KEMATIAN TERNAK BABI DI DAIRI MASIH DISELIDIKI PEMERINTAH

Ilustrasi babi (Foto: Pixabay)

Penyebab
kematian ternak babi yang terjadi di Sumatera Utara masih dalam proses
penyelidikan Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan
(PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjar Sumping Tjatur Rasa.

Termasuk,
atas laporan kematian puluhan ternak babi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
Saat ini, kata Fadjar, pemerintah masih menunggu hasil uji laboratorium. Fadjar
menegaskan, kewaspadaan harus ditingkatkan karena saat ini sedang merebak virus
African Swine Fever (ASF) atau demam
babi Afrika di sejumlah negara di dunia, termasuk Asia Tenggara. 
“Upaya
yang bisa dilakukan adalah biosekuriti dan vaksinasi. Kecuali, jika ASF suda masuk,
tidak ada vaksinnya. Sampai saat ini, kami belum bisa menyatakan akibat ASF
karena dari hasil pengujian masih ada positif Hog Cholera. Seperti kejadian di Minahasa, ternyata karena Hog Cholera. Namun, meski demikian, kita
harus waspada karena ASF sudah masuk di Filipina, yang dekat ke Sulawesi Utara,”
kata Fadjar, Minggu (13/9).
Sementara
itu, Ditjen PKH Kementan telah mengadakan pelatihan termasuk analisis risiko
kepada Dinas Kabupaten di seluruh Sumatera Utara pada 7-8 Oktober 2019.
“Mengingat
urusan kesehatan hewan sudah menjadi otonomi dan kewenangan daerah, kami hanya
bisa melalui pemerintah daerah (dinas yang membidangi PKH). Meski demikian,
kami selalu berkoordinasi dan bekerja bersama pemda, melalui dinas yang
menangani kesehatan hewan. Khusus Provinsi Sumatera Utara dan pemerintah
kabupaten/ kota, kami telah bersama-sama melakukan upaya untuk membantu para
peternak babi yang terkena musibah kematian ternak,” tutur dia.
Saat
ini masih terus dilakukan pemantauan serta telah dikirimkan bantuan tambahan
disinfektan, alat semprot, alat pelindung diri (APD), serta membentuk tim untuk
di lapangan.
 “Kami masih menunggu konfirmasi hasil
laboratorium dan nanti rapat dengan komisi ahli kesehatan hewan. Jadi, intinya
terhadap kasus kematian babi ini harus segera dilakukan upaya biosekuriti dan
pengawasan lalu lintas ternak babi dan produknya. Serta, menjaga tidak ada
penyebaran penyakit ke daerah lainnya. Sambil mewaspadai ASF yang sulit
dikendalikan karena belum ada vaksinnya,” terang Fadjar.  
Apalagi,
virus ASF sangat tahan dan bisa terbawa oleh hewan, produk hewan segar dan
olahan, terbawa sepatu, baju dan alat alat peternakan, serta alat
angkut/kendaraan yang keluar masuk peternakan atau daerah tertular ASF,”
kata Fadjar. (Sumber: Investor Daily)

Agribiz Network

FAPET UGM DAN PEMKAB TANA TIDUNG KEMBANGKAN APLIKASI RECORDING TERNAK ONLINE

 

 

Tim Fapet UGM saat mensosialisasikan ke masyarakat perihal software recording ternak online di Kabupaten Tana Tidung. (Foto: Dok. UGM)

 

Aplikasi recording atau pencatat hewan ternak
Sipedet (Sistem Pengembangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Terpadu) dikembangkan
Fakultas Peternakan (Fapet) UGM bekerja sama dengan Dinas Pertanian, Pangan dan
Perikanan Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.
Sipedet merupakan
sistem informasi pertama di Indonesia yang membantu pendataan ternak di wilayah
Kabupaten Tana Tidung. Aplikasi ini dapat diakses melalui komputer atau HP
tanpa harus membuka web browser
karena telah didukung fitur progressive
webapp
.
Menggunakan aplikasi
Sipedet, peternak dapat menyimpan berbagai data mengenai ternak, antara lain
data identitas ternak, distribusi ternak, stock
opname
ternak, kesehatan ternak, dan undang-undang mengenai peternakan.
Galuh Adi Insani SPt MSc,
dosen Fapet UGM selaku salah satu tim pengembangan aplikasi Sipedet mengatakan,
aplikasi ini dibuat karena kondisi kelompok ternak di Kabupaten Tana Tidung
tersebar dan lokasinya sangat berjauhan, sehingga untuk melaporkan hasil recording ke dinas mengalami banyak
kendala secara geografis dan tidak bersifat real time.
Ketika data ternak
telah diinput secara lengkap, peternak dapat mengetahui data silsilah ternak
secara otomatis, mengetahui lokasi keberadaan ternak unggul (yaitu melalui data
sebaran kelompok ternak yang dihubungkan dengan data kepemilikan ternak),
mengetahui persebaran dan mutasi ternak, menentukan lokasi kelompok ternak yang
dapat dijadikan target pemberian bantuan dan lokasi penyuluhan peternakan,
otomatisasi surat ternak, dan yang  saat ini sedang dikembangkan adalah
menentukan perangkingan ternak berdasarkan data performa yang telah diinputkan
ke dalam sistem.

