DIRJEN PKH: DORONG PEMBANGUNAN PETERNAKAN UNTUK MENGENTASKAN KEMISKINAN

 

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : [email protected]
Pemasaran : [email protected]

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: [email protected]

Agribiz Network

WORKSHOP BIOSEKURITI UNTUK TINGKATKAN DAYA SAING PERUNGGASAN

Foto bersama workshop biosekuriti di Jakarta, Rabu (28/8/2019). (Foto: Infovet/Ridwan)


Dalam rangka Hari Lahir dan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang ditetapkan setiap 26 Agustus sampai 26 September tiap tahunnya, PT Gallus Indonesia Utama (GITA), berkontribusi dengan menyelenggarakan
workshop biosekuriti bertajuk “Meningkatkan Daya Saing Perunggasan dengan Menerapkan Biosekuriti Tiga Zona”, Rabu (28/8/2019).

“Kami berniat untuk ikut berkontribusi dalam rangka Hari lahir dan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia,” ujar Direktur Utama PT Gallus, Bambang Suharno, dalam sambutannya.

Workshop dihadiri oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa. Dalam pidatonya Fadjar mengatakan, saat ini tren global sudah mengarah pada upaya pencegahan penyakit ternak, khususnya unggas. 

“Bukan lagi untuk pengobatan, tapi bagaimana upaya dalam mencegah penyakit. Biosekuriti ini satu hal yang sangat penting dan utama dalam menjaga terjadinya penyakit atau menyebarnya penyakit, jadi mengupayakan agar agen penyakit ini tidak masuk ke unggas,” katanya.

Menurutnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan peternak dalam menghalau penyakit, diantaranya dengan membuat pembatas di peternakan atau mengontrol barang yang bisa menjadi media pembawa penyakit.

“Saat ini biosekuriti bisa diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak menjadi mahal. Contoh, mencuci tangan itu merupakan tindakan biosekuriti. Sederhana saja, seperti biosekuriti tiga zona ini, bagaimana peternak bisa memilah antara zona kotor dan bersih untuk menghindari terjadinya penyakit,” ucap Fadjar.

Pada kesempatan tersebut, turut mengundang pembicara dari National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Alfred Kompudu, yang memberikan materi mengenai meningkatkan daya saing perunggasan dengan penerapan biosekuriti tiga zona, serta Sekretaris Umum ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia), Muhammad Azhar, yang memaparkan mengenai penerapan biosekuriti tiga zona guna menambah keuntungan peternak. Sesi presentasi dimoderatori oleh Direktur HRD PT Gallus, Rakhmat Nuriyanto.

Penyerahan buku panduan biosekuriti secara simbolis kepada Dirkeswan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa (ketiga kanan). (Foto: Infovet/Ridwan)


Dalam
workshop tersebut, seluruh peserta juga mendapat buku “Panduan Biosekuriti Peternakan Unggas Pasca Pelarangan AGP” yang ditulis oleh Alfred Kompudu. Selain itu, juga dilakukan penyerahan buku secara simbolis kepada Dirkeswan. (RBS)

Agribiz Network

FESTIVAL AYAM DAN TELUR 2019, SEDIAKAN PANGAN SEHAT UNTUK KELUARGA

Simbolis konsumsi daging dan telur ayam oleh para pemangku kebijakan dan stakeholder peternakan pada FAT 2019 yang dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/8/2019). (Foto: Infovet/Sadarman)

Secara kualitatif ataupun kuantitatif, konsumsi daging ayam dan telur masyarakat Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain di Asia. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam dan telur yang sejatinya disebut sebagai sumber bahan pangan kaya protein hewani. Hal ini jelas berdampak pada tingkat kecerdasan generasi muda Indonesia ke depannya, sehingga untuk meminimalkan dampak tersebut, maka diperlukan sosialisasi terkait pentingnya mengonsumsi daging ayam dan telur. 

Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IKA FKH IPB) bersama Pemerintah Kota Bogor dan Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) kembali menyelenggarakan kegiatan Festival Ayam dan Telur (FAT), yang digelar di Lapangan Sempur Kota Bogor, Minggu (4/8/2019). Acara dihadiri Wali Kota Bogor Dr Bima Arya, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Fini murfiani, Ketua FMPI Don P. Utoyo, asosiasi bidang peternakan, lembaga maupun akademisi, dinas/instansi terkait, duta ayam dan telur, serta dr Rizal Alaydrus yang merupakan host acara Dr OZ Indonesia.

