FAPET UGM KENALKAN PETERNAKAN SEBAGAI INDUSTRI BERTEKNOLOGI TINGGI

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : [email protected]
Pemasaran : [email protected]

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: [email protected]

Agribiz Network

HATI-HATI DALAM MEMANFAATKAN MANUR SEBAGAI PUPUK

Selain penghasil pangan, peternakan ayam juga menghasilkan limbah sampingan berupa manur. (Sumber: Istimewa)



Usaha peternakan unggas yang merupakan bagian dari pertanian memiliki fungsi utama untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus berperan dalam penggerak perekonomian bangsa. Kebutuhan protein hewani semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, akan tetapi di sisi lain peternakan semakin terhimpit karena terbatasnya lahan.


Selain itu, keadaan juga diperparah dengan limbah hasil peternakan berupa manur, keberadaan manur sangat mengganggu karena menimbulkan bau yang tidak sedap bagi masyarakat dan dapat membuat lingkungan kotor dan tidak nyaman. Sudah banyak kasus peternakan unggas diprotes bahkan ditutup paksa oleh warga sekitar peternakan karena dirasa mengganggu kenyamanan warga setempat.


Kandungan Dalam Manur 
Manur secara tradisional bisa dimanfaatkan sebagai pupuk atau penyubur tanaman, terutama tanaman pangan karena kaya akan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Manur seringkali langsung dimanfaatkan sebagai pupuk tanpa pengolahan lebih lanjut. Namun begitu, meskipun mengandung zat nutrisi tanaman yang tinggi, di dalam manur juga terkandung berbagai jenis bakteri patogen seperti Escherichia coli, Listeria, SalmonellaCampylobacter. (Pell 1997).


Bakteri-bakteri tersebut dapat mengontaminasi lingkungan sekaligus menimbulkan penyakit bersumber makanan (foodborne disease), berdasarkan data WHO (2017), terdapat 600 juta orang atau 1 dari 10 orang di dunia mengalami sakit setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen. Bakteri-bakteri tersebut diketahui juga dapat bertahan cukup lama di lingkungan yang sesuai, seperti Salmonella dan Campylobacter dapat bertahan selama sebulan, sedangkan Listeria dapat bertahan hingga tiga bulan. (Nicholson FA et al. 2005).


Ternak yang sedang diobati dengan antibiotik atau memakan pakan yang mengandung Antibiotic Growth Promoter (AGP) dapat menghasilkan manur yang mengandung residu antibiotik beserta bakteri yang membawa sifat resisten (Antibiotic Resistance Bacteria/ARB) (Youngquist CP et al. 2016).


Adapun jenis-jenis antibiotik yang diekskresikan melalui urin dan feses dan terdapat pada manur antara lain, Klortetrasiklin, Sulfa dan Tylosin. Kontaminasi antibiotik ke lingkungan dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik, risiko ini ditambah dengan hadirnya bakteri yang membawa gen resisten karena bakteri tersebut mampu menyebarkan sifat resistensinya melalui transfer plasmid kepada bakteri lain dan melalui perkembangbiakan bakteri itu sendiri.


Keberadaan bakteri-bakteri pembawa gen resistensi antibiotik dan residu antibiotik pada manur merupakan permasalahan yang dapat mengancam kesehatan, baik pada ternak maupun manusia. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk mengurangi bahaya biologis yang ditimbulkan oleh kontaminasi manur ke lingkungan adalah pengomposan manur.


Pengomposan Manur
Menurut Cooperbrand (2000), pengomposan adalah sebuah proses transformasi bahan organik seperti manur, serasah, sisa makanan dan bahan lainnya menjadi substansi mirip tanah atau humus. Proses pengomposan sendiri melibatkan mikroorganisme yang bersifat aerob dan anaerob. Proses aerob lebih umum terjadi, proses ini terbagi menjadi dua tingkat, yaitu mesofilik (10-45°C) dan thermofilik (45-70°C), proses pengomposan dapat berlangsung dari beberapa minggu hingga 40-50 hari.


Perubahan fisik, kimiawi dan biologis yang terjadi pada saat pengomposan manur dapat mengeliminasi bakteri patogen seperti Escherichia coli O157 H7, Salmonella enteritidis (Lung et al. 2001), Listeria (Grewal et al. 2013), bahkan populasi koliform dapat berkurang hingga 99,9% dengan pengomposan selama tujuh hari (Larney et al. 2003). Selain dapat menghilangkan bakteri patogen, pengomposan manur ternyata juga dapat mendegradasi residu antibiotik yang dieksresikan oleh ternak.