Ada beberapa fitur
utama dalam Sipedet, yaitu Sikambing (Sistem Informasi Perkembangan
Recording), Sisapi (Sistem Informasi
Sarana Pelayanan Dan Distribusi), Siopname (Sistem Informasi Stock Opname), Sidomba
(Sistem Informasi Dokumentasi Barang) Sikawan (Sistem Pelayanan Perizinan
Peternakan Dan Kesehatan Hewan), dan Sipudang (Sistem Informasi
Perundang-undangan).

Software
ini telah diperkenalkan oleh Ir Nanung Agus Fitriyanto SPt MSc PhD IPM selaku wakil dari Direktur Pengabdian Kepada Masyarakat dan Dekan Fakultas
Peternakan UGM pada 3 Oktober 2019 dalam
acara puncak kegiatan
Bulan Bhakti Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2019 Kabupaten Tana Tidung.

 

Agribiz Network

PAKAN PRODUKSI MAHASISWA UNISLA INI TINGKATKAN BOBOT TERNAK

 

 

Pakan PelletKu produksi mahaasiwa Fapet UNISLA (Foto: Istimewa)

 

Mahasiswa Fakultas Peternakan
(Fapet) Universitas Islam Lamongan (UNISLA) berinovasi dengan membuat produk
pakan ternak unggul dengan brand
“PelletKu”.
PelletKu merupakan pakan ternak
produk mahasiswa Fapet UNISLA yang diikutsertakan dan dinyatakan lolos dalam
seleksi Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) 2019, program Kementerian
Riset dan Teknologi yang diikuti seluruh mahasiswa Indonesia.
“Ide bisnis dari mahasiswa kami salah satunya adalah memproduksi pellet untuk pakan sapi dan kambing dengan label PelletKu,”
ungkap Kaprodi Fapet UNISLA, Wahyuni SPt, MSi, dihubungi Redaksi Infovet, Selasa (8/10/2019).
Pekan lalu, Didin Harianto
mahasiswa Fapet UNISLA beserta rekan satu kelompok mensosialisasikan PelletKu
di hadapan para peternak Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan.
(Dari kiri ke kanan) Didin Harianto, Kades Tenggulun, Nova Dinda Natasyah.

Konsentrat
pakan ini memiliki keunggulan membuat ternak sehat dan bobot meningkat dengan cepat. Selain itu, ternak tidak perlu lagi diberi pakan tambahan, karena
PelletKu sudah termasuk complete feed
atau sudah memenuhi kebutuhan gizi ternak dan formulasinya sudah lengkap.

“Keunggulan lainnya adalah pakan
ini tidak berdebu, sehingga pakan yang diberikan tidak mempengaruhi kesehatan
ternak,” kata Wakil Dekan Fapet UNISLA, Dyanovita (Novi) Al
Kurnia SPt, MAgr, Selasa (8/10/2019).
Lebih lanjut dijelaskan Novi, PelletKu
diolah dengan bahan baku dedak, kedelai, pollard molasses (silase jerami
jagung) dan berbagai limbah pertanian lain yang mudah diperoleh di kawasan
Lamongan.  
“Rencananya, pakan ini akan
diproduksi dalam jumlah banyak dan nantinya di-trial oleh mahasiswa Fapet
semester akhir,” ungkap Novi.
Novi berharap, ke depan usaha
mahasiswa Fapet UNISLA ini tetap berjalan dan terus mengembangkan jangkauan ke
pasar yang lebih luas.
Kelompok mahasiswa Unisla yang
mengikuti KBMI 2019 ini diketuai Didin Harianto dengan Abdullah Fanani, Nur
Khasanah, Arya Adhi Prasetyo dan Nova Dinda Natasyah sebagai anggota. (NDV)

Agribiz Network

KEMENTAN: EKSPOR PAKAN TERNAK KE TIMOR LESTE MENINGKAT

 

 

