantaranya PT Indolakto, PT Frisian Flag Indonesia, PT Industri Susu Alam Murni, PT Fonterra Brands Indonesia, PT Sari Husada, PT Cisarua Mountain Dairy dan PT Greenfields Indonesia. (RBS)

Agribiz Network

KOMUNITAS PETERNAK DAN TS OBAT HEWAN GELAR BAKTI SOSIAL

Komunitas Peternak dan TS berfoto bersama adik-adik di Yayasan Sayap Ibu (Foto: Istimewa)

Komunitas Peternak dan Technical Service (TS) Obat Hewan berkumpul mengunjungi adik-adik penyandang disabilitas di Yayasan Sayap Ibu Bintaro, Tangerang Selatan, Sabtu (18/5).

Selain agenda buka puasa bersama, diadakan juga kegiatan santunan yang terkumpul dari sumbangsih anggota komunitas. 

Penyerahan santunan oleh Ketua Panitia acara Drh Catur Fajrie Diah Astuti kepada pihak perwakilan Yayasan Sayap Ibu.

Ketua Panitia, Drh Catur Fajrie menyerahkan santunan kepada pihak Yayasan Sayap Ibu

“Terima kasih untuk teman-teman yang turut datang dan berkenan menyisihkan rejekinya untuk kegiatan bakti sosial pada momen Ramadan tahun ini. Acara seperti ini sekaligus sebagai ajang lebih mendekatkan kita semua,” pungkas Catur. (NDV)

Agribiz Network

H SINGGIH JANURATMOKO SKH MM: PETERNAK SUKSES, KINI MELENGGANG KE SENAYAN

Singgih Januratmoko (Foto: Istimewa)

Dua
puluh tahun sudah, Singgih Januratmoko secara totalitas sebagai peternak.
Dikenal juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar)
Indonesia periode 2014 – 2019, rekan-rekannya mendorong Fungsionaris Pusat DPP Partai
Golkar ini untuk berkontribusi lebih melalui parlemen.

Pendiri
dan pemilik Janu Putra Group ini dinyatakan berhasil melenggang ke DPR RI untuk
periode 2019-2024 mendatang.
Pria
kelahiran Sleman 7 Januari 1976 ini merupakan orang pertama dari kalangan
peternak unggas rakyat yang akan duduk di DPR, setelah bertarung di Dapil Jawa
Tengah meliputi Kabupaten Boyolali, Kota Surakarta, Kabupaten Klaten, dan
Kabupaten Sukoharjo.
Infovet
pada Jumat, 15 Februari 2019 lalu berkesempatan berjumpa dengan Singgih di
kawasan Jakarta Utara. Singgih mengatakan, tujuan utamanya menjadi anggota
parlemen adalah memperjuangkan nasib peternak unggas rakyat yang selama ini
menderita akibat harga unggas di peternak yang terus tertekan.
Berbincang
santai, alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini
bercerita awal mula merintis usaha ternak ayam.
Semasa
kuliah, Singgih memang berkeinginan kuat untuk membuka usaha sendiri. Menciptakan
lapangan kerja dan bisa berbagi dengan sesama merupakan tujuan utamanya.
Usai
memperoleh gelar Strata Satu di tahun 1999, Singgih saat itu memulai usaha
peternakan ayam kecil-kecilan. Tanpa disangka usaha ini dapat berkembang pada
saat itu.