Acara bertajuk “Ayam dan Telur Meningkatkan Gizi dan Prestasi Anak Bangsa” diawali dengan senam pagi bersama. Alunan musik senam yang dibumbui jargon-jargon ayam dan telur menambah semarak festival tahunan ini.

Ketua Pelaksana FAT, Suhadi Purnomo, dalam sambutannya mengatakan konsumsi daging ayam dan telur merupakan kewajiban bagi masyarakat Indonesia. Hal ini mengingat kedua jenis bahan pangan tersebut sarat dengan zat gizi yang tinggi, salah satunya protein yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan anak maupun untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak.

“Setidaknya dua sampai tiga hari dalam seminggu keluarga harus disajikan menu berbahan dasar daging dan telur ayam. Harga kedua bahan pangan tersebut pun murah dan terjangkau, lebih murah dari sebungkus rokok,” kata Suhadi.

Hal senada juga diungkapkan Bima Arya. Menurutnya, anak-anak merupakan aset bangsa, sehingga mereka harus dibekali pangan yang sehat dan bergizi agar tumbuh sempurna, baik dari fisik maupun otaknya. “Jika kita menginginkan anak-anak kita tumbuh dan berkembang menjadi generasi cerdas, maka mulai hari ini kita harus bertekad memberikan makanan yang sehat dan bergizi. Makanan tersebut sejatinya bersumber dari ayam, yakni daging dan telurnya,” tutur Bima Arya.

Pada kesempatan yang sama, Fini Murfiani, mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, mengemukakan, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, konsumsi daging ayam dan telur di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan Malaysia, yaitu sekitar 11,5 kg daging ayam dan 7 Kg telur pertahun. “Kita perlu untuk lebih peduli pada gizi keluarga agar konsumsi daging ayam dan telur kita meningkat, sehingga ketakutan kita terhadap kehilangan generasi muda atau lost generation di masa mendatang dapat dihilangkan,” ucap Fini.

Sosialisasi konsumsi daging dan telur ayam pun terus dilakukan dengan beragam cara. Ketua FMPI Don P. Utoyo menyebut, pihak asosiasi terus berupaya mengedukasi masyarakat agar membuka mata terhadap gizi keluarga. “FMPI telah melakukan berbagai hal, termasuk menjalin kerjasama dengan pihak lain, sosialisasi para kepala dan ibu rumah tangga untuk peduli pada gizi anak,” ucap pria yang akrab disapa Pak Don.

Ia menambahkan, peduli gizi itu tidak harus memberikan bahan pangan yang mahal, karena tidak semua yang mahal identik dengan bahan pangan kaya gizi. Ia pun mengimbau, mengonsumsi satu butir telur saja merupakan sebuah kepedulian terhadap gizi. Karena dalam satu butir telur mengandung 6 gram protein dan 0,6 gr karbohidrat (Soeparno).

Interaksi Penunjung
Rizal Alaydrus ditemani Ketua Bidang (Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia (Askesmaveti) Drh Ira Firgorita dari, bersama Duta Ayam dan Telur Offie Dwi Natalia, mengajak pengunjung berinteraksi mengenai fakta atau mitos terkait daging dan telur ayam.
Menurut Rizal, masih ada anggapan bahwa mengonsumsi telur mentah aman dan menyehatkan bagi tubuh. Kendati demikian, lanjut dokter nutrisi ini, mengonsumsi telur mentah memang bagian dari kebiasaan masyarakat, terutama lelaki, yang dipercaya mempunyai khasiat tinggi.

Kendati begitu jika ditinjau dari sisi nutrisinya, telur mentah memang kaya vitamin namun bukan untuk tujuan mendapatkan proteinnya. Telur yang kaya protein adalah telur yang dikonsumsi dalam kondisi matang (direbus atau digoreng).

“Daging dan telur ayam atau jenis bahan pangan apa saja yang menjadi pilihan untuk diolah dan dimasak kemudian disajikan untuk menu keluarga, yang terpenting adalah bahan pangan yang kaya nutrisi, aman, sehat, utuh dan halal (ASUH),” tukasnya.