Seremonial pemotongan pita pelepasan ekspor pakan unggas PT Sinar Indochem (Foto: Humas Kementan)
Direktur Pakan, Sri Widayati hadir
dalam pelepasan ekspor perdana pakan unggas produk PT Sinar Indochem sebanyak 200 ton
pakan layer ke Negara Timor Leste dari total 300 ton.
“Ekspor pakan ternak ke Timor
Leste meningkat, dari sebelumnya pada tahun 2018 sebesar 4,33 ribu ton atau
senilai USD 0,785 juta menjadi sebesar 3,2 8 ribu ton atau senilai USD 1,087
juta hanya untuk semester pertama tahun 2019 (Januari-Juli 2019) saja. Ekspor
pakan ternak tahun 2019 ini telah melebihi pencapaian volume ekspor tahun
sebelumnya,” terang Sri Widayati, Senin (30/9) di Sidoarjo, Jawa Timur.  
Sri Widayati menegaskan bahwa pemerintah
akan terus mengawal dalam pengurusan proses persetujuan ekspor secara Government to Government dengan
negara-negara yang menjadi target ekspor. “Persetujuan ekspor pakan ke negara
Timor Leste tersebut dilakukan setelah sebelumnya diadakan Import Risk Analysis oleh Tim Delegasi Republik Demokratik Timor
Leste pada tanggal 26–28 Agustus 2019, yang difasilitasi oleh Kementerian
Pertanian,” ungkapnya.
Menurut Sri Widayati, saat ini
jumlah pabrik pakan skala besar di Indonesia mencapai 87 pabrik dengan produksi
pakan tahun 2018 sebesar 19,4 juta ton dan rencana produksi pakan tahun 2019
akan mencapai sebesar 20,5 Juta ton atau meningkat sebesar 6% dari tahun 2018.
“Sampai saat ini jumlah pabrik pakan yang telah mendapatkan sertifikat Cara
Pembuatan Pakan yang Baik (CPPB) dari Kementerian Pertanian sebanyak 70% dari
total 87 pabrik pakan yang ada, dimana salah satunya PT. Sinar Indochem,
sedangkan sisanya dalam proses audit” jelasnya.
Lanjut Sri Widayati menjelaskan
bahwa dalam rangka mewujudkan jaminan mutu dan keamanan pakan, maka setiap
tahun terus dilakukan audit CPPB terhadap pabrik pakan yang baru maupun yang
melakukan perpanjangan sertifikat CPPB. Sertifikat ini merupakan upaya
penjaminan pemerintah, sekaligus nilai tambah bagi perusahaan dan memberikan
kemudahan dalam akses untuk ekspor. Berdasarkan data BPS dan Pusat Data
Kementerian Pertanian, total ekspor komoditas peternakan ke Negara Timor Leste
tahun 2018 senilai USD 9,53 juta sedangkan data tahun 2019 bulan Januari sampai
dengan Juli tercatat senilai USD 6,27 juta.
Pada acara tersebut hadir juga Bupati
Kabupaten Sidoarjo Saiful Ilah, yang turut mengapresiasi bertambahnya pelaku ekspor
pakan ternak di tengah ketatnya persaingan merebut pasar global. Dia menegaskan,
bahwa pihaknya berkomitmen dalam mempermudah perijinan usaha untuk mendukung
berkembangnya perekonomian, serta mendorong ekspor produk dari wilayahnya.
Dukungan senada juga disampaikan
oleh Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Wemmi Niamawati yang
menyampaikan bahwa Provinsi Jatim memiliki 24 unit feedmill dengan total kapasitas 5,7 juta ton per tahun. Saat ini
kapasitas tersebut baru berproduksi 4 juta ton per tahun. Artinya Provinsi Jawa
Timur masih mampu meningkatkan produksi pakan. Disamping itu Provinsi Jawa
Timur juga memiliki 43 unit breeding farm
unggas yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur
berkomitmen dalam pengawasan mutu pakan yang berkualitas tinggi. Hal ini
terbukti dengan pemanfaatan alokasi APBN, APBD maupun Dana Alokasi Khusus (DAK)
untuk melaksanakan peningkatan mutu dan pengawasan keamanan pakan ternak di Provinsi
Jawa Timur”, imbuhnya.
Menutup sambutannya, Sri Widayati
berpesan bahwa dengan mulai terbukanya akses pasar, diharapkan semua pelaku
usaha dapat terus meningkatkan kuantitas maupun kualitas produk siap ekspor.
“Saya sangat berharap
produk-produk peternakan Indonesia lebih mampu bersaing di jalur perdagangan
internasional. Hal ini kiranya sekaligus dapat memotivasi para pelaku usaha
lain untuk tetap berupaya melalukan percepatan ekspor komoditas peternakan melalui
peningkatan kualitas produksi dan promosi ke negara lain,” pungkasnya.
(Rilis/INF)

 

Agribiz Network

TERNAK YANG SEHAT DIMULAI DARI USUS YANG SEHAT

 

 

Pemberian pakan pada ternak broiler. (Foto: Dok. Infovet)



Berdasarkan survei yang dilakukan Kementrian Pertanian bersama FAO Indonesia pada 2017 di beberapa wilayah sentra produksi unggas, penggunaan antimikroba pada sektor peternakan masih sangat tinggi. Dari hasil survei diketahui bahwa peternak menggunakan antibiotik pada unggas untuk pencegahan sebesar 81,4%, untuk pengobatan sebanyak 30,2% dan masih ada peternak yang menggunakan antibiotik untuk pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promoter/AGP) sebanyak 0,3%.


