WORKSHOP MEAT & POULTRY PHOTOGRAPHY SUKSES DIGELAR

Workshop Meat & Poultry Photography

Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) menyelenggarakan workshop khusus tentang seni fotografi produk daging dan produk hasil unggas. Acara yang diselenggarakan di sela-sela pameran akbar Ildex Indonesia yang berlangsung selama 3 hari tersebut, tersebut dilangsungkan di Ruang Cendana, ICE BSD Tangerang Selatan pada 18 September 2019 lalu, dan diikuti oleh tidak kurang dari 25 peserta dari berbagai latar belakang, baik dari kalangan perusahaan peternakan, praktisi maupun akademisi dan mahasiswa.

Workshop difasilitasi oleh fotografer senior Wigiantoro Eko yang telah berpengalaman lebih dari 10 tahun di dunia fotografi komersial. Wigiantoro memberikan saran praktis dalam menghasilkan produk fotografi dengan kualitas prima. Menurutnya, fotografi adalah kerja seni, dimana untuk memotret produk daging dan hasil unggas harus ada kombinasi dengan produk asesorisnya. Ia mencontohkan, untuk memotret produk daging mentah, sebaiknya disertai dengan tata letak yang baik, dengan dikombinasi dengan produk aseseori seperti cabai, mrica, lada atau garam yang ditaburkan secara menarik.

Wigiantoro mengingatkan, untuk menghasilkan produk fotografi yang menarik, maka harus sering-sering melakukan pemotretan dari berbagai sisi dan berbagai variasi produk serta berbagai sudut pemotretan. Karya fotografi yang baik adalah yang bisa memberi gambaran yang jelas bagi masyarakat, cukup dengan melihat hasil fotografi tersebut.

Agribiz Network

KONSUMSI PROTEIN KUNCI SUKSES TUMBUH KEMBANG ANAK

Para pembicara seminar (Foto: Dok. UGM)

Menyemarakkan Lustrum
X Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada, digelar Seminar Promosi
Konsumsi Protein Hewani dan Nabati Demi Anak Sehat, Tumbuh, dan Cerdas, Sabtu
(7/9/2019). Acara yang digelar di di Auditorium Fakultas Peternakan UGM menggandeng
Indonesian Children Care Community
(IC3).

Direktur IC3 Prof. Dr
Ir. Ali Agus, DAA, DEA, IPU menjelaskan, tantangan pertama pasca kelahiran anak
adalah kesehatan dan tumbuh kembang. “Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh
lingkungan fisik dan sosial serta ditopang oleh protein hewani maupun nabati
yang cukup, berkualitas dan berimbang dengan nutrisi lainnya,” ungkap Ali yang juga Dekan Fakultas Peternakan UGM. 

Tantangan kedua,
lanjut dia, adalah pengetahuan dan preferensi orangtua dalam menyediakan pangan
yang sehat, bergizi dan berimbang. Sebab penyediaan pangan dan gizi sumber
protein perlu kesadaran, kemauan dan kesungguhan, karena bisa tergoda oleh
kebutuhan lainnya yang sebenarnya bisa ditangguhkan. Selanjutnya tantangan
ketiga adalah kesibukan orangtua dalam bekerja sehingga tidak lagi sempat
memperhatikan pola konsumsi anak-anaknya, bahkan urusan makanan di rumah
sepenuhnya diserahkan kepada pengasuh dan atau semata-mata mengikuti kesukaan
anak.
Senada dengan Ali
Agus, Kepala Seksi Inspeksi Peredaran Pangan Teknologi Baru, Bioterorisme, dan
Pertahanan Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan, Fitrianna Cahyaningrum, SP.,
M.Gz menyatakan 46% penduduk Indonesia termasuk kategori cukup protein. “Ada
17% kurang protein dan 36% sangat kurang asupan protein. Kalau status ini
terdapat pada anak usia 13 sampai 18 tahun, harus segera ditangani karena  merupakan fase awal produktif untuk pria dan
fase awal kesuburan untuk wanita,” jelasnya.
Fitrianna
mengimbau agar dilakukan upaya mengubah preferensi pembelanjaan uang jajan.
“Uang Rp 1.500 – Rp 2.000 yang biasa digunakan untuk jajan makanan kecil yang
kurang bergizi, diupayakan untuk membeli telur ayam saja, yang lebih bergizi
bagi anak dan remaja,” tandas dia. Hal itu, dia menambahkan, harus terus
didorong meskipun perubahan pola konsumsi pangan sudah terjadi, menurut WHO
konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang pada 2011 hanya 17%, tahun
lalu sudah meningkat menjadi 34% dari total konsumsi protein.
“Konsumsi protein
hewani ini penting, karena mengandung asam-asam amino esensial yang tidak
tergantikan dan tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh manusia. Asam amino
dipergunakan untuk pertumbuhan organ dan untuk membentuk hormon-hormon
pertumbuhan,” tegasnya. Namun demikian, untuk menyeimbangkan pola makan,
protein nabati tetap penting dikonsumsi karena ada nutrisi lain yang terdapat
pada bahan pangan sumber protein nabati, namun tidak terdapat pada bahan pangan
hewani. (Rilis/INF)

Agribiz Network

H SINGGIH JANURATMOKO SKH MM: PETERNAK SUKSES, KINI MELENGGANG KE SENAYAN

Singgih Januratmoko (Foto: Istimewa)

Dua
puluh tahun sudah, Singgih Januratmoko secara totalitas sebagai peternak.
Dikenal juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar)
Indonesia periode 2014 – 2019, rekan-rekannya mendorong Fungsionaris Pusat DPP Partai
Golkar ini untuk berkontribusi lebih melalui parlemen.