Selain interaksi edukatif dengan pengunjung, acara FAT juga dimeriahi vocal grup dari Sekolah Menengah Pertama Bhakti Taruna I Kota Bogor. Mereka tampil membawakan lagu-lagu perjuangan yang senada dengan momen bersejarah, yakni Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 tahun. (Sadarman)

Agribiz Network

MENTAN HARAPKAN PROGRAM DITJEN PKH BERMANFAAT LEBIH UNTUK MASYARAKAT

Kegiatan arahan Mentan untuk pejabat struktural Ditjen PKH (Foto: Humas Kementan)  
Memberikan arahan kepada seluruh
pejabat struktural Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen
PKH), Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengharapkan Program
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementan dapat
memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat Indonesia.  
“Saya ingin program Ditjen PKH
dan pegawai memberikan nilai tambah untuk masyarakat dan lingkungan
sekitarnya,” kata Amran di Gedung C Kementan, Jakarta, Senin (5/8).   
“Program BEKERJA dan SIWAB harus
terus dilakukan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Amran, seperti
dikutip dari keterangan resmi yang diterima Infovet.
Menurut Amran, kebutuhan
masyarakat terhadap pangan asal hewan tidak hanya berasal dari daging ayam atau
sapi namun banyak pilihan seperti telur, kambing, domba, dan produk peternakan
lainnya.
Amran menyampaikan dalam
pemenuhan hak atas pangan bagi masyarakat berkualitas gizi baik dengan cara
produksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, sehingga
diperlukan tata kelola peternakan yang sinergi mulai dari aspek hulu, off farm, hilir sampai dengan pemanfaatan
produk di tingkat masyarakat.
Lebih lanjut disampaikan, langkah
terpenting dari pemerintah saat ini adalah bagaimana membuat daging tersebut
mudah diakses oleh masyarakat dan terjangkau harganya.
“Untuk ini sejak tahun 2018
kita melakukan program BEKERJA (Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera),”
ungkap Amran.
Melalui program ini, pemerintah
mendorong masyarakat miskin untuk melakukan usaha budidaya ayam kampung.
Terbukti dari pemberian stimulan 50 ekor bibit ayam kampung untuk rumah tangga
miskin, pendapatan masyarakat meningkat secara signifikan.
Selain pemberian ayam ini
dikaitkan dengan program pemgurangan kemiskinan, pemberian ayam kampung ini
juga terkait tradisi budidaya ayam bagi penduduk pedesaan.
Ditjen PKH memiliki kewajiban dalam penyediaan pangan asal
hewan termasuk daging yang memiliki gizi (protein) tinggi dengan harga yang
terjangkau, mudah diakses, dan dijamin kemanan, kesehatan, keutuhan, dan
kehalalannya (ASUH).
IB Ujung Tombak UPSUS SIWAB
Pada kesempatan itu, Amran
meminta secara khusus agar Ditjen PKH memperkuat komitmen 5 tahun mendatang
dalam perencanaan Kemandirian Pakan sehingga dapat menyediakan pakan secara
mandiri, dalam mendukung program BEKERJA.
“Jangan sampai masyarakat menjadi
ketergantungan. Oleh karena itu, kita mendorong masyarakat harus bisa produksi
pakan sendiri dengan memanfaatkan sumber daya bahan pakan lokal, mandiri bibit,
dan diedukasi serta didampingi hingga hilir untuk pengolahan dan pemasaran
sehingga produksinya bisa terjual di pasar-pasar modern serta retail-retail
besar” jelas Amran.
Selain itu, Amran juga
mengingatkan untuk kegiatan Inseminasi Buatan (IB) sebagai ujung tombak UPSUS
SIWAB pada Program Ditjen PKH terus ditingkatkan dalam mendongkrak jumlah
populasi sapi di Indonesia.
“Saya minta untuk IB tidak
boleh turun selama 5 tahun ke depan,” pinta Amran. (Rilis/NDV)

Agribiz Network

PERAN MYCOTOXIN BINDER UNTUK PAKAN UNGGAS SEHAT PRODUKTIF

Mikotoksin dapat menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan. (Foto: Dok. Infovet)

Pakan memiliki peranan penting dan strategis dalam bisnis peternakan termasuk dalam usaha peternakan unggas, sebab menyangkut kebutuhannya sebagai penunjang hidup pokok, pengganti sel dan pembentuk produk akhir (daging dan telur). Kebutuhan biaya pakan dalam budidaya unggas pun adalah yang paling besar, yakni mencapai 70%. Oleh karena itu diperlukan kualitas dan kuantitas pakan yang sangat baik, agar meraih hasil produksi yang optimal dan menguntungkan. Apabila pakan yang diberikan buruk, seperti tercemar jamur dan toksinnya, sudah pasti mengancam kualitasnya dan merugikan ternak serta peternaknya.

Seperti halnya Mikotoksikosis, penyakit keracunan yang disebabkan oleh mikotoksin, yaitu metabolit sekunder hasil metabolisme jamur yang tumbuh pada pakan unggas. Ada 300 jenis mikotoksin, namun yang banyak menyerang unggas dan berbahaya adalah aflatoksin, T-2 toksin, DON, zearalenon, fumonisin dan okratoksin, dimana bermacam jenis mikotoksin tersebut biasa ditemukan dalam bahan baku pakan (jagung, bekatul, kedelai) dengan jumlah/konsentrasi yang bervariasi. Di wilayah ASEAN, Indonesia yang beriklim tropis menduduki peringkat tertinggi dalam hal pencemaran mikotoksin pada biji-bijian.