Maraknya penggunaan antibiotik di industri perunggasan ini disertai kekhawatiran timbulnya resistensi antibiotik (AMR) yang menjadi alasan pemerintah menetapkan larangan penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan. Peraturan tersebut disahkan dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 14/2017.


Setelah adanya penerapan peraturan tersebut, beberapa testimoni melaporkan bahwa pencabutan AGP mempengaruhi performa ayam broiler, antara lain pertambahan bobot berat badan, Feed Conversion Ratio (FCR), masa panen dan penurunan kualitas kesehatan ternak, terutama kesehatan saluran cerna. Demikian pula pada ayam layer terjadi penurunan produktivitas yaitu produksi, bobot dan penurunan sistem imun.


Dalam menyikapi permasalahan tersebut perlu dilakukan perbaikan dalam berbagai hal, seperti manajemen pemeliharaan kesehatan, manajemen pakan dan biosekuriti. Selain itu, untuk menggantikan peran AGP, bahan alternatif yang bisa digunakan sebagai imbuhan pakan antara lain adalah mineral, enzim, asam organik, probiotik, prebiotik dan minyak esensial.


Probiotik sebagai salah satu alternatif pengganti AGP merupakan mikroba atau bakteri hidup yang digunakan untuk membantu memperbaiki kesehatan, terutama sistem pencernaan dengan tujuan meningkatkan keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan dan mengurangi mikroba patogen seperti Eschericia coli, Salmonella dan Clostridium.


Kelebihan lain dari probiotik adalah sebagai bioregulator mikroflora dalam usus dan menguatkan kekebalan alami tubuh, sebagai kompetitor tempat kolonisasi pada membran mukosa usus sehingga mikroorganisme patogen terhalang untuk menghuni saluran pencernaan (kompetisi nutrisi). Memproduksi senyawa tertentu untuk menyerang bakteri patogen seperti bakteriosin, asam organik dan hidrogen peroksida. Selain itu, probiotik dapat merangsang sistem imun dengan cara menciptakan kondisi usus yang fungsional dan menghambat perkembangan bakteri merugikan.


Sebagai pengganti AGP, probiotik dapat dibuat dari monokultur atau konsorsium beberapa mikroorganisme probiotik. Mikroorganisme yang biasa digunakan untuk probiotik dari golongan bakteri adalah strain Bifidobacterium, Enterococcus, Lactobacillus, Bacillus, Pediococcus dan Streptococcus, selain bakteri beberapa probiotik juga mengandung ragi dan jamur (Yirga H 2015, The Use of Probiotics in Animal Nutrition. J. Prob. Health 3 132).


Sedangkan prebiotik merupakan bahan makanan terhadap mikroba-mikroba yang menguntungkan dan menekan mikroba yang merugikan dalam pencernaan. Prebiotik tidak selalu merupakan mikroba hidup seperti halnya probiotik. Beberapa hasil fermentasi seperti yeast culture atau Aspergillus sp. dilaporkan dapat dipakai sebagai prebiotik. Prebiotik digunakan sebagai ramuan yang tidak dapat dicerna yang menghasilkan pengaruh menguntungkan terhadap inang dengan cara merangsang secara selektif pertumbuhan satu atau lebih sejumlah mikroba terbatas pada saluran pencernaan, sehingga dapat meningkatkan kesehatan inang. Prebiotik juga memiliki kelebihan dalam membantu meningkatkan kinerja dari probiotik, sumber energi probiotik, serta meningkatkan sistem imun tubuh. 


Suatu bahan dapat diklasifikasikan sebagai prebiotik harus memiliki syarat, antara lain tidak terhidrolisis asam lambung dan tidak diserap usus, menginduksi efek luminal inang, serta hanya mempengaruhi pertumbuhan bakteri baik di dalam usus. Selain itu, prebiotik yang baik harus memiliki sifat tidak dapat dimanfaatkan oleh bakteri patogen sebagai sumber nutrisi. Contoh prebiotik adalah Inulin, Laktulosa, Frukto oligosakarida (FOS) dan Galakto oligosakarida yang ditemukan pada beberapa jenis tumbuhan.


Sementara sinbiotik merupakan kombinasi antara probiotik dan prebiotik. Penambahan mikroorganisme hidup (probiotik) dan substrat (prebiotik) untuk pertumbuhan bakteri misalnya FOS dengan Bifidobacterium atau Lactitol dengan Lactobacillus. Kombinasi ini akan meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik karena substrat yang spesifik telah tersedia untuk fermentasi, sehingga tubuh mendapatkan manfaat yang lebih sempurna. Dipastikan bakteri tetap hidup bekerja dalam saluran pencernaan dan melekat dalam mukosa usus, karena terdapat substrat atau makanannya (prebiotik).