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dolliver et al. (2008), kadar Klortetrasiklin, Monensin dan Tylosin berkurang selama proses pengomposan manur kalkun, pengurangan yang terjadi berlangsung selama 19 hari, merujuk pada proses pembuatan kompos biasa yang memakan waktu hingga 50 hari, maka dapat diasumsikan kadar antibiotik dalam manur ternak yang dibuat kompos berada dalam kadar minimal atau bahkan hilang sama sekali. Antibiotik golongan lainnya seperti Sulfonamide dan Trimetroprim dapat berkurang dengan proses fermentasi anaerob dalam waktu lima minggu (Mohring et al. 2009).


Pengomposan manur merupakan sebuah metode untuk meminimalisir bahaya penyakit infeksi sekaligus resistensi antibiotik pada lingkup peternakan, metode ini mudah dilakukan dan tidak banyak membutuhkan biaya, sehingga sangat ideal untuk diimplementasikan. Kompos hasil proses pengomposan juga dapat dimanfaatkan dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi sebagai pupuk, karena telah terbebas dari bakteri maupun antibiotik. ***

Drh Afdi Pratama

Staff Dinas Perikanan dan Peternakan, Kabupaten Bogor

Agribiz Network

PROBIOTIK SEBAGAI PENCEGAH PENYAKIT BAKTERIAL

Dengan aplikasi probiotik secara terprogram dan pengontrolan tindakan biosekuriti yang ketat dapat memberikan hasil yang lebih baik untuk mencegah sergapan penyakit bakterial. (Sumber: alibaba.com)

Pasca regulasi pelarangan antibiotik pemacu pertumbuhan di dalam Pakan (AGP), harus diakui bahwa persoalan yang masih meliputi adalah performa ayam yang menjadi kurang optimal, baik aspek pertumbuhan yang jauh dari seharusnya bahkan ada potensi kecenderungan kekerdilan, hasil program vaksinasi yang kurang optimal serta konversi pakan yang buruk.

Menurut Drh Rully Susetyawan, selaku pengelola produksi dan penanggung jawab perusahaan produksi ayam PT Januputro, mengungkapkan hal itu kepada Infovet. 

Ketika ditanya mengenai solusi terhadap persoalan tersebut, ia menjelaskan, sebenarnya problem kurang optimalnya pertumbuhan diduga karena tidak optimalnya hasil program vaksinasi. Sehingga memungkinkan infeksi sub-klinis yang disebabkan oleh agen penyakit viral yang juga berakibat pada sergapan agen penyakit bakterial.

“Potensi kekerdilan dan pertumbuan yang lambat bukan diakibatkan oleh kualitas pakan yang kurang baik, namun lebih disebabkan karena infeksi virus sub-klinis yang diperparah dengan infeksi sekunder dari agen penyakit bakterial,” ujar Rully.

Ia pun menyarankan pengaplikasian probiotik untuk mencegah agen penyakit bakterial, sebagai upaya menekan kerugian yang jauh lebih besar. Memang setelah dicermati secara seksama dalam beberapa periode pemeliharaan, terbukti hasilnya cukup baik. Meskipun upaya untuk membuat kekebalan terhadap sergapan penyakit bakterial tidak begitu maksimal.

“Memang untuk kekebalan hanya vaksinasi caranya. Meski demikian, dengan aplikasi probiotik secara terprogram dan pengontrolan tindakan biosekuriti yang ketat dapat memberikan hasil yang lebih baik untuk menangani sergapan penyakit bakterial,” ungkap dia.

Selain itu, melalui program pemberian probiotik, lanjut Rully, memberikan dampak cukup baik terhadap lingkungan dan efisiensi pakan. “Kandungan amonia di dalam kotoran ayam menjadi jauh sangat rendah. Sehingga mampu membuat ayam tumbuh lebih baik dan infeksi saluran pernapasan sangat berkurang. Selain itu, konversi pakan semakin baik dan efeknya pertumbuhan optimal,” jelasnya.

Perlu diingat, bahwa pilihan aplikasi program probiotik sebagai upaya alternatif pengganti AGP… (iyo)


Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2019.

Agribiz Network

BIOINFORMATIKA SEBAGAI METODE DETEKSI PENYAKIT HEWAN

Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Besar Penelitian
Veteriner Bogor kembali mengadakan
pelatihan teknis dalam mendukung program – program pemerintah. Kegiatan
tersebut digelar di Hotel Sahira Bogor, Senin 22 April 2019. Kali ini pelatihan
teknis yang dilaksanakan mengenai Bioinformatika dalam dunia veteriner.