“Sebenarnya
dulu bisa dikatakan saya meneruskan usaha ternak ayam layer milik ayah,” kata
pria 

kelahiran Sleman, 7 Januari 1976 ini.
Selanjutnya,
Singgih mulai mandiri beternak ayam broiler dengan pola kemitraan perusahaan
(inti) dengan peternak (plasma).
Ketekunannya
membuahkan hasil, hingga  sudah memiliki
puluhan kandang breeding farm dan hathcery yang terdapat di Wonosari dan
Purbalingga, di bawah bendera Janu Putra Group.
Janu
Putra Grup didirikan Singgih pada tahun 2002. Dua perusahaannya yaitu PT Janu
Putra Sejahtera (Breeding dan Layer) dan PT Janu Putra Barokah
(Kemitraan) telah berkembang pesat.
Menurut
Singgih, menjadi peternak ayam, tekun saja tidak cukup jika tidak dibarengi
dengan kesiapan mental dalam menghadapi segala tantangan.
“Terpenting
adalah kesiapan diri untuk bertahan di masa-masa sulit,” ujar suami Sova
Marwati ini.
Masa
sulit yang dimaksud, Singgih mencontohkan ketika ayam terserang penyakit, harga
jual ayam rendah, hingga mahalnya harga pakan.
“Seperti
sekarang nih, Harga Pokok Produksi (HPP) mahal sebisa mungkin menerapkan
strategi supaya efisien semuanya,” tambah dia.
Lebih
lanjut, ayah tiga anak ini mengatakan bahwa kendala teman-teman peternak
sekarang adalah permodalan.
“Banyak
bank yang sekarang ini tidak percaya, karena memang banyak kasus-kasus
terdahulu yang kreditnya macet,” terangnya.
Imbuh
Singgih, tepatnya tahun 2014 sampai tahun 2016 usaha breeding ayam mengalami
masa masa berat dan banyak sekali peternakan closed house yang gulung tikar.
“Banyak
yang akhirnya macet atau tidak terbayar sampai bank enggak percaya lagi,”
katanya.
Selain
persoalan modal, sambung Singgih, duka peternak ketika harga jual jatuh dan
pasti ada rasa was-was dengan resiko penyakit seperti AI, IBH, dan harga jagung
yang jatuh.     
Sekilas
flashback di tahun 2017 silam,
sebanyak empat kandang berisi sekitar 30 ribu ekor ayam potong miliknya hangus
terbakar.
“Betul
ada masalah pada listrik waktu itu, namun ya
kami belajar dari kejadian itu untuk lebih hati-hati ke depannya,” ujarnya.
Rintangan
demi rintangan disikapi dengan tenang oleh Singgih. “Lebih banyak suka. Rasanya
luar biasa dapat menikmati kerja keras dari usaha mandiri, kemudian bisa membuka
lapangan kerja sekaligus berbagi ke sesama,” ungkap lulusan Magister Manajemen
Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta ini. 
Kampanye Gizi Terus Berlanjut
Bersama
Pinsar, kampanye peduli gizi dengan mempromosikan ayam dan telur terus digelar
di berbagai kota.
Mengaku
senang, Singgih mengemukakan kalangan masyarakat seringkali memberi feedback usai kegiatan Hari Ayam dan
Telur Nasional (HATN).
“Ada
pastinya warga yang memberi tanggapan ke Pinsar dan minta kegiatan promosi ayam
telur rutin dilaksanakan,” katanya.
Selain
feedback dari warga masyarakat,
terdapat juga peternak yang menyampaikan kepada Pinsar bahwa terjadi peningkatan
daya beli ayam dan telur di pasaran.
Target penyelenggaraan HATN, tegas Singgih, bukan saja meningkatkan konsumsi ayam
dan telur, namun juga memberi edukasi kepada masyarakat bahwa daging ayam aman
dikonsumsi serta bebas dari suntikan hormon yang isunya selama ini beredar.
“Peternak
rakyat jangan sampai hilang dan harus terus berkembang lagi. Perjuangkan teman-teman
yang masih bersemangat beternak mandiri,” tandas Singgih ketika ditanya harapannya
pada masa depan peternakan Tanah Air.
Seiring
dengan alih teknologi, diharapkan para peternak ayam secara perlahan tetapi
pasti memperbaharui kandangnya menjadi closed
house
.
Singgih
menambahkan, banyak orang lokal yang pandai membuat kandang ayam tanpa harus
impor dari negara luar. “Kita bangun kandang ayam pakai brand lokal, banyak kok.
Soal kualitas pun sudah layak,” sambungnya.   
Penuh
tekad, Singgih akan bekerja sungguh-sungguh untuk menghasilkan karya nyata yang
dapat diterima semua masyarakat, guna meningkatkan derajat hidup rakyat
khususnya petani dan peternak dengan berpegang kepada prinsip keadilan sosial.
(NDV)