Pendiri
dan pemilik Janu Putra Group ini dinyatakan berhasil melenggang ke DPR RI untuk
periode 2019-2024 mendatang.
Pria
kelahiran Sleman 7 Januari 1976 ini merupakan orang pertama dari kalangan
peternak unggas rakyat yang akan duduk di DPR, setelah bertarung di Dapil Jawa
Tengah meliputi Kabupaten Boyolali, Kota Surakarta, Kabupaten Klaten, dan
Kabupaten Sukoharjo.
Infovet
pada Jumat, 15 Februari 2019 lalu berkesempatan berjumpa dengan Singgih di
kawasan Jakarta Utara. Singgih mengatakan, tujuan utamanya menjadi anggota
parlemen adalah memperjuangkan nasib peternak unggas rakyat yang selama ini
menderita akibat harga unggas di peternak yang terus tertekan.
Berbincang
santai, alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini
bercerita awal mula merintis usaha ternak ayam.
Semasa
kuliah, Singgih memang berkeinginan kuat untuk membuka usaha sendiri. Menciptakan
lapangan kerja dan bisa berbagi dengan sesama merupakan tujuan utamanya.
Usai
memperoleh gelar Strata Satu di tahun 1999, Singgih saat itu memulai usaha
peternakan ayam kecil-kecilan. Tanpa disangka usaha ini dapat berkembang pada
saat itu.

“Sebenarnya
dulu bisa dikatakan saya meneruskan usaha ternak ayam layer milik ayah,” kata
pria 

kelahiran Sleman, 7 Januari 1976 ini.
Selanjutnya,
Singgih mulai mandiri beternak ayam broiler dengan pola kemitraan perusahaan
(inti) dengan peternak (plasma).
Ketekunannya
membuahkan hasil, hingga  sudah memiliki
puluhan kandang breeding farm dan hathcery yang terdapat di Wonosari dan
Purbalingga, di bawah bendera Janu Putra Group.
Janu
Putra Grup didirikan Singgih pada tahun 2002. Dua perusahaannya yaitu PT Janu
Putra Sejahtera (Breeding dan Layer) dan PT Janu Putra Barokah
(Kemitraan) telah berkembang pesat.
Menurut
Singgih, menjadi peternak ayam, tekun saja tidak cukup jika tidak dibarengi
dengan kesiapan mental dalam menghadapi segala tantangan.
“Terpenting
adalah kesiapan diri untuk bertahan di masa-masa sulit,” ujar suami Sova
Marwati ini.
Masa
sulit yang dimaksud, Singgih mencontohkan ketika ayam terserang penyakit, harga
jual ayam rendah, hingga mahalnya harga pakan.
“Seperti
sekarang nih, Harga Pokok Produksi (HPP) mahal sebisa mungkin menerapkan
strategi supaya efisien semuanya,” tambah dia.
Lebih
lanjut, ayah tiga anak ini mengatakan bahwa kendala teman-teman peternak
sekarang adalah permodalan.
“Banyak
bank yang sekarang ini tidak percaya, karena memang banyak kasus-kasus
terdahulu yang kreditnya macet,” terangnya.
Imbuh
Singgih, tepatnya tahun 2014 sampai tahun 2016 usaha breeding ayam mengalami
masa masa berat dan banyak sekali peternakan closed house yang gulung tikar.
“Banyak
yang akhirnya macet atau tidak terbayar sampai bank enggak percaya lagi,”
katanya.
Selain
persoalan modal, sambung Singgih, duka peternak ketika harga jual jatuh dan
pasti ada rasa was-was dengan resiko penyakit seperti AI, IBH, dan harga jagung
yang jatuh.     
Sekilas
flashback di tahun 2017 silam,
sebanyak empat kandang berisi sekitar 30 ribu ekor ayam potong miliknya hangus
terbakar.
“Betul
ada masalah pada listrik waktu itu, namun ya
kami belajar dari kejadian itu untuk lebih hati-hati ke depannya,” ujarnya.
Rintangan
demi rintangan disikapi dengan tenang oleh Singgih. “Lebih banyak suka. Rasanya
luar biasa dapat menikmati kerja keras dari usaha mandiri, kemudian bisa membuka
lapangan kerja sekaligus berbagi ke sesama,” ungkap lulusan Magister Manajemen
Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta ini. 
Kampanye Gizi Terus Berlanjut
Bersama
Pinsar, kampanye peduli gizi dengan mempromosikan ayam dan telur terus digelar
di berbagai kota.
Mengaku
senang, Singgih mengemukakan kalangan masyarakat seringkali memberi feedback usai kegiatan Hari Ayam dan
Telur Nasional (HATN).
“Ada
pastinya warga yang memberi tanggapan ke Pinsar dan minta kegiatan promosi ayam
telur rutin dilaksanakan,” katanya.
Selain
feedback dari warga masyarakat,
terdapat juga peternak yang menyampaikan kepada Pinsar bahwa terjadi peningkatan
daya beli ayam dan telur di pasaran.
Target penyelenggaraan HATN, tegas Singgih, bukan saja meningkatkan konsumsi ayam
dan telur, namun juga memberi edukasi kepada masyarakat bahwa daging ayam aman
dikonsumsi serta bebas dari suntikan hormon yang isunya selama ini beredar.
“Peternak
rakyat jangan sampai hilang dan harus terus berkembang lagi. Perjuangkan teman-teman
yang masih bersemangat beternak mandiri,” tandas Singgih ketika ditanya harapannya
pada masa depan peternakan Tanah Air.
Seiring
dengan alih teknologi, diharapkan para peternak ayam secara perlahan tetapi
pasti memperbaharui kandangnya menjadi closed
house
.
Singgih
menambahkan, banyak orang lokal yang pandai membuat kandang ayam tanpa harus
impor dari negara luar. “Kita bangun kandang ayam pakai brand lokal, banyak kok.
Soal kualitas pun sudah layak,” sambungnya.   
Penuh
tekad, Singgih akan bekerja sungguh-sungguh untuk menghasilkan karya nyata yang
dapat diterima semua masyarakat, guna meningkatkan derajat hidup rakyat
khususnya petani dan peternak dengan berpegang kepada prinsip keadilan sosial.
(NDV)