Bioinformatika
sendiri didefinisikan sebagai ilmu yang yang mempelajari teknik komputasional
untuk mengelola dan menganalisis informasi biologis suatu mahluk hidup. Bidang ini mencakup penerapan metode matematika
, statistika, dan informatika untuk
memecahkan masalah-masalah biologis, terutama dengan menggunakan sekuens DNA
 dan asam amino serta
informasi yang berkaitan dengannya. Contoh topik utama bidang ini meliputi basis data
 untuk
mengelola informasi biologis, penyejajaran sekuens (
sequence alignment), prediksi struktur untuk meramalkan bentuk struktur protein
 maupun
struktur sekunder RNA
, analisis filogenetik, dan analisis
ekspresi gen
.

Sebagaimana
kita ketahui bahwa pen
deteksian penyakit
secara molekuler saat ini berkembang dengan pesat,
hal ini karena teknik biomloekuler mampu
digunakan untuk
mendiganosis
penyakit  dengan cepat dan spesifik.
Selain itu, biomolekuler juga dapat digunakan untuk melakukan karakterisasi organisme
secara umum maupun secara khusus untuk agen penyebab penyakit dan juga untuk
melakukan rekayasa genetik. Karena keterkaitan inilah alasan mengapa ilmu
bioinformatika dapat digunakan sebagai salah satu metode dalam mendeteksi
penyakit pada mahluk hidup, termasuk hewan.

Dalam acara
tersebut, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, Dr. Drh Ni Luh Putu
Indi Dharmayanti M.Si. mengatakan bahwa pesatnya perkembangan teknologi
termasuk dalam bidang medis semakin memudahkan manusia dalam mendeteksi serta
memprediksi sifat dan karakteristik agen infeksius. “Melalui bioinformatika
ini, selain dimanfaatkan untuk deteksi penyakit, bisa juga kita manfaatkan
sebagai metode untuk memprediksi sifat dan mutasi genetik suatu mikroorganisme
terutama pathogen,” tuturnya.

Para peserta berfoto bersama narasumber (Dokumentasi : CR)

Dengan adanya kegiatan ini peserta diharapkan mampu meningkatkan wawasan dan
kemampuan bioinformatika, sehingga mampu melakukan analisi
s data molekuler,
karakterisasi mikroorganisme
pathogen
dan rekayasa genetik, terutama dalam mendeteksi penyakit
hewan maupun pengembangan teknologi vaksin

Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 hari, yaitu tanggal 22-23
April 2019 untuk teori tentang bioinformatika dan tanggal 24-26 untuk praktek
aplikasi bioinformatika yang akan dilakukan di Balai Besar Penelitian Veteriner
Bogor, yang diikuti
oleh 120 peserta dari berbagai institusi baik dari lingkup maupun dari
luar  Kementerian Pertanian.

Tidak
tanggung – tanggung, pelatihan
teknis ini menghadirkan narasumber dan ahli yang berkompeten dari
dalam dan luar negeri, antara lain Dr. Lee McMichael (Queensland University,
Australia), Dr. Stanly Pang (Murdoch University, Australia), Prof. drh. Widya
Asmara SU Ph.D (Universitas Gadjah Mada), Dr. drh NLP Indi Dharmayanti, M.Si
(Balai Besar Penelitian Veteriner), Dr. drh Silvia Triwidyaningtyas, M.Si (
Universitas Indonesia), dan Hidayat Trimarsanto, B.Sc (Lembaga Molekuler
Eijkman).
(CR)

Agribiz Network

KERAKAS SAWIT SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA KECIL

Kerakas sawit yang sudah di parut. (Dok. pribadi)

Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar dunia mempunyai luasan kebun sawit yang sangat besar. Dengan luasan kebun sawit, menghasilkan limbah kebun sawit atau kerakas sawit yang sangat banyak. Kerakas yang dimaksud adalah pelepah sawit beserta daunnya, yang memiliki potensi sebagai sumber serat kasar bagi ternak ruminansia, walau memiliki kandungan lignin yang tinggi yang bisa menyebabkan kecernaan menjadi rendah.


Kendati demikian, pemanfaatan kerakas sawit sudah banyak dilakukan dengan adanya program integrasi sapi-sawit. Tetapi pemanfaatan kerakas sawit untuk ternak ruminansia kecil masih belum banyak. Hal ini dikarenakan kapasitas rumen ternak ruminansia kecil lebih minim dan kadar serat kasar kerakas sawit yang tinggi (mencapai 46%), sehingga perlu perlakuan atau sentuhan teknologi sebelum memberikan kerakas sawit tersebut.