Agribiz Network

JAMBORE PETERNAK NUSANTARA 2019 DIGELAR DI KARANGANYAR

Peluncuran “Buku Saku Bagi Peternak” dalam acara Jambore Peternak Nusantara 2019 (Foto: Baznas)

Jambore Peternak Nusantara 2019 yang berlangsung selama tiga hari, Senin-Rabu (13-15/5), di The Lawu Park Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita dan Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Irfan Syauqi Beik.

Irfan mengatakan, Jambore Peternak Nusantara 2019 diselenggarakan untuk mempererat tali silaturahim antarpelaku usaha peternakan di Indonesia. Selain itu juga sebagai cara memperluas jaringan. Dalam kegiatan jambore peternak tersebut, para peserta disuguhkan materi-materi tentang peternakan dari tokoh yang andal dalam bidangnya.

“Hal ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen dan teknis budidaya peternakan bagi peternak dan pendamping program pemberdayaan peternak,” jelasnya.

Menurut Irfan, dalam kegiatan tersebut Baznas juga mengenalkan kepada masyarakat tentang konsep
Balai Ternak Baznas yang dikembangkan dalam program pemberdayaan ekonomi para mustahik di pedesaan.

Balai Ternak Baznas dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia. Baznas memberikan modal usaha bagi para peternak mustahik. Selain itu, Baznas juga melakukan pendampingan, pengawasan, serta pelatihan-pelatihan.

“Setelah menerima modal usah berupa bibit ternak, para mustahik ini tidak serta merta ditinggalkan, Baznas melakukan pendampingan, memberikan mereka pelatihan agar tidak hanya sekedar ternak hewan, menjadikan mereka lebih mandiri. Baznas juga membantu proses pemasaran,” terang Irfan.

Sementara itu, Kepala Pemberdayaan Peternak Mustahik (LPPM) Baznas, Ajat Sudarjat mencontohkan lokasi Balai Ternak Baznas di Magelang. Di lokasi tersebut, para petani mustahik yang diberdayakan Baznas mengalami peningkatan pendapatan.

Penghasilan para peternak di Magelang meningkat dari Rp 1.324.750 menjadi Rp 2.261.250. Padahal, upah minimum kabupaten (UMK) Magelang pada 2019 hanya Rp 1.882.000. Jika dibandingkan dengan Garis Kemiskinan Nasional tahun 2018 yakni Rp 1845.612, maka penghasilan tersebut lebih tinggi sebesar 22,8 persen.

“Artinya program Balai Ternak Baznas di Desa Dayugo, Desa Banyusidi, Pakis, Kabupaten Magelang dapat membantu pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” ungkap Ajat.

Jambore Peternak Nusantara 2019 diikuti sebanyak 77 peserta yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.

Para peserta merupakan peternak binaan Baznas yang tergabung dalam program Balai Ternak Baznas. Selain dari peternak Baznas, acara ini dihadiri juga oleh banyaknya komunitas peternak peternak mandiri.

Pada kesempatan itu juga diluncurkan “Buku Saku Bagi Peternak” yang disusun oleh tim LPPM Baznas yang terdiri dari Ajat Sudarjat, Sugeng Prayitno, dan Achmad Salman Farisy. Buku tersebut diharapkan menjadi panduan pembelajaran bagi semua peternak binaan Baznas dan masyarakat umum yang akan atau sudah beternak. (Sumber: https://baznas.go.id)

Agribiz Network