Agribiz Network

PEMOTONGAN SAPI BETINA PRODUKTIF SUKSES DITEKAN

Pemotongan sapi betina produktif bisa ditekan dengan upaya-upaya yang dilakukan Kementan bekerjasama Baharkam Polri. (Istimewa)

Hasil kerjasama Kementerian Pertanian dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terbukti menunjukkan hal positif dalam menekan laju pemotongan sapi betina produktif.

Melalui release-nya, Rabu (13/3), Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menyampaikan, berdasarkan data Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS), tercatat penurunan pemotongan ternak ruminansia betina produktif mencapai 47,10% periode 2017-2018. 

“Angka ternak betina produktif yang dipotong pada 2017 sebanyak 23.078 ekor menurun menjadi 12.209 ekor di 2018. Hal ini tentu sangat mendukung kegiatan utama kami yakni Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) guna memacu produksi dan populasi sapi dalam negeri,” kata Ketut.

Menurutnya, pencapaian tersebut adalah hasil nyata dari pelaksanaan kerjasama pengendalian pemotongan betina produktif bersama Baharkam Polri sejak Mei 2017 lalu. Keberhasilan penurunan pemotongan betina produktif ini tentu tidak terlepas dari peran dan keterlibatan jajaran kepolisian melalui kegiatan sosialisasi dan pengawasan yang bersinergi di lapangan.

“Kami sangat mengapresiasi Baharkam dan jajarannya yang telah melakukan pengawasan kelompok ternak, pasar hewan dan check point, dari hulu sampai hilir di Rumah Potong Hewan atau di tempat pemotongan di luar RPH,” ucapnya.

Kombes Pol. Asep Tedy Nurassyah dari Baharkam Polri mengatakan, pihaknya mendukung penuh kegiatan tersebut sampai di tingkat desa (Bhabinkamtibmas). Menurutnya pelarangan penyembelihan sapi betina produktif telah tertuang dalam UU No. 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Untuk tindakan di lapangan, kita lakukan sosialisasi, pengawasan dan pembinaan, sedangkan terhadap pelanggaran yang ditemukan akan dilakukan penegakkan hukum sesuai peraturan dengan melihat karakteristik masyarakat yang dihadapi, sehingga masyarakat merasa terbina dan terayomi,” kata Asep.

Ia mengungkapkan, ada beberapa daerah yang sudah memproses kasus pelanggaran tersebut secara hukum, mulai dari surat teguran, surat pernyataan untuk tidak melakukan tindakan pelanggaran dan ada yang sudah sampai ke taraf penyidikan. “Polri telah mengimbau untuk tidak memotong sapi betina produktif karena bisa mengakibatkan sanksi pidana,” tandasnya.

Jika terbukti ditemukan adanya pemotongan ternak ruminansia besar betina produktif dapat dikenakan ancaman pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama tiga tahun dan denda sebanyak 100 sampai 300 juta rupiah. (INF)

Agribiz Network