Dari penelitian sederhana yang pernah penulis lakukan, penulis mencoba membuat pakan komplit dengan sumber serat dari kerakas sawit yang sudah diparut. Kerakas sawit yang digunakan adalah kerakas sawit kering. Kerakas yang sudah di parut dicampur dengan konsentrat ruminansia dan selanjutnya difermentasikan menggunakan inokulan mikrobia selulolitik. Inokulan yang digunakan adalah Trichoderma harzianum. Proses fermentasi dilakukan  selama 14 hari secara anaerob, menggunakan kantong plastik besar untuk mendapatkan hasil yang baik.


Setelah 14 hari, pakan komplit telah terfermentasi dan berubah warnanya menjadi lebih cerah dengan bau harum khas fermentasi. Uji coba dilakukan pada kambing perah laktasi. Sebab, kambing memiliki karakter lebih suka pakan berupa rambanan atau daun-daunan daripada rumput, berbeda dengan domba yang menyukai kedua jenis pakan tersebut.


Ternyata adaptasi pakan komplit fermentasi berbasis kerakas sawit ini cukup lama. Kambing yang biasa diberi pakan daun-daunan memerlukan waktu lebih dari dua minggu untuk beradaptasi ketika diberikan pakan komplit fermentasi berbasis kerakas sawit. Adaptasi dilakukan dengan cara memberikan sedikit demi sedikit pada pakan  kambing yang terbiasa diberi daun-daunan. Adaptasi pakan harus dilakukan dengan sabar, kambing harus dipancing dengan dedak padi yang ditaburkan di atas pakan komplit fermentasi agar tertarik memakan pakan komplit fermentasi kerakas sawit tersebut.


Uji coba pakan komplit fermentasi ini diberikan pada kambing perah laktasi sejumlah enam ekor yang terbagi menjadi dua kelompok dengan rancangan simple cross over, dengan berat rata-rata kambingnya adalah 37,17 kg, umur rata-rata 3,03 tahun dan produksi susu 525 ml perhari. Pakan komplit fermentasi yang diberikan mempunyai kandungan kadar bahan kering  (BK) 91,02%, bahan organik (BO) 85,11%, protein kasar (PK) 12,42 %, lemak kasar (LK) 2,86 %, serat kasar (SK) 39,63 %, bahan ekstrak tanpa N (BETN) 30,2% dan TDN (Total Digestible Nutrient) 49,58%. 


Setelah melalui proses adaptasi pakan, kambing bisa diberikan pakan komplit fermentasi secara penuh. Dalam pengamatan penelitian, ternyata pemberian pakan komplit fermentasi  memberikan konsumsi bahan kering yang lebih tinggi dibanding kelompok yang diberi pakan hijauan berupa daun niponan, daun karet dan daun kelapa sawit segar. Pemberian pakan komplit fermentasi ini juga memberikan konsumsi protein kasar dan konsumsi serat kasar yang lebih tinggi dibanding yang diberi pakan hijauan, tetapi tidak memberikan hasil yang berbeda pada konsumsi bahan organik dan lemak kasar.


Produksi susu kambing juga tidak mengalami perbedaan signifikan antara kelompok yang diberi pakan komplit fermentasi dengan kelompok kambing yang diberi pakan hijauan, walaupun ada kecenderungan produksi susu pada kelompok yang diberi pakan komplit fermentasi memberikan produksi susu yang lebih tinggi. 


Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa pemanfaatan limbah kelapa sawit (bahkan yang sudah kering) sebagai pakan ternak ruminasia kecil sangat mungkin bisa dilakukan. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan konsumsi bahan kering, protein kasar dan serat kasar untuk pakan komplit fermentasi, serta tidak adanya perbedaan terhadap produksi susu kambing perah laktasi yang digunakan dalam penelitian.

Kerakas sawit setelah menjadi pakan komplit fermentasi. (Dok. pribadi)


Proses fermentasi dengan menggunakan bakteri selulolitik akan menurunkan kadar  selulosa yang terkandung di dalam kerakas kelapa sawit. Dengan kandungan selulosa yang mencapai 46% di dalam pelepah sawit, merupakan potensi yang cukup besar sebagai sumber bahan pakan ruminansia. Bakteri selulolitik akan menghasilkan enzim selulase yang mampu menghidrolisis ikatan β-1,4-glikosidik di dalam selulosa. Enzim selulase yang diproduksi oleh bakteri selulolitik biasanya merupakan enzim komplek dan bekerja sesuai fungsinya, sehingga mampu memecah selulosa menjadi produk akhir glukosa.