Bahan imbuhan pakan sebagai alternatif AGP akan terus dikembangkan seiring dengan kebutuhan industri peternakan di Indonesia. Bagi industri pakan ternak masih terbuka peluang bisnis cukup besar dengan menciptakan produk-produk zat aditif baru dengan nilai ekonomis tinggi. Sedangkan tantangan bagi peternak, bagaimana mempertahankan performa di era bebas AGP ini dengan pemanfaatan bermacam alternatif pemacu pertumbuhan bagi ternak. ***

Ditulis oleh divisi Veterinary Section

PT Meiji Indonesian Pharmaceutical Industries

Agribiz Network

JAPFA COMFEED TARGETKAN EKSPOR PAKAN TERNAK 1.000 TON KE TIMOR LESTE

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (Foto: Istimewa) 
Emiten perunggasan PT Japfa
Comfeed Indonesia Tbk. (JAPFA) melakukan ekspor perdana produk pakan ternak ke
Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) sebanyak 40 ton.
Rachmat Indrajaya, Direktur
Corporate Affairs Japfa Comfeed Indonesia, mengatakan perseroan menargetkan
volume ekspor pakan ternak ke Timor Leste bisa mencapai 1.000 ton sampai akhir
tahun ini. Produk pakan ternak Japfa dipesan oleh perusahaan peternakan Happy
Farm.
 “Pelepasan ekspor pakan ternak perdana ini
merupakan bentuk perluasan pasar Japfa ke pasar internasional, sesuai dengan
komitmen Japfa untuk mendukung pemerintah dalam upaya mendongkrak pendapatan
devisa negara melalui akselerasi volume komoditi ekspor,” katanya dalam
keterangan resmi, Jumat (13/9/2019).
Rachmat menambahkan ekspor pakan
ternak ini menjadi bentuk pecapaian dan pengakuan standar kualitas dan mutu
pakan ternak Japfa. Pasalnya, untuk dapat menjadi pengekspor pakan ternak harus
melewati serangkaian uji teknis dan klinis bersertifikasi internasional.
Selain pakan ternak, JAPFA pun
akan mengekspor day old chicken (DOC) broiler dan
layer, karkas ayam broiler, dan produk olahan.
Rachmat menegaskan emiten berkode
saham JAPFA itu akan terus menjaga kualitas semua produknya guna dapat terus
bersaing dalam pasar internasional.
Pada semester I/2019, JAPFA
mencatatkan pendapatan sebesar Rp18,24 triliun tumbuh 9,22% secara tahunan dari
posisi sebelumnya Rp16,70 triliun. Segmen peternakan tercatat sebagai
kontributor utama dengan raihan Rp7,16 triliun naik tipis yakni 0,56% dari
posisi sebelumnya Rp7,12 triliun.

Posisi kedua ditempati segmen
pakan ternak Rp6,93 triliun tumbuh 19,11% dari periode yang sama tahun lalu
Rp5,86 triliun. Ada segmen DOC sebesar Rp1,65 triliun yang naik 14,5% dari
posisi tahun lalu Rp1,44 triliun. (Sumber: market.bisnis.com) 

Agribiz Network

PRESIDEN JOKOWI TINJAU KAPAL TERNAK

Presiden Jokowi saat meninjau Kapal Ternak Camara Nusantara. (Foto: Humas Kementan) 

Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke Kapal Ternak Camara Nusantara
(CN) 3, Rabu (21/8). Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut
Diarmita mengemukakan, Presiden Jokowi tidak hanya melihat proses loading
masuknya ternak sapi ke kapal ternak, namun juga ikut menaiki kapal untuk
melihat langsung sapi yang telah memasuki kandang dalam kapal ternak CN 3.

“Kunjungan Bapak Presiden Joko
Widodo melihat kapal ternak, merupakan bukti dukungan dan perhatian beliau yang
besar kepada pembangunan peternakan”, ujar Ketut dalam keterangan resmi yang diterima Infovet, Jumat (23/8). 

Pada kunjungan tersebut, Presiden
menyampaikan rasa syukurnya bahwa telah tersedia kapal ternak yang melayani
pengangkutan ternak sapi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk tujuan
pulau Jawa terutama Jakarta dan sekitarnya dalam kondisi muatan penuh. 