Jamur mudah tumbuh dimana saja, misal di tanah, materi organik yang membusuk dan jenis biji-bijian. Pada tanaman biji-bijian, kontaminasi jamur dapat terjadi selama penanaman, saat panen, selama tranportasi dan saat penyimpanan, dimana bahan baku pakan dengan kadar air lebih dari 14% yang disimpan pada suhu 10-42°C dengan kelembaban lebih dari 70% akan akan sangat mudah terkontaminasi jamur yang memicu produksi mikotoksin. Mikotoksin merupakan bahan kimia yang bersifat stabil dan mampu bertahan dalam jangka waktu lama, walaupun media yang menghasilkannya telah mati. Umumnya dijumpai dua atau lebih jenis mikotoksin pada satu jenis biji-bijian yang dipakai sebagai bahan baku pakan unggas dan menimbulkan efek toksik yang sangat berat.

Serangan mikotoksin pada unggas dipengaruhi berbagai faktor, antara lain jenis kelamin, umur, kondisi fisik, status nutrisi, kadar dan jenis mikotoksin, konsumsi pakan, lama serangan, manajemen peternakan dan infeksi penyakit lainnya. Pada ayam biasanya menderita penyakit ringan dan tidak spesifik, namun mikotoksikosis bersifat imunosupresif, disamping dapat memicu terjadinya berbagai penyakit.

Berdasarkan perjalanan penyakitnya, mikotoksikosis dibedakan menjadi dua,  mikotoksikosis akut dan mikotoksikosis kronis. Mikotoksikosis akut dimana kejadiannya cepat, fatal dan menimbulkan kerugian ekonomi besar yang akan mengganggu metabolisme lemak, sehingga terjadi timbunan lemak di hati (fatty liver syndrome). Sedangkan mikotoksikosis kronis, kejadiannya berlangsung lama dengan tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortalitas) rendah. Serangan mikotoksin dapat menurunkan ketersediaan… (SA)


Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2019.

Agribiz Network

KEMENTAN GENCARKAN UPSUS JAGUNG UNTUK KEBUTUHAN PAKAN

Ilustrasi jagung dan ayam (Foto: Pixabay)
Kementerian Pertanian (Kementan)
melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) terus
meningkatkan produksi ayam potong untuk mendukung akselerasi ekspor dan
ketahanan nasional. Salah satu upayanya dengan menggencarkan program upaya
khusus (Upsus) Jagung untuk kebutuhan pakan ternak.
Terkait hal ini peternak mandiri
ayam broiler asal Cianjur, Jawa Barat, Andi Sugimin mengaku merasakan betul
upaya pemerintah dalam penyediaan dan bantuan pakan ternak. Khusus untuk
bantuan, Andi menyebutnya sebagai bukti hadirnya pemerintah saat petani menghadapi
kesulitan.
Menurut Andi, salah satu
kehadiran pemerintah yang sangat dirasakan peternak adalah bantuan jagung
selama musim paceklik beberapa bulan lalu. Bantuan itu, kata dia, merupakan
suplemen bagi peternak untuk menjaga semangat produksi. 
“Peternak kecil bisa jadi
gulung tikar jika saat itu kondisi jagung tetap langka. Tapi kita berterima kasih
pada pemerintah atas bantuan penyediaan jagung, sehingga kami bisa melanjutkan
produksi. Semoga ke depan bantuan jagung terus bertambah,” katanya.
Andi berharap pemerintah
membatasi perijinan kuota perusahaan asing yang dinilai tidak seimbang baik
dari sisi permodalan maupun alat yang digunakan. Menurutnya dalam hal ini
pemerintah harus berani menolak ijin usaha tersebut, sembari mengucurkan
bantuan yang ada untuk peternak kecil. (Sumber: wartaekonomi.co.id)

Agribiz Network

APRESIASI FAO UNTUK DITJEN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

Dr Stephen Rudgard selaku FAO Representative (kanan) bersama Dr James McGrane, Team Leader FAO Ectad Indonesia (kiri) menyerahkan hadiah untuk Dirjen PKH I Ketut Diarmita. (Foto: Humas Kementan)
Keberhasilan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) dalam penanggulangan penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI) diapresiasi Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (FAO).