Bakteri selulolitik secara alami ada di dalam rumen ruminansia dan memang hanya ternak ruminansia yang mampu memanfaatkan selulosa secara efisien sebagai bahan pakan, karena keberadaan bakteri selulolitik tersebut. Bahan pakan yang tinggi kandungan selulosa, apalagi dengan kandungan  lignin yang juga tinggi, seperti kerakas sawit, akan susah dicerna oleh bakteri selulolitik di dalam rumen. Pemanfaatan teknologi fermentasi diharapkan mampu membantu kerja bakteri selulolitik di dalam rumen, sehingga kecernaan pakan berserat tinggi akan meningkat. Banyak penelitian membuktikan bahwa proses fermentasi bahan pakan berserat menghasilkan penurunan kadar serat kasarnya. 


Hal yang cukup menarik dari hasil penelitan ini adalah, dari hasil produksi susu yang tidak berbeda nyata, walaupun ada kecenderungan pemberian pakan komplit fermentasi lebih tinggi produksinya, ternyata terdapat perbedaan warna dari susu yang dihasilkan. Susu yang diproduksi dari kambing yang diberi pakan hijauan terlihat lebih kuning dibandingkan dengan susu yang dihasilkan dari kambing yang diberi pakan komplit fermentasi, yang susunya terlihat berwarna putih.


Produksi susu sangat ditentukan dari laju sel sekretori mengubah nutrien dari darah menjadi komponen susu. Hal ini sangat dipengaruhi nutrisi yang dikonsumsi ternak berkaitan dengan prekursor pembentuk susu dan ketersediaan energi. 


Perbedaan warna susu yang diproduksi oleh kelompok kambing percobaan diduga karena pakan komplit fermentasi yang berbasis limbah sawit, menggunakan limbah sawit yang sudah kering, sehingga kadar beta karotennya sudah sangat rendah dibanding pemberian pakan hijauan segar. Beta karoten terdapat dalam hijauan segar dan akan berubah menjadi vitamin A ketika di dalam tubuh. Kadar beta karoten akan sangat berkurang karena proses pengeringan dengan sinar matahari. Senyawa karotenoid ini yang memberikan warna kuning pada susu. Pada bahan pakan yang sudah kering, kandungan beta karotennya sudah rendah sehingga menyebabkan warna susu menjadi putih.


Dari penelitian ini, diharapkan bahwa pemanfaatan kerakas sawit yang sudah kering sebagai pakan ternak ruminansia bisa diaplikasikan untuk ruminansia kecil. Pemanfaatan limbah sawit untuk pakan ruminansia kecil selama ini terbatas pada daun sawit yang masih segar, tetapi dengan teknologi fermentasi dan dibuat menjadi pakan komplit ini bisa memanfaatkan pelepah dan daunnya (kerakas) yang sudah kering untuk pakan ruminansia kecil. Kelemahan terhadap produk susu akibat penggunaan pakan komplit fermentasi yang berbasis kerakas sawit kering bisa diantisipasi dengan suplementasi bahan pakan sumber vitamin A dalam ransumnya. ***

Dr Lilis Hartati, SPt

Penulis adalah pengajar di Jurusan Peternakan, 

Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

Agribiz Network

PETERNAK: JAGUNG IMPOR SIMPAN SEBAGAI CADANGAN

Ilustrasi jagung (Foto: Pixabay)

Peternak ayam meminta kepada pemerintah, agar jagung impor untuk pakan disimpan ketika panen raya. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Leopold Halim mengatakan saat ini panen jagung sudah mulai berlangsung di beberapa lokasi. Ia memperkirakan panen akan berlangsung hingga akhir April nanti.

“Sudah mulai panen sedikit-sedikit ini. Jadi panen raya itu April dan kemungkinan akhir April sudah mulai sedikit,” jelas pria yang akrab disapa Atung ini, Kamis (14/2/2019).

Lebih lanjut, ia menyarankan agar pemerintah bisa jagung yang diimpor sebagai cadangan. Langkah itu agar tidak menyinggung sekaligus merugikan petani jagung lokal.

“Kita sagai peternak pasti menyerap (jagung) lokal, apapun. Tapi lihat situasi, sebaiknya pemerintah tahan (jagung impor), nggak jual dulu. Jadi disimpan untuk buffer stock saat bulan Juli-Agustus kosong,” ungkap dia.

Sebagai informasi, saat ini Perum Bulog sedang mengimpor jagung sebanyak 30 ribu ton dan 150 ribu ton yang ditargetkan masuk pada Februari dan Maret ini. (Sumber: finance.detik.com)

Agribiz Network