Lebih
lanjut Presiden Jokowi menyampaikan harapannya, bahwa ke depan ternak-ternak
sapi NTT juga ada yang dikirim dalam bentuk daging beku ke wilayah konsumen.
“Oleh karena itu, kita harus
terus bersinergi dan bahu-membahu antara pemerintah dan stakeholder, untuk
dapat mewujudkan harapan Bapak Presiden,”ujar Ketut.
Menurut Ketut, sejak diresmikan
penggunaan Kapal Khusus Ternak oleh Pemerintah, pada 10 November 2015 hingga
pertengahan 2019, jumlah ternak yang telah diangkut menggunakan dengan moda
transportasi ini dari wilayah produsen mencapai 147.164 ekor.
“Melalui kapal ternak ini, kita
berharap keberadaan ternak dan dinamika ketersediaan ternak di Indonesia dapat
terpantau dengan baik, sehingga kebijakan yang diambil pemerintah dalam
penyediaan daging sapi menjadi lebih optimal,” ungkapnya.
Lanjut Ketut, pemanfaatan kapal
ternak ini dapat dioptimalkan untuk mengisi muatan balik kapal dengan produk
yang dibutuhkan di daerah produsen sehingga terjadi peningkatan hubungan
perdagangan yang lebih baik antar-daerah. “Hal ini perlu dukungan pemerintah
daerah dalam memaksimalkan efektifitas pemanfaatan kapal ternak ini yang pada
akhirnya mendukung pembangunan peternakan kedepan yang lebih baik,” ungkap
Ketut.
Anis salah satu pengirim ternak
sapi pengguna kapal ternak, yang juga berada di lokasi tersebut menyampaikan
kebahagiaannya dapat bertemu Presiden Jokowi pada saat proses loading ternak
sapinya ke CN 3. Anis merasakan manfaat dengan adanya kapal ternak, yang dapat
mengangkut ternak sapi dari Provinsi NTT ke Jakarta, Samarinda dan Banjarmasin.
“Senang pakai kapal ternak karena
susut bobot badan sapi sampai tempat tujuan lebih kecil dibanding pakai kargo
dan sapinya lebih terjamin selama perjalanan,” ungkap Anis.
Menurutnya penurunan bobot badan
sapi yang diangkut dengan kapal ternak, berdasarkan pengalamannya selama ini
kurang dari 10%, sedangkan kapal kargo lebih dari 10%.“Pengadaan kapal ternak
merupakan progam pemerintah yang sangat bagus, solusi bagi kami peternak di
NTT,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan
Benny, pengirim ternak sapi pengguna kapal ternak, saat ditemui di Pasar Ternak
Lili Kabupaten Kupang. Benny lebih suka mengirimkan ternak-ternak sapinya
menggunakan kapal ternak, karena penurunan bobot badan sapinya lebih rendah
dibanding menggunakan kapal kargo. Berdasarkan pengalaman Benny, penurunan
bobot badan ternak sapi yang dikirim dengan kapal ternak lebih rendah berkisar
6-8%, dibandingkan dengan kapal kargo yang mencapai 12-15%.
Mendengar lansung apresiasi dari
peternak terkait Kapal Ternak, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Peternakan Kementerian Pertanian Fini Murfiani mengatakan pengiriman sapi
melalui fasilitasi kapal khusus ternak membuat kualitas ternak dapat terjaga dari
tempat asal hingga ke wilayah tujuan konsumsi. Karena memperhatikan prinsip
kesejahteraan hewan untuk menciptakan kondisi nyaman bagi hewan ternak dalam masa
pengangkutan dan pengiriman.
“Dampak kapal ternak ini juga
dapat meminimalisasi penyusutan bobot ternak karena sering terjadi kasus
kematian karena penanganan hewan ternak yang kurang layak di atas kapal,” kata
Fini.
Kepala Dinas Peternakan Propinsi
NTT, Danny Suhadi mengungkapkan bahwa pihaknya sangat berterima kasih atas
fasilitasi kapal ternak dari pemerintah pusat untuk mengangkut sapi dari NTT
menuju wilayah produsen. Lebih lanjut Danny menjelaskan bahwa 5 kapal ternak
yang mengangkut ternak sapi dari NTT adalah kapal CN 1, CN 2, CN 3, CN 4 dan
CN6.
”Kelima kapal tersebut utk
distribusi ternak sapi NTT ke pulau Jawa terutama Jakarta dan pulau Kalimantan
melalui Samarinda dan Banjarmasin dengan muatan atau loading faktor rata-rata
mencapai 100% dari kapasitas muatan angkut kapal sebesar 500 ekor per kapal,” jelas Danny.(Rilis/INF)

Agribiz Network

EXPO PETERNAKAN DAN KONTES TERNAK JAWA BARAT 2019

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : [email protected]
Pemasaran : [email protected]

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: [email protected]

Agribiz Network

PRESIDEN JOKOWI TINJAU PROYEK PENGEMBANGAN TERNAK SAPI BELGIAN BLUE

Presiden Jokowi meninjau kawasan percontohan pengembangan sapi Belgian Blue (Foto: Humas Kementan)

Presiden Joko Widodo, Rabu (31/7)
melakukan kunjungan ke Desa Parsingguran, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang
Hasundutan, Sumatera Utara. Didampingi Bupati Humbang Hasundutan Dosmar
Banjarnahor, Kepala Negara meninjau proyek percontohan pengembangan ternak sapi
Belgian Blue.