“FAO telah mendukung program Pemerintah dalam pengendalian dan penanggulangan flu burung sejak tahun 2006. Sepanjang kerjasama selama 13 tahun ini, kami mengapresiasi angka kasus penyakit flu burung yang terus menurun,” kata Stephen Rudgard, FAO Representative untuk Indonesia dan Timor Leste di kantor Kementan, Jakarta, Rabu (28/5).

Kementerian Pertanian mencatat, angka tahunan kasus flu burung turun dari 2751 pada tahun 2007 ke 476 pada tahun 2018. Penyakit ini disebabkan oleh virus influenza yang menyerang semua jenis unggas domestik termasuk ayam, bebek, dan burung puyuh, serta diketahui dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi.

Flu burung adalah penyakit yang dapat ditularkan ke manusia (Zoonosis). Indonesia tertular virus flu burung sejak tahun 2003 yang menyebar ke beberapa wilayah dalam beberapa tahun saja. Dalam rangka melindungi kesehatan manusia dan produksi ternak unggas di Indonesia, pemerintah gencar melakukan program pengandalian dan penanggulangan flu burung.

Dalam kesempatan tersebut, Ketut menyampaikan apresiasi kepada FAO atas kontribusinya dalam program pengendalian penyakit flu burung di Indonesia. Banyak keberhasilan yang telah diperoleh dalam kerangka kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan FAO disertai dukungan USAID.

“Saat ini pengendalian dititikberatkan pada peningkatan biosekuriti pada peternakan dan sertifikasi kompartemen bebas AI. Selain itu, program ini juga memantau dinamika virus yang beredar di lapangan untuk tujuan produksi dan penggunaan vaksin yang efektif dalam melindungi peternakan,” terang Ketut, dalam keterangan resmi yang diterima Infovet, Kamis (29/5).

Implementasi strategi pemerintah berhasil menekan kasus flu burung di peternakan rakyat dan memberikan sertifikasi kompartemen bebas AI bagi peternakan komersial. Keberhasilan sertifikasi tersebut membuat produk unggas Indonesia dapat diekspor ke beberapa negara. “Negara seperti Jepang yang persyaratan kesehatan hewannya sangat tinggi, mau menerima produk unggas Indonesia sebagai bentuk pengakuan penjaminan keamanan dan kesehatan hewan Indonesia,” tambahnya.

James McGrane, Team Leader Unit Khusus FAO di Bidang Kesehatan Hewan (FAO ECTAD Indonesia), pada kesempatan yang sama juga menyampaikan bahwa kerjasama yang baik antara Pemerintah Indonesia dan FAO perlu diteruskan agar dapat memastikan dampak yang berkelanjutan.

“Keberlanjutan kerjasama internasional ini akan memperkuat kapasitas Indonesia dalam melindungi masyarakat dan mata pencahariannya dari bahaya penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia,” kata McGrane.

Ketut menyambut baik tawaran kerjasama lanjutan ini dan berharap akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. (NDV)

Agribiz Network

MARKET PROJECT UNTUK PERMUDAH PETERNAK DAN KONSUMEN

Pemukulan gong oleh Walikota Bogor, Bima Arya, saat membuka launching Market Project, Rabu (22/5/2019). (Foto: Infovet/Ridwan)

Dalam rangka memperpendek rantai pemasaran, meningkatkan efisiensi dan membangun saluran pemasaran baru dari peternak ke konsumen, pemerintah menginisiasi kegiatan Market Project (MarkPro).

“Kegiatan ini juga sebagai sarana pelaksanaan sosialisasi atau promosi peningkatan konsumsi pangan asal ternak, serta sosialisasi berbagai program kegiatan nasional,” kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian (Kementan), Fini Murfiani, saat launching MarkPro di lapangan Kelurahan Baranangsiang Bogor, Rabu (22/5/2019).

Kegiatan tersebut atas kerjasama Kementan, Dinas Pertanian Bogor, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) dan Koperasi Pertanian Agrisatwa (Koperasi Takwa).

Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, yang turut hadir dalam acara, menyatakan dukungannya atas penyelenggaraan MarkPro guna memotong rantai pasok pangan asal hewan. 

“Hal ini seiring dengan penduduk Kota Bogor yang memerlukan ketersediaan produk asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), untuk penguatan pemenuhan kebutuhan gizi protein hewani yang cukup tinggi,” ujar Bima.

Ia berharap, kegiatan MarkPro dapat berkelanjutan, sehingga rantai pasok dari tingkat peternak hingga konsumen dapat terjaga. “Tidak hanya menguntungkan bagi kesejahteraan peternak, namun juga meningkatkan asupan gizi bagi masyarakat,” tambahnya.

Sementara di tempat terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, I Ketut Diarmita, mengungkapkan bahwa kegiatan MarkPRO merupakan salah satu upaya mendekatkan peternak dengan konsumen, sehingga peternak dapat menentukan margin price sesuai dengan biaya produksi dan konsumen dapat memperoleh harga yang realistis.

“Selain itu, MarkPro dapat dijadikan embrio saluran pemasaran baru bagi peternak untuk memasarkan produknya secara langsung kepada konsumen, dimana produk yang dijual dapat berupa produk peternakan dan produk olahannya. Ini menjadi peluang bagi UMKM peternakan untuk mengembangkan diri mempromosikan dan memperkuat jalur market-nya,” kata Ketut.

Dalam kegiatan MarkPro, juga dilengkapi edukasi bagi masyarakat untuk pengenalan produk pangan asal hewan yang ASUH, melalui Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) Bogor. Edukasi berupa pengenalan perbedaan karkas ayam sehat dengan karkas ayam mengandung formalin dan ayam bangkai. Kemudian cara membedakan telur ayam yang baik dan yang rusak, serta mengenali perbedaan daging sapi, kerbau dan babi hutan (celeng).

Fini Murfiani dan Dirkeswan Fadjar Sumping Tjatur Rasa (tengah) bersama Bima Arya (pojok kanan) didampingi peternak bogor meninjau bazaar murah di lokasi launching Market Project. (Foto: Infovet/Ridwan)


Kegiatan yang juga dilakukan dibeberapa kabupaten dan kota lainnya ini juga menampilkan bazaar produk berupa karkas broiler dingin segar sebanyak 4.200 ekor, telur 2.100 kg dan produk lainnya. Selain itu, adapun partisipasi industri pengolahan susu yang memberikan susu gratis kepada masyarakat dan bazaar susu, diantaranya PT Indolakto, PT Frisian Flag Indonesia, PT Industri Susu Alam Murni, PT Fonterra Brands Indonesia, PT Sari Husada, PT Cisarua Mountain Dairy dan PT Greenfields Indonesia. (RBS)

Agribiz Network

KEMENTAN-BPS: SATU DATA UNTUK KOMODITAS PETERNAKAN

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : [email protected]
Pemasaran : [email protected]

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: [email protected]

Agribiz Network

MANAJEMEN VENTILASI DAN AIR UNTUK PERFORMANCE TERBAIK

Tepat minum ternak modern. (Istimewa)



Ayam modern memiliki karakteristik pertumbuhan yang cepat dan produksi yang tinggi dengan efisisiensi pemakaian pakan yang baik. Oleh karena itu, pemeliharaan ayam modern menuntut perlakuan khusus dengan beberapa persyaratan terpenuhi.


Aristoteles, filosof yunani mengatakan “Knowing your self is the beginning of all wisdom“, Sama halnya dengan manajemen pemeliharaan ayam, peternak harus tahu siapa ayam modern itu dan tuntutannya pemeliharaan seperti apa? Di sini penulis akan memaparkan kritikal poin kebutuhan dasar ayam modern, meliputi manajemen pengaturan ventilasi dan air minum.

Melihat gambaran fakta di atas, bahwa ayam broiler modern dengan karakteristik pertumbuhan jaringan otot dan tulang yang sedemikian hebat tanpa diimbangi dengan pertumbuhan organ internalnya memaksa ayam mengalami stres intrinsik yang tinggi.



Stres internal tersebut juga didapat dari nutrient density yang semakin padat pun dengan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang rendah membuat ayam modern ini benar-benar harus mendapat perlakuan khusus. Penyakit pernafasan akan konsisten menjadi ancaman di broiler modern, hal ini tak lepas karena broiler modern sangat rentan terhadap gangguan pernafasan akibat sistem pemeliharaan yang intensif dengan density tinggi untuk pemenuhan kebutuhan efisiensi produksi.

Melihat anatomis sistem pernafasan ayam, mengapa makhluk ini sangat rentan terhadap munculnya penyakit pernafasan dan sulit untuk disembuhkan?
• Sistem pernafasan ini merupakan saluran tertutup yang ujungnya di kantung hawa dan yang menyebar diseluruh rongga tubuh, sehingga memudahkan penyebaran bibit penyakitnya keseluruh organ tubuh penting lainnya.
• Kantung hawa sangat minim pembuluh darah sehingga antibiotik akan sulit untuk mencapainya jika terjadi infeksi.
• Sekunder dan pengobatan sangat mustahil untuk menghilangkan 100% mikrobanya.