Ada tiga anak sapi yang
didatangkan ke lokasi itu dan Jokowi berjanji akan menambah jumlahnya. Jenis
sapi tersebut dapat dikatakan sebagai jenis baru di Indonesia dan diharapkan
dapat menjadi bibit unggul bagi pemenuhan kebutuhan daging nasional di masa
mendatang.
Sapi Belgian Blue tersebut
memiliki bobot 1,5 ton apabila diternakkan dengan baik. Oleh karena itu, Presiden
berencana ika proyek percontohan di Desa Parsingguran ini berhasil,
proyek-proyek serupa akan turut dikembangkan di daerah lainnya.
“Sapi ini baru datang 3 hari, dari Menteri Pertanian. Kelihatannya
sapinya happy di kawasan ini. Oke,
berarti tambah lagi. Karena dari sapi, dari kerbau, nanti kotorannya bisa
dipakai untuk pupuk, arahnya organik seperti itu,” jelas Jokowi seperti
dikutip dari keterangan resmi yang diterima Infovet, (Kamis, 1/8).             
Jokowi menambahkan, anak sapi
tersebut akan dibesarkan. Jika benar-benar produktif, ada potensi untuk
dikembangkan di kawasan lain.
“Karena di Humbang Hasundutan
mungkin dikembangkan lagi, bisa di Karo, Tapanuli Utara,” pungkas Jokowi.
(Rilis/NDV)

Agribiz Network

MENJAGA MUTU BAHAN PAKAN TERNAK

Bahan pakan ternak wajib dijaga agar kualitasnya terjamin dan tidak membahayakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Bahan pakan ternak di Indonesia sebagian besar masih berkualitas rendah dan sangat bervariasi. Hal itu disebabkan karena adanya pengolahan yang tidak benar, serta pemalsuan. Kenyataan ini sangat memengaruhi kualitas ransum yang dihasilkan.


Dalam memproduksi pakan, produsen wajib menghasilkan dan mempertahankan kualitas ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak dan sesuai dengan yang tercantum dalam label pakan. Produsen juga harus menjaga agar ransum yang dihasilkan tidak membahayakan kesehatan ternak dan manusia sebagai konsumen produk  peternakan, serta menjamin bahwa semua bahan baku telah memenuhi standar kualita, dan tidak terdapat benda asing pada bahan baku atau ransum.


Untuk menjamin mutu pakan yang dihasilkan tersebut, maka dapat dilakukan dengan pengawasan mutu (quality control) pada tiap tahap proses produksi. Pengawasan mutu dilakukan pada setiap aktivitas dalam memproduksi pakan, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan, penyimpanan dan pengiriman.


Bahan baku yang digunakan sebagai input dalam industri pakan ternak diperoleh dari berbagai sumber dan mempunyai kualitas yang bervariasi. Penyebab beragamnya mutu bahan baku umumnya dikarenakan variasi alami (natural variation), pengolahan (processing), pencampuran (adulteration) dan penurunan kualitas (damaging and deterioration).


Itulah sebabnya mengapa secara berkala bahan baku pakan harus perlu dievaluasi, setidaknya dilakukan empat jenis evaluasi, yakni evaluasi fisik, biologi, kimia dan mikrobiologi:


1. Evaluasi fisik, pengujian bahan pakan secara fisik merupakan analisis pakan dengan cara melihat kondisi fisik bahan baku pakan. Pengujian secara fisik bahan pakan dapat dilakukan baik secara langsung (makroskopis) maupun dengan alat bantu (mikroskopis). Pengujian secara fisik, disamping dilakukan untuk mengenali bahan pakan secara fisik, juga berguna untuk mengevaluasi bahan pakan secara kualitatif. Namun, sebenarnya analisis secara fisik saja tidak cukup, karena adanya variasi antara bahan, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut, seperti analisis secara kimia, biologis atau kombinasi keduanya.


2. Evaluasi biologis, tujuan evaluasi bahan pakan secara biologis untuk mengetahui kecernaannya. Pengujian biologis sangat penting terutama untuk mengetahui nilai konversi pakan (FCR/feed conversion ratio). Namun demikian, nilai tersebut sebenarnya tidak merupakan angka mutlak, karena FCR tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi juga dipengaruhi faktor-faktor lain, diantaranya jenis ternak, umur ternak dan lain sebagainya. Semakin kecil nilai konversi pakan, berarti semakin baik kualitas pakan, karena akan semakin ekonomis. Untuk mengetahui nilai konversi pakan, perlu dilakukan pengujian lapangan dalam berbagai percobaan.