Pada broiler modern, proporsi sistem pernafasan ini dari periode ke periode semakin mengecil dibandingkan…

Drh. Sumarno

Head of AHS Central & Outer Island

PT Sierad Produce, Tbk





Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi April 2019.

Agribiz Network

TALI MEDIS UNTUK MENANGKIS DISTOKIA PADA SAPI

Alat bernama Tali Medis yang dapat membantu penanganan Distokia pada sapi yang diciptakan oleh Drh Taufik Mukti. (Foto: Dok. Pribadi)


Pemerintah telah menggulirkan program Siwab (Sapi Indukan Wajib Bunting) untuk mendongkrak jumlah populasi sapi di Indonesia. Berbagai dukungan teknis dan non-teknis digelontorkan untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, penyakit dan gangguan reproduksi pada ternak sapi masih menjadi kendala serius. Apalagi peternakan di Indonesia masih didominasi sistem tradisional dengan tingkat pemahaman manajemen peternakan yang relatif rendah.



Distokia adalah salah satu gangguan reproduksi sapi yang sering terjadi di lapangan, yaitu suatu keadaan induk sapi yang sulit melahirkan akibat posisi anak sapi yang tidak normal, kondisi panggul sapi induk yang sempit, anak sapi yang terlalu besar, melahirkan anak kembar, kekurangan pakan dan faktor-faktor lainnya. Hal ini tentu dapat membawa resiko yang mengancam keselamatan anak dan induk sapi bahkan keduanya.


Penanganan Distokia di lapangan berbeda dengan gangguan reproduksi lainnya. Dibutuhkan keahlian khusus dan tenaga yang cukup besar. Tidak aneh jika dalam penanganan Distokia melibatkan banyak orang. Dalam penanganan Distokia secara tradisional, umumnya peternak mengandalkan peralatan yang tersedia di dalam kandang, seperti potongan handuk, kain, tali bahkan rantai. Mereka memanfaatkannya sebagai tali penarik anak sapi dengan mengikatkannya pada bagian tubuh pedet, selanjutnya ditarik beramai-ramai. Hal ini tentu saja semakin membahayakan anak dan induk sapi. Tak jarang, anak sapi yang di keluarkan dari rahim mati akibat penarikan paksa tanpa konsep.


Adapula peralatan penanganan Distokia yang menyerupai dongkrak, yaitu berupa tongkat berkatrol dengan tali rantai. Biasanya alat ini hanya tersedia di peternakan komersial berskala besar. Walaupun cukup efektif, namun alat ini sangat berat dan berukuran besar, sehingga tidak mungkin digunakan oleh tenaga kesehatan hewan yang harus berkeliling menggunakan sepeda motor. Disamping itu, umumnya kejadian Distokia banyak terjadi pada malam hari dengan kondisi geografis di lapangan yang sulit ditempuh, sehingga untuk penanganan Distokia dibutuhkan metode yang sederhana, alat yang praktis dan mudah dibawa, khususnya di wilayah pedesaan.


Kondisi ini menjadi pemikiran serius bagi Drh Taufik Mukti, seorang praktisi kesehatan hewan mandiri di Kabupaten Banyuwangi. Kasus Distokia yang relatif sering terjadi di daerah ini mendorong pemikirannya untuk mengembangkan metode baru yang sederhana, sekaligus merakit alat penanganan Distokia yang praktis dan efektif. Alat tersebut harus nyaman untuk pedet dan induknya, serta aman bagi tenaga kesehatan hewan sebagai operatornya, tanpa meninggalkan unsur profesionalitas. Jiwa seni Taufik yang kental mampu melahirkan inspirasi unik dan kreatif untuk mengembangkan metode penanganan Distokia yang diberi nama “Gadis” (Gelantungan Antisipasi Distokia), sedangkan alatnya diberi nama “Tali Medis” (Tali Metode Gadis).


Lebih lanjut, dokter hewan alumni Universitas Udayana ini menjelaskan bahwa ide perakitan Tali Medis diilhami dari cara kerja petugas listrik di lapangan yang bergelantungan diketinggian. Setidaknya terdapat dua poin pemikiran yang dapat diambil dari cara kerja tersebut, yaitu tali dan titik tumpu tali yang sanggup menahan beban dengan baik tanpa membahayakan sang operator. Cara kerja petugas listrik ini dianalogikan dengan cara penanganan kasus Distokia di lapangan, yaitu tersedianya tali penghubung antara anak sapi dirahim induk dengan petugas dan kekuatan gaya gravitasi untuk menarik anak sapi keluar dari rahim. Prinsipnya, menggunakan bobot badan petugas yang menggelantung dibelakang tubuh sapi, sehingga menghasilkan tenaga yang cukup besar untuk menarik anak sapi keluar dari rahimnya. Dengan demikian, penangan Distokia dapat dilakukan hanya oleh satu orang saja tanpa melibatkan bantuan orang banyak yang berpotensi membuat indukan sapi menjadi stres.


Sempat tergelitik sebuah pertanyaan kritis dari beberapa praktisi kesehatan hewan di lapangan, bagaimana jika tenaga induk sapi yang lebih besar dari tenaga petuga kesehatan hewan? Keadaan ini cukup berbahaya bagi petugas tersebut karena mereka dapat jatuh dan tertarik oleh induk sapi. Namun, Taufik telah memikirkan dan mengantisipasi hal itu. Tali Medis dirancang menggunakan bahan polyester yang sangat kuat, sehingga tidak mudah putus. Selanjutnya, Tali Medis ini dilengkapi dengan snap (pengait bongkar-pasang) yang mudah dipasang dan dilepaskan sehingga apabila terjadi kondisi yang kurang menguntungkan bagi petugas, sambungan antara tali pada anak sapi dirahim induk dan operator dapat segera dilepas. Tali dapat dipasang kembali apabila kondisi induk sapi sudah tenang, dengan demikian penanganan Distokia dapat dilanjutkan.

April Wardhana (kiri) dan Drh Taufik Mukti saat memperkenalkan Tali Medis.



Cara Kerja Tali Medis
Tali Medis terdiri dari dua kompenen utama, yaitu sepasang tali pendek dengan dua lingkaran pada ujung-ujungnya yang diikatkan ke janin sapi dan tali panjang dengan snap yang digunakan sebagai penarik. Apabila menjumpai kasus Distokia di lapangan, maka yang harus diketahui dulu adalah posisi anak sapi dalam rahim. Diusahakan agar kaki anak sapi dapat dijangkau melalui palpasi rektal dan kondisinya dekat dengan saluran pengeluran. Jika kondisi anak sapi sudah memungkinkan untuk di keluarkan, maka tali pendek di masukkan, satu lingkaran untuk kaki kanan dan satu lingkaran untuk kaki kiri (hanya satu tali pendek yang digunakan). Kemudian snap pada tali panjang dikaitkan pada tali yang pendek dan dilingkarkan ke tubuh operator. Sementara tangan operator memberi jalan keluar pada anak sapi, tubuh operator menarik anak sapi dengan memanfaatkan gaya gravitasi bobot badan (menggelantung). Anak sapi akan mudah di keluarkan dari rahim induk. Pada kondisi tertentu jika dibutuhkan tenaga yang lebih besar, maka Tali Medis dapat dihubungkan dengan tali tampar dan diikatkan pada tiang kandang. Selanjutnya, tali tampar dapat ditarik pelan-pelan. Konsep ini mirip dengan konsep alat katrol yang banyak diaplikasikan di peternakan komersial.


Menurut Taufik, Tali Medis telah banyak menyelamatkan ratusan kasus Distokia yang terjadi di tempat beliau praktek. Untuk mendesiminasikan keefektifan alat ini, Taufik menggunakan media sosial dengan mengunggah cara kerja Tali Medis melalui akun Facebook dan Youtube miliknya. Hal tersebut mendapat respon positif dari para praktisi kesehatan hewan di berbagai daerah. Alat tersebut juga mendapat apresiasi dari luar negeri, khususnya dari akun ViralHog (akun yang menyajikan video-video inovatif dan informatif). Video yang di-share Taufik melalui Facebook-nya ditayangkan eksklusif di Youtube ViralHog dengan kata kunci “Birthing a Calf”. Dari situ Taufik juga mendapat kompensasi finansial dan pengembangan jejaring internasional, sebagai peluang memperkenalkan Tali Medis lebih luas lagi.


Sejauh ini, Taufik telah banyak memproduksi Tali Medis dan dikirim ke beberapa daerah, diantaranya Papua, Maros, Bengkulu, Sumba, Tomohon, Gorontalo, Pulau Buru, Pulau Jawa dan tempat lainnya. ***

April Hari Wardhana, SKH, MSi, PhD

Penulis adalah, Senior Researcher of Parasitology

Department Indonesian Research Centre for Veterinary Science/Bblitvet

Agribiz Network

US SOY SUPPLY WORKSHOP: IMPORTASI KEDELAI PERLU UNTUK INDONESIA

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : [email protected]
Pemasaran : [email protected]

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: [email protected]

Agribiz Network