3. Evaluasi kimia, dimaksudkan untuk mengetahui persentase kandungan suatu zat yang terdapat pada suatu bahan pakan. Dari evaluasi itu, dapat diketahui kandungan gizi dari bahan pakan tersebut, misalnya kadar protein, lemak, karbohidrat, abu, serat dan kadar air. Hasil evaluasi kimia dapat dijadikan acuan untuk menentukan formulasi ransum, yaitu seberapa banyak bahan baku pakan tersebut akan digunakan dalam campuran formulasi ransum.


4. Evaluasi mikrobiologi, dalam uji mikrobiologi, sebuah mikroorganisme dipilih yang dikenal untuk menentukan nutrient yang ada. Jika nutrien yang akan diuji tidak ada, maka mikroorganisme yang dipilih tidak akan tumbuh.


Begitulah penjelasan mengapa perlunya bahan baku pakan melalui empat tahap evaluasi, agar aman dan terjamin kualitasnya.


Kemudian, pengolahan bahan baku yang tidak benar juga dapat menyebabkan kandungan zat pakan menjadi berubah. Bahan baku pakan yang terkontaminasi atau sengaja dicampur dengan benda-benda asing, dapat menurunkan kualitasnya, sehingga perlu dilakukan pengujian secara fisik untuk menentukan kemurniannya.


Penurunan kualitas bahan baku pakan dapat terjadi karena penanganan, pengolahan atau  penyimpanan yang kurang tepat. Penanganan bahan baku yang tidak benar dapat menyebabkan kerusakan sebagai akibat adanya serangan jamur (karena kadar air tinggi), ketengikan (bau) dan serangan serangga.




Ransum Berkualitas Baik
Menurut Ketua Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI), Prof Nahrowi, ciri ransum yang baik harus memenuhi beberapa hal, diantaranya ransum harus seimbang, yakni mempunyai semua nutrien dalam jumlah yang benar sesuai kebutuhan ternak. Pembuatan ransum juga harus memerhatikan aspek lingkungan kandang, seperti suhu dan kelembaban lingkungan. Kemudian, ransum juga semestinya yang palatable atau disukai ternak, serta harga yang bersaing. Selain itu, ransum yang baik juga ditandai dengan pencampuran bahan bakunya yang merata, baik dari bahan micronutrients maupun feed additives-nya, serta tidak mengandung unsur berbahaya bagi ternak.


Untuk meminimalkan variasi kualitas ransum yang dihasilkan, AINI menyarankan beberapa langkah, diantaranya:
• Mengetahui asal-usul bahan pakan yang akan digunakan.
• Melakukan uji fisik dan kimia terhadap bahan pakan sebelum formulasi ransum.
• Penanganan yang baik untuk bahan pakan yang akan disimpan.
• Meminimalisasi kesalahan selama proses pembuatan pakan, termasuk saat proses pencampuran.
• Menerapkan SOP terhadap pembelian, penerimaan, pengolahan dan pengiriman pakan.


Agar tidak terjadi variasi kualitas ransum yang terlalu berlebihan, maka sebaiknya dalam pengadaan bahan baku pakan dilakukan secara terorganisir, misalnya dengan satu organisasi khusus atau koperasi. Langkah lainnya adalah dengan melakukan prosedur standar sampling dan inspeksi sebagai upaya meminimalisir variasi bahan pakan. ***

Andang S. Indartono

Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi

dan Pakan Indonesia (AINI)

Agribiz Network

SIRKULASI UDARA KUNCI KENYAMANAN TERNAK AYAM

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : [email protected]
Pemasaran : [email protected]

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: [email protected]

Agribiz Network

EAST HOPE TERIMA KUNJUNGAN PELAJAR SMK AGRIBISNIS TERNAK

Siswa-siswi SMKN 2 Purbalingga kunjungi kawasan industri PT East Hope (Foto: Istimewa)

Sebanyak 102 siswa dan siswi SMKN 2 Purbalingga melakukan kunjungan ke kawasan pabrik PT East Hope Agricultural Indonesia, Senin (15/4/2019).

Penuh sukacita, tim PT East Hope menyambut siswa-siswi yang didampingi para guru pembimbing untuk mengelilingi Kawasan Industri East Hope di Desa Kutamekar, Ciampel, Karawang.

Informasi yang Infovet terima dari Marketing&Public Relations East Hope, kunjungan ini merupakan persyaratan dalam memenuhi uji kompetensi siswa-siswi Jurusan Agribisnis Ternak Unggas kelas XI.

Kegiatan kunjungan tersebut meliputi melihat langsung kegiatan produksi pakan, serta mencoba peralatan kerja dengan didampingi instruktur dari guru pembimbing dan diawasi oleh pihak perusahaan.

Sebelumnya, siswa-siswa menyimak uraian singkat mengenai profil perusahaan, kegiatan produksi, dan K3 perusahaan dari pihak East Hope. (NDV)

Agribiz Network